• Tidak ada hasil yang ditemukan

perencanaan pembelajaran ilmu pendidikan sosial (ips)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "perencanaan pembelajaran ilmu pendidikan sosial (ips)"

Copied!
226
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PERENCANAAN PEMBELAJARAN ILMU

PENDIDIKAN SOSIAL (IPS)

(3)
(4)
(5)

Copyright ©2022, Bildung All rights reserved

PERENCANAAN PEMBELAJARAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL (IPS) Dr. Moh. Sutomo, M.Pd

Editor: Asnawan Desain Sampul: Ruhtata

Layout/tata letak Isi: Tim Redaksi Bildung

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Perencanaan Pembelajaran Ilmu Pendidikan Sosial (IPS)//Dr. Moh. Sutomo, M.Pd/

Yogyakarta: CV. Bildung Nusantara, 2022 xii + 212 halaman; 15 x 23 cm

ISBN: 978-623-6379-72-1 Cetakan Pertama: Februari 2022 Penerbit:

BILDUNG

Jl. Raya Pleret KM 2

Banguntapan Bantul Yogyakarta 55791 Email: [email protected] Website: www.penerbitbildung.com Anggota IKAPI

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa seizin tertulis dari Penerbit dan Penulis

(6)

PENGANTAR PENULIS

KEBERADAAN buku referensi dalam proses belajar mengajar adalah sebuah kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Buku referensi merupakan kebutuhan dalam pemenuhan sumber belajar bagi mahasiswa maupun para praktisi Pendidikan (guru dan dosen) dalam mengembangkan pembelajaran. Buku yang berjudul perencanaan pembelajaran IPS ini ditulis sebagai salah satu referensi mata kuliah perencanaan pembelajaran IPS di program studi tadris IPS di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) di Universitas Islam Negeri Jember.

Ilmu pengetahuan sosial (IPS) atau Social Studies merupakan salah satu mata pelajaran pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan karakteristiknya, IPS merupakan mata pelajaran yang komprehensif, yaitu pembelajaran yang disusun dengan menghubungkan bahan- bahan dari berbagai disiplin ilmu sosial dengan kehidupan nyata di masyarakat. Oleh karena itu IPS menyajikan pengalaman dan permasalahan, serta memproyeksikannya pada kehidupan di masa depan. Pembelajaran IPS menuntuk untuk mengutamakan peran aktif siswa melalui proses pembelajaran inkuiri. Sehingga pembelajaran yang bersifat pengetahuan, keterampilan dan membentuk yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari yang terus berkembang seiring perkembangan masyarakatnya.

Sebagai implikasi dari konsistensi peran guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar terutama dalam pembelajaran IPS, maka buku perencanaan pembelajaran IPS ini diharapkan

(7)

mampu menjembatani pemahaman pembaca, khususnya mahasiswa program studi pendidikan/tadris IPS serta guru- guru IPS tentang sikap profesionalisme dalam partisipasinya mengembangkan pembelajaran IPS. Hal ini dikarenakan bahwa guru IPS sebagai tenaga pendidik profesional, merupakan garda terdepan dalam proses inovasi dan kreatifitas dalam mengembangkan pembelajaran IPS.

Buku ini merupakan referensi sederhana bagi mahasiswa khususnya untuk memahami bagaimana dimensi perencanaan pembelajaran IPS dalam tataran konsep, teori, prinsip, prosedur, komponen, pendekatan, model, evaluasi sampai dengan bagaimana peran guru sebagai praktik penyusunan perencanaan pembelajaran IPS. Buku referensi perencanaan perencanaan pembelajaran IPS juga di lengkapi dengan lampiran-lampiran tentang bentuk dan model struktur RPP baik berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan, maupun edaran dirjen Pendis nomor nomor 5164 tahun 2018 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah, serta model perencanaan perencanaan pembelajaran yang terbaru yaitu merdeka belajar berdasarkan permendikbud nomor 14 tahun 2019 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca senantiasa diharapkan untuk perbaikan isi buku ini.

Jember, Januari 2022 Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Pengantar Penulis ꙮ vii Daftar Isi ꙮ ix

Daftar Gambar ꙮ xi Daftar Tabel ꙮ xii BAB I

HAKEKAT PERENCANAAN PEMBELAJARAN ꙮ 1 A. Tujuan Pembelajaran ꙮ 1

B. Definisi Perencanaan Pembelajaran ꙮ 1

C. Kedudukan Perencanaan Pembelajaran dalam Pembelajaran D. Manfaat Perencanaan Pembejaran ꙮ 4ꙮ 4

E. Fungsi Perencanaan Pembelajaran ꙮ 5

F. Kedudukan Perencanaan Pembelajaran dalam Pembelajaran IPS ꙮ 8

G. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 15 BAB 2

TUJUAN DAN FUNGSI PERENCANAAN PEMBELAJARAN ꙮ 16

A. Tujuan Pembelajaran ꙮ 16

B. Tujuan Penyusunan Perencanaan Pembelajaran ꙮ 16 C. Fungsi Perencanaan Pembelajaran dalam PBM ꙮ 19 D. Pentingnya Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Bagi

Guru ꙮ 21

E. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 25

(9)

BAB 3

MACAM DAN MODEL DESAIN PERENCANAAN PEMBELAJARAN ꙮ 26

A. Tujuan pembelajaran ꙮ 26 B. Model Dick and Carry ꙮ 26 C. Model ASSURE ꙮ 31 D. Model Geralch dan Ely ꙮ 35 E. Model ADDIE ꙮ 41

F. Model Degeng ꙮ 44 G. Model PPSI ꙮ 45

H. Model Jerold E. Kemp ꙮ 48 I. Model ISD ꙮ 56

J. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 60 BAB 4

TEORI DAN KOMPONEN PERENCANAAN PEMBELARAN ꙮ 61

A. Tujuan pembelajaran ꙮ 61

B. Teori dalam Komponen-komponen Perencanaan Pembelaran ꙮ 61

C. Menjelaskan Komponen-komponen dalam Perencanaan Pembelajaran ꙮ 6263

D. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 69 BAB 5

TEORI DAN CARA MERUMUSKAN INDIKATOR KD ꙮ 70 A. Tujuan Pembelajaran ꙮ 70

B. Teori Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) ꙮ 70 C. Perumusan dan penyusunan Indikator KD ꙮ 77

D. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 81

(10)

BAB 6

PEKAN EFEKTIF, SILABUS, PROGRAM SEMESTER DAN TAHUNAN ꙮ 82

A. Tujuan pembelajaran ꙮ 82

B. Pengertian Rincian Pekan Efektif (RPE) ꙮ 82 C. Perencanaan Progam Tahunan ꙮ 86

D. Perencanaan Progam Semester ꙮ 87 E. Silabus ꙮ 91

F. Penetapan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Hari Sekolah ꙮ 91

G. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 94 BAB 7

MERUMUSKAN TUJUAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN ꙮ 95

A. Tujuan Pembelajaran ꙮ 95

B. Definisi Tujuan Pembelajaran ꙮ 95

C. Persyaratan Teknis Penyusunan Tujuan Pembelajaran ꙮ 96 D. Taksonomi Tujuan Pembelajaran ꙮ 98

E. Langkah-langkah Tujuan Pembelajaran ꙮ 102 F. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 103

BAB 8

MEMILIH DAN MENYUSUN PERENCANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN ꙮ 104

A. Tujuan Pembelajaran ꙮ 104

B. Konsep Penyusun Perencanaan Kegiatan Pembelajaran ꙮ 104 C. Syarat-Syarat dalam Perencanaan Kegiatan Pembelajaran ꙮ 105 D. Teknis Menyusun Kegiatan Pembelajaran dalam Perencanaan

Kegiatan Pembelajaran ꙮ 108 E. Evaluasi Akhir Pembahasan ꙮ 112

(11)

BAB 9

PERENCANAAN MEDIA, BAHAN, DAN SUMBER BELAJAR DALAM PERENCANAAN PEMBELAJARAN ꙮ 112

A. Tujuan Pembelajaran ꙮ 112

B. Perencanaan Media Pengajaran ꙮ 112

C. Perencanaan Bahan Ajar dalam Perencanaan Pembelajaran ꙮ 117

D. Perencanaan Sumber Belajar dalam Perencanaan Pembelajaran ꙮ 119

E. Evaluasi Pembelajaran ꙮ 121 BAB 10

KONSEP PENILAIAN PEMBELAJARAN IPS ꙮ 122 A. Tujuan Pembelajaran ꙮ 122

B. Penilaian Pembelajaran IPS ꙮ 122

C. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Perencanaan Pembelajaran ꙮ 135

Daftar Pustaka ꙮ 138 Lampiran ꙮ 140 Tentang Penulis ꙮ 211

(12)

Gambar 1. IPS sebagai platform ilmu-ilmu sosial ꙮ 11 Gambar 2. Komponen Sistem Pembelajaran IPS Purwito

(Abdul Karim: 2015) ꙮ 14 Gambar 3. Model Dick and Carry ꙮ 27

Gambar 4. Gerlach dan Ely Design Model ꙮ 35 Gambar 5. Model ADDIE ꙮ 42

Gambar 6. Model Degeng ꙮ 45

Gambar 7. Model Pembelajaran PPSI ꙮ 47 Gambar 8. Langkah model Kemp ꙮ 51

DAFTAR GAMBAR

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Capaian Kompetensi Lulusan ꙮ 72

Tabel 2. Kompetensi Inti Sekolah Menengah Pertama/

Madrasah Tsanawiyah ꙮ 74

Tabel 3. Pekan Efektif dan Distribusinya ꙮ 84 Tabel 4. Distribusi Alokasi Waktu ꙮ 85

Tabel 5. Tabel Program Tahunan (PROTA) ꙮ 86 Tabel 6 Perencanaan Program Semester ꙮ 88 Tabel 7. Format Silabus ꙮ 91

Tabel 8. Alokasi Waktu Matapelajaran Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah ꙮ 93

(14)

BAB I

HAKEKAT PERENCANAAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mampu:

1. Menjelaskan konsep desain perencanaan pembelajaran dengan benar.

2. Menjelaskan kedudukan desain perencanaan pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran dengan benar.

3. Menjelaskan Manfaat desain perencanaan pembelajaran dengan benar.

4. Menjelaskan fungsi desain perencanaan pembelajaran dengan benar

B. Definisi Perencanaan Pembelajaran

Kata perencanaan secara sederhana dapat diartikan sebagai pernyataan tentang suatu aktivitas untuk menetapkan keadaan di masa depan. Jika kegiatan yang telah ditentukan pada perencanaan belum terlaksana, maka guna membuat perencanaan yang baik harus menguasai keadaan yang ada pada saat ini.

Dengan demikian, dapat ditemukan berbagai cerminan hasil dari reality condition yang kemudian menjadi formula pada rangkaian aktivitas di dalam perencanaan.1

Oleh karena itu, apa yang akan dilakukan terumuskan pada kegiatan dalam perencanaan. Sebelum kegiatan dilaksanakan,

1 Sugeng Listyo Prabowo dan Faridah Nurmaliyah, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 2.

(15)

perlu perencanaan sebagai awal kegiatan. Oleh karena itu cara yang paling efektif dan efisien untuk proses penentuan kemana harus pergi dan pengidentifikasian persyaratan adalah melalui kegiatan perencanaan.2

Isi perencanaan memuat beberapa hal yaitu:

1. Tujuan, yaitu apa yang diinginkan sebagai hasil proses kegiatan pendidikan.

2. Program dan layanan, yaitu cara bagaimana pengorganisasian aktivitas belajar serta layanan-layanan pendukungnya.

3. Tenaga manusia, yaitu yang mencakup cara-cara menggambarkan perilaku, spesialisasi, kompetensi, prestasi, maupun kepuasan mereka.

4. Bangunan fisik yaitu mencakup cara-cara penggunaan, pola distribusi, dan kaitannya dengan bangunan fisik lainnya.

5. Keuangan, yaitu sesuatu yang meliputi rencana pengelolaan dan rencana penerimaan.

6. Struktur organisasi, yaitu bagaimana cara mengorganisasi, manajemen operasi dan monitoring program serta aktivitas/

kegiatan pendidikan yang telah direncanakan.

7. Konteks sosial atau elemen-elemen lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pembelajaran.3

Menurut Degeng (Amiruddin, 2016), usaha dalam membelajarkan siswa merupakan arti dari pembelajaran.4 Perencanaan pengajaran secara implisit pada konsep ini adalah aktivitas memilih, menentukan, mengelaborasi metode pembelajaran untuk hasil pengajaran yang diinginkan dapat tercapai.

Menurut Uno Hamzah, sebagai usaha untuk membelajarka siswa maka pembelajaran di rasa punya hakikat perencanaan atau

2 Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), 1.

3 Ibid., 6.

4 Amiruddin, Perencanaan Pembelajaran. (Yogykarta: Parama, 2016), 3.

(16)

perancangan (desain).5 Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang di inginkan, siswa berinteraksi dengan seluruh sumber belajar yang ada dan di pakai. Jadi, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru, karena guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Di dalam suatu proses pembelajaran, perencanaan pembelajaran merupakan salah satu tahapan yang sangat bergantung pada kompetensi keguruan seorang guru. Guru yang baik pasti akan berusaha sebisa mungkin supaya pengajarannya berhasil dan dapat berjalan sesuai tujuan yang diinginkan.

Senantiasa, dalam membuat perencanaan pembelajaran sebelum guru masuk ke dalam kelas merupakan salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan dari tercapainya tujuan yang diinginkan.

Menurut Thomas E. Curtis dan Wilma W. Bidwell, dalam proses pembelajaran di sekolah (kelas) pada artian yang sempit peranan guru lebih spesifik sifatnya, yaitu pada hubungan proses belajar mengajar. Peranan guru yaitu sebagai fasilitator belajar sekaligus pengorganisasi lingkungan belajar. Adapun peranan- peranan yang lebih spesifik, yakni:

1. Guru sebagai model.

2. Guru sebagai perencanaan.

3. Guru sebagai peramal.

4. Guru sebagai pemimpin.

5. Guru sebagai petunjuk jalan atau pembimbing kearah pusat belajar.6

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa bagian terpenting dari proses pembelajaran terletak pada perencanaan pembelajaran, karena perencaan pembelajaran sangat mempengaruhi hasil atau tercapainya tujuan pembelajaran itu sendiri. Sebenarnya, guru sudah sadar akan perlu dan pentingnya penyiapan

5 Hamzah B. Uno, 31.

6 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 45.

(17)

perencanaan pembelajaran (Lesson Plan), hanya saja untuk dapat menyuguhkan pengajaran yang baik dan sistematis para guru masih kurang dalam hal minat dan kepeduliannya. Selain itu, tingkat kompetensi keahlian pada disiplin keilmuan bagi masing- masing guru juga menjadi kendala untuk dapat mendesain suatu konsep pembelajaran yang ideal tersebut karena kompetensi yang belum atau kurang memadai.

C. Kedudukan Perencanaan Pembelajaran dalam Pembelajaran Robert H. Davis mengidentifikasi lima tipe permasalahan pembelajaran. Dari hasil proses identifikasi tersebut diperlukan beberapa perencanaan pembelajaran yang matang, antara lain:

1. Direction; yakni arah, tujuan atau kompetensi pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa dalam jangka periode tertentu.

2. Content and sequence; yakni bahwa guna mencapai setiap unsur dari tujuan pada masing-masing ranah yang dijadikan sasaran pembelajaran, realitasnya dibutuhkan adanya materi pembelajaran.

3. Methods; yakni dalam menginformasikan materi kepada siswa agar tujuan dapat tercapai, sangat ditentukan juga oleh ketepatan dalam memilih metode pembelajaran yang digunakan.

4. Constrains; yakni batasan yang jelas dari beberapa sumber pembelajaran yang akan digunakan serta mendukung pada setiap proses dalam pembelajaran

5. Evaluation; yakni penilaian di gunakan untuk salah satu metode memberikan nilai terhadap objek (siswa) sesuai dengan proses siswa dalam pembelajaran.7

D. Manfaat Perencanaan Pembejaran

Salah satu yang menjadi peran penting untuk membimbing guru melakukan tugasnya sebagai pendidik guna menyuguhkan

7 Ibid., 49.

(18)

apa yang dibutuhkan supaya siswanya dapat belajar adalah perencanaan pembelajaran. Dalam konsep ini, bisa dikatakan bahwa yang pertama kali harus dilakukan sebelum melangsungkan proses pembelajaran, perlu di lakukan yang namanya perencanaan pembelajaran. Di dalam perencanaan pembelajaran, ada beberapa hal yang bermanfaat dalam proses kegiatan belajar mengajar, antara lain:

1. Guna pedoman menunjukkan arah kegiatan untuk mencapai tujuan.

2. Guna pedoman kerja untuk setiap unsur (guru, murid).

3. Untuk membuat pola dasar guna mengatur yang menjadi penugasan maupun kewenangan untuk tiap-tiap unsur yang ikut maupun terlibat pada kegiatan.

4. Menjadi alat untuk mengukur seberapa jauh kefektivitasan pembelajaran pada suatu pekerjaan.

5. Menjadi unsur penyusun data supaya pekerjaan tetap balance.

6. Menjadi penghemat waktu, tenaga, alat, bahan , dan biaya.8 E. Fungsi Perencanaan Pembelajaran

Beberapa fungsi dari perencanaan pembelajaran antara lain:

a. Fungsi Kreatif

Kegiatan mendidik yang dilakukan dengan mematangkan perencanaan yang di siapkan dan akan di gunakan dan dinilai agar bisa memberi gambaran berbagai-macam kelemahan yang ada sehingga bisa memberikan feedback. Agar guru dapat memajukan dan membenahi suatu program kegiatan, maka di butuhkan feedback yang diambil dari permasalahan yang terjadi.

Dari feedback inilah, guru dapat berkreasi atau menemukan hal-hal baru yang di dapat dari pemecahan berbagai kelemahan yang ada.

8 Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, 5.

(19)

b. Fungsi Inovatif

Kesenjangan yang terjadi di antara harapan dan kenyataan ikut andil dalam membentuk sebuah inovasi jika hal tersebut mampu kita pahami. Saat proses yang kita lalui berjalan secara sistematis, mungkin kesenjangan semacam itu akan bisa ditangkap. Pembelajaran melalui proses yang sistematis ini merupakan hasil dari kegiatan yang direncanakan dan terprogram secara penuh. Pada hal yang berkaitan dengan inilah, dimaksudkan bahwa perencanaan sebagai fungsi untuk melahirkan ssesuatu yang baru sebagai usaha untuk memenuhi kesenjangan yang terjadi.

c. Fungsi Selektif

Agar suatu tujuan atau sasaran pembelajaran yang kita inginkan dapat tercapai, ada saatnya dan di situlah kita dihadapkan dengan berbagai pilihan strategi. Dengan melakukan sebuah proses perencanaan, strategi apa dan yang-mana yang lebih efektif dan efisien guna dikembangkan dapat kita pilih dan seleksi melalui proses yang dinamakan perencanaan. Bila tidak melalui proses perencanaan, tidak mungkin kita bisa dan akan sulit dalam menentukan pilihan yang tepat. Fungsi Selektif ini pun berhubungan pula dengan pemilihan materi pelajaran yang dirasa sesuai dengan tujuan atau apa yang di cita-citakan dalam pembelajran. Jadi, guru bisa menentukan materi apa yang sesuai dan tidak sesuai melalui proses perencanaan.

d. Fungsi komunikatif

Perencanaan yang bisa dijelaskan kepada setiap unsur yang terlibat, baik itu adalah siswa, guru, kepala sekolah, maupun pada pihak eksternal seperti wali murid atau bahkan masyarakat, baru suatu perencanaan tersebut bisa dikatakan memadai. Pada hakikatnya suatu perencanaan harus transparan dan bisa di komunikasikan, karena pada perencanaan tersirat tujuan yang hendak dicapai bukan hanya untuk kepentingan satu orang.

(20)

Dalam dokumen perencanaan, tujuan dan hasil yang ingin dicapai, rangkaian kegiatan juga harus bisa mengkomunikasikan dan dikomunikasikan dengan baik kepada setiap orang yang terlibat. Karena beberapa sebab tersebut, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan itu memiliki fungsi komunikasi.

e. Fungsi prediktif

Gambaran apa yang akan terjadi selesai melakukan suatu treatment sesuai pada progran yang telah di rancang akan muncul ketika suatu perencanaan telah disusun secara benar dan akurat. Karena dinilai bisa memprediksi seperti memberi gambaran tentang bermacam hasil ataupun kesulitan, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan memiliki fungsi prediktif.

f. Fungsi akurasi

Dewasa ini, banyak guru sering merasa kelebihan pelajaran, karena mereka menganggap materi yang harus di kuasai siswa terlalu banyak, sehingga tidak sesuai dengan waktu yang ada. Hal seperti ini berakibat pada proses pembelajaran yang dilaksanakan seakan tidak normal lagi. Guru tidak mempedulikan apakah materi yang diajarkan telah dipahami ataupun tidak oleh siswa, karena kriteria ketuntasan di ukur dari sampai mana materi pada pelajaran yang sudah disampaikan.

Untuk menghindari hal-hal tersebut, maka dibutuhkan suatu perencanaan yang matang. Karena untuk menimbang waktu yang dibutuhkan dalam penyampaian suatu bahan dan materi pelajaran tertentu, dapat di perhitungkan melalui yang namanya proses perencanaan. Dengan demikian, lewat perencanaan suatu program guru bisa dengan mudah menghitung atau mengakurasikan kapan dan jumlah jam-jam pelajaran yang dianggap efektif untuk belajar materi tertentu.

g. Fungsi pencapaian tujuan

Dengan hanya menyampaikan materi saja belum bisa sepenuhnya dikatakan mendidik, karena hakikat mendidik

(21)

adalah mengkonstruk bagaimana seseorang dapat menjadi manusia secara utuh. Bukan hanya berjalan dalam aspek intelektual saja untuk bisa dikatakan sebagai manusia yang utuh, melainkan pada keterampilan dan cara bersikap pula.

Dengan ini, dapat dikatakan bahwa pembelajaran memiliki dua sisi yang sama pentingnya yaitu hasil belajar serta proses belajar. Jadi dengan perencanaan, kedua sisi dari pembelajaran tersebut bisa dilaksanakan secara imbang.

h. Fungsi kontrol

Pada suatu proses pembelajaran terdapat bagian yang tak terpisahkan yaitu mengontrol keberhasilan siswa guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dari suatu perencanaan, akan dapat ditentukan materi apa yang sudah maupun belum dimengerti siswa dari sampai mana materi yang diajarkan sudah diterima oleh siswa, sehingga bisa dikatakan bahwa perencanaan memiliki fungsi sebagai kontrol. Setelah itu, untuk bisa meluaskan program pembelajaran berikutnya, guru akan menggunakan feedback yang didapat dari kontrol yang telah terlebih dahulu dilakukan sebelumnya.9

F. Kedudukan Perencanaan Pembelajaran dalam Pembelajaran IPS

Fenomena yang kerap terjadi berdampingan dengan berbagai permasalahan yang muncul, seperti halnya kasus pembunuhan dengan berbagai motif, kekerasan yang tidak manusiawi, bulliying, hingga pelecehan seksual dibawah umur. Fenomena yang terjadi karena timbulnya penyimpangan, seperti halnya:

pertama, adanya ambisi menumpahkan kesenangan yang belum dapat diimbangi oleh kapasitas yang disandang. Kedua, perilaku menyimpang terjadi karena tidak dapat menyeimbangi sikap dan emosi dalam perkembangan budaya. Ketiga, sulitnya dalam

9 Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2015), 45.

(22)

memfilter perkembangan alat komunikasi seperti jejaring internet, sehingga tidak dapat menyeimbangkan antara sikap, tingkah laku dan usia. Semua pihak harus segera merespon apabila telah terjadi krisis moral, salah satunya bekerja sama dengan pemerintah yang memiliki kepedulian terhadap kelangsungan kehidupan bangsa.

Salah satu benteng dalam menahan laju krisis moral dalam bentuk berbagai fenomena, yaitu dengan pendidikan yang baik.

Pendidikan memberikan kotribusi yang baik dalam mengatasi fenomena – fenomena yang ada tersebut. Permasalahan demikian, menyadarkan arti pentingnya Ilmu Pengetahuan Sosial.

Dalam pendidikan terdapat berbagai ilmu yang dapat diresapi kemaknaannya, salah satunya melalui Ilmu Pengetahuan Sosial.

IPS dapat mengajarkan kepada masyarakat bahwa, harus mampu berfikir dan bertindak bijak. Kendati demikian, maka masyarakat diharuskan untuk mengerti dan memahami hakikat dari Ilmu Pengetahuan IPS

a. Sejarah Berkembangnya IPS

Permasalahan sedemikian rupa sudah ada sejak dulu, sehingga masuknya istilah Social Studies. Secara resmi, pertama kalinya istilah Social Studies dimasukkan pada kurikulum sekolah Rugby yaitu di Inggris pada tahun 1827. Di sekolah itu ada direktur yang bernama Dr. Thomas Arnold dan merupakan seseorang yang pertama memasukkan istilah tersebut pada kurikulum sekolah.

Dimasukkannya istilah Social Studies ke dalam kurikulum dilatar belakangi kekacauan ditengah masyarakat Inggris yang disebabkan Revolusi Indutri.

Selain fenomena di Inggris, fenomena ini juga terjadi di Amerika Serikat yang terjadi setelah peristiwa yang disebut

“perang budak” yakni perang saudara yang terjadi antara kubu utara dan selatan. Melihat fenomena tersebut, menyadarkan para intelektual Amerika akan pentingnya Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sehingga, berkenaan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial terjadi

(23)

polemik di antara intelektual Amerika Serikat pada tahun 1935 yang kemudian dipublikasikan oleh sebuah organisasai yaitu National Council For Social Studies (NCSS).

Dalam rangka menghargai ke-berada-an multi-etnis di Amerika dengan menyadarkan melalui program pendidikan, maka langkah untuk menempuh adalah pada tahun 1892 di negara bagian Wisconsin, Social Studies dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Dalam proses perjalanan waktu, Komite Nasional dari The National Education Association diawal abad ke- 20 memberikan saran agar IPS dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah. Hal tersebut juga dipertegas oleh The National Herbart Society Papers of 1896-1897 di mana dinyatakan bahwa IPS merupakan bentuk dalam membatasi ilmu sosial dalam rangka kepentingan pedagogik dalam proses mendidik.

Hasil pembahasan sebelumnya, dapat di pahami bahwa IPS merupakan disiplin ilmu yang memiliki kemampuan Applied Science, sebab dari berbagai sejarahnya bahwa dalam menyelesaikan berbagai konflik atau kekacauan di dalam suatu wilayah.10 Melihat dari sejarah, bahwa IPS menjadi platform keilmuan sejarah, geografi dan civics. Bahkan pada perkembangan berikutnya, IPS tidak hanya menjadi platform dari sejarah, geografi dan civics akan tetapi bertambah dengan ekonomi, sosiologi, antropologi, hukum, dan psikologi sosial. Selain menjadi platform, (NCSS) National Council for the Social Studies menyebutkan sesungguhnya IPS hadir sebagai keilmuan yang kontekstual dan problem solver.

10 Rosardi, RG dan Supandi, 2021, Perencanaan Pembelajaran IPS Integratif, (Sumatra barat: Insan Cendekia Mandiri, 2.

(24)

Gambar 1. IPS sebagai platform ilmu-ilmu sosial

The Board of Direction of The National Council The Social Studies pada tahun 1994, mewujudkan sebuah visi, misi dan strategi baru dalam mengembangkan IPS, yang diterbitkan Expectation of Excellence: Curriculum Standard for Social Studies, yang berisikan beberapa poin, yaitu:

1. Program Social Studies perlu menegaskan kembali tujuan pokoknya, yaitu civic competence tidak cuma menjadikan Social Studies sebagai penanggung jawab.

2. Di dunia pendidikan di sekolah, program Social Studies dimulai pada tingkat taman kanak-kanak hingga pendidikan menengah, hal ini didapati dengan terpadunya aspek “… knowledge, skill, and attitudes within and across disciplines”.

3. Penitik berat-an program Social Studies terdapat pada usaha mengakomodasi siswa di dalam contruct a knowledge based and attitude drawn from an academic discipline as specialiazed ways of viewing reality.

4. Program Social Studies merepresentasikan “… the changing nature of knowledge, fostering entirely new and highly integrated approaches to resolving issue of significance to humanity11.

Poin – poin yang telah disebutkan sebelumnya, menjelasakan bahwa Social Studies merupakan sebuah wadah yang membentuk perilaku peserta didik dalam skala mikro dan makro. Adapun

11 Rosardi,RG dan Supandi.2021. Perencanaan Pembelajaran IPS Integratif. Sumatra Barat : Insan Cendekia Mandiri,4

Sejarah Ekonomi

Geografi Politik

IPS

Psikologi Antropologi

sosiologi Hukum

(25)

pada skala mikro, peserta didik tidak hanya mempersiapkan dan memfokuskan diri hanya pada knowladge, akan tetapi juga mempersiapkan bagaimana memiliki attitude yang baik sebagai bekal hidup dilingkungan keluarga dan masyarakat. Sedangakan secara makro, dengan Social Studies dapat membentuk diri peserta didik menjadi civic competence yaitu menjadi warga negara yang baik, patuh akan segala peraturan yang dibentuk oleh negara, sehingga menjadikan lingkungan yang aman dan nyaman.

Adapun perkembangan IPS yang ada di Indonesia ditahun 1964-1968 masih menggunakan pendekatan yang tradisional yang disajikan secara parsial, sehingga secara nasional IPS masih menjadi polemik dan perbincangan. Polemik tersebut memunculkan beberapa kegiatan seminar Nasional mengenai Civic Education, salah satunya di Tawangmangu Solo pada tahun 1972. Di dalam seminar tersebut disebutkan bahwa terdapat tiga istilah dalam keterpaduan ilmu – ilmu sosial di sekolah yaitu:

1. Pengetahuan Sosial;

2. Studi Sosial;

3. Ilmu Pengetahuan Sosial

Hasil beberapa kegiatan yang dilaksanakan, pada tahun 1975 bidang studi IPS di jenjang pendidikan dasar dan menengah secara resmi mendapatkan status formal.

b. Definisi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Berdasarkan hasil keputusan yang menyatakan bahwa, bidang studi IPS telah resmi digunakan dan diterapkan dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sepatutnya sebagai calon guru atau pendidik diwajibkan untuk memahami definitif dari pada Ilmu Pengetahuan Sosial. Pada tahun 1994, National Council for the Social Studies (NCSS, 1994) merumuskan arti dari Social Studies yaitu menjelaskan bahwa Social Studies is the integreted study of the social sciences and humanities to promote civic competence.

(26)

Within the school program, social studie provides coordinated, systematic study drawing upon such siciplines as anthropology, archeology, economic, geography, history, law, phylosophy, political science, pshycology, religion and sociology, as well appropriate content from the humanities mathematics and natural science.12

Hasil pemahaman diatas dapat dipahami bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan sebuah bidang ilmu yang ter- integrasi atau tidak dapat terpisahkan. Di dalam ilmu IPS terkandung makna, yaitu nilai-nilai kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial, seperti: ekonomi, antropologi, sosiologi, kewarganegaraan, sejarah. Hasil dari pada pengintegrasian itu, peserta didik diinginkan dapat menjadi warga negara yang baik, serta selalu mematuhi segala peraturan yang dibuat oleh negara. Definisi lain dari IPS, yaitu sebagai bentuk pendidikan. Bentuk pendidikan yang dimaksud bahwa peserta didik bukan cuma semata-mata dibekali oleh pengetahuan yang hanya membuat mereka terbebani, tetapi juga dibekali oleh pengetahuan sosial. Pengetahuan sosial berfungsi untuk diterapkan di dalam kehidupan sehari – hari. Dengan kata lain bahwa, pendidikan IPS selain sebagai pengetahuan juga sebagai mengasah keterampilan, serta pada keterampilan sosial dan intelektual adalah yang di utamakan.13

Keterampilan sosial merupakan keterampilan yang berhubungan dengan berbagai keperluan yang ada dilingkungan masyarakat, seperti halnya: gotong royong, bekerja sama, membantu orang lain yang mengalami kesulitan. Adapun keterampilan intelektual merupakan ketrampilan yang berhubungan dengan pemikiran, respon, cepat tanggap dalam mengahadapi berbagai permasalahan di masyarakat.

12 Rosardi,RG dan Supandi.2021. Perencanaan Pembelajaran IPS Integratif. Sumatra Barat : Insan Cendekia Mandiri,5

13 Sumatmadja,N, 2006, Konsep Dasar IPS, Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional, 10.

(27)

c. Perencanaan Pembelajaran IPS

Dapat di pahami bahwa IPS merupakan disiplin ilmu yang memiliki kemampuan Applied Science, sebab dari berbagai sejarahnya bahwa dalam menyelesaikan berbagai konflik atau kekacauan di dalam suatu wilayah. Kendati demikian, dalam proses pembelajaran IPS sesuai dengan implikasinya bahwa sebelum dilakukan pembelajaran IPS dikelas, seorang guru atau pendidik wajib dan mampu menyusun perencanaan pembelajaran IPS dengan baik. Hal demikian agar pembelajaran IPS akan berjalan dengan baik dan efektif. Adapun beberapa perencanaan yang harus dipersiapkan yaitu:

Gambar 2. Komponen Sistem Pembelajaran IPS Purwito (Abdul Karim:

2015)14

Gambar diatas merupakan sebuah perencanaan dalam pembelajaran IPS, yaitu dengan merencanakan satu: tujuan pendidikan dan pembelajaran apa yang ingin dicapai, sehingga segala sesuatu untuk mencapai tujuan harus di rencanaka

14 Karim, Abdul.2015.Pembelajaran Ilmu Pengetahuan IPS, 41

(28)

dan dipersiapkan. Kedua: Isi bahan atau materi pembelajaran harus direncanakan, sehingga capaian materi bukan Cuma mengandung kognitif, melainkan pula mencakup aspek afektif serta psikomotorik. Ketiga: penggunaan metode dalam pembelajaan IPS juga harus direncanakan dan termasuk ke dalam agenda perencanaan. Pembelajaran IPS harus menggunakan metode yang menyenangkan, efektif, dan efisien karena untuk menarikk interest peserta didik. Keempat: Media digunakan untuk membantu pendidik dalam mentransfer knowladge yang dimiliki oleh pendidik. Kelima: dalam pembelajaran harus dibentuk evaluasi, yang berfungsi mengetahui hambatan dan keberhasilan pembelajaran IPS. Perencanaan yang sedemikian rupa harus di susun dengan baik. Adapun penjelasan dari paparan gambar diatas, akan dijelaskan pada bab selanjutnya.

G. Evaluasi Akhir Pembahasan

Jawabalah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

1. Jelaskan konsep desain perencanaan pembelajaran dengan benar!.

2. Jelaskan kedudukan desain perencanaan pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran dengan benar!.

3. Jelaskan manfaat desain perencanaan pembelajaran dengan benar!

4. Jelaskan fungsi desain perencanaan pembelajaran dengan benar!

5. Jelaskan kedudukan desain perencanaan pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran IPS dengan benar!

(29)

BAB 2

TUJUAN DAN FUNGSI PERENCANAAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan Pembelajaran

Sesudah membaca bab ini, diharapkan mampu:

1. Menerangkan tentang penjelasan tujuan pembelajaran dengan benar;

2. Mengaplikasikan penyusunan perencanaan pembelajaran benar;

3. Menjelaskan fungsi perencanaan pembelajaran dalam PBM;

4. Menjelaskan pentingnya penyusunan perencanaan pembelajaran bagi guru.

B. Tujuan Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran memuat beberapa bagian, salah satunya yaitu tujuan. Sementara ini, langkah awal dalam penyusunan perencanaan pembelajaran adalah dengan menganalisis serta merumuskan tujuan. Pada proses pembelajaran, arah, atau sasaran yang ingin dicapai dapat ditujukan dengan yang namanya tujuan pembelajaran. Sesungguhnya, tujuan disetiap program itu harus ada, karena tujuan berisi dan mengarahkan pada tercapainya sesuatu yang diinginkan, selain itu bisa juga untuk menggambarkan bagaimana hasil akhir dari suatu kegiatan tersebut. Oleh gambaran jelas yang dipunya tentang tercapainya hasil yang diinginkan, bermacam usaha ataupun sistem untuk mencapainya akan bisa diupayakan.

(30)

Selain bisa timbul dari dalam diri sendiri, tujuan untuk menjadi pedoman tercapainya kegiatan juga bisa didapatkan dari orang lain. Dengan ini, berarti tiap tujuan yang ingin dicapai bisa dari sumber mana saja serta dapat memberi arah tentang kegiatan yang dilaksanakan. Ada saatnya bahwa sesuatu yang ingin dicapai bisa diusahakan dengan segala upaya pada jangka waktu lama/

panjang, pertengahan, atau jangka pendek. Karena sifat dari suatu kegiatan itu adakalanya membutuhkan waktu lama untuk mencapai sasaran akhir, adakalanya tidak. Acapkali usaha dengan segala upaya diperlukan agar kegiatan pada jangka waktu yang lama bisa tercapai. Tujuan menjadi usaha yang mana ada langkah- langkah untuk mengarahkan pada hasil akhir yang ingin dicapai di dalamnya. Maka dari itu, apabila perencanaan pembelajaran sebagai alat mencapai tujuan pendidikan dikaji, maka tujuan yang ingin dicapai meliputi tujuan akhir, tujuan perantara, serta tujuan segera.

Tujuan umum dalam pendidikan atau tujuan yang bersifat umum merupakan tujuan akhir dari perencanaan pembelajaran di sekolah. Dibutuhkan waktu yang panjang, sehingga tidak bisa tercapai segera oleh jangka waktu pendek. Tujuan perantara juga harus dilalui karena sifatnya yang lebih sempit serta waktu yang digunakan juga lebih pendek untuk bisa segera mencapai tujuan.

Meskipun demikian tujuan perantara seringkali membutuhkan tindakan pencapaian lebih segera lagi. Ini adalah tujuan yang menggambarkan hasil suatu kegiatan dari satu waktu.1

Tujuan perencanaan pembelajaran yaitu: pertama, sebagai petunjuk atau pedoman untuk pendidik supaya pembelajaran menjadi terstruktur dan terorganisasi serta bisa dikelola secara baik.

Memungkinkan untuk tujuan pembelajaran bisa segera tercapai jika ada sistem pengelolaan pembelajaran, serta kompetensi yang diharapkan bisa dimiliki oleh peserta didik. Kedua, sebagai

1 Lukmanul Hakim, 2007, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima), 88.

(31)

bagian dari upaya penyiapan pendidik untuk lebih profesional.

Perencanaan pembelajaran bisa mendorong pendidik lebih kreatif dan reflektif saat memilih strategi, pendekatan, dan metode yang tepat dengan materi yang akan dipelajari. Agar peserta didik yang kompeten bisa dihasilkan, melalui perencanaan pembelajaran guru akan terdorong untuk mendalami dan meluaskan bahan ajar yang relevan.

Ketiga, sebagai dasar atau pengingat untuk melaksanakan evaluasi program-program pembelajaran. Jika di awal pembelajaran telah dilakukan perencanaan pembelajaran, maka akan memungkinkan guru selama dan setelah pembelajaran berlangsung untuk melaksanakan proses evaluasi. Keempat, sebagai penjamin pendidik mengorganisasikan agar materi pelajaran relevan dengan kompetensi yang ditetapkan pada kurikulum dan karakteristik peserta didik, serta bisa memberi pengalaman belajar yang tepat untuk peserta didik bisa mencapai kompetensi.

Adanya duplikasi pada materi pembelajaran yang dibahas bisa terhindarkan dengan adanya suatu rencana pembelajaran.

Kelima, sebagai penjamin efisiensi pada pemanfaatan sumber daya. Adanya perencanaan pembelajaran memungkinkan pendidik hanya menyiapkan media pembelajaran, bahan ajar, dan alat evaluasi yang dibutuhkan. Adanya perencanaan pembelajaran juga memungkinkan pendidik mengatur waktu pembelajaran secara tepat, sehingga materi pembelajaran dapat dibahas secara tuntas sesuai waktu yang dialokasikan.2

Dari semua uraian, dapat disimpulkan bahwa hakikat tujuan yang paling mendasar dari suatu perencanaan pembelajaran yaitu untuk pegangan atau pedoman bagi pendidik, juga mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa pada proses pembelajaran. Guru yang baik pasti berusaha sebisanya supaya pembelajaran bisa berhasil dan berjalan secara optimal. Dengan

2 Ratumanan, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada,2019),29

(32)

guru senantiasa dalam merancang perencanaan pembelajaran, merupakan salah satu faktor yang dapat mencapai keberhasilan.

Untuk mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa pada proses pembelajaran merupakan garis besar dari tujuan perencanaan pembelajaran. Sagala (2003) mengemukakan bahwa:

“Tujuan perencanaan bukan hanya penguasaan prinsip- prinsip fundamental, tetapi juga mengembangkan sikap yang positif terhadap program pembelajaran, meneliti dan menemukan pemecahan masalah pembelajaran.

Secara ideal tujuan perencanaan pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar, metode dan penggunaan alat serta perlengkapan pembelajaran, menyampaikan kurikulum atas dasar bahasan dan mengelola alokasi waktu yang tersedia dan membelajarkan siswa sesuai yang diprogramkan”.

Dari pendapat tersebut, bisa di simpulkan bahwa agar proses pembelajaran itu mengarah serta bisa mencapai tujuan yang sudah dirancang, guru bisa menggunakan pilihan metode yang dianggap sesuai, itu merupakan tujuan dari perencanaan. Setiap memilih metode, berarti guru memutuskan untuk memilih jenis proses belajar mengajar apa yang paling efektif dalam mencapai tujuan yang sudah dirancang. Dalam kaitan ini, guru juga mengarahkan seperti apa pengorganisasian kegiatan-kegiatan siswa pada proses pembelajaran dari metode yang dipilihnya. Dengan demikian, tujuan itu penting untuk didalami dan dirancang dalam setiap kegiatan, supaya tujuan yang tertuang di kurikulum bisa benar- benar dicapai.3

B. Fungsi Perencanaan Pembelajaran dalam PBM

Untuk mencapai kompetensi siswa, sekolah/ madrasah mengupayakan pendidikan melalui proses pembelajaran. Sebab, proses pembelajaran adalah suatu usaha, sehingga dapat dikatakan

3 Sagala, S, 2003, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta)

(33)

bahwa sesungguhnya proses dalam pembelajaran yang dilakukan di suatu sekolah/ madrasah merupakan suatu kegiatan rekayasa yang mempunyai tujuan dalam pendidikan. Pendidikan dikemas dalam bentuk rekayasa dengan tujuan agar kegiatan yang sedang dilaksanakan dapat lebih efisien, efektif, dan menarik, sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. Itulah yang menjadi sebab bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan haruslah punya arah jelas untuk dituju, SDM yang perlu dilibatkan (mengarah ke kompetensi apa saja yang diperlukan, bukan hanya pada jumlah yang dibutuhkan), sumber daya yang diperlukan, proses yang harus dilaksanakan, serta tingkat keberhasilan yang diharapkan.

Tahapan yang paling awal dalam melaksanakan suatu pembelajaran adalah perencanaan pembelajaran. Pembelajaran memiliki 3 tahapan yang dianggap penting, yaitu: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas diperlukan landasan yang kuat, landasan yang kuat itu sendiri diperoleh dari adanya perencanaan pembelajaran yang baik dan tersusun sistematis. Sedangkan, evaluasi pembelajaran diperlukan guna mendapatkan informasi yang valid terkait efektifitas strategi belajar mengajar, serta efektifitas dari berbagai sumber pendukung.4

Dalam sebuah pelaksanaan pembelajaran ada salah satu yang memegang peranan besar, yaitu perencanaan pembelajaran.

Pembelajaran bisa saja menjadi tidak terstruktur, sehingga tidak bisa mencapai tujuan pembelajaran yang di harapkan, hal ini terjadi jika pembelajaran dilaksanakan tanpa berpedoman pada perencanaan yang baik. Pada pelaksanaan pembelajaran, keberadaan perencanaan pembelajaran dimaksudkan untuk memberi arah, tahapan, dan langkah yang jelas bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran.

4 Ibrahim, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 68.

(34)

Dengan demikian, perencanaan pembelajaran secara garis besar berfungsi sebagai:

1. Sebagai mediator dalam menyampaikan materi 2. Sebagai menterjemah dari turunan KI dan KD 3. Sebagai aturan main

4. Mengorganisasi dan mengakomodasi kebutuhan siswa secara spesifik.

5. Membantu guru dalam memetakan tujuan yang hendak dicapai.

6. Membantu guru, dalam mengurangi kegiatan yang bersifat trial and error saat mengajar.5

D. Pentingnya Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Bagi Guru

Beberapa pendidik senior mengabaikan perlunya perencanaan yang matang dalam mengellola pembelajaran.Ada yang berpandangan kami sudah bertahun-tahun menjadi pedidik, sudah terbiasa mengajar materi tersebut, sudah mengetahui tahapan mengajarnya, sehingga tidak perlu membuat silabus, RPP, dan perangkat lainnya.

Pandangan ini jelas sebuah kesalahan, setiap tahun akan selalu terjadi perubahan-perubahan dalam hal peserta didik, perubahan ketersediaan fasilitas pembelajaran, perubahan lingkungan, adanya perkembangan ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

Semua perubahan ini perlu dikaji dan dipertimbangkan dalam pembelajaran. Kalaupun pendidik telah menyusun perangkat pembelajaran pada tahun lalu, maka pada tahun ini perangkat pembelajaran tersebut perlu pula dievaluasi apakah pada tahun lalu perangakat tersebut telah befungsi secara optimal mendukung pembelajaran, apakah memebrikan dampak yang baik terhadap keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, apakah

5 Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001)

(35)

memberikan hasil belajar yang baik, apakah dikondisi seperti ini masih relevan, dan sebagainya.jika masih ditemukan adanya kelemahan, maka perlu diikuti dengan revisi atau rekonstruksi.

Dengan demikian, perencanaan menjadi penting untuk dilakukan oleh setiap guru dan dosen sebagai pendidik professional.Terdapat beberapa pertimbangan mengapa perencanaan pembelajaran penting dilakukan antara lain.

1. Pertama, pembelajaran merupakan kegiatan yang memiliki tujuan. Setelah proses pembelajaran peserta didik diharapkan memiliki perubahan berupa pertambahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dengan sudah ada perencanaan yang baik, pendidik juga bisa mengidentifikasi dan menentukan tahapan-tahapan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

2. Pembelajaran adalah kegiatan yang kompleks. Pembelajaran bukan proses terbatas penyampaian pengetahuan (transfer pengetahuan) pendidik kepada peserta didik. Pembelajaran merupakan proses di mana pendidik memanfaatkan seluruh sumber-sumber belajar yang ada guna membangun keadaan di mana siswa memungkinkan untuk dapat belajar serta mampu mengkonstruk pengetahuan untuk dirinya. Pengetahuan tersebut mungkin bersifat subjektif (subjective knowledge), tetapi melalui diskusi, klarifikasi, atau kegiatan lainnya pengetahuan tersebut berubah menjadi pengetahuan objektif (objective knowledge). Pembelajaran juga bukan hanta proses pembentukan dan pengembangan pengetahuan semata, tetapi pembentukan dan pengembangan kompetensi secara komprehensif, yang meliputi pengetahuan (knowledge / kognitif), keterampilan (performance / psikomotor), dan sikap (attitude / afektif). Untuk tumbuhnya kompetensi yang komprehensif tersebut setiap tahapan pembelajaran harus dirancang secara baik.

3. Pembelajaran melibatkan banyak komponen yang perlu

(36)

dikelola dan diorganisasi secara baik. Adanya perencanaan pembelajaran yang baik memungkinkan pendidik dapat mendayagunakan semua komponen tersebut secara efisien dan efektif. Komponen peserta didik misalnya, dengan memahami karakteristik peserta didik seperti minat, kemampuan, gaya belajar, dan sebagainya, pendidik dapat memilih pendekatan dan metode yang tepat. Ketersediaan fasilitas pembelajaran juga menjadi factor penting yang perlu diperhatikan dan dilibatkan dalam pembelajaran.

4. Pembelajaran merupakan sebuah proses kolaborasi. Sebuah tim paduan suara akan menampilkan performansi menarik jika semua angota tim berfungsi secara baik. Pembelajaran juga demikian, pembelajaran akan menarik dan efektif, jika semua komponen berfungsi secara baik. Pendidik mengelola kegiatan pembelajaran secara efektif, sehingga bisa melibatkan siswa pada proses pembelajaran secara antusias dan aktif, kerja sama antarpeserta didik berlangsung dinamis dan produktif, bahan ajar dapat berfungsi baik mendukung kegiatan pembelajaran, dan sebagainya. Untuk terjadinya kolaborasi yang baik antarsemua komponen pembelajaran, maka pembelajaran harus dirancang secara baik.

Woolfolk (2009) mendeskripsikan pentingnya perencanaan pembelajaran mengacu pada hasil-hasil penelitian para ahli, yakni sebagai berikut

1. Perencanaan memengaruhi apasajakah yang kemudian dipelajari oleh siswa, sebab kegiatan-kegiatan, pekerjaan- pekerjaan, dan tugas-tugas bagi siswa berasal dari waktu dan bahan yang ada dalam kurikulum yang ditransformasikan oleh perencanaan. Pendidik harus mengeathui waktu penting dalam perencanaan, bila seorang pendidik memutuskan untuk menggunakan waktu 7 jam untuk Bahasa dan 15 menit untuk sains di suatu minggu, peserta didik di kelas akan lebih banyak

(37)

belajar Bahasa daripada sains. Faktanya, perbedaan sedramatis ini benar-benar terjadi, di mana sebagian kelas menggunakan waktunya dua kali lebih banyak untuk sebuah subjek tertentu dibandingkan subjek-subjek lainnya (clark & yinger, 1988, karweit, 1989)

2. Pendidik terlibat dalam beberapa tingkat perencanaan, berdasarkan tahun, semester, unit, minggu, dan hari. Semua tingkat harus dioordinasikan. Melaksanakan rencana membutuhkan pembagian pekerjaan menjadi semester, semester menjadi unit, unit menjadi minggu, dan minggu menjadi hari. Bagi pendidik berpengalama,perencanaan unit tampaknya merupakan tingkat yang paling pentinf, diikuti oleh perencanaan mingguan dan harian. Dengan semakin bertambahnya pengalaman mengajar anda, akan semakin mudah untuk mengoorfinasikan tingkat-tingkat perencanaan ini dan juga untuk memasukkan standar kurikulum negara bagian dan distrik (Morine Dershimer, 20016)

3. Perencanaan mengurangi, tetapi tidak mengeliminasi ketidakpastian dalam pembelajaran. Perencanaan harus memungkinkan fleksibilitas. Terdapat beberapa bukti bahwa jika pendidik overplan mengisi seiap menit sesuai rencana dan terlalu terpaku pada rencana itu, peserta didik mereka tidak belajar sebanyak peserta didik yang pendidiknya dengan fleksibel (Shavelson, 1987). Untuk merencanakan denga kreatif dan fleksibel, pendidik perlu memiliki pengetahuan dengan rentang yang lebar tentang peserta didik, minat mereka, dan kemampuan mereka, subjek-subjek yang diajarkan, cara- cara alternative untuk mengajar dan mengakses pemahaman bagaimana mempersatukan semua pengetahuan ini menjadi kegiatan-kegiatan yang bermakna. Rencana pendidik pemula kadang-kadang tidak bisa terlaksana dengan baik karena mereka kurang memiliki pengetahuan tentang peserta didik atau subjeknya, mereka tidak bisa memprediksi jumlah waktu

(38)

yang diperlukan peserta didik untuk menyelesaikan sebuah kegiatan, misalnya, atau mereka tersandung ketika dimintai penjelasan atau contoh yang berbeda (Calderhead, 1996).

4. Tidak ada model tunggal untuk perencanaan yang fektif.

Perencanaan adalah upaya pemecahan masalah secara kreatif oleh para pendidik berpengalaman. Mereka tahu bagaimana cara banyaknya pelajaran bisa diselesaikan serta mengajar secara efektif melalui sistem-sistem pelajaran, banyak pendidik berpengalaman menganggap bahwa akan menolong bila mempelajari system (model-model perencanaan pembelajaran) terinci sebagai fondasi (Clark& Peterson, 1986).6

6 Ratumanan, Perencanaan Pembelajaran (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2019), 25

E. Evaluasi Akhir Pembahasan

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan banar!

1. Jelaskan, apakah tujuan dari penyusunan perencanaan pembelajaran?

2. Jelaskan fungsi perencanaan pembelajaran PBM?

3. Jelaskan garis besar perencanaan pembelajaran?

4. Analisislah pentingnya menyusun perencanaan bagi guru / pendidik?

(39)

BAB 3

MACAM DAN MODEL

DESAIN PERENCANAAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan pembelajaran

Setelah membaca bab ini, diharapkan mampu:

1. Menjelaskan model Dick and Carry;

2. Menjelaskan model ASSURE;

3. Menjelaskan model Gerelach dan Ely;

4. Menjelaskan model ADDIE;

5. Menjelaskan model Degeng;

6. Menjelaskan model PPSI;

7. Menjelaskan model Jerold E. Kemp;

8. Menjelaskan pokok bahasan dan tujuan “Goals, Topics, and General Purpose”;

9. Menjelaskan model ISD.

B. Model Dick and Carry

Berasal dari Masterpiece dan ide Robert M. Gagne yang berjudul “The Conditional of Learning”, kemudian dikembangkan model desain system pembelajaran oleh Dick, dkk.

Pada edisi perdana, pendekatan yang digunakan pada sistem dan teorinya adalah aliran behavioristik di mana penekanannya oleh respon siswa berkenaan dengan keadaan stimulus yang di input- kan. Edisi berikutnya, pada proses belajar dan pembelajaran dimasukkan unsur dan pandangan kognitif oleh Dick ke dalam bukunya.

(40)

Gambar 3. Model Dick and Carry

Dick, dkk mengemukakan bahwa komponen merupakan sekaligus langkah-langkah utama dari model desain sistem pembelajaran yang terdiri atas:

1. Identitas Tujuan Pembelajaran

Sesudah melaksanakan program pembelajaran, menentukan kemampuan atau kompetensi apa saja yang harus dimiliki bagi peserta didik merupakan tahap awal yang harus dilaksanakan saat akan menerapkan desain sistem pembelajaran. Hal ini biasanya dikenal dengan istilah tujuan pembelajaran atau instructional goal. Dalam merumuskan tujuan dalam pembelajaran, dapat diolah dari rumusan tujuan yang sudah ada. Biasanya bisa diambil dari tujuan pembelajaran yang ada di silabus sekolah ataupun hasil analisis (analysis performance) yang dilakukan oleh pendidik. Dari proses analisis kebutuhan (need analysis) serta realitas atau pengalaman mengenai kesulitan belajar yang dialami siswa juga bisa menjadi dasar untuk membuat rumusan tujuan pembelajaran. Selain itu, analisis mengenai bagaimana seseorang melaksanakan tugas atau lebih spesifiknya pekerjaan serta apa saja persyaratan yang dibutuhkan guna melaksanakan

Mendesain dan melakukan

evaluasi sumatif Mengidentifikasi

tingkah laku masukan dan karakteristik

siswa Merumuskan

tujuan performasi

Mengembag kan butir

acuan

Memilih material pengajaran Mengembang

kan strategi pengajaran

Melaksanakan evaluasi formatif Mengidentifikasi

tujuan umum pembelajaran

Merevisi bahan pembelajaran Melaksanakan

analisis pengajaran

(41)

tugas dan pekerjaan tersebut juga bisa digunakan untuk merumuskan tujuan pembelajaran.1

2. Analisis Instruksional

Langkah selanjutnya setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran adalah melakukan suatu tahapan guna menetapkan keterampilan dan pengetahuan yang relevan serta dibutuhkan oleh siswa guna mencapai tujuan atau kompetensi.

Hal ini biasa disebut dengan analisis instruksional. Adapun langkah-langkah guna melakukan identifikasi kompetensi saat melakukan analisis instruksional, yaitu berupa pengetahuan (cognitive), keterampilan (psychomotor), serta sikap (attitudes) yang harus dimiliki seluruh siswa sesudah mengikuti seluruh proses pembelajaran.

3. Analisis Siswa dan Konteks Pembelajaran

Yang dimaksud analisis konteks adalah analisis guna mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, yang mencakup keterkaitan kondisi-kondisi dengan keterampilan yang dipelajari siswa dan keadaan yang terkait.

Preferensi cara belajar (learning style) atau biasa disebut gaya, sikap terhadap kegiatan belajar, serta kemampuan aktual yang siswa miliki merupakan yang di analisis dari karakteristik siswa. Perancang program pembelajaran saat memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan, akan terbantu apabila karakteristik siswa yang akan belajar di identifikasi secara akurat.

4. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus

Hasil dari analisis instruksional, mengelaborasi kompetensi atau tujuan pembelajaran yang spesifik (instructional objective) yang harus dimengerti siswa, perlu dikembangkan oleh perancang desain sistem pembelajaran guna tujuan pembelajaran yang bersifat umum (instructional goal) dapat tercapai. Ada beberapa

1 Benny A. Pribadi, Model Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Dian Rakyat, 2009), 107.

(42)

hal yang perlu mendapatkan perhatian saat tujuan pembelajaran yang bersifat spesifik dirumuskan, antara lain:

a. Menentukan pengetahuan dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa setelah menenmpuh proses pembelajaran, b. Diperlukan suatu kondisi khusus bagi siswa agar bisa

menunjukkan kemampuan dari pengetahuan yang telah dipelajari, dan

c. Indikator atau kriteria yang bisa memastikan keberhasilan siswa saat proses pembelajaran sedang ditempuh.

5. Mengembangkan Alat atau Instrumen Penilaian

Langkah setelah sudah merumuskan tujuan atau kompetensi khusus, alat atau instrumen penilaian perlu dikembangkan karena bisa memperkirakan pencapaian hasil belajar siswa.

Langkah yang dimaksud adalah evaluasi hasil belajar. Saat menetapkan instrument evaluasi apa yang mau digunakan, perlu diperhatikan bahwa intrumen harus bisa menaksir kemampuan siswa guna tujuan pembelajaran yang dirumuskan bisa tercapai.2

6. Mengembangkan Strategi Pembelajaran

Dari pengumpulan informasi sebelumnya, supaya program pembelajaran yang sudah dirancang bisa tercapai sesuai yang sudah ditentukan, maka langkah selanjutnya perlu dilakukan penentuan strategi oleh perancang program pembelajaran.

Strategi yang dimaksud adalah strategi pembelajaran (instructional strategy). Pada kegiatan pembelajaran, strategi pembelajaran yang bisa diterapkan antara lain aktivitas pra- pembelajaran, penyajian materi pembelajaran, dan kegiatan tindak lanjut dari aktivitas pembelajaran. Faktor-faktor yang digunakan untuk memilih strategi pembelajaran antara lain:

a. Teori terbaru tentang aktivitas pembelajaran, b. Penelitian tentang hasil belajar,

2 Ibid., 108.

(43)

c. Karakteristik media pembelajaran yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran,

d. Materi atai substansi yang perlu dipelajari oleh siswa, dan e. Karakteristik siswa yang akan terlibat dalam kegiatan

pembelajaran.

7. Penggunaan Bahan Ajar

Strategi pembelajaran yang sudah dirancang pada tahap sebelumnya bisa diterapkan oleh perancang program pembelajaran dalam tahap ini ke bahan ajar yang akan digunakan. Bahan ajar merupakan media pembelajaran, yaitu sesuatu yang bisa menyampaikan informasi dan pesan dari sumber belajar kepada siswa. Pada kegiatan pembelajaran, ada beberapa jenis bahan ajar yang bisa dipakai yaitu: modul, buku (panduan dan teks), berbasis multimedia, berbasis computer, berbasis audio video, dan bahan ajar yang dipakai untuk PJJ (pendidikan jarak jauh). Ada beberapa cara untuk pengadaan bahan ajar yang digunakan, antara lain:

a. Produk dibeli secara komersial.

b. Bahan ajar yang sudah tersedia bisa dimodifikasi.

c. Bahan ajar bisa di produksi sendiri sesuai tujuan.

8. Merancang dan Melakukan Evaluasi Formatif

Langkah selanjutnya sesudah merancang pengembangan program pembelajaran adalah merancang dan melaksanakan evaluasi formatif. Maksud dari dilakukannya evaluasi formatif adalah guna mengumpulkan data yang berkaitan dengan kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dari program pembelajaran. Pada proses evaluasi formatif, hasilnya bisa dipakai untuk input atau masukan guna membenahi rancangan program.3 Guna mengembangkan produk atau program pembelajaran, ada 3 jenis evaluasi formatif yang bisa diterapkan, antara lain:

3 Ibid., 108.

(44)

a. Evaluasi perorangan (on to one evaluation).

b. Evaluasi kelompok sedang (small group evaluation).

c. Evaluasi lapangan (field trial).

9. Melakukan Revisi Terhadap Program Pembelajaran

Merevisi rancangan program pembelajaran merupakan tahap terakhir dari desain dan pengembangan. Agar bisa mengenali kelemahan-kelemahan yang ada di program pembelajaran, bisa diketahui dari data yang diperoleh, dirangkum, ditafsirkan dari tahap evaluasi formatif. Selain pada skema program pembelajaran, evaluasi formatif juga dilaksanakan dalam bagian- bagian rancangan sistem pembelajaran yang digunakan pada program, misalnya karakteristik siswa, analisis instruksional, dan entry behavior. Bisa dikatakan bahwa langkah atau tahap evaluasi formatif harus dilaksanakan disemua bagian program pembelajaran. Tujuan dilakukannya evaluasi formatif disemua bagian adalah guna meningkatkan serta menyempurnakan mutu program tersebut.4

10. Merancang dan Mengembangkan Evaluasi Sumatif

Evaluasi sumatif tidak sama dengan evaluasi formatif. Dari kegiatan desain model pembelajaran yang dicetuskan Dick dan Grey, evaluasi ssumatif adalah puncaknya. Jika seluruh materi dari suatu program tertentu telah selesai dipelajari. Selanjutnya dilakukan evaluasi sumatif. Hal ini untuk menilai apakah tujuan pembelajaran dalam suatu program tertentu dapat tercapai atau tidak.5

C. Model ASSURE

Rancangan atau proses perencaan yang baik diperlukan untuk menyajikan kegiatan pembelajaran yang efektif. Tidak terkecuali juga pada kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media dan teknologi. ASSURE merupakan nama model desain

4 Ibid., 109.

5 Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2007), 80.

(45)

sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Sharon E. Smaldino, James D. Russel, Robert Heinich, dan Michael Molenda (2005).

ASSURE di kembangkan guna mengkontruk sebuah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien layaknya model desain sistem pembelajaran yang lain, khususnya dalam kegiatan pembelajaran di mana media dan teknologi yang digunakan.

Model ASSURE lebih memfokuskan dalam perencanaan pembelajaran untuk digunakan dalam situasi pembelajaran di kelas secara tekstual. Smaldino, Russel, Heinich, dan Molenda mengemukakan pemikiran tentang pengembangan model desain sistem pembelajaran yang didasarkan pada pandangan-pandangan Robert M. Gagne (1985) tentang peristiwa pembelajaran “Event of Instruction”. Gagne mengungkapkan bahwa usaha yang bisa membangkitkan motivasi sesorang untuk belajar merupakan awal untuk membuat desain pembelajaran yang efektif.

Perlunya melakukan desain penilaian hasil belajar adalah untuk mengukur pemahaman siswa terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang telah dipelajari. Pada model desain sistem pembelajaran ASSURE, terdapat tahap-tahap penting yang perlu dilakukan, antara lain:

1. Analyze learne, yaitu menganalisis karakteristik siswa, 2. State Objectives, yaitu menetapkan tujuan pembelajaran, 3. Select methods, media, and materials, yaitu memilih metode

pembelajaran, media, dan bahan ajar.

4. Utilize materials, yaitu memanfaatkan bahan ajar,

5. Require learners participations, yaitu melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan

6. Evaluate and revisi, yaitu melakukan evaluasi dan revisi terhadap program pembelajaran.

Untuk melakukan desain sistem pembelajaran model ASSURE ada langkah-langkah yang diperlukan, berikut

(46)

merupakan diagram yang menggambarkan langkah-langkah tersebut.

A S S U R E

= menganalisis karakteristik siswa

= menetapkan tujuan pembelajaran

= seleksi metode, media, dan bahan

= memanfaatkan bahan ajar

= melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran

= evaluasi dan revisi

Berikut merupakan deskripsi dari setiap bagian yang ada pada model ASSURE, supaya model ini bisa lebih mudah dipahami.

a) Analyze Learbers

Pada langkah awal, untuk dapat menerapkan model desain pembelajaran ASSURE perlu dilakukan identifikasi karakteristik siswa yang akan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

b) State Objectives

Selanjutnya, langkah yang dilakukan pada model desain sistem pembelajaran ASSURE adalah menetapkan tujuan pembelajaran yang bersifat spesifik. Untuk menetapkan tujuan pembelajaran, perancang bisa memperolehnya dari kurikulum atau silabus, informasi yang dicatat dari buku teks.

c) Select Methods, Media, and Materials

Pada tahap berikutnya, yang dilakukan setelah menentukan tujuan adalah pemilihan metode, media, dan bahan ajar yang akan digunakan. Tiga komponen ini memiliki peran penting untuk membantu siswa agar tujuan pembelajaran yang sudah tetapkan dapat tercapai.

d) Utilize Materials

Langkah selanjutnya sesudah memilih metode, media, dan bahan ajar ialah memanfaatkan ketiganya pada aktivitas

(47)

pembelajaran. Uji coba atau setting yang sebenarnya perlu dilakukan guna mengukuhkan keefektifan dari ketiga komponen tersebut.

e) Requires Learner Participation

Psikis siswa secara aktif dengan materi yang berlangsung perlu dilibatkan dalam proses pembelajaran. Contoh prosedur yang bisa dilakukan pada langkah ini seperti pemberian latihan.

f) Evaluate and Revise

Langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran ASSURE ialah evaluasi. Yang dilakukan pada tahap ini adalah menilai efektivitas pembelajaran dan juga hasil belajar siswa.

Saat melakukan evaluasi, adapun pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui seberapa efektif proses pembelajaran yang sedang berlangsung yakni sebagai berikut.

a. Apakah tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan bisa dicapai oleh siswa?

b. Apakah metode, media, dan strategi pembelajaran yang dipilih bisa membantu proses belajar siswa?

c. Apakah dari materi pembelajaran yang sedang dipelajari bisa membuat siswa terlibat aktif?

Dalam mendesain kegiatan pembelajaran, model ASSURE adalah pilihan tepat karena bersifat praktis serta implementasinya cukup mudah, dan bisa diterapkan secara individual ataupun klasikal. Untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik, diperlukan analisis karakteristik siswa.

Analisis karakteristik siswa mempemudah dalah menentukan metode, media, dan strategi pembelajaran. Demikian juga pada evaluasi dan revisi bisa dimanfaatkan guna menjamin mutu proses pembelajaran yang di rancang.6

6 Benny A. Pribadi, Model Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Dian Rakyat, 2009), 117.

(48)

D. Model Geralch dan Ely

Gerlach dan ely merancang sebuah model pembelajaran yang cocok digunakan untuk segala kalangan bahkan di pendidikan tingkat tinggi sekalipun. Hal ini dianggap cocok karena ada penentuan strategi yang tepat untuk diterapkan oleh guru dalam menenrima materi yang akan disampaikan. Model ini adalah suatu usaha guna menggambarkan secara grafis, suatu metode perencanaan pembelajaran yang sistemik. Model ini layaknya suatu garis pedoman yang bisa dipakai untuk instrumen berupa checklist saat melakukan perencanaan pembelajaran. Pada model ini diperlihatkan kerkaitan antara substansi yang satu dengan yang lainnya serta bisa menyajikan suatu pola urutan yang dikembangkan ke dalam suatu rencana aktivitas dalam proses belajar.

1. Komponen-komponen Model Pembelajaran Gerlach dan Ely Gambar 4. Gerlach dan Ely Design Model

a. Merumuskan Tujuan Pembelajaran (Spesification of Objectives) Pada aktivitas pembelajaran terdapat ambisi yang ingin dicapai yang biasa disebut dengan tujuan pembelajaran.

Kemampuan yang dirumuskan pada suatu tujuan pembelajaran

Spectification of

Content

Selection of Resources Allocation of

Space Determination of

Strategi

Allocation of Time Organization of

Groups

Spectification of Objective

Asessment of Entering Behaviors

Evaluation of Performance

Analysis of Feedback

(49)

harus sesuai dengan tingkat pada jenjang tertentu. Syarat dari tujuan pembelajaran adalah jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan operasional supaya mudah diukur dan nilai. Adapun petunjuk perumusan tujuan pembelajaran secara praktis, sebagai berikut.

1. Diformulasi dengan bentuk yang operasional.

2. Dirumuskan dengan bentuk proyek belajar.

3. Dirumuskan dengan tingkah laku siswa, bukan tingkah laku guru.

4. Dirumuskan sedemikian rupa sehingga meunjukkan dengan jelas tingkah laku yang dituju.

5. Diusahakan hanya mengandung satu tujuan belajar.

6. Tujuan dirumuskan dengan tingkat keluasan yang sesuai.

7. Dirumuskan sesuai kondisi dari tingkah laku yang dikehendaki.

8. Mencantumkan standar tingkah laku yang bisa diterima.

b. Menentukan isi Materi (Spesification of Content)

Hakikatnya, materi merupakan isi/ konten dari kurikulum, konten itu berupa pengalaman belajar dalam bentuk bidang studi, sekolahan, serta rincian lainnya. Konten pada materi berbeda-beda, hal ini dibedakan berdasarkan bidang studi, sekolah, tingkat, dan kelas. Agar mengetahui materi dengan tujuan yang diigin dicapai sudah sesuai atau belum, pemilihan materi yang akan diajarkan bagi siswa harus disesuaikan dengan pokok bahasan yang spesifik.

c. Penilaian Kemampuan Awal Siswa (Assessment of Entering Behaaviors)

Metode untuk mengetahui kemampuan awal pada siswa bisa dengan memberikan tes awal. Pentingnya mengetahui kemampuan awal siswa bagi guru adalah untuk bisa memberi materi yang cocok, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Pengambilan

Gambar

Gambar 1. IPS sebagai platform ilmu-ilmu sosial
Gambar 2. Komponen Sistem Pembelajaran IPS Purwito (Abdul Karim:
Gambar 3. Model Dick and Carry
Gambar 5. Model ADDIE
+7

Referensi

Dokumen terkait

Komponen awal penyusunan RPP tematik di SDN Kleco I Surakarta antara lain identitas sekolah, mata pelajaran, alokasi waktu, KI, KD, indikator pencapaian

adalah: 1) Perencanaan pembelajaran IPS Terpadu di SMP meliputi: penyusunan silabus, penyusunan program tahunan (Prota), penyusunan program semester (Promes), dan penyusunan

Tugas ini yang teridiri dari pembuatan RPP (Draf 1 dan 2) serta RPP tulis tangan, silabus, Program Semester, Program Tahunan, Analisis Keterkaitan Antara SKL, KI, KD,

RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap guru di setiap satuan pendidikan

Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan RPP meliputi: (1) menentukan identitas mata pelajaran dan tingkat satuan pendidikan, (2) menentukan alokasi waktu, (3)

Dalam merumuskan indikator guru memperhatikan KI dan KD dari hasil analisis silabus dan RPP, selanjutnya guru menentukan ruang lingkup materi dalam kisi-kisi dengan

Selanjutnya mahasiswa diberi tugas menyusun program tahunan, program semester, silabus, dan RPP (mulai dari mengembangan kompetensi inti (KI), kompetensi dasar