• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Geralch dan Ely

DESAIN PERENCANAAN PEMBELAJARAN

D. Model Geralch dan Ely

harus sesuai dengan tingkat pada jenjang tertentu. Syarat dari tujuan pembelajaran adalah jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan operasional supaya mudah diukur dan nilai. Adapun petunjuk perumusan tujuan pembelajaran secara praktis, sebagai berikut.

1. Diformulasi dengan bentuk yang operasional.

2. Dirumuskan dengan bentuk proyek belajar.

3. Dirumuskan dengan tingkah laku siswa, bukan tingkah laku guru.

4. Dirumuskan sedemikian rupa sehingga meunjukkan dengan jelas tingkah laku yang dituju.

5. Diusahakan hanya mengandung satu tujuan belajar.

6. Tujuan dirumuskan dengan tingkat keluasan yang sesuai.

7. Dirumuskan sesuai kondisi dari tingkah laku yang dikehendaki.

8. Mencantumkan standar tingkah laku yang bisa diterima.

b. Menentukan isi Materi (Spesification of Content)

Hakikatnya, materi merupakan isi/ konten dari kurikulum, konten itu berupa pengalaman belajar dalam bentuk bidang studi, sekolahan, serta rincian lainnya. Konten pada materi berbeda-beda, hal ini dibedakan berdasarkan bidang studi, sekolah, tingkat, dan kelas. Agar mengetahui materi dengan tujuan yang diigin dicapai sudah sesuai atau belum, pemilihan materi yang akan diajarkan bagi siswa harus disesuaikan dengan pokok bahasan yang spesifik.

c. Penilaian Kemampuan Awal Siswa (Assessment of Entering Behaaviors)

Metode untuk mengetahui kemampuan awal pada siswa bisa dengan memberikan tes awal. Pentingnya mengetahui kemampuan awal siswa bagi guru adalah untuk bisa memberi materi yang cocok, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Pengambilan

langkah-langkah yang diperlukan bisa dengan mengetahui kemampuan awal, misalnya apakah perlu mempersiapkan diri untuk belajar, apakah perlu menggunakan metode tertentu, dan lain-lain. Ada 2 cara dalam mengumpulkan data siswa, yaitu:

1) Pretest yakni apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui tentang topik yang akan diajarkan. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa. Seperti bisa memperkirakan sejauh mana kognitif siswa tentang definisi dan konsep.

2) Personal data atau pengumpulan data pribadi siswa guna mengukur potensi peserta didik dan pengelompokkan siswa yang fast learners dan slow learners. Data ini bisa dikumpulkan dengan cara memberikan tes intelegensi. Contohnya seperti mengukur kemampuan siswa dalam keterampilan menalar atau membuat alasan, menceritakan kembali, dan kemampuan dalam pengolahan/ pemrosesan data.

Hasil pada tes intelegensi ini selanjutnya ditinjau dan dibandingkan dengan nilai rata-rata pada mata pelajaran yang sebelumnya telah ditempuh.

d. Menentukan Strategi (Determination of Strategi)

Pada tahap ini guna mencapai tujuan pendidikan (instruksional) terbaik guru perlu menentukan strategi.

Berdasarkan pemikiran dari Gerlach dan Ely, ada 2 pendekatan yang bisa digunakan, antara lain:

1) Dalam kuliah tradisional, bentuk ekspose yang biasa digunakan lebih ke komunikasi satu arah. Guru memainkan peran besar dalam proses expository. Metode diskusi adalah metode yang umum digunakan dalam hal ini.

2) Partisipasi siswa pada proses belajar mengajar diprioritaskan dalam bentuk inquiry, hanya demonstrasi yang disajikan oleh guru. Demikian ini diharapkan memungkinkan siswa untuk menemukan jawaban mereka sendiri.

Ada kelebihan dan kekurangan dari pendekatan expository dan inquiry, tetapi yang paling penting adalah bagaimana guru bisa menentukan kapan menggunakan expository dan kapan menggunakan inquiry. Saat siswa sedang belajar secara mandiri (Independent Study), pendekatan expository juga bisa digunakan, seperti saat mempelajari masalah dengan menggunakan tape recorder. Jadi, akan lebih mudah menggunakan pendekatan inquiry jika mengajar siswa jumlah kecil (5-10 siswa).

e. Pengelompokan Belajar (Organization of Groups)

Langkah selanjutnya sesudah menentukan startegi adalah guru perlu mulai untuk mengorganisir kelompok belajar.

Pendekatan yang menginginkan aktivitas pembelajaran yang mandiri dan bebas membutuhkan pengaturan yang berbeda dengan pendekatan yang perlu banyak diskusi dan keterlibatan siswa secara aktif di kelas kecil dan untuk mendengarkan ceramah di kelas besar. Ada beberapa pengelompokan belajar, antara lain:

1) Pengelompokan berdasarkan jumlah siswa (grouping by size), yakni belajar mandiri, kelompok kecil dan besar.

2) Pengelompokan campuran (ungraded grouping), yakni biasanya usia dan kelas tidak dipandang, namun mengelom- pokkan kesamaan kemampuan berfikir pada satu pelajaran.

3) Gabungan beberapa kelas (multiclass grouping), yakni penggabungan beberapa kelas dari tingkat yang sama pada satu ruangan besar. Dalam proses pembelajaran, siswa-siswa memperoleh macam-macam kegiatan yang bersamaan pada satu ruangan yang sama.

4) Sekolah dalam sekolah (schools within schools), yakni penggabungan beberapa sekolah ke dalam satu kelompok besar.

5) Taman pendidikan (education park), yakni lembaga yang memiliki TK hingga perguruan tinggi dalam satu lokasi, dengan memusatkan informasi, sarana, serta pelayanan.

f. Pembagian waktu (Allocation of Time)

Seorang guru perlu juga untuk memikirkan penggunaan waktu guna memilih strategi dan pengelompokan belajar. Dalam merancang alokasi waktu, pasti akan berbeda-beda berdasarkan pokok masalah, desain tujuan, ruangan yang tersedia, konsep administrasi juga kemampuan (abilitas) dan minat para siswa.

g. Menentukan Ruangan (Allocation of Space)

Supaya proses belajar mengajar bisa kondusif, ada 3 alternatif ruangan belajar dalam alokasi ruang, antara lain:

1) Ruangan-ruangan kelompok besar 2) Ruangan-ruangan kelompok kecil 3) Ruangan untuk belajar mandiri h. Memilih media (Allocation of Resources)

Media yang digunakan ditentukan dari kesepakatan pengajar dengan siswa, ada 5 kategori media sebagai sumber belajar yang dikemukakan oleh Gerlach dan Ely, antara lain:

1) Manusia dan benda nyata 2) Media visual proyeksi 3) Media audio

4) Media cetak 5) Media display

i. Evaluasi hasil belajar (Evaluation of Performance)

Perubahan tingkah laku merupakan tujuan dari hasil belajar ketika telah menyelesaikan proses pembelajaran. Desain tujuan belajar menjadi dasar pengembangan instrumen evaluasi yang harus bisa mengukur hasil belajar siswa secara tepat juga objektif.

Bukan hanya siswa saja yang perlu dievaluasi pada kegiatan pembelajaran, melainkan juga pada sistem pengajaran oleh guru. Maka untuk merancang desain pembelajaran, dilakukan penilaian kemampuan awal siswa guna mengetahui sejauh mana

kemampuan siswa, tentang apa yang sudah dan belum diketahui oleh siswa.

j. Menganalisis Umpan Balik (Analysis of feedback)

Dalam mengembangkan sistem instruksional, yang menjadi tahap paling akhir adalah umpan balik. Umpan balik didapatkan dari data hasil tes, observasi, evaluasi ataupun dari tanggapan- tanggapan tentang aktivitas yang terjadi dalam kegiatan instruksional tersebut apakah sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau perlu penyempurnaan lagi.

2. Kelebihan dan Kekurangan Model Belajar Gerlach dan Ely

Pada model pembelajaran yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely, terdapat yang namanya model kemp protest. Karena untuk merancang tujuan dalam model ini terlebih dahulu dilakukan analisis karakteristik siswa, jadi bisa dikatakan bahwa tahap ini bukanlah tahapan terpenting atau tidak terlalu membawa masalah besar. Sehingga, sebelum ditentukannya tujuan pembelajaran, siswa terlebih dahulu diselidiki latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa.

Model pembelajaran Gerlach dan Ely ini bisa dikatakan sangat tepat untuk melaksanakan atau merancang pembelajaran.

Hal ini dibuktikan dengan kelebihan model ini yaitu adanya pengelompokan belajar dalam tahap model tersebut, hal ini menjadi bukti tepatnya model pembelajaran Gerlach dan Ely yang sudah dikembangkan dan dikenal sejak 1971. Kekurangan dari model Gerlach dan Ely di antaranya yaitu sedikitnya atau bahkan tidak ada tahap pengenalan karakteristik siswa yang menyebabkan guru kerepotan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa saat pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini memungkinkan guru untuk salah menyajikan takaran pelajaran atau dengan kata lain tidak sesuai dengan kemampuan siswa.7

7 Rusman, Model-Model Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 16.