DESAIN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
H. Model Jerold E. Kemp
I. Model ISD
Dick and Carry mengembangkan model desain pembelajaran yang dirujuk dari pendekatan sistem yang ada, yaitu model ISD (Instructional System Development). Landasan pengembangan ISD tidak didapat dari penelitian dan teori saja, namun juga didapatkan dari praktik penerapan. Model ini terdiri dari 10 tahap, di mana tahap ini digambarkan dengan 10 kotak yang dihubungkan dengan garis-garis sebagai feedback dari satu kotak ke kotak yang lain. Tiap kotak dalam tahap tersebut mengandung teori, prosedur, tekhnik, yang digunakan untuk mendesain, mengem- bangkan, mengevaluasi, serta merevisi kegiatan belajar-mengajar.
1. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran
Yang pertama kali dilakukan pada model ini yaitu penentuan kompetensi apa yang di harapkan bisa di lakukan oleh peserta didik jika proses belajar mengajar sudah selesai. Mungkin saja tujuan pembelajaran didapatkan dari rancangan tujuan, analis tugas, assessment kebutuhan, pengalaman praktis tentang kesulitan belajar siswa, analisis objek yang melakukan suatu kegiatan, atau berasal dari syarat lain dari pembelajaran baru.
2. Menjalankan analisis pembelajaran
Jika tujuan pembelajaran selesai diidentifikasi, yang harus dilaksanakan adalah menentukan prosedur guna mencapai
tujuan. Agar keterampilan, pengetahuan dan sikap dasar peserta didik bisa diketahui sebagaimana yang dibutuhkan peserta didik untuk memulai pembelajaran, bisa dilakukan yang namanya analisis pembelajaran. Hasil dari identifikasi kerelevansian semua keterampilan akan digambarkan dalam sebuah diagram.
3. Menganalisa Peserta dan Konteks
Apabila analisis pembelajaran telah dilakukan, langkah yang selanjutnya dilaksanakan adalah melakukan analisis paralel yakni kerangka yang akan dipelajari keterampilannya bagi peserta didik, serta kerangka yang akan di gunakan bagi siswa merupakan pengertian analisis paralel dari siswa. Penentuan keterampilan yang ada, referensi, dan sikap siswa disesuaikan dengan indikator pengaturan belajar serta pengaturan di mana keterampilan nantinya akan digunakan. Prosedur dari pemodelan seperti strategi pembelajaran dibentuk dan didapatkan dari informasi penting ini. Pendidik dapat melakukan analisis tentang kemampuan kognitif siswa dalam konten belajar yang diberikan. Pengetahuan dan keterampilan prerekuisite untuk pengalaman belajar tertentu bisa diketahui guna memprediksi tingkat keberhasilan proses belajar mengajar.
4. Menuliskan Tujuan Kerja
Setelah melalui beberapa prosedur diatas, langkah selanjutnya yaitu menentukan keterangan tentang keterampilan apa yang bisa dilakukan setelah mengikuti proses pembelajaran secara spesifik. Keterangan tentang pada tahap ini boleh didapat hasil identifikasi dalam analisis pembelajaran, karena dalam analisis pembelajaran diidentifikasi keterampilan yang akan dipelajari, kondisi yang perlu ada untuk mendukung kegiatan, serta indikator dari terlaksananya kegiatan yang baik. Pada pembelajaran jarak jauh, pendekatan tradisional dalam prosedur ini juga efektif dapat digunakan. Selain itu, dalam menuliskan
tujuan perlu memperhatikan kesesuaian dengan kondisi saat pembelajaran berlangsung, kinerja yang diinginkan, serta sesuai standard.
5. Mengembangkan Instrumen Assessment
Langkah selanjutnya setelah menuliskan tujuan adalah pengembangan assessment berupa mengukur kemampuan siswa tentang seberapa jauh kemampuan yang telah dicapai sesuai tujuan yang telah ditentukan. Sebaga syarat penilaian, proses ini menekankan pada hubungan beberapa keterampilan sesuai yang sudah dijelaskan dalam tujuan.
6. Mengembangkan Strategi Pembelajaran
Menurut Dick dan Carry (1985), strategi pembelajaran berupa penjelasan tentang prosedur sistematis proses dan pengaturan isi, penentuan program pembelajaran, serta penentuan cara konten tersebut bisa disampaikan. Strategi pembelajaran berfungsi sebagai:
a. Rumusan pengembangan bahan ajar;
b. Seperangkat indikator dalam mengevaluasi bahan ajar;
c. Seperangkat kiat dalam merevisi bahan ajar.
7. Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
Selanjutnya, strategi pembelajaran akan digunakan sebagai penghasil pembelajaran, seperti cara membimbing siswa, materi pembelajaran, serta penilaian. Yang dimaksud materi pembelajaran meliputi segala sesuatu yang diperlukan dalam pembelajaran, serti rekaman video, panduan instruktur, belajar berbasis komputer, modul, transparansi, halaman web untuk PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Untuk menentukan pengembangan materi disesuaikan dengan jenis hasil belajar, materi terkait yang tersedia, serta pengembangan sumber belajar yang ada.
Sedangkan untuk pemilihan dari materi yang telah ada, sudah disediakan kriteria tertentu.
8. Merancang dan menjalankan evaluasi formatif untuk pembelajaran Sesudah melengkapi draft atau rencana belajar mengajar,
langkah selanjutnya adalah menjalankan evaluasi dalam rangka mendapatkan data guna proses identifikasi cara pembelajaran tersebut dapat dikembangkan. Evaluasi formatif ada 3 jenis, yaitu one-to-one evaluation, small group evaluation, dan field- trial evaluation. Perancang memperoleh jenis hasil data yang berbeda dalam pengembangan pembelajaran dari setiap jenis evaluasi. Demikian, teknik serupa bisa diterapkan dalam evaluasi formatif pada pembelajaran di kelas ataupun materi yang tersedia.
9.Revisi Pembelajaran
Revisi pembelajaran merupakan prosedur paling akhir saat mendesain dan mengembangkan program. Dari hasil data yang diperoleh, didapatkan kesimpulan dan interpretasi dari evaluasi formatif tentang kesulitan yang dialami peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara rinci. Revisi pembelajaran tidak dilangsungkan menggunakan data yang didapat dari evaluasi informatif. Penggunaan data dari evaluasi informatif guna menjabarkan kembali keabsahan dari data yang diperoleh dari proses analisi serta hipotesis terkait karakter peserta didik.
Data ini diperlukan guna menjabarkan kembali pernyataan terkait tujuan program serta melakukan uji coba terhadap data yang mendapat perhatian dari informasi yang terkumpul.
Seluruh rekomendasi dari hasil pengkajian ulang strategi pembelajaran dikembangkan dan didesain menjadi revisi pembelajaran agar dapat meningkatkan segi keefektifan dari proses belajar mengajar.
10. Merancang dan menjalankan evaluasi sumatif
Untuk menentukan tingkat keefektifan dari suatu pembelajaran, maka dilakukan sebuah evaluasi sumatif. Meskipun demikian,
evaluasi sumatif bukanlah bagian dari proses perencanaan.
Evaluasi sumatif adalah penilaian absolut/relatif yang hanya terjadi sesudah belajar mengajar selesai dilaksanakan secara informatif dan dilakukan revisi agar sesuai standar perancang.
Pada umumnya hanya evaluator independen yang ikut serta dalam evaluasi sumatif ini, meskipun seorang perancang pembelajaran tetap tidak diikut sertakan. Hal ini terjadi karena komponen ini tidak dipertimbangkan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.