• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Dick and Carry

DESAIN PERENCANAAN PEMBELAJARAN

B. Model Dick and Carry

Berasal dari Masterpiece dan ide Robert M. Gagne yang berjudul “The Conditional of Learning”, kemudian dikembangkan model desain system pembelajaran oleh Dick, dkk.

Pada edisi perdana, pendekatan yang digunakan pada sistem dan teorinya adalah aliran behavioristik di mana penekanannya oleh respon siswa berkenaan dengan keadaan stimulus yang di input- kan. Edisi berikutnya, pada proses belajar dan pembelajaran dimasukkan unsur dan pandangan kognitif oleh Dick ke dalam bukunya.

Gambar 3. Model Dick and Carry

Dick, dkk mengemukakan bahwa komponen merupakan sekaligus langkah-langkah utama dari model desain sistem pembelajaran yang terdiri atas:

1. Identitas Tujuan Pembelajaran

Sesudah melaksanakan program pembelajaran, menentukan kemampuan atau kompetensi apa saja yang harus dimiliki bagi peserta didik merupakan tahap awal yang harus dilaksanakan saat akan menerapkan desain sistem pembelajaran. Hal ini biasanya dikenal dengan istilah tujuan pembelajaran atau instructional goal. Dalam merumuskan tujuan dalam pembelajaran, dapat diolah dari rumusan tujuan yang sudah ada. Biasanya bisa diambil dari tujuan pembelajaran yang ada di silabus sekolah ataupun hasil analisis (analysis performance) yang dilakukan oleh pendidik. Dari proses analisis kebutuhan (need analysis) serta realitas atau pengalaman mengenai kesulitan belajar yang dialami siswa juga bisa menjadi dasar untuk membuat rumusan tujuan pembelajaran. Selain itu, analisis mengenai bagaimana seseorang melaksanakan tugas atau lebih spesifiknya pekerjaan serta apa saja persyaratan yang dibutuhkan guna melaksanakan

Mendesain dan melakukan

evaluasi sumatif Mengidentifikasi

tingkah laku masukan dan karakteristik

siswa Merumuskan

tujuan performasi

Mengembag kan butir

acuan

Memilih material pengajaran Mengembang

kan strategi pengajaran

Melaksanakan evaluasi formatif Mengidentifikasi

tujuan umum pembelajaran

Merevisi bahan pembelajaran Melaksanakan

analisis pengajaran

tugas dan pekerjaan tersebut juga bisa digunakan untuk merumuskan tujuan pembelajaran.1

2. Analisis Instruksional

Langkah selanjutnya setelah mengidentifikasi tujuan pembelajaran adalah melakukan suatu tahapan guna menetapkan keterampilan dan pengetahuan yang relevan serta dibutuhkan oleh siswa guna mencapai tujuan atau kompetensi.

Hal ini biasa disebut dengan analisis instruksional. Adapun langkah-langkah guna melakukan identifikasi kompetensi saat melakukan analisis instruksional, yaitu berupa pengetahuan (cognitive), keterampilan (psychomotor), serta sikap (attitudes) yang harus dimiliki seluruh siswa sesudah mengikuti seluruh proses pembelajaran.

3. Analisis Siswa dan Konteks Pembelajaran

Yang dimaksud analisis konteks adalah analisis guna mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, yang mencakup keterkaitan kondisi-kondisi dengan keterampilan yang dipelajari siswa dan keadaan yang terkait.

Preferensi cara belajar (learning style) atau biasa disebut gaya, sikap terhadap kegiatan belajar, serta kemampuan aktual yang siswa miliki merupakan yang di analisis dari karakteristik siswa. Perancang program pembelajaran saat memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan, akan terbantu apabila karakteristik siswa yang akan belajar di identifikasi secara akurat.

4. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus

Hasil dari analisis instruksional, mengelaborasi kompetensi atau tujuan pembelajaran yang spesifik (instructional objective) yang harus dimengerti siswa, perlu dikembangkan oleh perancang desain sistem pembelajaran guna tujuan pembelajaran yang bersifat umum (instructional goal) dapat tercapai. Ada beberapa

1 Benny A. Pribadi, Model Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Dian Rakyat, 2009), 107.

hal yang perlu mendapatkan perhatian saat tujuan pembelajaran yang bersifat spesifik dirumuskan, antara lain:

a. Menentukan pengetahuan dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa setelah menenmpuh proses pembelajaran, b. Diperlukan suatu kondisi khusus bagi siswa agar bisa

menunjukkan kemampuan dari pengetahuan yang telah dipelajari, dan

c. Indikator atau kriteria yang bisa memastikan keberhasilan siswa saat proses pembelajaran sedang ditempuh.

5. Mengembangkan Alat atau Instrumen Penilaian

Langkah setelah sudah merumuskan tujuan atau kompetensi khusus, alat atau instrumen penilaian perlu dikembangkan karena bisa memperkirakan pencapaian hasil belajar siswa.

Langkah yang dimaksud adalah evaluasi hasil belajar. Saat menetapkan instrument evaluasi apa yang mau digunakan, perlu diperhatikan bahwa intrumen harus bisa menaksir kemampuan siswa guna tujuan pembelajaran yang dirumuskan bisa tercapai.2

6. Mengembangkan Strategi Pembelajaran

Dari pengumpulan informasi sebelumnya, supaya program pembelajaran yang sudah dirancang bisa tercapai sesuai yang sudah ditentukan, maka langkah selanjutnya perlu dilakukan penentuan strategi oleh perancang program pembelajaran.

Strategi yang dimaksud adalah strategi pembelajaran (instructional strategy). Pada kegiatan pembelajaran, strategi pembelajaran yang bisa diterapkan antara lain aktivitas pra- pembelajaran, penyajian materi pembelajaran, dan kegiatan tindak lanjut dari aktivitas pembelajaran. Faktor-faktor yang digunakan untuk memilih strategi pembelajaran antara lain:

a. Teori terbaru tentang aktivitas pembelajaran, b. Penelitian tentang hasil belajar,

2 Ibid., 108.

c. Karakteristik media pembelajaran yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran,

d. Materi atai substansi yang perlu dipelajari oleh siswa, dan e. Karakteristik siswa yang akan terlibat dalam kegiatan

pembelajaran.

7. Penggunaan Bahan Ajar

Strategi pembelajaran yang sudah dirancang pada tahap sebelumnya bisa diterapkan oleh perancang program pembelajaran dalam tahap ini ke bahan ajar yang akan digunakan. Bahan ajar merupakan media pembelajaran, yaitu sesuatu yang bisa menyampaikan informasi dan pesan dari sumber belajar kepada siswa. Pada kegiatan pembelajaran, ada beberapa jenis bahan ajar yang bisa dipakai yaitu: modul, buku (panduan dan teks), berbasis multimedia, berbasis computer, berbasis audio video, dan bahan ajar yang dipakai untuk PJJ (pendidikan jarak jauh). Ada beberapa cara untuk pengadaan bahan ajar yang digunakan, antara lain:

a. Produk dibeli secara komersial.

b. Bahan ajar yang sudah tersedia bisa dimodifikasi.

c. Bahan ajar bisa di produksi sendiri sesuai tujuan.

8. Merancang dan Melakukan Evaluasi Formatif

Langkah selanjutnya sesudah merancang pengembangan program pembelajaran adalah merancang dan melaksanakan evaluasi formatif. Maksud dari dilakukannya evaluasi formatif adalah guna mengumpulkan data yang berkaitan dengan kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dari program pembelajaran. Pada proses evaluasi formatif, hasilnya bisa dipakai untuk input atau masukan guna membenahi rancangan program.3 Guna mengembangkan produk atau program pembelajaran, ada 3 jenis evaluasi formatif yang bisa diterapkan, antara lain:

3 Ibid., 108.

a. Evaluasi perorangan (on to one evaluation).

b. Evaluasi kelompok sedang (small group evaluation).

c. Evaluasi lapangan (field trial).

9. Melakukan Revisi Terhadap Program Pembelajaran

Merevisi rancangan program pembelajaran merupakan tahap terakhir dari desain dan pengembangan. Agar bisa mengenali kelemahan-kelemahan yang ada di program pembelajaran, bisa diketahui dari data yang diperoleh, dirangkum, ditafsirkan dari tahap evaluasi formatif. Selain pada skema program pembelajaran, evaluasi formatif juga dilaksanakan dalam bagian- bagian rancangan sistem pembelajaran yang digunakan pada program, misalnya karakteristik siswa, analisis instruksional, dan entry behavior. Bisa dikatakan bahwa langkah atau tahap evaluasi formatif harus dilaksanakan disemua bagian program pembelajaran. Tujuan dilakukannya evaluasi formatif disemua bagian adalah guna meningkatkan serta menyempurnakan mutu program tersebut.4

10. Merancang dan Mengembangkan Evaluasi Sumatif

Evaluasi sumatif tidak sama dengan evaluasi formatif. Dari kegiatan desain model pembelajaran yang dicetuskan Dick dan Grey, evaluasi ssumatif adalah puncaknya. Jika seluruh materi dari suatu program tertentu telah selesai dipelajari. Selanjutnya dilakukan evaluasi sumatif. Hal ini untuk menilai apakah tujuan pembelajaran dalam suatu program tertentu dapat tercapai atau tidak.5