Perkembangan Akuntansi Syariah Di Zaman Khalifah
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, perkembangan ilmu akuntansi selalu ditingkatkan di masa khalifah, Para sahabat meningkatkan kualitas pencatatan pembukuan, agar setiap pengeluaran serta pemasukan pemerintahan dapat dilaporkan secara baik dan benar. Adapun perkembangan sejarah akuntansi syariah di masa Khalifah, sebagai berikut:
1. Masa Khalifah Abu Bakar Assidiq
Abu Bakar Assidiq adalah khalifah pertama semenjak Rasulullah SAW wafat, Dimana Abu Bakar Assidiq menjadi khalifah selama (11-13 H/632-634 M). Dalam masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar Assidiq, beliau adalah orang yang menekankan betapa pentingnya mengelola baitul maal (dulu disebut Al-jihat atau mereka yang mengumpulkan serta mendistribusikan pendapatan dari zakat, infaq sedekah, dan dari hasil rampasan perang yang di dapatkan).
Di zaman khalifah Abu Bakar Assidiq, pengelolaan baitul maal masih sangat sederhana, dimana penerimaan serta pendistribusian dilakukan secara seimbang atau (balance) antara pemasukan dan pengeluaran, sehinggal baitul maal selalu dalam keadaan tidak tersisa, dengan begitu tidak ada lagi penambahan atau pengurangan di dalamnya. Pada saat itulah Zait Bin Tsabit yang ditunjuk dan diangkat oleh khalifah Abu Bakar Assidiq menjadi bendahara pemerintah meningkatkan pencatatan penjurnalan dan pembukuan menjadi bukti serta informasi yang dapat dilakukan pemerintahan.
2. Masa Khalifah Umar Bin Khattab
Umar Bin Khattab menjadi khalifah selama 13-23 H/634-644, pada saat menggantikan Abu Bakar Assidiq banyak perubahan serta peningkatan yang dilakukan oleh Umar Bin Khattab contohnya banyak sekali penaklukan yang dilakukan kepada negeri-negeri, seperti negeri Qaishar (Romawi), negeri dan kisra (persia), yang membuat banyak harta rampasan yang mengalir pada saat itu. Umar kemudian saat itu membangun sebuah tempat atau rumah khusus untuk menyimpan harta pemerintahan. Kemudian umar juga membuat departemen serta lembaga yang disebut dengan (Diwan). Ada beberapa macam diwan pada saat itu.
1. Diwan Al-jundy (departemen ketahanan dan keamanan), yang bertugas untuk mengurus masalah-masalah tentang ketentaraan.
2. Diwan Al-Ahdats (Lembaga kepolisian), yang dibentuk untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.
3. Diwan Nazharaat Al-Nafiah (Lembaga Pekerjaan Umum), dimana tugasnya menangani masalah-masalah sosial seperti pembangunan, fasilitas sosial, dan umum.
4. Diwan Al-Kharaj (Departemen perpajakan), dimana tugasnya untuk mengelolah perpajakan yang dikuasai di daerah-daerahnya.
Dari Diwan yang dibuat oleh Umar adalah bagian penting juga sebagai tempat disimpannya akuntansi, yang dicatat dan digunakan untuk pengelolaan serta pembayaran.
Selama pemerintahah khalifah Umar Bin Khattab, beliau sangat hati-hati dalam pengelolaan baitul maal, agar pendistribusian dapat dapat dilakukan dengan maksimal dan bagi orang- orang yang berhak menerimanya, yaitu seseorang yang telah hilang kemampuannya terluka,
cacat sehingga tidak dapat lagi bekerja dan mencari nafkah serta orang tua lansia dan anak yatim piatu juga mendapatkan jaminan sosial dari pemerintahan di zaman khalifah umar bin khattab.
3. Masa Khalifah Utsman Bin Affan
Utsman Bin Affan adalah khalifah yang menjabat paling lama yaitu selama 12 tahun dari 644 sampai 656 masehi. Beliau berasal dari salah satu kaum yang cukup terkenal yaitu kaum bani umayah, dimana keluarga Utsman Bin Affan adalah orang kaya yang sangat berperan penting dan berpengaruh dalam kaum Quraisy. Pada masa kepemimpinan khalifah Utsman Bin Affan beliau mengenalkan, istilah khittabat al-Rasull wa sirry yang artinya penjagaan penyimpanan catatan rahasia. Dimana dalam kegiatannya pengawasan serta pelaksanaan agama moral dan akhlak dilakukan olah muhtasib. Muhtasib ini bertugas untuk penanggung jawab atas lemabaga amal Al-Hisbah, dimana meliputi hal yang berhubungan dengan penipuan jual beli, kegagalan penjualan, perhitungan timbangan dan lain sebagainya, untuk membuat keadilan bagi semua makhluk hidup. Penggunaan pencatatan yang dilakukan oleh muhtasib menjadi salah satu perkembangan akuntansi syariah di zaman khalifah, yang membuat pencatatan akuntansi syariah semakin berkembang.
4. Masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib
Ali Bin Abi Thalib menjadi khalifah dari 656-661 masehi, beliau menggantikan posisi Utsman Bin Affan yang telah wafat pada 17 juni 656 Masehi. Saat ali menjadi khalifah, pemerintahan di periode masa kala itu sedang dalam keadaan sulit, yaitu terjadinya perang saudara akibat tragedi terbunuhnya Utsman Bin Affan. Di masa kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib banyak permasalahan yang terjadi salah satunya adalah pemberontakan, banyaknya pemberontakan yang terjadi Ali Bin Abi Thalib mengambil kebijakan untuk memberantas dan melenyapkan para penjabat-penjabat yang melakukan korupsi. Pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib banyak upaya yang dilakukan untuk berfokus menyelesaikan masalah yang terjadi seperti :
1. Pengaturan Pengelolaan Keuangan Negara Baitul Maal.
2. Perbaikan Dan Peningkatan Pembangunan Tatanan Kota.
3. Menetapkan Zakat, Jizyah, Dan Pajak
4. Membasmi Korupsi Dan Monopoli Pasar Serta Penimbunan Barang Dan Pasar Gelap.
Pada masa pemerintahan Ali Bin Abi Thalid beliau melanjutkan sistem baitul mal yang telah ditinggalkan oleh Utsman Bin Affan dan membuat baitul maal terus mengalami peningkatan hingga mendapatkan surplus. Dengan terjadinya pendapatan atau surplus menunjukkan pengelolaan pencatatan baitul mall dilakukan dengan baik dan maksimal. Khalifah Ali Bin Abi Thalib menunjukkan betapa pentingnya sebuah pencatatan yang baik dan benar, bisa dilihat dari sistem administrasi yang dilakukan pada masa pemerintahan saat itu, yang mengalami peningkatan dan mendapatkan pendapatan atau surplus.