BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sistem sosial merupakan sistem interaksi antara individu satu dengan individu lain atau antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain dalam suatu struktur tertentu. Tidak semua anggota atau subsistem sosial selaras dengan sistem secara keseluruhan. Namun demikian, sistem sosial memiliki kemampuan adaptasi dan mampu memelihara keseimbangan, sehingga stabilitas sistem tetap terjaga.
Sistem sosial di setiap negera sangat beda-beda, apalagi Indonesia. Nah, kali ini kita bahas apa itu sistem sosial mulai dari definisi, macam sistem sosial, unsur dan contoh di Indonesia. Dalam kehidupan sosial, masyarakat hidup berdampingan satu sama lain. Adanya tujuan bersama untuk mencapai ketentraman dan keselarasan menjadikan masyarakat secara tidak langsung memiliki aturan, norma, organisasi, dan interaksi antar aktor atau komponen sosial yang saling mengikat dan berkaitan. Jalannya fungsi keseluruhan aspek-aspek tersebut membentuk sistem sosial.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar sistem sosial di Indonesia?
2. Bagaimana nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku di Indonesia?
3. Bagaimana Struktur Sosial di Indonesia?
4. Bagaimana maksud dari manusia sebagai makhluk sosial?
5. Bagaimana diskriminasi dalam masyarakat Indonesia?
C. Tujuan
1. Menjelaskan konsep dasar sistem sosial di Indonesia.
2. Menjelaskan nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku di Indonesia.
3. Menjelaskan struktur sosial di Indonesia.
4. Menjelaskan maksud dari manusia sebagai makhluk sosial.
5. Menjelaskan diskriminasi dalam masyarakat Indonesia.
BAB II ISI
A. KONSEP DASAR SISTEM SOSIAL
Istilah sistem paling sering digunakan untuk menunjuk pengertian metode atau cara dan sesuatu himpunan unsur atau komponen yang saling berhubungan satu sama lain menjadi satu kesatuan yang utuh.
Sistem sosial adalah suatu sistem tindakan, terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara berbagai individu, yang tumbuh dan berkembang di atas standar penilaian umum yang disepakati bersama oleh para anggota masyarakat.
Definisi sistem sosial diartikan dengan berbagai sudut pandang oleh para ahli sosiologi, sebagai berikut.
1. Talcott Parsons, sistem sosial terdiri dari keragaman aktor individu yang berinteraksi satu sama lain dalam situasi sosial yang setidaknya berada dalam lingkungan atau ruang fisik, dimana aktor tersebut memiliki motivasi untuk cenderung mengoptimalkan gratifikasi dan relasinya terhadap situasi dan aktor lain berlangsung dalam sebuah sistem yang melibatkan simbol-simbol yang secara kultural terstruktur.
2. Ogbum dan Nimkoff, sistem sosial merupakan keragaman individu yang berinteraksi satu sama lain menurut makna dan norma kultural yang disepakati bersama. Menurut definisi tersebut, keragaman interaksi individu dan yang lainnya terhadap makna dan norma kulturalnya menjadi pembentuk sistem sosial.
3. Johnson (1986), menurut Johnson (1986),sistem sosial diartikan sebagai kumpulan dari tindakan sosial, baik dari individu maupun kelompok dalam kehidupan masyarakat. Johnson menjelaskan pembentukan sistem sosial dari tindakan-tindakan sosial. Perulangan tindakan sosial tersebut membentuk pola dan kebiasaan yang teratur sehingga pada puncaknya membentuk sistem sosial.
4. Setiadi dan Kolip (2013), sistem sosial adalah hubungan antara unsur atau elemen di kehidupan masyarakat, meliputi tindakan masyarakat, lembaga sosial, nilai dan norma sosial yang bergerak dinamis. Dari definisi tersebut, aspek-aspek dalam sistem sosial dapat diketahui, seperti tindakan masyarakat, lembaga sosial, nilai dan norma sosial. Keempat aspek tersebut dalam perkembangannya bersifat dinamis.
5. Wirawan (2012), sistem sosial adalah sistem tindakan yang terbentuk dalam sistem sosial, terdiri dari individu, kelompok sosial, dan norma sosial yang berlaku di kehidupan masyarakat. Dari definisi tersebut, sistem sosial terbentuk dari unsur individu dan kelompok sosial sebagai pihak yang melakukan interaksi sosial serta norma sosial sebagai pedoman aturannya. Unsur-unsur tersebut menjadi sistem tindakan yang selanjutnya membentuk sistem sosial.
6. Sulaeman (1995), sistem sosial diartikan sebagai alat analisis realita sosial dalam menjelaskan kelompok masyarakat sebagai bagian dari sistem sosial. Sulaeman menjelaskan definisi sistem sosial dari sudut pandang fungsinya. Sebagai alat analisis realitas sosial.mengandung makna bahwa sistem sosial memuat gambaran kenyataan yang memang ada dan terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.
Sistem sosial dapat diartikan sebagai serangkaian sub atau bagian dalam sistem yang saling berhubungan, berinteraksi, dan bergantung demi mencapai tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya sistem sosial membawa konsekuensi bahwa aturan dan interaksi dalam masyarakat memengaruhi organisasi atau tata tingkah laku seseorang.
Standar penilaian umum yang paling penting adalah norma-norma sosial.
Norma-norma sosial inilah yang membentuk struktur sosial. Di dalam masyarakat, setiap anggota masyarakat menganut dan mengikuti pengertian-pengertian yang sama mengenai situasi-situasi tertentu dalam bentuk norma-norma sosial, maka tingkah laku setiap anggota masyarakat kemudian terjalin sedemikian rupa ke dalam bentuk suatu struktur sosial tertentu.
Pengaturan interaksi sosial di antara para anggota masyarakat tersebut dapat terjadi karena komitmen mereka terhadap norma- norma sosial menghasilkan daya untuk mengatasi perbedaan pendapat dan kepentingan di antara mereka, suatu hal yang memungkinkan mereka menemukan keselarasan satu sama lain di dalam suatu tingkat integrasi sosial tertentu.
Masyarakat menurut Parson adalah sistem sosial yang dilihat secara total. Jika sistem sosial dilihat sebagai sebuah sistem parsial, masyarakat dapat berupa setiap jumlah dari sekian banyak sistem yang kecil-kecil, seperti keluarga, sistem pendidikan, dan lembaga-lembaga keagamaan.
Pemikiran Talcott Parson tentang pendekatan fungsionalisme struktural memiliki tujuh anggapan yaitu:
(1) Masyarakat dilihat sebagai suatu sistem yang mana bagianbagian saling berhubungan satu sama lain.
(2) Hubungan tersebut saling memengaruhi di antara bagianbagian tersebut dan bersifat ganda dan timbal balik.
(3) Secara fundamental sistem sosial cenderung bergerak ke arah equilibrium bersifat dinamis, menanggapi perubahan-perubahan yang datang dari luar dengan kecenderungan memelihara agar perubahanperubahan yang terjadi dalam sistem sebagai akibatnya hanya akan mencapai derajat minimal.
(4) Walaupun mengalami disfungsi yaitu terjadinya ketegangan dan penyimpangan, tetapi melalui berjalannya proses waktu keadaan tersebut teratasi melalui penyesuaian dan proses institusionalisasi yaitu suatu proses yang dilewati suatu norma kemasyarakatan yang baru, sehingga norma tersebut oleh masyarakat dikenal, diakui, dihargai, dan ditaati.
(5) Perubahan-perubahan dalam sistem sosial secara gradual, melalui penyesuaian dan tidak revolusioner. Perubahan-perubahan yang terjadi secara drastis pada umumnya hanya terjadi pada bentuk luar, sedangkan unsur-unsur sosial budaya yang menjadi bangunan dasarnya tidak seberapa mengalami perubahan.
(6) Perubahan-perubahan sosial tesebut melalui tiga kemungkinan, yaitu: (1) penyesuaian sistem sosial tehadap perubahanperubahan dari luar, (2) pertumbuhan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional, dan (3) adanya penemuan- penemuan baru.
(7) Faktor penting yang memiliki daya mengintegrasikan sistem sosial adanya konsensus di antara anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Di dalam setiap masyarakat selalu terdapat tujuan-tujuan dan prinsip- prinsip dasar tertentu, yang sebagian anggota masyarakat menganggap serta menerima sebagai hal yang mutlak benar.
Individu dengan sistem sosial dapat dihubungkan dan dianalisis melalui konsep status dan peranan. Status adalah kedudukan dalam sistem sosial, seperti guru, ibu, atau presiden, sedangkan peranan adalah perilaku yang diharapkan atau perilaku normatif yang melekat pada status guru, ibu, atau presiden tesebut. Dengan kata lain,
di dalam sistem sosial, individu menduduki suatu tempat (status), dan bertindak (peranan) sesuai dengan norma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem. Peranan bersifat timbal balik dalam arti mengandung pengharapan yang sifatnya timbal balik pula. Status sebagai seorang suami mengandung peranan normatif (misalnya sebagai pencari nafkah yang baik), namun ini bukan peranan satu-satunya. Peranan sebagai seorang suami bersifat timbal balik dan saling ketergantungan dengan peranan istri.
Menurut Parson, sistem sosial cenderung bergerak ke arah keseimbangan atau stabilitas, dengan kata lain keteraturan merupakan norma dalam sebuah sistem.
Apabila terjadi kekacauan norma-norma, sistem akan mengadakan penyesuaian dan mencoba kembali mencapai keadaan normal.
Sistem sosial dibedakan menjadi 2 macam, sebagai berikut.
(1) Pembagian Menurut Morgan dan para evolusionis, sistem sosial dibagi menjadi dua, yaitu
evolusi meliputi sistem sosial savagery, sistem sosial barbar, dan sistem sosial yang beradab.
sistem sosial berdasarkan alat penghidupan, meliputi sistem sosial perburuan, sistem sosial pastoral atau penggembalaan, sistem sosial pertanian, dan sistem sosial industri.
(2) Durkheim, yang mengklasifikasikan dua jenis sistem sosial, yakni sistem sosial mekanis dan organis.
a. Sistem Mekanis, sistem sosial mekanis terdapat pada masyarakat kuno. Di era sebelum adanya industri jenis sistem sosial mekanis banyak berkembang.
Masyarakat dalam sistem sosial ini memiliki kesadaran kolektif yang penuh terhadap norma, aturan, keputusan bersama yang ada di masyarakatnya.
b. Sistem Organis, adapun sistem sosial organis banyak dijumpai dalam masyarakat modern. Perkembangan jenis sistem sosial ini banyak terjadi di era industri. Dengan adanya era industri ini menandakan masyarakat dalam sistem sosial organik telah mengenal aturan pembagian kerja. Masyarakat dalam sistem sosial ini cenderung kompleks.
Sistem sosial terdiri dari 6 unsur, sebagai berikut.
1. Keyakinan, unsur keyakinan masyarakat terhadap sistem sosial berkaitan dengan nilai benar atau tidaknya sistem sosialnya berjalan.
2. Perasaan, unsur ini merupakan gambaran perasaan anggota masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi pada sistem sosialnya. Dari gambaran perasaan tersebut, pola perilaku masyarakat dapat dibantu dengan jelas.
3. Adanya Cita-cita atau Tujuan, dengan adanya cita-cita atau tujuan akan mempermudah masyarakat dalam memahami pentingnya keberadaan sistem sosial sebelum sistem sosial memengaruhi pola perilakunya.
4. Norma, unsur norma merupakan aturan atau tata tertib dalam masyarakat yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku individu dan kelompok yang telah disepakati bersama. Norma ada untuk mencapai keteraturan sosial.
5. Peran dan Status, unsur peran dan status berpengaruh pada sistem sosial. Peran berupa kontribusi yang dikeluarkan untuk masyarakat. Status berupa kedudukan atau posisi sosial yang dibebankan oleh masyarakat.
6. Sanksi, nilai dan norma sosial diberlakukan dengan tujuan untuk ditaati oleh masyarakat. Jika masyarakat ada yang melanggar, akan mendapatkan sanksi atau hukuman yang telah disepakati bersama.
Berdasarkan teori struktural fungsional dari Talcott Parsons, sistem sosial memiliki empat fungsi yang biasa disebut AGIL, sebagai berikut.
1. Adaptation atau Adaptasi
Sistem sosial dalam adaptasi difungsikan untuk memberikan upaya pelaku interaksi sosial dalam penyesuaian dirinya dengan lingkungan baru dan terbatas.
2. Goal Attainment atau Pencapaian Tujuan
Sistem sosial dalam pencapaian tujuan berguna dalam mengutamakan upaya- upaya yang sesuai dengan tujuan bersama yang ingin dicapai.
3. Integration atau Integrasi
Sistem sosial dalam integrasi berguna untuk menjaga koordinasi antar sistem agar kerja sistem tetap berjalan dengan teratur dan baik.
4. Latency Maintenance atau Pemertahanan dan Pemeliharaan Pola Keteraturan Masyarakat
Sistem sosial dalam hal ini memberikan pengaruh terhadap keteraturan dan keselarasan masyarakat melalui penggunaan nilai dan norma sosial di masyarakat.
Contoh Sistem Sosial 1. Sistem Sosial di Keluarga
Di lingkungan keluarga sistem sosialnya pada umumnya meliputi ayah, ibu, dan anak. Setiap komponen saling berkaitan dan ketergantungan. Misalnya, untuk mempertahankan sistem sosial di keluarga yang telah berjalan dengan baik, maka ketika meminta izin ke luar kota, anak tentu akan meminta izin terlebih dahulu kepada ayah dan ibunya.
Jika tidak izin, akan terjadi ketidakteraturan karena anak dianggap tidak mematuhi perintah di keluarganya yang mengharuskan untuk meminta izin sebelum pergi. Pada kesempatan ke luar kota berikutnya, anak akan melakukan hal yang sama, yakni meminta izin ke orang tuanya.
2. Sistem Sosial Sekolah
Sistem sosial di lingkungan sekolah terdiri dari kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, dan karyawan TU. Untuk mencapai sistem sosial maka sekolah memberlakukan aturan-aturan seperti masuk jam 7 pagi, memakai sepatu, memakai seragam, dan sebagainya. Jika ada yang melanggar, maka akan ada sanksi yang didapatkan bagi pelanggar.
3. Masyarakat
Dalam masyarakat, sistem sosialnya kompleks. Misalnya dalam lingkup masyarakat desa, masyarakat dipimpin oleh kepala desa. Untuk mencapai keteraturan dalam desanya, kepala desa tentu akan menerapkan kebijakan yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat desa tersebut. Kebijakan tersebut misalnya pemberlakuan jam malam dan pengadaan ronda malam.
Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang juga berdampak dengan mempengaruhi beragamnya sistem sosial dalam masyarakat. Dari segi budaya, sistem sosial Indonesia terdiri dari atas beda-beda suku, agama, ras, antargolongan, dan bahasa. Sistem sosial di Indonesia dengan banyaknya bentuk memiliki ancaman dan tantangan tersendiri.
Jika suatu komponen sistem sosial tidak berjalan sesuai jalannya dan tempatnya, konflik antarsuku, etnosentrisme, separatisme, dan sebagainya sangat
mungkin terjadi. Oleh karena itu, Negara Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang difungsikan sebagai pedoman untuk bisa bersatu dengan selalu menjunjung tinggi toleransi antar masyarakat dalam koridor sistem sosial.
B. NILAI DAN NORMA SOSIAL 1. Nilai Sosial
Nilai sosial adalah sejumlah sikap perasaan ataupun anggapan terhadap suatu hal mengenai baik-buruk, benar-salah, patut-tidak patut, mulia-hina, maupun penting-tidak penting. Pada kenyataannya, masyarakat mengakui adanya nilai individual, yaitu nilai-nilai yang dianut oleh individu sebagai orang-perorangan yang mungkin saja selaras dengan nilai-nilai yang dianut orang lain, tetapi dapat pula berbeda atau bahkan bertentangan. Nilai-nilai yang dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat dinamakan sebagai nilai-nilai sosial.
Secara mudahnya, nilai sosial adalah standar yang di dalamnya terdapat seperangkat perilaku dan berfungsi sebagai pedoman hidup manusia dalam bermasyarakat. Berikutnya, standar ini akan secara otomatis dapat mengatur segala bentuk tindakan hingga ucapan semua orang yang berada di dalam kelompok masyarakat.
Keberadaan dari nilai sosial ini diharapkan bisa membantu setiap individu agar bisa mendapatkan hak serta menjalankan kewajibannya secara adil dan merata dalam kelompok masyarakat. Selain itu, adanya nilai sosial juga bisa membantu suatu kelompok untuk bisa mencapai tujuan bersama.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nilai adalah sifat-sifat (hal- hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Sedangkan sosial adalah berkenaan dengan masyarakat. Itu artinya, nilai sosial adalah suatu yang dianggap baik, patut, layak dan bisa dijadikan suatu pedoman hidup oleh suatu kelompok individu.
Menurut Robert M.Z. Lawang, nilai sosial merupakan gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga, memengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai tersebut, sedangkan Karel
J. Veeger memandang nilai-nilai sebagai pengertian-pengertian tentang baik tidaknya perbuatan-perbuatan, atau dengan kata lain, nilai adalah hasil penilaian atau pertimbangan moral.
a. Jenis-jenis Nilai Sosial
Notogegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu:
1) Nilai Material, yaitu nilai yang meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
2) Nilai Vital, yaitu nilai yang meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai akitivitas.
3) Nilai Kerohanian, yaitu nilai yang meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia, seperti:
a) nilai kebenaran, yaitu nilai yang bersumber pada akal manusia (cipta) b) nilai keindahan, yaitu nilai yang bersumber pada unsur perasaan (estetika) c) nilai moral, nilai yang bersumber pada unsur kehendak (karsa)
d) nilai keagamaan (religiusitas), yaitu nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan.
b. Ciri-ciri Nilai Sosial
1) Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai sosial tercipta secara sosial bukan secara biologis ataupun bawaan lahir.
2) Nilai sosial diimbaskan, artinya nilai dapat diteruskan dan diimbaskan dari satu orang atau kelompok ke orang atau kelompok lain melalui berbagai macam proses sosial seperti kontak sosial, komunikasi, interaksi, difusi, adaptasi, adopsi, akulturasi, maupun asimilasi.
3) Nilai sosial dipelajari, artinya nilai diperoleh, dicapai, dan dijadikan milik diri melalui proses belajar, yaitu sosialisasi yang berlangsung sejak masa kanak- kanak dalam keluarga.
4) Nilai sosial memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang disetujui dan yang telah diterima secara sosial itu menjadi dasar bagi tindakan dan tiangkah laku, baik secara pribadi, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan.
5) Nilai sosial merupakan asumsi-asumsi abstrak di mana terdapat konsensus sosial tentang harga relatif dari objek dalam masyarakat. Nilai-nilai sosial secara
konseptual merupakan abstraksi dari unsurunsur nilai dan bermacam-macam objek di dalam masyarakat.
6) Nilai sosial cenderung berkaitan satu dengan lain dan membentuk pola-pola serta sistem nilai dalam masyarakat. Dalam hal ini apabila tidak terjadi keharmonisan jalinan integral dari nilai-nilai, akan timbul problema sosial dalam masyarakat.
7) Sistem nilai beragam bentuknya antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, sesuai dengan penilaian yang diperlihatkan oleh setiap kebudayaan terhadap bentuk-bentuk kegiatan tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain, keanekaragaman kebudayaan dengan bentuk dan fungsi yang saling berbeda, menghasilkan sistem nilai yang berbeda pula 8) Nilai sosial selalu memberikan pilihan dari sistem-sistem nilai yang ada, sesuai
dengan tingkatan kepentingannya.
9) Masing-masing nilai sosial dapat mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap orang perorangan dan masyarakat sebagai keseluruhan.
10) Nilai-nilai sosial juga melibatkan emosi atau perasaan.
11) Nilai-nilai sosial dapat memengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat secara positif maupun negatif.
c. Fungsi Nilai Sosial
1) Sebagai faktor pendorong, yakni berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan.
2) Sebagai petunjuk arah, ialah cara berpikir, berperasaan, dan bertindak, serta panduan menentukan pilihan, sarana untuk untuk menimbang penilaian masyarakat, penentu dalam memenuhi peran sosial, dan pengumpulan orang dalam suatu kelompok sosial.
3) Nilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu. Nilai mendorong, menuntun, dan kadang- kadang menekan individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan. Nilai menimbulkan perasan bersalah dan menyiksa bagi pelanggarnya.
4) Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan kelompok atau masyarakat.
5) Nilai dapat berfungsi sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat.
d. Contoh Nilai Sosial
Berikut ini beberapa contoh dari nilai sosial:
1. Ketika ada aksi pencurian sepeda motor dan pelakunya tertangkap oleh warga.
Masyarakat dalam lingkungan tersebut akan menyadari jika tindakan pencurian tersebut bukanlah tindakan yang baik dan harus dihindari serta tidak boleh ditiru.
2. Masyarakat di suatu daerah memiliki budaya untuk tidak menjemur pakaian dalam di tepi jalan agar tidak dilihat oleh siapapun. Hal tersebut dilakukan karena tindakan menjemur pakaian dalam di luar rumah atau di tepi jalan adalah tindakan kurang sopan serta melanggar nilai sosial. Oleh karena itu tindakan tersebut tidak boleh ditiru. Pelaku yang masih melakukan tindakan tersebut biasanya akan mendapatkan sanksi teguran atau diingatkan oleh orang lain agar tidak melakukan tindakan tersebut.
3. Ada seorang siswa yang melakukan tindakan mencontek ketika ujian sedang berlangsung. Tindakan mencontek ini merupakan salah satu perbuatan tidak baik dan tercela serta harus dihindari. Oleh karena itu setiap siswa harus bisa menyadari agar tidak ada yang memilih untuk melakukan tindakan menyontek.
Hal ini juga termasuk ke dalam nilai sosial karena pada dasarnya tidak ada hukum tertulis yang menjelaskan jika tindakan menyontek merupakan perbuatan yang melanggar nilai sosial maupun hukum.
Dari setiap penjelasan yang ada di atas, kita jadi menyadari betapa pentingnya nilai sosial bagi kehidupan masyarakat. Pada dasarnya nilai sosial bisa menjadi seorang individu bisa membedakan tindakan mana yang baik dan tindakan mana yang buruk sekaligus akan terus melakukan tindakan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Norma Sosial
Norma sosial adalah seperangkat aturan atau panduan hidup yang biasanya tidak tertulis, tetapi tetap akan terus berlaku dalam kehidupan masyarakat. Adanya norma sosial dapat dipengaruhi oleh tindakan serta kehidupan sosial secara luas.
Sementara itu, tanpa adanya norma sosial, tentunya kehidupan dalam masyarakat akan menjadi kacau bahkan tak terkendalikan. Keberadaan norma sosial juga biasanya disertai dengan berbagai macam sanksi tertulis.
Secara sederhana, norma sosial adalah satu hal yang membuat suatu tindakan sosial yang dilakukan oleh anggota masyarakat dapat disebut sebagai hal normal.
Sebagai aturan, norma sosial memiliki sifat memandu, memengaruhi hingga menentukan serta mengatur tindakan seseorang. Dalam sosiologi, norma merupakan bagian yang ada di dalam struktur sosial.
Ketika kita mempelajari norma, itu berarti sama seperti kita sedang memahami cara struktur sosial yang membuat suatu tindakan masyarakat agar bisa seperti pola hidup yang teratur. Ketika suatu norma dilanggar, maka akan ada sistem sosial yang terganggu. Sedangkan, jika norma selalu ditaati, maka sistem sosial juga bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Pengertian tentang norma sosial menurut para ahli.
1. John J. Macionis menjelaskan bahwa norma sosial adalah aturan dan harapan masyarakat yang berguna untuk memandu perilaku anggota-anggotanya agar tidak keluar dari tujuan yang sebelumnya sudah direncanakan.
2. Robert Mz. Lawang memberikan penjelasan tentang norma sosial yaitu sebagai bentuk gambaran mengenai apa yang diinginkan secara baik dan pantas. Oleh karena itu, norma sosial juga merupakan anggapan yang dianggap baik dan perlu dihargai sebagaimana mestinya.
3. Hans Kelsen menjelaskan jika norma sosial adalah perintah yang tidak personal atau publik dan terlihat seperti anonim.
4. Menurut Soerjono Soekanto, norma sosial adalah suatu bentuk perangkat agar hubungan antara masyarakat bisa terjalin dengan baik.
5. Isworo Hadi Wiyono mengartikan jika norma sosial merupakan aturan atau petunjuk hidup yang bisa memberikan “ancar-ancar” perbuatan mana yang boleh dan bisa dijalankan serta perbuatan mana yang memang harus dihindari bersama.
6. Antony Gidden menjelaskan bahwa norma sosial adalah suatu prinsip atau aturan yang konkret dan seharusnya diperhatikan oleh masyarakat.
Norma-norma dalam masyarakat memiliki kekuatan yang mengikat yang berbeda-beda, ada yang lemah, dan ada yang kuat. Oleh karena itu, pengertian norma-norma tersebut kemudian dibeda-bedakan. Berdasarkan kekuatan mengikatnya, norma dapat dibagi sebagai berikut.
Di dalam masyarakat, norma-norma sosial dibagi berdasarkan bidang-bidang tertentu yang tidak selalu berdiri sendiri dan saling berhubungan satu dengan lainnya, yang terdiri atas:
a. Norma Agama, merupakan norma yang mengandung peraturanperaturan yang sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut oleh seseorang atau masyarakat, yang mengandung kewajiban untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan dalam ajaran agama.
b. Norma Kesopanan, merupakan petunjuk yang mengatur bagaimana seseorang harus bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, pada saat memberikan atau menerima sesuatu dari orang lain, sebaiknya dengan tangan kanan.
c. Norma Kebiasaan, merupakan tata aturan seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu kegiatan yang didasarkan pada tradisi atau perilaku yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Misalnya, Upacara Sekatenan di Yogyakarta.
d. Norma Kesusilaan, merupakan salah satu aturan yang berasal dari akhlak atau dari hati nurani sendiri tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Misalnya berciuman di depan umum adalah hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia.
e. Norma Hukum, adalah tata aturan yang paling tegas sanksi dan hukumnya, terdiri dari norma tertulis seperti KUHP, KUH Perdata, dan norma tidak tertulis, yaitu hukum adat.
Berdasarkan sumbernya, norma sosial bisa dibedakan menjadi empat yaitu:
1) Norma agama, adalah sekumpulan aturan hidup yang biasanya berasal dari wahyu Tuhan. Adanya norma agama akan mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya dan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, manusia harus menaati norma agama dengan mentaati segala bentuk perintah Tuhan dan menjauhi setiap larangan Tuhan. Dengan begitu, setiap manusia bisa mengendalikan dirinya dalam setiap kehidupan sehari-harinya.
Sebagai contohnya adalah menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing- masing, sehingga menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama dan merawat lingkungan hidup.
2) Norma hukum, adalah segala bentuk aturan yang berasal dari negara. Norma hukum akan memiliki isi perintah dan larangan untuk setiap warga dalam suatu negara. Ketika ada warga negara yang melanggar norma hukum, maka ia akan mendapatkan sanksi sebagai bentuk hukumannya. Norma hukum akan disusun dan disahkan oleh lembaga negara yang berwenang sesuai dengan fungsi serta tugasnya. Adanya norma hukum dapat menciptakan kehidupan yang lebih tertib dan juga damai.
Contohnya, setiap pengemudi kendaraan bermotor harus memiliki Surat Izin Mengemudi atau SIM, pengemudi harus selalu mentaati peraturan lalu lintas, setiap warga negara dilarang untuk menyebarkan berita bohong, dan sebagainya.
3) Norma kesusilaan, yang mana norma ini dapat diartikan sebagai tentang segala aturan hidup yang berasal dari hati nurani manusia. Dengan hati nurani manusia, kita bisa memberikan penilaian terhadap apa yang sudah kita lakukan, apakah tindakan tersebut sudah sesuai dengan keinginan hati pribadi atau memang malah sebaliknya. Dengan begitu, segala bentuk tindakan atau sikap akan berasal dari hati nurani.
Adanya norma kesusilaan akan membuat kehidupan menjadi lebih harmonis dan bisa mengatur hubungan antar manusia. Jika norma ini dilanggar, biasanya pelaku akan merasa bersalah dan menyesal.
Contoh dari norma kesusilaan adalah seseorang yang melakukan perilaku tak baik kepada manusia lainnya seperti mencontek pekerjaan teman atau mencuri barang milik orang lain.
4) Norma kesopanan, norma ini akan mengatur pergaulan manusia. Norma kesopanan biasanya berasal dari kesepakatan masyarakat. Keberadaan dari norma kesopanan ditujukan untuk mengatur segala bentuk tindakan yang dianggap sopan dan tidak sopan.
Norma ini sebenarnya memiliki bentuk yang tak sama. Hal ini tak lain karena disesuaikan dengan kesepakatan masing-masing masyarakat pada suatu wilayah tertentu. Dengan adanya norma kesopanan, maka kita bisa lebih mudah dalam menyesuaikan diri serta bergaul dengan masyarakat. Sementara itu, mereka yang melanggar norma kesopanan biasanya akan mendapatkan sanksi seperti pengucilan, cemooh hingga dijauhi oleh masyarakat.
Contoh dari norma kesopanan, seperti siswa yang harus memberikan rasa hormat kepada guru, seseorang harus menggunakan bahasa yang sopan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau tidak memotong pembicaraan orang lain yang sedang berbicara, dan masih banyak lagi.
Selain berasal dari sumbernya, norma sosial juga dibedakan berdasarkan dari tingkatan daya ikatnya. Itu artinya, setiap norma memiliki kekuatan pengikat yang berbeda-beda, berikut adalah penjelasan lengkapnya.
a. Folkways atau Kebiasaan
Folkways adalah suatu norma yang bisa disebut sebagai norma kebiasaan.
Dari definisinya, norma kebiasaan adalah aturan dengan kekuatan yang lebih kuat daripada usage. Hal ini tak lain karena memang perbuatan dari norma kebiasaan akan dilakukan secara berulang-ulang .
Contoh paling mudah adalah ketika kita mengetuk pintu serta memberikan salam ketika bertamu ke rumah orang lain. Ketika kita bertamu dan tidak melakukan suatu kebiasaan tersebut, maka kita akan dinilai sebagai seseorang yang tidak memiliki nilai kesopanan atau nilai tata krama. Hukuman yang diterima biasanya akan dalam bentuk teguran.
b. Usage atau Cara
Dilihat berdasarkan tingkatannya, dari semua jenis norma sosial yang ada, norma cara atau usage adalah jenis yang paling lemah tingkatannya. Hal ini tak lain karena sanksi yang diberikan kepada pelaku hanyalah dalam bentuk cemoohan.
Contoh paling mudah adalah ketika kita sedang berkunjung ke luar negeri yang pada dasarnya kebiasaan masyarakat negara tersebut adalah menggunakan sendok garpu. Akan tetapi, ketika kita memiliki kebiasaan langsung menggunakan tangan, secara spontan kita akan menyantap makanan dengan menggunakan tangan seperti kebiasaan sebelumnya.
Secara kebetulan orang asli negara tersebut melihat kebiasaan kita makan akan berpikir kalau kebiasaan tersebut tidak elok untuk dilihat. Kemungkinan mereka akan memberikan cemooh kepada kita karena melakukan kebiasaan tersebut.
c. Mores atau Tata Kelakuan
Mores biasanya lebih banyak dikenal sebagai norma tata kelakuan. Norma tata kelakuan ini memiliki pengertian sebagai suatu aturan yang akan mengontrol perilaku masyarakat dan akan memberikan sebuah sanksi jika orang tersebut tidak menjalankan aturan yang sudah ada. Bahkan, sanksi yang diberikan juga tergolong berat bila dibandingkan dengan sanksi norma lainnya.
Contohnya adalah ketika seseorang melakukan tindakan mencuri, membunuh, mengkonsumsi narkoba, memerkosa dan segala macam bentuk tindakan kriminal lainnya. Ketika beberapa hal tersebut dilakukan, para pelaku akan diberikan sebuah sanksi, seperti kurungan penjara atau hukuman pidana di dalam negara yang bersangkutan.
Mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut tak hanya bisa merugikan diri sendiri, tetapi bisa juga bisa membahayakan keselamatan dan merugikan orang lain.
d. Custom atau Istiadat
Custom juga bisa disebut dengan norma istiadat. Norma jenis ini adalah suatu aturan yang ada dan sudah diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya sekaligus memiliki sifat yang sangat mengikat.
Pelanggar norma istiadat akan berujung pada sanksi sosial atau sanksi adat.
Keberadaan dari norma ini biasanya karena adanya kesepakatan antara kelompok masyarakat tertentu.
Contohnya adalah ketika tradisi lempar beras sudah menjadi salah satu adat pernikahan dalam desa tertentu. Namun, ketika ada pasangan yang menikah tanpa melakukan tradisi lempar beras tersebut, masyarakat setempat akan memiliki pandangan hal tersebut sebagai bentuk tindakan aneh.
Sanksi yang diberikan juga lebih berat, seperti pernikahan dianggap tidak sah karena tidak dilakukan sesuai dengan adat istiadat yang sudah berlaku sejak lama.
Ciri-ciri Norma Sosial adalah sebagai berikut:
a. Memiliki Sifat Tak Tertulis
Norma sosial biasanya hanya bisa diingat, diserap dan diterapkan dalam suatu interaksi antar anggota dalam kelompok masyarakat tentu. Dengan kata lain, norma sosial memiliki ciri tak tertulis.
b. Ada Karena Hasil Kesepakatan Bersama
Salah satu tujuan dari adanya norma sosial adalah untuk mengatur perilaku seluruh anggota masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan norma sosial harus didasarkan dari hasil kesepakatan bersama dalam suatu lingkungan masyarakat.
c. Bisa Mengalami Perubahan
Seiring berjalannya waktu norma sosial memungkinkan untuk berubah. Hal ini tak lain karena norma sosial terbentuk atas proses interaksi sosial di kelompok masyarakat yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman juga.
d. Akan Ditaati Bersama
Dikarenakan norma sosial adalah suatu aturan bersama yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Tentunya, keberadaan norma sosial harus ditaati secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat.
e. Adanya Hukuman Atau Sanksi
Ketika dijalankan, norma sosial juga akan beriringan dengan suatu hukuman atau sanksi. Hukuman atau sanksi tersebut memiliki sifat ringan, sedang, dan berat.
Keberadaan hukuman atau sanksi ini akan diberikan kepada mereka yang melanggar norma yang telah diberlakukan dan disetujui oleh masyarakat.
Jadi, norma sosial adalah seperangkat aturan atau panduan hidup yang biasanya tidak tertulis, tetapi tetap akan terus berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya norma sosial, maka kehidupan sesama masyarakat dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya.
3. Fungsi Norma Sosial
Keberadaan norma sosial memiliki fungsi sebagai berikut:
a) Mengatur perbuatan masyarakat agar sesuai dengan nilai yang ada dan berlaku.
b) Memastikan terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih aman dan tertib.
c) Mencegah adanya benturan kepentingan antarmasyarakat.
d) Sebagai petunjuk maupun pedoman untuk menjalani hidup di lingkungan masyarakat sebagai individu.
e) Membantu masyarakat dalam mencapai tujuan atau kesepakatan bersama.
f) Mengatur perilaku masyarakat.
g) Memberikan batasan untuk tidak dilanggar .
h) Mendorong individu untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan masyarakat yang ada berdasarkan nilai-nilai yang berlaku.
C. STRUKTUR SOSIAL INDONESIA
Struktur sosial secara etimologis berarti susunan masyarakat. Struktur sosial secara definitif merupakan skema penempatan nilai-nilai sosial-budaya dan organ- organ masyarakat pada posisi yang dianggap sesuai, demi berfungsinya organisme masyarakat sebagai suatu keseluruhan, dan demi kepentingan masing-masing bagian.
Skema dibangun secara objektif, agar dapat mengenal posisi yang diberikan masyarakat kepada nilai-nilai sosial budaya, dan organ-organ atau komponen sosial yang menjadi milik masyarakat. Nilai-nilai sosialbudaya terdiri dari ajaran agama, ideologi, dan kaidah-kaidah moral serta peraturan sopan santun. Organ masyarakat merupakan semua komponen yang bersama-sama mewujudkan masyarakat, seperti kelompok sosial maupun lembaga-lembaga sosial.
Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik.
Secara horizontal ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan.
Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan vertikal antara lapisan atas dan bawah yang cukup tajam (Nasikun, 1995: 30).
Indonesia sebagai masyarakat multikultural, seperti telah disebutkan di atas menampakkan keanekaragaman dari berbagai aspek sosial budaya secara horizontal, seperti keanekaragaman dalam tata cara kehidupan, bahasa yang digunakan, seni budaya yang dimiliki, dan tradisi. Dalam berinteraksi, jika masing-masing anggota masyarakat tidak ada rasa toleransi serta rasa simpati dan empati, akan dihadapkan pada gesekan-gesekan yang disebabkan adanya keanekaragaman sosial budaya tersebut yang cenderung dapat menimbulkan konflik horisontal. Keanekaragaman secara vertikal mengandaikan bahwa dalam masyarakat Indonesia cenderung terjadi polarisasi secara ekonomi yang semakin jelas.
Sebagian anggota masyarakat yang kaya akan semakin kaya. Hal ini ditandai dengan bertambah banyaknya pemilikan barang- barang yang bersifat material atau ekonomis. Kepemilikan tersebut oleh sebagian anggota masyarakat dijadikan sebagai simbol status untuk lapisan sosial atas, sedangkan anggota masyarakat miskin akan cenderung semakin miskin. Hal ini ditandai bahwa mereka semakin tidak dapat mengakses fasilitas hidup dan sumber-sumber ekonomi yang dibutuhkan, seperti tanah, rumah yang layak, pendidikan, dan fasilitas kesehatan.
D. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL
Hidup manusia di dunia sebagian besar berada dalam kehidupan bersama.
Manusia yang wajar atau normal tidak akan pernah dapat melepaskan diri dari masyarakat dan hidup bermasyarakat sungguh pun di dalam dirinya terlekat dua sifat kodrati. Secara objektif, manusia terlahir sebagai makhluk sosial dan makhluk individu sekaligus. Sebagai makhluk sosial, manusia diakui eksistensinya ketika seseorang berada dalam lingkungan sosialnya, oleh Aristoteles disebut zoon politicon. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat merupakan wadah atau tempat di mana manusia memperoleh pemuasan hasrat sosialnya.
Di samping sebagai makhluk sosial (zoon politicon), manusia juga sebagai needy creatures atau makhluk kebutuhan atau istilah lainnya adalah makhluk individu. Sebagai needy creatures, manusia dikuasai oleh kebutuhan-kebutuhan pribadinya, oleh Epicurus dikatakan bahwa kepentingan pribadi mengatur dan menguasai semua manusia. Dari sudut pandang ini, masyarakat tidak dilihat sebagai wadah atau tempat untuk pemenuhan hasrat sosialnya, tetapi masyarakat dipandang sebagai gelanggang untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadinya yang tidak pernah habis-habisnya, dan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri.
Dalam hal ini, manusia yang satu memandang manusia yang lain tidak sebagai tujuan, tetapi sebagai sarana. Oleh karena itu, manusia yang satu saling memanfaatkan dan memperalat yang lain guna pencapaian kebutuhan masing- masing.
Secara objektif, manusia mempunyai dua sifat kodrati. Di satu pihak, manusia mempunyai sifat sebagai “zoon politicon”, sedangkan di lain pihak, manusia mempunyai sifat “needy creatures” atau makhluk kebutuhan. Sifat manusia sebagai zoon politicon menumbuhkan manusia sebagai makhluk sosial, sedangkan needy creatures menumbuhkan manusia sebagai makhluk individu. Posisi sebagai zoon politicon dan needy creatures tidak berkutub, dalam arti pada paruh waktu manusia adalah makhluk sosial, dan paruh waktu lainnya manusia sebagai makhluk individu.
Zoon politicon dan needy creatures yang terlekat pada diri manusia, saling menjalin menjadi satu yang mengukuhkan keutuhan kedirian manusia sebagai manusia.
1. Konsep Kelakuan
Manusia sebagai anggota masyarakat dalam berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang berpola. Pola adalah suatu ciptaan yang dijadikan model untuk membuat sesuatu yang lain namun serupa, misalnya dalam perusahaan batik dibuat lebih dari satu pola batik yang memiliki motif yang diinginkan, kemudian dipakai sebagai contoh atau pola untuk membuat kain batik bergambar sama. Pola kelakuan adalah suatu cara bertingkah laku yang diciptakan untuk ditiru banyak manusia.
Suatu cara bertindak menjadi suatu pola bertindak yang tetap melalui proses pengulangan (peniruan) yang dilakukan banyak orang dalam waktu relatif lama sehingga terbentuk suatu kebiasaan.
2. Jenis Pola Kelakuan
Dari analisis yang sama dapat disimpulkan bahwa ada dua macam pola kelakuan, yaitu pola kelakuan lahiriah, yaitu tindakan seseorang yang dapat dilihat mengikuti suatu pola dan pola kelakuan batiniah yaitu apabila seseorang berpikir dan merasa menggunakan pola.
a. Pola Kelakuan Lahiriah
Pola kelakuan lahiriah adalah cara bertindak yang ditiru berulangulang oleh banyak orang. Kata bertindak berarti netral dalam arti bebas dari kaitan yuridis seperti tindakan hukum. Istilah lahiriah dikaitkan dengan kelakuan lahiriah yang menunjuk pada kelakuan atau tindakan yang dapat disaksikan orang lain, walaupun tidak selalu ada orang lain yang melihatnya, seperti perbuatan seseorang yang sedang makan atau seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas.
b. Pola Kelakuan Batiniah
Pola kelakuan batiniah dapat diteliti secara ilmiah oleh ilmu yang berkepentingan, dalam hal ini adalah sosiologi, karena yang diteliti bukanlah isi batin yang tidak dapat diamati, melainkan cara-cara pengungkapan apa yang terkandung dalam batin seperti cara berpikir, cara berkemauan, dan cara mengungkapkan perasaan. Ungkapan- ungkapan tersebut ternyata dapat dilihat atau didengar. Pola kelakuan batiniah tidak dapat dikenali secara langsung, tetapi melalui tanda- tanda lahiriah. Dari pengamatan terhadap ungkapan-ungkapan yang dilakukan seseorang untuk menyatakan isi hati kepada orang lain, dapat ditarik kesimpulan bahwa pernyataan-pernyataan itu dilakukan bukan tanpa aturan, tetapi mengikuti suatu pola
yang tetap, yaitu cara-cara yang dilakukan orang banyak, sehingga setiap orang dapat mengerti apa yang dimaksudkan isi hati yaitu isi pikiran, perasaan, dan keinginan.
Ungkapan berpola yang paling penting untuk memperkenalkan isi hati antara lain: (1) bahasa, seseorang dalam menggunakan bahasa dan dapat dimengerti pihak lain, maka orang lain akan mengikuti pola bahasa yang baik, misal dalam menggunakan tata bahasa; (2) isyarat, seseorang dalam menggerakkan raut muka, tangan dengan gerakan berpola dan kemudian dimengerti orang lain; (3) tata tubuh, dalam hal mana tata tubuh tertentu digunakan untuk menyatakan rasa hormat kepada Tuhan, seperti ketika umat Islam menjalankan ibadah salat. Contoh lainnya adalah dalam tari-tarian, di mana seluruh tata tubuh dan gerakan dimaksudkan untuk mengekspresikan tujuan atau makna tertentu yang akan disampaikan kepada penonton.
Sebagian ungkapan batiniah yang berpola tersebut bersifat pribadi, dan merupakan ciri khas seseorang, walaupun terdapat pula ungkapan batiniah yang bersifat sosial, yang berarti diikuti umum. Meskipun demikian, cara berpola yang banyak diikuti orang belum membuktikan bahwa pola tersebut bersifat sosial. Suatu ungkapan batiniah bersifat sosial jika bentuk ungkapan itu merupakan suatu keharusan yang berlaku dan sudah menjadi kebiasaan bagi setiap anggota masyarakat.
Sebagai makhluk individu manusia juga tidak mampu hidup sendiri artinya manusia juga harus hidup bermasyarakat. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena:
1) Butuh orang lain dalam pemenuhan kebutuhan dasar/biologis.
2) Prilakunya dipengaruhi orang lain, Ia harus tunduk pada norma dan keinginan mendapat pujian atau respon orang lain.
3) Adanya kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, kebutuhan sosial, untuk hidup berkelompok.
Sebagai makhluk individu manusia berperan untuk mewujudkan hal-hal sebagai berikut :
1) Menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya 2) Mengupaya terpenuhinya hak-hak dasarnya sebagai manusia
3) Merealisasikan segenap potensi diri baik sisi jasmani maupun rohani 4) Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri demi kesejahteraan hidupnya.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki implikasi-implikasi sebagai berikut:
1) Kesadaran akan ketidakberdayaan bila manusia seorang diri
2) Kesadaran untuk senatiasa dan harus berinteraksi dengan orang lain 3) Penghargaan akan hak-hak orang lain
4) Ketaatan terhadap norma-norma yang berlaku
Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial menjadikan manusia melakukan peran-peran sebagai berikut:
1) Melakukan interaksi dengan manusia lain atau kelompok 2) Membentuk kelompok-kelompok sosial
3) Menciptakan norma-norma sosial sebagai pengaturan tata tertib kehidupan kelompok
Dilema antara kepentingan individu dan sosial mengutamakan diri secara pribadi tentunya akan mengarah pada individual. Sebaliknya, mengutamakan kepentingan masyarakat tentu akan mengkesampingkan kepentingan pribadi, manusia secara pribadi tidak dihargai Jadi bagaimana? Tergantung pilihan, dan sebagai manusia Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila harus dapat menjadikan diri sebagai individu secara pribadi dan sekaligus sebagai makhluk sosial, secara seimbang.
E. DISKRIMINASI DALAM MASYARAKAT INDONESIA
Dalam masyarakat yang terdiri dari kelompok mayoritas, yaitu kelompok yang jumlah anggotanya banyak dan kelompok minoritas, yakni kelompok yang jumlah anggotanya sedikit, disebabkan adanya perbedaan agama maupun keturunan, maka diskriminasi terhadap kelompok minoritas ada kecenderungan terjadi.
Masalah diskriminasi merupakan masalah dunia, sehingga Persatuan Bangsa- Bangsa (PBB) mengeluarkan Undang-Undang Anti Diskriminasi yang harus ditaati seluruh pemerintah negara anggotanya. Indonesia pada tahun 2008 mengeluarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa diskriminasi ras dan etnis bertentangan dengan falsafah Pancasila, UUD 1945, dan Deklarasi Universal HAM, karena itulah harus dihapuskan.
Jika berbicara tentang diskriminasi yang ada di Indonesia, pusat perhatian ditujukan pada kaum etnis Tionghoa Indonesia yang acap kali mengalami
diskriminasi. Perlakuan diskriminatif dialami pula oleh suku Bugis, Buton, maupun Makassar yang mencari hidup di Indonesia bagian Timur seperti Timor Timur (dulu sebelum memisahkan diri dari Indonesia) maupun Irian Jaya. Penduduk asli selalu mencurigainya sebagai kelompok pemeras kekayaan daerah. Sama halnya etnis Tionghoa yang juga dianggap sebagai penguasa dalam perekonomian.
Akar sosiologis pertama yang menimbulkan diskriminasi adalah adanya dua kelompok yang secara terpisah menguasai sektor kehidupan dalam masyarakat. Di Indonesia pada umumnya kelompok etnis Tionghoa menguasai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan perantara sampai dengan perdagangan skala besar. Seperti halnya orang Makassar dan Bugis, di Irian Jaya dan Timor Timur (dulu) juga menguasai sektor ekonomi. Penguasaan mereka terhadap sektor ekonomi, menyebabkan rata-rata kehidupan mereka jauh lebih baik dari pada penduduk setempat.
Kebudayaan yang berbeda juga menjadi akar kedua dari masalah diskriminasi.
Bagi orang Indonesia bukan keturunan Tionghoa, orang Tionghoa selalu dianggap sebagai suku yang jorok karena budayanya. Orang Jawa selalu mengatakan “jegang koyo singkek” yang artinya duduk dengan menaikkan kaki ke atas, bagi orang Jawa dianggap sangat tidak sopan. Perbedaan agama juga menjadi hal yang mendorong diskriminasi. Bagi orang Indonesia non-Tionghoa, orang Tionghoa dianggap kafir karena makan daging babi.
Prasangka etnis yang kemudian menimbulkan diskriminasi baik secara halus maupun kasar, dapat menyebabkan terjadinya konflik dan ketidakharmonisan hubungan antaretnis. Bagaimana mengatasi adanya permasalahan yang berkaitan dengan diskriminasi?
Pertama, pemerintah Indonesia harus memiliki pemerintahan yang bersih, adil, dan demokratis. Hal ini diperlukan untuk menjaga tegaknya etika pemerintahan, dalam arti tidak membedakan warganya dalam berusaha maupun mengembangkan kehidupan mereka.
Kedua, bangsa Indonesia harus meyakini dan membiasakan diri mereka pada kondisi kebhinnekaan bangsanya.
Ketiga, etnis Tionghoa harus diberi affirmative action dalam bidang politik, sedangkan affirmative action dalam bidang ekonomi dapat diberikan kepada
orang Indonesia non-Tionghoa dan penduduk asli. Hal ini untuk mengurangi perasaan curiga, khawatir, iri hati, dan prasangka.
Hal ini juga sekaligus untuk menghapus persepsi bahwa setiap suku bangsa yang terlibat dalam perdagangan retail yang sukses akan dicurigai penduduk asli yang merasa tidak mampu bersaing dengan para pedagang yang kebanyakan orang pendatang.
Cara menghindari diskriminasi di tengah masyarakat yaitu dengan berlaku seperti:
Menghormati dan menghargai setiap perbedaan yang ada.
Menyadari jika setiap manusia memiliki hak asasi manusianya masing-masing, termasuk bisa menjalani hidup tanpa perlakukan diskriminatif.
Mempelajari kebudayaan dan bahasa daerah lainnya, agar lebih mudah memahami betapa indahnya hidup aman dan tentram tanpa diskriminasi.
Membiasakan diri untuk tidak mudah mengejek, menghina atau membenci hanya karena berbeda suku, agama, ras, status sosial ataupun kebudayaannya.
Menumbuhkan semangat dan jiwa nasionalisme.
Menjalin komunikasi dan membina hubungan yang baik dengan teman atau keluarga yang berbeda suku, agama, ras dan budayanya.
Membiasakan diri untuk tidak mudah menilai orang lain dari penampilan luarnya saja.
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Manusia secara kodrati merupakan makhluk sosial sekaligus makhluk individu.
Manusia hidup dalam sebuah sistem sosial. Sistem sosial adalah suatu sistem tindakan terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara berbagai individu, tumbuh dan berkembang di atas standar penilaian umum yang disepakati bersama oleh para anggota masyarakat. Standar penilaian umum yang terpenting adalah norma-norma sosial, dan norma-norma sosial inilah yang membentuk struktur sosial.
Setiap anggota masyarakat menganut dan mengikuti pengertianpengertian yang sama mengenai situasi-situasi tertentu dalam bentuk norma-norma sosial, maka tingkah laku setiap anggota masyarakat kemudian terjalin sedemikian rupa ke dalam bentuk suatu struktur sosial tertentu.
Pengaturan interaksi sosial di antara para anggota masyarakat tersebut dapat terjadi, karena adanya komitmen anggota masyarakat terhadap nilai-nilai dan norma- norma sosial yang menghasilkan daya untuk mengatasi perbedaan pendapat dan kepentingan di antara mereka. Tanpa kesepakatan tersebut, masyarakat dapat mengalami disintegrasi. Kepatuhan terhadap nilai-nilai dan norma-norma sosial tidak ada.
Adanya diskriminasi yang dialami anggota masyarakat, khususnya mereka yang merupakan minoritas etnis dan kelompok kurang beruntung, merupakan bukti dari tidak adanya penilaian sosial yang tepat terhadap kelompok sosial tertentu.
Pemerintah merupakan pihak pertama yang wajib menata hubungan sosial di antara anggota dan kelompok masyarakat, karena pemerintahlah yang memiliki power untuk mewujudkan integrasi sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Eko handoyo, dkk. 2015. Studi Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
https://deepublishstore.com/sistem-sosial/ diakses pada 26 Oktober 2022 https://www.gramedia.com/literasi/nilai-sosial/, diakses pada 26 Oktober 2022.
https://www.gramedia.com/literasi/norma-sosial-adalah/, diakses pada 26 Oktober 2022.