• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN ASET DAERAH

N/A
N/A
Helena Dangul

Academic year: 2024

Membagikan "PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN ASET DAERAH"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan petunjuk-Nya sehingga kami, kelompok 3 dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul "Permasalahn asset (BMN/D)", yang mana makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Aset.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyajian data pada makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang

membangun dari semua pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini berguna dan dapat menambah pengetahuan pembaca.Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan kami mohon maaf.

Kupang, 9 April 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ...iii

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang ...1

1.2 Rumusan Masalah ...1

1.3 Tujuan ...1

BAB II PEMBAHASAN ...2

2.1 Permasalahan dalam Pengelolaan Aset Daerah ...2

2.2 Contoh Kasus Permasalahan Aset Daerah ...14

BAB III PENUTUP ...18

3.1 Kesimpulan ...18

3.2 Saran ...18

DAFTAR PUSTAKA...19

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu aspek penting penunjang keberhasilan manajemen keuangan daerah adalah dimilikinya sistem manajemen aset daerah yanga efektif dan efisien. Aset daerah sebagai salah satu unsur penting dalam rangka penyelenggaraan pemerintah dan

pelayanan publik harus dikelola dengan baik, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.

Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi bahwa pelaksanaan desentralisasi tidak hanya sebatas pada desentralisasi pengelolaan keuangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah dan dari pemerintsh daerah ke satuan kerja perangkat daerah (SKPD), tetapi juga desentralisai pengelolan aset daerah hingga level satuan kerja. Jika pada era sebelumnya pengelolaan aset daerah tersentralisasi di biro/bagian perlengkapan, maka saat ini pengelolaan aset tersebut di desentralisasi ke masing-masing SKPD. Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi pemerintah daerah untuk mengetahui prinsip-prinsip manajemen aset daerah agar aset yang ada dapat dikelola secara optimal.

1.2 Rumusan Masalah

A. Bagaimana permasalahan dalam pengelolaan aset daerah!

B. Apa contoh kasus permasalahan aset daerah!

1.3 Tujuan

Dalam penulisan makalah ini, penulis membuatnya yaitu bertujuan untuk memenuhi Tugas kuliah Manajemen Aset. Dan juga penulis membuat makalah ini, membantu para pembaca untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai Manajemen Aset Daerah sehingga para pembaca tidak hanya membaca saja tetapi berharap untuk lebih mengetahui bagaimana Manajemen Aset Daerah.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan Dalam Pengelolaan Aset

Aset daerah yang bernilai ekonomis besar dan secara fisik terdiri atas berbagai jenis dan tersebar lokasinya menimbulkan kompleksitas dan berpotensi memunculkan permasalahan baik dalam pengelolaan, pemanfaatan, maupun pencatatannya.

Kompleksitas dan permasalahan manajemen aset tersebut bisa disebabkan karena:

A. Belum Dilakukan Inventarisasi Seluruh Aset

Belum dilakukannya inventarisasi seluruh aset mengacu pada situasi di mana pemerintah daerah belum melakukan pencatatan atau dokumentasi yang

komprehensif tentang semua aset yang mereka miliki dan kelola di wilayah tersebut.

Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang permasalahan yang terkait dengan belum dilakukannya inventarisasi seluruh aset:

1. Ketidakjelasan Aset yang Dimiliki:

Tanpa inventarisasi yang lengkap, pemerintah daerah mungkin tidak memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang semua jenis aset yang dimiliki, termasuk properti, infrastruktur, tanah, kendaraan, dan lain sebagainya.

2. Kesulitan Perencanaan dan Pengelolaan:

Tanpa data yang akurat tentang aset-aset yang dimiliki, pemerintah daerah akan menghadapi kesulitan dalam merencanakan perawatan,

pemeliharaan, perbaikan, dan pengembangan aset secara efektif. Hal ini dapat mengakibatkan alokasi sumber daya yang tidak optimal.

3. Kehilangan dan Penyia-siaan Aset:

Aset-aset yang tidak tercatat secara resmi dalam inventarisasi berisiko untuk terlupakan atau tidak dikelola dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan kehilangan atau penyia-siaan aset yang berharga.

(6)

4. Ketidakpastian dalam Pengambilan Keputusan:

Tanpa informasi yang tepat tentang aset-aset yang dimiliki, pengambilan keputusan strategis terkait dengan pengelolaan aset daerah menjadi sulit. Hal ini dapat mengakibatkan keputusan yang tidak efektif atau tidak tepat.

5. Tidak Efisiennya Pengelolaan Aset:

Kurangnya inventarisasi menyebabkan pengelolaan aset menjadi tidak efisien karena sumber daya mungkin terpencar-pencar atau terfokus pada aset- aset tertentu saja. Hal ini dapat menyebabkan pemborosan dan penggunaan yang tidak optimal dari aset-aset tersebut.

6. Risiko Korupsi dan Penyalahgunaan Aset:

Tanpa kontrol yang memadai melalui inventarisasi yang lengkap, risiko penyalahgunaan aset oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dapat meningkat.

Aset yang tidak tercatat secara resmi lebih rentan terhadap praktik korupsi atau penyalahgunaan wewenang.

7. Kurangnya Akuntabilitas dan Transparansi:

Kehadiran inventarisasi yang tidak lengkap dapat mengurangi

akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan aset daerah, karena sulit untuk melakukan pemantauan dan pelaporan yang efektif.

8. Kesulitan dalam Pelaporan dan Audit:

Tanpa inventarisasi yang lengkap, pemerintah daerah akan menghadapi kesulitan dalam menyusun laporan keuangan yang akurat dan terpercaya. Hal ini juga akan menyulitkan proses audit yang dilakukan oleh pihak eksternal.

Untuk mengatasi permasalahan ini, penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap semua aset yang mereka miliki dan kelola. Dengan memiliki data yang akurat dan terpercaya tentang aset-aset mereka, pemerintah daerah dapat merencanakan, mengelola, dan mengoptimalkan

penggunaan aset dengan lebih efektif.

(7)

B. Belum Dilakukan Penilaian (Appraisal) Atas Seluruh Aset

Belum dilakukannya penilaian (appraisal) atas seluruh aset daerah mengacu pada situasi di mana pemerintah daerah belum melakukan evaluasi atau penilaian yang menyeluruh terhadap nilai atau harga pasar dari semua aset yang mereka miliki di wilayah tersebut. Berikut adalah beberapa penjelasan tentang permasalahan yang terkait dengan belum dilakukannya penilaian atas seluruh aset daerah:

1. Ketidakjelasan Nilai Aset:

Tanpa penilaian yang komprehensif, pemerintah daerah mungkin tidak memiliki pemahaman yang akurat tentang nilai sebenarnya dari aset-aset yang dimilikinya. Hal ini dapat menyebabkan ketidakpastian dalam perencanaan keuangan dan pengambilan keputusan terkait dengan aset.

2. Kesulitan dalam Mengoptimalkan Pemanfaatan Aset:

Tanpa penilaian yang tepat, pemerintah daerah mungkin tidak dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset mereka untuk kepentingan masyarakat secara maksimal. Hal ini dapat mengakibatkan aset-aset yang tidak dimanfaatkan secara efisien atau tidak menghasilkan pendapatan yang optimal.

3. Kurangnya Informasi untuk Pengambilan Keputusan:

Tanpa data yang akurat tentang nilai aset, pengambilan keputusan strategis terkait dengan pengelolaan aset daerah menjadi sulit. Hal ini dapat menghambat kemampuan pemerintah daerah untuk merencanakan perawatan, pemeliharaan, perbaikan, atau pengembangan infrastruktur dengan efektif.

4. Tidak Dapat Mengidentifikasi Aset yang Tidak Produktif:

Penilaian yang tidak dilakukan dapat menyebabkan sulitnya mengidentifikasi aset-aset yang tidak produktif atau tidak menghasilkan pendapatan yang memadai. Hal ini menghambat upaya untuk mengoptimalkan penggunaan aset dan meningkatkan efisiensi pengelolaan.

(8)

5. Risiko Penyalahgunaan atau Kerugian Finansial:

Tanpa penilaian yang komprehensif, risiko penyalahgunaan aset oleh pihak yang tidak bertanggung jawab atau kerugian finansial karena penilaian yang tidak akurat dapat meningkat. Hal ini dapat merugikan keuangan publik dan

mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.

6. Kurangnya Akuntabilitas dan Transparansi:

Kehadiran penilaian yang tidak lengkap dapat mengurangi akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan aset daerah, karena sulit untuk melakukan pemantauan dan pelaporan yang efektif.

7. Kesulitan dalam Pembangunan Infrastruktur Baru atau Peningkatan Aset yang Ada:

Tanpa pengetahuan yang akurat tentang nilai aset, pemerintah daerah akan menghadapi kesulitan dalam merencanakan dan memperoleh dana untuk

pembangunan infrastruktur baru atau peningkatan aset yang ada.

8. Keterbatasan Dalam Memperoleh Dana atau Pendanaan Tambahan:

Tanpa penilaian yang lengkap, pemerintah daerah mungkin menghadapi kesulitan dalam memperoleh dana atau pendanaan tambahan dari lembaga keuangan atau investor swasta karena kurangnya jaminan atau informasi yang akurat tentang nilai aset.

Untuk mengatasi permasalahan ini, penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan penilaian menyeluruh terhadap semua aset yang mereka miliki. Dengan memiliki informasi yang akurat tentang nilai aset, pemerintah daerah dapat

merencanakan, mengelola, dan mengoptimalkan penggunaan aset mereka dengan lebih efektif dan efisien.

C. Terdapat Beragam Jenis Hak Penguasaan Atas Aset Yang Dipegang (Secara Tidak Langsung) Oleh Berbagai Pihak;

(9)

1. Hak Penguasaan Secara Hukum:

 Hak Milik: Merupakan hak penuh untuk memiliki, menggunakan, dan mengalihkan aset secara bebas sesuai dengan hukum yang berlaku.

Pemerintah daerah umumnya memiliki hak milik atas sebagian besar aset daerah.

 Hak Guna Usaha (HGU): Merupakan hak untuk memanfaatkan tanah negara untuk kegiatan usaha tertentu, seperti perkebunan atau pertanian. HGU dapat dimiliki oleh perusahaan swasta atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melakukan investasi di daerah tersebut.

 Hak Pakai: Merupakan hak untuk menggunakan tanah negara atau aset daerah untuk kepentingan tertentu, seperti tempat tinggal atau usaha, tanpa memiliki hak kepemilikan yang sebenarnya.

2. Hak Penguasaan Secara Operasional:

 Kontrak Pengelolaan: Pemerintah daerah seringkali mengontrakkan

pengelolaan dan operasional aset tertentu kepada pihak swasta atau lembaga lainnya. Misalnya, pengelolaan fasilitas umum seperti pasar tradisional atau terminal angkutan umum.

 Lisensi atau Izin Operasional: Pihak swasta atau lembaga dapat memperoleh lisensi atau izin operasional untuk menggunakan atau mengelola aset daerah dalam jangka waktu tertentu, seperti restoran di taman umum atau penyedia jasa parkir.

3. Hak Penguasaan Secara Adat atau Tradisional:

 Hak Adat: Di beberapa daerah, terutama di wilayah yang memiliki budaya adat yang kuat, masyarakat lokal dapat memiliki hak penguasaan secara tradisional atas sebagian aset daerah, seperti tanah hutan atau sumber air.

 Hak Masyarakat Adat: Masyarakat adat seringkali memiliki hak khusus atas tanah atau sumber daya alam tertentu berdasarkan tradisi atau adat istiadat mereka, yang diakui oleh pemerintah atau melalui peraturan daerah.

4. Hak Penguasaan Secara Investasi atau Kerja Sama:

(10)

 Hak Investasi: Pemerintah daerah dapat memberikan izin kepada investor swasta atau lembaga untuk melakukan investasi dalam pembangunan atau pengembangan aset tertentu, seperti proyek infrastruktur atau real estate.

 Kerja Sama Publik-Privat (PPP): Melalui kerja sama PPP, pemerintah daerah dapat menjalin kemitraan dengan sektor swasta untuk pengelolaan,

pengembangan, atau pembiayaan aset daerah, dengan pembagian risiko dan manfaat yang disepakati.

5. Hak Penguasaan Secara Konservasi atau Perlindungan:

 Hak Konservasi: Organisasi atau lembaga yang bergerak dalam bidang konservasi lingkungan atau warisan budaya dapat memperoleh hak untuk menjaga dan melindungi aset alam atau budaya yang ada di daerah tersebut.

 Hak Pengelolaan Lingkungan: Pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam perlindungan lingkungan hidup, seperti LSM atau komunitas lokal, dapat memperoleh hak untuk mengelola atau memulihkan aset lingkungan yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

Adanya beragam jenis hak penguasaan atas aset daerah oleh berbagai pihak dapat menciptakan kompleksitas dalam pengelolaan dan pengembangan aset, serta menimbulkan tantangan dalam hal regulasi, koordinasi, dan pemberdayaan

masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan koordinasi yang efektif, mengembangkan kebijakan yang berkelanjutan, dan memperhatikan kepentingan semua pemangku kepentingan dalam pengelolaan aset daerah secara holistik.

D. Ketidakjelasan Status Kepemilikan Atas Beberapa Jenis Aset, Seperti Tanah, Jalan, Jembatan, Dan Sebagainya;

Seringkali menjadi masalah serius dalam pengelolaan aset daerah. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang dampak dan implikasi dari ketidakjelasan status kepemilikan ini:

(11)

1. Ketidakpastian Pengelolaan dan Penggunaan Aset:

Ketidakjelasan status kepemilikan dapat menyebabkan ketidakpastian dalam pengelolaan dan penggunaan aset. Pemerintah daerah mungkin tidak yakin apakah mereka memiliki kendali penuh atas aset tersebut, yang dapat menghambat upaya untuk memperbaiki, mengembangkan, atau memanfaatkan aset tersebut dengan efektif.

2. Sengketa dan Konflik Hukum:

Ketidakjelasan status kepemilikan sering kali menjadi sumber sengketa dan konflik hukum antara pemerintah daerah, individu, atau entitas lain yang mengklaim hak atas aset tersebut. Sengketa ini dapat menghambat proyek- proyek pembangunan dan infrastruktur serta menimbulkan biaya hukum yang besar.

3. Risiko Kehilangan Aset:

Tanah atau aset lain yang status kepemilikannya tidak jelas rentan terhadap klaim atau pengambilalihan oleh pihak lain. Hal ini dapat

mengakibatkan risiko kehilangan aset yang berharga bagi pemerintah daerah, serta kerugian finansial yang signifikan.

4. Tidak Dapat Digunakan Sebagai Jaminan atau Aset Investasi:

Aset yang status kepemilikannya tidak jelas sulit untuk digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman atau investasi dari pihak swasta atau lembaga keuangan. Hal ini dapat menghambat kemampuan pemerintah daerah untuk mendapatkan dana tambahan untuk pembangunan atau proyek- proyek lainnya.

5. Kurangnya Kepercayaan Publik dan Investasi:

(12)

Ketidakjelasan status kepemilikan dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah dan menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di wilayah tersebut.

6. Ketidakmampuan untuk Melaksanakan Pemeliharaan dan Perbaikan:

Tanah atau aset lain yang status kepemilikannya tidak jelas mungkin tidak dapat diperbaiki atau dipelihara dengan baik oleh pemerintah daerah karena ketidakmampuan untuk mengakses atau mengelola aset tersebut secara efektif.

7. Tantangan dalam Perencanaan Wilayah dan Pembangunan Infrastruktur:

Ketidakjelasan status kepemilikan dapat menyulitkan pemerintah daerah dalam merencanakan pengembangan wilayah atau infrastruktur karena tidak dapat memperkirakan ketersediaan atau akses ke aset yang diperlukan.

8. Ketidakpastian dalam Penetapan Kebijakan dan Regulasi:

Tanah atau aset lain yang status kepemilikannya tidak jelas dapat menciptakan ketidakpastian dalam penetapan kebijakan atau regulasi oleh pemerintah daerah. Hal ini dapat menghambat upaya untuk mengatur penggunaan lahan atau aset lainnya secara efektif.

Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi pemerintah daerah untuk

melakukan audit dan penelusuran kepemilikan aset secara menyeluruh, memperjelas status kepemilikan, serta memperkuat perlindungan hukum terhadap aset daerah.

Langkah-langkah ini akan membantu mengurangi ketidakpastian, meningkatkan kepercayaan publik, dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk investasi dan pembangunan.

E. Aset Daerah Tersebut Terkait Dengan Kepentingan Yang Berasal Dari Berbagai Institusi Pemerintah Dan Non-Pemerintah

(13)

Aset daerah seringkali menjadi subjek kepentingan yang berasal dari berbagai institusi pemerintah dan non-pemerintah karena memiliki nilai strategis dan potensi untuk memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Berikut adalah penjelasan tentang bagaimana aset daerah terkait dengan kepentingan yang berasal dari berbagai institusi:

1. Institusi Pemerintah:

 Pemerintah Daerah: Pemerintah daerah memiliki kepentingan langsung dalam pengelolaan dan pemanfaatan aset daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti penyediaan infrastruktur publik, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

 Pemerintah Pusat: Pemerintah pusat memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa aset daerah dimanfaatkan secara efisien dan sesuai dengan kebijakan nasional, serta memperhatikan ketahanan nasional dan pembangunan regional secara keseluruhan.

 Lembaga Pemerintah Terkait: Lembaga atau badan pemerintah terkait, seperti kementerian terkait, memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa aset daerah tidak bertentangan dengan regulasi atau kebijakan yang mereka kelola.

2. Institusi Non-Pemerintah:

 Swasta: Perusahaan swasta memiliki kepentingan dalam menggunakan atau mengelola aset daerah untuk keuntungan ekonomi, seperti pengembangan real estate, pembangunan infrastruktur, atau penyediaan layanan publik seperti transportasi atau telekomunikasi.

 Masyarakat Sipil dan LSM: Masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah seringkali memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa pengelolaan aset daerah dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada

kepentingan masyarakat, serta dalam mengadvokasi hak-hak masyarakat terhadap aset tersebut.

(14)

 Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset: Lembaga akademis dan riset

memiliki kepentingan dalam menggunakan aset daerah sebagai sumber data atau lokasi penelitian, serta dalam memberikan saran atau rekomendasi kebijakan terkait pengelolaan aset.

3. Komunitas Lokal:

 Warga dan Kelompok Masyarakat: Komunitas lokal memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa pengelolaan aset daerah memenuhi kebutuhan dan kepentingan mereka, serta dalam memastikan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan terkait dengan aset tersebut.

 Kelompok Pemuda, Wanita, dan Rentan: Kelompok-kelompok khusus dalam masyarakat, seperti pemuda, wanita, atau kelompok rentan lainnya, memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa aset daerah digunakan secara inklusif dan memperhatikan kebutuhan dan hak-hak mereka.

4. Pihak Terkait Lainnya:

 Pihak Pembiayaan: Pihak yang memberikan pembiayaan, seperti bank atau lembaga keuangan, memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa aset yang dijadikan jaminan atau investasi memiliki nilai yang stabil dan dapat diandalkan.

 Pihak Pengelola Lingkungan: Organisasi atau lembaga yang peduli terhadap lingkungan memiliki kepentingan dalam memastikan bahwa pengelolaan aset daerah tidak merusak lingkungan atau sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

Ketika mempertimbangkan kepentingan dari berbagai institusi terhadap aset daerah, penting untuk memastikan adanya dialog, kerja sama, dan keseimbangan antara berbagai kepentingan tersebut demi mencapai pengelolaan aset yang berkelanjutan dan berdaya guna bagi masyarakat secara luas.

F. Lemahnya Koordinasi Dan Pengawasan Atas Pengelolaan Aset Daerah.

(15)

Lemahnya koordinasi dan pengawasan atas pengelolaan aset daerah dapat menyebabkan berbagai masalah dan tantangan dalam pengelolaan yang efektif.

Berikut adalah penjelasan tentang dampak dari lemahnya koordinasi dan pengawasan tersebut:

1. Penyalahgunaan dan Korupsi:

Ketidakmampuan untuk mengkoordinasikan dan mengawasi secara efektif pengelolaan aset daerah dapat membuka celah bagi praktik penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi pemerintah daerah dan merugikan kepentingan masyarakat.

2. Pemborosan Sumber Daya:

Tanpa koordinasi yang baik, pengelolaan aset daerah dapat menjadi tidak efisien, dengan sumber daya yang terbuang sia-sia karena tumpang tindih dalam pekerjaan atau kegiatan yang tidak terkoordinasi. Hal ini dapat mengakibatkan pemborosan anggaran dan penundaan dalam proyek-proyek pengembangan.

3. Kecacatan dalam Perencanaan:

Koordinasi yang buruk antara unit-unit pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan aset daerah dapat menghambat proses perencanaan yang terintegrasi. Hal ini dapat menyebabkan proyek-proyek yang tidak terkoordinasi dan kurangnya visi jangka panjang dalam pengelolaan aset.

4. Kerugian dalam Pengambilan Keputusan:

Lemahnya koordinasi dapat mengakibatkan ketidakjelasan dalam tanggung jawab dan wewenang antara berbagai pihak terlibat dalam pengelolaan aset daerah. Ini dapat menyulitkan pengambilan keputusan yang efektif dan tepat waktu.

5. Penurunan Kualitas Layanan:

(16)

Ketidakmampuan untuk mengawasi dengan baik pengelolaan aset daerah dapat mengakibatkan penurunan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat. Misalnya, infrastruktur yang tidak terawat dengan baik dapat mengakibatkan kerusakan dan ketidaknyamanan bagi pengguna.

6. Tantangan dalam Penegakan Hukum:

Ketidakjelasan dalam pengawasan dapat membuat sulit untuk menegakkan peraturan dan hukum terkait dengan pengelolaan aset daerah. Hal ini dapat memperburuk masalah seperti pelanggaran hak-hak pemilik aset, pelanggaran lingkungan, atau penyalahgunaan dana publik.

7. Risiko Keselamatan dan Kesehatan:

Pengelolaan aset daerah yang tidak terkoordinasi dengan baik dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan atau masalah kesehatan di masyarakat. Misalnya, jembatan yang tidak terawat dengan baik dapat menjadi bahaya bagi pengguna.

8. Kurangnya Akuntabilitas dan Transparansi:

Tanpa pengawasan yang memadai, sulit untuk memastikan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan aset daerah. Hal ini dapat merugikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah dan meningkatkan potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Untuk mengatasi lemahnya koordinasi dan pengawasan atas pengelolaan aset daerah, penting untuk memperkuat sistem pengawasan dan koordinasi antarunit pemerintah terkait, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset. Selain itu, perlu dilakukan penguatan regulasi dan penegakan hukum untuk mencegah praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dalam pengelolaan aset daerah.

Beberapa pemerintah daerah menghadapi kesulitan dalam menilai aset yang dimilikinya, termasuk kesulitan dalam melakukan revaluasi aset lama. Untuk aset lancar, seperti: kas, piutang, persediaan, dan investasi surat berharga relatif lebih

(17)

mudah menghitungnya, namun untuk aktiva tetap berupa tanah, bangunan, mesin, kendaraan, dan peralatan cukup sulit menentukan nilainya. Kesulitan dalam menghitung nilai aset tetap tersebut salah satunya disebabkan sulitnya melacak harga perolehan karena sebelumnya pemda masih menggunakan sistem akuntansi kas dan tata buku tunggal (single entry). Selain itu kondisi objektif aktiva tetap dan pencatatan yang tidak tertib juga menjadi masalah tersendiri. Permasalahan yang terkait dengan pencatatan aset tetap antara lain adanya beberapa aset yang tidak tercatat atau terdata; ada catatannya tetapi tidak ada barangnya; adanya data inventaris aset yang berbedabeda antara yang terdapat di satuan kerja dengan data yang terdapat di biro/bagian perlengkapan, dan di bagian keuanganJBPKD; tidak dilakukan pencatatan mengenai mutasi barang; dan tidak adanya pengamanan yang memadai.

2.2 Contoh Kasus Permasalahan Aset Daerah Contoh Kasus:

KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN FASILITAS PAMERAN KAWASAN NTT FAIR

Oleh: Paul Sinlaeloe – Aktivis PIAR NTT

Pada tanggal 13 Juni 2019, pihak Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) telahmenetapkan dan menahan 6 (enam) orang tersangka, terkait dugaan

(18)

korupsi pada paket Kegiatan Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR.

Para tersangka ini dijerat dengan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 18 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Ditetapkannya keenam orang tersangka ini, setelah tim penyidik TIPIKOR Kejati NTT memeriksa lebih dari 30 (tiga puluh) orang saksi, termasuk Frans Lebu Raya (Mantan Gubernur Prov. NTT selama 2 Periode) dan Sekda Prov. NTT, Ben Polo Maing.

Penyidik TIPIKOR Kejati NTT melakukan penahanan terhadap para tersangka dalam kasus dugaan korupsi Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR, pada tempat yang berbeda-beda. Linda Liudianto (Kuasa Direktur PT. Cipta Eka Puri) dan Yuli Afra (mantan Kadis PRKP/Kuasa Pengguna Anggaran) ditahan di Lapas Wanita Kelas III Kupang. Sementara, tersangka Dona Tho (Pejabat Pembuat Komitmen) ditahan di tahanan Mapolres Kupang Kota. Sedangkan 3 (tiga) orang tersangka lainnya, yaitu Barter Yusuf (Direktur PT. Desakon/Konsultan Pengawas), Ferry Jonson Pandie (Pelaksana Lapangan PT. Desakon) dan Hadmen Puri (Direktur PT.Cipta Eka Puri), ditahan di Rutan Kelas IIB Kupang.

Dalam kerja penegakan hukum atas kasus dugaan korupsi proyek

pembangunan Fasilitas pameran Kawasan NTT FAIR, Tim Penyidik TIPIKOR Kejati NTT juga telah melakukan penyitaan sejumlah barang bukti. Uang sejumlah

Rp.686.140.900 yang disita dari pihak konsultan pengawas proyek, merupakan salah satu dari sekian barang bukti yang disita oleh pihak Tim Penyidik TIPIKOR Kejati NTT.

Gambaran Kasus

Paket Kegiatan Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR, merupakan proyek Dinas Perumahan Rakyat Dan Kawasan Permukiman Provinsi NTT. Dana proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR ini, pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTT TA. 2018 (Anggaran Murni) dan mulai di tenderkan sejak 4 April 2018 dengan

(19)

Kode Lelang, 861131. Ada 69 (enam puluh sembilan) perusahaan yang menjadi peserta tender dari proyek yang nilai pagu paket proyek berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) adalah Rp.31.200.000.000,00 dan Nilai Harga Perkiraan sendiri (HPS) adalah Rp.31.133.416.800,00.

Tender untuk proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR dimenangkan oleh PT. Cipta Eka Puri dengan harga penawaran Rp.29.856.902.000,00 dan harga terkoreksi Rp.29.919.120.500,00. Sesuai dengan kontrak nomor PRKP- NTT/643/487/BID.3CK/V/2018, tertanggal 14 Mei 2018, PT.Cipta Eka Puri dalam kapasitas sebagai kontraktor pelaksana, harus mengerjakan proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR mempergunakan anggaran sesuai dengan nilai kontrak proyek sebesar Rp.29.919.120.500 dan masa pelaksanaan proyek selama 220 hari kalender, terhitung mulai tanggal 14 Mei 2018 hingga 29 Desember 2018. Dalam implementasi, proyek ini belum rampung hingga batas waktu yang ditentukan.

Pada perkembangannya, proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR ini diperpanjang waktu pengerjaannya selama 50 hari, kemudian ditambah lagi 40 hari, namun kontraktor tetap tidak mampu merampungkan pekerjaan.

Perpanjang waktu pengerjaan ini berpijak pada amanat Pasal 93 Perpres Nomor 54 Tahun 2010, tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Perpres Nomor 4 Tahun 2015, pemberian kesempatan menyelesaikan pekerjaan maksimal 50 hari kalender, serta berdasarkan Pasal 4 Permenkeu Nomor 194/PMK.05/2014, tentang Pelaksanaan Anggaran Dalam Rangka Penyelesaian Pekerjaan yang Tidak Terselesaikan Sampai Dengan Akhir Tahun Anggaran

sebagaimana telah diubah dengan Permenkeu Nomor 243/MPK.05/2015, pemberian kesempatan menyelesaikan pekerjaan maksimal 90 hari kalender.

Ironisnya, sampai dengan akhir masa perpanjangan waktu pengerjaan proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR, yakni 31 Maret 2019, progres pengerjaan proyek hanya mencapai 54,8%. Hitungan ini berdasarkan pemeriksaan fisik proyek yang dilakukan oleh tim penyidik TIPIKOR Kejati NTT dengan melibatkan tim ahli, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), konsultan manajemen konstruksi dan project manager. Pemeriksaan lapangan ini dimaksudkan untuk

mencocokkan keterangan saksi dengan kondisi riil fisik proyek, baik kualitas maupun volume. Hasil pemeriksaan lapangan tersebut kemudian dihitung oleh tim ahli.

(20)

Temuan dari tim penyidik TIPIKOR Kejati NTT, sangat kontradiktif dengan laporan dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi NTT dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang dimasukan pada dokumen Laporan

Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur NTT Tahun 2018. Di halaman 192 dokumen LKPJ Gubernur NTT Tahun 2018, pada intinya tertulis bahwa

Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR yang dilaksanakan di Kawasan NTT FAIR Kota Kupang (Dsn. Bimoku, Kel. Lasiana, Kec. Kelapa Lima, Kota Kupang) dan pelaksanaannya dimulai dari 14 Mei 2018 s/d 30 Maret 2019, hasilnya adalah terbangunnya Fasilitas Pameran NTT FAIR (73,023%).

Terbengkalai dan mangkraknya pengerjaan proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR hingga saat ini, merupakan indikasi awal adanya dugaan korupsi. Apalagi pada tanggal tanggal 14 Desember 2018, telah terjadi pencairan anggaran proyek 100% dan dilakukan pembayaran secara penuh oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kepada rekanan. Itu berarti, telah dilakukan kelebihan pembayaran kepada rekanan, walau faktanya progres pekerjaan belum rampung.

Dengan fakta pengerjaan proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR yang demikian, maka tidaklah sukar bagi Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan NTT untuk menemukan adanya berbagai ketidak patuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam pengelolaan keuangan negara. Karenanya tidaklah mengherankan apabila dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi NTT Tahun Anggaran 2018, direkomendasikan untuk pemerintah Provinsi NTT wajib menarik sejumlah uang dari rekanan, untuk disetor ke Kas Daerah Provinsi NTT.

Dana yang wajib ditarik oleh Pemprov NTT dari rekanan yang mengerjakan proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR, dan harus disetor ke Kas Daerah, berdasarkan LHP BPK RI adalah: Pertama: Kelebihan pembayaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan prestasi kerja pada proyek Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR sebesar Rp.1.577.384.264,72; Kedua, Kekurangan penerimaan atas denda keterlambatan minimal terkait dengan pekerjaan Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR sebesar Rp.1.359.960.022,73; dan Ketiga, Kekurangan penerimaan atas jaminan pelaksanaan yang belum dicairkan atas

(21)

pekerjaan Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR sebesar Rp.2.692.720.845,00.

Lawan Kekuatan Politik Koruptif

Walaupun masih ada pihak yang belum ditetapkan sebagai tersangka, namun pihak Kejati NTT wajib diberi apresiasi karena telah menetapkan 6 (enam) orang tersangka, terkait dugaan korupsi pada paket Kegiatan Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana, yakni PT.Cipta Eka Puri berdasarkan kontrak nomor PRKP-

NTT/643/487/BID.3CK/V/2018, tertanggal 14 Mei 2018, dengan nilai kontrak Rp.29.919.120.500 dan masa pelaksanaan proyek 220 hari kalender, terhitung mulai tanggal 14 Mei 2018 hingga 29 Desember 2018.

Pada sisi yang lain, alangkah eloknya jika pihak Kejati NTT harus juga fokus untuk mengembangkan dan terus mengusut 12 (duabelas) proyek lainnya, terkait dengan Pembangunan Fasilitas Pameran Kawasan NTT FAIR yang di kerjakan sejak tahun 2014 hingga tahun 2018. Untuk menunjang pengembangan dan pengusutan 12 (duabelas) proyek lainnya di kawasan NTT FAIR, pihak Kejati NTT dapat meminta pihak BPK RI Perwakilan NTT untuk melakukan audit atau Pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT). Hal ini menjadi penting agar kerja penegakan hukum yang dilakukan oleh pihak Kejati NTT, tidak terkesan ada tebang pilih.

Manfaat lain dari pelibatan pihak BPK RI oleh pihak Kejati NTT adalah

“mungkin” mereka bisa menilai kembali opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau unqualified opinion yang diberikan secara berturut-turut untuk LKPD Pemprov NTT, sejak tahun 2015 hingga tahun 2018. Karena, sudah banyak kasus di Indonesia yang terungkap bahwa untuk mendapatkan opini WTP dari BPK, para pengelola keuangan negara tidak segan-segan melakukan penyuapan terhadap auditor BPK.

BAB III PENUTUP

(22)

3.1 KESIMPULAN

1. Salah satu aspek penting untuk optimalisasi manajemen keuangan daerah adalah adanya sistem manajemen aset daerah yang efisien,efektif,transparan dan akuntabel.

Manajer publik dipemerintah daerah perlu mengetahui prinsip-prinsip manajemen aset daerah agar aset-aset yang ada dapat dikelola secara optimal.

2. Berdasarkan bentuknya,aset daerah dapat dikelompokkan menjadi dua,yaitu aset keuangan dan aset non keuangan.Sementara itu jika dilihat dari penggunaannya,aset daerah dapat dikategorikan menjadi tiga,yaitu:1)aset daerah yang digunakan untuk operasipemerintah daerah,2)aset daerah yang digunakan masyarakat dalam rangka pelayanan publik,dan 3)aset daerah yang tidak digunakan untuk pemerintah maupun publik.Jika dilihat dari mobilitasnya,aset daerah dapat dikategorikan menjadi dua,yaitu aset tidak bergerak dan aset bergerak.

3. Siklus manajemen aset daerah terdiri dari beberapa tahap, yaitu perencanaan, pengadaan, penggunaan atau pemanfaatan, pengamanan, pemeliharaan, dan rehabilitas, serta penghapusan atau pemindahtanganan. Setiap tahap membutuhkan kebijakan, pencatatan, pemantauan, dan pengawasan secara memadai.

4. Prinsip-prinsip manajemen aset antara lain setiap pengadaan aset tetap harus dianggarkan,pada saat pembelian harus dilengkapi dokumen transaksi,pada saat digunakan harus dilakukan pencatatan/administrasi secara baik,pada saat penghentian harus dicatat dan diotorisasi.

3.2 SARAN

Kami sadar bahwa masih banyak kekurangan yang kami milki, baik dari tulisan maupun bahasan yang kami sajikan. Oleh karena itu, mohon diberikan saran agar kami bisa membuat makalah ini lebih baik lagi, dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan menjadi wawasan untuk kita dalam memahami Permasalahan dalam Pengelolaan Aset Daerah.

DAFTAR PUSTAKA

(23)

MODUL_MANAJEMEN_ASET_PENGADAAN.pdf (usu.ac.id)

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/berita/baca/4787/Tantangan-Pengelolaan-Aset-ke-Depan- Akan-Semakin-Kompleks-Menarik-dan-Menantang.html

Referensi

Dokumen terkait

Pada pedoman ini diasumsikan bahwa untuk setiap aset yang pada awalnya kinerja dari aset individual kurang dari 100%, maka diharapkan setelah dilakukan perbaikan

Aset tetap dikategorikan dilihat dari sifat dan fungsinya dalam kegiatan operasional (Agustina and Rani 2020) kategori yakni: 1)Tanah; Mana dikategorikan sebagai aset tetap

“Setiap aset yang dibeli perlu dilakukan pemeliharaan agar asset yang ada tetap terawat dan umur ekonomisnya dapat bertambah, apabila dilakukan dengan baik maka asset

Surat permohonan perbaikan aset adalah form yang digunakan untuk melakukan perbaikan aset tetap di Rumah Sakit Sari Mulia Banjarmasin. Data surat permohonan perbaikan

Persentase barang milik daerah penunjang urusan pemerintahan daerah yang dipelihara. Penyediaan Jasa Pemeliharaan,

Pelaksanaan pengelolaan aset tetap daerah milik Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Kampar dalam melakukan koordinasi pengelolaan aset tetap daerah yang

Untuk mengetahui lebih jelas, indikator mengenai faktor Waktu jangka waktu dalam pengelolaan aset tanah daerah di kantor BPKAD Kabupaten Bima munurut tanggapan informan yaitu sebagai

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bisa diperoleh output bahwa Efektifitas Pengelolaan Aset Daerah pada Badan Keuangan Daerah Tanah Datar sudah berjalan semestinya, sesuai