oleh Laila Marjani NIM 1501030388
PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
MATARAM 2019
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan
mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh Laila Marjani NIM 1501030388
PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
MATARAM 2019
MOTTO
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung1.
1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya QS. Al-Israa’(17):37 (jakarta: CV Darul Sunnah), hal.286
PERSEMBAHAN
Segala puji syukur tiada hentinya kupanjatkan kehadirat Allah Swt. Atas segala limpahan kasih sayang dan nikmat yang tak terkira yang dianugrahkan untukku dan keluargaku. Sholawat serta salam kepada nabi Muhammad Saw.
Sebagai tauladan dan motivator dalam hidupku.
Ingin ku persembahkan skripsi sebagai ungkapan rasa terima kasihku dan kado terindah untuk:
1. Ayah dan Ibu ku yang terima kasih ku ucapkan atas keikhlasan dan kesabaranmu dalam merawat, mendidik dan membesarkanku hingga saat ini. Perjuangan dan doa-doa yang kalian panjatkan di setiap waktu untukku menjadi pembangkit semangatku. Karya ini adalah sebagaian kecil dari ungkapan terima kasihku yang dapat kuberikan pada Ayah dan Ibu. Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayangNya dan memberikan drajat setinggi-tingginya kepada Ayah dan Ibu.
2. Kakakku (Lu’luil Hidayati) dan adikku (Silhana dan Nabilatun Nadawah) terima kasih atas semua semangat dan canda tawa dan senyuman ceria yang begitu berarti dalam hidup ku.
3. Seluruh keluarga besarku, terima kasih atas semangat dan motivasinya untukku 4. Dosen-dosen dan guru-guruku, terima kasih atas kesabaran dan ketekunan dalam
mendidik dan membimbingku
5. Sahabat-sahabat terbaikku (Aura Glory), terima kasih atas segala bantuan dan dukungannya
6. Sahabat sekaligus adik misan ku ( Nisa dan Heliza), terima kasih atas semangat, dukungan dan motivasinya dan slalu ada untuk ku
7. Teman-teman seperjuanganku (Classic 15) yang sangat ku sayangi sepenuh hati yang telah mengajarkan makna persahabatan dalam hidupku. Setiap moment yang pernah kita lalui bersama tak akan terlupa dalam ingatanku.
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta kekuatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel”.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada kekasih-Nya Muhammad SAW sang pembawa kebenaran, perombak kebodohan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetehuan sehingga penulis bisa mengeluarkan ide dan fikiran untuk menyusun skripsi ini dengan cahaya pendidikan islami.
Keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah mendorong dan membimbing penulis, baik tenaga, ide- ide, maupun pemikiran. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Samsul Irpan, M.Pd sebagai Pembimbing I dan Ibu Kiki Riska Ayu Kurniawati, M.Pd sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan proposal ini lebih matang dan cepat selesai
2. Bapak Dr. Alkusairi M.Pd selaku ketua Program Studi Tadris Matematika.
3. Ibu Dr. Hj. Lubna M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan;
4. Bapak Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai;
5. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Tadris Matematika atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan tanpa mengenal lelah;
6. Bapak Parman, S.Pd selaku kepala sekolah MTs Darul Qur’an Bengkel
7. Serta seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, sekali lagi terimakasih.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan. Saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan-perbaikan ke depan.
Mataram, 05 Juli 2019 Penulis,
Laila Marjani NIM: 150103038
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... 1
HALAMAN JUDUL ... 2
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... 3
NOTASI DINAS PEMBIMBING ... . 4
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... . 5
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... 6
HALAMAN MOTTO ... 7
HALAMAN PERSEMBAHAN ... 8
KATA PENGANTAR ... 9
DAFTAR ISI ... 11
DAFTAR TABEL ... 14
DAFTAR GAMBAR ... 15
ABSTRAK ... 16
BAB I PENDAHULUAN ... 17
A. Latar Belakang Masalah ... 17
B. Rumusan Masalah Dan Batasan Masalah ... 23
1. Rumusan Masalah ... 23
2. Batasan masalah ... 23
C. Tujuan dan Manfaat ... 24
1. Tujuan Penelitian ... 24
2. Manfaat Penelitian ... 24
a. Manfaat Teoritis ... 24
b. Manfaat Praktis ... 24
D. Definisi Operasional ... 25
1. Pengaruh ... 25
2. Kemampuan Pemecahan Masalah ... 25
3. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) ... 26
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 27
A. Kajian Pustaka ... 27
1) Pendekatan Pembelajaran CTL ... 27
a) Pengertian Pendekatan CTL ... . 27
b) Langkah-Langkah Pendekatan CTL ... . 32
c) Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan CTL ... 35
2) Kemampuan Pemecahan Masalah ... . 37
a) Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah ... . 37
b) Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah ... . 40
c) Langkah-Langkah Kemampuan Pemecahan Masalah ... . 43
3) Bangun Ruang Sisi Datar ... . 45
a) Kubus ... . 46
b) Balok... . 48
B. Kajian Teori Terdahulu ... . 51
C. Kerangka Berpikir ... . 53
D. Hipotesis Penelitian ... . 55
BAB III Metode Penelitian... ... 57
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 57
B. Populasi dan Sampel ... 57
C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 59
D. Variabel Penelitian ... 59
E. Desain Penelitian ... 60
F. Instrumen/Alat dan Bahan Peneleitian ... 61
G. Teknik Pengumpulan Data/ Prosedur Penelitian ... 66
H. Teknik Analisis Data ... 68
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 79
A. HASIL PENELITIAN... 79
B. PEMBAHSAN ... 82
BAB V PENUTUP... 86 A. KESIMPULAN ... 86 B. SARAN ... 86 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN – LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Tabel Nama Tabel Halaman
Tabel 2 Langkah-langkah pendekatan CTL 15
Tabel 3 Jumlah Populasi 38
Tabel 4 Rencana jadwal kegiatan penelitian 40
Tabel 5 Desain penelitian 42
Tabel 6 Kriteria penskoran angket 45
DAFTAR GAMBAR
Nomor Gambar Nama Gambar Halaman
Gambar 1 Duagram rata-rata perolehan Skor Indonesia di PISA Tahun 2009-2015
3
Gambar 2 Kubus 27
Gambar 3 Balok 30
Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII MTs Darul
Qur’an Bengkel
Oleh:
Laila Marjani NIM 1501030388
ABSTRAK
Penelitian ini bertujun untuk mengetahui apakah ada pengaruh pendekatan CTL terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel. Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VIII MTs Darul Qur’an. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Cluster Random Sampling terpilih kelas VIII B sebagai sampel dengan jumlah siswa sebanyak 26 siswa. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode tes dan angket untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa dan respon siswa terhadap penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Berdasarkan tujuan dari penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah uji normalitas dengan metode liliefors untuk uji prasyarat dan analisis regresi linear sederhana untuk uji hipotesis. Sehingga berdasarkan analisis data diperoleh persamaan regresi sederhana ̂ = 7,5349+0,7828 dan �ℎ � = 5,51 dan � � = 4,26 dengan taraf signifikan 5%, karena �ℎ � > � � = 4,26 maka keputusan Ha diterima dan H0 ditolak. Berdasarkan keputusan tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pedekatan Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel tahun ajaran 2018/2019.
Kata Kunci : Pendekatan Contextual Teaching and Learning ( CTL), Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam ilmu pengetahuan, sehingga mata pelajaran ini diajarkan dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Pembelajaran matematika terlaksana dengan baik apabila setiap siswa memiliki kemampuan matematis. Dalam National Council of Teachersof Mathematics atau NCTM (2000), dirumuskan lima kemampuan matematis yang harus dikuasai siswa diantaranya kemampuan komunikasi, penalaran, pemecahan masalah, koneksi dan sikap positif terhadap matematika.2
Sesuai dengan apa yang dirumuskan National Council of Teachersof Matehematic atau NCTM sejalan dengan KTSP (Depdiknas, 2006) juga dirumuskan lima kemampuan matematis yang harus dimiliki siswa yaitu pemahaman konsep, penalaran, komunikasi, pemecahan masalah dan representasi matematis.3 Sesuai dengan National Council of Teachersof
2Iin Suhartini, Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Dan Kemandirian Belajar Siswa Di MTs Miftahussalam Medan.Paradigma, Vol.9 No.3, Desember 2016. hlm.63
3Usep Suwanjal, Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Smp, Vol. 5, No. 1, 2016. hlm.62
17
Matehematic atau NCTM dan KTSP (Depdiknas, 2006) salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa adalah kemampuan pemecahan masalah.
Kemampuan pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan penting dalam matematika sekolah, karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin dan rutin4. Siswa dikatakan mampu menyelesaikan masalah matematika jika mereka dapat memahami, memilih strategi yang tepat, kemudian menerapkannya dalam penyelesaian masalah.
Setiap guru matematika dalam melaksanakan pembelajaran matematika hendaknya memberikan pengalaman kepada siswa tentang bagaimana menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah matematika. George Polya mengatakan ada empat tahap pemecahan masalah yaitu, a) Memahami masalah, b) membuat rencana penyelesaian masalah, c) melaksanakan penyelesaian masalah, d) memeriksa kembali jawaban.5
Kemampuan pemecahan masalah merupakan bagian penting dalam matematika, namun kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di
4 Tembokan Runtukahu, Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: KDT ,2014), hlm.191
5Mukhni Armiati, Efektivitas Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas VIII SMPN 9 Padang. Proseding Semirata FMIPA, Universitas Lampung , 2013. hlm.584
Indonesia masih rendah. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika di Indonesia dapat dilihat dari hasil kompetisi matematika tingkat internasional Programme for International Student Assesment (PISA) merupakan program internasional yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk menilai kemampuan sains, membaca dan matematika. PISAbertujuan untuk menilai sejauh mana siswa yang berumur 15 tahun (duduk pada akhir pendidikan wajib belajar) dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat modern.
Indonesia telah berpartisipasi dalam PISA sejak tahun 2000, namun hasil pencapaian prestasi Indonesia masih belum memuaskan. Hasil PISA menunjukkan bahwa performanceof mathematics atau kemampuan matematika siswa di Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD. Diagram rata-rata perolehan skor Indonesia di PISA tahun 2009-2015 disajikan pada Gambar 1.
Sumber:ACDP(2016) Gambar 1.Diagram Rata-Rata Perolehan Skor Indonesia di PISA
Tahun 2009-2015
Dari data gambar 1, dapat dilihat bahwa sejak tahun 2009 hingga PISA yang terakhir yaitu tahun 2015, peroleh skor Indonesia memang meningkat.
Namun rata-rata tersebut belum pernah mencapai OECD. Pada tahun 2009 Indonesia berada pada peringkat 61 dari 65 negara dengan nilai rata-rata perolehan skor sebesar 371 dan rata-rata skor OECD adalah 496. Pada tahun 2012, Indonesia kembali turun peringkat pada 64 dari 65 negara dengan perolehan rata-rata skor 375 dan rata-rata OECD adalah 494. Pada tahun 2015, Indonesia menduduki 64 dari 72 negara peserta yang berpartisipasi dalam PISA dengan rata-rata perolehan skor matematika Indonesia 386, padahal rata-rata skor OECD untuk literasi matematika adalah 490. Rendahnya performance of mathematics di Indonesia menunjukkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di Indonesia.6
Selain itu berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan dengan guru matematika kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel menyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih rendah. Hal ini dikarenakan oleh keinginan untuk belajar maematika siswa masih kurang sehingga nilai matematika siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yakni dibawah <69.
6Viani Kurniawati, Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berbasis Guided Inquiry dan Learning Trajectory Berorientasi pada Kemampuan Pemecahan Masalah, Vol 7, No 3 (2018) hlm 1-2
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah dipengaruhi oleh metode mengajar yang digunakan oleh guru belum bervariasi. Guru masih menggunakan metode ceramah dalam mengajar matematika sehingga siswa merasa bosan dan tidak memiliki keinginan untuk belajar matematika.
Sementara itu dalam proses pengerjaan soal mereka hanya bisa mengerjakan soal yang sama persis dengan contoh yang diberikan guru. Namun siswa akan kesulitan apabila dihadapkan dengan masalah sedikit berbeda dengan contoh yang diberikan, apalagi jika soal yang berkaitan dengan masalah kehidupan nyata, sehingga siswa tidak dapat memahami langkah-langkah apa yang mereka akan gunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.7
Melihat hal tersebut seorang guru harus bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi belajar yang dapat membuka wawasan berfikir siswa, sehingga siswa dapat menyerap konsep matematika secara optimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut guru harus terampil memilih pendekatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas, siswa, dan materi yang digunkan.
Berdasarkan uraian tersebut salah satu pendekatan dalam proses pembalajaran yang dapat digunakan adalah pendekatan Contextual Teaching and Learning(CTL). Pendekatan CTL merupakan suatu alternatif yang tepat dalam pembelajaran matematika di sekolah, pendekatan CTL lebih banyak
7Parman ,Wawancara, Bengkel, 20 Februari 2019.
memberdayakan siswa melalui “mengalami” bukan “menghafal”, dan guru sebagai fasilitator.
Sebagaimana konsep konsep dari pendekatan CTL, yaitu menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, mendorong sisiwa agar dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, dan mendorong sisiwa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.Pendekatan CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yaitu: kontruktivisme (construstivis), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).
Penggunaan pendekatan CTL dalam pembelajaran matematika akan menjadikan proses belajar di kelas lebih produktif dan bermakna. Pendekatan CTL memberi kesempatan kepada siswa untuk meghubungkan apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata.
Belajar dengan mengaitkan materi yang diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan belajar secara langsung dengan mengalami sendiri tentu hasil dari menemukan sendiri akan lebih bermakna dan mampu diterapkan dalam berbagai pemecahan masalah.
Berdasarkan uraian tersebutpeneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and Learning
Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel”.
B. Rumusan Masalah dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel ?.
2. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan dapat dikaji lebih mendalam maka diperoleh pembatasan masalah. Pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu:
a. Penelitian ini terbatas pada masalah pengaruh pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap kemampuan pemecahan masalah.
b. Peneliti membatasi materi bangun ruang sisi datar hanya pada bangun ruang sisi datar kubus dan balok.
c. Subjek pada penelitian ini terbatas yaitu pada siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel.
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh pendekatan CTL terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel.
2. Manfaat
Hasil yang akan diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkesimpungan dalam bidang pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran matematika di sekolah dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran dan informasi bagaimana pengaruh pendekata CTL terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
b. Manfaat Praktis
1. Bagi siswa, agar dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar dan kompetensi siswa dalam proses pemecahan masalah
2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan informasi tentang pengaruh pendekatan CTL terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika.
3. Bagi sekolah, dapat memberikan masukan atau saran dalam upaya mengembangkan suatu proses pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika sehingga meningkatkan sumber daya pendidikanuntuk menghadirkan output yang berkualitas.
4. Bagi peneliti, untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang pengaruh pendekatan CTL terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel.
D. Definisi Operasional
Untuk memperjelas judul tersebut, peneliti memberikan definisi operasional terhadap istilah-istilah yang ada, dengan harapan tidak ada kesalahpahaman dalam pemahaman judul yang peneliti angkat. Adapun istilah- istilah tersebut yaitu:
1. Pengaruh
Pengaruh adalah sebagai suatu daya yang ada atau timbul dari suatu hal yang memiliki akibat atau hasil dan dampak yang ada.
2. Kemampuan Pemecahan Masalah
Kemampuan pemecahan masalah merupakan usaha yang dilakukan oleh siswa untuk melakukan sesuatu agar menemukan suatu jalan keluar dari suatu kesulitan atau persoalan yang menantang yang tidak dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang sudah biasa dilakukan sehingga masalah tersebut tidak menjadi masalah lagi bagi siswa.
3. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan CTL adalah suatu konsep belajar yang membantu guru untuk mengaitkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk dapat menemukan dan menerapkan materi yang dipelajari dengan kehidupan dunia nyata mereka.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Pustaka
1. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
a) Pengertian Pendekatan Contextual teaching and Learning (CTL) Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Berdasarkan kajian terhadap pendapat ini, maka pendekatan merupakan langkah awal pembentukan suatu ide dalam memandang suatu masalah atau objek kajian. 8
CTL adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.9
8Rusman, Belajar Dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2017), hlm.209
9Elaine B. Johnson, Contextual Teaching And Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasikkan Dan Bermakna, (Bandung: Mizan Media Utama, 2007), hlm.14
27
Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.10
Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat didefinisikan bahwa pendekatan CTL adalah suatu konsep belajar yang membantu guru untuk mengaitkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk dapat menemukan dan menerapkan materi yang dipelajari dengan kehidupan dunia nyata mereka.
Pendekatan CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: (1) kontruktivisme (contructivis), (2) bertanya (questioning), (3) menemukan (inquiri), (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan (modelling), (6) refleksi (reflection), dan (7) penilaian sebenarnya (authentic assessment).
1) Kontruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan, tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun
10Yatim Riyanto,Paradigma...,hlm.159
pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.
2) Bertanya
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupkan strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual. Question dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa ataupun dengan narasumber lainnya. Kegiatan bertanya berguna untuk: 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal- hal yang diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, 8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
3) Menemukan
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning),
mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).
4) Masyarakat belajar
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerja dari orang lain. Hasil belajar diperoleh dari bertukar pikir antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual, guru haruslah melaksanakan pembelajaran dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok belajar.
5) Pemodelan
Dalam pembelajaran keterampilan, sebaiknya ada yang bisa dijadikan model bagi siswa. Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemostrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukannya.
6) Refleksi
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengedepankan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru, yang merupakan revisi dari pengetahuan sebelumnya.
7) Penilaian sebenarnya
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa.
dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar.11
Berdasarkan uraian dari tujuh komponen diatas. Pada penelitian ini peneliti hanya menggunakan tiga komponen saja untuk memecahkan kemampuan masalah matematis siswa. Adapun tiga komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1) Kontruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan pembelajaran CTL yang pada dasarnya adalah memanfaatkan realita dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika. Kontruktivisme juga menekankan bahwa belajar tidak hanya menghafal tetapi suatu proses belajar dimana siswa lebih aktif dalam menemukan langkah dan strategi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Guru hnaya membantu dengan memberikan suatu
11Syafruddin Nurdin dan Adriantoni, Kurikulum Dan Pembelajaran, ( Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2016), hlm. 206-209
permasalahan dan membantu siswa untuk mengambil suatu keputusuan dari suatu permasalahan.
2) Bertanya
Unsur lain yang menjadi landasan pembelajaran CTL adalah bertanya, karena pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dimulai dari sebuah pertanyaan. Kegiatan bertanya ini berguna untuk membantu siswa untuk memecahkan suatu masalah yang mengganjal dalam diri siswa. kegiatan bertanya dalam pembelajaran adalah untuk untuk menggali informasi, mengecek pemaham siswa, mengetahui rasa ingin tahu siswa, dan mengetahui hal yang sudah dan belum diketahui siswa
3) Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL karena, pengetahuan yang diperoleh oleh siswa bukan hasil dari mengingat atau menghafal akan tetapi, hasil yang dicapai oleh siswa di dapatkan dari menemukan sendiri pengetahuan yang mereka cari melalui observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan.
b) Langkah-Langkah Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
Sebelum melaksanakan pembelajaran, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat skenario pembelajaran sebagai pedoman
umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya.
Adapun langkah-langkah pendekatan CTL sebagai berikut.
Tabel 2.1 Langkah-langkah pendekatan CTL Fase Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Grouping
Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang heterogen
Guru membagi siswa menjadi beberapa
kelompok
Siswa membentuk kelompok berdasarkan instruksi guru
Modeling
Pemusatan perhatian, motivasi, dan penyampaian tujuan pembelajaran
Guru mengajak siswa memusatan perhatian,
memberi
motivasi, dan menyampaikan tujuan
pembelajaran
Siswa merespon dengan semangat dari penyampaian guru
Questioning
Meliputi ekspolasi, membimbing,
menuntun, memberi petunjuk,
mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri dan generaisasi
Guru memberikan beberapa
pertanyaan
Siswa aktif menjawab pertanyaan guru
Learning Community Aktivitas belajar yang dilakukan melibatkan suatu kelompok sosial tertentu (learning community).
Komunitas belajar ini memegang peranan yang sangat penting dalam proses interaksi dimana seluruh siswa berpartisipasi aktif dalam belajar
Guru memberikan beberapa soal pada setiap kelompok
Siswa berdiskusi dalam kelompoknya guna bertukar fikiran untuk mengumpulkan, melengkapi dan menyimpulkan suatu permasalahan
kelompok,
mengerjakan soal, dan sharing pengetahuan serta pendapat
Inquiry
Meliputi kegiatan identifikasi,
investigasi, hipotesis, konjektur,
generalisasi, dan penemuan
Guru
membimbing dalam
merumuskan penemuan
Siswa menyimpulkan hasil dari penemuan
Contructivism
Siswa membangun pemahaman sendiri, mengkontruksi konsep aturan, serta melakukan analisi dan sintesis
Guru merangsang semua siswa untuk
mengembangkan penemuannya
Setiap siswa merespon
aktif untuk
menyampaikan penemuannya
Authentic Assessment Pembelajaran selama proses pemebelajaran
dan sesudah
pembelajaran,
penilaian setiap aktivitas siswa, dan penilaian portofolio
Guru menilai dan memberi apresiasi untuk setiap individu dan kelompok
Siswa termotivasi dalam belajar
Reflection
Refleksi atas proses pembelajaran yang dilakukan
Guru memberi penguatan materi
Siswa merespon aktif
Pada penelitian ini tidak semua langkah yang digunakan dalam pembelajaran CTL. Akan tetapi penelitian ini memfokuskan pada tiga langkah pembelajaran kontekstual yaitu:
Tabel 2.2 Langkah-langkah pendekatan CTL Fase Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Kontruktivisme
Siswa membangun pemahaman sendiri, secara aktif, kreatif berdasarkan pengalaman yang diperoleh
Guru membantu
siswa untuk
mengembangkan penemuannya
Setiapa siswa merespon aktif untuk
menyampaikan penemuan dan pengetahuan yang dimilikinya
Bertanya
Menggali informasi tentang kemampuan siswa, membangkitkan motivasi, merangsang keingin tahuan siswa, membimbing siswa untuk
menemukan dan
menyimpulkan sesuatu
Guru memberikan beberapa pertanyaan
Siswa aktif dalam menjawab
pertanyaan guru
Menemukan Meliputi kegiatan membangun pengetahuan yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis dan membangun teori atau konsep
Guru membimbing dalam merumuskan penemuan
Siswa
menyampaikan hasil dari proses penemuan
c) Kelebihan dan Kekurangan pendekatan contextual teaching and learning (CTL)
a) Kelebihan
Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
b) Kekurangan
Dalam pembelajaran kontekstual ini siswa diharapkan mengkontruksi pengetahuannya sendiri, maka dibutuhkan waktu pembelajaran yang cukup lama, karena akan sedikit sulit bagi siswa menemukan suatu konsep dengan pengetahuannya sendiri.
Kelemahan yang kedua yaitu guru lebih intensif dalam membimbing, karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim
yang bekerja sama untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru bagi siswa.12
Berdasarkan uraian tersebut maka kelebihan pendekatan CTL adalah suatu pendekatan yang membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri bukan hanya sekedar menghafal, menumbuhkan rasa percaya dari siswa dan berani untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari.
2. Kemampuan Pemecahan Masalah
a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah
Kemampuan matematika yang harus dimiliki siswa yaitu kemampuan pemahaman, penalaran, komunikasi, pemecahan masalah dan koneksi antara pokok bahasan, sehingga siswa dapat menggunakan matematika secara maksimal. Salah satu kemampuan dasar dalam matematika yang penting untuk dimiliki siswa adalah kemampuan pemecahan masalah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa (sanggup, bisa, dapat) melakukan sesuatu. Dengan imbuhan ke-an kata mampu menjadi kemampuan yang
12Syafruddin Nurdin dan Adriantoni, Kurikulum...,hlm. 209-210
berarti kesanggupan, kecakapan, kekuatan melakukan sesuatu.13 Menurut Chaplin “ability (kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan) merupakan tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan”, “kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek”. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kecakapan atau potensi menguasai suatu keahlian yang merupakan bawaan sejak lahir atau merupakan hasil latihan atau praktik yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan melalui tindakan.14
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah.
Pada pembelajaran matematika siswa sering berhadapan dengan masalah, sehingga diharapkan dengan pembelajaran matematika siswa mampu menyelesaikan masalah-masalah yang ada
13 Dapertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia...hlm. 707
14Seminar Pendidikan Matematika, (Surakarta, 15 Mei 2013), hlm.49 (SUMBER)
untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan kemampuan pemecahan masalah.
Kemampuan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Menurut Suharsono (dalam Made Wena, 2009), para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemapuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkannya. Persoalan tentang bagaimana mengajarkan pemecahan masalah tidak akan pernah terselesaikan tanpa memperhatikan jenis masalah yang ingin dipecahkan, serta dan bentuk program yang disiapkan untuk mengajarkannya, serta variabel-variabel pembawaan siswa.15
Dalam pengajaran matematika, pemecahan masalah berarti serangkaian operasi mental yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Menurut Greeno (dalam Tembokan Runtukahu, 2014) pemecahan masalah matematika menyangkut, baik pemecahan masalah matematika di sekolah maupun di luar sekolah.16
Menurut Polya (1973) ( dalam Wahyudi dan Indri, 2017) pemecahan masalah merupakan suatu usaha untuk menemukan jalan keluar dari suatu kesulitan dan mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai
15Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontenporer,(Jakarta: Bumi Aksara, 2009) hlm.53
16Tembokan Runtukahu,Pembelajaran....., hlm.192
dengan segera. Atau dengan kata lain pemecahan masalah merupakan proses bagaimana mengatasi suatu persoalan atau pertanyaan yang bersifat menantang yang tidak dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang sudah biasa dilakukan/sudah diketahui. Menurut Hudoyono (1988) (dalam Wahyudi dan Indri, 2017) pemecahan masalah pada dasarnya adalah proses yang ditempuh oleh seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sampai masalah itu tidak lagi menjadi masalah baginya.17
Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat didefinisikan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan usaha yang dilakukan oleh siswa untuk melakukan sesuatu agar menemukan suatu jalan keluar dari suatu kesulitan atau persoalan yang menantang yang tidak dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang sudah biasa dilakukan sehingga masalah tersebut tidak menjadi masalah lagi bagi siswa.
Kemampuan pemecahan masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah non rutin matematika.
17Wahyudi dan Indri Anugraheni, Strategi Pemecahan Masalah Matematika, (Salatiga: Satya Wacana University Press, 2017), hlm.15
Pemecahan masalah non-rutin atau pemecahan masalah nyata.
Dewasa ini lebih dikenal dengan real mathematics. Soal dimulai dari situasi dunia nyata dan penyelesaiannya ialah dengan penerjemahan masalah kedalam model matematika dan selanjutnya masalah dikembangkan pada masalah dunia nyata.18
b. Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah
Seseorang memerlukan pengetahuan-pengetahuan dan kemampuan untuk dapat memecahkan masalah. Pengetahuan– pengetahuan dan kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang tersebut harus dapat digabung dan dipergunakan secara kreatif dalam memecahkan masalah yang bersangkutan.
Untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis diperlukan beberapa indikator. Adapun indikator kemampuan pemecahan masalah matematika menurut NCTM (dalam Jainuri, 1988) adalah sebagai berikut
a) Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan.
b) Merumuskan masalah matematika atau menyusun model.
c) Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan masalah baru) dalam atau di luar matematika.
18Tembokan Runtukahu,Pembelajaran....., hlm.193
d) Menjelaskan atau menginterprestasikan hasil sesuai permasalahan asal
e) Menggunakan matematika secara bermakna.
Menurut Sumarmo (dalam Kusnandi, 2010) menyatakan indikator kemampuan pemecahan masalah adalah sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi kecukupan data untuk pemecahan masalah
2) Membuat model matematika dari suatu situasi atau masalah sehari- hari dan menyelesaikannya.
3) Memilih dan menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika atau diluar matematika
4) Menjelaskan dan menginterprestasi hasil sesuai permasalahan asal serta memeriksa kebenaran hasil atau jawaban.
5) Menerapkan materi matematika secara bermakna19
Berdasarkan pada dua pendapat tersebut, indikator yang akan difokuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan unsur.
b. Merumuskan masalah atau menyusun model matematika.
19https://www.academia.edu/6942530/Kemampuan_Pemecahan_Masalahdiakses pada tanggal 30 Maret 2019 pukul 06.25 WITA
c. Memilih dan menerapkan startegi untuk menyelesaikan permasalahan matematika
d. Menginterprestasikan hasil serta memeriksa kebenaran hasil jawaban.
Berdasarkan uraian tersebut dengan adanya 4 indikator diatas peneliti berharap dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah yang dimilikinya.
c. Langkah-Langkah Kemampuan Pemecahan Masalah
Menurut pendapat Polya (dalam Irzani dan Alkusaeri, 2013) ada empat langkah dalam melakukan penyelesaian masalah, diantara sebagai berikut.
1) Memahami masalah (understand the problem)
Memahami masalah merupakan langkah awal dalam menyelesaikan masalah, hal ini sangat penting, dikarenakan tanpa mengetahui apa yang terjadi tentunya kita tidak akan mungkin mengetahui bagaimana harus menghadapinya. Memahami masalah dalam menyelesaikan masalah dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan masalah tersebut, diantaranya apa yang diketahui dari soal, apakah yang ditanyakan soal, apa saja informasi yang dilakukan, dan bagaimana menyelesaikan soal
tersebut, serta kemungkinan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengarah pada pemahaman tentang masalah yang ada.20
Memahami masalah menurut peneliti dalam penelitian merupakan langkah yang paling awal yang dilakukan siswa untuk menyelesaikan masalah, karena tanpa mengetahui suatu masalalah maka siswa tidak tau harus menggunakan langkah dan strategi apa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Memahami masalah dapat diajukan dengan berbagai pertayaan terkait dengan masalah tersebut, diantaranya: (a) apa yang diketahui dan ditanyakan, (b) data apa saja yang diketahui dan (c) bagaimana cara menyelesaikan soal tersebut dan strategia atau rumus apa yang harus digunakan.
2) Membuat rencana penyelesaian masalah (devise a plan)
Menyelesaikan sebuah permasalahan yang sudah dipahami tidak akan berjalan dengan baik, jika proses penyelesaiannya tidak direncanakan dengan baik pula. Dalam membuat rencana penyelesaian masalah, kegiatan kita diarahkan kepada pemilihan strategi-strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Akan tetapi dalam menyelesaikan strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah, hal yang perlu diperhatikan adalah apakah strategi tersebut berkaitan dengan permasalahan yang akan dipecahkan.21
Membuat rencana penyelesaian masalah menurut peneliti dalam penelitian ini merupakan suatu kegiatan yang diarahkan kepada strategi-strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
20Irzani dan Alkusaeri, Pengembangan Program Pembelajaran Matematika,(Mataram:
Yazidopress, 2013), hlm. 32
21Ibid, hlm. 32
Hal yang harus diperhatikan dalam membuat rencana penyelesain masalah ini adalah apakah strategi atau rumus yang digunakan dapat memecahkan masalah yang ada pada pertanyaan.
3) Melaksanakan rencana yang telah ditetapkan (carry out the plan) Jika siswa telah memahami permasalahan dan menetukan strategi yang tepat dalam menyelesaikan masalah, langkah berikutnya adalah melaksanakan penyelesaian soal dengan rencana yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, kemampuan siswa melakukan perhitungan matematika akan sangat membantu siswa untuk melakukan rencana penyelesaian masalah.
Melaksakan rencana yang telah ditetapkan menurut peneliti dalam penelitian ini adalah siswa harus memeriksa setiap langkah apakah sudah benaratau tidak, jika siswa sudah memahami dan menentukan strategi permasalahn yang tepat, maka siswa melaksakan penyelesaian soal dengan rencana yang telah ditetapkan tersebut.
4) Memeriksa ulang jawaban yang diperoleh (look back at the completed solution)
Memeriksa ulang jawaban yang diperoleh sangatlah penting, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah jawaban yang kita peroleh sudah sesuai dengan ketentuan yang sudah ada. Langkah ini juga akan menentukan apakah hasil penyelsaian yang kita dapatkan dapat diterima sebagai penyelesaian masalah, atau dilakukan penyelesaian kembali karena terdapat beberapa hal yang keliru sehingga jawabannya tidak dapat dipertanggung jawabkan.22
Memeriksa ulang jawaban yang diperoleh menurut peneliti dalam penelitaian ini adalah suatu langkah yang sangat penting hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah penyelesaian yang
22Ibid, hlm. 34
sudah dilakukan oleh siswa sudah benar dan dapat diterima, atau dilakukan penyelesaian kembali karena terdapat beberapa hal yang keliru.
Berdasarkan uraian tersebut langkah pemecahan masalah polya merupakan langkah yang digunakan untuk memecahkan masalah matematika dalam penelitian ini.
3. Bangun Ruang Sisi Datar a) Bangun Ruang sisi datar
Kelompok bangun ruang sisi datar adalah bangun ruang yang sisinya berbentuk datar (tidak lengkung). Ada banyak sekali bangun ruang sisi datar mulai yang paling sederhana seperti kubus, balok, limas sampai yang sangat kompleks seperti limas segi banyak atau bangun yang menyerupai kristal. Namun pada penelitian kali ini peneliti akan membahas bangun ruang kubus dan balok.
1. Kubus
Gambar 2.1 a) Pengertian Kubus
Bangun ruang kubus ketika bangun tersebut dibatasi oleh 6 buah sisi yang berbentuk persegi (bujur sangkar). Bangun ruang ini mempunyai 6 buah sisi, 12 buah rusuk, dan 8 buah titik sudut.
Beberapa orang sering menyebut bangun ini sebagai bidang enam beraturan dan juga prisma segiempat dengan tinggi sama dengan sisi alas.
b) Sifat-sifat kubus
Bangun ruang kubus memiliki sifat-sifat sebagai berikut : 1. Mempunyai 6 buah sisi yang sama dan kongruen.
2. Mempunyai 12 buah rusuk yang sama panjang 3. Mempunyai 8 buah titik sudut
4. Pasang sisi kubus yang berhadapan saling sejajar dan pasangan sisi kubusyang berpotongan saling tegak.
5. Mempunyai 4 buah diagonal ruang 6. Mempunyai 12 buah diagonal bidang c) Luas, Volume, dan Diagonal Kubus
Jika diketahui s = panjang sisi kubus, maka:
1. Luas permukaan kubus = 6 × luas persegi L = 6
2. Volume = sisi × sisi× sisi V =
3. Jumlah panjang rusuk = 12 × sisi 4. Panjang diagonal sisi = √ 5. Panjang diagonal ruang = √
Contoh:
Ani akan memeberi kado ulang tahun untuk Winda. Kotak kado yang digunakan untuk membungkus kado tersebut berbentuk kubus dengan luas permukaan 2904 cm3. Hitunglah volume kotak kado tersebut!
Penyelesaian.
Diketahui luas permukaan kubus = 2904 cm3 Ditanyakan = volume kubus
Jawab:
Luas permukaan kubus = 2904 =
= = 484
s = √ s = 22 Volume kubus =
=
= 10.648 cm3
Jadi, volume kotak kado yang berbentuk kubus tersebut adalah 10.648 cm3.
2. Balok
Gambar 2.2
a) Pengertian Balok
Balok adalah bangun ruang yang memiliki tiga pasang sisi segi empat (total 6 buah) dimana sisi-sisi yang berhadapan memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Berbeda dengan kubus yang semua sisinya berbentuk persegi yang sama besar, balok sisi yang sama besar hanya sisi yang berhadapan dan tidak semuanya berbentuk persegi, kebanyakan bentuknya persegi panjang.
b) Sifat-sifat balok
1. Mempunyai 6 bidang sisi berbentuk persegi panjang yang terdiri dari 3 pasang persegi panjang yang kongruen.
2. Mempunyai 3 kelompok rusuk yang terdiri atas 4 rusuk yang sama dan sejajar.
3. Mempunyai 8 buah titik sudut.
4. Mempunyai 12 buah diagonal sisi.
5. Mempunyai 4 buah diagonal ruang c) Luas volume dan diagonal balok
Jika p = panjang balok, = lebar balok, dan t = tinggi balok, maka 1. Luas permukaan balok
L = 2 {(� × + � × + × } 2. Volume balok
� = � × × 3. Jumlah panjang seluruh rusuk = 4 � + + 4. Panjang diagonal bidang
a) Untuk mencari panjang diagonal bidang, digunakan teorema Pythagoras
b) Panjang diagonal bidang pada balok tidak selalu sama (berbeda dengan panjang diagonal pada kubus yang panjangnya selalu sama.
5. Panjang diagonal ruang balok = √� + ℓ + Contoh.
Disebuah toko kayu menjual potongan balok kayu berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 30 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 10 cm. Tentukan berapakah luas permukaan balok tersebut!
Jawab
Diketahui : ukuran balok kayu × × Ditanya : luas permukaan balok ?
Penyelesaian.
Volume balok = × � × + � × + ×
= × × + × + × =
Jadi, luas permukaan balok kayu tersebut adalah
B. Kajian Teori Terdahulu
1. Penelitian yang dilakukan oleh Mukhni Armiati dan Hastuti Febrianti (2013) dengan judul “Efektivitas Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas VIII SMPN 9 Padang”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerapan pendekatan kontestual dalam pembelajaran cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, bila dibandingkan dengan pembelajaran langsung. Persamaan penelitian ini adalah subjek penelitiannya yaitu kelas VIII, sedangkan perbedaanya adalah
pada lokasi penelitian serta materi yang digunakan pada penelitian dan penelitian ini meneliti tentang efektivitas.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Faizal Amir (2015) yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Dasar”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hasil pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika diperoleh thitung>ttabel yakni 15,961 >
1,753. Hal ini menunjukkan ada pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SD. Sementara itu hasil rumus eta-squared diperoleh 0,944. Hal ini menunjukkan pembelajaran kontekstual memiliki tingkat pengaruh besar terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa SD.
Persamaan pada penelitian ini terletak pada variabel terikat dan variabel bebasnya, sama-sama menggunakan pendekatan CTL dan variabel terikatnya kemampuan pemecahan masalah. Perbedaan penelitain ini adalah subjek penelitiannya yaitu pada siswa SD.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Nita Yulinda, Riana Irawati dan Diah Gusrayani (2016) yang berjudul “Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching
And Learning (CTL) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Dan Kepercayaan Diri Siswa Pada Materi Volume Kubus Dan Balok”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hasil penelitian dengan taraf signifikansi
= 0,05. Pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik secara signifikansi daripada pembelajaran pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Pemebelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik secara signifikan daripada pembelajar konvensional dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Persamaan pada penelitian ini adalah terletak pada variabel bebas nya yaitu sama-sama menggunakan pendekatan CTL, dan penelitian ini sama-sama menggunakan bangun ruang sisi datar kubus dan balok, sedangkan perbedaanya adalah variabel penelitiannya yang menggunakan dua variabel terikat yaitu kemampuan pemecahan masalah dan kepercayaan diri, sedangkan pada penelitian ini menggunakan satu variabel terikat yakni kemampuan pemecahan masalah.
C. Kerangka Berpikir
Dalam pembelajaran matematika memiliki beberapa tujuan yang harus dicapai, diantaranya adalah mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu bentuk kemampuan berfikir matematika tingkat tinggi karena dalam kegiatan pemecahan masalah terangkum kemampuan matematika lainnya seperti penerapan masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, pemahaman konsep, dan komunikasi matematika.
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Kemampuan dalam pemecahan masalah termasuk suatu keterampilan, karena melibatkan segala aspek pengetahuan (ingatan, pemahaman, penalaran, analisis, sintesis, dan evaluasi) dan sikap mau menerima tantangan. Dengan demikian pemecahan masalah sangatlah penting bukan saja bagi mereka dikemudian hari yang akan mendalami matematika, melainkan juga mereka yang akan menerapkannya baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat hal tersebut, dapat dipahami bahwa seseorang guru bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi belajar yang dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari siswa, sehingga siswa dapat menyerap konsep matematika secara optimal. Untuk mengatasai permasalah tersebut diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat dan menarik, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah guru harus terampil memilih pendekatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas, siswa, dan materi yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah pendekatan contextual teaching and learning.
Pendekatan CTL merupakan suatu alternatif yang tepat dalam pembelajaran matematika di sekolah, karena pendekatan CTL lebih banyak
memberdayakan siswa melalui “mengalami” bukan “menghafal”, dan guru sebagai fasilitator.
Sebagaimana konsep dari CTL, yaitu menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, mendorong siswa agar dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, dan mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan.
Pendekatan CTL ini memiliki banyak komponen pembelajaran yaitu diantaranya adalah kontruktivisme, inquiri, dan questioning (bertanya).
Pembelajaran matematika dengan kontruktivisme merupakan landasan pembelajaran kontekstual yang pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang telah dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika dengan baik. Pendekatan CTL ini mengajak siswa untuk belajar mandiri dan kelompok serta lebih aktif dalam menentukan langkah dan strategi dalam menyelesaikan masalah kontekstual. Strategi ini dikembangkan sendiri oleh siswa berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Guru hanya membantu dengan memberikan masalah dan membimbing siswa untuk mengambil keputusan. Melalui masalah konteks yang diberikan guru maka akan terjadi proses berfikir yang aktif yang akan diperlihatkan atau dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pemikiran mereka. Disinilah munculquestioning(bertanya) mengenai hal yang mengganjal dalam pikirannya pada guru maupun pada temannya.
Sehingga melalui pemecahan masalah konteks kehidupan sehari-hari siswa
diberi kekuatan untuk mengkontruksi atau membentuk sendiri pengetahuan metematika mereka. Dengan demikian, pendekatan CTL diharapkan dapat memberikan peluang bagi setiap siswa agar dapat meningkatkan kemampuan pemecahan matematis yang dimilikinya.
D. Hipotesis penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah-masalah yang diteliti.23 Hipotesis mengemukakan pertanyaan tentang harapan peneliti mengenali hubungan antara variabel-variabel di dalam suatu persoalan. Hipotesis tersebut kemudian diuji di dalam penelitian.24 Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu, “Ada pengaruh pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel tahun ajaran 2018/2019”.
23Etta Mamang Sangadji dan Sopiah, Metodologi Penelitian-Pendekatan Praktis dalam Penelitian,( Yogyakarta: Andi Offset, 2010), hlm.40
24Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm.114
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu. Eksperimen semu adalah penelitian yang mendekati percobaan sungguhan di mana tidak mungkin mengadakan kontrol/manipulasikan semua variabel yang relevan. Harus ada kompromi dalam menentukan validitas internal dan eksternal sesuai dengan batasan- batasan yang ada.25Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk meneliti pada
25 Moh Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm 73
populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.26
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek peneltian yang yang berupa kumpulan individu-individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang ditetapkan dengan objek yang lengkap dan jelas.27Jadi populasi merupakan obyek/subyek penelitian yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1 Jumlah populasi
No Kelas Jumlah Siswa
1 VIII-A 22
2 VIII-B 26
3 VIII-C 21
Jumlah 69
2. Sampel
26 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 15
27 Alfira Muliani Astuti, Statistika Penelitian, (Mataram: Insyan Madani Publishing Mataram, 2016), hlm.5
57
Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi.28Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik clusterrandom sampling adalah teknik sampling daerah yang digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga.
C. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019, yaitu pada bulan Mei sampai bulan Juni.
2. Tempat penelitian
Tempat penelitian adalah lokasi berlangsungnya kegiatan penelitian.29 Penelitian ini dilaksanakan di MTs Darul Qur’an Bengkel. Penelitian akan dilaksanakan mengikuti jam pelajaran matematika di kelas yang telah dipilih untuk melaksanakan penelitian.
D. Variabel Penelitian
28Arif Furchan, PENGANTAR..., hlm. 193
29Ibid, hlm. 32.
Variabel merupakan pusat perhatian di dalam penelitian kuantitatif.
Secara singkat, variabel dapat didefinisikan sebagai konsep yang memiliki variasi atau memiliki lebih dari satu nilai.30
1. Variabel bebas
Variabel independen (independent variabel) disebut juga variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi variabel lain atau menghasilkan akibat pada variabel yang lain, yang pada umumnya berada dalam urutan waktu yang terjadi lebih dulu. Keberadaan variabel ini dalam penelitian kuantitatif merupakan variabel yang menjelaskan terjadinya fokus atau topik penelitian. Variabel ini biasanya disimbolkan dengan variabel “x”.31 Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pendekatan CTL.
2. Variabel Terikat
Variabel dependen (dependent variabel) disebut juga variabel terikat merupakan variabel yang diakibatkan atau dipengaruhi oleh variabel bebas.
Keberadaan variabel ini dalam penelitian kuantitatif adalah sebagai variabel yang dijelaskan dalam fokus atau topik penelitian. Variabel ini biasanya disimbolkan dengan variabel “y”.32 Variabel terikat pada penelitian ini adalah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel tahun ajaran 2018/2019.
30Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif , (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), h.49
31Ibid,hlm.51
32Ibid, hlm. 51
E. Desain Penelitian
Desain dari penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian yang sedang diteliti sesuai dengan judul yaitu: “Pengaruh pendekatan CTL terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII MTs Darul Qur’an Bengkel. Desain penelitian yang sesuai dengan judul penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
X Y
Keterangan :
X : Nilai angket pendekatan CTL : Pengaruh
Y : Kemampuan pemecahan masalah matematis F. Instrumen/ Alat dan Bahan Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.33 Instrumen penelitian merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan sebuah penelitian dalam usaha mendapatkan data, instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah
33Nanang Martono, Metode Penelitian...hlm.70
dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis dan lebih mudah diolah. Oleh karena itu instrument harus dibuat sebaik-baiknya.
Adapun instrumen yang digunakan oleh peneliti ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah proses pencatatan pola prilaku subyek (orang), objek (benda), atau kegiatan yang sistematis tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti. Jadi, observasi dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.
Kemudian observasi dapat disebut pula pengamatan langsung.34
Penelti mengadakan observasi untuk memperoleh informasi tentang sarana dan prasarana belajar mengajar disekolah, letak geografis sekolah dan juga kondisi sekolah.
2. Angket atau Kuesioner
Angket/kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.35
Kuesioner dibedakan menjadi beberapa jenis, yang dibedakan berdasarkan sudut pandangnya yaitu dipandang dari cirri menjawabnya, dipandang dari
34Etta Mamang Sangadji dan Sopiah, Metodologi...hlm.152
35Suharsimi Ariunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.(Rineka Cipta:Jakarta, 2010).hlm.194
jawaban yang diberikan dan dipandang berdasarkan bentuknya. Berikut penjabaran dari masing-masing jenis tersebut :
a) Dipandang dari cara menjawab, maka ada:
1) Kuesioner terbuka, yang member kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.
2) Kuesioner tertutup, yang sudah disediakan sehingga responden tinggal memilih
b) Dipandang dari jawaban yang diberikan ada:
1) Kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya.
2) Kuesioner tidak langsung, yaitu jika responden menjawab tentang orang lain.
c) Dipandang dari bentuknya maka ada:
1) Kuesioner pilihan ganda, yang dimaksud adalah sama dengan kuesioner tertutup
2) Kuesioner isian yang dimaksud adalah kuesioner terbuka
3) Chek list, sebuah daftar, dimana responden tinggal membubuhkan tanda chek (√ ) pada kolom yang sesuai
4) Rating-scale, (skala bertingkat), yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan, misalnya mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju.