• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Pendidikan Tinggi "Gratis" dan Penganggaran Operasional di Universitas Negeri di Afrika Selatan

N/A
N/A
ANGGRIANI SUPRIANA SIANTURI anggrianisupriana.2024

Academic year: 2025

Membagikan " Persepsi Pendidikan Tinggi "Gratis" dan Penganggaran Operasional di Universitas Negeri di Afrika Selatan"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS INDIVIDU

Perceptions on “free” tertiary education and operational budgeting within a public university in South Africa

(Remilekun Tewe, Bouba Ismaila, John Beneke, dan Lindeu Siewe, 2024:1-9)

Laporan Hasil Riview Jurnal Disusun untuk memenuhi tugas

Matakuliah Perencanaan dan Penganggaran Pendidikan Semester Satu, Tahun Akademik 2024/2025

Oleh :

Anggriani Supriana Sianturi (24011640010)

PROGRAM PASCASARJANA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2024/2025

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas review artikel berjudul Perceptions on “free” tertiary education and operational budgeting within a public university in South Africa" ini dengan baik. Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan mata kuliah perencanaan dan penganggaran pada program studi manajemen pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam review ini, saya berusaha untuk menganalisis dan memberikan pandangan kritis terhadap artikel yang membahas tentang pendidikan tinggi gratis di Afrika Selatan.

Saya menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang.Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Dr. Udik Wibowo, M.Pd yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses penyusunan tugas ini. Semoga tugas ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menjadi kontribusi positif dalam bidang pendidikan.

Yogyakarta, Desember 2024

Anggriani Supriana Sianturi

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I. RINGKASAN ISI JURNAL ... 1

1.1. Abstrak ... 1

1.2. Pendahuluan ... 1

1.3. Metodologi ... 2

1.4. Pembahasan ... 2

1.5. Kesimpulan ... 3

BAB II. PEMBAHASAN ... 4

2.1. Persepsi Tentang Pendidikan Tinggi “Gratis” ... 4

2.2. Dampak Pemotongan Anggaran Operasional ... 5

2.3. Model Pembiayaan dan Alternatif Pendanaan ... 7

2.4. Keberlanjutan Pendidikan Tinggi “Gratis” ... 8

BAB III. PENUTUP ... 9

DAFTAR PUSTAKA ... 10

(4)

1 BAB I

RINGKASAN ISI ARTIKEL 1.1.Abstrak

Protes mahasiswa di Afrika Selatan tahun 2015 mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan pendidikan tinggi "gratis" yang tidak direncanakan, mengalihkan dana dari program lain. Studi ini meneliti pandangan kepala departemen dan direktur universitas di Gauteng, Afrika Selatan, mengenai kebijakan ini melalui wawancara semi-terstruktur via Zoom selama pandemi COVID-19. Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta mendukung konsep pendidikan tinggi "gratis" tetapi meragukan keberlanjutannya. Mereka juga mencatat dampak negatif kebijakan ini, termasuk beban finansial tambahan bagi pembayar pajak. Studi ini menyimpulkan bahwa pendidikan tinggi "gratis" akan tetap menjadi isu penting di Afrika Selatan karena pendanaan yang tidak memadai

1.2.Pendahuluan

Universitas berperan penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan mendidik warga global dan membawa inovasi ke masyarakat. Setelah merdeka, banyak negara Afrika mendirikan universitas nasional untuk mengatasi masalah pembangunan.

Namun, protes mahasiswa di Afrika Selatan menuntut pendidikan tinggi "gratis," menyebabkan ketidakstabilan. Mantan Presiden Jacob Zuma membentuk komisi pada 2016 untuk menyelidiki kelayakan pendidikan tinggi "gratis". Meskipun sudah ada pendidikan dasar

"gratis" sejak 2006, tantangan utama adalah sumber pendanaan dan penerapan kebijakan ini.

Konstitusi Afrika Selatan menjamin hak pendidikan tinggi bagi semua orang. Namun, banyak ahli meragukan keberlanjutan pendidikan tinggi "gratis" karena beban finansial yang besar.

Pertanyaan utamanya adalah bagaimana universitas dapat mengumpulkan dana untuk menyediakan pendidikan berkualitas jika hibah pemerintah terus berkurang. Studi ini meneliti persepsi kepala departemen dan direktur tentang pendidikan tinggi "gratis" terkait dengan penganggaran operasional di sebuah universitas negeri di Gauteng, Afrika Selatan.

Pendidikan tinggi "gratis" membantu menciptakan tenaga kerja yang memajukan ekonomi dan saat ini diterapkan di 24 negara. Afrika Selatan adalah negara keempat di Afrika yang mengadopsi model ini, tetapi menghadapi masalah pendanaan. Pada 2016, Komite Pajak Davis (DTC) dibentuk untuk menyelesaikan masalah ini, dan Laporan Heher 2017 menyatakan bahwa pemerintah tidak dapat menyediakan pendidikan tinggi "gratis" untuk semua siswa.

Pandangan mahasiswa bisnis menganggap pendidikan tinggi "gratis" tidak masuk akal secara

(5)

2

finansial di tengah masalah ekonomi dan korupsi. Kualitas pendidikan tinggi tidak terjamin jika dana publik tidak mencukupi, dan membuatnya "gratis" dapat menurunkan retensi dan pencapaian. Ekonomi Afrika Selatan dibebani oleh pengangguran tinggi dan skema pendidikan yang kurang didanai, dengan anggaran pendidikan tinggi lebih rendah dibandingkan negara lain. Ada beberapa model biaya pendidikan: dibayar di muka, disubsidi penuh oleh negara, dan biaya pendidikan yang ditangguhkan sampai siswa mampu membayarnya setelah lulus.

Pendidikan tinggi "gratis" bertujuan mengatasi ketidakadilan apartheid dan memberikan akses pendidikan tinggi di Afrika Selatan. Skema Bantuan Keuangan Mahasiswa Nasional (NSFAS) adalah model utama, memberikan bantuan keuangan kepada mahasiswa berpenghasilan rendah, terutama mahasiswa kulit hitam. Namun, hanya sebagian kecil mahasiswa yang mendapat manfaat, dan pendanaan publik tetap menjadi tantangan.

Pemerintah dan institusi perlu bekerja sama untuk memperkuat pendanaan, mengatasi krisis ekonomi, dan mencari sumber daya alternatif. Strategi untuk menambah pendapatan mencakup konsultasi, layanan tambahan, dan meningkatkan output penelitian. Anggaran operasional merencanakan pendapatan dan pengeluaran jangka pendek, tetapi universitas harus mencari sumber pendanaan alternatif untuk mendukung pendidikan "gratis" tanpa mengandalkan sepenuhnya pada pemerintah.

1.3. Metodologi

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi persepsi subjektif peserta tentang pendidikan tinggi "gratis" dan anggaran operasional di universitas negeri di Afrika Selatan. Peneliti memilih peserta berdasarkan latar belakang pendidikan dan pengetahuan mereka tentang persiapan anggaran, menggunakan metode purposive sampling dan convenience sampling. Peneliti melakukan wawancara semi-terstruktur secara online, mengumpulkan dan mentranskripsi data menggunakan perangkat lunak Rev.Com. Peneliti menganalisis data menggunakan analisis tematik. Peneliti menjaga keandalan penelitian dengan mendokumentasikan semua proses untuk keperluan audit trail.

1.4. Pembahasan

Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan tinggi "gratis" di Afrika Selatan diterima dengan baik karena memberikan akses bagi kelompok yang kurang beruntung. Namun, kekhawatiran utama peserta terkait dengan pendanaan. Pengurangan subsidi pemerintah telah menambah kesulitan keuangan universitas, memaksa mereka mencari sumber pendapatan alternatif untuk mempertahankan operasional mereka. Sebagian besar peserta setuju bahwa

(6)

3

pendidikan tinggi "gratis" harus ditargetkan pada keluarga berpenghasilan rendah untuk memastikan manfaatnya tepat sasaran.

Meski kebijakan ini diterima secara luas, hanya sebagian kecil peserta yang percaya bahwa kebijakan ini berkelanjutan dalam jangka panjang. Ketidakpastian ekonomi dan pengurangan anggaran pendidikan tinggi menimbulkan tantangan signifikan bagi universitas.

Dampak dari keterbatasan anggaran ini terlihat dalam kualitas pelayanan dan kesejahteraan karyawan universitas. Banyak peserta menyatakan bahwa keterlambatan pembayaran gaji, penundaan bonus, dan keterbatasan sumber daya keuangan dapat mempengaruhi motivasi dan kinerja staf, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan yang diberikan. Untuk menjaga keberlanjutan operasional universitas, pendanaan alternatif seperti upaya penelitian, penulisan artikel dan jurnal, serta donasi dari dalam dan luar negeri semakin diakui sebagai solusi potensial. Strategi ini diharapkan dapat menambah pendapatan universitas dan mengurangi ketergantungan pada hibah pemerintah. Meskipun demikian, tantangan besar tetap ada, dan universitas harus terus mencari cara untuk inovatif dalam mencari dan mengelola sumber daya untuk memastikan pendidikan tinggi berkualitas dapat diakses oleh semua

1.5. Kesimpulan

Pendidikan tinggi mencerminkan tekad dan visi pemuda untuk kehidupan yang lebih baik. Meskipun pendidikan tinggi "gratis" dapat membantu mengeluarkan yang kurang beruntung dari kemiskinan, penerapannya saat ini tidak masuk akal secara fiskal. Manajemen universitas negeri perlu mengatasi tantangan pendanaan dengan membangun sistem keuangan yang kuat dan berkelanjutan serta mengeksplorasi sumber pendapatan alternatif untuk menjamin kelangsungan program akademik dan operasi mereka.

(7)

4 BAB II PEMBAHASAN 2.1. Persepsi Tentang Pendidikan Tinggi “Gratis”

Pandangan tentang pendidikan tinggi “gratis” di Afrika Selatan pada artikel merupakan pandangan yang beragam dari kepala departemen dan direktur Universitas Gauteng. Kebijakan pendidikan gratis merupakan keputusan yang positif dengan tujuan meningkatkan kesempatan untuk akses pendidikan bagi masyarakat yang tidak mampu.

Ketimpangan sosial yang masih menjadi masalah di Afrika Selatan dapat teratasi. Akses pendidikan yang luas harapannya akan meningkatkan sumber daya manusia dan meningkatkan ekonomi nasional. Ekonomi Afrika Selatan yang rapuh akhirnya menimbulkan keraguan untuk keberlangsungan program pendidikan tinggi gratis. Tingkat pengangguran yang tinggi dan tekanan fiskal menimbulkan anggapan bahwa kebijakan ini menambah beban keuangan pada masyarakat yang wajib membayar pajak, sementara itu subsidi pemerintah untuk universitas juga terus berkurang (Tewe et al., 2024).

Secara global pendidikan tinggi “gratis” membantu menciptakan tenaga kerja yang memajukan ekonomi di berbagai negara. Saat ini terdapat 24 negara yang telah menerapkan pendidikan tinggi gratis. Afrika Selatan menjadi negara keempat di Afrika yang menerapkan program ini. Meski demikan, pendanaan pendidikan tingg menjadi tantangan utama dengan biaya yang terus meningkat. Berkurangnya dukungan finansial dari pemerintah memunculkan konsensu bahwa universitas perlu mencari sumber pendapatan alternatif untuk memastikan keberlanjutan operasional dan kualitas pendidikan. Diperlukan solusi yang inovatif dan terarah untuk mengatasi kekurangan dana dan memaksimalkan manfaat dari pendidikan tinggi gratis.

Pemerintah Indonesia sendiri mendapatkan tantangan terkait ketenagakerjaan dan pendidikan. Bonus demografi yang diperikirakan antara tahun 2030-2040 menjadi alasan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan terampil. Dunia pendidikan menjadi kunci utama untuk menghadapi bonus demografi ini. Pemerataan pendidikan harus menjadi perhatian agar semua anak Indonesia mendapatkan hak mereka untuk belajar dan memperoleh pengetahuan serta keterampilan. Program pendidikan gratis di sekolah negeri menjadi salah satu program untuk menerapkan pemerataan pendidikan bagi semua anak Indonesia (Matondang et al., 2024). Kebijakan yang tepat dan upaya kolaboratif antara pemerintah dan lembaga pendidikan akan meningkatkan ketercapaian tujuan dari

(8)

5

pendidikan tinggi “gratis”. Ini memberikan harapan bagi keberagaman sosial yang besar dan mengurangi ketidaksetaraan (Motala, 2017).

Sebagai negara yang masuk dalam kategori berkembang menuju maju, Indonesia belum menerapkan pendidikan tinggi “gratis”. Terbukti dengan perguruan tinggi negeri yang masih mengadakan uang kuliah Tunggal (UKT). Meskipun demikian pendidikan gratis diperoleh pada pendidikan dasar dan menengah. Kata gratis pada “pendidikan gratis”

merujuk pada makna tidak dipungut bayaran atau cuma-cuma. Pendidikan gratis merupakan Impian banyakorang. Masyarakat dengan ekonomi kurang dapat menempuh pendidikan hingga menyelesaikan pendidikan minimal di Indonesia (Muhammad, 2022).

Pendidikan gratis merujuk pada program wajib belajar 12 tahun dan program Indonesia pintar (PIP). Pendidikan gratis didanai oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan pemerataan kesempatan belajar bagi seluruh anak Indonesia. Pendidikan gratis menghapus semua biaya pendidian yang biasanya ditanggung oleh orang tua siswa. Pendidikan gratis mampu memenuhi keutuhan masyarakat dan memebrikan kesempatan bagi anak-anak sekolah untuk mendapatkan pendidikan seluas-luasnya tanpa biaya (Asyiah et al., 2018).

Pemerintah Indonesia untuk tetap memberikan fasilitas pada masyarakat kurang mampu yang ingin melanjutkan pedidikan ke perguruan tinggi negeri memiliki beberapa program yaitu Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan Biaya Pendidikan Untuk Mahasiswa Afirmasi, Bantuan Biaya Pendidikan bagi Mahasiswa Difabel, dan Bantuan UKT ketika pandemi COVID-19. Program ini bertujuan untuk menambah akses mahasiswa dengan kondisi ekonomi tidak mampu dapat melanjut keperguruan tinggi negeri. Beasiswa selain keempat itu juga disediakan oleh pemerintah seperti LPDP, Beasiswa Pendidikan Indonesia, dan Beasiswa Unggulan. Pengaruh pemberian beasiswa ini memberikan motivasi belajar terhadap mahasiswa (Nina Hermina et al., 2022).

2.2. Dampak Pemotongan Anggaran Operasional dan Biaya Pendidikan di PTN BH Artikel mengungkapkan pengurangan pendanaan dari pemerintah menyebabkan kesulitan keuangan bagi universitas. Pemotongan angaran juga berdampak pada alokasi dana untuk alat tulis, gaji staff pendukung dan kegiatan seminar. Penurunan subsidi pemerintah disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang lambat dan kebijakan untuk anggaran lainnya. Pemotongan anggaran memaksa universitas untuk terus-menerus merevisi dan mengurangi anggaran operasional mereka. Proses pengelolaan anggaran menjadi lebih kompleks dan mahal, karena perencanaan anggaran harus diakukan setiap bulan yang sebelumnya dilakukan setiap tiga bulan atau setiap semester (Tewe et al., 2024)

(9)

6

Keterbatasan sumber daya mengakibatkan pengurangan program-program yang mendukung proses pengajaran dan penelitian. Penurunan kualitas pendidikan terjadi, infrastruktur tidak berkembang, dan akhirnya menimulkan ketidakpuasan di kalangan staf dan mahasiswa. Pemotongan anggaran mendorong universitas untuk mencari sumber pendanaan dari sektor swasta, peningkatan pendapatan dari penelitian serta donasi dari alumni. Namun pendekatan ini membutuhkan waktu yang besar sementara kebutuhan operasiona tetap mendesak. Kebijakan pendidikan tinggi gratis sering kali tidak ditargetkan dengan efisien, menimbulkan ketidaksetaraan karena kelompok kaya tidak membutuhkan subsidi juga memanfaatkannya. Kebijakan pendidikan gratis sering menjadi beban berat bagi anggaran negara, terutama negara dengan ekonomi yang masih berjuang. Pengelolaan dana yang buruk juga turut memperburuk dampaknya. Pemotongan anggaran operasional akibat kebijakan ini memiliki dampak yang luas dan memberi tekanan berat pada manajemen universitas. Permasalahan ini memerlukan strategi pendanaan yang berkelanjutan dan inklusif (Bitzer & De Jager, 2018).

Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia banyak yang telah mengalami perubahan menjadi perguruan tinggi negeri badan hukum. Respon cepat yang diperlukan terhadap perubahan merupakan tujuan dari perubahan PTN menjadi PTN-BH. Kelebihan dari PTN BH ini adalah dapat membuka program studi secara mandiri tanpa melalui mekanisme ususlan pada direktorat kelembagaan, ditjen DIKTI ristek dengan tujuan dapat dengan cepat memperoleh kebutuhan pasar dan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan status PTN-BH, lembaga pendidikan tinggi diberi hak otonom untuk mengelola lembaga serta kebebasan untuk mencari dana. Salah satu sumber pendapatan PTN-BH adalah dana iuran pengembangan institusi (IPI) dan uang kuliah Tunggal (UKT) dari mahasiswa. Sistem UKT bertujuan untuk memberikan subsidi silang untuk memberikan keadilan secara ekonomi bagi mahasiswa. Namun belakang ini biaya pendidikan cenderung mengalami kenaikan yang pada akhirnya pendidikan tinggi hanya dapat diakses oleh para pemilik uang (Yanuar et al., 2024).

Kebijakan PTN-BH memungkinkan kampus untuk mengeloka keuangannya secara mandiri dan memiliki kebebasan untuk mengelola aspek akademik dan non akademik termasuk mengenai kebijakan operasional dan pelaksanaan tridharma. Sebagai entitas hukum, PTN-BH dapat membuat keputusan keuangan seperti membuat tarif pada fasilitas kampus, mendirikan Perusahaan mandri, IPI untuk mahasiswa jalur mandiri, dan menentukan besaran penggolongan uang kuliah tunggal.

(10)

7

2.3. Model Pembiayaan dan Alternatif Pendanaan 1. Subsidi Pemerintah

Subsidi pemerintah tetap harus dibutuhkan karena berperan penting dalam mendukung kebijakan pendiidkan tinggi gratis. Subsidi bertujuan untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat dan mengutamakan mereka yang kurang mampu (Tewe et al., 2024). Menerapkan kebijakan yang lebih terarah dengan subsidi pendidikan tinggi “gratis” diberikan secara khusus kepada yang memenuhi kriteria penerima subsidi. Hal ini untuk memastikan bahwa dana yang tersedia digunakan secara optimal untuk membantuk yang paling membutuhkan.

Diperlukan pengawasan dan akuntabilitas yang ketat dalam penggunaan dana.

Pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel dapat membantu mencegah penyalahgunaan dan memastikan anggaran dialokasikan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

2. Biaya Kuliah

Biaya kuliah menjadi sumber pendaan penting bagi universitas. Sebelum pendidikan tinggi “gratis” diterapkan, biaya kuliah di pemerintahan Afrika Selatan sangat tinggi sehingga menimbulkan demonstrasi mahasiswa yang memaksa pemerintah menerapkan kebijakan ini. Hal ini menyebabkan penurunan anggaran untuk program lainnya. Sehingga biaya pendidikan gratis tetap memberikan dampak yang negatif bagi universitas.

3. Program Bantuan Mahasiswa (NSFAS)

National Student Financial Aid Scheme adalah salah satu mekanismen utama untuk mendukung kebijakan pendidikan tinggi gratis. NSFAS menyediakan pinjaman dan beasiswa kepada mahasiswa yang memenuhi syarat. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa pendidikan tinggi dapat diakses oleh mahasiswa yang kurang mampu. Program bantuan mahasiswa bertujuan untuk mengurangi beban biaya pendidikan bagi mahasiswa dan memastikan mereka dapat menyelesaikan pendidikan tanpa harus menghadapi kendala keuangan. Pengelolaan dana dan peyelahgunaan perlu dikendalikan untuk memastikan efektivitas dan efisiensi program.

4. Pendirian Badan Usaha

Perguruan Tinggi Negeri Badan Usaha di Indonesia diizinkan untuk melakukan kegiatan usaha untuk mencari sumber pendapatan selama kegiata tidak bertentangan dengan misi pendidikan dan integritas lemabaga. Kegiatan usaha PTN-BH harus

(11)

8

dilakukan dengan tetap memeprhatikan prinsip etika integritas, dan tujuan utama pendidikan (Suryani et al., 2024)

2.4. Keberlanjutan Pendidikan Tinggi “Gratis”

Kondisi ekonomi yang sulit di negara Afrika Selatan dan peningkatan angka kelahiran, pemberian bantuan untuk anak-anak, dan tren inflasi pada ekonomi menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan tinggi gratis tidak mungkin untuk dilanjutkan. Pendanaan pendidikan gratis di seluruh Afrika Selatan mengalami keterbatasan finansial karena ketidakpastian di pasar global dan ekonomi lokal yang lemah. Beberapa hal penting pada artikel terkait keberlanjutan dari program pendidikan tinggi gratis, yaitu

1. Beban finansial

Kebijakan pendidikan tinggi “gratis” memberikan beban besar pada anggaran negara, terutama negara yang kondisi ekonomi tidak stabil. Hal ini karena pendanaan untuk kebijakan ini membutuhkan alokasi anggaran yang besar dan konsisten, yang dapat mengorbankan dana untuk sektor lain.

2. Efisiensi pendanaan

Untuk memastikan keberlanjutan, perlu dilakukan efisiensi pengelolaan dana. Penerapan sistem pengawasan yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan dana dan memastikan bahwa subsidi diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

3. Alternatif sumber pendanaan

Universitas harus terbuka untuk mencari sumber pendanaan mandiri sebagai alternatif seperti mejalin kemitraan kepada public ataupun swasta dan pendanaan dari lembaga asing untuk mengurangi ketergantungan pada dana pemerintah.

Penting untuk melakukan perencanaan anggaran untuk memastikan anggaran yang disetujui dapat digunakan secara efektif dan efisien untuk mendukung kegiatan akademik dan operasional universitas (Ratag et al., 2019)

(12)

9 BAB III PENUTUP

Kebijakan pendidikan tinggi gratis mampu meningkatkan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, mengurangi ketimpangan sosial, serta mendukung pembangunan ekonomi melalui penngkatan kualitas sumber daya manusia. Namun tantangan seperti ekonomi yang tidak stabil atau raputh, tingkat pengangguran yang tinggi, dan keterbatasan anggaran negara menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan program pendidikan tinggi gratis.

Semakin berkurangnya subsidi pemerintah membuat universitas harus mencari alternatif pendanaan seperti kemitraan swasta dan pendanaan asing untuk operasional kampus.

Pengelolaan dana yang efisien dan pengawasan yang ketat diperlukan untuk memastikan subsidi tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal.

Pendidikan tinggi gratis di Indonesia belum diterapkan secara menyeluruh berbagai program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa, dan bantuan UKT bertujuan membantu mahasiswa kurang mampu mengakses perguruan tinggi. Sistem Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) memberikan otonomi kepada universitas untuk mengelola keuangan, termasuk mencari sumber pendapatan mandiri melalui IPI, UKT, dan usaha bisnis.

Namun, kenaikan biaya pendidikan dapat membatasi akses masyarakat kurang mampu. Dalam konteks bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2030-2040, pemerataan pendidikan menjadi tantangan utama untuk memastikan semua anak Indonesia mendapatkan hak mereka untuk belajar dan menciptakan generasi yang berkualitas serta produktif.

Keberlanjutan pendidikan tinggi "gratis" baik di Afrika Selatan maupun negara berkembang lainnya sangat bergantung pada efisiensi pengelolaan anggaran dan inovasi dalam mencari sumber pendanaan alternatif. Pendekatan kolaboratif antara pemerintah, universitas, dan sektor swasta menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan dan memastikan manfaat kebijakan ini dalam mengurangi ketimpangan sosial serta meningkatkan kualitas pendidikan.

(13)

10

DAFTAR PUSTAKA

Asyiah, S., Adnan, M. F., & Mubarak, A. (2018). Evaluasi Implementasi Kebijakan Pendidikan Gratis Di Kabupaten Pasaman. JPSI (Journal Of Public Sector Innovations), 2(1), 1.

Https://Doi.Org/10.26740/Jpsi.V2n1.P1-9

Bitzer, E., & De Jager, E. (2018). The views of commerce Students regarding “free” higher education in South Arica. South African Journal of Higher Education, 32(4).

https://doi.org/10.20853/32-4-2436

Matondang, A. K., Br. Sembiring, A., Efriyanti, I., & Zulmi, R. A. (2024). Implementasi Kebijakan Mengenai Pendidikan Gratis Di Indonesia. Journal of Law & Policy Review, 2(2), 178–184. https://doi.org/10.34007/jlpr.v2i2.159

Motala, S. (n.d.). Introduction—Part III Achieving ‘free education’ for the poor – a realisable goal in 2018?

Nina Hermina, U., Toasin Asha, M., & Zain, D. (2022). Pengaruh Pemberian Beasiswa Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa. Jurnal Perspektif Administrasi Dan Bisnis, 3(1), 7–12. Https://Doi.Org/10.38062/Jpab.V3i1.25

Ratag, W. A., Kumenaung, A. G., & Engka, D. S. M. (2019). Pengaruh Perencanaan Anggaran Terhadap Penyerapan Anggaran Di Lingkungan Iniversitas Sam Ratulangi. Jurnal Pembangunan Ekonomi Dan Keuangan Daerah, 20(2), 1.

Https://Doi.Org/10.35794/Jpekd.23845.20.2.2019

Suryani, R., Sunarmi, S., Sembiring, R., & Siregar, M. (2024). Penyertaan Modal Universitas Sumatera Utara Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum Pada Badan Usaha.

Locus Journal of Academic Literature Review, 3(1), 85–102.

https://doi.org/10.56128/ljoalr.v3i1.279

Tewe, R., Ismaila, B., Beneke, J., & Siewe, L. (2024). Perceptions on “free” tertiary education and operational budgeting within a public university in South Africa. Social Sciences &

Humanities Open, 9, 100793. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2023.100793

Yanuar, D., Putra, F. H. P., Kresna, H. G., & Taqie, N. (n.d.). Dinamika Kebijakan Kampus PTN-BH Dari Masa ke masa Melalui Tinjauan Historis.

Referensi

Dokumen terkait

“ Persepsi Mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan Terhadap Sarana Dan Prasarana Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016. Kata Kunci: Persepsi Siswa, Profesionalisme, Guru PAI. Penelitian

memperoleh data mengenai pemenuhan hak-hak penyandang.. disabilitas atas pendidikan tinggi negeri di Universitas Islam Negeri. Yogyakarta. Bahan

skripsi yang berjudul Analisis Perbandingan Pengelolaan Media Relations oleh Humas Perguruan Tinggi Negeri (Studi Pada Humas Universitas Negeri Malang dan

1. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Universitas Gajah Mada. Universitas Sumatera Utara.

Memperkokoh tugas-tugas universitas dalam pergaulan internasional, membangun jaringan kerja (network) internasional, dengan menyiapkan draft kerjasama dengan perguruan tinggi

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR. FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI

Flowchart Sistem Informasi Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil pada Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan.... Entity Relationship Diagram (ERD) Sistem Informasi Kenaikan