PERTEMUAN II
BERKENALAN DENGAN ETIKA
A. Penjernihan Istilah
Jika kita membuka surat kabar atau majalah, hampir setiap hari kita menemui kata-kata tersebut. Berulang kali kita membaca kalimat-kalimat semacam ini : “Dalam dunia bisnis etika merosot terus”, “Etika dan moral perlu ditegaskan kembali”, “Adalah tidak etis, jika ...”, “Di televisi akhir-akhir ini banyak iklan yang kurang etis”, dan sebagainya. Kita mendengar tentang “Moral Pancasila” dan “etika pembangunan”. Juga dalam pidato-pidato pejabat pemerintah kata “etika” dan “moral” banyak dipergunakan.
Pendeknya, kata-kata seperti ini mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Dan dapat ditambah lagi, kata-kata ini tidak berfungsi dalam suasana iseng dan remeh, tapi sebaliknya dalam suatu konteks yang serius dan kadang-kadang amat prinsipil. Jika berbicara tentang “etika” dan “moral”, ternyata kita memaksudkan sesuatu yang penting.
“Eetika" seringkali dimengerti sebagai filsafat moral. Tetapi kata "etika" tidak selalu dipakai dalam arti itu saja. Karena itu ada baiknya kita mulai dengan mempelajari terlebih dahulu cara-cara kata itu dipakai, bersama dengan beberapa istilah lain yang dekat dengannya.
a. Etika dan Moral
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang;
kebebasan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak (la etha) artinya adalah adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika” yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles (384-322 SM) sudah dipakai untuk menunjukan filsafat moral. “Etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan”.
Kata yang cukup dekat dengan "etika" adalah "moral". Kata terakhir ini berasal dari bahasa Latin mos (jamak: mores) yang berarti juga: kebiasaan, adat. Dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia (pertama kali dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988), kata mores masih dipakai dalam arti yang sama.
Jadi, etimologi kata "etika" sama dengan etimologi kata "moral", karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan. Hanya bahasa asalnya berbeda: yang pertama berasal dari bahasa Yunani, sedang yang kedua dari bahasa Latin.
Kembali ke istilah "etika". Setelah mempelajari asal-usulnya, sekarang kita berusaha menyimak artinya. Salah satu cara terbaik untuk mencari arti sebuah kata adalah melihat dalam kamus. Jika kita melihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), di situ "etika" dijelaskan dengan membedakan tiga arti : "1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak); 2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; 3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat".
Dengan penjelasan ini dapat kita mengerti kalimat seperti "Dalam dunia bisnis etika merosot terus", karena di sini "etika" ternyata dipakai dalam arti yang ketiga.
Dengan demikian kita sampai pada tiga arti berikut ini. Pertama, kata "etika" bisa dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Misalnya, jika orang berbicara tentang "etika suku-suku Indian", "etika agama Budha", "etika Protestan", maka etika di sini tidak dimaksudkan "ilmu", melainkan bisa dirumuskan juga sebagai "sistem nilai". Dan boleh dicatat lagi, sistem nilai itu bisa berfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial. Kedua, "etika" berarti juga: kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Beberapa tahun yang lalu oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia diterbitkan sebuah kode etik untuk rumah sakit yang diberi judul: "Etika Rumah Sakit Indonesia" (1986), disingkatkan sebagai ERSI. Di sini dengan "etika" jelas dimaksudkan kode etik. Ketiga, "etika" mempunyai arti lagi: ilmu tentang yang baik atau buruk. Etika baru menjadi ilmu, bila kemungkinan- kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat-sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.
Tentang kata "moral" sudah kita lihat bahwa etimologinya sama dengan "etika", sekalipun bahasa asalnya berbeda. Jika sekarang kita memandang arti kata "moral", perlu kita simpulkan bahwa artinya (sekurang-kurangnya arti yang relevan untuk kita, di
samping arti lain yang tidak perlu disinggung di sini) sama dengan "etika" menurut arti pertama tadi, yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kita mengatakan, misalnya, bahwa perbuatan seseorang tidak bermoral. Dengan itu dimaksud bahwa kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat Atau kita mengatakan bahwa kelompok pemakai narkotika mempunyai moral yang bejat, artinya, mereka berpegang pada nilai dan norma yang tidak baik) "Moralitas" (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan "moral". Kita berbicara tentang "moralitas suatu perbuatan", artinya, segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.
b. Amoral dan Immoral
Masih mengenai istilah, perlu dibedakan antara amoral dan immoral. Di sini terpaksa kita melihat pada istilah-istilah Inggris, karena dalam bahasa Indonesia kita mengalami kesulitan. Oleh Concise Oxford Dictionary kata amoral diterangkan sebagai
"unconcerned with, out of the sphere of moral, non-moral". Jadi, kata Inggris amoral berarti: "tidak berhubungan dengan konteks moral", "di luar suasana etis", "non-moral".
Dalam kamus yang sama immoral dijelaskan sebagai "opposed to morality morally evil".
Jadi, kata Inggris immoral berarti: "bertentangan dengan moralitas yang baik",
"merupakan moral yang buruk", "tidak etis".
c. Etika dan Etiket
Jika kita melihat asal-usulnya, sebetulnya tidak ada hubungan antara dua istilah ini.
Hal itu menjadi lebih jelas, jika kita membandingkan bentuk kata dalam bahasa Inggris, yaitu ethics dan etiquette. Tetapi dipandang menurut artinya, dua istilah ini memang dekat satu sama lain lain. Di samping perbedaan, ada juga persamaan. Mari kita mulai dengan persamaan itu. Pertama, etika dan etiket menyangkut perilaku manusia, istilah- istilah ini hanya kita pakai mengenai manusia. Hewan tidak mengenal etika maupun etiket. Kedua, baik etika maupun etiket mengatur perilaku manusia secara normatif, artinya, memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa
yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Justru karena sifat normatif ini kedua istilah tersebut mudah dicampuradukkan. Namun demikian, ada beberapa perbedaan sangat penting antara etika dan etiket. Setidaknya empat macam perbedaan:
1. Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya, cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Misalnya, jika saya menyerahkan sesuatu kepada atasan, saya harus menyerahkannya dengan menggunakan tangan kanan. Dianggap melanggar etiket, bila orang menyerahkan sesuatu dengan tangan kiri. Tetapi etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan; etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan ya atau tidak.
Mengambil barang milik orang lain tanpa izin, tidak pernah diperbolehkan.
"Jangan mencuri" merupakan suatu norma etika. Apakah orang mencuri dengan tangan kanan atau tangan kiri di sini sama sekali tidak relevan. Norma etis tidak terbatas pada cara perbuatan dilakukan, melainkan menyangkut perbuatan itu sendiri.
2. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, Bila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Misalnya, ada banyak peraturan etiket yang mengatur cara kita makan. Dianggap melanggar etiket, bila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja, dan sebagainya. Tapi kalau saya makan sendiri, saya tidak melanggar etiket, bila makan dengan cara demikian. Sebaliknya, etika selalu berlaku, juga kalau tidak ada saksi-mata. Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain. Larangan untuk mencuri selalu berlaku, entah ada orang lain hadir atau tidak. Barang yang selalu harus dikembalikan, juga jika pemiliknya sudah lupa.
3. Etiket-bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan, bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Contoh yang jelas adalah makan dengan tangan atau tersendawa waktu makan. Lain halnya dengan etika. Etika jauh lebih absolut. "Jangan mencuri", "jangan berbohong", "jangan membunuh" merupakan
prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar atau mudah diberi "dispensasi".
Memang benar, ada kesulitan cukup besar mengenai keabsolutan prinsip-prinsip etis yang akan dibicarakan lagi dalam buku ini. Tapi tidak bisa diragukan, relativitas etiket jauh lebih jelas dan jauh lebih mudah terjadi.
4. Jika kita berbicara tentang etiket, kita hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja, sedang etika menyangkut manusia dari segi dalam. Bisa saja orang tampil sebagai "musang berbulu ayam": dari luar sangat sopan dan halus, tapi di dalam penuh kebusukan. Banyak penipu berhasil dengan maksud jahat mereka, justru karena penampilannya begitu halus dan menawan hati, sehingga mudah meyakinkan orang lain. Tidak merupakan kontradiksi, jika seseorang selalu berpegang pada etiket dan sekaligus bersikap munafik. Tapi orang yang etis sifatnya tidak mungkin bersikap munafik, sebab seandainya dia munafik, hal itu dengan sendiri berarti ia tidak bersikap etis. Di sini memang ada kontradiksi.
Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik. Sudah jelaslah kiranya bahwa perbedaan terakhir ini paling penting di antara empat perbedaan yang dibahas tadi.
B. Etika sebagai Cabang Filsafat a. Moralitas: Ciri khas Manusia
Banyak perbuatan manusia berkaitan dengan baik atau buruk, tapi tidak semua. Ada juga perbuatan yang netral dari segi etis. Bila pagi hari saya mengenakan lebih dulu sepatu kanan dan baru kemudian sepatu kiri, perbuatan itu tidak mempunyai hubungan dengan baik atau buruk. Boleh saja sebaliknya: sepatu kiri dulu dan baru kemudian sepatu kanan. Mungkin cara yang pertama sudah menjadi kebiasaaan saya. Mungkin cara itu lebih baik dari sudut efisiensi atau lebih baik karena cocok dengan motorik saya, tapi cara pertama atau kedua tidak lebih baik atau buruk dari sudut moral. Perbuatan itu boleh disebut "amoral", dalam arti seperti sudah dijelaskan: tidak mempunyai relevansi etis.
Dan tidak sulit untuk memikirkan banyak contoh lain lagi tentang perbuatan yang bisa dianggap amoral dalam arti ini. Tapi lain halnya, bila saya sebagai bapak keluarga membelanjakan gaji bulanan lebih dulu untuk hobby saya (memotret, memelihara
burung, atau-lebih jelek lagi-main judi) dan baru kalau masih ada sisa saya serahkan kepada keluarga. Perbuatan terakhir itu tanpa ragu-ragu akan dinilai "tidak etis" atau
"imoral" atau "buruk dari sudut moral", karena sebagai bapa keluarga saya mempunyai kewajiban mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhan atau kesenangan pribadi.
Baik dan buruk dalam arti etis seperti dimaksudkan dalam contoh terakhir ini memainkan peranan dalam hidup setiap manusia. Bukan saja sekarang ini tapi juga di masa lampau. Ilmu-ilmu seperti antropologi budaya dan sejarah memberitahukan kita bahwa pada semua bangsa dan dalam segala zaman ditemukan keinsafan tentang baik dan buruk, tentang yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Akan tetapi, segera perlu ditambah bahwa tidak semua bangsa dan tidak semua zaman mempunyai pengertian yang sama tentang baik dan buruk. Ada bangsa atau kelompok sosial yang mengenal "tabu", sesuatu yang dilarang keras (misalnya, membunuh binatang tertentu), sedangkan pada bangsa atau kelompok sosial lainnya perbuatan-perbuatan yang sama tidak terkena larangan apapun. Dan sebaliknya, ada hal-hal yang di zaman dulu sering dipraktekkan dan dianggap biasa saja, tapi akan ditolak sebagai tidak etis oleh hampir semua bangsa beradab sekarang ini. Sebagai contoh dapat disebut: kolonialisme, perbudakan, dan diskriminasi terhadap wanita. Jadi, semua bangsa mempunyai pengalaman tentang baik dan buruk, tapi tidak selalu ada pendapat yang sama tentang apa yang harus dianggap baik-atau-buruk. Untuk sementara cukuplah, bila kita bersepakat bahwa pengertian tentang baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum, yang terdapat di mana-mana dan di segala zaman. Dengan kata lain, moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal.
Tapi bukan saja moralitas merupakan suatu dimensi nyata dalam hidup setiap manusia, baik pada tahap perorangan maupun pada tahap sosial, kita harus mengatakan juga bahwa moralitas hanya terdapat pada manusia dan tidak terdapat pada makhluk lain.
Makhluk yang paling dekat dengan manusia tentunya binatang. Karena itu dalam filsafat di masa lampau acap kali diusahakan untuk menentukan kekhususan manusia dengan membandingkannya dengan binatang. Banyak filsuf berpendapat bahwa manusia adalah binatang-plus: binatang dengan ditambah suatu perbedaan khas. Apakah perbedaan khas itu? Pertanyaan ini oleh berbagai filsuf dijawab dengan cara yang berbeda-beda. Di antara jawaban-jawaban yang pernah diberikan dapat didengar: perbedaan khas itu adalah
rasio, bakat untuk menggunakan bahasa (atau lebih luas: menggunakan simbol), kesanggupan untuk tertawa, untuk membikin alat-alat, dan seterusnya. Mungkin semua ciri ini dapat diterima sebagai sifat-sifat khas manusiawi, tapi sekurang-kurangnya harus ditambah satu lagi: manusia adalah binatang-plus karena mempunyai kesadaran moral.
Moralitas merupakan suatu ciri khas manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk di bawah tingkat manusiawi. Pada tahap binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, tentang yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dilakukan dan tidak pantas dilakukan.
Untuk mengerti perbedaan antara binatang dan manusia ini dengan lebih baik, perlu kita menyimak sebentar kata "harus" dalam sebutan "harus dilakukan" tadi. Ternyata ada dua macam "keharusan" keharusan alamiah dan keharusan moral. Kita perhatikan saja kalimat-kalimat berikut ini: "Bila lebih dari separuh tiangnya digergaji, rumah itu harus roboh". "Pena yang dilepaskan dari tangan harus jatuh". Keharusan dalam contoh-contoh ini didasarkan atas hukum alam. Alam sudah diatur demikian rupa, sehingga pena yang tidak lagi dipegang tangan pasti akan jatuh. Keharusan itu dijalankan secara otomatis.
Tidak perlu ada instansi yang mengawasi agar hal itu akan terjadi. Itu akan terjadi dengan sendirinya.
Lain halnya dengan "keharusan" dalam kalimat-kalimat berikut ini: "Barang yang dipinjam harus dikembalikan","Karyawan harus diberi gaji yang adil". Keharusan terakhir ini didasarkan atas suatu hukum lain: suatu hukum moral. Hukum moral tidak dijalankan dengan sendirinya". Buku-buku yang dipinjam tidak otomatis kembali ke perpustakaan! Seandainya begitu, tak urung banyak pustakawan akan gembira sekali, tapi sayang, pada kenyataannya tidak terjadi demikian. Hukum moral merupakan semacam imbauan kepada kemauan manusia. Bola yang dilemparkan ke udara mau tidak mau akan jatuh ke tanah; kemauan di sini tidak memainkan peranan. Tapi manusia harus mau dulu, sebelum ia mengerjakan sesuatu. Hukum moral mengarahkan diri kepada kemauan manusia dengan menyuruh dia untuk melakukan sesuatu. Dapat dikatakan juga: hukum moral mewajibkan manusia.
Keharusan moral adalah kewajiban. Pena tidak diwajibkan jatuh, bila dilepaskan dari tangan. Orang yang mengatakan demikian, menggunakan bahasa dengan cara aneh, karena kata "kewajiban" dikhususkan untuk keharusan moral saja. Keharusan moral
didasarkan pada kenyataan bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut kaidah- kaidah atau norma-norma. Norma-norma adalah hukum, tapi manusia sendiri harus menaklukkan diri pada norma-norma itu. Manusia harus menerima dan menjalankannya.
b. Etika: Ilmu tentang Moralitas
Setelah dipelajari apa yang dimaksud dengan moralitas, sekarang kita siap untuk mengerti langkah berikut: etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Suatu cara lain untuk merumuskan hal yang sama adalah bahwa etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral.
Tetapi ada berbagai cara untuk mempelajari moralitas atau berbagai pendekatan ilmiah tentang tingkah laku moral. Di sini kita mengikuti pembagian atas tiga pendekatan yang dalam konteks ini sering diberikan, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika.
1. Etika Deskriptif
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya, adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan- kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode sejarah, dan sebagainya. Karena etika deskriptif hanya melukiskan, ia tidak memberi penilaian. Misalnya, ia melukiskan adat mengayau kepala yang ditemukan dalam masyarakat yang disebut primitif, tapi ia tidak mengatakan bahwa adat semacam itu dapat diterima atau harus ditolak. Ia tidak mengemukakan penilaian moral.
Atau contoh lain, etika deskriptif dapat mempelajari pandangan-pandangan moral dalam Uni Soviet yang komunis dan ateis dulu: mengapa mereka begitu permisif terhadap pengguguran kandungan, misalnya, sedangkan dalam hal lain seperti pornografi mereka sangat ketat. Orang yang akan menyelidiki masalah ini ingin mengerti perilaku moral di Uni Soviet dulu, tapi tidak memberi penilaian tentang pengguguran kandungan atau pornografi sebagai masalah moral.
Sekarang ini etika deskriptif dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial: antropologi budaya, psikologi, sosiologi, sejarah, dan sebagainya. Studi-studi termasyhur tentang perkembangan kesadaran moral dalam hidup seorang manusia oleh
psikolog Swiss Jean Piaget (1896–1980) dan psikolog Amerika Lawrence Kohlberg (1927–1988) merupakan contoh bagus mengenai etika deskriptif ini.
2. Etika Normatif
Etika normatif tidak bertindak sebagai penonton netral, seperti halnya dalam etika deskriptif, tapi ia melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia. la tidak lagi melukiskan adat mengayau yang pernah terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan di masa lampau, tapi ia menolak adat itu, karena bertentangan dengan martabat manusia. Ia tidak lagi membatasi diri dengan memandang fungsi prostitusi dalam suatu masyarakat, tapi menolak prostitusi sebagai suatu lembaga yang bertentangan dengan martabat wanita, biarpun dalam praktek belum tentu dapat diberantas sampai tuntas.
Etika deskriptif hanya melukiskan norma-norma itu, dengan sikap netral, dan tidak memeriksa apakah norma-norma itu benar atau salah. Etika normatif meninggalkan sikap netral dengan mendasarkan pendiriannya atas norma. Etika normatif itu tidak deskriptif melainkan preskriptif (memerintahkan), tidak melukiskan melainkan menentukan benar tidaknya tingkah laku atau anggapan moral. Untuk itu ia mengadakan argumentasi-argumentasi. Jadi, ia mengemukakan alasan-alasan mengapa suatu tingkah laku harus disebut baik atau buruk dan mengapa suatu anggapan moral dapat dianggap benar atau salah.
Pada akhirnya argumentasi-argumentasi itu akan bertumpu pada norma-norma atau prinsip-prinsip etis yang dianggap tidak dapat ditawar-tawar. Secara singkat dapat dikatakan, etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktek.
3. Metaetika
Cara lain lagi untuk mempraktekkan etika sebagai ilmu adalah metaetika.
Awalan meta- (dari bahasa Yunani) mempunyai arti "melebihi", "melampaui".
Istilah ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas di sini bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas.
Metaetika seolah-olah bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf "bahasa etis" atau bahasa yang kita pergunakan di bidang moral.
Filsuf Inggris George Moore (1873–1958), misalnya, menulis sebuah buku terkenal yang sebagian terbesar terdiri dari analisis terhadap kata yang sangat penting dalam konteks etika, yaitu kata "baik". Ia tidak bertanya apakah tingkah laku tertentu boleh disebut baik. Lebih konkret: ia tidak bertanya apakah menjadi donor organ tubuh untuk ditransplantasi pada pasien yang membutuhkan boleh disebut baik dari sudut moral dan apakah syarat-syaratnya supaya dapat disebut baik (apakah perbuatan itu masih baik, jika organnya dijual?). Ia hanya bertanya apakah artinya kata "baik", bila dipakai dalam konteks etis. Ia hanya menyoroti arti khusus kata "baik" dengan membandingkan kalimat "Menjadi donor organ tubuh adalah perbuatan yang baik" dengan kalimat jenis lain seperti "Mobil ini masih dalam keadaan baik".
Metaetika ini dapat ditempatkan dalam rangka "filsafat analitis" suatu aliran penting dalam filsafat abad ke-20. Filsafat analitis menganggap analisis bahasa sebagai tugas terpenting bagi filsafat atau bahkan sebagai satu-satunya tugasnya. Karena perkaitan dengan filsafat analitis ini, metaetika kadang-kadang juga disebut "etika analitis".
Salah satu masalah yang ramai dibicarakan dalam metaetika adalah the is/ought question. Yang dipersoalkan di sini ialah apakah ucapan normatif dapat diturunkan dari ucapan faktual. Kalau sesuatu ada atau kalau sesuatu merupakan kenyataan (is: faktual), apakah dari situ dapat disimpulkan bahwa sesuatu harus atau boleh dilakukan (ought: normatif). Dengan menggunakan peristilahan logika dapat ditarik suatu kesimpulan preskriptif. Kalau satu premis preskriptif dan premis lain deskriptif, kesimpulannya pasti preskriptif. Itu tidak menjadi masalah. Contohnya:
• Setiap manusia harus menghormati orang tuanya (premis preskriptif)
• Lelaki ini adalah orang tua saya (premis deskriptif)
• Jadi, lelaki ini harus saya hormati (kesimpulan preskriptif).
Walaupun di sini kita membedakan metaetika dari etika normatif, namun hal itu tidak berarti keduanya selalu bisa dipisahkan juga. Sebab, jika kita
berbicara tentang bahasa moral, dengan mudah sekali pembicaraan kita beralih ke apa yang ditunjukkan oleh bahasa itu, yaitu perilaku moral itu sendiri. Sambil mempelajari ucapan-ucapan etis, dengan hampir tidak disadari kita bisa mulai menilai apa yang dibicarakan itu. Dan sebaliknya, jika kita berbicara tentang perilaku moral, dengan sendirinya kita berefleksi tentang istilah-istilah dan bahasa yang kita pakai.
Kalau kita berusaha mendefinisikan pengertian-pengertian etis seperti
"norma", "nilai", "hak", "keadilan", atau sebagainya, usaha itu bisa saja digolongkan dalam metaetika, tapi dalam etika normatif tentu tidak dapat dihindarkan merumuskan definisi-definisi semacam itu. Penjelasan tentang istilah-istilah berhubungan dengan etika yang disajikan pada bagian sebelumnya dapat dipandang sebagai suatu pendekatan metaetis pula, biarpun maksudnya hanyalah meratakan jalan untuk suatu uraian tentang etika normatif.
***
Studi tentang moralitas dapat dibedakan pendekatan non-filosofis dan pendekatan filosofis. Pendekatan non-filosofis adalah etika deskriptif, sedangkan pendekatan filosofis bisa sebagai etika normatif dan bisa juga sebagai metaetika atau etika analitis.
C. Peranan Etika dalam Dunia Modern dan Etika Terapan
Setiap masyarakat mengenal nilai-nilai dan norma-norma etis. Dalam masyarakat yang homogen dan agak tertutup -masyarakat tradisional, katakanlah, nilai-nilai dan norma-norma itu praktis tidak pernah dipersoalkan. Dalam keadaan seperti itu secara otomatis orang menerima nilai dan norma yang berlaku. Individu-individu dalam masyarakat itu tidak berpikir lebih jauh.
Tapi nilai-nilai dan norma-norma etis yang dalam masyarakat tradisional umumnya tinggal implisit saja, pada setiap saat bisa menjadi eksplisit. Terutama bila nilai-nilai itu ditantang atau norma-norma itu dilanggar karena perkembangan baru, kita melihat bahwa nilai atau norma yang tadinya terpendam dalam hidup rutin, dengan agak mendadak tampil ke permukaan.
Banyak nilai dan norma etis berasal dari agama. Tidak bisa diragukan, agama merupakan salah satu sumber nilai dan norma yang paling penting. Kebudayaan merupakan suatu sumber yang lain, walaupun perlu dicatat bahwa dalam hal ini kebudayaan sering kali tidak bisa dilepaskan dari agama. Juga nasionalisme atau kerangka hidup bersama dalam satu negara
mudah menjadi sumber nilai serta norma. Bila negara dalam bahaya atau merasa dihina oleh negara lain, nilai-nilai itu bisa sampai bergejolak. Demikian halnya, kalau dilihat dalam konteks sosial. Kalau kita melihat hal yang sama dari segi individual, bisa saja terjadi bahwa nilai-nilai dan norma-norma itu disadari oleh seorang tertentu, karena ia pindah ke daerah lain.
Di Indonesia pun sudah sejak dulu terdapat variasi kecil-kecilan di berbagai daerah, sejauh menyangkut nilai dan norma. Misalnya, dalam bidang pergaulan antara muda-mudi dan hubungan antara anak dan orang tua. Bila seorang muda menjadi mahasiswa dan karena itu untuk pertama kali dalam hidupnya keluar dari naungan keluarga serta ketertutupan daerahnya, ia dapat merasakan perbedaan itu. Perbedaan bisa dirasakan lebih tajam lagi, bila perpindahan itu bukan saja dari satu daerah ke daerah lain tapi sekaligus juga dari daerah pedesaan ke kota besar.
Apalagi, bila seorang muda disekolahkan ke luar negeri. Bisa sampai terkena cultural shock.
Pengalaman-pengalaman serupa itu selalu sudah terjadi dan bukan merupakan hal baru.
Dalam masyarakat tradisional pun berlangsung hal-hal sedemikian. Tapi sekarang ini keadaan masyarakat tradisional itu hampir tidak ada lagi. Praktis tidak terdapat lagi masyarakat yang homogen dan tertutup. Suatu contoh bagus tentang perubahan seperti ini adalah kebiasaan di banyak masyarakat tradisional bahwa orang tua memilih jodoh bagi anaknya, Di Indonesia pun kebiasaan ini pernah tersebar luas. Dalam sastra Indonesia gejala itu tampak dengan jelas. Antara tahun 1920 dan 1940 banyak novel bertemakan kawin paksa dan campur tangan orang tua dalam pernikahan anaknya. Sekarang diakui secara umum hak seorang muda untuk memilih teman hidupnya sendiri. Perjuangan hak yang tercermin dalam sastra Indonesia ini menandai peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
Jika kita memandang situasi etis dalam dunia modern terutama tiga ciri yang menonjol.
Pertama, kita menyaksikan adanya pluralisme moral. Dalam masyarakat yang berbeda sering terlihat nilai dan norma yang berbeda pula. Bahkan masyarakat yang sama bisa ditandai oleh pluralisme moral. Kedua, sekarang timbul banyak masalah etis baru yang dulu tidak terduga.
Ketiga, dalam dunia modern tampak semakin jelas juga suatu kepedulian etis yang universal.
Mari kita memandang tiga ciri ini secara lebih rinci.
Pluralisme moral terutama dirasakan karena sekarang kita hidup dalam era komunikasi.
Konon, ketika Christopher Columbus menemukan benua Amerika (1492), bosnya di Eropa-raja Spanyol-baru mendengar tentang kejadian itu sesudah 5 bulan. Ketika Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, dibunuh (1865), kabar itu baru sampai di Eropa sesudah 12 hari. Kini melalui
media komunikasi modern informasi dari seluruh dunia langsung memasuki rumah-rumah kita, sebagaimana juga kejadian kejadian di dalam masyarakat kita segera tersiar ke segala pelosok dunia. Suka tidak suka, bersama dengan menerima informasi sebanyak itu kita berkenalan pula dengan norma dan nilai dari masyarakat lain, yang tidak selalu sejalan dengan norma dan nilai yang dianut dalam masyarakat kita sendiri.
Dunia usaha juga sudah hampir tidak mengenal perbatasan negara, sehingga banyak sekali manajer, konsultan dan teknisi berkeliling dari satu negara ke negara lain, sebagai karyawan salah satu perusahaan multinasional. Atau kita lihat saja betapa banyak orang Indonesia pernah menuntut ilmu di luar negeri atau sekarang sedang menjalani studi di luar negeri. Tidak dapat disangkal, masyarakat kita yang sudah sejak dulu diwarnai "kebhinekaan"
sekarang berjumpa dengan kemajemukan norma dan nilai seperti hampir semua masyarakat di dunia. Kemajemukan itu menyangkut nilai dan norma dalam praktek-praktek bisnis, umpamanya, tapi juga dalam bidang yang sama sekali lain seperti seksualitas serta perkawinan.
Kita lihat, ada beberapa masyarakat yang lebih liberal dan permisif daripada masyarakat lain tentang hubungan seksual sebelum perkawinan, hubungan homoseksual, pornografi, dan sebagainya.
Ciri lain yang menandai situasi etis di zaman kita adalah timbulnya masalah-masalah etis baru, yang terutama disebabkan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya ilmu-ilmu biomedis. Di antara masalah-masalah paling berat dapat disebut:
apa yang harus kita pikirkan tentang manipulasi genetis, khususnya manipulasi dengan gen-gen manusia; apa yang bisa dikatakan tentang reproduksi artifisial seperti fertilisasi in vitro, entah dengan donor atau tanpa donor, entah dengan ibu yang "menyewakan" rahimnya atau tidak, apakah kita bisa menerima eksperimen dengan jaringan embrio untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer-umpamanya entah jaringan itu diperoleh melalui abortus yang disengaja atau abortus spontan?
Ciri ketiga adalah suatu kepedulian etis yang tampak di seluruh dunia dengan melewati perbatasan negara. Globalisasi tidak saja merupakan gejala di bidang ekonomi, tapi juga di bidang moral. Kita menyaksikan adanya gerakan-gerakan perjuangan moral yang aktif pada taraf internasional. Bisa dalam bentuk kerja sama antara Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, bisa juga dalam bentuk kerja sama antara DPR dari beberapa negara atau serikat- serikat buruh, dan sebagainya. Lebih penting lagi adalah suatu kesadaran moral universal yang
tidak terorganisir tapi tampak di mana-mana. Ungkapan-ungkapan kepedulian etis yang terorganisir malah tidak mungkin tanpa dilatarbelakangi oleh kesadaran moral yang universal itu.
Gejala paling mencolok tentang kepedulian etis adalah Deklarasi Universal tentang Hak- hak Asasi Manusia yang diproklamasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 10 Desember 1948. Proklamasi ini pernah disebut kejadian etis yang paling penting dalam abad ke-20.
Deklarasi tersebut tidak merupakan pernyataan hak-hak yang pertama dalam sejarah, tapi merupakan pernyatan pertama yang diterima secara global karena diakui oleh semua anggota PBB. Dan tanpa memandang isinya, hal ini sudah merupakan suatu fenomen yang luar biasa.
Kepedulian etis yang sama tampak juga dalam bentuk universal, karena banyak masalah etis yang baru ditandai universalitas juga, artinya, berlaku untuk seluruh dunia. Di sini dimaksudkan terutama masalah-masalah etis yang berkaitan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, masalah lingkungan hidup dan sebagainya.
Gejala kepedulian etis yang universal, sepintas agak bertentangan dengan pluralisme moral tadi. Untuk sebagian pertentangan itu memang ada dan menjadi semacam kontradiksi implisit yang sering ditemukan pada taraf sosial. Tapi untuk sebagian lain pluralisme moral dan kepedulian etis itu tidak bertentangan karena menyangkut dua lingkup yang berbeda. Pluralisme moral itu terutama menyangkut lingkup pribadi. Bagaimana dua orang yang menyetujui, menghayati homoseksualitas mereka bisa diserahkan kepada keputusan pribadi orang-orang itu sendiri karena tidak mengganggu kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan. Di sini tidak dilanggar hak orang lain. Tapi kepedulian etis yang universal terutama menyangkut lingkup umum, artinya, hal-hal yang bisa diserahkan kepada keputusan pribadi. Misalnya, penyiksaan terdakwa yang diduga terlibat dalam tindakan kriminal tidak pernah bisa diterima sebagai metode interogasi polisi, karena menyangkut lingkup moral umum yang tidak bisa diserahkan kepada selera pribadi polisi. Di sini selalu ada korban yang dilanggar haknya.
Situasi moral dalam dunia modern itu mengajak kita untuk mendalami studi etika.
Rupanya studi etika itu merupakan salah satu cara yang memberi prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang. Adalah Sokrates dan Plato yang menunjukkan jalan keluar dari kemelut moral itu. Mereka mengusahakan suatu pendasaran rasional bagi norma- norma itu. Untuk pertama kali dalam sejarah, mereka mempergunakan rasio untuk meletakkan dasar bagi norma-norma etis dan dengan demikian mereka memulai etika filosofis. Bagi kita pun tidak ada jalan lain daripada rasio untuk memecahkan masalah-masalah moral yang kita hadapi
sekarang ini. Menempuh cara hidup yang etis, berarti mempertanggungjawabkan perilaku kita berdasarkan alasan- alasan, berdasarkan rasio.
Berkaitan dengan etika terapan, etika terapan merupakan suatu istilah baru, tapi sebetulnya yang dimaksudkan dengannya sama sekali bukan hal baru dalam sejarah filsafat moral. Sejak masa Plato dan Aristoteles, sudah ditekankan bahwa etika merupakan filsafat praktis, artinya, filsafat yang ingin memberikan penyuluhan kepada tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang harus kita lakukan.
Pentingnya etika terapan sekarang ini tampak juga karena tidak jarang jasa ahli etika diminta untuk mempelajari masalah-masalah yang berimplikasi moral. Hal itu terutama terjadi jika pemerintah suatu negara ingin membuat peraturan hukum tentang suatu masalah baru atau mengubah ketentuan hukum yang sedang berlaku. Etika terapan dapat menyoroti suatu profesi atau suatu masalah. Sebagai contoh tentang etika terapan yang membahas profesi dapat disebut:
etika kedokteran, etika politik, etika bisnis, dan sebagainya. Di antara masalah-masalah yang dibahas oleh etika terapan: pornografi dan sensor film, pembuahan in vitro atau bayi tabung, pembuatan, pemilikan dan penggunaan senjata nuklir, pencemaran lingkungan hidup, diskriminasi dalam segala bentuknya (ras, agama, jenis kelamin, dan lain-lain). Mendengar topik-topik ini, sudah jelaslah kiranya bahwa etika terapan dalam masyarakat modern sekarang ini disibukkan dengan banyak persoalan yang penting dan mendesak.
LATIHAN SOAL
1. Apa itu etika?
2. Bagaimana etika dihadapkan pada era modern saat ini?
3. Berikan contoh isu etis terkait etika terapan yang terjadi saat ini?
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K. (1993). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
PP HIMPSI (2010). Buku Saku Kode Etik Psikologi Indonesia. Jakarta: Himpunan Psikologi Indonesia