Teori Halal Supply Chain &
Pengembangan Agroindustri Halal
PERTEMUAN KE – 8
MK Manajemen Produk Halal (MPH) 2021
1. Teori Halal Supply Chain a) Definisi
b) Pentingnya Halal Supply Chain c) Halal Supply Chain Management d) The Model
2. Pengembangan Agro-industri Halal:
a) Faktor Internal & Eksternal b) Faktor Intrinsik & Ekstrinsik c) Strategi
OUTLINE
Teori Halal Supply Chain
Definisi
Definisi:
Halal Supply Chain (HSC) adalah pengelolaan Halal Network dengan tujuan meningkatkan integritas halal dari sumber produksi sampai kepada konsumen.
(Source: Malaysia Standard).
Jadi Halal tidak hanya berlaku pada product nya tapi lebih lagi kepada semua proses yang terlibat dari produksi, transportasi, storing,
distribusi, sampai ke tangan konsumen.
Supply Chain dan Supply Chain Management:
Definition
• A supply chain is the network of all the
individuals,organizations, resources, activities and technology involved in the creation and sale of a product, from the delivery of source materials from the supplier to the manufacturer,
through to its eventual delivery to the end user.
• The supply chain segment involved with getting the finished
product from the manufacturer to the consumer is known as the distribution channel.
• Supply chain management (SCM) is the supervision of
materials, information, and finances as they move in a process from supplier to manufacturer to wholesaler to retailer to
consumer.
• The three main flows of the supply chain: (i) product flow;
(ii) information flow; (iii) finances flow.
Halal Supply Chain
Management
•Supplier’s Obligation:Many suppliers ALL must provide halal Materials
Little suppliers they CONTIONOUSLY supply materials
• Transformation system (from raw
materials to end products) ALL steps of transformation in
PRODUCTION (from raw to end product) MUST be clearly DOCUMENTED in Halal Assurance System
(HAS) so they can be evaluated properly.
•Distribution system:
There are several bodies in the system Meaning that halal status must be
evaluated/ controlled in ALL involved bodies
Thus, it has include all services (such as importer, distributor, transporter, retailer)
The Model
Halal Policy
Halal membutuhkan komitmen dari Top Management (i.e Pemerintah) melalui Kebijakan Halal, yang merupakan dasar pengorganisasioan rantai pasok (supply chain), dengan membangun HSC yang terintegrasi.
Kebijakan Halal meliputi:
•(1) kewajiban organisasi/perusahaan melindungi integritas sepanjang rantai pasok (supply chain);
•(2) Scope sertifikat halal dari perusahaan;
•(3) Jaminan terhadap konsumen atau customer; and (the promise);
•(4) Metode penjaminan/ mekanisme kontrol (the control mechanism).
Supply chain objectives:
•diformulasikan khususnya untuk parameter yang berkaitan
langsung dengan proses halal supply chain model ( yaitu:logistics control, supply chain resources, supply chain business processes, supply chain network structure and halal performance).
•dapat berorientasi eksternal (disebut juga customer service objectives, misalnya reduction of supply chain lead-times) atau berorientasi internal (disebut juga logistics objectives, misalnya consolidation of halal cargo flows).
•Formulasi supply chain objectives yang bagus merupakan kunci, karena ada langkah strategis antara supply chain objectives and design parameters.
Logistics control
•merupakan detak jantung dari Halal Supply Chain Model,
merupakan koordinator (planning and control) dari aliran barang untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
•Penelitian menunjukkan bahwa Koordinasi lebih kompleks di
negara-negara non-muslim dan lebih kritis untuk produk-produk yang sensitif halal (misalnya yang berasal dari hewan).
Supply chain resources
•Menjelaskan struktur organisasi dan manajemen informasi.
•Untuk organisasi yang melakukan sertifikasi (Halal Committee) perlu dibentuk, yang bertanggung jawab menilai manajemen dan
pelaksanaan sesuai dengan Standard Halal.
•Halal Committe ini membuat Draft kebijakan halal dan memonitor Halal Compliance.
•Manajemen Informasi penting untuk membagikan Status Halal melalui Supply chain.
•Berdasarkan the International Halal Logistics Standard IHLAS 0100:2010, kode internasional 'halal supply chain' perlu
mencantumkan labels, dokumen transportasi (freight documents) dan IT systems nya.
Supply chain business processes:
•Menjelaskan tentang sumber, alur pengelolaan manufaktur, dan distribusi.
•Untuk sumber dan distribusi, dimaksudkan tingkat pemisahan yang diperlukan pada transportasi, penyimpanan dan penanganan pada terminal laut udara dan darat.
•Pemisahan tersebut secara spesifik dijelaskan pada “the
international halal logistics standard IHIAS 0100:2010 (see blog The International Halal Logistics Standard: IHIAS 0100:2010).
Product characteristics and market
requirements
•Penting dalam pengorganisasian “halal supply chains”.•Bulk and cool chain (misalnya chilled, frozen products) are considered more sensitive.
•Tingkat pemisahan lebih ketat pada produk-produk yang sensitif dari pada yang kurang sensitif.
•Persyaratan Pasar juga penting dipenuhi, dimana negara-negara Muslim lebih ketat dalam memilah-milah produk dibandingkan produk2 untuk negara-negara Non-muslim.
•Hal ini dalam rangka meminimalkan kesulitan yang akan ditemui pada Pasar negara Muslim, dan juga untuk memenuhi
persyarakatan khusus pada pasar Muslim berdasarkan Syariah, fatwa Ualam, dan kebudayaan lokal masyarakat.
Halal supply chain performance:
•Perlu EFFECTIVE (memenuhi kualitas processing, dan juga meminimalkan buangan/ waste).
•Perlu EFFICIENT (biaya murah, dan penggunaan yang bermanfaat) dan:
•Perlu ROBUST (sedikit yang ditolak kehalalan nya, dan ketersediaan halal aset yang tinggi).
•HSC yang optimal harus mempunyai langkah strategis antara kebijakan perusahaan, kebijakan halal, tujuan Supply Chain, dan parameter logistik, dan juga penggabungan antara karakteristik produk & persyaratan pasar, serta parameter logistik.
Pengembangan Agro-Industri Halal
Definisi
• Agroindustri adalah bagian atau salah satu sub-sistem agribisnis yang memperoleh dan mentransformasikan bahan-bahan hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi maupun barang jadi yang langsung dikonsumsi (Gumbira-Sa’id dan Intan, 2004).
Faktor Internal & Eksternal
Menurut Purnomo (2011), Faktor Internal dan Eksternal berperan penting dalam peningkatan daya saing produk agroindustri halal di Indonesia. Faktor-faktor Internal meliputi:
Sumberdaya alam sebagai sumber bahan baku;
Kemampuan lembaga sertifikasi
Sistem sertifikasi halal
Tingkat keyakinan kehalalan produk2 halal
Jumlah pelaku industri halal
Advokasi internasional dan lokal
Sarana dan prasarana riset dan teknologi
Infrastruktur logistik dan jejaring kelembagaan
Faktor Internal & Eksternal
Sedangkan faktor-faktor Eksternal terdiri dari:
• peluang kebijakan dan komitmen pemerintah
• tingkat kesadaran masyarakat dan industri,
• tingkat inovasi dan daya saing produk,
• nilai tambah dan dampak ekonomi,
• besarnya potensi pasar produk-produk halal,
• pengaruh pasar bebas,
• tingkat penerimaan lembaga internasional atas standar yang dikembangkan,
• dinamika global dan makroekonomi dunia, serta
• sistem sertifikasi halal asing
Faktor-faktor Intrinsik produk dalam pengembangan agroindustri halal merupakan faktor- faktor penting yang menjadi fokus perhatian utama konsumen dalam memilih produk halal yang akan dikonsumsi atau digunakannya serta berkaitan langsung dengan karakteristik produknya.
Faktor-faktor tersebut meliputi:
1) Penampilan Produk, 2) Rasa, 3) Harga, 4) Mutu, 5) Variasi, Produk, 6) Cara Penyajian, 7) Apresiasi Konsumen dan 8) Level of trust.
Penilaian terhadap faktor intrinsik produk dilakukan pada lima kelompok produk-produk halal yang dikaji yakni 1) Produk Daging, (2) Produk makanan dan minuman olahan, (3) Produk mikrobial, (4) Produk seasoning dan flavour, serta (5) Produk kosmetik dan obat-obatan.
Malaysia dan Thailand lebih unggul dari segi Instrinsik, tapi Indonesia tidak terlalu kalah bersaing. Indonesia cukup unggul dalam hal harga, rasa, variasi produk dan level of trust.
(Purnomo 2011).
Faktor-Faktor
Intrinsik
Faktor-faktor ekstrinsik kelembagaan merupakan faktor penunjang diluar faktor-faktor instrinsik yang disebutkan sebelumnya. Faktor- faktor ini terdiri dari: 1) Kebijakan dan komitmen pemerintah, 2)
Tingkat kesadaran masyarakat dan industri, 3) Advokasi internasional dan lokal, 4) Tingkat inovasi dan daya saing produk, 5) Kemampuan
lembaga sertifikasi, 6) Riset dan penguasaan teknologi, 7) Ketersediaan bahan baku, 8) Potensi pasar, 9) Jejaring kelembagaan, 10)
Infrastruktur logistik, 11) Sistem sertifikasi halal, dan 12) Kekuatan dan jumlah pelaku industri halal.
Faktor-faktor Ekstrinsik
Strategi Pengembangan Agro-industri Halal di Indonesia
•
Berdasarkan penelitian Purnomo (2011), Agroindustri halal Indonesia memiliki beberapa faktor yang kondisinya
mendekati ideal seperti potensi pasar yang besar,
kemampuan lembaga sertifikasi, ketersediaan bahan baku dan sistem sertifikasi yang paling unggul di dunia,
•
Sedangkan faktor infrastruktur menjadi faktor dengan kondisi eksiting terburuk dan tingkat urgensi yang paling tinggi.
•
Faktor lain yang perlu segera diatasi adalah kemampuan
riset atau penelitian dan pengembangan, tingkat inovasi,
kemampuan advokasi, serta komitmen pemerintah yang
rendah.
Strategi Pengembangan Agro- industri Halal di Indonesia
7.
8.
1. Pembangunan infrastruktur logistik yang kompatibel dengan konsep halal,
2. Perbaikan perundang-undangan dan rencana pembangunan jangka panjang,
3. Peningkatan koordinasi antar pemangku kebijakan dan kepentingan,
4. pengembangan kemampuan advokasi dan jejaring kerjasama perdagangan,
5. Peningkatan daya saing produk halal dalam negeri,
6. Peningkatan penguasaan penelitian dan pengembangan agroindustri halal, Peningkatan kesadaran masyarakat dan industri dan
Penciptaan halal champions.