• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Money Politics Orde Baru

N/A
N/A
22-002 Inda susanti

Academic year: 2024

Membagikan "Pola Money Politics Orde Baru"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

NAMA : INDA SUSANTI NIM : 220901002 KELAS :B (SOSIOLOGI)

MATKUL :SOSIOLOGI POLITIK

PENGERTIAN PARTAI POLITIK

Orde Baru adalah kekuasaan material yang terkonsentrasi atau disebut klientelisme ekonomi. Klientelisme ekonomi berhasil dilakukan karena melimpahnya sumber daya ekonomi dari hasil ekspor minyak dan hasil alam lainnya.Orde Baru mengembangkan pola

"money politics" untuk mendapatkan loyalitas etite politik. Insentif-insentif ekonomi kemudian ditawarkan kepada elite politik yang loyal. Orde Baru berupaya mmemanfaatkan birokrasi sebagai primium mobile alias penggerak utama pembangunan (Mas'oed, 1989;

150).

Menurut Bremmer (2013; 18),kediktatoran mustahil bisa bertahan lama karena Otoritarianisme bertentangan dengan hasrat alami manusia untuk bebas. Masyarakat yang hidup di bawah bayang- bayang represi pemerintah ibarat bom waktu yang suatu saat akan meledak. Hal ini dilakukan dengan cara menciptakan tipe birokrat yang lebih aktif dan tanggap terhadap kepentingan Orba. Birokrasi juga difungsikan secara luas dan rapi untuk memuluskan program-program pembangunan.

Menurut Thomas P.Jenkin politik adalah Teori-teori yang mempunyai dasar moril dan menentukan norma-norma politik. Hal ini Karena adanya unsur norma-norma dan nilai, maka teori-teori ini boleh dinamakan valuitonal (mengandung nilai). Yang termasuk golongan ini antara lain filsafat politik, teori politik sistematis, ideologi dan sebagainya.

Fungsi Partai Politik Sebagai Sarana Pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara .Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. Penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara.

(2)

PERAN POLITIK DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA PADA MASA ORDE LAMA DAN ORDE BARU

kebijakan Pendidikan Nasional Orde Lama Ketika Dewan Konstituante hasil pemilihan umum tahun 1955 yang diberi tugas untuk menyusun Undang-undang Dasar baru belum juga dapat menyelesaikan tugasnya, Presiden Soekarno mengajukan konsep

”Demokrasi Terpimpin”, dengan mendekritkan berlakunya kembali Undang-undang.

Pendidikan yang dilaksanakan adalah pendidikan Manipolis. Pendidikan Manipolis bertujuan melahirkan tenaga-tenaga ahli yang patriotik, demo-kratis dan manipolis. Sistem pendidikan berwatak manipolis harus menyiapkan manusia baru kader pembangunan yang ahli, patriot, demokrat serta bercita-cita sosialisme. Tujuannya adalah memben-tuk tenaga ahli dalam pembangunan untuk melahirkan warganegara yang berjiwa Pancasila dan patriot komplit.

Dalam Penpres itu dinyatakan, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah melahirkan warga negara-warga negara sosialis Indonesia yang susila, yang bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual maupun materil dan berjiwa pancasila. Oleh karena politik pendidikan nasional adalah Manifesto Politik Republik Indonesia, maka garis dan strategi dasar pelaksanaan Pendidikan Nasional Demokratis harus Berdasarkan tujuan, isi moral dan politik pendidikan nasional tersebut, jelas menggambarkan bahwa suasana kependidikan saat itu mengharuskan pemerintah Indonesia dengan segala daya yang dimiliki dikerahkan untuk mensukseskan dalam istilah yang dijelaskan Presiden Soekarno bahwa ‘revolusi yang belum selesai’

Kebijakan dan pelaksanaan pendidikan di Indonesia tidak mungkin lepas dari kebijakan politik. Demikian pula saat politik menjadi “panglima” pada era Orde Lama, pendidikan harus berwatak manipolis. Dalam pendidikan manipolis, seorang guru harus revolusioner, ahli dalam bidangnya, manipolis dan patriot paripurna. Di antara syarat-syarat itu, maka syarat ke-revolusioneran guru adalah nomor satu, sedangkan yang lainnya menduduki nomor dua dan seterusnya. Watak guru yang revolusioner adalah memiliki rasa kebencian terhadap imperialisme, kolonialisme, neoklonialisme dan feodalisme. Hal itu dapat dipahami karena situasi politik Indonesia pada masa Orde Lama yang “dipaksa” mendukung manipol .Oleh karena itu dalam situasi yang demikian, kinerja guru lebih diarahkan pada melakukan indoktrinasi kepada peserta didik bagaimana praksis pendidikan manipolis dan Pancawardha nais ketimbang pada pendidikan berpikir.

(3)

Bentuk pendidikan dan pemberdayaan yang berasal dari dalam partai hanyalah berupa diklat-diklat dan pelatihan kader bersama yang diperuntukkan secara umum bagi anggota dan kader laki-laki dan perempuan. Namun pendidikan dan pemberdayaan ini bersifat umum, bukan pendidikan politik khusus terhadap perempuan, sehingga tidak akan ditemukan materi-materi yang terkait kebutuhan politik perempuan seperti kepemimpinan perempuan, hak-hak dan situasi politik perempuan, strategi pemenangan bagi perempuan .Sedangkan bentuk pendidikan politik yang memanfaatkan media khusus untuk perempuan, tidak terdapat di dalam partai. Hal yang sangat ironi adalah pelaksanaan pendidikan politik bagi masyarakat dan konstituen perempuan oleh partai politik mengakui bahwa partai sangat jarang bahkan tidak pernah melakukan pendidikan politik bagi masyarakat dan konstituen perempuan.

Historiografi pada buku teks pelajaran sejarah pada masa Orde Baru yang dianggap sebagai muatan legitimasi rezim pada masa itu segera di revisi dan beberapa peranan tokoh yang semula dikaburkan dalam penulisannyasegera di rekontruksi kembali .Dalam buku tekssejarah, bukan saja konsep Reformasi bermakna dan diopinikan baik, sedangkan zaman pemerintahan Orde Baru (1966-1998) bersifat buruk, melainkan juga para pembacanya diarahkan untuk menyetujui sikaptim penulis yang adalah juga sikap resmi pemerintah, bahwa pemerintahan Orde Baru yang buruk itu harusdikoreksi oleh pemerintahan Reformasi (1998-sekarang).dalam buku teks pelajaran sejarah merupakan suatu narasi yang memaparkan pristiwa sejarah yang penyusunannya di tujukan utuk keperluan pendidikan sehingga selalu terikat denganketentuan yang ada dalam kurikulum pada masanya. Sehingga wajar jika dalam setiappergantianrezim dan perubahan arus politik, buku-buku teks sejarah juga akan di revisi sesuai dengantuntutan pada masa itu.Perubahan buku teks pelajaran sejarah itu dapat kita lihat pada masa Orde Baru menuju masa ReformasiSelanjutnya pada masa Reformasi, penulisan yang dianggap keliru pada buku teks pelajaran sejarah tersebut di revisi dan direkontruksi kembali, sesuai dengan kebutuhan pada masa reformasi. Sistem politik yang dilakukan pada masa orde baru dilakukan dengan hati-hati melalui cara yang formal sehingga tampak konstitusional. Karena pada masa ini menyediakan peraturannya terlebih dahulu sebelum melakukan suatu tindakan hukum. Hal ini dilakukan dengan menggunakan kewenangannya yang sangat besar dan tangan-tangan yang diletakkan di MPR dan DPR. tujuannya untuk memperkuat otoriterisme dengan TAP MPR dan Undang-Undang. Walaupun secara

(4)

konstitusional apa yang dilakukan oleh Soeharto dapat dianggap benar, namun secara subtansial tidak sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung didalam konstitusi.

Perbedaan politik tahun 1999 dalam partisipasi masyarakat pada orde Lama sampai orde baru

Pergerakan dalam bentuk partai politik melejit dalam menyongsong kemerdekaan, bahkan berkembang pesat seiring dengan gelombang demokratisasi melalui gerakan reformasi 1998 yang berujung pada percepatan pemilu pada 1999 serta tuntutan amendemen konstitusi (Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945) menuju demokrasi (Riwanto, 2016, 30). Sebagaimana dijelaskan di awal, partai politik di Indonesia mengalami pasang-surut pada awal-awal kemerdekaan dan reformasi. Kondisi demikian dipengaruhi oleh ketidakstabilan pemerintahan yang beberapa kali mengalami pergantian sistem pemerintahan. Ketidakstabil terlihat, misalnya, dalam pemilu pertama pada 1955 untuk DPR sebanyak 118 peserta, yak terdiri atas 36 partai politik, 34 organisasi kema syarakatan, dan 48 perorangan. Sementara untuk pemilu anggota konstituante sebanyak 91 peserta, yang terdiri atas 39 partai politik, 23 organisasi kemasyarakatan, dan 29 perorangan.

Namun, seiring usainya pemilu berlangsung, jumlah partai politik berkurang tidak lebih dari 40 partai.Menurut Syamsudin Haris (2014, 23), de- mokrasi parlementer yang diterapkan pada era Soekarno, sebagai suatu eksperimen politik, gagal mewujudkan harapan bahwa Pemilu 1955 dapat menyelesaikan krisis politik nasional pada waktu itu. Hal ini disebabkan oleh pengaruh tekanan dari Presiden Soekarno dan militer, yang akhirnya menghentikan eksperimen terhadap sistem parle- menter. Hingga pada akhirnya masa demokrasi parlementer berakhir setelah Soekarno menge- luarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, yakni perihal pembubaran konstituante dan kembali berlakunya UUD 1945. Situasi politik pada masa itu kacau dan tidak stabil, konstituante dianggap tidak mampu menetapkan undang-undang dasar, sementara Indonesia masih menggunakan UUD yang dianggap pemerintahan demokrasi liberal pada masa itu tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat.

Selain itu, ada desakan dari militer agar Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit, yakni untuk kembali pada UUD 1945 dan mem- bubarkan konstituante. Keadaan yang genting inilah alasan dikeluarkannya Dekrit Presiden. Peristiwa ini sekaligus mengantarkan Indonesia ke masa demokrasi terpimpin/Orde Lama-era otoritarianisme.

Masa Orde Lama menorehkan sejumlah persoalan yang justru berkebalikan dari apa yang dihadapi oleh masa demokrasi liberal. Kekua- saan Presiden sangat luas dan menonjol,

(5)

segala kewenangan yang semula dijalankan oleh DPR menjadi kewenangan presiden. Jumlah partai politik, yang semula begitu banyak pada masa de- mokrasi liberal, kemudian hanya tersisa 10 partai .Sebegitu terbendungnya demokrasi pada masa Orde Baru menyebabkan derasnya kemunculan berbagai macam partai politik. Persoalannya, partai politik yang bermunculan perlu dipertanyakan esensi dan ideologi yang melatar belakanginya. Bagaimana tidak, nama- nama partai politik pada saat itu cukup menyita perhatian karena keunikannya, bahkan penulis berpendapat nama-nama partai politik terkesan satire. Misalnya Partai Seni dan Dagelan In- donesia. Partai Dua Syahadat, Partai Orde Asli Indonesia, dan sebagainya (Ma'shum, 2001, 41)

pada 1999. Kondisi ini terjadi lantaran runtuh- nya kekuasaan Soeharto yang disebabkan oleh memuncaknya tuntutan mahasiswa, masyarakat, dan elite agar Soeharto turun dari jabatannya. Kemudian, di bawah Presiden B.J. Habibic, Indonesia masuk ke gerbang reformasi, dan Pemilu 1999 pun dilaksanakan. Dasar hukum terkait dengan penyelenggaraan pemilu juga mengalami reformasi, yang ditandai dengan Lahirnya Undang-Undang No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik; Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum; serta Undang-Undang No. 4 Tahun 1999 tentang Su- sunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. yang kemudian peraturan inilah yang melandasi pelaksanaan pemilu. Masa reformasi seolah membuka keran demokrasi yang selama masa Orde Baru ter- bendung.

Tuntutan demokrasi dijadikan dasar bagi kelompok-kelompok untuk membentuk partai politik sehingga sistem multipartai kembali bangkit. Kondisi ini menyebabkan membeludak- nya jumlah partai politik yang mendaftarkan diri sebagai peserta Pemilu 1999. Sementara itu, sistem pemilu era reformasi ini masih sama den gan pemilu sebelumnya, yakni sistem perwakilan berimbang (proporsional) dengan stelsel daftar. dengan berdasarkan pada Pasal 1 ayat 7 Undang- Undang No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum,Pemilu selanjutnya dilakukan lima tahun setelahnya, yakni pada 2004. Terdapat banyak perubahan yang dimaksudkan untuk perbaikan dalam penyelenggaraan Pemilu 2004. Pertama, perbaikan terhadap landasan hukum penyeleng- garaan, yakni Undang-Undang Partai Politik (sebagaimana dijelaskan pada bagian partai poli- tik): Undang-Undang No. 3 Tahun 1999 diubah menjadi Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD; serta untuk pertama kalinya terdapat Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Pre- siden dan Wakil Presiden, yakni Undang-Undang No. 23 Tahun 2003.Kedua, berbeda dengan penyelenggaraan pemilu sebelum-sebelumnya, Pemilu 2004

(6)

diselenggarakan oleh KPU, yang dipilih oleh pre-presiden dengan persetujuan DPR.

Sementara KPU.

Hak pendapat seseorang dalam berbicara politik

Alasan seseorang tidak mengungkapkan pendapatnya dalam politik yakni karena tidak adanya Keberanian dalam menyampaikan pendapat yang merupakan hak melekat pada setiap individu.Kebebasan berpendapat digunakan untuk menyampaikan pandangan dan pendapat, baik antar individu atau kelompok (Wiratraman, 51: 2016). Media sosial dapat membantu seseorang dalam menyampaikan pendapat dalam bentuk perkembangan teknologi informasi komunikasi yang merupakan sarana komunikasi yang tidak dapat diabaikan keberadaannya. Media sosial dapat membantu seseorang dalam penyampaian argument sebagai ruang publik untuk merealisasikan kebebasan berekspresi dan berpendapat yang mendorong negara demokrasi yang partisipatif. Hal ini dikatakan sebagai hak Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi Dalam Ruang Publik di Era Digital

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Journal unnes :KEBIJAKAN ORDE LAMA MEMASUKI DOMAIN PENDIDIKAN Journal bina bangsa getsempena :Pendidikan politik perempuan

Journal unp :Perkembangan Historiografi Buku Teks SejarahDi Indonesia Masa Orde Baru Hingga Reformasi

Journal adhikari:DINAMIKA SISTEM POLITIK OTORITARIANISME ORDE BARU Journal sekolah tinggi hukum Painan:POLITIK REFORMASI HUKUM: PEMBENTUKAN SISTEM HUKUM NASIONAL YANG DIHARAPKAN

Journal dpr :REFORMASI PARTAI POLITIK DAN SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA

Journal masyarakat Indonesia:PENGUATAN DEMOKRASI: PARTAI POLITIK DAN (SISTEM) PEMILU SEBAGAI PILAR DEMOKRASI

Journal UIN jakarta:Hak Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi Dalam Ruang Publik di Era Digital

Journal unsrat:PEMILU DAN PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT (Studi Pada Pemilihan Anggota Legislatif Dan Pemilihan Presiden Dan Calon Wakil Presiden Di Kabupaten Minahasa Tahun 2014)

Journal unusia:Pelajaran dari Pemilihan Umum 1999

Journal unri:Dinamika Partai Politik di Indonesia:Pra Kemerdekaan dan Orde Lama Journal umgo:Demokrasi dan sistem kepartaian diindonesia

Referensi

Dokumen terkait

Jikalau rezim reformasi yang menggantikan rezim Orde Baru tidak mengubah secara mendasar paradigma pembangunan ekonomi dan juga tidak

Perkembangan politik era pratransisi ditandai dengan gerakan prodemokrasi dan hak asasi manusia yang ternyata menuntut rezim Orde Baru untuk melakukan inovasi

Politik yang dijalankan oleh orde baru terhadap Islam jelas sekali membawa.. pengaruh terhadap perkembangan islam pada

menuangkannya dalam skripsi yang berjudul “PERAN POLITIK MILITER (ABRI) ORDE BARU TERHADAP DEPOLITISASI POLITIK ISLAM DI INDONESIA “(Studi hegemoni politik

Selain orang kuat lokal, aktor lain yang memainkan peranan politik baru setelah Orde Baru di Medan adalah para pengusaha tingkat menengah yang paling tidak sebahagiannya

pilihan-pilihan kebijakan otonomi daerah, khususnya pada era Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba) dipengaruhi oleh konfigurasi politik pada saat itu yaitu jika

Banyaknya jumlah parpol yang berpartisipasi dalam pemilu juga diakibatkan karena pasca Orde baru pemerintah memberi kebebasan kepada masyarakat untuk mendirikan partai politik

Perubahan politik dari yang bersifat otoriter pada masa demokrasi terpimpin di bawah Presiden Soekarno menjadi lebih demokratis pada Orde Baru.. Rakyat percaya terhadap pemerintahan