• Tidak ada hasil yang ditemukan

pola pengelolaan bumdes syari'ah dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pola pengelolaan bumdes syari'ah dalam"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh:

HURATUL AINI NIM. 170502262

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2021

(2)

ii

POLA PENGELOLAAN BUMDES SYARI’AH DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT

(STUDI KASUS DI DESA KEMBANG KUNING KEC. SIKUR KAB.

LOMBOK TIMUR) SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

HURATUL AINI NIM. 170502262

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM

(3)

iii 2021

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi oleh HURATUL AINI, NIM : 170502262 dengan judul “Pola Pengelolaan Bumdes Syari’ah dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Studi Kasus di Desa Kembang Kuning Kec.Sikur Kab.Lombok Timur. Telah Memenuhi Syarat dan Disetujui untuk Diuji. Disetujui Pada Tanggal...,

Di bawah bimbingan :

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Riduan Mas’ud, M.Ag Hj. Suharti, M.Ag.

NIP. 197111102002121001 NIP. 197606062014122002

(4)

iv

NOTA DINAS PEMBIMBING Mataram,2021

Hal: Ujian Skripsi Yang Terhormat

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di Mataram

Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, Kami berpendapat bahwa skripsi Saudara:

Nama Mahasiswa : Huratul Aini

NIM : 170502262

Jurusan/Prodi : Perbankan Syariah

Judul : Pola Pengelolaan Bumdes Syari’ah Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Studi Kasus Di Desa KembangKuning Kec.Sikur Kab.Lombok Timur”

telah memenuhisyarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah ujian skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mataram. Oleh karena itu, Kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.

wassalammu’alaikum, wr. wb.

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Riduan Mas’ud, M.Ag Hj. Suharti, M.Ag.

NIP. 197111102002121001 NIP. 197606062014122002

(5)

vi

(6)

vii MOTTO

ِِّب اَم ُرِّ ي َغُي َلَ َهَّللا َّنِّإ ۗ ِّهَّللا ِّرْمَأ ْنِّم ُهَنوُظَفْحَي ِّهِّفْلَخ ْنِّمَو ِّهْيَدَي ِّنْيَب ْنِّم ٌتاَبِّ قَعُم ُهَل ٰى َّت َح ٍمْو َق

ْم ُه ل ا َم َو ۚ ُه َ ل َّدَر َم َ لَ َ َ

ف ا ًءو ُس ٍمْو َقِّب ُهَّللا َداَرَأ اَذِّإَو ۗ ْمِّه ِّسُفْنَأِّب اَم اوُرِّ يَغُي

ِ ٍلاَو ْنِّم ِّهِّنوُد ْنِّم

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Allah”. (QS.

Ar-rad:11).1

1Al-Qur’an Dan Terjemahan, QS Ar-rad:11, Departemen Keagamaan Republik Indonesia, 2015.

(7)

viii

PERSEMBAHAN

Dengan rasa syukur yang tiada batas, aku persembahkan skripsi ini untuk orang yang kucintai dan sayangi. Terutama kedua orang tuaku tercinta Bapak Sahri dan Ibu Sabariah (Almh) yang telah membesarkan dan merawatku dengan penuh kasih sayang, yang selalu mendo’akan aku dan selalu memberikanku semangat selama kuliah dan saudara kandung satu-satunya Yuli Muliana, A.Md.Keb beserta suami Briptu Lalu Muzakkirrahman yang aku sayangi yang selalu mendukungku selama menempuh pendidikan dari bangku TK – sampai saat ini, dan semua keluarga besarku yang tersayang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Dan sahabat- sahabat terkasih syukron bang Alan, Ezza, yang sudah membantu dan memberikan arahan dalam penyelesaian skripsi ini, sahabat tersayang Malta, Musyarofah yang tetap loyal dari awal perkuliahan banyak cerita dan kesan serta pengalaman yang berarti di setiap momentnya.

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kepada kita,dengan anugerah-Nya itu saya dimampukan untuk menyelesaikan skripsi dengan baik walaupun dalam bentuk sederhana dan masih perlu banyak pembenahan. Shalawat dan salam peneliti persembahkan kehadapan baginda kita, Muhammad Rasulullah SAW yang telah mengeluarkan umatnya dari kegelapan menuju alam yang terang benderang. Semulia-mulianya manusia dengan akhlak terpuji, sosok yang disanjung-sanjung baik oleh kawan maupun lawan. Sosok pilihan yang tiada mahluk Tuhan menyamainya.

Dengan terselesainya skripsi ini, tidak lupa saya sampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan, bimbingan serta dukungan.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dengan segala keredahan hati saya ucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Riduan Mas’ud, M.Ag,selaku Pembimbing I dan ibu Hj. Suharti, M.Ag. selaku pembimbing II, yang telah banyak meluangkan waktu dan tenaganya untuk membimbing saya, mengarahkan serta mengoreksi sedetail mungkin, terus menerus tanpa bosan di tengah kesibukannya menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.

2. Bapak Dr. Ahmad Amir Aziz, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam berserta wakil-wakil Dekan dan jajaran civitas akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang telah memberikan kemudahan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi.

3. Ibu Dewi Sartika Nasution M.Ec., selaku Ketua Jurusan Perbankan Syariah,

(9)

x

ibu Any Tsalasatul Fitriyah S.si, M.si., selaku Sekretaris Jurusan Perbankan Syariah.

4. Dr. Riduan Mas’ud, M.Ag, selaku wali kelas G Perbankan Syariah 2017 yang selalu mendidik, membimbing memberikan saran kepada kami selama melakukan studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

5. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang telah membekali berbagai ilmu pengetahuan dan bantuan selama melakukan studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

6. Semua yang terkait dalam penulisan skripsi ini, baik di organisasi, kampus maupun lingkungan sekitarnya.

Peneliti tidak dapat memberikan sesuatu untuk membalas budi, selain memanjatkan do’a semoga kita semua tetap beriman serta tetap dalam lindunganNya, dijauhkan dari segala macam penyakit dan mudah-mudahan kita selamat dunia akhirat Amiiin. Akhir kata semoga tugas akhir yang peneliti susun dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan para pembaca pada umumya

Mataram,2021 Penulis

Huratul Aini

(10)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL……… ...ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING……….. .... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING……….. ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI………... v

LEMBAR PENGESAHAN... vii

MOTTO……… .... …………vii PERSEMBAHAN……… .. ……….viii KATA PENGANTAR……… .... ………..ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ...xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. LatarBelakang ... 1

B. RumusanMasalah ... 7

C. Tujuan dan ManfaatPenelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9

A. Kajian Teori ... 9

1. Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ... 9

2. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ... 15

3. Pola Pengeloaan Good Coperate Governence ... 21

4. Pendapatan Masyarakat ... 27

B. Telaah Pustaka ... 28

C. Kerangka Berfikir ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 37

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 37

1. Jenis Penelitian……… 37

2. Pendekatan Penelitian……… . 37

3. Waktu dan Tempat Penelitian ... 38

(11)

xii

B. Sumber dan jenis data ... 39

C. Instrumen Penelitian ... 40

D. Metode Pengumpulan Data ... 41

E. Teknik Analisis Data... 44

F. Validitas Data... 46 .

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

A. Hasil Penelitian ... 50

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian……… ... 50

2. Pola Pengelolaan BUMDes Desa Kembang Kuning ... 61

a. Transparansi ... 62

b. Akuntabilitas ... 64

c. Responsibilitas ... 65

d. Independensi/Profesionalitas ... 67

e. Kewajaran Dan Kesetaraan ... 69

3. Dampak Pola Pengelolaan BUMDes ... 70

a. Meningkatkan Perekonomian Desa ... 70

b. Meningkatkan Pendapatan Asli Desa ... 72

c. Meningkatkan Pengelolaan Potensi Desa Sesuai Dengan Kebutuhan Masyarakat ... 73

d. Menjadi Tulang Punggung Pertumbuhan Dan Pemerataan Ekonomi Masyarakat ... 74

B. Pembahasan Penelitian... 75

1. Analisis Pola Pengelolaan BUMDes Desa Kembang Kuning ... 75

2. Analisis Dampak Pola Pengelolaan BUMDes Kembang Kuning ... 85

BAB V PENUTUP……… ... .93

A. Kesimpulan………. .93

B. Saran……… .. ………..94 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(12)

1

(STUDI KASUS DI DESA KEMBANG KUNING KEC. SIKUR KAB.

LOMBOK TIMUR) Oleh : Huratul Aini Nim: 170502262

ABSTRAK

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan salah satu lembaga yang akan membangun dan menompang perekonomian masyarakat desa. BUMDes adalah lembaga ekonomi desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial dan komersil, sehingga BUMDes adalah lembaga yang memprioritaskan kepentingan masyarakat dengan melihat potensi ekonomi masyarakat yang bisa dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah Pola Pengelolaan BUMDes Syariah Kembang Kuning, dan Dampak Strategi Pengelolaan BUMDes Syariah Kembang Kuning. Untuk mencapai tujuan di atas, maka dilakukan penelitian kualitatif dengan tehnik pengumpulan data secara observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip pola Pengelolaan Good Coperate Governence BUMDes Kembang Kuning telah menerapkan lima prinsip pengelolaan BUMDes dengan baik yaitu, Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi/profesionalitas, Kewajaran dan Kesetaraan. Dari prinsip pola pengelolaan tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat. Selain itu BUMDes Kembang Kuning juga berperan dalam pembangunan dan pengembangan potensi ekonomi masyarakat desa untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, BUMDes juga berkontribusi sebagai salah satu alternatif Pendapatan Masyarakat. Selanjutnya, Dampak Strategi Pengelolaan BUMDes Kembang Kuning dalam meningkatkan pendapatan masyarakat telah diwujudkan walaupun belum maksimal, dampak BUMDes Kembang Kuning diwujudkan dalam tujuan pendirian BUMDes itu sendiri yang ada didalamnya seperti: meningkatkan perekonomian desa, meningkatkan pendapatan asli desa, meningkatkan pengolahan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan perekonomian pedesaan.

Kata kunci: Pola Pengelolaan, Bumdes, Dampak, Pendapatan.

(13)

1 A. Latar Belakang

Era otonomi telah banyak mendukung daerah untuk lebih memperhatikan nilai-nilai yang berguna untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya serta menciptakan kemandirian daerah guna meningkatkan Pendapatan Asli Desa dan peningkatan kehidupan yang lebih baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun politik. Otonomi yang memberikan kewenangan sepenuhnya kepada daerah untuk menjalankan pemerintahan yang mandiri dan kreatif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat didaerah. Dalam Undang-Undang No 6 Tanun 2014 tentang “bahwasanya desa memiliki kewenangan yang lebih luas dalam bidang penyelenggaraan pemerintah, pembangunan, pembinaan masyarakat, dan pemberdayaan desa”. Bahwa desa disarankan untuk memiliki suatu badan usaha yang berguna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan pokok dan tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan, dan tersedianya sumber daya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat.

Ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Pembangunan ekonomi dalam suatu daerah atau Negara dapat dilihat dari perkembangan pertumbuhan ekonominya dalam jangka panjang. Strategi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat

(14)

kedudukan dan peran ekonomi masyarakat dalam perekonomian nasional.

Perubahan ini meliputi proses perubahan dari ekonomi lemah ke ekonomi yang tangguh dari ketergantungan kekemandirian.2

Secara historis desa merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat politik dan pemerintahan di Indonesia jauh sebelum Negara bangsa ini terbentuk. Struktur sosial sejenis desa, masyarakat adat dan lain sebagainya telah menjadi institusi sosial yang mempunyai posisi yang sangat penting.

Desa merupakan institusi yang otonom dengan tradisi, adat istiadat dan hukumnya sendiri serta relatif mandiri. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan tingkat keragaman yang tinggi membuat desa mungkin merupakan wujud bangsa yang paling kongret.3

Pembangunan desa dapat ditingkatkan melalui pengembangan potensi perekonomian desa untuk menjadi wadah bersama masyarakat pedesaan dalam membangun diri dan lingkungannya secara mandiri dan partisipatif.

Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi salah satu sarana penyaluran inisiatif masyarakat desa, mengembangkan potensi desa, mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya alam desa, mengotimalkan sumber daya manusia (warga desa) dalam pengelolaannya.

Selain itu, posisi penyertaan modal dari pemerintah desa dalam bentuk

2Mubyarto, Reformasi Sistem Ekonomi, (Yogyakarta : UII PRESS, 2000), hlm.7

3 Haw Widjaja, OtonomiDesa. (Jakarta, PT Raja grafindopersada, 2003),hlm. 4

(15)

bagian dari BUMDes juga merupakan aspek penting lainnya.4

Pembangunan desa bersifat multidimensional. Yaitu mengarah pada perbaikan sosial, membuka kesempatan bagi rakyat desa menggali pendapatan dan pembangunan ekonomi desa, perbaikan infrastruktur memperkuat kapasitas desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan, membuat demokrasi dalam proses politik di desa, serta mengatasi kerentanan (sosial, ekonomi dan politik) masyarakat desa.

Pembangunan desa berkelanjutan memiliki hubungan parallel dengan culturally based development atau indigenous development yang peka terhadap aspek kearifan local. Pembangunan desa ini tidak bergerak dalam ruang hampa politik. Proses politik muncul manakala timbul komitmen, perencanaan, pendanaan, maupun partisipasi masyarakat desa dalam melaksanakan pembangunan desa.5

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintahan desa dalam upaya memperkuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi desa. BUMDes merupakan pilar kegiatan ekonomi di desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial (social institution) dan komersial (commercial institution). Selain itu BUMDes juga berperan sebagai lembaga sosial yang berpihak pada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya

4 Abdul Rahman Sulaeman, dkk, Bumdes Menuju Optimalisasi Ekonomi Desa, (Jakarta;

Yayasan Kita Menulis, 2020), hlm. 39

5BintoroWardiyanto, dkk, Percikan pemikiran tata kelola dan pembangunan desa, (Surabaya; Airlangga University Press, 2012),hlm. 347

(16)

bertujuan mencari keuntungan melalui penawaran sumber daya lokal ke pasar.6

BUMDes Syariah Desa Kembang Kuning milik masyarakat desa kembang kuning, dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi di Desa Kembang Kuning, pada awal tahun 2016 yang merupakan awal kepemimpinannya, kepala desa kembang kuning beserta masyarakat memiliki inisiatif untuk melakukan percepatan pengembangan perekonomian desa dan ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui program prioritasnya yaitu mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dan siap memajukan Desa Kembang Kuning bersama-sama masyarakat menggali segala potensi yang ada. Sehingga melalui musyawarah desa pada tanggal 10 Maret 2016 terbentuklah Badan Usaha Milik Desa yang diberi nama BUMDes “SYARIAH” yang diperkuat dengan dasar hukum pendirian berupa Peraturan Desa No.5 Tahun 2016. Awal berdirinya BUMDes “SYARIAH”.7

Badan Usaha Milik Desa Syariah Kembang Kuning terus bergerak mengembangkan bisnisnya untuk mendukung perekonomian masyarakat.

BUMDes yang digagas pemerintah Desa Kembang Kuning, kata Lalu Sujian dikelola secara profesional yang bekerja sama dengan pelaku-pelaku wisata, termasuk pokdarwis dan unit-unit kegiatan masyarakat lainnya. Bahkan

6Departemen Pendidikan Nasional Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan (PKDSP), 2007, Buku Panduan Pendirian dan Pengelolaan Badan Usaha MilikDesa (BUMDes), (Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya), hlm. 3

7Observasi BUMDes Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, 13 November 2020.

(17)

guna menunjang kegiatan pariwisata. Pemerintah kabupaten Lombok Timur memberikan apresiasi kepada Desa Kembang Kuning dalam menggerakan ekonomi wisata. BUMDes Syariah Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, adalah salah satu contoh BUMDes yang didorong sebagai supplier BPNT, alasan yang paling mendasar ditunjuknya BUMDes ini disamping menjadi pilar ekonomi masyarakat desa, juga sudah berjalan dengan memasarkan produk hasil pertanian dan perternakan sendiri. Permasalahan yang ada di BUMDes Kembang Kuning yaitu ketika pertama kali adanya BUMDes, tidak adanya kepercayaan masyarakat kepada BUMDes sehingga masyarakat ragu untuk menyimpan atau menabung uangnya di BUMDes. Permasalahan yang kedua di sini yaitu jika adanya masyarakat yang tidak bisa mengembalikan pinjaman pada saat jatuh tempo. Seperti masalah yang terjadi pada BUMDes Desa Kembang Kuning, di mana berdasarkan hasil wawamcara awal yang dilakukan oleh penulis, penulis menemukan adanya masalah yang dialami pada BUMDes tersebut, yaitu masyarakat kurang percaya. Masalah yang dialami yaitu karna BUMDes ini baru berkembang dalam menjalankan usaha maupun produknya ini sehingga masyarakat pada BUMDes ini belum mulai untuk menaruh kepercayaannya. Kepercayaan pada BUMDes tersebut disebabkan karena kurang efektifnya kinerja yang ada pada BUMDes.8

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Bapak Irwan Manajer BUMDes Kembang Kuning, beliau memaparkan bahwa:

8Irwan (Manajer BUMDes Kembang Kuning Kec.Lotim), Wawancara, 13 November 2020.

(18)

pertanian seperti kesulitan modal, obat-obatan pertanian, pupuk dan pengairan. Permasalahan lain yang dihadapi adalah petani kesulitan dalam memasarkan hasil pertanian mereka karena minimnya pengetahuan serta sumber daya manusia, dan sering kali petani hanya mengandalkan tengkulak untuk membeli hasil pertanian mereka dengan harga dibawah standar.9

Kemudian Bapak H. Lalu Sujian, SH Kepala Desa Kembang Kuning memaparkan bahwa:

Impelementasi Sistem BUMDes masih belum bisa dikatakan efektif dalam memberikan kontribusi secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat desa karena pola pemanfaatan BUMDes Syariah belum berjalan maksimal.

Pemerintah desa kembang kuning sudah berupaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat seperti adanya sosialisasi tentang Sistem BUMDes Syariah, penyuluhan unit program BUMDes sebagai lembaga sosial berpihak pada kepentingan masyarakat melalui kontribusi dalam penyediaan pelayanan sosial. Berdasarkan permasalahan itu, arah pemerintahan Desa Kembang Kuning ialah untuk menciptakan pengembangan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan potensi wilayah secara optimal untuk menuju masyarakat yang maju dan sejahtera masyarakatnya.10

Perlu diketahui lebih dalam lagi mengenai pola pengelolaam BUMDes di Desa Kembang Kuning, sehingga nanti bisa diberikan solusi yang tepat untuk pola yang lebih baik untuk pengelolaannya. Berdasarkan pemaparan permasalahan pada latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk menyusun proposal skripsi dengan judul;“Pola Pengelolaan Bumdes Syari’ah Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus Di Desa Kembang Kuning Kec. Sikur Kab. Lombok Timur)”

9Ibid

10H. Lalu Sujian (Kepala Desa Kembang Kuning Kec.Lotim),Wawancara, 13 November 2020.

(19)

1. Bagaimanakah pola pengelolaan BUMDes Syariah di Desa Kembang Kuning?

2. Bagaimanakah dampak dari pola pengelolaan BUMDes Syariah Terhadap Pendapatan Masyarakat di Desa Kembang Kuning?

C. Tujuan Dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :

a. Untuk menjelaskan pola pengelolaan BUMDes syariah di Desa Kembang Kuning.

b. Untuk menjelaskan dampak dari pola pengelolaan BUMDes syariah terhadap pendapatan masyarakat di Desa Kembang Kuning.

2. Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian merupakan hal yang pokok dalam melaksanakan proses dari hasil penelitian ini, peneliti mengharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu:

a. Manfaat Teoritis

1) Bagi peneliti dapat menambah wawasan pengetahuan dengan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh secara teori dilapangan.

2) Bagi peneliti lain dapat dijadikan sebagai acuan terhadap pengembangan ataupun pembuatan dalam penelitian lanjutan.

(20)

1). Bagi lembaga yang diteliti, fokus studi diharapkan bermanfaat sebagai masukan dan evaluasi agar BUMDes lebih baik.

2). Bagi masyarakat, BUMDes sebagai lembaga yang mampu meningkatkan penghasilan masyarakat sekaligus membuka ruang lebih luas lagi terbukanya lapangan pekerjaan untuk masyarakat desa.

(21)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) a. Sistem Pengelolaan

Ditinjau secara etimologis, istilah sistem berasal dari bahasa yunani, yaitu systema. Artinya, sehimpunan dari bagian atau komponen-komponen yang saling berhubungan satu sama lain secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan.11 Berbeda dengan mozaik yang merupakan sekumpulan pecahan-pecahan kaca tanpa ada kaitan, maka sebuah sistem terdiri dari pecahan-pecahan sub sistem yang saling terkait erat satu sama lain dan merupakan satu kesatuan.

Dalam berbagai perbincangan akademis, pengertian sistem kemudian terus berkembang dan menunjuk pada berbagai arti.

Pertama, pengertian sistem yang digunakan untuk menunjuk sehimpunan gagasan atau ide yang tersusun, terorganisasi dan membentuk suatu kesatuan yang logis. Kedua, pengertian sistem yang digunakan untuk menunjuk sekelompok atau sehimpunan dari benda- benda tertentu yang memiliki hubungan secara khusus. Dan ketiga, pengertian sistem yang digunakan dalam arti metode atau tata cara.

11 J. Dwi Marwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan, (Jakarta: Kencana,2010), hlm 123

(22)

Menurut Richard A. Jhosnson dan James E. Rosan zweing dalam bukunya yang berjudul the theory and manajemen of system,yang diterjemahkan oleh S. Pamudji dalam bukunya teori sistem dan penerapannya dalam manajemen, mengemukakan bahwa sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu himpunan/perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh.12

Teori sistem menurut Gordon B. Davis organisasi dipandang sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan.13

Sifat-sifat dari suatu sistem antara lain :

1) Pencapaian tujuan, orientasi pencapaian tujuan akan memberikan sifat dinamis kepada sistem, memberi ciri perubahan yang terus menerus dalam usaha mencapai tujuan.

2) Kesatuan usaha, mencerminkan suatu sifat dasar dari sistem dimana hasil keseluruhan melebihi dari jumlah bagian-bagian atau sering disebut konsep sinergi.

3) Keterbukaan terhadap lingkungan, lingkungan merupakan sumber kesempatan maupun hambatan pengembangan.

4) Transformasi, merupakan proses perubahan input menjadi output yang dilakukan oleh sistem.

12 Moekjiat, Pengantar Sistem Ekonomi Manajemen, (Bandung: PT Remaja Rosdakaya, 1994), hlm 13.

13 AM. Kadarah, Jusuf Udaya, Pengantar Ilmu Manajemen, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama), hlm 36

(23)

5) Hubungan antar bagian, kaitan antara sub sistem inilah yang akan memberikan analisa sistem suatu dasar pemahaman yang lebih luas.14

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sistem adalah sehimpunan gagasan atau komponen yang mana semua itu membentuk atau yang membentuk suatu kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain.

Pengelolaan merupakan istilah yang dipakai dalam ilmu manajemen, secara etimologis berasal dari kata “kelola‟ (to manage) dan biasanya merujuk pada proses mengurus atau menangani sesuatu untuk mencapai tujuan. Meskipun banyak ahli yang memberikan pengertian tentang pengelolaan yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya memiliki maksud dan tujuan yang sama. Sebagaimana Prajudi mengatakan bahwa pengelolaan adalah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor sumber daya yang menurut suatu perencanaan diperlukan untuk penyelesaian suatu kerja tertentu.

Menurut Balderton, mengemukakan bahwa isltilah pengelolaan sama dengan manajemen yaitu menggerakkan, megorganisasikan, dan mengarahkan usaha manusia untuk memanfaatkan secara efektiv material dan fasilitas untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan Moekijat mengemukakan bahwa pengelolaan adalah rangkaian

14 Marimin, Teori Dan Aplikasi Sistem Pakar Dalam Teknologi Manajemen, (Bogor:

IPB Press, 2005), hlm 17

(24)

kegiatan yang meliputi perencanaan, penggorganisasian, petunjuk, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan.15

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa istilah pengelolaan memiliki pengertian yang sama dengan manajemen, dimana pengelolaan merupakan bagian dari proses manajemen karena didalamnya harus diperhatikan mengenai proses kerja yang baik, mengorganisasikan suatu pekerjaan, mengarahkan dan mengawasi, sehingga apa yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

b. Bentuk Pengelolaan (Manajemen)

Dalam pengelolaan terdapat bentuk-bentuk yang digunakan untuk mencapai tujuan. Menurut George R Terry bentuk manajeme nada 4 (empat) yang terdiri dari planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuanting (pelaksanaan), controling (pengawasan) sampai pada proses terwujudnya tujuan.

1) Planning (Perencanaan)

Perencanaan adalah proses penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan dengan memilih yang terbaik dari alternatif- alternatifyang ada. Prinsip perencanaan selalu berusaha menyertakan anggota-anggota dari berbagai kelompok sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dalam membuat suatu perencanaan harus benar-benar melihat sikon dan kondisi apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang karena perencanaan ini

15 Rahardjo Adisasmita, Pembiayaan Pembangunan Daerah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), hlm 21

(25)

ditujukan pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, karena adanya perubahan kondisi dan situasi.

Hasil perencanaan baru akan diketahui pada masa depan agar resiko yang ditanggung itu relatif kecil, hendaknya semua kegiatan, tindakan, dan kebijakan direncanakan terlebih dahulu. Perencanaan ini adalah masalah “ memilih” artinya memilih tujuan dan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut dari beberapa alternatif yang ada. Tampa alternatif, perencanaan pun tidak ada.

Perencanaan merupakan sekumpulan dari beberapa keputusan.16 2) Organizing (pengorganisasian)

George R Terry mengemukakan bahwa pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efekif antara orang-orang, sehingga meraka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu.

Pengorganisasian adalah seluruh proses pengelompokan orang- orang, alat-alat, dan tugas-tugas tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan.17

16 Melayu S. P. Hasibuan, Manajemen: Dasar, Pengertian Dan Masalah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm 91

17 M Ali Zasri, Dasar-Dasar Manajemen, (Pekanbaru: Suska Press, 2008), hlm 75

(26)

3) Actuating (pelaksanaan)

George R Terry mengemukakan bahwa Actuating merupakan penggerak anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran-sasran usaha yang diinginkan. Atau keseluruhan usaha, tekhnik, metode untuk mendorong anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan sebaik mungkin demi mencapai tujuan organisasi yang efektif, efesien, dan ekonomis.

Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan merupakan fungsi manjemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstark proses manajemen, sedangkan fungsi actauting justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi.

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika:

a) Merasa yakin akan mampu mengerjakan,

b) Yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya,

c) Tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lainyang lebih penting, atau mendesak,

(27)

d) Tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan,

e) Hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.

4) Controling (pengawasan)

Pengawasan adalah kegiatan yang melihat konsekuensi kebijakan tertentu, bagaimana dan seberapa jauh hasil yang terjadi.18 Dengan kata lain ia lebih berada pada dimensi proses dari kebijakan penerapan kebijakan hasil atau dampak. Artinya kegiatan ini akan menghasilkan sejumlah pemahaman dan penjelasan berkenaan dengan proses penerapan progam yang dipantau.

Kegiatan ini lebih mengarah pada pemenuhan kebutuhan informasi.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam system pengelolaan terdapat prinsip manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan sampai pada terwujudnya suatu tujuan yang diinginkan.

2. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Badan Usaha Milik Desa adalah Lembaga Usaha Desa yang dikelola oleh Masyarakat dan Pemerintah Desa dalam upaya memperkuat perekonomi desa dan di bentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi desa.

Ciri Utama BUMDes dengan Lembaga Ekonomi Komersil lainya, sebagai berikut:

18 Amri Marjali, dkk, Pengelolaan Lingkungan Sosial, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,2002) hlm 91

(28)

a. Badan Usaha ini dimiliki oleh desa dan dikelola bersama.

b. Modal bersumber dari desa sebesar 51% dan dari masyarakat sebesar 49% melalui penyerataan modal (Saham atau andil).

c. Operasionalisasinya menggunakan falsafah bisnis yang berakar dari budaya lokal.

d. Bidang usaha yang dijalankan berdasarkan pada potensi dan informasi pasar.

e. Keuntungan yang di peroleh di tunjukan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota (Penyetara Modal) dan masyarakat melalui kebijakan desa.

f. Difasilitasi oleh Pemerintah Propinisi, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintahaan Desa. Operasionalisasi di kontrol secara bersama oleh BPD, Pemerintah Desadan Anggota).19

BUMDes sebagai suatu lembaga ekonomi modal usahanya dibangun atas inisiatif masyarakat dan menganut azas mandiri. Ini berarti pemenuhan modal usaha BUMDes bersumber dari masyarakat. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan BUMDes dapat mengajukan pinjaman dari pihak luar seperti dari pemerintah desa atau pihak lain, bahkan melalui pihak ketiga.

Adapun empat tujuan dalam utama pendirian BUMDes adalah sebagai berikut20 :

19 Yustina, Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan PKDSP Pendirian Dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2007), hlm 121

(29)

a) Meningkatkan perekonomian desa b) Meningkatkan pendapatan asli desa

c) Meningkatkan pengolaan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat

d) Menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi desa.

Untuk mencapai tujuan BUMDes dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan (produktif dan konsumtif) masyarakat melalui pelayanan distribusi barang dan jasa yang dikelola masyarakat dan pemerintah desa.

Pemenuhan kebutuhan ini diupayakan tidak memberatkan masyarakat, mengingat BUMDes mejadi usaha desa yang paling dominan dalam menggerakkan ekonomi desa.

Pendirian dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa adalah perwujudan dari pengelolaan ekonomi produksif desa yang dilakukan secara Koorperatif, Partisifatif, Emansipatif, Transparansi, Akuntabel dan Sustaniabel. Oleh karena itu perlu upaya serius untuk menjadikan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa dapat berjalan secara mandiri, efektif, efisien dan profesional.

Dinyatakan di dalam undang-undang bahwa BUMDes didirikan sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Adapun yang dimaksud dengan “kebutuhan‟ dan “potensi desa‟ adalah21 :

20 Ali Hamzah, Petunjuk Teknis Program Pemberdayaan, (Mataram: BPPM Provinsi Lombok Timur,2007), hlm 95

21Ibid, hlm 101

(30)

1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok 2) Tersedianya sumber daya manusia yang belum dimanfaatkan secara

optimal terutama kekayaan desa dan terdapat permintaan di pasar 3) Tersedia sumber daya manusia yang mampu mengelola badan usaha

sebagai aset penggerak perekonomian masyarakat

4) Adanya unit-unit usaha yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat.

a. Landasan Hukum BUMDes

Pendirian BUMDes dilandasi oleh UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan PP No. 72 Tahun 2005 tentang desa serta produk hukum yang terbaru adalah UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa.22

b. Prinsip Tata Kelola BUMDes

Pengelolaan BUMDes harus dijalankan dengan menggunakan prinsip kooperatif, partisipatif, transparansi, kesetaraan, akuntabel, berkelanjutan dan profesional. Berikut ini adalah penjelasan dari prinsip-prinsip yang harus dijalankan oleh BUMDes:23

1) Transparansi

Aktivitas yang berpengaruh terhadap kepentingan masyarakat umum harus dapat diketahui oleh segenap lapisan masyarakat dengan mudah dan terbuka.

22Ibid,hlm. 34

23Ibid,hlm. 38-39

(31)

2) Akuntabilitas

Seluruh kegiatan usaha harus dapat di pertanggung jawabkan secara teknis maupun administratif.

3) Responsibilitas

Adanya kewajiban moral dalam menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada seseorang.

4) Independensi/Profesionalitas

Kegiatan usaha harus di kelola secara profesional dengan orang-orang yang profesional juga sebagai pengurus.

5) Kewajaran dan Kesetaraan

Semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan alokasi dana kampung mempunyai hak dan kedudukan yang sama.

c. Klarifikasi Jenis Usaha BUMDes

Ada 5 klasifikasi jenis-jenis usaha yang dilakukan BUMDes di antaranya:24

1) BUMDes Serving

BUMDes Serving melakukan pelayanan pada warga masyarakat sehingga warga mendapatkan manfaat sosial yang besar, jenis usaha ini mulai tumbuh di banyak desa.

2) BUMDes Renting

BUMDes Renting adalah bumdes yang menjalankan bisnis penyewaan untuk memudahkan warga mendapatkan berbagai

24Anom Surya Putra, Badan Usaha Milik Desa: Spirit Usaha Kolektif Desa (Jakarta Pusat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasin Republik Indonesia, 2015), hlm. 32

(32)

kebutuhan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan dan sekaligus untuk memperoleh pendapatan desa.

3) BUMDes Trading

BUMDes Trading merupakan bumdes yang menjalankan usaha dengan berdagang kebutuhan pokok dan sarana produksi pertanian. Unit usaha ini mulai tumbuh di banyak desa.

4) BUMDes Brokering

BUMDes Brokering merupakan BUMDes yang menjadi perantara antara komoditas yang di hasilkan warga pada pasar yang lebih luas sehingga BUMDes memperpendek jalur distribusi komoditas menuju pasar ataupun BUMDes yang menjual jasa pelayanan kepada warga dan usaha-usaha masyarakat.

5) BUMDes Banking

BUMDes Banking adalah BUMDes yang menjalankan bisnis uang, yang memenuhi kebutuhan keuangan masyarakat desa dengan bunga yang lebih rendah dari pada bunga uang yang di dapatkan masyarakat desa dari pada rentenir desa atau bank-bank konvensional.

d. Peran BUMDes

Menurut seyadi peranan BUMDes adalah sebagai berikut:

(33)

1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi masyarakat Desa, pada umumnya untuk mensejahetarakan ekonomi dan sosialnya.

2) Berperan aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

3) Memperkokoh perekonomian masyarakat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan BUMDes sbagai pondasinya.

4) Berusaha mewujudkan dan mengembangkan perekonomian masyarakat desa.

5) Memabantu masyarakat untuk meningkatkan penghasilannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kemakmuran masyarakat.25

3. Pola Good Corperate Governence (GCG)

Konsep Good Governence dewasa ini begitu populer sehingga telah menjadi pengetahuan umum. Good Governence ini meliputi tiga struktur dan proses yang mana ketiga tersebut ialah pemerintahan atau negara, masyarakat dan sector bisnis. Secara objektif setiap masyarakat terdiri dari tiga sub kultur yaitu perusahaan, kekuasaan dan masyarakat.

Sebagai asas, Good Governence menghendaki keseimbangan dinamik antar sub kultur tersebut26. Arti dari Good Governence itu sendiri adalah

25 Seyadi, Bumdes Sebagai Alternatif Lembaga Keuangan Desa,I (Yogyakarta: UPP STM YKPN,2003), Hlm 5

26Taliziduhu Ndraha, KybernologyIlmu Pemerintahan Baru, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), Hlm 693

(34)

suatu kegiatan (proses) interaksi sosial politik antara pemerintahan dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan- kepentingan tersebut.27 Begitupun Good Corperate Governence (GCG) baru-baru ini begitu sangat populer. Tak hanya populer, tetapi istilah tersebut sekarang ditempatkan diposisi terhormat. Hal itu, setidaknya terwujud dalam dua keyakinan. Pertama, Good Corperate Governence merupakan kunci kesuksesan perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang sekaligus memenangkan persaingan bisnis global. Kedua, krisis ekonomi dunia di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena kegagalan penerapan Good Coperate Governence28. Berbeda dengan Good Governence, Good Corperate Governence juga memkiliki definisi tersendiri yaitu sebagai berikut.

a. Pengertian Good Corperate Governence

Good Corperate Governence merupakan suatu istilah yang berasal dari bahasa Inggris yaitu Good yang berarti baik, Corperate artinya perusahaan dan Governence artinya pengaturan. Secara umum, istilah Good Corperate Governence diartikan dalam bahasa Indonesia

27 edarmayanti, Good Governence (Kepemerintahan yang baik), (Bandung : Mandar Maju, 2004), Hlm 2

28Mustika Ramdhani, <<CGC (Good Coperate

Governence),>>https://mustikaramdhany.wordpress.com, akses 24 Juli 2021

(35)

adalah tata kelola perusahaan yang baik, istilah ini dalam perbankan diartikan dengan tata kelola bank yang baik29.

Good Corperate Governence merupakan suatu sistem dimana yang mengoperasikannya adalah manusia. Adapun kesuksesan penerapannya sangat bergantung terhadap integritas dan komitmen.

Definisi Good Croperate Governence menurut bank dunia adalah aturan, standar dan organisasi di bidang ekonomi yang mengatur perilaku pemilik perusahaan, direktur dan manejer serta perincian dan penjabaran tugas dan wewenang serta pertanggug jawabannya terhadap investor.30

Good Corperate Governence merupakan konsep tentang praktik tata kelola yang baik dalam suatu intitusi yang di dalamnya terdapat prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab/responsibilitas, kemandirian dan kewajaran yang perlu dilaksanakan oleh institusi.31 Bank Dunia Good Coperate Governence ini adalah aturan, standar organisasi di bidang ekonomi yang mengatur perilaku perusahaan, direktur dan menejer serta perincian dan penjabaran tugas dan wewenang serta pertanggung jawaban sebagai investor (pemegang saham dan kridetur)32

29Akhmad Faozan, “Implementasi Good Coperate Governence dan Peran Dewan Pengawas Syariah di Bank Syariah,” jurnal Ekonomi Islam Vol IV (1 Juli 2010), lm 3

30Edi Wibowo, “Implementasi Good Coperate Governence Di Indonesia”, Tesis Fakultas Ekonomi Universitas Slamet Riyadi Surakarta, (2008), Hlm129.

31Adil Tobing, “Pengaruh Penerapan Good Coperate Governence Terhadap Tingkat Kesehatan dan Daya Saing di Perbankan Indonesia,” Journal.sbm.itb.ac.i., Vol 12 (November 2013), Hlm 300

32The Case For Coperate Governence: What It Coperate dikutip dari https://go.worldbank.org/LHV3EZQV10 di akses 24 Juli 2021

(36)

Sedangkan Thomas S kaihatu mengartikan Good Coperate Governence merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan nilai tambah (vallue added) untuk semua stake holder.33

Dalam Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik pasal 1 No 1 yang menjelaskan tentang Good Croperate Governence adalah prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perusahaan dan etika berusaha.34

Dengan demikian, Good Coperate Governence adalah suatu sistem yang mengatur, mengelola dan mengawasi proses pengendalian usaha untuk menaikan nilai saham, sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada para pemangku kepentingan. Good Corperate Governence diharapkan menjaga keseimbangan antara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat. Tantangan yang muncul Good Corperate Governence adalah mencari cara untuk memaksimumkan penciptaan kesejahteraan sedemikian rupa sehingga tidak membebani ongkos yang tidak perlu kepada pihak ketiga taupun masyarakat.35

33Thomas S.Kaithu, “Good Coperate Governence dan Penerapannya di Indonesia,”

journal manajemen dan kewira usahaan, Vol 8 No 1 (Maret 2006), Hlm 2

34Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Pasal 1 Ayat 1 Tahun 2011

35Ibid., hlm 5

(37)

b. Prinsip Good Corperate Governence 1) Transparancy (Keterbukaan Informasi)

Dalam mewujudkan transparansi ini sendiri, perusahaan harus menyediakan informasi yang cukup, akurat dan tepat waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut.

Setiap perusahaan diharapkan pula dapat mempublikasikan informasi keuangan serta informasi lainnya yang material dan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan secara akurat dan tepat waktu.

2) Accountability

Kata accountability merupakan bentuk dari pertanggung jawaban yang sering digunakan pada istilah akutansi. Hal ini biasanya dikaitkan dengan laporan keuangan

3) Responsibility

Pertanggung jawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) didalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. Peraturan yang berlaku disini termasuk yang berkaitan dengan maslah pajak, hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan dan keselamatan kerja, standar penggajian dan persaingan yang sehat.

Kata responsibility merupakan bentuk pertanggung jawaban yang sering digunakan dalam hal menanggung beban dari pelanggaran yang telah dilakukan

(38)

4) Fairness (Kewajaran)

Secara sederhana kewajaran dapat didefinisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan Perundangan yang berlaku. Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal, sistem hukum dan penegakan peraturan yang melindungi hak-hak investor khususnya pemegang saham minoritas dari berbagai bentuk kecurangan36.

c. Tujuan Good Coperate Governence

Good Coperate Governence ini diterapkan oleh perusahan karena memiliki tujuan-tujuan yang menguntungkan perusahaan. Menurut Siswano Sutojodan Jhon E. Aldridge, Good Coperate Governence memiliki lima tujuan yaitu:

1) Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham

2) Melindungi hak dan kepentingan para anggota stake holder non pemegang saham

3) Meningkatkan nilai perusahaan dan pemegang saham

4) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja dewan pengurus dan manajemen perusahaan

5) Meningkatkan mutu hubungan Board Of Directorsdan manajemen senior perusahaan37

36Intan, <<Good Coperate Governence (CGC),>>https://diaryintan.wordpress.com, akses 24 Juli 2021.

37“Tujuan dan Manfaat Good Coperate Governence,“ https://datarental.blogspot.com, htm, akses 24 Juli 2021

(39)

4. Pendapatan Masyarakat

a. Pengertian Pendapatan Masyarakat

Pendapatan merupakan semua penerimaan seorang masyarakat sebagai balas jasanya dalam proses produksi. Balas jasa tersebut bisa berupa upah, bunga, sewa, maupun, laba tergantung pada faktor produksi pada yang dilibatkan dalam proses produksi.38 Definisi lain dari pendapatan masyarakat adalah sejumlah dana yang diperoleh dari pemanfaatan faktor produksi yang dimiliki. Sumber pendapatan tersebut meliputi:39

1) Sewa kekayaan yang digunakan oleh orang lain, misalnya menyewakan rumah, tanah.

2) Upah atau gaji karena bekerja kepada orang lain ataupun menjadi pegawai negeri. Bunga karena menanamkan modal di bank ataupun perusahaan, misalnya mendepositokan uang di bank dan membeli saham.

3) Hasil dari usaha wiraswasta, misalnya berdagang, bertenak, mendirikan perusahaan, ataupun bertani.

b. Kriteria Pendapatan Masyarakat

Berdasarkan penggolongannya, Badan Pusat Statistik (BPS, 2014) membedakan pendapatan menjadi 4 golongan adalah:40

38 Yuliana Sudremi, Pengetahuan Sosial Ekonomi Kelas X, (Jakarta: Bumi Aksara,2007), hlm 133

39 Suyanto, Refleksi Dan Reformasi Pendidikan Di Indonesia Memasuki Milenium III, (Yogyakarta: Adicita,2000), Hlm 80

40 BPS, Upah Minimum Regional/Provinsi UMR/UMP Per Bulan Dalam Rupiah, Dalam https:/www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/917 diakses pada 28 Maret 2016.

(40)

1) Golongan pendapatan sangat tinggi, adalah jika pendapatan rata rata lebih dari Rp. 3.500.000,00 per bulan

2) Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 2.500.000,00 – s/d Rp. 3.500.000,00 per bulan

3) Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata- rataantara Rp. 1.500.000,00 s/d Rp. 2.500.000,00 per bulan

4) Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata Rp.1.500.000,00 per bulan

B. Telaah Pustaka

1. Skripsi Hawsah, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Perbankan Syariah UIN Mataram, dengan judul “Respon Masyarakat Terhadap Manajemen Strategi Pengelolaan Bumdes Syariah Di Desa Kembang Kuning Kabupaten Lombok Timur”.41

Fokus penelitian ini untuk menjelaskan (1) Bagaimana Manajemen Strategi Pengelolaan BUMDES Syariah Desa Kembang Kuning Kabupaten Lombok Timur? (2) Bagaimana Respon Masyarakat Terhadap Manajemen Strategi Pengelolaan BUMDES Syariah Desa Kembang Kuning Kabupaten Lombok Timur? Jenis dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan maksud mendeskripsikan permasalahan yang terjadi dilapangan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa manajemen strategi pengelolaan

41 Haswah,”Respon Masyarakat Terhadap Manajemen Strategi Pengelolaan Bumdes Syariah Di Desa Kembang Kuning Kabupaten Lombok Timur”, (Skripsi, UIN Mataram Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, Mataram 1 Agustus 2020).

(41)

dengan cara melakukan sosialisasi terhadap kebijakan-kebijakan yang dirumuskan pengurus BUMDES Syariah, pengelolaan memberikan kemudahan pembiayaan, melakukan penanganan kredit macet, melakukan pengelolaan tabungan/simpanan, melakukan inovasi-inovasi wisata yang berkearifan lokal, mengambil putusan berdasarkan musyawarah pengurus dan masyarakat dan memberikan atau menyisihkan keuntungan dana CSR masyarakat. Respon masyarakat ada 2 yaitu respon positif dan respon negatif. Respon poitif, masyarakat mendukung dan antusias terhadap keberadaan BUMDES Syariah Desa Kembang Kuning, masyarakat semangat terhadap kemudahan mengambil pembiayaan di BUMDES Syariah Desa Kembang Kuning, antusias masyarakat terhadap simpanan tabungan wadi’ah BUMDES Syariah Desa Kembang Kuning. Respon negatif, masyarakat menginginkan jumlah yang banyak dalam pembiayaan BUMDES Syariah Desa Kembang Kuning dan masyarakat tidak sejalan dengan pemerintah desa Kembang Kuning/perbedaan sosial dan politik.

Hal yang menjadi kesamaan dalam penelitian Hawsah ini dengan yang peneliti kaji adalah sama-sama membahas Pengelolaan BUMDes dengan sistem Syariah menunjang pertumbuhan serta stabilitas perekonomian masyarakat yang bersinambungan. Namun peneliti dalam penelitian lebih memfokuskan penelitiannya untuk mengetahui efektivitas BUMDes.

Adapun yang menjadi pembeda adalah rumusan masalah penelitian. Yakni pada penelitian Haswah ini hanya merumuskan masalah manajemen strategi BUMDes Kembang Kuning Kabupaten Lombok Timur dan

(42)

Bagaimana respon masyarakat terhadap manajemen strategi pengelolaan BUMDES Syariah di Desa Kembang Kuning Kabupaten Lombok Timur.

Sedangkan penelitian ini berfokus pada Pola Pengelolaan Bumdes Syari’ah Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Studi Kasus Di Desa Kembang Kuning Kec. Sikur Kab.Lombok Timur.

2. Ayu Susanti, dengan judul Skripsi “Analisis Perilaku Masyarakat Terhadap Minat Bertransaksi Pembiayaan Mudharabah Di Bumdes Syariah Kembang Kuning Sikur Lombok Timur”.42

Fokus Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi minat masyarakat Kembang Kuning dalam bertransaksi pembiayaan mudharabah dan bagaimana perilaku dari masyarakat desa Kembang Kuning dalam memilih produk pembiayaan mudharabah.

Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yang dilakukan dengan mencari data langsung kelapangan.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi minat masyarakat dalam melakukan transaksi pembiayaan mudharabah di BUMDES Syariah Kembang Kuning Sikur Lombok Timur yaitu faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal terdiridari factor pribadi, kepribadian dan gaya hidup, dan factor

42 Ayu Susanti, ”AnalisisPerilaku Masyarakat Terhadap Minat Bertransaksi Pembiayaan Mudharabah Di Bumdes Syariah Kembang KuningSikur Lombok Timur”, (Skripsi, UIN Mataram Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, Mataram 3 Agustus 2020).

(43)

psikologis. Sedangkan factor eksternal terdiri dari factor kebudayaan dan factor sosial. Dari dua factor tersebut menghasilkan perilaku dari masyarakat di mulai pada pra, saat dan pasca melakukan transaksi pembiayaan mudharabah.

Perbedaan skripsi Ayu Susanti dengan yang sedang diteliti sekarang yang sedang di kaji peneliti sekarang adalah penelitian Ayu Susanti yaitu mengetahui faktor yang mempengaruhi minat masyarakat dalam melakukan transaksi pembiayaan mudharabah dan perilaku masyarakat desa Kembang Kuning Sikur Lombok Timur dalam memilih pembiayaan mudharabah di BUMDES Syariah Kembang Kuning. Sedangkan pada penelitian sekarang ini meneliti Pola Pengelolaan Bumdes Syari’ah Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Studi Kasus Di Desa Kembang Kuning Kec. Sikur Kab. Lombok Timur

3. Yuli Widiastuti Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lampung, dengan judul “Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Pujokerto Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah Perspektif Ekonomi Islam.”43

Fokus penelitian bertujuan untuk melihat bagaimana peran BUMDes Sejahtera dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa Pujokerto Kec. Trimurjo Kab. Lampung Tengah. Berdasarkan hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa BUMDES sejahtera berdiri sejak tahun 2013 dan memiliki tiga unit usaha yaitu unit usaha penyewaan hand

43Yuli Widiastuti,” Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Pujokerto Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah Perspektif Ekonomi Islam”, (Skripsi, UIN Raden Intan Lampung, Bandar Lampung 13 Juli 2017).

(44)

traktor, unit usaha ternak sapi dan unit usaha pasar desa. Unit usaha yang paling berkembang yaitu unit usaha penyewaan hand traktor sedangkan untuk unit usaha lainnya belum ada perubahan dalam membantu mensejahterakan masyarakat pujokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.

Hal yang menjadi kesamaan penelitian ini dengan yang peneliti kajian adalah sama-sama membahas peran bumdes terhadap kesejahteraan masyarakat. Namun peneliti dalam penelitian ini lebih memfokuskan penelitiannya dalam upaya kesejahteraan masyarakat pujokerto kecamatan trimurjo kabupaten lampung tengah. Adapun yang menjadi pembeda adalah fokus dan lokasi penelitian. Yakni pada penelitian yang di lakukan yuli widiastuti ini hanya berfokus terhadap meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Sedangkan penelitian ini terfokus pada penerapan Pola Pengelolaan Bumdes Syari’ah Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Studi Kasus Di Desa Kembang Kuning Kec.Sikur Kab.Lombok Timur

4. Tri Mayasari Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam IAIN METRO, dengan Judul Pengembangan potensi ekonomi desa melalui badan usaha milik desa (BUMDes) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa adijaya kecamatan pekalongan kabupaten lampung timur.44

44Tri Mayasari, “Pengembangan Potensi Ekonomi Desa Melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Adijaya Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur”, (Skripsi, IAIN METRO, Metro 2019)

(45)

Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ekonomi desa melalui badan usaha milik desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Metode penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan dan yang menjadi populasi sekaligus sampel dalam penelitian.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan kesejahteraan dengan adanya program yang dilaksanakan oleh BUMDes Bestasari Adijaya Sentosa Kepada masyarakat, terlihat dari banyaknya masyarakat yang merasakan adanya dampak positif diantaranya bertambahnya pendapatan dari hasil penjualan kotoran ternak, dapat membeli pupuk organic dengan harga terjangkau, menambah sedikit lapangan pekerjaan, pengetahuan tentang pengolahan pupuk organik, dan semakin lancarnya pembangunan desa.

Hal yang menjadi kesamaan penelitian ini dengan yang peneliti kajian adalah sama-sama membahas tentang efektivitas BUMDes. Adapun yang menjadi pembeda adalah fokus dan lokasi penelitian.

5. Chindy Sasauw, Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP-Unsrat, dengan judul “Efektivitas Badan Usaha Milik Desa Dalam Meningkatkan Masyarakat di Desa Lenganeng Kecamatan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe”.45

Fokus Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pengelolaan dana yang dilakukan pada BUMDes Desa Langaneng sudah efektif dan sesuai prinsip pengelolaan dana.Penelitian ini ialah penelitian deskriptif

45Chindy Sasauw,”Jurnal Jurusan Ilmu Pemerintahan” Efektivitas Badan Usaha Milik Desa Dalam Meningkatkan Masyarakat di Desa Lenganeng Kecamatan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe”, Eksekutif, Vol 1 No. 1 Tahun 2018, hlm 15.

(46)

dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah menunjukkan pencapaian dari BUMDes cukup baik dilihat dari berjalannya roda organisasi BUMDes secara teratur dan juga neraca organisasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Hal yang menjadi kesamaan penelitian ini dengan yang peneliti kajian adalah sama-sama membahas peran BUMDes terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun peneliti dalam penelitian ini lebih memfokuskan penelitiannya dalam upaya meningkatkan masyarakat di desa lenganeng. Adapun yang menjadi pembeda adalah fokus dan lokasi penelitian. Yakni pada penelitian yang di lakukan penelitian berlokasi di desa langenang kecamatan tabukan utara kabupaten kepulauan sanghie.

6. Fajrin, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang berjudul “Peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus BUMDes Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah).”46

Fokus penelitian ini untuk mengetahui peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengetahui kendala yang dihadapi oleh BUMDes dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Metodepenelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menganalisis peran dan kendala yang di hadapi

46Fajrin, Peran Badan Usaha MilikDesa(BUMDes) Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus BUMDes Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah), (Skripsi, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, Mataram 12 Agustus 2020).

(47)

BUMDes dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; peran BUMDes telah membantu dalam peningkatan pendapatan masyarakat dengan berbagai macam perannya yaitu; menyediakan layanan simpan pinjam, menyediakan bahan baku kain tenun, penjualan tiket dan pelayanan pembayaran tagihan., dan kendala yang dihadapi adalah anggapan masyarakat bahwa uang yang pinjaman adalah uang pemerintah untuk masyarakat, SDM masih rendah, kurangnya sosialisasi, sumber daya modal masih kurang, dan prasarana.

Hal yang menjadi kesamaan penelitian ini dengan yang peneliti kajian adalah sama-sama menganalisis peningkatan masyarakat. Namun peneliti dalam penelitian ini lebih memfokuskan penelitiannyadalam upaya meningkatkan dan mengetahui kendala BUMDes.Adapun yang menjadi pembeda adalah fokus dan lokasi penelitian. Yakni pada penelitian yang di lakukan penelitian berlokasi di Desa Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, dan rumusan masalah yang menganalisis BUMDes dalam meningkatkan pendapatan masyarakat Desa sukarara.

(48)

C. Kerangka Berpikir

Dalam skripsi ini akan dibahas, Pola Pengelolaan Bumdes Syari’ah Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat (Studi Kasus Di Desa Kembang Kuning Kec. Sikur Kab. Lombok Timur)

Bagan Kerangka Berpikir : Badan Usaha Milik

Desa (BUMDes) Syariah Kembang

Kuning

a. Transparansi b. Akuntabilitas c. Responsibilitas d. Independensi/Profesio

nalitas

e. Kewajaran Dan Kesetaraan Pola Pengelolaan

Program Unit Usaha Badan Usaha Milik

Desa (BUMDes) Syariah

Dampak Pola Pengelolaan BUMDes

Pendapatan Masyarakat

1. Meningkatkan perekonomian desa 2. Meningkatkanpendap

atan asli desa 3. Meningkatkan

pengolahan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat 4. Menjadi

tulangpunggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pedesaan.

(49)

37 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriftif, yakni melakiskan dan menafsirkan keadaan yang pernah ada sekarang. Penelitian ini berkenaan dengan kondisi atau hubungan yang ada, praktek-praktek yang sedang berlaku, sudut pandang atau sikap yang dimiliki, proses-proses yang sedang berlangsung, pengaruh-pengaruh yang dirasakan atau kecendrungan-kecendrungan yang sedang berkembang. Adapun tujuannya adalah menggambarkan keadaan sesuatu atau yang sedang terjadi pada saat penelitian berlangsung.47

2. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Kualitatif merupakan sebuah penelitian yang menemukan analisis proses berfikir secara induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antara fenomena yang diamati, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah. Sehingga menghasilkan data deskriftif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati.48

Dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti diharapkan mampu mendeskripsikan dan menggambarkan secara jelas tentang polapengelolaan BUMDes syari’ah dalam meningkatkan pendapatan

47Arif Furchan, Pengantar Penelitian, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 39

48Imam gunawan, Metode Penelitian KualitatifTeori Dan Praktik, (Jakarta: Bumiaksara, 2013), hlm. 80.

(50)

masyarakat studi kasus di desa kembang kuning kec. Sikur kab. Lombok Timur

3. Waktu dan Tempat Penelitian a. Waktu penelitian

Penelitian observasi awal dilakukan oleh peneliti pada tanggal 1 November 2020, dan peneliti melakukan penelitian pada 1 Maret 2021.

b. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini peneliti terjun langsung dilapangan untuk mengumpulkan data, melihat, mencermati, meneliti dan menelaah keadaan yang diteliti guna memperoleh data yang akurat terlebih lagi penelitian menganalisis. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini benar- benar dapat dibuktikan dan dipercaya, dan kehadiran peneliti dilokasi bertindak sebagai instrumen kunci sekaligus sebagai pengumpul data.

c. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di BUMDes Desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Alasan memilih lokasi, berdasarkan hasil pengamatan awal penelitian ada beberapa alasan utama penelitian ini dilakukan dilokasi ini antara lain bahwa tinjauan polapengelolaan sangat penting dan lokasi penelitian lumayan berkembang dan maju.

Referensi

Dokumen terkait

1 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan lembaga usaha desa yang dikelola masyarakat dan pemerintah desa dalam upaya memperkuat perekonomian desa dan dibentuk

Karena itulah disini penulis tertarik mengangkat tema penelitian yang berjudul “Sinergitas Pemerintah Desa, Bumdes Tirta Mandiri Dan Masyarakat Dalam Pengelolaan

Hasil wawancara keenam dengan Bapak Rival Zulvi selaku masyarakat desa Panton Kecamatan Teunom Kabupaten Aceh Jaya mengatakan bahwa faktor pendukung dengan adanya alokasi dana

“Berdasarkan hasil wawancara dari Bapak Yonathan selaku Tokoh umat Nasrani beliau sependapat dengan bapak Subandi mengatakan bahwa masyarakat Banyuurip tidak pernah

Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) adalah lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa dalam upaya memperkuat perekonomian desa dan dibentuk

Adapun tujuan tersebut merupakan bentuk dari semangat para penguirus dan anggota untuk membangkitkan pengelolaan BUMDes dan memperkuat prekonomian masyarakat, oleh karena itu ada 4

Badan Usaha Milik Desa BUMDes juga merupakan pembentukan lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintahan desa, untuk meningkatkan perekonomian desa yang dibentuk

agar bisa membantu manambah pendapatan masyarakat Desa Pasinan”.62 Adapun narasumber kedua yakni saudara bapak Muhammad Riduwan selaku K.Unit Pasar Monas juga menjelaskan hal yang