Memaksimalkan Potensi Prebiotik Pangan Lokal Untuk Kesehatan
MARIA STEPHANIE
Master of Philosophy, Alumna of Centre for Nutrition and Food Sciences, Queensland Alliance for Agriculture and Food Innovation,
The University of Queensland, Australia Email: [email protected]
Pendahuluan
Kesehatan usus atau gut health adalah istilah yang makin banyak didengar beberapa tahun terakhir ini.
Walaupun terkesan hanya mengacu ke usus saja, kesehatan usus secara umum dapat didefinisikan sebagai kondisi saluran gastrointestinal (GI) atau pencernaan yang terbebas dari keluhan-keluhan yang membutuhkan perhatian medis (Bischoff, 2011). Salah satu kriteria saluran GI yang sehat menurut Bischoff (2011) adalah mikrobiota yang normal dan stabil.
Mikrobiota yang dimaksud adalah komunitas
mikroorganisme (terutama bakteri) yang hidup di dalam saluran GI, terutama dalam kolon atau usus besar.
Mikrobiota usus (MU), juga dikenal dengan sebutan flora atau mikrobioma usus, dapat dianggap normal apabila terdapat populasi
bakteri komensal (tidak merugikan kesehatan) yang cukup besar untuk menekan populasi mikroorganisme patogen, sehingga tidak menimbulkan penyakit (Bischoff, 2011). Infeksi beberapa jenis
mikroorganisme patogen seperti bakteri Escherichia coli dan Clostridioides difficile diketahui dapat mengakibatkan gangguan pencernaan (Cresci &
Bawden, 2015; Desai et al, 2016). Selain jumlah bakteri komensal yang besar, tingkat keragaman yang tinggi juga dianggap penting untuk menjaga kesehatan usus (Bischoff, 2011). Hal tersebut dikarenakan adanya
perbedaan peran antara satu jenis bakteri komensal dengan yang lain.
Di dalam lumen (rongga) kolon, terdapat bakteri komensal pengurai serat dan bakteri komensal pengurai lapisan mukus (lendir) pelindung sel-sel epitel usus
(kolonosit). Apabila populasi bakteri komensal didominasi oleh bakteri pengurai mukus yang disebabkan oleh diet rendah serat, kolonosit dapat mengalami peradangan dan/atau menjadi lebih rentan terhadap serangan patogen (Desai et al, 2016; Gambar 1). Kondisi tersebut disebut disbiosis atau
ketidakseimbangan populasi mikrobiota, dan dapat menyebabkan penyakit- penyakit yang menyerang kolon seperti penyakit Celiac, inflammatory bowel disease (IBD; yang dapat dibagi menjadi penyakit Crohn dan kolitis ulseratif), dan kanker kolorektal (Desai et al, 2016; Rowland et al, 2018). Selain itu, disbiosis juga berkaitan dengan gangguan kesehatan lainnya seperti alergi, obesitas, diabetes mellitus tipe 2, dan penyakit kardiovaskular (Rowland et al, 2018).
BioTrends Vol.12 No.1 Tahun 2021
Gambar 1. Lumen kolon yang didominasi oleh bakteri pengurai mukus lebih rentan terhadap peradangan dan serangan patogen (diadaptasi dari Desai et al, 2016)
Probiotik dan Prebiotik
Komposisi MU sangat sensitif terhadap diet atau pola makan inangnya (Cresci
& Bawden, 2015; Desai et al, 2016). Zat yang dapat
dikonsumsi untuk membantu menjaga kesehatan usus adalah probiotik dan prebiotik. Kedua zat ini dapat hadir dalam bentuk makanan maupun suplemen.
Probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dapat memberi manfaat kesehatan bagi inangnya (FAO, 2001). Probiotik yang
paling umum digunakan adalah bakteri genus Lactobacillus dan Bifidobacterium yang sebenarnya juga ditemukan dalam kolon manusia. Di sisi lain, prebiotik dapat
didefinisikan sebagai substrat yang digunakan secara selektif oleh mikroorganisme inang sehingga memberi manfaat kesehatan (Gibson et al, 2017).
Selain diet, keseimbangan MU dapat dipengaruhi penggunaan obat-obatan jenis tertentu seperti antibiotik. Disbiosis dapat terjadi karena penggunaan
antibiotik yang tidak hanya mematikan bakteri patogen, tetapi juga sebagian bakteri komensal dalam saluran GI (Cresci & Bawden, 2015;
Agamennone et al, 2018).
Seberapa besar dampak penggunaan antibiotik terhadap MU tergantung kepada banyak faktor, termasuk jenis antibiotik dan durasi pemakaian (Cresci &
Bawden, 2015). Dalam kasus tertentu seperti penggunaan antibiotik jangka panjang, pemberian suplemen yang mengandung probiotik dalam jumlah tertentu dapat membantu mengembalikan populasi bakteri komensal
(Agamennone et al, 2018).
Idealnya pemberian probiotik ini dilakukan di bawah pengawasan dokter sesuai indikasi medis yang ditemukan. Namun,
penggunaan probiotik tidak terlalu dibutuhkan setelah penggunaan antibiotik jangka pendek maupun saat sehat. Populasi MU,
terutama bakteri pengurai serat, dapat dijaga dengan mengonsumsi makanan sumber prebiotik yang cukup (Desai et al, 2016).
Prebiotik tidak hanya dapat merangsang pertumbuhan bakteri pengurai serat, tetapi juga difermentasi oleh bakteri ini untuk menghasilkan
metabolit yang dapat membantu menjaga
kesehatan usus dan tubuh inang. Salah satu jenis metabolit tersebut adalah asam lemak rantai pendek (SCFA; short chain fatty acids) yang paling banyak ditemukan dalam bentuk asetat, propionat dan butirat (Williams et al, 2019). Butirat merupakan SCFA yang
memiliki peranan paling penting dalam menjaga kesehatan inang (Rowland et al, 2018; Bilotta & Cong, 2019), antara lain dengan:
1. Menjadi sumber energi utama bagi kolonosit 2. Merangsang produksi
mukus yang melindungi kolonosit dari serangan patogen
3. Memiliki efek anti- inflamasi dan membantu meregulasi respons imun;
berpotensi menurunkan risiko IBD, alergi, dan penyakit Celiac 4. Memiliki efek
antikarsinogenik;
berpotensi menurunkan risiko kanker kolorektal.
Selain itu, ketiga jenis SCFA diindikasikan memiliki peranan penting dalam regulasi nafsu makan (appetite) dan rasa kenyang (satiety). Ini berarti SCFA juga berpotensi membantu menurunkan risiko obesitas dan penyakit yang
diakibatkan oleh gangguan metabolik seperti diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskular (Rowland et al, 2018).
Gambar 2. Senyawa-senyawa yang dapat dikategorikan sebagai prebiotik (diadaptasi dari Gibson et al, 2017).
Jenis dan Sumber Prebiotik
Suatu substrat dapat dikatakan sebagai prebiotik
jika memenuhi tiga kriteria berikut (Gibson et al, 2010):
1. Resisten terhadap asam lambung, tidak
terhidrolisis (terurai) oleh
enzim pencernaan, dan tidak diserap oleh saluran GI
2. Dapat difermentasi oleh MU
BioTrends Vol.12 No.1 Tahun 2021
3. Menstimulasi
perkembangbiakan dan aktivitas bakteri usus secara selektif, sehingga meningkatkan kesehatan inang.
Ada beberapa jenis senyawa yang memenuhi tiga kriteria di atas dan dapat dikategorikan sebagai
prebiotik (Gambar 2).
Mayoritas prebiotik adalah karbohidrat kompleks golongan oligosakarida (karbohidrat dengan 3-9 unit gula) dan polisakarida
(karbohidrat dengan 10 atau lebih unit gula).
Oligosakarida seperti human milk oligosaccharides (HMO) pada ASI, serta frukto- oligosakarida (FOS),
galaktooligosakarida (GOS) dan inulin pada bahan pangan nabati sudah diketahui memiliki efek prebiotik sejak lebih dari 20 tahun lalu (Gibson et al, 2017).
Serat adalah polisakarida pada bahan pangan nabati yang tidak dapat dicerna dan diserap di usus halus.
Beberapa jenis serat larut air seperti galaktomanan pada gom guar, beberapa jenis pektin pada buah-buahan, serta beta glukan dan
arabinoxylan pada beberapa jenis serealia seperti oat, barli dan gandum diketahui dapat memenuhi kriteria prebiotik (Slavin, 2013;
Williams et al, 2019). Di sisi lain, tidak sedikit literatur yang menyatakan bahwa
serat tidak larut yang banyak ditemukan pada kulit
ari/bekatul serealia (seperti gandum, beras dan sorgum), sayuran daun, dan kulit buah-buahan tidak dapat difermentasi oleh MU.
Meskipun demikian,
beberapa studi menunjukkan bahwa serat tidak larut seperti pektin jenis tertentu, selulosa dan lignin dapat difermentasi, walau tidak sempurna, sehingga juga memiliki potensi prebiotik (Gamage et al, 2017;
Widaningrum, 2020).
Pati merupakan polisakarida pada bahan pangan nabati, terutama serealia dan umbi-umbian (seperti ubi jalar dan singkong), yang berfungsi sebagai sumber energi utama manusia. Enzim pencernaan dapat mengurai pati yang sudah
tergelatinisasi oleh air dalam proses pemasakan menjadi glukosa, yang kemudian diserap dalam usus halus.
Namun, ada sebagian pati yang tidak dapat
tergelatinisasi selama proses pemasakan, atau mengalami proses retrogradasi setelah tergelatinisasi sehingga menjadi resisten terhadap pencernaan (Birt et al, 2013).
Pati resisten ini juga
diketahui dapat difermentasi oleh MU, sehingga
berpotensi sebagai prebiotik (Slavin, 2013; Williams et al, 2019).
Seiring kemajuan teknologi, pemahaman mengenai prebiotik berkembang melampaui karbohidrat kompleks. Ada banyak sumber bahan pangan nabati yang mengandung senyawa polifenol, misalnya
antosianin, proantosianidin, katekin, dan isoflavon (Rowland et al, 2018; Alves- Santos et al, 2020). Senyawa polifenol dapat berfungsi sebagai pigmen atau zat warna seperti yang terdapat pada rimpang-rimpangan (misal kurkumin di kunyit) dan lapisan kulit ari serealia (contohnya tanin pada sorgum coklat, serta
antosianin pada beras merah dan hitam). Ada juga yang berfungsi memberi rasa dan aroma seperti kapsaisin pada cabai dan gingerol pada jahe.
Mayoritas senyawa polifenol tersebut terikat dalam struktur serat. Oleh karena serat tidak dapat dicerna, sebagian besar senyawa polifenol ini tidak diserap di usus halus dan bisa
mencapai kolon (Gibson et al, 2017). Makin banyak studi yang menunjukkan bahwa senyawa polifenol yang terikat serat ini juga turut difermentasi oleh MU (Rowland et al, 2018; Alves- Santos et al, 2020). Selain itu, asam lemak tak jenuh ganda (PUFA;
polyunsaturated fatty acids), terutama jenis omega-3 ALA yang terkandung dalam beberapa bahan pangan
nabati, serta EPA dan DHA yang banyak ditemukan pada
ikan berminyak juga diindikasikan memiliki
potensi prebiotik (Gibson et al, 2017; Vijay et al, 2020).
Tabel 1. Klasifikasi sumber bahan pangan nabati lokal berdasarkan bagian tanaman yang dikonsumsi
No Bagian
Tanaman Kategori Contoh
1 Daun
Sayuran daun budidaya
Sawi-sawian (sawi hijau/caisim, sawi sendok/pakcoy, brokoli, kembang kol, kubis, sawi putih, cuciwis), selada, bayam, kangkung, selada air.
Sayuran daun liar/non- konvensional
Daun pepaya, daun singkong, daun ubi, daun gedi, kelor, katuk, krokot, lembayung (daun kacang
panjang/kacang tunggak), daun labu, genjer, ginseng jawa, daun talas, daun melinjo, pegagan/antanan, daun murbei, kenikir, pakis/sayur paku, rumput laut.
Herba
Kemangi, telasih, daun adas, bangun-bangun, sirih, pandan, cincau, poh-pohan, sirih bumi, daun bawang, lokio, kucai, daun kunyit, daun kencur.
2 Batang/Tunas - Sagu, pati aren, pelepah pisang muda, batang talas/lompong, serai, kayumanis, rebung.
3 Akar
Umbi- umbian
Kentang, ketela, ubi jalar, ganyong,
garut, gembili, kimpul, uwi, talas, kentang kleci, wortel, lobak, bengkuang.
Rimpang
Jahe, kunyit, temulawak, kencur, lengkuas, kunyit putih, temu mangga, temu hitam, temu kunci, bangle, lempuyang.
Bawang- bawangan
Bawang merah, bawang putih lokal, bawang dayak.
4 Bunga -
Bunga pepaya, jantung pisang, bunga turi, bunga labu, kecombrang/honje, manggar, terubuk/telur tebu, bunga bawang, rosella, cengkih.
5 Buah
Buah musiman
Rambutan, mangga, durian, cempedak, kedondong, duku, alpukat, manggis, kweni, sawo, salak, langsat, kelengkeng, jeruk manis, jeruk bali, jambu
monyet/mete, manggis, srikaya, terung belanda.
Buah tahunan
Apel, pisang, nangka, pepaya, sirsak, jambu biji, jambu air, jeruk nipis, lemon cui/jeruk kasturi, semangka, melon, stroberi, belimbing, nanas, markisa, buah naga, belimbing wuluh, asam jawa, blewah, buah pala, kelapa.
Buah liar/non- konvensional
Kersen/talok, murbei, kepel, pakel,
ciplukan/cecendet, ceremai, buah kesambi, duwet/jamblang, matoa, buah rotan, lobi-lobi.
Sayur buah Cabai, terung, pare, labu, labu siam, melinjo, pepaya muda, mangga muda, sukun, nangka muda, kluwih,
BioTrends Vol.12 No.1 Tahun 2021
jagung muda, tomat, mentimun, gambas, leunca, rimbang.
Rempah Lada hitam, merica putih, kemukus, andaliman.
6 Polong Buncis, kacang panjang, kapri, kecipir, klentang/buah kelor.
7 Biji
Serealia
Beras (putih, pecah kulit coklat, merah, dan hitam), beras ketan (putih, hitam), jagung, sorgum, jewawut, jali-jali/hanjeli.
Polong- polongan
Kacang kedelai, kacang merah, kacang hijau
(termasuk kecambah), kacang tunggak/tholo, kacang koro, kacang gudhe, kacang botor, petai cina, petai, jengkol, kacang tanah.
Kacang pohon dan biji-bijian
Kacang mete, kacang kenari, kemiri, biji labu, wijen, selasih, kolang-kaling, beton/biji nangka.
Rempah Ketumbar, biji adas, jintan, kapulaga, bunga lawang, pala, andaliman
8 Jamur - Jamur kancing, jamur merang, jamur tiram, jamur kuping, jamur jati, jamur so/melinjo.
Tantangan dan Peluang dalam Memaksimalkan Potensi Prebiotik
Pangan Lokal
Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, Indonesia memiliki kekayaan sumber bahan pangan nabati, mulai dari tanaman liar sampai yang dibudidaya (Pawera et al, 2020). Selain itu, pengetahuan mengenai cara konsumsi atau
pengolahan pangan nabati juga sangat beragam. Tidak sedikit tanaman yang memiliki lebih dari satu bagian yang bisa digunakan sebagai bahan pangan, dan ini adalah pengetahuan yang sudah diturunkan secara tradisional dari generasi ke generasi. Misalnya buah pepaya, selain dapat
dikonsumsi sebagai buah, buah muda/mengkal, pucuk daun dan bunga jantannya juga dapat dikonsumsi sebagai sayur. Contoh- contoh bahan pangan nabati lokal lainnya dirangkum dalam Tabel 1.
Walaupun berasal dari spesies yang sama, bagian tanaman yang berbeda memiliki komposisi serat dan senyawa prebiotik lainnya yang berbeda pula (Williams et al, 2019). Oleh karena itu, dapat diasumsikan bahwa Indonesia memiliki sumber prebiotik yang beraneka ragam. Sayangnya, literatur mengenai potensi prebiotik sumber pangan lokal masih sangat terbatas, baik dari segi jumlah maupun keragaman jenis bahan pangan yang diteliti. Apabila kita melakukan pencarian
“potensi prebiotik pangan lokal” di mesin pencari seperti Google.com,
mayoritas studi yang sudah dilakukan terbatas pada sumber makanan pokok seperti umbi-umbian dan produk turunannya, serta buah pisang yang memang sudah diketahui memiliki efek prebiotik. Beberapa contoh penelitian ini dirangkum dalam Tabel 2.
Sebenarnya, tidak sedikit bahan pangan lokal
Indonesia yang juga tersedia di negara-negara lain yang sudah diteliti dan
ditunjukkan potensi prebiotiknya. Sumber makanan pokok seperti beras dan sorgum, serta rempah-rempahan seperti jahe, cabai dan lada hitam tidak hanya dikonsumsi di Indonesia, sehingga cukup
mudah untuk mencari literatur mengenai potensi prebiotiknya dari berbagai
publikasi internasional (seperti yang dirangkum oleh
Gamage et al, 2017; Lu et al, 2019).
Tabel 2. Contoh penelitian potensi prebiotik pangan lokal
No
Sumber Pangan (Jenis
Olahan/Sampel)
Jenis Prebiotik Metode
Studi Temuan Utama Sumber
1
Pisang agung dan pisang mas (serat tidak larut yang diekstraksi dari tepung pisang tanpa dan dengan proses fermentasi)
Serat tidak larut In vitro
↑ kadar serat dan ↑ pertumbuhan bakteri probiotik Lactobacillus acidophilus pada serat tidak larut dari tepung pisang mas yang difermentasi
Pratiwi et al, 2012
2
Beras C4 lokal dan ubi jalar ungu (nasi ungu yang terbuat dari beras yang dimasak dengan pasta ubi ungu)
Raffinosa (tersusun dari fruktooligosakarida/FOS, mannanooligosakarida/MOS dan xylooligosakarida/XOS), pati resisten
In vitro
↑ aktivitas prebiotik pada nasi ungu dibandingkan nasi putih saja
Souripet, 2016
3
Pisang agung dan pisang raja, ubi jalar, kacang tunggak, kacang hijau (cookie bar)
Pisang: oligosakarida (inulin, FOS)
Ubi jalar: pati resisten, oligosakarida
Kacang tunggak:
oligosakarida
Kacang hijau: pati resisten, oligosakarida
In vivo (tikus Wistar)
↑ pertumbuhan bakteri probiotik dan ↓
pertumbuhan bakteri patogen pada cookie bar dibandingkan ransum kontrol
Dalu, 2017
4
Singkong (growol; olahan fermentasi tradisional dari singkong)
Pati resisten, oligosakarida In vitro
↑ aktifitas prebiotik pada growol
dibandingkan singkong
Sari &
Puspaningtyas, 2019
5
Gembili (serat larut air yang diekstraksi dari gembili)
Serat larut air (glukomanan) In vitro
Memiliki efek prebiotik
terhadap bakteri probiotik jenis Bifidobacterium longum
Herlina et al, 2020
BioTrends Vol.12 No.1 Tahun 2021
Namun, akan lebih baik lagi jika varietas-varietas lokal diteliti potensi
prebiotiknya karena belum tentu mengandung senyawa prebiotik yang sama.
Sedikitnya jumlah penelitian yang ada serta keragaman jenis pangan yang diteliti merupakan suatu tantangan tersendiri, namun bisa dimanfaatkan sebagai motivasi untuk melakukan penelitian-penelitian yang dapat memperjelas potensi prebiotik dari beragam sumber pangan lokal Indonesia.
Sejauh ini kita sudah mengetahui bahwa komposisi MU yang
seimbang adalah salah satu faktor pendukung kesehatan usus, dan komposisi MU dipengaruhi oleh diet inangnya. Secara umum, pola makan yang beragam dan seimbang dipercayai dapat meningkatkan keragaman MU (Bischoff, 2011). Berdasarkan
pembahasan-pembahasan sebelumnya, diketahui juga bahwa konsumsi prebiotik dapat mendukung
pertumbuhan bakteri pengurai serat/penghasil SCFA dan mayoritas prebiotik ditemukan di bahan pangan nabati. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa diet yang memiliki keragaman makanan nabati yang tinggi dapat membantu menjaga kesehatan usus.
Sementara menunggu bertambahnya penelitian-
penelitian yang bisa memvalidasikan potensi prebiotik pangan lokal, yang bisa kita lakukan adalah melestarikan pengetahuan yang diturunkan oleh
generasi-generasi pendahulu dengan mengingat kembali dan tetap mengonsumsi aneka ragam sumber pangan nabati yang tersedia di Indonesia.
Daftar Pustaka
Agamennone V, Krul CAM, Rijkers G & Kort R. (2018): A Practical Guide for
Probiotics Applied to the Case of Antibiotic-
Associated Diarrhea in The Netherlands, BMC
Gastroenterology, 18, 103.
https://doi.org/10.1186/s12 876-018-0831-x
Alves-Santos AM, Sugizaki CSA, Lima GC & Naves MMV.
(2020): Prebiotic Effect of Dietary Polyphenols: A Systematic Review, Journal of Functional Foods, 74, 104169.
https://doi.org/10.1016/j.jff.
2020.104169
Bilotta AJ & Cong Y. (2019): Gut Microbiota Metabolite Regulation of Host Defenses at Mucosal Surfaces:
Implication in Precision Medicine, Precision Clinical Medicine, 2(2), 110-119.
https://doi.org/10.1093/pc medi/pbz008
Birt DF, Boylston T, Hendrich S, Jane JL, Hollis J, Li L,
McClelland J, Moore S, Phillips GJ, Rowling M, Schalinske K, Scott MP &
Whitley EM. (2013):
Resistant Starch: Promise for Improving Human Health, Advances in Nutrition, 4(6), 587-601.
https://doi.org/10.3945/an.
113.004325
Bischoff S. (2011): 'Gut health':
A new objective in
medicine?, BMC Medicine, 9, 24.
https://doi.org/10.1186/174 1-7015-9-24
Cresci GA & Bawden E. (2015):
Gut Microbiome: What We Do and Don't Know,
Nutrition in Clinical Practice, 30.
https://doi.org/10.1177/088 4533615609899
Dalu, KCA. (2017): Evaluasi Sifat-sifat Prebiotik Cookies Bar Berbasis Pisang, Ubi Jalar, dan Kacang Secara In Vivo pada Tikus Wistar Jantan, Sarjana Teknologi Pertanian, Universitas Jember.
Desai MS, Seekatz AM, Koropatkin NM, Kamada N, Hickey CA, Wolter M, Pudlo NA, Kitamoto S, Terrapon N, Muller A, Young VB,
Henrissat B, Wilmes P, Stappenbeck TS, Núñez G, &
Martens EC. (2016). A Dietary Fiber-Deprived Gut Microbiota Degrades the Colonic Mucus Barrier and Enhances Pathogen Susceptibility, Cell, 167(5), 1339–1353.e21.
https://doi.org/10.1016/j.ce ll.2016.10.043
Food and Agricultural
Organization of the United Nations & World Health Organization. (2001): Health and Nutritional Properties of Probiotics in Food including Powder Milk with Live Lactic Acid Bacteria.
http://www.fao.org/3/y639 8e/y6398e.pdf
Gamage HKAH, Tetu SG, Chong RWW, Ashton J, Packer NH
& Paulsen IT. (2017): Cereal Products Derived from Wheat, Sorghum, Rice and Oats Alter the Infant Gut Microbiota In Vitro,
Scientific Reports, 7, 14312.
https://doi.org/10.1038/s41 598-017-14707-z
Gibson GR, Scott KP, Rastall RA, Tuohy KM, Hotchkiss A, Dubert-Ferrandon A, Gareau M, Murphy EF, Saulnier D, Loh G, Macfarlane S, Delzenne N, Ringel Y, Kozianowski G, Dickmann R, Lenoir-Wijnkoop I, Walker C
& Randal B. (2010): Dietary Prebiotics: Current Status and New Definition, Food Science and Technology Bulletin: Functional Foods, 7, 1-19.
https://doi.org/10.1616/147 6-2137.15880
Gibson GR, Hutkins R, Sanders ME, Prescott SL, Reimer RA, Salminen SJ, Scott K,
Stanton C, Swanson KS, Cani PD, Verbeke K & Reid G.
(2017): Expert Consensus Document: The
International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) Consensus Statement on the Definition and Scope of Prebiotics, Nature Reviews Gastroenterology &
Hepatology, 14, 491–502.
https://doi.org/10.1038/nrg astro.2017.75
Herlina, Harijono, Subagio A &
Estiasih T. (2020): Potensi Prebiotik Polisakarida Larut Air Umbi Gembili (Dioscorea esculenta L) Secara In Vitro,
Jurnal Agroteknologi, 5(1), 1-11.
https://doi.org/10.19184/j- agt.v5i01.19741
Lu QY, Rasmussen, AM, Yang J, Lee RP, Huang J, Shao, P, Carpenter CL, Gilbuena I, Thames G, Henning SM, Heber D, & Li Z. (2019):
Mixed Spices at Culinary Doses Have Prebiotic Effects in Healthy Adults: A Pilot Study. Nutrients, 11(6), 1425.
https://doi.org/10.3390/nu1 1061425
Pawera L, Khomsan A, Zuhud EAM, Hunter D, Ickowitz A &
Polesny Z. (2020): Wild Food Plants and Trends in Their Use: From Knowledge and Perceptions to Drivers of Change in West Sumatra, Indonesia, Foods, 9(9), 1240.
https://doi.org/10.3390/foo ds9091240
Pratiwi YN, Nurhayati & Nafi A.
(2012): Evaluasi Sifat
Prebiotik Serat Pangan Tidak Larut Air (STLA) Terekstrak dari Tepung Buah Pisang Agung dan Pisang Mas, AGROTEK: Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian, 6(1), 29-39.
Rowland I, Gibson G, Heinken A, Scott K, Swann J, Thiele I,
& Tuohy K. (2018): Gut microbiota functions:
metabolism of nutrients and other food components, European Journal of Nutrition, 57(1), 1–24.
https://doi.org/10.1007/s00 394-017-1445-8
Sari PM & Puspaningtyas DE.
(2019): Skor Aktivitas Prebiotik Growol (Makanan Fermentasi Tradisional dari Singkong) Terhadap Lactobacillus sp. dan
Escherichia coli, Ilmu Gizi Indonesia, 2(2), 101-106.
Slavin J. (2013): Fiber and Prebiotics: Mechanisms and Health Benefits, Nutrients, 5, 1417-1435.
https://doi.org/10.3390/nu5 041417
Souripet A. (2016): Potensi Prebiotik Nasi Ungu, AGRITEKNO, Jurnal Teknologi Pertanian, 5(1), 18-25.
https://doi.org/10.30598/ja gritekno.2016.5.1.18 Vijay A, Astbury S, Le Roy C,
Spector TD & Valdes AM.
(2020): The Prebiotic Effects of Omega-3 Fatty Acid Supplementation: A Six- Week Randomised Intervention Trial, Gut Microbes, 13(1), 1863133.
https://doi.org/10.1080/194 90976.2020.1863133 Widaningrum, Flanagan BM,
Williams BA, Sonni F, Mikkelsen D & Gidley MJ.
(2020): Fruit and Vegetable Insoluble Dietary Fibre In Vitro Fermentation Characteristics Depend on Cell Wall Type, Bioactive Carbohydrates and Dietary Fibre, 23, 100223.
https://doi.org/10.1016/j.bc df.2020.100223
Williams BA, Mikkelsen D, Flanagan BM & Gidley MJ.
(2019): “Dietary Fibre”:
Moving Beyond the
“Soluble/Insoluble”
Classification for
Monogastric Nutrition, with an Emphasis on Humans and Pigs, Journal of Animal Science and Biotechnology, 10, 45.
https://doi.org/10.1186/s40 104-019-0350-9
BioTrends Vol.12 No.1 Tahun 2021
BioTrends Vol.12 No.1 Tahun 2021