• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi untuk Belajar dan Beredukasi

N/A
N/A
Arfa Erdianto Saputra

Academic year: 2024

Membagikan " Potensi untuk Belajar dan Beredukasi"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1. Manusia dan agama

Kata insan bila dilihat asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin. Atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari hal-hal yang dilihatnya, dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta dapat meminta izin ketika akan menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Berdasarkan pengertian ini, tampak bahwa manusia mampunyai potensi untuk dididik.

Dalam konsep an-naas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya tidak boleh sendiri-sendiri. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri.

Basyar Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Qur’an dengan menggunakan kata basyar menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia basyar adalah anak turunan Adam, makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang membuat pengertian basyar mencakup anak turun Adam secara keseluruhan.Kata basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mutsanna.

Menurut agama Islam, manusia diciptakan di bumi untuk beribadah kepada Allah. Selain itu, manusia diciptakan di bumi sebagai khalifah atau pemimpin di bumi.

Agama memiliki tujuan untuk menjadikan manusia melakasankan segala peran yang diperintahkan Allah. Sehingga agama mengatur segala sendi kehidupan manusia dan dapat dikatakan agama merupakan pengatur manusia untuk menjalankan perannya di muka bumi. Agama sangat perlu bagi manusia, terutama bagi yang berilmu. Karena dengan agama ilmunya akan lebiih bermakna. Bagi kita umat Islam, agama yang dimaksud adalah agama yang kita peluk yaitu agama Islam.

Surah Al-Baqarah (2:30) Surah Al-An'am (6:165) Surah Yunus (10:61) 2. Etos Kerja

Etos artinya watak, karakter, sikap, kebiasaan dan kepercayaan yang bersifat khusus tentang seseorang individu atau sekelompok manusia.

Kerja adalah perbuatan yang berhubungan dengan mental, yang mempunyai ciri kepentingan, yaitu untuk mencapai maksud atau mewujudkan tujuan tertentu.

Etos kerja adalah sikap seseorang atau suatu bangsa yang sangat mendasar tentang kerja, yang merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi dari nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah).

Ciri muslim beretos kerja = prinsip manajemen professional, iwa kepemimpinan, mempertimbangkan keputusan, menghargai waktu, hemat, semangat belromba dalam kebaikan, motivasi untuk mandiri,haus ilmu pengetahuan.

kerja yang direstui allah = yang membersihkan hati dan pikiran, yang meluruska budi pekerti, yang memperluas lapangan kebaikan, tempat mempererat hubungna persaudaraan, yang menjaga kehidupan social, tidak merusak alam, yang melindungi dari (agama, harga diri, akal, harta), memberi manfaat pada orang lain, sesuai dengan hukum allah, didasari niat baik.

QS. Surat An Najm: Ayat 39 QS. Al-Isra' : Ayat 84 QS. Az-Zumar : Ayat 39 QS. Al-Jumu'ah : Ayat 10 QS. AtTaubah: Ayat 105 3. Akhlak Islam Dan Peranannya Dalam Pembinaan Masyarakat

Etika secara bahasa berasal dari kata ethos yang mengandung arti kebiasaan, cara berfikir (Zubaidi, 2011). Sedangkan secara terminologi, dalam Encyclopedia Britanica dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi tentang sifat dasar dari konsep baik dan buruk, benar dan salah (Nata, 2002). Sedangkan Ahmad Amin (1983) mengartikan etika sebagai ilmu yang menjelaskan apa tujuan yang harus dicapai, serta cara apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam perbuatannya.

Sementara itu, moral dari segi terminologis, bisa digunakan untuk menentukan batas-batas dari kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Moral merupakan istilah yang digunakan untuk memberi batasan terhadap aktivitas manusia berdasarkan nilai baik atau buruk.

Akhlak berasal dari bahasa Arab dari kata khuluk yang berarti tingkah laku, tabiat atau peragai. Secara istilah, akhlak yaitu sifat yang dimiliki seseorang, telah melakat dan biasanya akan tercermin dari perilaku orang tersebut.

Akhlak merupakan fondasi dasar karakter diri manusia. Hal ini sesuai fitrah manusia yang menempatkan posisi akhlak sebagai pemelihara eksistensi manusia. Akhlaklah yang membedakan karakter manusia dengan makluk lainnya. Manusia tanpa akhlak akan kehilangan derajat sebagai hamba Allah yang paling terhormat

Akhlak kepada Allah SWT. Akhlak kepada Allah prinsipnya merupakan penghambaan diri secara total kepada-Nya. Sebagai makhluk yang dianugerahi hati dan akal, seorang muslim wajib menempatkan diri pada posisi yang tepat, yakni sebagai hamba dan menempatkan Allah sebagai Zat Yang Maha Kuasa. Beberapa bentuk perbuatan akhlak terpuji kepada Allah : Menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, Mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, Tawakkal

Akhlak kepada Rasullulah SAW. Implementasi dari mengikuti perilaku Rasulullah SAW berarti menempatkan beliau sebagai manusia pilihan Allah, membenarkan kerasulannya dan risalah yang dibawanya, serta menjadikan beliau sebagai panutan dalam menjalani kehidupan.

Akhlak kepada sesama manusia Berbakti kepada orang tua. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu amal saleh yang mulia, bahkan perbuatan ini sangat utama disisi Allah SWT dan Islam mengecam anak yang durhaka kepada orang tua. Menghormati yang Tua, Menyayangi yang Muda. Islam mengajarkan agar kaum tua senantiasa menyayangi dan memberikan pendidikan yang positif terhadap kaum muda.

Sebaliknya kaum muda harus bersikap hormat pada kaum tua. Menghormati Tetangga. Islam juga mengajarkan akhlak yang perlu dibina dalam lingkungan tetangga. Tetangga merupakan lingkungan yang terdekat dengan tempat tinggal dimana kita berada, yang merupakan pihak yang lebih cepat dapat memberikan pertolongan apabila terjadi kesulitan.

Akhlak Terhadap Lingkungan Akhlak terhadap lingkungan merupakan perbutan atau adab kita dalam memperlakukan hewan, tumbuhan dan benda tak bernyawa yang merupakan ciptaan Allah. Dalam Alquran dijelaskan bahwa untuk mencegah terjadinya dampak kerusakan di lingkungan kita, maka kita dalam berfikir dan berbuat hendaknya berpegang pada prinsip ihsan yaitu perbuatan yang selalu berorientasi pada yang paling baik, benar dan selalu mengharapkan keridhoan Allah.

Proses pembentukan akhlak = pembiasaan, keteladanan, refleksi diri.

At Tiin : 4-6 Al-An’am [6], ayat 38

4. Membangun Masyarakat Profesional Berbasis Akhlakul Karimah

(2)

Akhlak merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, yang memiliki arti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Akhlak

sebenarnya merupakan sifat dasar manusia yang telah ada pada diri manusia sejak ketika dia lahir dan akan terus melekat pada jiwa manusia untuk mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang tidak melalui pertimbangan fikiran terlebih dahulu. Jika sifat hatinya baik, maka yang muncul adalah akhlak yang baik (al-akhlaq al-karimah) dan sebaliknya jika sifat hatinya tidak baik maka akan muncul akhlak yang buruk dalam perilakunya (al-akhlaq al-mazmumah).

Perwujudan akhlak dalam kehidupan manusia mengalami perbedaan. Hal ini dipengaruhi dua faktor utama (menurut Thohir Luth, 2005 : 119-133) :

Faktor Internal, yakni sifat-sifat bawaan atau yangdibawa sejak lahir. [insting/naluri, keturunan, kemauan keras, suara batin].

Faktor Eksternal, merupakan pengaruh yang terjadi di luar diri manusia karena adanya suatu aksi dan interaksi.[lingkungan alam dan pergaulan].

QS. Al – Hujurat : 13 QS. Asy-Syura : 35 QS. Al – Isra’ : 84 QS. Ar-Ra’d : 28 QS. Hud : 123 5. Wawasan Ekologi Dan Penerapannya Dalam Islam

Ekologi berasal dari bahasa Yunani "oikos" yang berarti tempat tinggal dan "logos" yang berarti ilmu. Ekologi merupakan cabang dari ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme-organisme, serta hubungan antara organisme-organisme dengan lingkungannya.

Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman manusia terhadap ekologi untuk menjaga keseimbangan dan keberlangsungan alam serta kehidupan di bumi.

Al-Qur'an sebagai kitab sudah memberikan petunjuk dan pencerahan bagi pola kehidupan di seluruh alam semesta. Beberapa ayat di dalam Al-Qur'an membahas tentang fenomena alam yang bertujuan untuk menarik perhatian manusia pada pencipta alam yang maha mulia. Selain itu. Al-Qur'an juga menekankan pentingnya pemeliharaan lingkungan agar ekosistem yang ada di dalamnya tetap seimbang. Hal ini juga bertujuan untuk mendorong manusia agar lebih dekat kepada-Nya.

Tujuan manusia diciptakan. Manusia diciptakan dengan akal untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, dengan tugas pokok untuk mengurus dan menjaga alam semesta yang diciptakan Tuhan dengan begitu luas. Untuk menguasai dan mengungkap rahasia alam ini, manusia perlu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak terjerumus dalam sebuah lubang kesombongan dan arogansi intelektual.

Manusia dituntut untuk menyadari bahwa potensi sumber daya alam ini akan habis jika keseimbangannya tidak dijaga dengan baik.

Al-Ahzab ayat 72 QS. Az-Zumar Ayat 5 QS. Luqman Ayat 10 QS. Ar Rum Ayat 19 6. Ekonomi Syariah Dalam Mengentaskan Kemiskinan

Secara Umum ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam yang diatur berdasarkan syariat Islam dan di dasari dengan keimanan. Ekonomi syariah atau sistem ekonomi koperasi berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Selain itu, ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah yang teraplikasi dalam etika dan moral dengan tujuan untuk memperoleh falah (kedamaian & kesejahteraan dunia akhirat).

Secara etimologi miskin atau kemiskinan adalah keadaan tidak berharta benda atau serba kekurangan atau berpenghasilan sangat rendah.

Dan juga terdapat istilah kemiskinan absolut yang berarti situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan minimum. Dalam Bahasa Arab kemiskinan

diungkapkan dengan kata Al-miskin atau Al-faqr berarti keadaan membutuhkan. Dan seorang faqir adalah seseorang yang hanya mempunyai sedikit makanan pokok. Sedangkan kata al-miskin berarti orang yang tidak punya cukup harta untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Faqir adalah orang yang mempunyai harta kurang dari satu nisab zakat yaitu kurang dari 200 dirham (595 gram emas, 1 dirham= 2,975 emas di luar dari kebutuhan pokoknya. Sedangkan orang miskin adalah orang yang tidak memiliki harta tumbuh apapun dan keadaannya lebih buruk dari orang faqir.

Faqir menurut Imam Syafii adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai harta yang dapat tumbuh sedangkan orang miskin adalah orang yang mempunyai harta yang dapat tumbuh tapi mereka tidak dapat hidup layaknya dengannya.

miskin menurut fiqh adalah orang yang tidak mempunyai kebutuhan pokok, pakaian, kelangsungan hidup lama dan ketahanan sosial.

Miskin juga dikarenakan tidak adanya ketersediaan material bagi manusia untuk bertahan hidup lama. Islam memberikan gambaran bahwa orang miskin harus mendapatkan perlindungan baik secara materi maupun agama. Agama mewajibkan setiap umatnya untuk bersedekah dan

mengeluarkan zakat untuk kepentingan umat dan masyarakat terlebih dahulu untuk orang miskin secara harta. Menurut Fiqh ada dua tuntutan terhadap manusia untuk memberikan perlindungan yaitu perlindungan terhadap jiwa manusia dan kemanusiaan. Kedua, perlindungan terhadap keturunan dan kehormatan

factor mempegaruhi kemiskinan = 1. Monopoli dan ketidak adilan dalam distribusi bahan pokok kesejumlah wilayah menjadi salah satu faktor manusia miskin. Orang miskin menjadi sasaran konsumen bagi orang kaya dan orang miskin menjadi sasaran pembelajaran dan percobaan barang konsumsi, bahkan distribusi bahan pokok tidak merata kepada orang miskin. 2. Sikap berlebihan dan boros dalam menjalani hidup merupakan sikap yang tidak benarkan dalam Islam. Bersikap sombong dan pamer kekayaan, serta bermewah-mewahan merupakan tindakan yang kurang etis. Sikap tersebut sering menyebabkan terjadi ketimpangan antara miskin dan kaya. Biasanya kekayaan menjadi alat untuk mendiskreditkan orang miskin. 3. Tindakan dan perbuatan riba adalah tindakan yang dilarang oleh Islam dan merupakan salah satu penyebab kemiskinan di

masyarakat. Hal ini karena riba adalah perbuatan yang menguntungkan satu orang saja, dan merugikan pihak lain. Riba sendiri mengambil keuntungan dari orang yang berhutang berupa kelebihan uang, secara semena-mena. Tindakan inilah yang membuat orang miskin (mempunyai hutang) semakin miskin, karena harus membayar kelebihan uang.

kemiskinan selalu ada dan penyebabnya, ketidakmampuan masyarakat untuk merdeka dan mandiri dalam ekonomi dan perdagangan.

Sistem ekonomi Kapitalisme selalu menjadi faktor dan aktor utama kemiskinan di dunia terjadi, karena sistem itu menganut ketergantungan ekonomi terhadap negara maju. Sementara Islam mengajarkan manusia untuk bersikap merdeka dan tidak tergantung kepada orang lain, bahkan

(3)

harus sehat secara jasmani dan rohani. Sifat tidak malas, tidak boros dan pasrah akan keadaan, harus dihilangkan dalam diri manusia, sehingga menjadi manusia yang sempurna baik dari eknomi dan sosial. Islam juga memerintahkan agar manusia rajin bekerja, rajin ibadah dan tidak melampui batas kehidupan yang telah digariskan oleh Al-Quran. Sikap yang buruk harus dikendalikan agar tidak terjrumus kedalam kekufuran. Islam menjunjung tinggi martabat dan moral, bahkan Islam menginginkan umatnya kaya raya dan suka berderma, sehingga ajaran Islam mengenai zakat, sedekah dan wakaf menjadi solusi dalam mengurangi kemiskinan sosial.

Al-Quran surat Saba’ ayat 34 – 35 Al-Quran surat Al-baqarah ayat 143 7. Masyarakat madani dan Kesejahteraan Umat

pembentukan masyarakat madani telah mulai dikembangkan sejak jaman Yunani klasik seperti oleh ahli pikir Cicero. Makna utama dari masyakat madani adalah masyarakat yang menjadikan nilai-nilai peradaban sebagai ciri utama.

Ciri pokok masyarakat madani = 1. Kesukarelaan (bukanlah merupakan suatu masyarakat paksaan atau karena indokrinasi) 2.

Keswasembadaan (tidak akan menggantungkan kehidupanya kepada orang lain. Dia tidak tergantung kepada negara, juga tidak tergantung kepada lembaga-lembaga atau organisas). 3. Kemandirian tinggi terhadap negara (manusia-manusia yang percaya diri sehingga tidak tergantung kepada perintah orang lain termasuk negara). 4.keterkaitan pada nilai2 hukum yang disepakati Bersama (suatu masyarakat yang berdasarkan hukum dan bukan negara kekuasaan)

Dalam kerangka proses pembangunan masyarakat madani Indonesia, terdapat beberapa ciri yang khas yang bisa kita perhatikan, yaitu : 1.

Kenyataan adanya keragaman budaya Indonesia yang merupakan dasar pengembangan identitas bangsa Indonesia dan kebudayaan nasional. 2.

Pentingnya saling pengertian antara sesama anggota masyarakat. Seperti yang telah dikemukakan oleh filosof Isaiah Berlin, yang diperlukan di dalam masyarakat bukan sekedar mencari kesamaan dan kesepakatan yang tidak mudah untuk dicapai, justru yang penting di dalam masyarakat yang bhineka adalah adanya saling pengertian. Konflik nilia-nilai justru merupakan dinamika dari suatu kehidupan bersama di dalam masyarakat madani. Konflik nilai-nilai tidak selalu berarti hancurnya suatu kehidupan bersama. Dalam masyarakat demokratis. Konflik nilai akan memperkaya pandangan dari setiap anggota. 3. Berkaitan dengan kedua ciri khas tadi adalah toleransi yang tinggi. Dengan demikian masyarakat madani Indonesia bukanlah masyarakat yang terbentuk atau dibentuk melalui proses indokrinasi tetapi pengetahuan akan kebhinekaan dan penghayatan terhadap adanya kebhinekaan tersebut sebagai unsur penting dalam pembangunan kebudayaan nasional. 4. Akhirnya untuk melaksanakan nilai- nilai yang khas tersebut diperlukan suatu wadah kehidupan bersama yang diwarnai oleh adanya kepastian hukum. Tanpa kepastian hukum sifat-sifat toleransi dan saling pengertian antara sesama anggota masyarakat pasti tidak dapat diwujudkan.

Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan Seluruh Umat Manusia, yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapainya berbagai sistem kenegaraan muncul, seperti demokrasi. Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia. Namun masih banyak permasalahan bagi bangsa Indonesia, permasalahan yang timbul tersebut mengakibatkan banyaknya konflik ataupun kekacauan yang terjadi dimasyarakat. Permaalahan ini tidak bisa ibiarkan lebih lanjut karena akan sangat berakibat buruk bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Masih adanya budaya KKN dan budaya malas mungkin menjadi masalah yang utama di negeri ini.

Al – Muthaffifin : 1-5 Al-baqarah ayat 188 8. Islam dan Iptek

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui panca indra, intuisi, dan firasat. Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasikan, disistematisasi, dan diinterpretasi, sehingga menghasilkan kebenaran objektif dan dapat diuji kebenarannya. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ‘ain adalah Al-Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya.

Menurut pengertian Barat, ilmu merupakan hasil riset yang dilakukan oleh manusia, berupa konsep, teori, dan penjelasan. Sedangkan menurut al-Qur ’ an, ilmu adalah rangkaian keterangan teratur dari Allah.

Ada beberapa kemungkinan hubungan antara agama dengan IPTEK yaitu : 1. Pola hubungan yang negatif, saling tolak (Apa yang dianggap benar oleh agama dianggap tidak benar oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula sebaliknya. Dalam pola hubungan seperti ini, pengembangan iptek akan menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran agama dan pendalaman agama dapat menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran ilmu pengetahuan.) 2. Perkembangan dari pola pertama (Ketika kebenaran iptek yang bertentangan dengan kebenaran agama makin tidak dapat disangkal sementara keyakinan akan kebenaran agama masih kuat di hati, jalan satu-satunya adalah menerima kebenaran keduanya dengan anggapan bahwa masingmasing mempunyai wilayah kebenaran yang berbeda.) . 3. Pola hubungan netral (Dalam pola hubungan ini, kebenaran ajaran agama tidak bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahuan tetapi juga tidak saling mempengaruhi. Kendati ajaran agama tidak bertentangan dengan iptek, ajaran agama tidak dikaitkan dengan iptek sama sekali.)

ilmu itu membutuhkan pembuktian (dalil, hujjah atau argumen) sebagai hasil dari sebuah pencarian, dan al-Qur ` an mengisyaratkan mengenai hal ini. Karena itu, ada beberapa definisi al-‘ilmu yang disodorkan para ulama sebagaimana dikemukakan Syarief ‘Ali bin Muhammad alJarjani, yaitu: “keyakinan yang pasti sesuai dengan kenyataan ” , “sampainya gambaran sesuatu terhadap akal” , “hilangnya keraguan setelah diketahui” , “hilangnya kebodohan ” , “ merasa cukup setelah tahu ” . Dikatakan pula “sebagai sifat yang mendalam yang dapat mengetahui perkara yang universal dan farsial” atau “sampainya jiwa kepada sesuatu makna yang diketahui”.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam Islam adalah sebuah proses yang berpusat pada penerapan prinsip-prinsip agama Islam dalam penemuan, penelitian, dan pengembangan pengetahuan.

aqidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek. bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari al-Qur ` an dan al-Hadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandarisasi benarsalahnya dengan tolok ukur al-Qur ` an dan al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya.

Syariah Islam harus dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum hukum syariah Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaataniptek, bagaimana pun juga bentuknya.

Surat Yunus Ayat 101 Al-Alaq Ayat 1-5.

(4)

1. Manusia membutuhkan agama karena agama memberikan makna, panduan, dan kerangka moral dalam kehidupan mereka. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa manusia membutuhkan agama, beserta contoh-contohnya: 1. Memberikan makna hidup: Agama membantu manusia mencari dan memahami tujuan hidup yang lebih besar. Agama memberikan jawaban tentang asal-usul manusia, tujuan hidup, dan apa yang terjadi setelah kematian. Contohnya, seseorang yang mengikuti agama tertentu mungkin percaya bahwa tujuan hidup mereka adalah untuk mencari keridhaan Allah dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati. 2. Menawarkan pedoman moral: Agama menyediakan kerangka moral dan aturan perilaku yang membantu manusia membedakan antara yang benar dan yang salah. Prinsip-prinsip etika dan nilai- nilai yang diajarkan dalam agama membantu manusia hidup dengan integritas, keadilan, dan kebaikan. Contohnya, banyak agama mengajarkan tentang kasih sayang, keadilan, kesetiaan, dan perdamaian sebagai prinsip-prinsip yang harus diikuti oleh manusia. 3. Menyediakan ketenangan pikiran: Agama dapat memberikan rasa ketenangan pikiran dan ketenangan batin kepada individu. Keyakinan akan adanya kekuatan yang lebih besar, seperti Allah, dan pemahaman tentang peran dan tempat mereka dalam tatanan kosmos memberikan kekuatan dan harapan dalam menghadapi tantangan dan penderitaan hidup. Contohnya, praktik doa dan meditasi dalam agama tertentu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kedamaian batin. 4. Mendorong komunitas dan hubungan sosial: Agama juga memfasilitasi pembentukan komunitas dan hubungan sosial yang kuat. Gereja, masjid, kuil, atau tempat ibadah lainnya menjadi tempat pertemuan dan berbagi pengalaman dan nilai-nilai bersama.

Manusia merasa terhubung dengan sesama pemeluk agama dan dapat mendapatkan dukungan, persahabatan, dan bantuan ketika diperlukan.

Contohnya, kegiatan keagamaan seperti ibadah bersama, kegiatan sosial, dan acara keagamaan lainnya membantu memperkuat ikatan sosial antara individu yang memiliki keyakinan yang sama.

2. manusia memiliki dua fungsi penting, yaitu sebagai khalifah dan hamba Allah. Fungsi khalifah mengharuskan manusia untuk menjaga dan mengelola bumi serta segala isinya dengan bijaksana, sementara fungsi sebagai hamba Allah mengharuskan manusia mengakui

ketergantungannya dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta. Kedua fungsi ini saling terkait dan saling melengkapi. Ketika manusia menjalankan perintah agama sebagai hamba Allah, ia juga dapat melaksanakan tanggung jawabnya sebagai khalifah dengan lebih baik.

Kesadaran akan keberadaan Allah dan ajaran-Nya dapat mendorong manusia untuk bertindak dengan bijaksana, bertanggung jawab terhadap bumi, serta menjalankan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh: Manusia, sebagai khalifah, dituntut untuk menjaga kelestarian lingkungan dan alam. Misalnya, dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendukung upaya daur ulang, atau berpartisipasi dalam kampanye penanaman pohon untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.

Contoh: manusia sebagai hamba allah. Salah satu contoh hubungan ini adalah melalui ibadah. Manusia menjalankan salat, puasa, atau menjalankan perintah-perintah agama yang lain sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Allah. Selain itu, manusia juga berupaya menjalankan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang sebagai wujud pengabdian kepada Allah.

3. Sebagai pedoman hidup, Islam menawarkan prinsip-prinsip moral dan etika yang menjadi landasan bagi perilaku manusia. Al-Quran sebagai kitab suci umat Muslim merupakan sumber utama hukum dan ajaran Islam. Ajaran-ajaran Islam meliputi tuntunan tentang adil, jujur, kebaikan, tolong-menolong, kasih sayang, dan lain sebagainya. Pedoman ini membantu manusia menjalani kehidupan dengan penuh kebaikan, integritas, dan kedamaian. Contoh = seorang Muslim mengikuti perintah Allah untuk menjaga kehormatan diri dan menjauhi perbuatan tercela seperti kecurangan, kekerasan, atau penyalahgunaan kekuasaan. Muslim juga diarahkan untuk berlaku adil dan membantu mereka yang

membutuhkan. Selain itu, Islam mendorong umatnya untuk menjaga lingkungan dan alam sekitar, seperti melalui konsep pemeliharaan alam yang dikenal sebagai hifzh al-bi'ah.

Islam juga dianggap sebagai rahmatulalamin, yaitu rahmat bagi seluruh alam semesta. Islam mengajarkan kasih sayang, perdamaian, dan keadilan bagi semua makhluk hidup. Contohnya adalah ketika seorang Muslim menunjukkan belas kasihan dan kepedulian terhadap sesama manusia, binatang, dan lingkungan. Islam mendorong umatnya untuk membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan berperan aktif dalam membantu orang lain.

4. Etos kerja mengacu pada sikap, nilai-nilai, dan keyakinan yang mendasari sikap seseorang terhadap pekerjaan dan upaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan kerja. Ini mencerminkan komitmen, disiplin, ketekunan, tanggung jawab, dan dedikasi seseorang terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Etos kerja juga melibatkan pandangan positif terhadap pekerjaan, sikap profesional, integritas, dan keinginan untuk memberikan hasil terbaik.

a. Dedikasi: Seseorang dengan etos kerja yang baik menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan mereka. Mereka memiliki motivasi internal yang kuat untuk mencapai keberhasilan dan memberikan kontribusi maksimal.

b. Disiplin: Etos kerja yang baik mencakup disiplin diri dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Seseorang dengan etos kerja yang tinggi memiliki ketertiban dalam mengelola waktu, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan mematuhi aturan serta prosedur yang berlaku.

c. Tanggung Jawab: Etos kerja yang kuat mencerminkan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan dan hasil yang dihasilkan. Seseorang dengan etos kerja yang baik menerima konsekuensi dari tindakan mereka dan berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam segala situasi.

d. Kerja Keras: Etos kerja yang kuat melibatkan kerja keras dan ketekunan. Seseorang dengan etos kerja yang baik bersedia untuk berusaha keras, mengatasi tantangan, dan melibatkan diri sepenuhnya dalam tugas yang dihadapi.

(5)

1. Masyarakat madani adalah konsep yang berasal dari pemikiran Islam yang menggambarkan masyarakat yang diatur berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, partisipasi aktif, kesetaraan, dan kebebasan individu. Istilah "madani" berasal dari kata "madinah" yang berarti "kota" atau

"komunitas". Masyarakat madani adalah bentuk masyarakat yang harmonis, adil, dan sejahtera, di mana warga negara memiliki kesadaran kolektif untuk berpartisipasi dalam pembangunan sosial, politik, dan ekonomi. Contoh masyarakat madani dapat ditemukan dalam sejarah kota Madinah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW mendirikan negara Islam di Madinah, beliau membangun

masyarakat yang inklusif, adil, dan berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Dalam masyarakat Madinah, semua warga memiliki hak dan kewajiban yang sama, partisipasi aktif dalam pengambilan keputusan, dan dihormati kebebasan individu. Masyarakat Madinah juga dikenal karena keberagaman suku, agama, dan latar belakang etnisnya, yang hidup berdampingan dalam harmoni dan saling menghormati.

2. Untuk mengembangkan masyarakat madani yang damai dan sejahtera, beberapa prinsip yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:

a. Keadilan sosial: Masyarakat madani membutuhkan keadilan sosial yang merata, di mana hak-hak dan kesempatan semua individu dihormati dan dilindungi. Prinsip ini melibatkan distribusi yang adil dari sumber daya dan kesempatan, sehingga semua warga dapat mengakses pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan keadilan hukum tanpa diskriminasi. Contoh: Pemerintah memperkenalkan kebijakan inklusif dalam pendidikan yang memberikan akses pendidikan yang setara bagi semua anak, termasuk mereka yang berasal dari keluarga miskin atau daerah terpencil. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan pendidikan dan memberikan kesempatan yang adil bagi semua anak untuk mengembangkan potensi mereka.

b. Partisipasi aktif: Masyarakat madani membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh warga dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Partisipasi ini melibatkan keterlibatan warga dalam kegiatan politik, sosial, dan ekonomi, serta pengembangan komunitas yang inklusif. Contoh: Pembentukan kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengambilan keputusan terkait rencana pembangunan lokal. Kelompok ini terdiri dari beragam anggota masyarakat, termasuk perwakilan dari kelompok masyarakat marginal, dan mereka diberikan kesempatan untuk memberikan masukan dan pendapat mereka dalam proses perencanaan tersebut.

c. Kerjasama dan toleransi: Masyarakat madani membutuhkan kerjasama dan toleransi antarindividu dan kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Toleransi terhadap perbedaan budaya, agama, dan pandangan politik menjadi kunci dalam membangun kehidupan yang harmonis. Contoh: Adanya kerjasama antara berbagai kelompok agama dalam mengadakan acara sosial, seperti bakti sosial, kegiatan gotong-royong, atau dialog antaragama. Melalui kerjasama ini, masyarakat dapat memperkuat persatuan dan menghargai keberagaman yang ada.

d. Pendidikan nilai-nilai: Masyarakat madani membutuhkan pendidikan yang mengutamakan pembentukan karakter dan nilai-nilai yang baik.

Pendidikan yang mencakup nilai-nilai seperti integritas, kejujuran, tanggung jawab sosial, dan rasa saling menghormati akan membentuk individu yang berkualitas dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Contoh: Sekolah yang mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum mereka, dengan memberikan pelajaran tentang etika, moral, dan tanggung jawab sosial. Selain itu, melibatkan siswa dalam kegiatan sosial yang membantu mereka mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

3. Ajaran Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemajuan teknologi karena Islam mendorong umatnya untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi yang diberikan keleluasaan untuk mengembangkan potensi dan memanfaatkan sumber daya alam dengan baik. Berikut adalah beberapa contoh yang menunjukkan bagaimana ajaran Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemajuan teknologi:

a. Ilmu pengetahuan dan penelitian: Islam mendorong umatnya untuk mencari ilmu pengetahuan dan melakukan penelitian. Dalam Al- Qur'an, Allah mengajak manusia untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta dan merenungkan ciptaan-Nya. Ini mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memahami alam dan meningkatkan kualitas hidup. Contoh: Pada zaman kejayaan Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah, para sarjana Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Farabi membuat kemajuan signifikan dalam bidang kedokteran, matematika, astronomi, dan filosofi. Mereka melibatkan diri dalam penelitian ilmiah dan mendorong pengembangan teknologi dalam berbagai bidang.

b. Penggunaan teknologi dalam ibadah: Islam mengakui penggunaan teknologi dalam melaksanakan ibadah sehari-hari. Misalnya, penggunaan mikrofon dan pengeras suara dalam shalat berjamaah di masjid memungkinkan suara imam dapat didengar oleh seluruh jamaah. Hal ini membantu efektivitas komunikasi dan memungkinkan lebih banyak orang berpartisipasi dalam ibadah. Contoh:

Penggunaan aplikasi dan teknologi digital dalam mengakses Al-Qur'an dan literatur keagamaan menjadi umum di era digital saat ini.

Aplikasi seperti Qur'an digital, aplikasi panduan ibadah, dan platform pembelajaran online memberikan akses mudah dan praktis bagi umat Islam dalam mempelajari dan mempraktikkan agama.

c. Pemanfaatan teknologi dalam kesejahteraan sosial: Islam mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki kondisi sosial dan kesejahteraan umat manusia. Misalnya, penggunaan teknologi dalam bidang kesehatan, pertanian, dan energi dapat meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi kemiskinan. Contoh: Program pengembangan pertanian modern yang menggunakan teknologi irigasi, sistem pengendalian hama terpadu, dan pemantauan cuaca membantu petani meningkatkan produktivitas dan mengurangi kerugian hasil panen. Hal ini dapat membantu mengatasi masalah kelaparan dan mencapai kesejahteraan sosial di masyarakat.

(6)

4. Islam memiliki pandangan yang kuat tentang ekologi dan lingkungan. Ajaran Islam mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Allah yang indah dan harmonis, dan manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah untuk menjaga dan merawatnya. Berikut adalah contoh penerapan pandangan ekologi dalam berbagai konteks:

a. Di Kampus:

i. Menggalakkan program penghijauan kampus dengan menanam pohon dan menjaga kebersihan lingkungan kampus.

ii. Mengadopsi teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan energi terbarukan dan pengelolaan limbah yang efisien.

iii. Mengintegrasikan mata pelajaran dan penelitian tentang lingkungan ke dalam kurikulum, sehingga mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang perlindungan alam.

b. Di Lingkungan Kerja:

i. Mengurangi konsumsi energi dengan menerapkan praktik hemat energi seperti penggunaan lampu hemat energi dan peralatan elektronik yang efisien.

ii. Mengelola limbah secara bertanggung jawab melalui program daur ulang dan pengurangan limbah.

iii. Memastikan keberlanjutan dalam operasi bisnis dengan mempertimbangkan dampak lingkungan dalam pengambilan keputusan.

c. Di Lingkungan Tempat Tinggal:

i. Mengurangi penggunaan air dengan memperbaiki saluran air, mengumpulkan air hujan, dan mengadopsi teknologi hemat air seperti toilet berpendar.

ii. Menerapkan praktik pertanian organik atau berkebun di rumah untuk mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia.

iii. Menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan sekitar, termasuk membuang sampah dengan benar dan menjaga kebersihan sungai dan area publik.

Penerapan nilai-nilai ekologi dalam berbagai konteks tersebut adalah salah satu cara untuk menerapkan pandangan Islam tentang perlindungan lingkungan. Hal ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem, menghormati ciptaan Allah, dan memastikan

keberlanjutan hidup bagi generasi yang akan datang.

(7)

Referensi

Dokumen terkait

• Prestasi belajar tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki (Hasil belajar rendah,. ketidakterampilan belajar,

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR EKOSISTEM MANGROVE BERBASIS POTENSI LOKAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMA. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Secara keseluruhan penelitian ini telah menemukan model pembelajaran Program Kursus Wirausaha Pedesaan Berbasis Potensi Lokal untuk Kemandirian Warga Belajar yang

Islam sebagai agama tidak hanya mengatur tata cara hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tapi juga mengatur hubungan antar manusia serta seluruh kehidupan mereka dalam

POTENSI PENGGUNAAN CAIRAN SEREB ROSPINAL -AMYLOID 42 UNTUK DIAGNOSIS DINI PENYAKIT ALZHEIMER 57 Umumnya, gejala terlihat pada kesulitan mengingat memori ringan dan akan berkembang

Dokumen ini membahas tentang upaya yang diperlukan untuk menguatan regulasi terkait dengan penerapan program APU, PPT, dan PPPSPM untuk mengatasi potensi risiko yang

Dokumen ini membahas tentang penggunaan aktivitas belajar untuk membuat proses belajar lebih

Teks ini membahas tentang disiplin belajar, yang didefinisikan sebagai kepatuhan siswa terhadap kewajiban belajar secara sadar untuk mencapai perubahan positif dalam pengetahuan, perbuatan, dan