Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pelita Harapan
TEKNOLOGI BETON
Praktikum Program Studi Teknik Sipil
Term Genap 2020-2021
MODULE 1 - BERAT JENIS SEMEN PORTLAND
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan berat jenis semen portland, yaitu perbandingan antara berat isi kering semen pada suhu kamar dengan berat isi kering air suling pada suhu 4 0C yang isinya sama dengan isi semen.
II. Peralatan yang Digunakan
1. Semen portland2. Botol Le Chatelier
3. Kerosin bebas air atau naphta dengan berat jenis 62 API (American Petroleum Institute)
III. Prosedur Praktikum
1. Isi botol Le Chatelier dengan kerosin atau naphta sampai skala 0 dan 1, bagian dalam botol diatas permukaan cairan harus dikeringkan.
2. Masukkan botol kedalam bak air dengan suhu konstan dalam waktu yang cukup untuk menghindarkan variasi suhu botol lebih besar dari 0.20°C.
3. Setelah suhu air sama dengan suhu cairan dalam botol, baca skala pada botol (V1).
4. masukkan semen portland sebanyak 64 gram sedikit demi sedikit kedalam botol. Jangan sampai terjadi ada semen yang menmpel pada dinding dalam botol diatas cairan.
5. Putar botol dengan posisi miring secara perlahan-lahan sampai gelembung udara tidak muncul pada permukaan cairan.
6. Ulangi pekerjaan pada langkah 2. setelah suhu air sama dengan suhu cairan dalam botol, baca skala pada botol (V2).
7. Lakukan pengujian sebanyak 2 kali. Selisih yang diijinkan adalah 0.01.
IV. Perhitungan
Hitung berat jenis semen portland dengan rumus:
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐽𝑒𝑛𝑖𝑠 = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛 (𝑉2− 𝑉1) × 𝑑 Dimana :
V1 = pembacaan pertama pada skala botol V2 = Pembacaan kedua pada skala botol D = berat isi air pada suhu 40C (1 gram/cm3)
Menurut Samekto dan Rahmadiyanto (2001), berat jenis semen portland dapat berkisar antara 3.10 sampai 3.30.
V. Laporan Pengujian
Percobaan 1 2
Berat semen (gram)
Pembacaan pertama pada skala botol (V1) Pembacaan kedua pada skalan botol (V2) Selisih bacaan (V2 – V1)
Berat isi air pada suhu 4°C (1 gran/cm3) (d) Berat jenis semen
Berat jenis semen rata-rata
VI. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 1
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari berat jenis semen.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan berat jenis semen.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari berat jenis semen.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 2 - BERAT ISI LEPAS AGREGAT (ASTM C 29/C29M)
I. Ruang Lingkup
Metode ini mencakup penentuan berat isi lepas agregat halus, agregat kasar, atau agregat campuran. Metode pengujian ini berlaku untuk agregat dengan ukuran maksimum 150 mm.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan berat isi lepas agregat.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan dengan ketelitian 50 gram 2. Silinder baja
3. Sekop kecil 4. Pelat Kaca
IV. Bahan yang Digunakan
1. Agregat halus dan kasar dalam kondisi kering oven 2. Air
V. Kalibrasi Silinder Baja
1. Timbang berat silinder kosong (W1).
2. Isi silinder dengan air pada suhu kamar dan tutup dengan plat kaca untuk menghilangkan gelembung udara dan membuang kelebihan air.
3. Timbang berat air + silinder (W2).
4. Ukur suhu air dan tentukan berat jenisnya (γw) berdasarkan tabel 1.
5. Hitung volume silinder (V) dengan membagi berat air dalam silinder (W2W1) dengan berat jenis air (γw).
Suhu Berat Jenis air, (γw) (0C) (kg/m3)
15,6 999.01
18.3 998.54
21.1 997.97
23 997.54
23.9 997.32
26.7 996.59
29.4 995.83
VI. Pemilihan Sampel
Pilih sampel dengan cara quartering sesuai ASTM C 702
VII. Prosedur Praktikum
1. Ambil sampel agregat dalam kondisi kering oven (melalui pemanasan 110 ± 50C selama 24 jam)
2. Isi silinder baja dengan sekop kecil sampai agregat tumpah dengan ketinggian tumpahan tidak lebih dari 50 mm diatas ujung silinder baja.
3. Ratakan permukaan agregat dengan mistar.
4. Timbang berat silinder + agregat (W3) 5. Lakukan Pengujian sebanyak 3 kali.
VIII. Perhitungan
Hitung berat isi lepas dengan rumus:
𝑀 = (𝑊3− 𝑊1) 𝑉 Dimana :
M = berat isi lepas agregat W3 = berat silinder + agregat W1 = berat silinder
V = Volume silinder
IX. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat silinder kosong W
1gr
2 Berat air + silinder W
2gr
3 Suhu air
0C
4 Berat jenis sir (γw) gr/cm
35 Volume silinder V = (W
2–W
1)/ γw cm
36 Berat silinder + agregat W
3gr
7 Berat isi lepas agregat M = (W
3-W
1)/V gr/cm
38 Berat isi lepas agregat rata-rata gr/cm
3X. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 2
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari berat jenis semen.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan berat jenis semen.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari berat jenis semen.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 3 - BERAT ISI PADAT AGREGAT (ASTM C 29/C29M)
I. Ruang Lingkup
Metode ini mencakup penentuan berat isi padat agregat halus, agregat kasar, atau agregat campuran. Metode pengujian ini berlaku untuk agregat dengan ukuran maksimum 150 mm.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan berat isi padat agregat.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan dengan ketelitian 50 gram
2. Tongkat pemadat berupa besi bulat dengan diameter 16 mm dan panjang 600 mm 3. Silinder baja
4. Sekop kecil 5. Pelat Kaca
IV. Bahan yang Digunakan
1. Agregat halus dan kasar dalam kondisi kering oven 2. Air
V. Kalibrasi Silinder Baja
1. Timbang berat silinder kosong (W1).
2. Isi silinder dengan air pada suhu kamar dan tutup dengan plat kaca untuk menghilangkan gelembung udara dan membuang kelebihan air.
3. Timbang berat air + silinder (W2).
4. Ukur suhu air dan tentukan berat jenisnya (γw) berdasarkan tabel 1.
5. Hitung volume silinder (V) dengan membagi berat air dalam silinder (W2W1) dengan berat jenis air (γw).
Suhu Berat Jenis air, (γw) (0C) (kg/m3)
15,6 999.01
18.3 998.54
21.1 997.97
23 997.54
23.9 997.32
26.7 996.59
29.4 995.83
VI. Pemilihan Sampel
Pilih sampel dengan cara quartering sesuai ASTM C 702
VII. Prosedur Praktikum
A. Untuk agregat dengan ukuran maksimum 37.5 mm
1. Ambil sampel agregat dalam kondisi kering oven (melalui pemanasan 110 ± 50C selama 24 jam).
2. Sampel agregat dimasukkan kedalam silinder 1/3 bagian dan dipadatkan dengan cara menumbuk tongkat pemadat sebanyak 25 kali pada tempat yang berbeda.
3. Masukkan 1/3 bagian lagi dan tumbuk sebanyak 25 kali.
4. Akhirnya masukkan 1/3 bagian lagi dan tumbuk sebanyak 25 kali.
5. Ratakan permukaan agregat dengan mistar.
6. Timbang berat silinder + agregat (W3).
7. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
B. Untuk agregat dengan ukuran lebih besar dari 37.5 mm dan kurang dari 150 mm
1. Ambil sampel agregat dalam kondisi kering oven (melalui pemanasan 110 ± 50C selama 24 jam).
2. Sampel agregat dimasukkan kedalam silinder 1/3 bagian.
3. Sampel dipadatkan dengan cara meletakkan silinder diatas lantai, kemudian menaikkan salah satu sisinya dan jatuhkan silinder 50 kali, 25 kali untuk masing-masing sisi.
4. Padatkan sampel dengan menjatuhkan silinder 50 kali, 25 kali untuk masing-masing sisi.
5. Masukkan 1/3 bagian lagi dan padatkan dengan cara yang sama.
6. Akhirnya masukkan 1/3 bagian lagi dan dipadatkan juga dengan cara yang sama.
7. Ratakan permukaan dengan mistar.
8. Timbang berat silinder + agregat (W3).
9. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
VIII. Perhitungan
Hitung berat isi lepas dengan rumus:
𝑀 = (𝑊3− 𝑊1) 𝑉 Dimana :
M = berat isi padat agregat W3 = berat silinder + agregat
W1 = berat silinder V = Volume silinder
IX. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat silinder kosong W
1gr
2 Berat air + silinder W
2gr
3 Suhu air
0C
4 Berat jenis sir (γw) gr/cm
35 Volume silinder V = (W
2–W
1)/ γw cm
36 Berat silinder + agregat W
3gr
7 Berat isi padat agregat M = (W
3-W
1)/V gr/cm
38 Berat isi padat agregat rata-rata gr/cm
3X. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 3
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari berat isi padat agregat.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan berat isi padat agregat.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari berat isi padat agregat.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 4 – KANDUNGAN ORGANIK AGREGAT HALUS (ASTM C 40)
I. Ruang Lingkup
Metode ini mencakup penentuan kandungan bahan organic dalam agregat halus.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kandungan organik dalam agregat halus.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Gelas ukur kapasitas 500 ml2. Sodium Hydroxide (NaOH) 3% dilarutkan dalam air
3. Potassium dichromate (K2Cr2O7) 0,25 gram dilarutkan dalam 100 ml asam sulfur sebagai warna referensi
IV. Bahan yang Digunakan
1. Agregat halus
V. Pemilihan Sampel
Pilih sampel dengan cara quartering sesuai dengan ASTM C 702 sebanyak 130 ml.
VI. Prosedur Praktikum
1. Masukkan sampel agregat kedalam gelas ukur.
2. Tuangkan larutan NaOH kedalam gelas ukur sehingga volume agregat halus dan NaOH menjadi 200 ml
3. Aduk larutan tersebut selama 10 menit dan diamkan selama 24 jam.
4. Siapkan K2Cr2O7 yang dilarutkan dalam asam sulfur sebanyak 75 ml, paling cepat 22 jam setelah prosedur uji no. 3 disiapkan
5. Bandingkan warna larutan NaOH + agregat halus dengan larutan K2Cr2O7. catat apakah warnanya lebih muda, lebih tua, atau sama. Jika warna larutan NaOH + agregat halus lebih tua dibanding dengan larutan referensi, agregat halus dianggap memiliki kandungan organik yang berbahaya untuk campuran beton.
6. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali
VII. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Warna larutan
VIII. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 4
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari kandungan organik dari agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pengaruh dari adanya kandungan organik agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari kandungan organik agregat halus.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 5 – KADAR LUMPUR AGREGAT HALUS
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan kadar lumpur agregat halus, dimana menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia –NI-2 (1971), kadar lumpur agregat halus tidak melampaui 5%.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar lumpur agregat halus.
III. Peralatan yang Digunakan
A. Kadar Lumpur (Berdasarkan Berat) 1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram 2. Oven
B. Kadar Lumpur (Berdasarkan Volume) 1. Gelas ukur kapasitas 1000 ml
2. Oven
IV. Bahan yang Digunakan
1. Agregat halus dalam kondisi kering oven
V. Pemilihan Sampel
Pilih sampel dengan cara quartering sesuai ASTM C 702
VI. Prosedur Praktikum
A. Kadar Lumpur (Berdasarkan Berat)
1. Ambil agregat halus yang telah dikeringkan melalui pemanasan oven dengan suhu 110 ± 50C selama 24 jam lalu ditimbang (A).
2. Cuci bersih hingga lumpurnya hilang semua, lalu dimasukan kedalam oven dengan suhu 110
± 50C selama 24 jam.
3. Timbang agregat yang telah dicuci bersih (B) 4. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
B. Kadar Lumpur (Berdasarkan Volume)
1. Ambil agregat halus 250 ml dan masukkan kedalam gelas ukur, lalu diisi air hingga menjadi 500 ml.
2. Mulut gelas ditutup dengan telapak tangan, lalu gelas ukur dibolakbalik.
3. Diamkan selama 24 jam.
4. Baca pada gelas ukur tersebut volume pasir + lumpur (A). juga baca Volume pasir (B)
5. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
VII. Perhitungan
Hitung kadar lumpur dengan rumus:
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐿𝑢𝑚𝑝𝑢𝑟 = (𝐴 − 𝐵)
𝐴 × 100%
Dimana A dan B sesuai dengan yang dijelaskan pada butir IV.A. dan IV.B.
VIII. Laporan Pengujian
A. Kadar Lumpur (Berdasarkan Berat)
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat kontainer W
1gr
2 Berat kontainer + agregat
kering + lumpur W
2gr
3 Berat agregat kering + lumpur A = W
2 –W
1gr
4 Berat kontainer + agregat
kering W
3gr
5 Berat agregat kering B = W
3– W
1gr
6 Kadar lumpur (A – B)*100%/A %
7 Kadar lumpur rata-rata %
B. Kadar Lumpur (Berdasarkan Volume)
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Volume agregat + lumpur W
1ml
2 Volume agregat W
2ml
3 Kadar lumpur (A – B)*100%/A %
4 Kadar lumpur rata-rata %
IX. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 5
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari kadar lumpur agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pentingnya nilai kadar lumpur agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari kadar lumpur agregat halus.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 6 – KADAR AIR AGREGAT HALUS
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan kadar air agregat halus yaitu perbandingan berat air terhadap berat kering butir agregat halus.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar air agregat halus.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram 2. Oven
IV. Bahan yang Digunakan
2. Agregat halus dalam kondisi kering oven
V. Pemilihan Sampel
Pilih sampel dengan cara quartering sesuai ASTM C 702 sebayak 1000 gram atau lebih.
VI. Prosedur Praktikum
1. Timbang berat container kosong (W1).
2. Timbang verat container + sampel agregat halus (W2).
3. Keringkan sampel agregat halus tersebut dalam oven melalui pemanasan 110 ± 5 0C selama 24 jam.
4. Timbang kembali container + sampel agregat halus tersebut (W3).
5. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
VII. Perhitungan
Hitung kadar air dengan rumus:
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 = (𝐴 − 𝐵)
𝐴 × 100%
Dimana:
A = Berat agregat halus dalam kondisi asli B = Berat agregat halus dalam kondisi kering
VIII. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat kontainer W
1gr
2 Berat kontainer + agregat W
2gr
3 Berat agregat A = W
2 –W
1gr
4 Berat kontainer + agregat
kering W
3gr
5 Berat agregat kering B = W
3– W
1gr
6 Kadar air (A – B)*100%/A %
7 Kadar air rata-rata %
IX. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 6
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari kadar air agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pentingnya mengetahui nilai kadar air agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari kadar air agregat halus.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 7 – SIEVE ANALYSIS AGREGAT HALUS (ASTM C 136)
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan distribusi ukuran butiran agregat halus melalui proses pengayakan.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan grafik distribusi ukuran butiran agregat halus.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram 2. Ayakan
3. Mesin pengayak 4. Oven
IV. Bahan yang Digunakan
Agregat halusV. Pemilihan Sampel
Pilih sample denan cara quartering sesuai dengan ASTM C 702 sedemikian sehingga berat minimum sample setelah dikeringkan didalam oven adalah 300 gram.
VI. Prosedur Praktikum
1. Ambil sample agregat dalam kondisi kering oven (melalui pemanasan 110 ± 50C selama 24 jam) dan timbang beratnya (A).
2. Susun ayakan dengan ukuran bukaan ayakan terbesar terletak paling atas dan yang terbawah diakiri dengan pan.
3. Masukkan sample agregat pada ayakan paling atas, diamkan selama 1 menit.
4. Getarkan mesin pengayak selama 6 menit, kemudian diamkan selama 1 menit untuk mengendapkan debu dalam saringan.
5. Keluarkan sampel agregat dari masing masing ayakan dan timbang beratnya 6. Timbang berat total sampel setelah pengujian (B).
7. Hitung persentase (A-B)*100/A. Persentasenya harus ≤ 0.3%. jika > 0.3%, pengujian harus diulang.
8. Berat maksimum agregat tertahan yang diijinkan untuk masing-masing ukuran ayakan ditujukan pada tabel 1.
9. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
Tabel 7. 1 Berat maksimum agregat tertahan yang diijinkan
Ukuran Bukaan Ayakan, mm Berat Maksimum Tertahan, kg
50 3,6
37,5 2,7
25 1,8
19 1,4
12,5 0,89
9,5 0,67
4,75 0,33
VII. Perhitungan
1. Hitung persentase lolos, total persentase tertahan dan persentase tertahan untuk masing- masing ukuran ayakan (lihat tabel perhitungan).
2. Gambarkan kurva hubungan antara % kumulatif lolos dan ukuran ayakan.
3. Hitung fineness modulus dengan menjumlahkan persentase komulatif tertahan untuk ukuran ayakan berikut ini dengan 100: 150 µm (no 100), 300 µm (No 50), 600 µm (N0 30) 1.18 mm (no 16) 2.36 mm (no 8), 4.75 mm, (No 4), 9.5 mm (3/8 in), 19 mm (3/4 in) 37.5 mm (1½ in) dan seterusnya (ukuran ayakan bertambah besar dengan rasio 2:1)
4. Menurut Gambhir (1995), angka fineness modulus sebaiknya bekisar antara 2.0 hingga 3.5.
5. Menurut peraturan beton bertulang indonesia –NI-2 (1971), analisis ayakan untuk agregat halus harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. % tertahan pada ayakan 4 mm harus minimum 2% berat b. % tertahan pada ayakan 1 mm harus minimum 10% berat
c. % tertahan pada ayakan 0.25 mm harus bekisar antara 80% dan 95% berat
VIII. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat agregat halus awal A gr
2 Berat agregat halus akhir B gr
3 % Hilang (A – B)*100%/A %
No.
Saringan
Ukuran Saringan
(mm)
Berat Tertahan (gram)
% Tertahan
% Kumulatif I II III Rata-
rata Tertahan Lolos 3/8” 9,5
4 4,75
8 2,36
16 1,18
30 0,6
80 0,2
100 0,15
Pan -
Jumlah
Fineness modulus = ………
IX. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 7
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari distribusi ukuran butiran agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami
pemanfaatan distribusi ukuran agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari distribusi ukuran agregat halus.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 8 – BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS (ASTM C 128)
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan bulk dan apparent specific grafity, dan persentase
penyerapan agregat halus. Pengujian ini dilakukan terhadap agregat halus yang telah direndam dalam air selama 24 jam.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan berat jenis dan penyerapan agregat halus.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram 2. Gelas ukur kapasitas 500 cm3
3. Kerucut besi 4. Penumbuk logam
IV. Bahan yang Digunakan
Agregat halus dalam kondisi Saturated Surface Dry (SSD)
V. Pemilihan Sampel
1. Pilih sampel seberat 1 kg dengan cara quartering sesuai dengan ASTM C 702 2. Keringkan sampel melalui pemanasan 110 ± 50C selama 24 jam.
3. Rendam sampel selama 24 ± 4 jam.
4. Buang air dan sebarkan agregat halus diatas lantai (sebelumnya dilapisi koran). Kemudian angin-anginkan sampel sampai mencapai kondisi Saturated Surface Dry (SSD). Untuk mengetahui apakah sample sudah mencapai kondisi SSD: isi kerucut dengan agregat halus sampai penuh. Padatkan agregat dengan menjatuhkan penumbuk logam dari ketinggian 5 mm diatas agregat sebanyak 25 kali. Angkat kerucut. Jika agregat turun sedikit, kondisi surface dry tercapai. Jika agregat tetap berbebtuk kerucut, maka agregat masih terlalu basah/lembab dan harus diangin-anginkan lagi.
5. Ambil sample agregat yang sudah dalam kondisi SSD seberat 500 ± 10 gram (S).
VI. Prosedur Praktikum
1. Isi sebagian gelas ukur dengan air. Kemudian tuangkan agregat dan tambahkan air sampai 90% kapasitas gelas ukur tercapai. Aduk gelas ukur untuk menghilangkan gelembung udara selama 15 – 20 menit. Rendam gelas ukur didalam air hingga suhu larutan agregat mencapai 23 ± 1.7 0C.
2. Tambahkan air sampai batas kalibrasi.
3. Timbang berat gelas ukur + agregat + air (C).
4. Tuangkan agregat halus kedalam container dan masukkan kedalam oven dan kerngkan selama 24 jam pada suhu 110 ± 50C.
6. Timbang berat gelas ukur yang diisi dengan air (dengan suhu 23 ± 1.70C) sampai batas kalibrasi (B).
7. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
VII. Perhitungan
1. Hitung bulk specific gravity dengan rumus:
𝐵𝑢𝑙𝑘 𝑠𝑝 𝑔𝑟 = 𝐴 (𝐵 + 𝑆 − 𝐶) Dimana:
A = Berat sampel kondisi oven B = Berat gelas ukur + air S = Berat sampel kondisi SSD C = Berat gelas ukur + agregat + air
2. Hitung bulk specific gravity (SSD) dengan rumus:
𝐵𝑢𝑙𝑘 𝑠𝑝 𝑔𝑟 (𝑆𝑆𝐷) = 𝑆 (𝐵 + 𝑆 − 𝐶)
3. Hitung apparent specific gravity dengan rumus:
𝐴𝑝𝑝𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑠𝑝 𝑔𝑟 = 𝐴 (𝐵 + 𝐴 − 𝐶)
4. Hitung persentase penyerapan (absorption) dengan rumus:
𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑝𝑡𝑖𝑜𝑛 = 𝑆 − 𝐴
𝐴 × 100%
VIII. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat kontainer W
1gr
2 Berat kontainer + agregat
kering W
2gr
3 Berat agregat kering A = W
2 –W
1gr
4 Berat agregat SSD S gr
5 Berat gelas ukur + air B gr
6 Berat gelas ukur + agregat +
air C gr
7 Bulk Specific Gravity A/(B+S-C) 8 Bulk Specific Gravity (SSD) S/(B+S-C) 9 Apparent Specific Gravity A/(B+A-C)
10 % Absorption (S-A)*100%/A %
Nilai Rata-rata
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Bulk Specific Gravity A/(B+S-C) 2 Bulk Specific Gravity (SSD) S/(B+S-C) 3 Apparent Specific Gravity A/(B+A-C)
4 % Absorption (S-A)*100%/A %
IX. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 8
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari berat jenis dan penyerapan agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan berat jenis dan penyerapan agregat halus.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari berat jenis dan penyerapan agregat halus.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 9 – SIEVE ANALYSIS AGREGAT KASAR (ASTM C 136)
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan distribusi ukuran butiran agregat kasar melalui proses pengayakan.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan grafik distribusi ukuran butiran agregat kasar.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram 2. Ayakan
3. Mesin pengayak 4. Oven
IV. Bahan yang Digunakan
Agregat kasarV. Pemilihan Sampel
1. Pilih sample denan cara quartering sesuai dengan ASTM C 702.
2. Berat minimum sampel ditentukan sebagai berikut:
Ukuran Maksimum Bukaan Ayakan, mm Berat Minimum Sampel, kg
9,5 1
12,5 2
19 5
25 10
37,5 15
50 20
63 35
75 60
90 100
100 150
125 300
VI. Prosedur Praktikum
1. Ambil sampel agregat dalam kondisi kering oven (melalui pemanasan 110±0C selama 24 jam) dan ditimbang beratnya (A)
2. Susunan ayakan dengan ukuran bukaan ayakan terbesar terletak paling atas dan yang terbawah diakiri dengan pan.
3. masukkan sampel agregat kedalam ayakan paling atas diamkan selama 1 menit 4. getarkan mesin pengayak selama 6 menit, kemudian diamkan selama 1 menit untuk
mengendapkan debu dalam saringan
5. keluarkan sampel agregat dari masing-masing ayakan dan timbanga beratnya.
6. timbang total berat sampel setelah pengujian (B)
7. Hitung prosentase (A-B)*100/A. persentasenya harus ≤ 0.3%. jika > 0.3%, pengujianya harus diulang.
8. Berat maksimum agregat tertahan yang diijinkan untuk masing-masing ukuran ayakan ditunjukkan pada Tabel 8.1.
9. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
Tabel 8. 2 Berat maksimum agregat tertahan yang diijinkan
Ukuran Bukaan Ayakan, mm Berat Maksimum Tertahan, kg
50 3,6
37,5 2,7
25 1,8
19 1,4
12,5 0,89
9,5 0,67
4,75 0,33
VII. Perhitungan
1. Hitung persentase lolos, total persentase tertahan dan persentase tertahan untuk masing masing ukuran ayakan (lihat tabel perhitungan).
2. Gambarkan kurva hubungan antara % kumulatif lolos dan ukuran ayakan.
3. Hitung finess modulus dengan menjumlahkan persentase kumulatif tertahan untuk ukuran ayakan berikut dan dibagi dengan 100: 150 µm (No. 100), 300 µm (No. 50), 600 µm (No. 30), 1.18 mm (N0. 16), 2.36 mm (No. 8), 4.75 mm (No.4), 9.5 mm (3/8 in), 19 mm (3/4 in), 37.5 mm (1 ½ in) dan seterusnya (ukuran ayakan bertambah besar dengan rasio 2 : 1).
4. Menurut Gambhir (1995), angka finess modulus sebaiknya berkisar antara 5.5 hingga 8.0.
5. Menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia – NI-2 (1971), analisis ayakan untuk agregat halus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. % tertahan pada ayakan 31.5 mm harus 0% berat
b. % tertahan pada ayakan 4 mm harus berkisar antara 90% dan 98% berat.
c. Selisih antara kumulatif tertahan pada 2 ukuran ayakan yang berurutan adalah maksimum 60% dan minimum 10% berat.
VIII. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat agregat kasar awal A gr
2 Berat agregat kasar akhir B gr
3 % Hilang (A – B)*100%/A %
No.
Saringan
Ukuran Saringan
(mm)
Berat Tertahan (gram)
% Tertahan
% Kumulatif I II III Rata-
rata Tertahan Lolos 1 ½” 37,5
1” 25
¾” 19
½” 12,5
3/8” 9,5
4 4,75
8 2,36
Pan -
Jumlah
Fineness modulus = ………
IX. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 9
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari distribusi ukuran butiran agregat kasar.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami
pemanfaatan distribusi ukuran butiran agregat kasar.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari distribusi ukuran butiran agregat kasar.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 10 – BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR (ASTM C 127)
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan berat jenis (specific gravity) dan penyerapan (absorption) agregat kasar. Berat jenis dapat dinyatakan sebagai bulk specific gravity. Pengujian bulk specific gravity (SSD) dan penyerapan dilakukan terhadap agregat kasar yang telah direndam dalam air selama 24 jam. Pengujian ini tidak berlaku untuk agregat ringan (light weight aggregates).
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan berat jenis dan penyerapan agregat kasar.
III. Definisi
1. Penyerapan (absorption)
Bertambahnya berat agregat akibat adanya air didalam agregat, tetapi tidak mencakup air yang melekat pada permukaan luar partikel. Penyerapan dinyatakan sebagai persentase dari berat kering. Agregat dianggap “kering” setelah dikeringkan dalam oven pada suhu 110 ± 50C selama 24 jam.
2. Berat Jenis (Specific Gravity)
Rasio antara berat satu unit volume dari bagian agregat yang impermeable dengan berat air suling bebas udara pada volume yang sama diukur pada suhu tertentu.
3. Bulk Specific Gravity
Berat suatu unit volume agregat (termasuk rongga permeable dan impermeable didalam partikel, tetapi tidak termasuk rongga antar partikel) dengan berat air suling bebas udara pada volume yang sama diukur pada suhu tertentu.
4. Bulk specific Gravity (SSD)
Rasio antara berat satu unit volume agregat, termasuk berat air didalam rongga yang diukur setelah agregat direndam air selama 24 jam (tetapi tidak termasuk rongga antar partikel) dengan berat air suling bebas udara pada volume yang sama diukur pada suhu tertentu.
IV. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram
2. Keranjang kawat dengan kapasitas 4 – 7 liter untuk agregat dengan ukuran maksimum 37,5 mm
3. Tangki air
4. Ayakan No. 4 (4.75 mm)
V. Bahan yang Digunakan
Agregat kasar dalam kondisi Saturated Surface Dry (SSD)
VI. Pemilihan Sampel
1. Pilih sampel dengan cara splitter sesuai dengan ASTM C 702. gunakan sampel yang tertahan
2. Berat minimum sampel yang dapat diuji ditunjukkan pada Tabel 10.1 sesuai dengan ukuran maksimum agregat.
Ukuran Maksimum Agregat, mm Berat Minimum, kg
12,5 2
19 3
25 4
37,5 5
50 8
63 12
75 18
90 25
100 40
112 50
125 75
150 125
VII. Prosedur Praktikum
1. Ambil sampel agregat dalam kondisi kering oven (melalui pemanasan pada suhu 110 ± 50°C selama 24 jam).
2. Dinginkan sampel pada suhu kamar selama 1 sampai 3 jam sampai suhu agregat turun menjadi sekitar 500°C.
3. Rendam agregat didalam air selama 24 ± 4 jam.
4. keluarkan sampel dari air dan gulung dengan menggunakan kain yang bisa menyerap air sampai seluruh lapisan tipis air yang masih dapat dilihat dengan dengan mata telanjang hilang. Lap agregat dengan ukuran yang lebihbesar satu per satu. Kipas bisa digunakan didalam proses pengeringan ini. Catat berat sampel dalam kondisi saturated surface-dry ini (B).
5. Masukkan sampel kedalam keranjang kawat dan tentukan beratnya didalam air (C) pada suhu 23 ± 1.7°C.
6. Keringkan sampel didalam oven pada suhu110 ± 5°C, dinginkan pada suhu kamar selama 1 sampai 3 jam, atau sampai suhu agregat turun menjadi sekitar 50°C. Kemudian timbang berat agregat (A).
7. Lakukan pengujian sebanyak 3 kali.
VIII. Perhitungan
1. Hitung bulk specific gravity dengan rumus:
𝐵𝑢𝑙𝑘 𝑠𝑝 𝑔𝑟 = 𝐴 (𝐵 − 𝐶) Dimana:
A = Berat sampel kondisi oven B = Berat sampel kondisi SSD C = Berat sampel di dalam air
2. Hitung bulk specific gravity (SSD) dengan rumus:
𝐵𝑢𝑙𝑘 𝑠𝑝 𝑔𝑟 (𝑆𝑆𝐷) = 𝐵 (𝐵 − 𝐶)
3. Hitung apparent specific gravity dengan rumus:
𝐴𝑝𝑝𝑎𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑠𝑝 𝑔𝑟 = 𝐴 (𝐴 − 𝐶)
4. Hitung persentase penyerapan (absorption) dengan rumus:
𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑝𝑡𝑖𝑜𝑛 = 𝐵 − 𝐴
𝐴 × 100%
IX. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Berat kontainer W
1gr
2 Berat kontainer + agregat
kering W
2gr
3 Berat agregat kering A = W
2 –W
1gr
4 Berat agregat SSD B gr
5 Berat agregat di dalam air C gr
7 Bulk Specific Gravity A/(B-C) 8 Bulk Specific Gravity (SSD) B/(B-C) 9 Apparent Specific Gravity A/(A-C)
10 % Absorption (B-A)*100%/A %
Nilai Rata-rata
NO PARAMETER NOTASI I II III SATUAN
1 Bulk Specific Gravity A/(B-C) 2 Bulk Specific Gravity (SSD) B/(B-C) 3 Apparent Specific Gravity A/(A-C)
4 % Absorption (B-A)*100%/A %
X. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 10
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari berat jenis dan penyerapan agregat kasar.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan berat jenis dan penyerapan agregat kasar.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari berat jenis dan penyerapan agregat kasar.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 11 – DAYA TAHAN AGREGAT KASAR BERUKURAN KECIL TERHADAP PEMBUBUKAN DENGAN MESIN LOS ANGELES
(ASTM C 131)
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup prosedur pengujian daya tahan agregat kasar berukuran lebih kecil dari 37.5 mm dengan mesin los angeles, dimana menurut peraturan Beton Bertulang Indonesia – NI- 2 (1971) % pembubukan harus ≤ 50%.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan daya tahan agregat kasar berukuran kecil terhadap pembubukan.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan2. Ayakan
3. Bola baja 11 buah masing-masing berdiameter 46.8 mm dan berat antara 390 dan 445 gram.
Total berat bola baja 4584 ± 25 gram.
4. Mesin Los Angeles
IV. Bahan yang Digunakan
Agregat kasar berukuran lebih kecil dari 37.5 mm
V. Prosedur Praktikum
1. Pilih sampel dengan cara splitter sesuai dengan ASTM C 702.
2. Ayak agregat kasar dengan ayakan 12.5 mm (1/2 in) dan 9.5 mm (3/8 in.) dan ambil contoh agregat yang tertahan pada masing-masing ayakan seberat 2500 ± 10 gram.
3. Cuci dan keringkan sampel melalui pemanasan oven 110 ± 5 0C selama 24 jam. Timbang berat agregat awal (A)
4. Sampel agregat dijadikan satu dan dimasukkan kedalam mesin los angeles beserta bola baja.
Kemudian putar mesin dengan kecepatan 30 sampai 33 putaran/menit sebanyak 500 putaran.
5. keluarkan sampel agregat dari mesin dan ayak dengan ayakan 1.7 mm (no 12)
6. Cuci agregat yang tertahan pada ayakan 1.7 mm (no 12) dan keringkan didalam oven pada suhu 110 ± 5 0C selama 24 jam.
7. timbang berat agregat akhir (B).
VI. Perhitungan
Hitung % pembubukan dengan rumus :
% 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑢𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 =(𝐴 − 𝐵)
𝐴 × 100%
Dimana:
A
= berat agregat mula-mula
B= berat agregat akhir
VII. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I SATUAN
1 Berat agregat awal A gr
2 Berat agregat akhir B gr
3 % Pembubukan (A – B)*100/A gr
VIII. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 11
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari daya tahan agregat kasar berukuran kecil terhadap penumbukan.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan daya tahan agregat kasar berukuran kecil terhadap penumbukan.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari pemanfaatan daya tahan agregat kasar berukuran kecil terhadap penumbukan.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 12 – DAYA TAHAN AGREGAT KASAR BERUKURAN BESAR TERHADAP PEMBUBUKAN DENGAN MESIN LOS ANGELES
(ASTM C 535)
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup prosedur pengujian daya tahan agregat kasar berukuran lebih besar dari 37.5 mm dengan mesin los angeles, dimana menurut peraturan Beton Bertulang Indonesia – NI- 2 (1971) % pembubukan harus ≤ 50%.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan daya tahan agregat kasar berukuran besar terhadap pembubukan.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Timbangan2. Ayakan
3. Bola baja 12 buah masing-masing berdiameter 47 mm dan berat antara 390 dan 445 gram.
Total berat bola baja 5000 ± 25 gram.
4. Mesin Los Angeles
IV. Bahan yang Digunakan
Agregat kasar berukuran lebih besarl dari 19 mm
V. Prosedur Praktikum
1. Pilih sampel dengan cara splitter sesuai dengan ASTM C 702.
2. Ayak agregat kasar dengan ayakan 25 mm (1 in) dan 19 mm (3/4 in.) dan ambil contoh agregat yang tertahan pada masing-masing ayakan seberat 5000 ± 10 gram.
3. Cuci dan keringkan sampel melalui pemanasan oven 110 ± 5 0C selama 24 jam. Timbang berat agregat awal (A)
4. Sampel agregat dijadikan satu dan dimasukkan kedalam mesin los angeles beserta bola baja.
Kemudian putar mesin dengan kecepatan 30 sampai 33 putaran/menit sebanyak 1000 putaran.
5. Keluarkan sampel agregat dari mesin dan ayak dengan ayakan 1.7 mm (no 12)
6. Cuci agregat yang tertahan pada ayakan 1.7 mm (no. 12) dan keringkan didalam oven pada suhu 110 ± 5°C selama 24 jam.
7. Timbang berat agregat akhir (B).
VI. Perhitungan
Hitung % pembubukan dengan rumus :
% 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑢𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 =(𝐴 − 𝐵)
𝐴 × 100%
Dimana:
C
= berat agregat mula-mula
D= berat agregat akhir
VII. Laporan Pengujian
NO PARAMETER NOTASI I SATUAN
1 Berat agregat awal A gr
2 Berat agregat akhir B gr
3 % Pembubukan (A – B)*100/A gr
VIII. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 12
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui cara mencari daya tahan agregat kasar berukuran besar terhadap penumbukan.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan daya tahan agregat kasar berukuran besar terhadap penumbukan.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami kendala dalam mencari daya tahan agregat kasar berukuran besar terhadap penumbukan.
Tercapai Tidak Tercapai
MODULE 14 – PENGARUH KONDISI CURING DAN UMUR BETON TERHADAP KEKUATAN BETON
I. Ruang Lingkup
Pengujian ini mencakup penentuan pengaruh kondisi curing dan umur beton terhadap kekuatan beton.
II. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan pengaruh kondisi curing dan umur beton terhadap kekuatan beton.
III. Peralatan yang Digunakan
1. Concrete compression test machine 2. Karung basah
IV. Bahan yang Digunakan
Beton berumur 7, 14, 21, 28 hari.V. Prosedur Praktikum
1. Beton yang telah dibiarkan mengering selama 24 jam dilepaskan dari cetakan.
2. Tutup beton dengan karung basah.
3. Basahi karung setiap hari agar laju pengeringan beton terjaga.
4. Uji kekuatan beton dengan concrete compresion test machine pada umur 7, 14, 21 dan 28 hari.
VI. Laporan Pengujian 1. Hari ke-7
Sampel Adukan Berat (Kg) Kuat Tekan (KN) Kuat Tekan (MPa)
1 Kubus
1 Silinder 2. Hari ke-14
Sampel Adukan Berat (Kg) Kuat Tekan (KN) Kuat Tekan (MPa)
2 Kubus
2 Silinder
3. Hari ke-21
Sampel Adukan Berat (Kg) Kuat Tekan (KN) Kuat Tekan (MPa)
3 Kubus
3 Silinder
4. Hari ke-28
Sampel Adukan Berat (Kg)
Kuat Tekan (KN)
Kuat Tekan
(MPa) Rata rata
4 Kubus
4 Silinder 5 Silinder 6 Silinder
VII. Capaian Pembelajaran Pratikum Modul 14
Tabel berikut ini menjabarkan capaian pembelajaran yang akan mahasiswa dapatkan setelah melaksanakan kegiatan praktikum Teknologi Beton.
Pembelajaran Secara Langsung Secara Online
Mahasiswa mengetahui
bagaimana cara merawat sampel beton.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa mengetahui bagaimana cara melakukan pengujian kuat tekan beton.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa bisa melakukan perawatan terhadap sampel beton.
Tidak Tercapai Tidak Tercapai
Mahasiswa bisa melakukan pengujian kuat tekan beton.
Tidak Tercapai Tidak Tercapai
Mahasiswa memahami pemanfaatan metode curing.
Tercapai Tercapai
Mahasiswa memahami
pemanfaatan uji kuat tekan beton.
Tercapai Tercapai