• Tidak ada hasil yang ditemukan

preservasi bahan pustaka 1

N/A
N/A
Putri Ananda Ananda

Academic year: 2025

Membagikan "preservasi bahan pustaka 1"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI RUANG DEPOSIT

DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KALIMANTAN BARAT

ARTIKEL PENELITIAN

OLEH:

DEWI MAULIDIYAH SARI NIM. F0271161033

PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 PERPUSTAKAAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PONTIANAK

2019

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI RUANG DEPOSIT DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KALIMANTAN

BARAT

ARTIKEL PENELITIAN

DEWI MAULIDIYAH SARI NIM F0271161033

Disetujui, Pembimbing I

Dr.Sisilya Saman Madeten,M.Pd NIP. 196011091989032003

Mengetahui,

Dekan FKIP Ketua Jurusan PBS

Dr. H. Martono Drs.Nanang Heriyana.M.Pd

NIP. 196803161994031014 NIP. 1961070519881101001

(3)

1

PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI RUANG DEPOSIT DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KALIMANTAN BARAT

Dewi Maulidiyah Sari, Sisilya Saman Madeten Program studi Diploma 3 Perpustakaan FKIP Untan Pontianak

Email : [email protected]

Abstract

This research is based on the researcher's desire to know the preservation of library collections at Deposit room of Library Collection in Library and Archivat Services West Kalimantan. The purpose of this final project is to know and explain about the cause of damage and an effeorts to faced the trouble when carrying out preservation library materials. At this research the effort preservation is restoration,for the preservation library materials damage is covering the book and fumigation.Another trouble that must be faced is limited room condition,budget and limited human resources.

The researches used qualitative method with a descriptive from of research,Techniques data collection was used is observation,interviews and documentation with a peoples for informant.The research result show the preservation activity has been doing just cover the book,restoration and fumigation.The most trobled thing is the budget and limited human resources.

Keywords : Preservation, Conservation PENDAHULUAN

Di era globalisasi ini perkembangan teknologi semakin pesat, kita di tuntut harus mengikuti perkembangan zaman yang perkembangannya itu akan terus menerus berkembang ke era yang semakin maju.

Seiring dengan perkembangan ini juga perpustakaan di tuntut untuk menyesuaikan semua kemajuan teknologi sesuai dengan masanya. Perpustakaan merupakan lembaga yang diperuntukkan untuk masyarakat yang diadakan sebagai sarana pembelajaran non resmi, perpustakaan juga sebagai penyedia informasi mengenai ilmu pengetahuan.

Perpustakaan sangat penting bagi kehidupan khususnya di bidang akademis sekolah dan perguruan tinggi karena dengan adanya perpustakaan dapat diperoleh data dan informasi yang bisa digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah mereka miliki.

Menurut Purwono (2013:1.2) berpendapat bahwa ”Perpustakaan merupakan pusat informasi, penelitian, sumber ilmu pengetahuan, rekreasi sebagai sarana

pelestarian khasanah budaya bangsa serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya serta perpustakaan merupakan suatu lembaga yang mengelolah, menghimpun dan mengatur media, baik media cetak maupun non cetak”. Perpustakaan biasanya menyediakan informasi berupa informasi tercetak seperti buku,majalah,surat kabar dan lainnya, perpustakaan juga menyediakan informasi non cetak seperti CD-ROM, kaset,disket dan lain sebagainnya.

Bahan pustaka merupakan salah satu unsur yang sangat penting selain sarana berupa gedung, perabotan, peralatan, tenaga, anggaran dan lainnya, jika semua komponen itu sudah ada tetapi bahan pustaka merupakan salah satu unsur yang sangat penting selain sarana berupa gedung, perabotan, peralatan, tenaga, anggaran dan lainnya, jika semua komponen itu sudah ada tetapi bahan pustakanya tidak ada maka tidak akan berjalan dengan baik perpustakaan itu dan tidak akan ada informasi yang aan didapatkan oleh pemustaka.

(4)

2

Bahan pustaka menurut Basuki (2010:1.6) mengatakan “bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu tercetak dan tidak tercetak”. Untuk bahan pustaka tercetak seperti monograf dan buku sedangkan non cetak seperti CD-ROM, Kaset, Disket dan lainnya. Bahan pustaka merupakan salah satu unsur yang pengaruhnya sangat besar untuk perpustakaan.

Kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka bisa terjadi karena beberapa faktor, yakni faktor serangga biasanya disebabkan oleh rayap, kecoa, ikan perak (silver fish), kutu buku, ngengat pakaian,kumbang dan jamur. Sedangkan dari faktor lingkungan Menurut Hartono (2016:170) kerusakan bahan pustaka bisa disebabkan oleh faktor lingkungan berupa kelembapan udara, faktor cahaya dan pencemaran udara. Faktor lainnya berupa bencana alam dan faktor manusia.

Untuk membuat bahan pustaka bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang perlu adanya pelestarian bahan pustaka.

Menurut Matroatmodjo (2009:1.5) Pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka tidak cepat mengalami kerusakan, bahan pustaka yang mahal diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Sedangkan Menurut Eden (dalam Yeni, 2017: 5) menyatakan bahwa Pelestarian merupakan suatu pertimbangan manajerial dan financial yang diterapkan untuk memperlambat kerusakan dan memperpanjang kegunaan koleksi (bahan pustaka) untuk menjamin ketersediaan akses yang berkelanjutan.

Dari kedua Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelestarian dilakukan untuk memperpanjang masa pakai dari sebuah bahan pustaka agar informasi yang ada di dalamnya terjaga dan dapat digunakan oleh banyak pembaca (pemustaka).

Pelestarian bahan pustaka dilakukan tidak hanya untuk merawat bahan fisiknya saja akan tetapi informasi yang ada di dalamnnya juga dilestarikan. Dalam upaya untuk

melestarikan hasil budaya dan mewujudkan koleksi tentang suatu daerah khususnya Kalimantan Barat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat menyediakan tempat tersediri yang memuat koleksi deposit. Koleksi Deposit ialah Koleksi yang di disimpan dan dikumpulkan pada tempat dan ruangan tertentu agar koleksi yang berada di dalamnya terhindar dari kerusakan, kehilangan dan penduplikasian, serta agar tetap lestari. Koleksi yang tersedia di dinas ini merupakan koleksi khusus Kalimantan barat seperti cerita rakyat,biografi bahkan koleksi terbitan dari masyarakat yang asli Kalimantan barat ada disini.

Di Perpustakaan Daerah khususnya di Ruang Deposit banyak sekali menyimpan koleksi-koleksi bahan pustaka yang sudah tua bahkan langka, Untuk itulah perlu diadakan pelestarian bahan pustaka,selain koleksi deposit koleksi anak dan beberapa koleksi umum juga dilestarikan.Untuk melakukan kegiatan pelestarian bahan pustaka ada banyak cara yang harus dilakukan tergantung kerusakan apa yang terjadi pada bahan pustaka itu, untuk melakukan pelestarian dibutuhkan tenaga yang ahli seperti pustakawan ahli atau tenaga yang mengikuti pelatihan tentang perpustakaan.

Menurut Martoatmodjo (2013) ada beberapa usaha yang dilakukan untuk melestarikan bahan pustaka yakni Penyampulan bahan pustaka Kegiatan penyampulan ini bertujuan untuk membuat bahan pustaka terlihat rapi dan tidak kotor saat digunakan oleh pemustaka.

Penyampulan secara tidak langsung menjadi kegiatan pelestarian yang harus selalu dilakukan agar bahan pustaka bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Penjilidan Kegiatan penjilidan merupakan kegiatan menghimpun atau menggabungkan lembaran-lembaran lepas menjadi satu, yang dilindungi oleh ban atau sampul. Penjilidan merupakan salah satu kegiatan penting dalam perpustakaan. Ada beberapa pakar yang berpendapat bahwa fotokopi tidak termasuk bagian dari pelestarian bahan pustaka namun menurut Martoatmodjo (2013:6.20) menyatakan bahwa fotokopi adalah bagian

(5)

3

dari kegiatan pelestarian bahan pustaka, pada kenyataan nya banyak sekali perpustakaan yang menggunakan alat ini,terutama perpustakaan khusus. Fotokopi digunakan untuk menjaga keawetan sebuah buku,misalnya buku tersebut sudah lapuk, hendaknya fotokopinya yang dipinjamkan kepada pemakai perpustakaan, atau bisa saja koleksi bahan pustaka yang langka hendaknya fotokopiannya yang bisa di berikan kepada pemustaka.

Menurut Martoatmodjo (2013:4.3) Fumigasi merupakan salah satu kegiatan pelestarian bahan pustaka dengan cara mengasapi bahan pustaka agar jamur tidak tumbuh, binatang mati, dan perusak bahan pustaka lainnya terbunuh. Fumigasi dilaksanakan dengan pembakaran atau penguapan zat bahan kimia yang mengandung racun. Dokumen yang sudah di fumigasi menjadi steril dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Restorasi (Perbaikan) Menurut Martoatmodjo (2013:2.22) menyatakan bahwa restorasi merupakan kegiatan memperbaiki bahan pustaka yang meliputi menambal kertas, memutihkan kertas, mengganti halaman yang robek, mengencangkan benang jilidan dan memperbaiki punggung buku,engsel atau sampul buku yang rusak.

Pelestarian bahan pustaka ini sangat diperlukan bahkan seharusnya di setiap perpustakaan harus memiliki tenaga yang memang ahli dalam melakukan kegiatan pelestarian ini karena jika ada kesalahan dalam melakukan kegiatan pelestarian maka yang terjadi bahan pustaka bisa saja rusak.

Menurut Yulia dan Janti (2009:9.20) Kegiatan Pelestarian di Indonesia banyak mengalami kendala seperti Kurangnya tenaga pelestarian di Indonesia, Banyaknya pimpinan yang belum memahami pentingnya pelestarian bahan pustaka sehingga

mengakibatkan kurangnya

dana,perhatian,dan fasilitas yang tersedia, Praktik pelestarian yang dilakukan di Indonesia masih banyak yang salah, Berbagai bahan pustaka yang disimpan di perpustakaan Indonesia tercetak dalam kertas yang beraneka macam mutunya,berbagai

ruang perpustakaan tidak dirancang dengan bangunan yang sesuai dengan keperluan pelestarian dan pengawetan bahan pustaka.Pada tingkat nasional belum terdapat kebijakan pelestarian nasional dan terakhir Maraknya pembicaraan tentang perpustakaan digital, sumber daya manusianya khususnya pustakawan belum banyak yang menguasai proses digitalisasi dokumen.

Kalbariana merupakan istilah yang diberikan untuk jenis koleksi yang diperoleh dari penerbit lokal atau subjeknya berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki Kalimantan Barat. Istilah ini di ungkapkan oleh Drs. Moh. Mar’a yakni Kepala Perpustakaan Wilayah Kalimantan Barat yang pertama, sekaligus salah satu perintis berdirinya perpustakaan sekitar tahun 80-an.

Namun istilah kalbariana kurang popular di kalangan pustakawan, para pustakawan lebih sering menyebutnya dengan “koleksi deposit”. Undang – undang RI nomor 4 Tahun 1990 Tentang Serah-Simpan Karya Cetak Dan Karya Rekam. Menurut ketentuan Undang- Undang tersebut, setiap penerbit dan pengusaha rekaman wajib menyerahkan hasil terbitannya kepada perpustakaan nasional RI dan perpustakan daerah provinsi dimana penerbit dan pengusaha rekaman tersebut berada. Hasil pelaksanaan undang – undang serah simpan karya cetak dan karya rekam itulah yang dijadikan sebagai koleksi deposit atau perpustakan deposit.

Koleksi deposit Menurut Yuniawati (2008:5) Koleksi Deposit adalah Koleksi terbitan pemerintah maupun terbitan lain dari hasil terbitan yang diserahkan ke Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang serah terima simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Indonesia.

Pelestariaan di Ruang Koleksi Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat sendiri dikelola oleh 2 orang Pustakawan, Menurut Basuki (2011:1.50) Pustakawan adalah orang yang mengelola sebuah perpustakaan beserta isinya, memilih buku, dokumen dan materi non buku yang merupakan koleksi

(6)

4

perpustakaan dan menyediakan informasi dan jasa peminjaman guna memenuhi kebutuhan pemakai.

Jadi untuk mengatur dan melaksanakan kegiatan pelestarian itu haruslah seorang pustakawan yang benar-benar ahli dan belajar tentang ilmunya. Adapun kegiatan pelestarian bahan pustaka di ruang koleksi deposit ini memiliki beberapa hambatan yakni berupa alat,bahan dan ruangan yang digunakan untuk melakukan kegiatan pelestarian serta kegiatan pelestarian apa yang dilakukan di Ruang Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat. Hal tersebut menjadi pertimbangan untuk saya selaku peneliti untuk mengetahui strategi pelestarian bahan pustaka yang dilakukan di Ruang Koleksi Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat.

METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis metode yang digunakan adalah deskriptif mendeskripsikan keadaan, kondisi, situasi, kegiatan dan lain-lainnya. Metode penelitian ini menggambarkan proses pelestarian bahan pustaka di Ruang Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat. Menurut Shields dan Rangarajan (2013:66) “penelitian yang mendeskripsikan karakteristik dari suatu populasi tentang suatu fenomena yang diamati”.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Menurut Sugiyono (2011:07) Metode ini disebut juga sebagai metode artistik karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang berpola) dan disebut juga sebagai metode interprentive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan data yang ditemukan dilapangan. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif karena dengan metode ini lebih mendalam dengan mengumpulkan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk Lokasi penelitian berada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan barat yang beralamat di di Jl.

Letjen Sutoyo No.6 Telpon (0561) 743779 Pontianak 78121.

Data dalam penelitian ini didapatkan melalui hasil observasi,wawancara dan dokumentasi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat.Data dalam penelitian berupa hasil wawancara dan pengamatan langsung dilapangan mengenai kegiatan pelestarian yang dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat. Sedangkan sumber data diperoleh atau bersumber dari kepala bidang deposit dan staf bagian pelestarian bahan pustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan barat. . Teknik Pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, untuk penelitian yang peneliti lakukan menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode observasi,wawancara dan Dokumentasi. Alat pengumpul data yang digunakan untuk membantu peneliti dalam melakukan

observasi ialah pedoman

observasi/pengamatan. dalam penelitian ini peneliti melihat langsung lokasi dan hal yang akan di teliti dalam hal ini berupa kegiatan pelestarian di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan barat,sedangkan untuk wawancara peneliti bertanya kepada staf

yang ada diruang deposit bagian pelestarian narasumber diberikan pertanyaan yang sudah disusun secara sistematis dan dijawab secara lisan dan direkam dengan handphone dan tahap terakhir ialah dokumentasi pada metode ini menggunakan kamera handphone yang berguna untuk mengambil gambar alat dan bahan pustaka yang rusak.

Setelah semua data hasil penelitian diperoleh dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data, tahap selanjutnya adalah menganalisis data. Analisis data merupakan proses mengorganisasikan, mengurutkan data kedalam pola, kategori, mengatur sehingga dirumuskan simpulan.

Dalam penelitian ini menggunakan model analisis data Menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono,2012:91) dalam analisis data ada tiga proses yaitu “data reduction, data display, dan data drawing/verification.

(7)

5

a. Reduksi Data (Data Reduction)

Menurut Sugiyono (2012:92) Reduksi data ialah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data.

b. Penyajian Data (Data Display)

Setelah data direkduksi, selanjutnya yaitu penyajian data. Penyajian data Menurut Sugiyono (2012:95) menyatakan Setelah datadireduksi maka langkah selanjutnya yakni display data atau penyajian data.

Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat bagan, hubungan antar kategori Flowchart dan sejenisnya.pada penelitian ini diharpkan data yang telah didapatkan tersusun dengan pola saling berhubungan, sehingga akan mempermudah peneliti untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan mengenai penelitian yang dilakuakan.

c. Pengambilan Keputusan

Langkah terakhir yaitu penarikan simpulan.

Simpulan merupakan proses perumusan makna dari hasil penelitian yang diungkapkan dengan kalimat yang singkat dan padat. Penarikan simpulan dilakukan dengan cara membandingkan kesesuaian pernyataan dari penulis dengan data yang diperoleh dalam pelestarian bahan pustaka di perpustakaan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pada bab ini peneliti akan menyajikan hasil mengenai penelitian yang berjudul

“Pelestarian bahan pustaka di ruang deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat”. Hal ini dilakukan karena, selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) terdapat kekurangan pada kegiatan pelestarian yang dilakukan di Perpustakaan tersebut khususnya di ruang deposit.

Koordinator bidang deposit mengatakan kegiatan pelestarian ini salah satu kegiatan yang harus dilakukan guna menjaga

keawetan bahan pustaka itu sendiri, kegiatan pelestarian juga harus dilakukan dengan kesabaran dan ketekunan.

Data dalam penelitian ini didapatkan melalui wawancara dan observasi yang dilakukan terhadap 2 (dua) orang pustakawan dan seksi deposit yang dilakukan melalui observasi dalam kurun waktu selama 2 bulan.

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan untuk kondisi bahan pustaka yakni kerusakan yang banyak dialami berupa lepasnya lembar-lembar pada halaman bahan pustaka dan sobek pada halaman tertentu.

Gambar 1. Kerusakan Bahan Pustaka Kegiatan pelestarian di ruang deposit dilakukan dengan melihat kondisi kerusakan dari bahan pustakanya, Kegistsn yang biasanya dilakukan berupa Restorasi (Perbaikan) berupa menjahit lembar lembar halaman pada buku yang rusak serta merekatkan kembali punggung buku, untuk kegiatan pencegahannya dilakukan penyampulan seperti ini

Gambar 2. Bahan Pustaka yang Disampul

Untuk melakukan kegiatan pelestarian diperlukan beberapa alat untuk menunjang kegiatan pelestarian bahan pustaka seperti

(8)

6

gunting, benang, bor kecil, lem kertas, penjepit buku, isolasi kertas, curter, kuas untuk lem, penggaris, nipping press dan standing press untuk perawatan dari luar bahan pustaka dapat disampul dengan menggunakan sampul bening yang sedikit tebal dan dalam penyampulannya tidak di anjurkan menggunakan selotip dikarenakan dalam jangka waktu yang lama akan merusak cover buku tersebut.

Gambar 3. Alat Pelestarian Bahan Pustaka

Kendala Kegiatan Pelestarian yang dilakukan berdasarkan hasil wawancara dengan 2 (dua) pustakawan berupa kurangnya alat-alat untuk melakukan pelestarian seperti lem dan bahan yang mudah habis sangat lama diberikan ruangan yang sangat sempit sehingga membatasi gerak dalam melakukan kegiatan pelestarian serta kurangnya tenaga dibidang pelestarian.

Gammbar 4. Pustakawan Bidang Pelestarian Bahan Pustaka

Pembahasan

Usaha Pelestarian Bahan Pustaka

Penelitian ini mengangkat tentang Pelestarian Bahan Pustaka di Ruang Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat, pembahasan yang

dilakukan berdasarkan pendapat para ahli bahwa Pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka tidak cepat mengalami kerusakan, bahan pustaka yang mahal,diusahakan agar awet, bisa dipakai oleh lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan Martoatmodjo (2009:1.5). Pelestarian yang dilakukan di Ruang Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat,salah satu kegiatan Pencegahan bahan pustaka yakni menyampul, menurut Martoatmodjo (2013) Kegiatan penyampulan ini bertujuan untuk membuat bahan pustaka terlihat rapi dan tidak kotor saat digunakan oleh pemustaka.

Penyampulan secara tidak langsung menjadi kegiatan pelestarian yang harus selalu dilakukan agar bahan pustaka bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Sedangkan untuk kegiatan pelestarian bahan pustaka yang dilakukan berupa kegiatan Restorasi (perbaikan) Menurut Martoatmodjo (2013:2.22) menyatakan bahwa restorasi merupakan kegiatan memperbaiki bahan pustaka yang meliputi menambal kertas, memutihkan kertas, mengganti halaman yang robek, mengencangkan benang jilidan dan memperbaiki punggung buku,engsel atau sampul buku yang rusak. Untuk kegiatan ini pustakawan biasanya dapat mengerjakan buku yang rusak sebanyak 10 buku dalam waktu satu hari. Kerusakan yang terjadi biasanya halaman atau lembaran bahan pustaka yang jelas sehingga pustakawan harus mengencangkan benang jilidan namun ada juga bahan pustaka yang di lem, pustakawan menggantinya dengan dijilid dengan menggunakan benang agar bahan pustaka tersebut dapat awet digunakan.

Kegiatan lainnya yang dilakukan berupa kegiatan Fumigasi yang mana Fumigasi Martoatmodjo (2013:4.3) Fumigasi merupakan salah satu kegiatan pelestarian bahan pustaka dengan cara mengasapi bahan pustaka agar jamur tidak tumbuh, binatang mati, dan perusak bahan pustaka lainnya terbunuh. Fumigasi dilaksanakan dengan pembakaran atau penguapan zat bahan kimia yang mengandung racun. Dokumen yang

(9)

7

sudah di fumigasi menjadi steril dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Kegiatan Fumigasi di Ruang Deposit dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sekali.

Kegiatan ini dilakukan dikarenakan kerusakan yang ditimbulkan berupa halaman- halaman atau lembaran buku yang lepas maka dibutuhkan kegiatan restorasi untuk memperbaiki bahan pustaka tersebut. Adapun untuk faktor kerusakan dari binatang tidak ditemukan dikarenakan kondisi ruangan deposit yang tidak terletak di lingkungan lembab serta terjaga nya kebersihan lingkungan sekitarnya.

Kendala Pelestarian Bahan Pustaka Usaha yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kalimantan Barat Khususnya di Ruang Deposit untuk melakukan pelestarian sudah dilakukan semaksimal mungkin, bahan pustaka yang rusak,sudah tua ataupun bahan pustaka yang baru sudah di sampul, restorasi serta di fumigasi setiap 1(satu) tahun sekali sebagai upaya pencegehan kerusakan bahan pustaka, namun ada beberapa kendala yang menghambat kegiatan pelestaria ini, yakni berupa anggaran, sumber daya manusia serta sarana dan prasarana seperti ruangan dan alat-alat yang digunakan dalam pelestarian.

Untuk anggaran sendiri proses pengajuan serta penerimaan nya cukup lama hal ini membuat pustakawan menggunakan dana pribadi untuk membeli peralatan yang kurang untuk melakukan kegiatan perbaikan bahan pustaka. Kendala lainnya berupa ruangan yang sangat kecil sehingga membatasi gerak pustakawan serta sumber daya manusia nya masih terbilang sedikit hanya 2 pustakawan yang ada di bidang pelestarian. Pustakawan juga biasanya melakukan perbaikan bahan pustaka dari luar koleksi deposit,mereka biasanya melakukan perbaikan bahan pustaka dari koleksi anak dan koleksi umum hal ini membuat bahan pustaka yang rusak menumpuk untuk diperbaiki sedangkan tenaga yang dimiliki hanya 2 (dua) orang pustakawan.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Ruang Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat, maka peneliti menarik kesimpulan yang mana kegiatan pelestarian yang dilakukan di ruang deposit berupa kegiatan restorasi (perbaikan) pada bahan pustaka yang halaman nya lepas atau engsel buku nya rusak, selain itu ada juga pelestarian dengan cara penyampulan bahan pustaka yang baru atau yang rusak dan pelestarian yang dilakukan setiap satu tahun sekali yakni fumigasi, ada beberapa kendala yang dihadapi saat kegiatan pelestarian yakni kurangnya dana (anggaran) sehingga menggunakan uang pribadi pustakawan, ruangan yang sempit membuat gerak pustakawan terbatas,kurangnya tenaga dan waktu yang terbatas untuk melakukan pelatihan (workshop) khusus untuk bidang pelestarian. Untuk kondisi bahan pustaka di Ruang Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat sebagian mengalami kerusakan yang disebabkan oleh faktor manusia yakni lepasnya halaman- halaman yang ada pada bahan pustaka sehingga dilakukan kegiatan restorasi berupa mengencangkan benang atau menjahit ulang benang yang ada pada bahan pustaka.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan melihat permasalahan yang ada di Ruang Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat, maka peneliti memberikan saran,sebagai berikut:

Untuk usaha pelestarian yang harus dilakukan sebaiknya perpustakaan mengadakan kegiatan pemutihan bahan pustaka atau kegiatan laminasi bahan pustaka untuk koleksi yang sudah tua dikarenakan informasi yang ada pada buku itu sangat bermanfaat terutama koleksi yang membahas tentang Kalimantan Barat yang mana merupakan salah satu bentuk koleksi yang diadakan di ruang deposit.Dan Dinas perpustakaan dan kearsipan Kalimantan barat seharusnya menyediakan ruangan khusus

(10)

8

untuk bidang pelestarian, selain itu anggaran khusus untuk pelestarian haruslah segera diberikan, atau bisa saja berupa perlengkapan untuk pelestarian yang diberikan karena jika anggaran terhambat maka kegiatan pelestarian akan terganggu.

DAFTAR RUJUKAN

Basuki, Sulistyo. 2010. Materi Pokok Pengantar Ilmu Perpustakaan.

Jakarta: Universitas Terbuka.

Hafiz, Aslam. 2018. “Pelestarian Bahan Pustaka di Perpustakaan IAIN Pontianak” Tugas Akhir.Universitas Tanjungpura.

Hartono. 2016. Manjemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Martoatmodjo, Karmidi. 2009. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka.

Martoatmodjo, Karmidi. 2013. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka.

Martoatmodjo, Karmidi. 2012. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka.

Martoatmodjo, Karmidi. 2014. Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka.

Purnama, Butar. 2017. ” Strategi Pustakawan Dalam Pelestarian Bahan Pustaka Pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatra Utara” Skripsi.

Universitas Sumatra Utara.

Rachman, Yeni Budi, 2017. Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka. Jakarta:

Rajawali Press.

Sudarsono, Blasius. 2006. Antologi

Kepustakawanan Indoensia. Jakarta:

Sagung Seto.

Shields, Patricia M dan Nandhini

Rangarajan. 2013. A Playbook for Research Methods:

Integrating Conceptual Frameworks and Project Management. Stillwater OK: New Forums Press.

Sulfiani. 2017. “Strategi Pelestarian Bahan Pustaka di Perpustakaan Abdurasyid Daeng Lurang Sungguminasa Gowa”

Skripsi.Universitas Islam Negeri Alauddin Makasar.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT. BADAN PERPUSTAKAAN DAN

Debu dapat masuk secara mudah ke dalam ruang perpustakaan melalui pintu, jendela atau lubang-lubang angin perpustakaan. Apabila debu melekat pada kertas, maka akan terjadi

Penyediaan ruang baca terhadap anak-anak merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat guna untuk menarik

- DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN 2.17... Sumatera Barat, dalam

Hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada informan mengenai letak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat dapat dikatakan bahwa ternyata

Sebagaimana yang terjadi pada pelayanan perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat yang juga merupakan salah satu dinas yang dituntut untuk

Retrieved April 6, 2017, from Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat: http://dispusipda.jabarprov.go.id/profil/struktur_organisasi..

Arsitektur sistem Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa pada aplikasi terdapat 4 empat pengguna yang terdiri dari Bagian Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo,