PENGOLAHAN KOLEKSI DEPOSIT DAERAH KALBAR PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN
PROVINSI KALIMANTAN BARAT
ARTIKEL PENELITIAN
OLEH
ANNA IMA UMULANI NIM F0271151036
PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 PERPUSTAKAAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
2018
PENGOLAHAN KOLEKSI DEPOSIT DAERAH KALBAR PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN
PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Anna Ima Umulani, Atiqa Nur Latifa Hanum Program Studi D3 Perpustakaan FKIP Untan Pontianak
Email:[email protected]
Abstract
This study discussed the management of west Kalimantan regional deposit collection at West Kalimantan provincial library and filing service. The aims of this research were to know the process and obstacles in the process of management of deposit collection activities. This research used the descriptive method with a qualitative approach that describes the event based on the data obtained. The data collections were done by observation, interview, and documentation. The result of the research showed that the process of deposit collection management has not fully used Standard Operating Procedure (SOP) because the officer has not fully understood in the process of classification and cataloging. The obstacle that occurred in the process of classification activities was the officer got difficult in determining the subject of the collection.
Keywords: Management, Deposit Collection, Public Library
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini semakin pesat sehingga menyebabkan informasi semakin berkembang. Perpustakaan sebagai pusat informasi semakin dituntut untuk memberikan layanan informasi yang lebih baik, sehingga dapat menarik perhatian pemustaka dari berbagai kalangan dengan latar yang berbeda seperti anak-anak, mahasiswa, dosen, peneliti, dan sebagainya.
Perpustakaan sebagai sumber informasi harus memanfaatkan sumber daya yang ada semaksimal mungkin untuk kepentingan pemustaka agar perpustakaan dapat memberikan layanan dalam memenuhi kebutuhan informasi bagi pemustaka.
Menurut Bafadal (2016:3) perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan- bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis
menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.
Perpustakaan yang menyediakan informasi dan memberikan layanan kepada pemustaka dari seluruh lapisan masyarakat adalah perpustakaan umum. Menurut Lasa (2016:18) perpustakaan umum adalah perpustakaan bagi masyarakat luas yang bersifat terbuka untuk umum, sebagai salah satu sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, maupun status sosial ekonomi. Perpustakaan merupakan tempat terkumpulnya bahan pustaka baik tercetak maupun terekam yang dikelola secara teratur dan sistematis, serta mempunyai fungsi sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.
Perpustakaan umum juga memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk membaca bahan koleksi yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah
kehidupan yang lebih baik lagi dan menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi pemustaka.
Perpustakaan Daerah Kalimantan Barat dengan status kelembagaan adalah lembaga nondepartemen yang bertanggung jawab langsung kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu perpustakaan umum di Kota Pontianak yang menyediakan berbagai jenis layanan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang beraneka ragam.
Salah satunya layanan deposit. Layanan deposit merupakan layanan kepada pengguna jasa perpustakaan yang terdiri dari koleksi-koleksi khusus terbitan daerah.
Seiring dengan majunya perkembangan teknologi yang begitu cepat maka kebutuhan informasi akan semakin bertambah dengan mengingat kebutuhan pemustaka yang cenderung berubah-ubah. Hal ini menjadi tantangan dan tuntutan bagi pihak perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan pemustaka terhadap informasi, dengan cara mengoptimalkan kinerja para pustakawan dan staf dalam mengelola perpustakaan baik dalam segi bidang pengadaan, pengolahan, dan pelayanan.
Salah satu kegiatan utama pada perpustakaan adalah pengolahan.
Pengolahan koleksi merupakan serangkaian kegiatan pengolahan bahan pustaka yang meliputi inventarisasi, katalogisasi, klasifikasi, pelabelan buku, dan penyusunan buku/shelving ke dalam rak. Kegiatan ini dilakukan sejak bahan koleksi diterima di perpustakaan sampai dengan siap dipergunakan dengan mudah oleh pemustaka dalam temu kembali informasi.
Setiap perpustakaan memiliki tugas untuk menyediakan bahan koleksi serta mengolahnya agar dapat disajikan kepada pemustaka, sehingga bahan koleksi tersebut dapat bermanfaat. Sebelum bahan koleksi dilayankan kepada pemustaka, terlebih dahulu diolah dan disusun secara sistematis untuk memudahkan dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Menurut Yusuf dan Suhendar (2005:33) pengolahan koleksi adalah kegiatan di perpustakaan dari mulai
pemeriksaan bahan pustaka yang baru datang tersebut hingga siap disajikan dan disusun dalam raknya agar pemustaka dapat memanfaatkannya.
Setiap proses kegiatan pengolahan koleksi berbeda dengan perpustakaan lainnya. Hal ini dikarenakan setiap perpustakaan menggunakan pedoman pengolahan bahan pustaka untuk dijadikan sebagai panduan dan standar kerja bagi pustakawan dalam mengolah bahan perpustakaan agar dapat dilakukan secara terarah dan konsisten. Kegiatan pengolahan berhubungan erat dengan visi dan misi suatu perpustakaan, dalam memenuhi kebutuhan informasi yang beragam, kerumitan dalam pengolahan antara lain terjadinya perbedaan pendapat sehingga menimbulkan ketidaktentuan dalam pelaksanaan kegiatan.
Sehingga dengan adanya buku pedoman dapat memudahkan bagi pustakawan dan petugas dalam mengelola perpustakaan.
Kegiatan pengolahan koleksi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat telah menerapkan sistem otomasi, ada juga beberapa yang menggunakan sistem manual seperti pemberian stempel pada bahan pustaka, inventarisasi, pencarian nomor klasifikasi, dan kelengkapan fisik buku. Hal yang membedakan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pada koleksi deposit yaitu pada bagian nomor panggil. Dalam pencarian bahan pustaka nomor panggil yang digunakan di koleksi deposit menggunakan nomor induk. Sistem nomor panggil bahan perpustakaan diberikan secara berbeda menurut karakteristik bahan perpustakaan.
Nomor panggil (call number) merupakan nomor yang menunjukkan tempat bahan perpustakaan dalam koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pengolahan koleksi deposit penting untuk diketahui karena dapat digunakan untuk mengetahui pemanfaatan koleksi di perpustakaan.
Dengan adanya dibuat SOP (Standard Operating Prosedur) untuk menjelaskan hal- hal yang berkenaan dengan kegiatan pengolahan bahan koleksi di perpustakaan, sehingga dapat dijadikan pedoman kerja sesuai dengan alur kerja pengolahan koleksi perpustakaan.
METODE PENELITIAN
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai Pengolahan Koleksi Deposit Daerah Kalbar pada Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat, peneliti menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Prastowo (2011: 30) penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. 1). Observasi.
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang melibatkan diri peneliti secara langsung dalam aktivitas tersebut dan melakukan pengamatan secara langsung objek yang akan diteliti di lapangan. 2).
Wawancara. Wawancara dilakukan secara langsung kepada informan dalam pertemuan tatap muka secara individual. 3).
Dokumentasi. Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data oleh penulis dengan cara mengumpulkan dokumen- dokumen dari sumber yang dianggap terpecaya.
Dalam penulisan ini, penulis mengambil dua orang informan sebagai narasumber dalam memperkuat hasil penelitian. Informan pertama yaitu Kasi Deposit dan Petugas Perpustakaan.
PEMBAHASAN DAN HASIL
Pada bab ini akan disajikan hasil dan pembahasan penelitian mengenai
“Pengolahan Koleksi Deposit daerah Kalbar pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan”.
Pengolahan koleksi dilakukan untuk mengetahui proses pengolahan koleksi deposit dan kendala dalam pengolahan koleksi daerah Kalbar pada Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat.
Adapun pembahasan pada penelitian yang telah dilakukan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimanatan Barat yaitu sebagai berikut:
1). Proses Kegiatan Pengolahan Koleksi Deposit daerah Kalbar pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Pengolahan
koleksi deposit merupakan salah satu kegiatan di perpustakaan yang bertujuan untuk melakukan pengaturan bahan koleksi yang tersedia supaya dapat disimpan ditempatnya menurut susunan tertentu sehingga mudah ditemukan oleh pemustaka.
Kegiatan pengolahan koleksi deposit merupakan salah satu proses kegiatan yang penting dilakukan oleh suatu perpustakaan sebelum melakukan kegiatan pelayanan kepada pengguna. Pengolahan bahan pustaka merupakan proses yang dilakukan sejak bahan koleksi diterima di perpustakaan sampai siap untuk dimanfaatkan atau dipinjam oleh pemakai. Secara teknis kegiatan pengolahan koleksi deposit meliputi: Investarisasi, Klasifikasi, Katalogisasi, Pelabelan buku, dan Penyusunan buku/shelving. Adapun proses kegiatan pengolahan koleksi deposit daerah Kalbar pada Dinas Perustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut: A). Inventarisasi. Dalam kegiatan inventarisasi ini terdiri atas beberapa pekerjaan. Kegiatan inventarisasi wajib dilakukan dalam pengolahan koleksi, supaya memudahkan pustakawan dalam merencanakan pengadaan koleksi pada tahun yang akan datang. Tahapan kegiatan yang dilakukan dalam proses inventarisasi pengolahan koleksi di Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat meliputi mengecek daftar hasil pengadaan bahan pustaka, memberi stempel kelembagaan, membuat draft katalogisasi, membubuhkan nomor klasifikasi, melakukan inventaris/buku induk. Kegiatan pengolahan koleksi dapat diuraikan sebagai berikut:. 1). Mengecek daftar hasil pengadaan. Kegiatan pengecekan koleksi deposit di Dinas Perustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Barat ini dilakukan untuk mengetahui buku yang telah diterima dari sumbangan yang dikirim oleh pengarang buku, dan hanting (hibah dari setiap kantor). 2). Memberi stempel kelembagaan atau cap perpustakaan.
Pengecapan koleksi deposit di Dinas Perustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Barat dilakukan langsung setelah dilakukan pengecekan. Sebelum di inventarisasi harus dilakukan pengecapan pada bahan koleksi supaya untuk
mengetahui kepemilikan koleksi perpustakaan dan mengisi atau penulisan nomor inventarisasi bahan koleksi.
Perpustakaan provinsi di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Barat dilakukan dengan menggunakan 4 cap yaitu: Cap Inventarisasi yang bertuliskan deposit, tanggal regis, no.
deposit, penerbit, tempat/eks yang dicapkan pada halaman di balik judul, Cap koleksi deposit yang bertuliskan Koleksi Deposit Kalimantan Barat dicapkan pada halaman di balik judul, Cap Dinas yang bertuliskan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalimantan Barat dicapkan di halaman 2,9,80 dan halaman terakhir, Cap pelaksanaan yang bertuliskan PERDA No 3 TH.2012 dicapkan pada kaki buku atau bagian bawah dari buku. 3). Membuat draft katalogisasi. Draft katalogisasi adalah membuat katalog setiap koleksi dengan membuat deskripsi fisik buku atau bahan koleksi secara lengkap. Katalogisasi menggunakan pedoman yang telah ditetapkan oleh instansi yang berkompeten seperti Anglo American Cataloging Rules (AACR), dan pedoman tajuk subjek. Proses pembuatan draft katalog dilakukan sesudah bahan pustaka benar-benar telah menjadi milik perpustakaan atau telah di inventaris.
Kartu katalog yang ditulis pada sebuah kartu berukuran 7,5 x 12,5 cm. Adapun susunan urutan dalam ketentuan penulisan katalog sebagai berikut: Pengarang, judul buku, cetakan, edisi. kota terbit, penerbit, tahun terbit, kolasi, subjek, nomor klasifikasi, ISBN(international standard serial number), jumlah eksemplar. 4).Memberikan nomor klasifikasi. Dalam memberikan nomor klasifikasi harus mengikuti buku panduan tajuk subjek yang digunakan oleh Perpustakaan Nasional RI. Dalam suatu pekerjaan yang mengelompokkan seluruh koleksi menurut kelas atau kelompok tertentu. Tujuannya adalah agar semua koleksi tersusun menurut sistem sehingga mudah ditemukan pada saat mencari kembali. 5). Melakukan Inventarisasi/ Buku Induk. Dalam menginventarisasi koleksi deposit di Dinas Perustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Barat dicatat kedalam buku inventaris kepemilikan dan disertai keterangan sumber pengadaannya.
Inventarisasi di Dinas Perustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Barat masih dilakukan dengan cara manual dan dicatat kedalam buku. Buku inventaris ini berisi diantaranya: (a). No Urut. Pada kolom no urut yaitu pemberian nomor berbentuk angka 1,2,3 dan seterusnya. Secara berurutan sesuai dengan urutan masuknya buku ke perpustakaan; (b). Jenis bahan pustaka, kode wilayah dan nomor induk.
Pada kolom jenis bahan pustaka disini menunjukkan bahwa terdapat macam- macam bahan pustaka contohnya karya cetak (buku), karya rekam, karya cetak surat kabar, dan karya cetak (majalah). Kode wilayah mengikuti kode wilayah terbitan perpustakaan tersebut. Sedangkan nomor induk diisi dengan no induk bahan pustaka;
(c). Tanggal Registrasi. Pada kolom tanggal registrasi diisi tanggal pencatatan penerimaan bahan pustaka; (d). Judul Buku.
Pada kolom judul buku hendaknya diisi secara lengkap dan anak judul dicantumkan bila ada; (e). Pengarang. Pada kolom pengarang diisi dengan nama pengarang buku yang bersangkutan. Apabila ada buku yang tidak mempunyai nama pengarangnya (tidak berpengarang) maka di kosongkan saja; (f). Penerbit. Pada kolom penerbit diisi dengan nama lembaga yang menerbitkan buku yang bersangkutan. Apabila buku itu hasil terbitan pemerintah atau lembaga- lembaga resmi lainnya, maka badan atau lembaga itulah yang dicantumkan pada kolom penerbit, karena badan-badan atau lembaga itulah yang bertanggung jawab menerbitkannya seperti Dedikbud, Depdagri, dan sebagaimya; (g). Tempat terbit. Pada kolom tempat terbit diisi dengan asal atau sumber buku yang bersangkutan, misalnya pembelian, hadiah, sumbangan, paket, tukaran dan sebagainya; (h). Tahun terbit.
Pada kolom tahun terbit diisi kapan buku diterbitkan; (i). Edisi cetakan. Pada kolom edisi cetakan diisi dengan keterangan edisi keberapa atau edisi apa buku yang diterbitkan; (j). Jumlah Eksemplar. Pada kolom eksemplar diisi dengan jumlah eksemplar yang terdapat pada bahan pustaka; (k). ISBN/ISSN. Pada kolom ISBN/ISSN diisi dengan memasukkan kode pengindentifikasian pada setiap judul buku oleh penerbit kedalam kolom ISBN;
(l). Nomor klasifikasi. Pada kolom ISBN/
ISSN diisi dengan memasukkan kode indentifikasian pada setiap judul buku oleh penerbit kedalam kolom ISBN; (m). Sumber Pembelian/Hadiah. Pada kolom sumber pembelian/hadiah diisi sesuai dengan sumber yang di dapat oleh perpustakaan tersebut apakah dari pembelian atau hadiah;
(n). Keterangan/Subjek. Pada kolom keterangan subjek diisi sesuai dengan subjek buku tersebut.
B). Setelah semua bahan pustaka dicatat atau diinventaris ke dalam buku induk, maka kegiatan selanjutnya adalah mengklasifikasi bahan koleksi tersebut sehingga dapat dipergunakan oleh pengunjung. Dalam pengklasifikasian koleksi deposit di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat yaitu kegiatan dengan menentukan notasi subjek atau nomor klas menggunakan sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC). Sistem Klasifikasi DDC dibagi ke dalam 10 kelas utama yang diberi kode atau lambang 000 s.d 900. Pembagian sepuluh kelas utama yang dikenal dengan ringkasan pertama sebagai berikut : 000 Ilmu komputer, informasi dan karya umum, 100 Filsafat, 200 Agama, 300 Ilmu-ilmu sosial, 400 Bahasa, 500 Sains, 600 Teknologi, 700 Kesenian, 800 Kesusastraan, 900 Sejarah.
Setiap kelas utama dibagi kembali secara desimal menjadi 10 subklas (Division) yaitu:
300 Ilmu-ilmu sosial, 310 Statistik, 320 Ilmu Politik, 330 Ekonomi, 340 Hukum, 350 Administrasi umum, 360 Masalah sosial dan pelayanan, 370 Pendidikan, 380 Perdagangan, 390 Adat Istiadat.
C). Katalogisasi. Katalogisasi merupakan hal yang penting dalam proses kegiatan pengolahan koleksi pada perpustakaan. Katalog dapat menjadi kekuatan dalam pengoptimalan kegiatan perpustakaan untuk temu kembali informasi dalam memenuhi kebutuhan pemustaka.
Menurut Suhendar (2010:1) katalog adalah daftar bahan pustaka baik berupa buku maupun nonbuku seperti majalah, surat kabar, mikrofilm, slide dan lain-lain yang dimiliki dan tersimpan pada suatu atau sekelompok perpustakaan. Katalog juga sebagai kegiatan membuat entri dalam kartu atau daftar mengenai buku dan bacaan
perpustakaan lainnya yang ada dalam koleksi perpustakaan yang disusun menurut aturan tertentu. Katalogisasi diawali dengan kegiatan pengatalogan deskriptif yaitu menentukan tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan. Kegiatan ini berpedoman pada kegiatan peraturan katalogisasi indonesia yang bersumber pada peraturan Perpustakaan Nasional RI. Demikian pula halnya apabila bahan pustaka yang tersimpan dalam perpustakaan tidak memakai katalog sebagai alat atau media temu balik, maka akan sulit bagi siapa pun untuk menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan secara cepat, tepat, dan akurat.
Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Provinsi Kalimantan Barat sudah menggunakan katalog berbentuk kartu yang penggunaannya ditulis menggunakan bolpoin dan kertas karton manila setiap kartu berisi satu data katalog, dengan ukuran kartu 7,5x12,5 cm. hingga saat ini petugas masih menjalankan kegiatan pembuatan katalog kartu manual. Dalam pernyataan tersebut juga dibahas oleh pendapat Yaya Suhendar (2010 : 5) mengemukakan katalog dalam bentuk kartu merupakan perkembangan lebih lanjut dari katalog berkas. Katalog ini dibuat dalam bentuk kartu berukuran 7,5 x 12,5 cm. Dengan ketebalan 0,025 cm (kurang lebih sama tebalnya dengan karton manila). Setiap kartu berisi satu data katalog”. Keuntungan menggunakan katalog kartu diantaranya bersifat praktis, penambahan data katalog tidak mengalami kesulitan karena katalog baru tinggal menyisipkannya saja pada susunan katalog yang sudah ada sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
Kerugiannya ialah pemakai harus antri dalam menggunakannya karena kartu katalog disimpan pada suatu tempat (laci katalog) dan setiap kartu hanya memuat satu data katalog saja.
D). Pelabelan Pada Buku. Setelah dilakukan pencetakan kartu katalog, kemudian dilakukan pemberian label bahan perpustakaan. Label bahan perpustakaan berisi nomor panggil bahan perpustakaan.
Pelabelan buku merupakan proses dalam pemberian label nomor panggil pada punggung buku. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan katalogisasi dan
klasifikasi. Nomor klasifikasi inilah yang akan diproses dan dijadikan sebagai nomor panggil atau call number dan dicetak ke dalam label. Pemberian label bertujuan untuk memudahkan mengelola, menyajikan dan mencari suatu bahan pustaka dalam urutan yang teratur dan tertata rapi. Menurut Pawit dan Yaya (2005: 58-60) menyatakan bahwa nomor buku yang ditulis pada secuil kertas dengan ukuran kurang lebih 3,5 x 2,5 cm. Dan ditempelkan pada bagian belakang atau punggung buku bagian bawah. Jarak dari bawah kurang lebih 3 cm.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat sudah menerapkan Standar Operating Prosedur (SOP) dalam kegiatan pelabelan pada buku.
Proses dalam pelabelan buku yaitu apabila semua buku sudah di inventaris tinggal membuat label buku nya saja. Proses pelabelan buku memerlukan kode jenis karya cetak atau karya rekam, kode wilayah, tahun terbit, tahun pertama, nomor induk dan tahun sekarang. Jika semua kode telah di ketikkan di dalam komputer selanjutnya di cetak. Setelah selesai dicetak barulah di gunting sesuai kode bahan koleksi yang akan ditempelkan ke koleksi deposit yang telah disiapkan. Alat-alat yang digunakan dalam pelabelan buku yaitu gunting, lakban putih dan penggaris. Pelabelan direkatkan di daerah punggung buku. Ukuran yang digunakan pada pelabelan yaitu 3 cm. E).
Penyusunan buku/Shelving. Setelah buku atau bahan pustaka selesai di proses dan dilengkapi dengan berbagai kelengkapan dan dijajarkan menurut sistem tertentu.
Kemudian bahan koleksi tersebut harus segera disusun atau diatur pada rak buku untuk dilayankan kepada pemakai perpustakaan. Penyusunan buku di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat yaitu berdasarkan tahun terbit buku itu sendiri, sedangkan penyusunan pada perpustakaan umum lainnya menggunakan nomor klasifikasi.
2). Kendala yang dihadapi dalam Kegiatan Pengolahan Koleksi Deposit. Kegiatan pengolahan bahan perpustakaan dimulai dengan penerimaan bahan perpustakaan dan diperiksa sesuai dengan jumlah judul eksemplarnya dengan daftar pengiriman bahan perpustakaan tersebut. Setelah selesai
barulah dilakukan proses kegiatan pengolahan bahan pustaka. Dalam pengolahan koleksi deposit masih terdapat koleksi deposit yang belum dikelola dengan baik dan belum dilengkapi nomor klasifikasi nya sehingga kesulitan dalam proses pencarian bahan pustaka.
Perpustakaan berupaya melakukan kegiatan pengolahan koleksi dengan sebaik- baiknya, namun dalam suatu kegiatan yang dilakukan pasti ada kendala yang dihadapi.
Selama proses kegiatan pengolahan koleksi terdapat kendala dalam kegiatan menginventarisasi yaitu petugas kesulitan dalam menentukan subjek koleksi.
Klasifikasi koleksi deposit tentu harus mengikuti buku pedoman klasifikasi koleksi deposit dan untuk menemukan subjek koleksi petugas harus memahami isi dari buku tersebut, sehingga sesuai penomoran yang terdapat pada buku pedoman. Apabila koleksi yang diterima perpustakaan belum dilakukan pengolahan seperti katalogisasi dan klasifikasi tentu akan terhambat dalam pelayanan koleksi deposit dan akan kesulitan untuk menemukan koleksi deposit. Kegiatan pengklasifikasian dilakukan oleh Kasi Deposit, dalam kegiatan klasifikasi mempunyai kendala pada petugas. Seperti yang diketahui, selama kegiatan berlangsung, petugas belum terlalu memahai dalam menentukan subjek buku. Hal ini membuat kesulitan para petugas jika Kasi Deposit tidak ada di tempat atau keluar kota, sehingga pengolahan akan dihentikan sementara waktu sampai Kasi Deposit datang dan memerlukan waktu yang cukup lama. Seharusnya koleksi tersebut dapat diolah tetapi dengan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh petugas maka menjadi penghambat untuk kegiatan klasifikasi.
Dari pemaparan di atas kegiatan pengolahan koleksi deposit memang menjadi permasalahan terhadap petugas yang belum terlalu memahami dalam pengklasifikasian dan katalogisasi, tetapi jika kegiatan tersebut tidak dilakukan maka perpustakaan tidak akan mengetahui bagaimana proses kegiatan pengolahan koleksi deposit dalam menentukan subjek buku dan katalog buku. Sebaiknya untuk petugas dan pustakawan mengikuti pelatihan
(bimtek) agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang klasifikasi bahan pustaka dalam menentukan tajuk subjek.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pengolahan koleksi deposit tentang proses dan kendala kegiatan pengolahan koleksi deposit, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1). Pelaksanaan proses kegiatan pengolahan koleksi deposit belum dapat dikatakan dengan baik karena masih banyak buku- buku yang belum diolah, karena dalam kegiatan masih dilakukan dengan cara manual seperti pemeriksaan bahan pustaka, inventarisasi, pengklasifikasian, dan penyusunan buku dalam rak/shelving. 2).
Kendala yang terdapat dalam kegiatan pengolahan koleksi deposit adalah masih ada petugas yang belum terlalu memahami dalam menentukan subjek klasifikasi dan katalogisasi sehingga hal tersebut menjadi menghambat dalam proses kegiatan pengolahan koleksi deposit.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti mempunyai saran untuk dipertimbangkan dan diperhatikan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat. Adapun saran yang diberikan oleh peneliti ialah: 1). Sebaiknya dalam proses kegiatan pengolahan koleksi deposit pada Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat menambah jumlah sumber daya manusia di bidang ilmu perpustakaan umum untuk bagian pengolahan dan menerapkan Standar Operating Nasional Perpustakaan. 2).
Petugas pada bagian pengolahan sebaiknya lebih mengembangkan wawasan pengetahuannya tentang perkembangan ilmu perpustakaan dan mengikuti pelatihan (bimtek) agar dapat memahami cara klasifikasian dan katalogisasi koleksi deposit.
DAFTAR RUJUKAN
Bafadal, I. (2016). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Hargiyanti, D. J. (2009). Pengelolaan Koleksi Langka di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
(Online), diakses 28 mei 2018 pada laman
(https://webcache.googleusercontent.co m/search?q=cache:jjHv07RtV6oJ:https:
//digilib.uns.ac.id/dokumen/download/7 958/MjA1Njk%3D/Pengelolaan- koleksi-langka-di-Badan-Perpustakaan- dan-Arsip-Daerah-Propinsi-Daerah- Istimewa-Yogyakarta-abstrak.pdf) Hartono. (2016). Manajemen Perpustakaan
Sekolah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Lasa. (2016). Manajemen Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Yogyakarta:
Ombak.
Martini. (1994). Kegiatan Praktek Kerja Perpustakaan di UPT Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat. Pontianak:
Universitas Terbuka.
Pedoman Pengolahan Bahan Perpustakaan. (2011). Jakarta:
Perpustakaan Nasional RI.
Republik Indonesia. 2007. Undang-undang Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 tentang Koleksi Perpustakaan.
Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Republik Indonesia. 1992. Undang-undang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
Prastowo, A. (2011). Metode penelitian kualitatif dalam perspektif rancangan penelitian. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Profil Perpustakaan Se- Kalimantan Barat.
(2012). Pontianak: Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi.
Putranto, M. T. (2015). Proses Digitalisasi Koleksi Deposit di UPT Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah. (Online), diakses 4 juli 2018.
pada laman
(https://media.neliti.com/media/publicat ions/137640-ID-proses-digitalisasi- koleksi-deposit-di-u.pdf) journal Ilmu
Perpustakaan. Vol.4 Nomo 3 Tahun 2015 Halaman 3 dan 4.
Rahayuningsih, F. (2007). Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta : Graha ilmu.
Suhendar, Yaya, (2010). Pedoman Katalogisasi : cara mudah membuat katalog perpustakaan. Jakarta:
Kencana.
Sukri (2014) Sistem Pengolahan Bahan Pustaka Di Perpustakaan Daerah Umum Barru. (online), di akses 11 september 2018 pada laman (https://www.bing.com/search?q=siste m++pengolahan+bahan+pustaka+sukri.
pdf)
Suryabrata, S. (2014). Metodeloogi Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.
Yuniwati , Yuven. 2008. Modul “Penyedia Layanan Informasi”. Materi Ceramah Jaringan Informasi dan Dokumentasi (JID) Program KB Nasional Tingkat Jawa Tengah Semarang: Fakultas Ilmu Budaya Undip.
Yulia, Y. (2013). Pengolahan Bahan Pustaka. Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka.
Yusuf, Pawit. M dan Yaya Suhendar.
(2005). Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.