Produksi Benih Kedelai Varietas Grobogan
Mafazi, Tuhu1, I. Fadillah2, dan S. K. H. Nainggolan3
Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University, Semarang, Central Java, Indonesia.
Department of Agriculture, Faculty of Animal and Agricultural Science Diponegoro University, Semarang, Central Java, Indonesia.
E-mail: [email protected] ABSTRAK
Penyediaan benih unggul sebagai bahan tanam merupakan langkah esensial dalam intensifikasi pertanian, yang dapat dicapai melalui peningkatan produksi benih dengan standar yang baik. Tujuan praktikum Produksi dan Penyimpanan Benih Acara Produksi Benih adalah untuk mengetahui proses produksi benih dengan yang dapat menghasilkan benih kualitas unggul. Metode yang dilaksanakan meliputi pengolahan tanah dan pembuatan petak pertanaman, penanaman benih kedelai dengan jarak tanam 20 cm x 40 cm, penyiraman dua kali sehari, pemupukan unsur N, P, dan K, penyiangan gulma, pemanenan, dan pasca panen benih. Hasil dari pengamatan parameter menunjukkan bahwa U1 (petak 1) memiliki hasil yang unggul pada seluruh parameter, yaitu jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, berat segar akar, berat segar brangkasan, tinggi tanaman, dan bobot polong per tanaman dibandingkan ulangan lain. Kesimpulan yang didapat adalah U1 (petak 1) dan U2 (petak 2) memiliki tanaman kedelai dengan produksi benih unggul yang ditunjukkan oleh parameter- parameter yang diamati, yang dipengaruhi oleh faktor eksternal selama proses produksi benih.
Kata Kunci : benih, bobot. kedelai, polong, produksi
PENDAHULUAN
Tanaman kedelai (Glycine max L.) menjadi salah satu komoditas terpenting bagi pertanian Indonesia selain padi dan jagung. Kedelai berfungsi sebagai penyedia bahan pangan dan berkhasiat sebagai protein untuk meningkatkan gizi masyarakat (Aziez et al., 2021). Tanaman kedelai dapat tumbuh dengan optimal jika ditanam di lingkungan dengan syarat tumbuh yang sesuai, dan mendukung proses fisiolgis dan biokimianya. Suhu yang optimal bagi pertumbuhan tanaman kedelai yaitu sekitar 25 – 27°C serta memiliki intensitas cahaya penuh selama 12 jam per harinya (Ni’am dan Bintari, 2017). Klasifikasi dari tanaman kedelai
berdasarkan (Merril, 1917) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Genus : Glycine Spesies : Glycine max L.
Pemanfaatan biji kedelai umumnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan olahan pangan. Kandungan pada biji kedelai sangat beragam dan memiliki banyak manfaat misalnya asam linolenat serta asam omega 3, protein nabati, serat, kalsium, lechitin, vitamin A, vitamin B kompleks, dan vitamin E, fosfor, magnesium, dan zat besi (Wahyudi, 2018).
Bagian tanaman kedelai, terutama bijinya juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Biji kedelai memiliki kandungan yang dapat mengobati penyakit pada manusia, seperti misalnya hipertensi dan diabetes melitus (Triandita dan Putri, 2019). Kedelai, sebagai sumber protein nabati, menjadi alternatif yang lebih ekonomis dibandingkan protein hewani.
Berdasarkan analisis pada tahun 2017 dari total penyediaan kedelai sebesar 2,45 juta ton, penggunaan sebagai bahan makanan mencapai 84,6%, sedangkan 15,4%
sisanya digunakan selain bahan makanan (Mahdi dan Suharno, 2019). Tingginya permintaan masyarakat terhadap kedelai sebagai sumber protein nabati, pertambahan jumlah penduduk Indonesia, dan peningkatan kesadaran akan kesehatan menjadi faktor yang mendorong tingginya permintaan kedelai di Indonesia. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara produksi dan konsumsi kedelai yang signifikan, sehingga memengaruhi ketersediaan kedelai secara nasional, dengan produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 15% dari kebutuhan, sedangkan sisanya, sebesar 86,95%, harus dipenuhi melalui impor (Mahdi dan Suharno, 2019). Pemenuhan produksi kedelai dalam negeri dapat ditingkatkan melalui dua pendekatan yang berbeda, yaitu ekstensifikasi atau intensifikasi. Ekstensifikasi merupakan usaha untuk menambah luasan lahan
produksi agar hasil produksi meningkat, sedangkan kegiatan intensifikasi merupakan usaha untuk meningkatkan produktivitas tanaman untuk meningkatkan hasil produksi (Ihsan et al., 2016). Intentifikasi pertanian dapat dilakukan dengan melalui berbagai rangkaian usaha substitusi dan peningkatan kualitas lahan. Intensifikasi pertanian merupakan kegiatan yang mengedepankan peningkatan kuantitas dan kualitas hasil produksi dari lahan yang telah ada melalui beberapa metode, antara lain penggunaan benih varietas unggul yang telah tersertifikasi, melakukan pengolahan lahan pertanian untuk memperbaiki sifat-sifat tanah, dan juga pengendalian terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman yang dapat menyerang tanaman dan menyebabkan mengurangnya hasil produksi dan kerugian bagi petani (Ahmadi dan Rahaju, 2018).
Benih merupakan sumber dari tanaman yang nantinya akan menghasilkan komoditas yang berguna bagi manusia.
Benih dapat diartikan sebagai bahan tanam yang akan menghasilkan individu baru.
Benih adalah sumber untuk mendapatkan individu baru dalam kegiatan perbanyakan tanaman, yang berasal dari hasil pembiakkan generatif dari suatu tanaman (Darwis, 2018). Penyediaan benih dengan kualitas baik merupakan kegiatan yang dapat dimulai dari proses awal, yaitu
proses produksi benih. Proses produksi benih yang melewati banyak tahapan harus diperhatikan, seperti memastikan tercukupinya kebutuhan air sehingga benih yang dihasilkan memiliki kualitas dan kuantitas unggulan dan dapat menghasilkan individu baru yang produktif (Saputra et al., 2015). Produksi benih biasanya dilakukan oleh penangkar benih, yang dituntut untuk menghasilkan benih bermutu baik dan berkualitas (Mita et al., 2018). Benih inti (NS:Nucleus Seed) merupakan benih paling mendasar, yang kemudian menghasilkan benih penjenis (BS), kemudian turunan dari BS adalah benih dasar (BD), turunan dari BD adalah benih pokok (BP), turunan dari benih BP adalah benih sebar (BR) (Mulsanti et al., 2014). Tiap kelas benih memiliki standar mutu yang telah ditetapkan dalam mempertahankan identitas maupun kemurnian varietas dan memenuhi standar peraturan produksi benih, baik standar pemeriksaan di lapangan maupun di laboratorium (Mulsanti et al., 2014).
Perbedaan kelas benih tidak berpengaruh terhadap karakter agronomis tanaman (tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah malai per rumpun), komponen hasil (panjang malai, bobot 1.000 butir) (Wahyuni et al., 2015). Benih sebar adalah benih yang biasa digunakan petani dalam memproduksi gabah untuk tujuan konsumsi (Mulsanti et al., 2014).
Kelas benih yang semestinya ditanam oleh
petani untuk pertanaman konsumsi adalah benih BR, jika petani bersedia menggunakan kelas benih BR untuk pertanaman beras konsumsi, maka permintaan benih kelas diatasnya menjadi lebih terkendali sehingga kebutuhan benih dapat terpenuhi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Wahyuni, 2015). Kelas benih penjenis (BS) memiliki mutu fisiologis yang lebih baik dibandingkan dengan kelas benih lainnya berdasarkan parameter-parameter yang diamati pada semua varietas yang diuji (Mulsanti et al., 2014). Daya berkecambah merupakan mutu fisiologik benih yang tidak dipengaruhi oleh perbedaan kelas benih, tetapi dipengaruhi oleh proses produksi benih, mulai dari pertanaman, panen, hingga pengolahan dan penyimpanan benih sebelum ditanam (Wahyuni, 2015).
Praktikum ini dilaksanakan dengan tujuan mengkaji proses produksi benih kedelai dalam skala kecil, dan juga mengkaji parameter benih kedelai yang diproduksi. Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah dapat memahami proses produksi benih kedelai, dan memahami parameter penilaian benih kedelai yang diproduksi.
BAHAN DAN METODE
Praktikum Produksi dan Penyimpanan Benih Acara Produksi Benih dilaksanakan pada tanggal 17 September – 17 Desember 2023 di Kebun Percobaan,
dan Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
Bahan yang digunakan adalah benih kedelai varietas Grobogan sebagai bahan tanam atau sumber produksi benih, pupuk urea, SP-36 dan KCl sebagai bahan untuk menambah nutrisi bagi tanaman, cangkul untuk mengolah tanah, selang untuk mengalirkan air, gembor untuk menyiram tanaman, timbangan untuk mengetahui bobot bagian tanaman, alat tulis untuk mencatat parameter pengamatan, timbangan untuk mengukur bobot atau berat, penggaris untuk mengukur panjang, dan handphone untuk mendokumentasikan kegiatan.
Metode yang dilakukan adalah lahan dipersiapkan oleh masing-masing kelompok untuk produksi benih kedelai kedelai varietas Grobogan dengan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya dan gulma dengan cangkul, lalu tanah diolah dengan garu hingga tanah tidak berbentuk bongkahan dan rata, kemudian dibuat petak-petak pertanaman kedelai sesuaikan dengan ketersediaan lahan. Tanah yang telah diolah kemudian ditanam dengan kedelai varietas Grobogan
Petak-petak pertanaman kedelai dibuat dengan lahan seluas 1 x 6 m. Benih ditanam dengan cara tugal pada kedalaman 3 cm. Jarak tanam 20 cm x 40 cm dengan 2 butir benih/lubang tanam. Pemupukan dilakukan dengan pemberian pupuk urea sebesar 35 kg/ha, SP36 sebesar 35 kg/ha dan KCl sebesar 30 kg/ha, diberikan seluruhnya pada usia tanam 2 MST.
benih yang telah ditanam kemudian di siram menggunakan gembor atau selang, kemudian setiap minggunya dilakukan perawatan dengan pembersihan gulma dan benih yang tidak tumbuh dilakukan penyulaman. Panen dilakukan pada saat tanaman kedelai berumur kurang lebih 90 HST, dan juga dilakukan pengamatan parameter, yaitu jumlah polong per tanaman, jumlah biji pertanaman, berat segar akar, berat segar brangkasan, tinggi tanaman, dan bobot polong pertanaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Praktikum Produksi dan Penyimpanan Benih Acara Produksi Benih yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil yang tersaji pada Tabel 1. sebagai berikut:
Tabel 1. Data Produksi Benih Kedelai Varietas Grobogan
Parameter Pengamatan U1 U2 U3 U4 Rata-Rata
Jumlah polong per tanaman (buah) 7,04 10,17 8,7 7 91,50 Jumlah biji per tanaman (buah) 37,6 21 24,5 15,1 24,55
Berat segar akar (g) 10 3 8,2 5 6,55
Berat segar brangkasan (g) 113,4 42 67 48 67,60
Tinggi tanaman (cm) 17,26 21,5 20,6 143 218,75
Bobot polong per tanaman (g) 14,78 19,83 15,4 17,85 148,98 Sumber : Data Primer Praktikum Produksi dan Penyimpanan Benih, 2023.
Berdasarkan Tabel 1. diketahui bahwa U1 (petak 1) memiliki keunggulan pada parameter Jumlah Biji per Tanaman, Berat Segar Akar, dan Berat Segar Brangkasan yang diamati, , lalu U2 (petak 2) memiliki keunggulan pada parameter Jumlah Polong per Tanaman, Tinggi Tanaman dan Bobot Polong per Tanaman.
Jumlah polong yang dihasilkan dapat mempengaruhi banyaknya benih yang diproduksi dalam satu periode tanam. Hal ini sesuai dengan pendapat Puspasari et al.
(2018) yang menyatakan bahwa banyaknya polong yang terbentuk pada tanaman kedelai, dapat menandakan banyaknya hasil biji atau benih yang akan diperoleh. Jumlah polong yang diperoleh tanaman dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Hal ini sesuai dengan pendapat Purba et al. (2018) yang menyatakan bahwa jumlah polong total yang diproduksi oleh tanaman kedelai dapat ditingkatkan melalui teknik budidaya, yaitu jarak tanam dan pemupukan yang tepat.
Biji yang terdapat dalam polong pada suatu tanaman kedelai dapat dijadikan sebagai benih, yang berfungsi
sebagai bahan perbanyakan tanaman kedelai. Hal ini sesuai dengan pendapat Fitriesa et al. (2016) yang menyatakan bahwa benih sebagai bahan perbanyakan tanaman dapat diperoleh dengan pemanenan dan pemrosesan biji kedelai sedemikian rupa. Biji kedelai yang dapat digunakan sebagai benih harus memenuhi kriteria tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulsanti et al. (2014) yang menyatakan bahwa biji yang digunakan sebagai benih harus melalui proses pengelompokkan berdasarkan kriteria penilaian kelas-kelas benih. Berat segar akar terbaik dihasilkan oleh tanaman- tanaman kedelai pada U1 (petak 1), yaitu sebesar 10 gr. Berat segar akar dapat menunjukkan hasil yang baik pada parameter-parameter perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurbaiti et al. (2017) yang menyatakan bahwa nilai berat segar akar yang tinggi berkorelasi positif terhadap tingginya parameter pertumbuhan dan perkembangan, seperti pada tinggi tanaman, berat kering brangkasan, dan jumlah cabang produktif.
Berat segar brangkasan U1 (petak 1) adalah ulangan terbaik, yang merupakan berat dari organ-organ vegetatif tanaman yang bukan hasil yang dipanen, yang diukur sesaat setelah panen.
Hal ini sesuai pendapat Fatimah dan Saputro (2016) yang menyatakan bahwa berat basah tanaman terdiri atas organ vegetatif, batang, akar, dan daun memiliki akumulasi kadar air yang tersimpan dalam organ-organ tersebut. Terbentuknya organ- organ vegetatif secara sempurna mempengaruhi hasil produksi benih yang didapat. Hal ini sesuai dengan pendapat Saputra et al. (2015) yang menyatakan bahwa gangguan pada fase vegetatif berdampak negatif terhadap produksi benih kedelai. Tinggi tanaman kedelai berbanding lurus dengan berat segar dari brangkasan kedelai. Hal ini sesuai dengan pendapat Kurniawan et al. (2014) yang menyatakan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman kedelai dapat menambah berat segar brangkasan yang dihasilkan. Tinggi tanaman dalam proses produksi benih dapat dijadikan kriteria dalam seleksi tanaman dalam produksi benih. Hal ini sesuai dengan pendapat Ridwansyah et al.
(2020) yang menyatakan bahwa tinggi tanaman merupakan karakter yang dipengaruhi oleh genetik tanaman itu sendiri, sehingga tinggi tanaman yang tidak seragam dapat menunjukkan ketidaksesuaian suatu tanaman untuk memproduksi benih.
Bobot polong per tanaman terbaik terdapat pada U2 (petak 2), hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah polong yang diproduksi diisi oleh biji atau benih kedelai. Hal ini sesuai dengan pendapat Saputra et al. (2015) yang menyatakan bahwa pengisian polong mempengaruhi jumlah benih yang diproduksi oleh tanaman. Penambahan bobot polong dapat dipacu dengan penambahan nutrisi pada tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Amelia et al.
(2021) yang menyatakan bahwa penambahan unsur hara fosfor memiliki peranan yang dibutuhkan oleh tanaman polong – polongan dalam jumlah yang banyak terutama pada masa generatif untuk pembentukan bunga dan polong.
KESIMPULAN
Produksi benih kedelai pada petak 1 memiliki hasil yang unggul pada parameter Jumlah Biji per Tanaman, Berat Segar Akar, dan Berat Segar Brangkasan yang diamati, serta U2 (petak 2) memiliki hasil yang unggul pada parameter Jumlah Polong per Tanaman, Tinggi Tanaman dan Bobot Polong per Tanaman. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal selama proses produksi benih, yang menyebabkan hasil pada petak-petak lainnya tidak seragam. Parameter hasil produksi yang diamati dapat menjelaskan kualitas benih yang dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, F. F., dan T. Rahaju, . 2018.
Implementasi program intensifikasi pertanian sub sektor padi pada Gapoktan Mukti Jaya Desa
Sidomukti Kecamatan
Kembangbahu Kabupaten Lamongan. J. Publika, 6 (6) : 1 – 8.
Amelia, E., E. R. Setyawati, dan D. P.
Putra. 2021. Pengaruh pemberian pupuk fosfor dan dolomit terhadap pertumbuhan legum (Mucuna bracteata). J Agromast, 6 (2) : 1 – 5 Aziez, A. F., T. Supriyadi, T. S. K. Dewi, dan A. F. Saputra. 2021. Analisis pertumbuhan kedelai varietas grobogan pada cekaman kekeringan. J. Ilmiah Agrineca, 21 (1) : 25 – 33.
Darwis, V. 2018. Sinergi kegiatan desa mandiri benih dan kawasan mandiri benih untuk mewujudkan swasembada benih. Analisis Kebijakan Pertanian, 16 (1) : 59 – 72.
Fatimah, V. S., dan T. B. Saputro. 2016.
Respon karakter fisiologis kedelai (Glycine max L.) verietas Grobogan terhadap cekaman genangan. J.
Sains dan Seni ITS. 5 (2) : 71 – 77.
Fitriesa, S., S. Ilyas, dan A. Qadir. 2016.
Invigorasi dan pengurangan pupuk N untuk meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan mutu benih kacang bambara. J. Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy), 44 (2) : 190 – 196.
Ihsan, G. T., D. Arisanty, dan E.
Normelani. 2016. Upaya petani meningkatkan produksi padi di Desa Tabihi Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu Sungai Selatan. J.
Pendidikan Geografi, 3 (2) : 11 – 20.
Mahdi, N. N., dan S. Suharno. 2019.
Analisis faktor-faktor yang memengaruhi impor kedelai di Indonesia. J. Agribusiness Forum 9 (2): 160 – 184.
Merill, E. D. 1917. Interpr. Herb. Amboin.
Bureau of Science, Manila
Mita, Y. T., D. Haryono, dan L. Marlina.
2018. Analisis pendapatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan usahatani penangkaran benih padi di Kabupaten Pesawaran. J. Ilmu-Ilmu Agribisnis, 6 (2) : 125 – 132.
Mulsanti, I. W., S. Wahyuni, dan H.
Sembiring. 2014. Hasil Padi dari Empat Kelas Benih Yang Berbeda.
J. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 33 (3) : 169 – 176.
Ni’am, A. M., dan S. H. Bintari. 2017.
Pengaruh pemberian inokulan legin dan mulsa terhadap jumlah bakteri bintil akar dan pertumbuhan tanaman kedelai varietas Grobogan.
J. Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences, 40 (2) : 80 – 86.
Nurbaiti, F., G. Haryono, dan A. Suprapto.
2017. Pengaruh pemberian mulsa dan jarak tanam pada hasil tanaman kedelai (Glycine max, L. Merrill.) Var. Grobogan. J. Vigor: Jurnal Ilmu Pertanian Tropika Dan Subtropika, 2 (2) : 41 – 47.
Purba, J. H., I. P. Parmila, dan K. K. Sari.
2018. Pengaruh pupuk kandang sapi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max L. Merrill) varietas Edamame. J. Agro Bali:
Agricultural Journal, 1 (2) : 69 – 81.
Puspasari, R., A. S. Karyawati, , dan S. M.
Sitompul,. 2018. Pembentukan polong dan hasil tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) dengan
pemberian nitrogen pada fase generatif. J. Produksi Tanaman, 6 (6) : 1096 – 1102.
Ridwansyah, B., T. R. Basoeki, P. B.
Timotiwu, dan A. Agustiansyah.
2020. Pengaruh dosis pupuk nitrogen, fosfor, dan kalium terhadap produksi benih padi varietas Mayang pada tiga lokasi di Lampung Utara. J. Agrotropika, 15 (2) : 68 – 72.
Saputra, D. S., P. B. Timotiwu, dan E.
Ermawati. 2015. Pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan
dan produksi benih lima varietas kedelai. J. Agrotek Tropika, 3 (1) : 7 – 13.
Triandita, N., dan N. E. Putri. 2019.
Peranan kedelai dalam mengendalikan penyakit degeneratif. J. Teknologi Pengolahan Pertanian, 1 (1) : 6 – 17.
Wahyudi, A. 2018. Pengaruh variasi suhu ruang inkubasi terhadap waktu pertumbuhan Rhizopus oligosporus pada pembuatan tempe kedelai. J.
Redoks, 3 (1) : 37 – 44.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Jumlah Polong pada Tanaman Kedelai
No Petak Ke- Tanaman Ke- Jumlah Polong Jumlah Rata - Rata 1
1
1 11
162 7,04
2 2 1
3 3 3
4 4 4
5 5 11
6 6 1
7 7 9
8 8 0
9 9 2
10 10 5
11 11 7
12 12 8
13 13 13
14 14 16
15 15 4
16 16 8
17 17 3
18 18 7
19 19 11
20 20 22
21 21 3
22 22 13
23 23 0
24
2
1 1
61 10,17
25 2 4
26 3 18
27 4 7
28 5 25
29 6 6
30
3
1 7
87 8,7
31 2 11
32 3 12
33 4 0
34 5 8
35 6 12
36 7 6
37 8 18
38 9 6
39 10 7
40
4
1 9
56 7
41 2 4
42 3 6
43 4 11
44 5 4
45 6 5
46 7 6
47 8 11
Lampiran 2. Jumlah Biji pada Tanaman Kedelai dalam Setiap Petak
No Petak Ke- Tanaman Ke- Jumlah Biji Jumlah Rata - Rata 1
1
1 1,4
37,6 1,634783
2 2 0,5
3 3 0,8
4 4 3,6
5 5 1,2
6 6 1,3
7 7 0,4
8 8 0
9 9 0,9
10 10 1,6
11 11 3,2
12 12 0,4
13 13 1,8
14 14 0,7
15 15 1,9
16 16 0,8
17 17 0,9
18 18 1,1
19 19 1,8
20 20 4,7
21 21 1,9
22 22 6,7
23 23 0
24
2
1 0
21 3,5
25 2 0,3
26 3 8,4
27 4 1,1
28 5 7,9
29 6 3,3
30
3
1 1
24,5 2,45
31 2 3
32 3 3,3
33 4 0
34 5 2,6
35 6 1,8
36 7 0,7
37 8 8,2
38 9 1,9
39 10 2
40
4
1 3,7
15,1 1,8875
41 2 0,7
42 3 1,4
43 4 2,8
44 5 2,4
45 6 1,1
46 7 0,5
47 8 2,5
Lampiran 3. Berat Segar Akar Tanaman Kedelai Setiap Petak
No Petak Ke- Berat Segar Akar Jumlah Rata - Rata
1 1 10
26,2 6,55
2 2 3
3 3 8,2
4 4 5
Lampiran 4. Tinggi Tanaman Kedelai Setiap Petak
No Petak Ke- Tanaman Ke- Tinggi
Tanaman Jumlah Rata - Rata
1
1
1 35
397 17,26087
2 2 15
3 3 19
4 4 16
5 5 12
6 6 13
7 7 16
8 8 9
9 9 18
10 10 13
11 11 14
12 12 21
13 13 12
14 14 19
15 15 16
16 16 23
17 17 20
18 18 19
19 19 13
20 20 24
21 21 13
22 22 21
23 23 16
24
2
1 15
129 21,5
25 2 13
26 3 25
27 4 32
28 5 20
29 6 24
30
3
1 18
206 20,6
31 2 20
32 3 15
33 4 22
34 5 17
35 6 20
36 7 19
37 8 42
38 9 14
39 10 19
40 4 1 22
143 17,875
41 2 37
42 3 4
43 4 15
44 5 19
45 6 18
46 7 19
47 8 9
Lampiran 5. Bobot Polong Tanaman Kedelai Setiap Petak
No Bedengan Ke- Tanaman Ke- Bobot Polong Jumlah Rata - Rata 1
1
1 22
340 14,78261
2 2 6
3 3 7
4 4 26
5 5 22
6 6 14
7 7 12
8 8 0
9 9 5
10 10 17
11 11 27
12 12 8
13 13 8
14 14 16
15 15 8
16 16 13
17 17 9
18 18 16
19 19 18
20 20 49
21 21 8
22 22 29
23 23 0
24
2
1 1
119 19,83333
25 2 7
26 3 38
27 4 11
28 5 47
29 6 15
30
3
1 8
154 15,4
31 2 14
32 3 18
33 4 0
34 5 17
35 6 22
36 7 8
37 8 41
38 9 14
39 10 12
40
4
1 14
90 11,25
41 2 8
42 3 12
43 4 22
44 5 8
45 6 9
46 7 9
47 8 8
Lampiran 6. Dokumentasi Alat dan Bahan
No Dokumentasi Keterangan
1
Pupuk KCl
Sebagai sumber nutrisi tambahan
2 Sebagai sumber nutrisi tambahan
Pupuk Urea
4
Pupuk SP-36
Sebagai sumber nutrisi tambahan
5
Timbangan
Sebagai alat pengukur berat atau bobot
4
Benih Kedelai Varietas Grobogan
Sebagai bahan tanam dalam produksi benih kedelai
5
Gembor
Sebagai alat untuk menyiram tanaman
6
Handphone
Sebagai alat dokumentasi