PROFIL USAHA BAWANG GORENG DI KOTA PADANG SUMATERA BARAT
JURNAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Strata Satu (SI)
ORINA DILLA AKMAL NPM 12030237
Pembimbing I Pembimbing II
Yuherman, SP., M.Pd Loli Setriani, S.Pd, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2017
Dosen Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat**
ABSTRAK
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya pembuat bawang goreng di Kampung Koto Kelurahan Ampang, Pondok Indah Balai Baru Kelurahan Gunung Sariak dan Rimbo Data Kelurahan Koto Lalang Padang Sumatera Barat. Peningkatan penghasilan pengelola usaha bawang goreng membawa pengaruh baik terhadap pemasukan pekerja bawang goreng. Jenis penelitian adalah kualitatif. Informan pada penelitian ini adalah para pengelola dan pekerja bawang goreng yang ada di Kampung Koto Kelurahan Ampang, Pondok Indah Balai Baru Kelurahan Gunung Sariak dan Rimbo Data Kelurahan Koto Lalang Padang Sumatera Barat.
Informan dalam penelitian ini diambil secara purposive sampling. Informan dalam penelitian ini berjumlah 23 orang, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa
observasi,wawancara dan dokumentasi, teknik keabsahan data yaitu trianggulasi data.
Hasil penelitian ini menemukan : 1). Modal yang kurang memadai dimana modal tersebut hanya menggunakan modal sendiri 2). Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi bawang goreng ini sangat gampang di dapatkan ke agen seperti minyak goreng, tepung beras dan tapioka 3).
Produksi bawang goreng ini belum menggunakan mesin 4). Pendapatan usaha bawang goreng di Kota Padang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari 5). Pemasaran usaha bawang goreng Kota Padang pada umumnya dengan cara memasarkannya secara lokal (sekitar padang), selain itu juga pemasaran dilakukan dengan menerima pesanan dari pelanggan.
Kata kunci : modal, bahan baku, produksi
1
BUSINESS PROFILE ONIONS COOKING IN PADANG SUMATERA BARAT
By :
Orina Dilla Akmal *Yuherman**Loli Setriani**
*) Student of Geography Education Department of STKIP PGRI SUMBAR
**) Lecturer at Goegraphy Education Department of STKIP PGRI SUMBAR
ABSTRACT
This research is motivated by the maker of fried onions in Kampung Koto Kelurahan Ampang, Pondok Indah Balai Baru Kelurahan Gunung Sariak, Rimbo Data Kelurahan Koto Lalang Padang Sumatera Barat. Increased income fried onion business manager a good effect on the income of workers with fried onions. This type of research is qualitative. Informants in this study is that the managers and workers of fried onions in Koto village Kampung Ampang, cottage Indah New Hall Village Mount Sarik and Rimbo Data Koto Village West Sumatra Padang Lalang.
Informants in this study were taken by purposive sampling. Informants in this study amounted to 23 people, data collection techniques used in this research is a form of observations, interviews and documentation, technical validity of the data is data triangulation. The results of this study found: 1). Inadequate capital where capital is only using its own capital, 2). The raw material used to produce fried onions is very easy in getting to agents such as cooking oil, rice flour and tapioca, 3). Fried onion production is not using the machine, 4). The revenue of the fried onions in Padang can meet the daily needs, 5). Marketing efforts fried onions Padang in general with how to market it locally (around the field), while also marketing is done by accepting orders from customers.
Keywords: capital, materials, production
2
PENDAHULUAN
Sektor usaha industri merupakan sektor utama dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini sebagai penyumbang terbesar dalam pembentukan PBD Indonesia selama sepuluh tahun terakhir.
Sebagai gambaran, pada tahun 2009 peran sektor industri pengolahan mencapai 26,4%
komponen pembentukan PDB. Sedangkan peranan sektor pertanian terhadap PDB Indonesia tahun 2009 tumbuh dari 14,5%
menjadi 15,3% sehingga sektor pertanian berada pada ranking kedua yang memiliki kontribusi terhadap PDB setelah sektor industri pengolahan. Melihat sumbangan sektor industri yang tidk kecil dalam pembentukan PDB maka pemerintah memberi perhatian dan berusaha meningkatkan kualitas hasil industri. Selain hal itu percepatan munculnya industri baru diharapkan dapat memunculkan usaha- usaha baru untuk mengatasi pengangguran yang merupakan masalah dasar dalam ketenagakerjaan di Indonesia. Sebagaimana telah diketahui bahwa bila tingkat pengangguran tinggi maka daya beli masyarakat rendah, keadaan ini akan menghambat pembangunan di berbagai bidang Banowati (2014 : 172-173).
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah bab 1 pasal 1 Ketentuan umum: Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana di atur dalam undang- undang ini. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang- undang ini. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan
jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang- undang ini. Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.
Dunia usaha adalah usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah dan usaha besar yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia dan berdomisili di Indonesia (Zamira : 2013).
Usaha adalah unit kegiatan ekonomi yang bertujuan menghasilkan barang atau jasa untuk dijual atau ditukar dengan barang lain dan ada seseorang atau lebih yang bertanggung jawab dan punya kewenangan untuk mengelola pemasaran dan termasuk unit- unit penunjang atau unit- unit pembantu yang berlokasi terpisah dari kantor induknya. Jadi usaha dapat berupa perusahaan tunggal, kantor pusat atau induk, kantor cabang atau perwakilan, maupun berupa pabrik, atau unit- unit penunjang, unit- unit pembantu seperti:
gudang, kantor tempat melakukan aktivitas perusahaan lainnya yang berlokasi terpisah dari induknya dan fasilitas gudang milik perusahaan, atau fasilitas perusahaan lainnya (Safitri : 2014). Salah satu usaha kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa yang berpotensial adalah usaha bawang goreng, hal ini dapat peneliti lihat di daerah Kota Padang Sumatera Barat.
Produksi bawang goreng merupakan salah satu makanan yang banyak diminati oleh para konsumen, bawang goreng umumnya digunakan sebagai campuran makanan dan cemilan.
Usaha bawang goreng Di Kota Padang saat ini mengalami peningkatan pemesanan namun dikarenakan harga bawang merah mengalami kenaikan bawang goreng di kota padang ikut mengalami kenaikan dan penjul kios dipasaran lebih banyak beralih menjual bawang goreng cina yang lebih murah.
Bawang goreng adalah makanan yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat dan para pedagang makanan sedangkan yang memproduksinya masih jarang, usaha bawang goreng memiliki peranan yang
sangat besar didalam usaha pemerataan kesempatan kerja, kesempatan usaha dan peningkatan pendapatan.
Pendapatan pengelola usaha bawang goreng di kota padang ini tidak tentuan tergantung pesanan dan harga bawangnya, sedangkan harga bawang goreng yang dijual oleh pengelola bawang goreng seharga 36.000,-/kg ke kios-kios di Pasar Raya Padang dan dipasar nantinya akan dijual kembali seharga 40.000,-/kg.
Produksi usaha bawang goreng di Kota Padang ini ada yang memproduksi setiap hari senin-sabtu dan ada juga memproduksi tergantung pesanan atau stok, bahan baku yang digunakan dalam produksi usaha bawang goreng ini diantaranya adalah bawang merah, minyak goreng, tepung dan air dan garam. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti kepada pengelola usaha bawang goreng di Kota Padang bahwa terdapat beberapa permasalahan terkait dengan produksi bawang goreng, permasalahan tersebut di antaranya 1).
Modal, 2). Bahan baku, 3). Produksi, 4).
Pendapatan, dan 5). Pemasaran. Pendapatan pengelola bawang goreng sangat tergantung dari penjualan dan biaya yang dikeluarkan.
Penjualan yang dilakukan pengelola bawang goreng belum mampu mendatangkan keuntungan yang optimal karena harga bawang yang kini kian mahal, dan persaingan dengan bawang impor, dan disisi lain biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku semakin besar. Keberadaan ini sangat mempengaruhi efisiensi usaha bawang goreng, sehingga pengelolaan bawang goreng tidak berjalan dengan lancar. Posisi usaha bawang goreng di kota Padang kini kian terpuruk akibat masuknya bawang impor yang lebih murah dibanding bawang goreng di Padang Sumatera Barat, sehingga kegiatan usaha bawang goreng belum mampu memberikan keuntungan yang optimal.
Dilihat dari modalnya rata-rata pemilik usaha bawang goreng di Kota Padang menggunakan modal sendiri dan pinjaman dari keluarga sehingga kurang mencukupi, dilihat dari proses produksinya seperti pembelian bahan baku tersebut masih sulit terjangkau sehingga si pemilik mengalami kendala dan dalam proses pembuatannya si pekerja harus tahu apa-apa saja alat dan bahan yang akan digunakan
dalam pembuatan bawang goreng tersebut dan harus tau seberapa banyak takaran tepungnya, garamnya dan seterusnya, dan dilihat dari hasil produksinya belum bisa dibilang baik karena masih banyak dalam penggorengannya tepung yang terbuang karena kurang menempel ke bawangnya sehingga sebagian harus terbuang sia-sia sehingga si pemilik usaha mengalami kerugian.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul “Profil Usaha Bawang Goreng Di Kota Padang Sumatera Barat”.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini tergolong pada penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, presepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiahdan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah Moleong (2010 : 6).
Lokasi penelitian di lakukan di Kampung Koto Kelurahan Ampang Kecamatan Kuranji Kota Padang, Pondok Indah Balai Baru Kelurahan Gunung Sariak Kecamatan Kuranji Kota Padang dan Rimbo Data Kelurahan Koto Lalang Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang Sumatera Barat. Daerah ini dipilih karena terdapat usaha bawang goreng.
Informan penelitian ini adalah orang yang memberikan informasi baik tentang dirinya atau pun orang lain mengenai suatu kajian kepada peneliti.
Informasi dalam penelitian ini ditarik secara sengaja, yaitu individu yang dianggap dapat memberikan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian.
Informan dalam penelitian ini berjumlah 23 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa wawancara. Pendekatan yang digunakan terhadap informan adalah pendekatan informal melalui pergaulan sehari- hari, peneliti melihat dan bergaul dalam keseharian mereka dan lain sebagainya dengan tetap menjaga situasi yang dialami.
4
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif dengan jalur-jalur sebagai berikut : reduksi data, penyajian data, pengambilan keputusan dan verifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertama, modal sangat diperlukan untuk mendirikan usaha bawang goreng ini karena tanpa adanya modal yang memadai suatu usaha tidak akan berjalan dengan lancar. Secara sederhana, modal yang ada saat sekarang ini sudah mencukupi, tetapi karena adanya rencana ingin mengembangkan lebih besar lagi, modal yang tersedia masih terbatas sehingga pemilik usaha bawang goreng masih memerlukan modal untuk pengembangan selanjutnya.
Dalam Sudaryono (2015) Modal adalah segala bentuk kekayaan yang digunakan untuk menghasilkan kekayaan yang lebih besar lagi. Modal yang dibutuhkan untuk memulai suatu usaha meliputi :
a) Modal tetap (fixed capital) atau Modal Investasi Awal, adalah modal yang diperluukan untuk mengadakan aset tetap atau permanen di kantor, dan kebutuhan primer penunjang dapat dimulainya suatu usaha. Uang yang dipakai untuk modal tetap ini cenderung beku karena tidak dapat digunakan untuk tujuan lain. Jika kita membuka usaha rental komputer, modal tetap yang diperlukan sebagai investasi awal adalah modal untuk sewa ruangan, pembelian meja, kursi.
Pembiayaannya dapat dilakukan dengan pola sewa ruangan dan leasing alat-alat kantor terlebih dahulu sebelum kelak membeli bila dana sudah mencukupi.
b) Modal kerja (working capital) adalah modal yang dibutuhkan untuk pembelian atau pembuatan produk atau jasa. Modal kerja biasanya dipakai untuk membeli bahan baku untuk memenuhi permintaan konsumen. Contoh, jika usaha kita menjual roti, maka modal kerja dibutuhkan untuk membeli tepung, mentega, telur, minyak goreng, gula,
pengharum makanan. Tanpa modal kerja kita tidak akan dapat menggerakkan usaha. Modal kerja dapat diminimalkan melalui kerjasama distributor bahan baku, misalnya, dimana pembayaran dilakukan setiap hari, minggu, atau akhir bulan.
c) Modal Opersional (Operational ca;pital) adalah modal rutin yang harus dikeluarkan setiap bulan untuk mendanai usaha. Contoh, upah atau gaji pegawai, biaya listrik, air, dan telepon. Agar modal operasional tidak terlalu besar, pada tahap awal sebaiknya jumlah pegawai jangan terlalu banyak. Listrik perlu diminimalkan atau dimatikan setelah jam kerja.
Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa modal yang dimiliki oleh pengusaha sangat mempengaruhi usaha itu sendiri, jika modal yang dimiliki pengusaha rendah maka penghasilan yang didapat oleh pungusaha kecil, tapi jika modal yang dimiliki pengusaha besar maka usaha tersebut akan lebih berkembang dari sebelumnya. Modal yang dimiliki oleh pengusaha yaitu modal sendiri adanya, jika pun ada bantuan yaitu bantuan pinjaman dari keluarga kalau bantuan dari pemerintah sendiri belum ada.
Kedua, bahan baku yang digunakan untuk memproduksi bawang goreng ini dimana bawangnya di pesan dulu ke gudangnya baru dikupas kulitnya, untuk minyak, tepung dan garamnya dipesan dulu di pasar baru di antar ke tempat usaha bawang goreng.
Mardianita (2012) bahan baku adalah suatu barang yang akan diproses sehingga menjadi suatu barang tertentu, bahan baku merupakan bahan utama yang digunakan untuk memproduksi barang jadi dan biayanya dapat ditelusuri pada barang jadi yang bersangkutan. Bahan baku merupakan bahan yang membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan dari produk jadi dan merupakan biaya utama dalam proses pembuatan produk, bahan baku merupakan dasar yang sangat penting bagi perusahaan. Bisa dibayangkan jika dalam perusahaan tidak tersedia bahan baku bisa dipastikan kegiatan produksi akan terhenti, sebaliknya jika persediaan bahan baku terlalu banyak bukan berarti menguntungkan bagi perusahaan sebab akan semakin
bertambah biaya-biaya persediaan yang harus ditanggung perusahaan.
Dapat disimpulkan disini bahan baku adalah suatu barang yang akan diproses sehingga menjadi suatu barang tertentu bahan baku yang digunakan yaitu bahan utamanya bawang merah, tepung beras, tepung tapioka, minyak goreng, air putih dan garam untuk kualitas bawang yang bagus digunakan oleh pemilik adalah bawang alahan panjang kendala yang didapat disini yaitu jika bawang merah naik maka bawang merah susah dicari.
Ketiga, produksi bawang goreng ini memerlukan keterampilan yang tinggi utuk mengaduk bawang merah tersebut dengan tepung harus diperhatikan kalau tidak hasil bawang gorengnya tidak terlihat bagus dan tidak gurih.
(Supardan 2011) Produksi dapat diartikan secara luas atau sempit. Dalam pengertian luas, produksi adalah segala usaha untuk menambah atau mempertinggi nilai atau faedah dari sesuatu barang.
Sedangkan dalam arti sempit, produksi adalah segala usaha dan aktivitas untuk menciptakan suatu barang atau mengubah bentuk suatu barang menjadi barang lain.
Suatu aktivitas produksi tidak akan berjalan tanpa melalui proses produksi. Sebab sesuatu produksi tidaklah terjadi dengan tiba- tiba, melainkan melalui tahapan suatu proses yang cukup panjang . proses produksi adalah suatu proses atau kegiatan untuk memperoleh alat- alat pemuas kebutuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi, tujuan pokok dari produksi adalah untuk konsumsi. Bila jarak produsen dengan konsumen berjauhan maka diperlukan adanya usaha-usaha untuk menyampaikannya kepada konsumen.
Usaha-usaha untuk menyampaikan barang- barang dari produsen ke konsumen tersebut dinamakan proses”distribusi”.
Terdapat enam macam proses produksi, yakni ekstraktif, fabrikasi, analitik, sintetik, perakitan dan penciptaan.
1) Proses Ekstratif yaitu suatu proses produksi yang mengambil bahan- bahannya langsung dari alam, proses ini terdapat pada industri produksi dasar.
Contoh : penambangan batu bara, bijih besi, pengeboran minyak.
2) Proses Febrikasi yaitu suatu proses pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi dalam bentuk lain.
Contoh : proses pembuatan pakaian, sepatu, jenis mebel tertentu.
3) Proses analitik yaitu pemisahan dari suatu bahan menjadi beberapa macam barang yang hampir menyerupai bentuk atau jenis aslinya.
Contoh : minyak bumi bisa menjadi bensin, solar.
4) Proses sintetik yaitu pengkombinasian beberapa bahan ke dalam satu bentuk produk dimana produk akhir berbeda dengan aslinya karena ada perubahan fisik/ kimia.
Contoh : proses pembuatan obat.
5) Proses perakitan yaitu menggabungkan komponen – komponen menjadi produk akhir dimana produk akhir tersebut saling berhubungan.
Contoh : perusahaan televisi, industri mobil.
6) Proses penciptaan jasa – jasa Administrasi.
Contoh : lembaga konsultasi dalam bidang administrasi keuangan.
Dapat disimpulkan disini produksi adalah segala usaha dan aktivitas untuk menciptakan suatu barang atau mengubah bentuk suatu barang menjadi barang lain yang bernilai tinggi, cara memproduksi bawang goreng ini dimana bawang merah yang telah diiris nantinya dicampur dengan tepung beras dan tepung ubi setelah dicampur dan diaduk rata masukkan air garam ke dalam minyak penggorengan sebanyak satu sendok teh baru masukkan yang telah diaduk dengan tepung.
Keempat, pendapatan yang dihasilkan oleh pengusaha bawang goreng ini bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka disamping usaha bawang goreng mereka juga ada berpenghasilan berdagang di kios pasar yang mereka tempati, jadi tingkat kesejahteraan perekonomian usaha bawang goreng membantu memenuhi kehidupan mereka. Penghasilan yang mereka dapatkan dari hasil penjualan bawang goreng ini rata-rata Rp. 200.000 – Rp. 500.000,-per hari.
Menurut Niswonger dalam Septiana (2014 : 29) pendapatan adalah jumlah yang ditagih kepada pelanggan atas barang ataupun jasa yang diberikan kepada mereka.
6
Pendapatan atau revenue merupakan kenaikan kotor atau gross dalam modal pemilik yang dihasilkan dari penjual barang dagangan, pelaksanaan jasa kepada pelanggan atau klien, penyewa harta, peminjam uang, dan semua kegiatan usaha serta yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan.
Pendapatan adalah gambaran yang lebih tepat tentang posisi ekonomi keluarga yang merupakan jumlah keseluruhan pendapatan, dapat disimpulkan disini pendapatan pengelola bawang goreng kurang lebih Rp. 400.000 – Rp. 500.000,- /hari, untuk pendapatan pengupas bawang merah Rp. 30.000 – Rp. 75.000,-/hari, untuk pekerja pendapatan perharinya Rp.
75.000 – Rp. 100.000.
Kelima, pemasaran usaha bawang goreng di Kota Padang ini belum mampu memasarkan keluar daerah Padang, hal ini bisa dilihat dai pengelola masih belum mampu memasarkan kedaerah luar dari kota padang dan pemasaran bawang goreng ini masih bersifat lokal yaitu Pasar Raya Padang dan Pasar Tarandam Kota Padang.
Menurut Nilasari (2006 : 125).
Pemasaran adalah satu pihak tertentu yang mencari satu atau lebih calon pembeli yang akan terlibat dalam pertukaran nilai.
Pemasaran akan berupaya agar pihak lainnya atau pasar memberikan tanggapan terhadap upayanya. Dalam konteks pemasaran, pasar adalah pihak yang mempunyai kebutuhan dan keinginan dan memiliki daya beli akan produk tertentu, Pemasaran dapat diterapkan lebih dari pada barang dan jasa. Segala sesuatu dapat dipasarkan, termasuk ide, kejadian, organisasi, tempat dan kepribadian. Pemasar tidak hanya doilakukan oleh individu tetapi organisasi pun perlu melakukan proses pemasaran, baik organisasi profit maupun non profit .
Pemasaran adalah pendistribusian barang secara langsung atau melalui perantara saluran distribusi dapat berupa pedagang besar, agen, industri dan perantara pengecer. Proses pemasaran dilakukan hanya disekitar pasar raya padang dan pasar tarandam.
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN
1. Modal produksi usaha bawang goreng dari modal hasil sendiri kalaupun ada mendapat pinjaman dari keluarga tanpa adanya bantuan dari pemerintah sehingga pengelola mengalami kesulitan dalam proses produksi usaha bawang goreng.
2. Bahan baku yang digunaka untuk memproduksi bawang goreng ini bawang merahnya di pesan lansun ke gudangnya dan bahan baku yang lain di pesan di pasar.
3. Pendapatan usaha bawang goreng di Kota Padang sekitar Rp. 200.000 – Rp.
500.000,-per harinya. Karena banyaknya kebutuhan ini hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
4. Pemasaran hasil usaha produksi bawang goreng di Kota Padang adalah dengan cara memasarkan hasil usaha produksi secara lokal yan dipasakan di pasar raya padan, selain itu juga pemasaran dilakukan dengan menerima pesanan dari pelanggan.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang ditemukan diatas maka berikut ini ditemukan saran sebagai berikut :
1. Diharapkan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan usaha-usaha kecil dan menengah agar usaha ini lebih berkembang lagi dari sebelumnya dengan cara memberikan modal berupa uang dan pealatan usaha produksi bawang goreng yang lebih modern yang bisa meningkakan perekonomian masyaraka.
2. Diharapkan kepada pengelola usaha bawang goreng untuk lebih banyak lagi mempoduksi bawang goreng ini supaya memberikan peningkatan pendapatan yang lebih baik.
3. Diharapkan kepada pengelola pemasaran bawang goreng ini tidak hanya di sekitar daerah padang saja tapi bisa dipasarkan ke daerah yang lain.
4. Diharapkan kepada pengelola usaha bawang goreng agar bisa mengusulkan bantuan dana dari pemerintah berupa alat produksi atau bantuan berupa uang, supaya bisa untuk penambahan modal
dalam pembuatan bawang goreng tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif.
Jakarta : Raja Grafindo persada.
Anggreyni, Dara. 2012. “Profil Industri Rumah Tangga Keripik Singkong Sebagai Pengembangan Ekonomi Keluarga Di Kelurahan Jalan Kereta Api Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman”. Skripsi.
STKIP PGRI Sumatera Barat.
Banowati, Eva. 2014. Geografi Indonesia.
Yogyakarta : Ombak Dua
Fitriani, Riri. 2013. “Profil Pengrajin Anyaman Tikar Pandan di Korong Muaro Nagari Kuraitaji Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman”. Skripsi.
STKIP PGRI Sumatera Barat.
Fuad, M. 2003. Pengantar Bisnis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif Teori Dan Praktik.
Jakarta : Bumi Aksara.
Mardianti, Liza. 2012. “Industri Kerajinan Cendramata Sebagai Aset Pariwisat Di Kota Sawahlunto”.
Skripsi. STKIP PGRI Sumatera Barat.
Moleong, Lexy J. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nilasari, irma. 2006. Pengantar Bisnis.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
8