PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
- Penelitian Relevan
- Pragmatik
- Ragam Bahasa
- Tindak Tutur
- Prinsip Kesantunan Berbahasa
Tampilan ragam bahasa kasar yang diungkapkan di lingkungan Pasar Sentral Kabupaten Pinrang adalah pada ungkapan ‘jelek sekali’, ‘tidak enak’, ‘mie bosan’, ‘bangngo’. Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan antara penutur, lawan bicara, orang yang dibicarakan, dan menurut medium penutur (Roisah: 2014). Undak-usuk adalah ragam bahasa yang penggunaannya didasarkan pada tingkatan kelas atau status sosial lawan bicaranya.
Variasi atau ragam bahasa adalah variasi suatu bahasa menurut kegunaannya yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan antara penutur, lawan bicara, lawan bicaranya, dan menurut medium penuturnya. Menurut Jelita (2013), perbedaan bahasa juga dapat dibedakan menurut media tuturnya, yaitu menurut bahasa lisan dan bahasa tulisan. A. Oleh karena itu, bahasa ditinjau dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun diwujudkan dalam bentuk tulis, ragam bahasa demikian tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan menggunakan tulisan huruf sebagai unsur dasarnya. Sedangkan tindak tutur tidak langsung nonverbal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan cara kalimat dan makna yang tidak sesuai dengan maksud.
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Definisi Operasional
- Teknik Analisis Data
Di bawah ini adalah analisis yang dilakukan peneliti berdasarkan tindak tutur langsung yang dituturkan oleh pengemudi pete-pete di kawasan Terminal Mallengkeri. Percakapan antara dua orang pengemudi pete-pete dapat dikategorikan sebagai kepatuhan (sopan) dan pelanggaran maksim simpati (yang tidak terlihat). Pada hakekatnya tindak tutur pengemudi pete-pete di lingkungan Terminal Mallengkeri tidak berpengaruh terhadap aktivitas pengemudi pete-pete.
Hal ini berdasarkan pernyataan yang disampaikan sendiri oleh pengelola pete-pete saat wawancara. Perkataan pengemudi pete-pete tersebut tidak menyinggung karena sesuai dengan konteks situasi di kawasan Terminal Mallengkeri.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Analisis Kesantunan Berbahasa Sopir Pete-Pete
Tuturan yang diucapkan oleh Pete-Pete pengemudi A dalam percakapan tersebut terkesan sembrono karena menimbulkan iritasi fisik, sehingga tuturan tersebut dapat dikategorikan tuturan tidak sopan karena melanggar asas kesantunan dengan maksim kebijaksanaan, sedangkan tuturan pengemudi B adalah sebaliknya. , karena pengemudi merespon dengan baik dengan tidak menanggapi ejekan lawan bicaranya, sehingga dapat dikategorikan tuturan santun atau memenuhi Maksim Hikmah. Tuturan yang disampaikan oleh Pete-Pete pengemudi B dikategorikan tidak sopan karena yang berbicara kepadanya dapat tersakiti dengan ucapan tersebut, sehingga tuturan pengemudi B dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap asas kesantunan dengan Maksim Hikmah. Bentuk tindak tutur tersebut dilakukan oleh salah satu dari lima lima pengemudi jalur Mallengkeri-Veteran yang hendak berangkat.
Tindak tutur ini dapat dikategorikan sebagai bentuk tindak tutur kasar karena sang sopir berusaha memaksa seorang perempuan yang berada di area terminal untuk menaiki pete-pete yang dikendarainya. Wanita tersebut menolak, namun pengemudi Pete-Pete berusaha mengajaknya dengan mengucapkan kalimat “Hip Mickey. Ucapan yang diucapkan oleh pengemudi Pete-Pete terkesan dipaksakan, sehingga ucapan tersebut dikategorikan sebagai ucapan kasar karena melanggar prinsip kesantunan dengan Maksim Penerimaan.
Ungkapan tersebut dilontarkan karena pengemudi tidak mendapatkan penumpang sebanyak yang diharapkan. Tuturan pengemudi Pete-Pete terdengar kasar karena terkesan dipaksakan, sehingga percakapan tersebut dikategorikan menjadi tuturan sopan (oleh Pengemudi A) dan ucapan kasar (oleh Pengemudi B). Pasalnya, pengemudi Pete-Pete A mengungkapkan keprihatinannya dengan melontarkan kalimat tentang situasi yang dialami pengemudi Pete-Pete B saat ia absen sehari sebelumnya. Perkataan pengemudi Pete-Pete terdengar sopan dan tidak sopan karena ada rasa simpati di awal pembicaraan. namun tidak terdapat pada akhir pembicaraan, sehingga pembicaraan ini dapat dibedakan menjadi kepatuhan dan pelanggaran asas kesantunan dengan Maksim Simpati.
Percakapan tersebut merupakan salah satu perbincangan sesama pengemudi Pete-Pete di kawasan Terminal Mallengkeri saat kedua pengemudi tersebut sedang mencari penumpang. Percakapan ini juga merupakan contoh percakapan yang tidak sopan karena tidak ada percakapan yang wajar antara pengemudi pete-pete dengan penumpang yang turun di Terminal Mallengkeri. Percakapan ini dapat dikategorikan pelanggaran (kasar) maksim kerendahan hati karena sopir Pete-Pete mengucapkan “Kopinnu rong sicangkiri” yang artinya “Kamu minum kopi dulu.”
Tuturan yang diucapkan oleh pengemudi pete-pete kurang santun, karena tuturan tersebut dapat dikategorikan pelanggaran asas kesantunan dengan Maksim Kerendahan Hati. Berdasarkan tabel ringkasan dapat disimpulkan bahwa tingkat kesantunan berbahasa pengemudi pete-pete masih rendah. Pemimpin pete-pete hanya mematuhi empat maksim kesantunan, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan hati, dan maksim simpati.
Analisis Pengaruh Kesantunan Berbahasa Sopir Pete-Pete
Ucapan yang tidak sesuai etika dianggap sebagai bentuk kepedulian dan bentuk kesenangan oleh pengemudi. Tidak ada yang mengatakan hal-hal buruk satu sama lain.” wawancara 6 Oktober 2016) Pernyataan SP didukung oleh tanggapan yang disampaikan oleh U (umur 43). Keempat pernyataan informan di atas dapat membuktikan bahwa keributan atau perselisihan disebabkan oleh cara Pete- Pete-sopir yang dibicarakan tidak mempunyai pengaruh terhadap aktivitas atau persahabatan pengemudi Pete-Pete itu sendiri.
Meski banyak percakapan di lingkungan Terminal Mallengkeri yang tidak menaati aturan kesopanan, namun pengemudi Pete-Pete tetap mengedepankan etika jika berbicara dengan pengemudi yang lebih tua. Pernyataan di atas tidak hanya didukung oleh hasil wawancara dengan pengemudi Pete-Pete saja, namun juga diperkuat dengan pernyataan yang diperoleh dari data No. 1 yang disajikan pada bagian sebelumnya. Percakapan ini menunjukkan bahwa memang ada perbedaan cara bicara pengemudi Piet-Piet muda dengan pengemudi Piet-Piet yang lebih tua.
Ada yang berkumpul di sana di stand, ada juga yang berkumpul di tengah (menunjuk arah). Tapi biasanya pengemudi Cendraw yang semuanya veteran. argumen) yang terjadi di lingkungan terminal. Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sopan santun berbahasa pengemudi pete-pete di lingkungan terminal Mallengkeri tidak mempengaruhi aktivitas pengemudi kendaraan pete-pete.
Perselisihan atau adu mulut di kawasan Terminal Mallengkeri memang biasa terjadi, namun hal tersebut tidak didasari oleh cara para pengemudi berbicara satu sama lain. Oleh karena itu, peneliti tidak mengkategorikan hal tersebut berdasarkan pengaruh tindak tutur pengemudi pete-pete terhadap aktivitas pengemudi pete-pete di lingkungan Terminal Mallengkeri, termasuk persahabatan antar pengemudi.
Pembahasan
- Kesantunan Berbahasa Sopir Pete-Pete
- Pengaruh Kesantunan Berbahasa Sopir Pete-Pete
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, terdapat hubungan yang sangat erat antara kesantunan berbahasa pengemudi pete-pete dengan lingkungan terminal. Pada dasarnya ungkapan seperti itu dianggap wajar oleh para pengemudi pete-pete karena merupakan bahasa sehari-hari di kawasan Terminal Mallengkeri. Pernyataan-pernyataan yang masuk dalam kategori tidak sopan merupakan pernyataan-pernyataan yang lazim diucapkan oleh para pengelola pete-pete.
Oleh karena itu keharmonisan antar pengemudi di kawasan Terminal Mallengkeri tetap terjaga, dalam artian tidak terjadi kerusuhan atau perkelahian yang terjadi karena perkataan yang diucapkan oleh pengemudi pete-pete tersebut. Di sini juga banyak orang luar yang menjadi tukang pete-pete, Pak.
SIMPULAN DAN SARAN
Saran
Wawancara dilakukan untuk memperoleh pemahaman mengenai perwujudan kesantunan berbahasa pengemudi angkutan umum yang dikenal dengan istilah pete-pete. Sumber atau informan yang memberikan informasi adalah orang-orang yang berhubungan dengan permasalahan penelitian dalam penelitian kualitatif, yaitu sopir pete-pete. Pete-Pete merah adalah atau tadinya Pete-Pete biru yang berjalan di daerah sekitar Makassar.