Salah satu aspek utama dalam pemilihan lokasi rumah susun adalah kesesuaiannya dengan rencana tata ruang kota atau kawasan. Sehingga peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Rusunawa di Bawah MBR” guna mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat dalam menentukan lokasi Rusunawa di bawah MBR. Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor apa saja yang paling mempengaruhi pemilihan lokasi rumah susun menurut MBR.
Dengan menggunakan AHP, penelitian ini dapat menentukan tingkat prioritas faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi perumahan menurut MBR (Akmalia & Barlan, 2020). Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor apa saja yang paling mempengaruhi pemilihan lokasi rumah susun menurut MBR. Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi rumah susun menurut MBR.
Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan akademis yang signifikan dalam memahami dinamika pilihan lokasi rumah susun bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan lokasi apartemen oleh MBR dapat membuka wawasan baru dalam memahami preferensi dan kebutuhan masyarakat sehubungan dengan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah. Penelitian bertajuk “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Rusunawa Menurut MBR” ini akan memerinci faktor-faktor yang menjadi pertimbangan paling penting bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR) dalam pemilihan lokasi Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa).
Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi Rusunawa oleh MBR serta dapat membuka wawasan baru dalam perencanaan kota dan pengembangan kebijakan perumahan yang lebih responsif dan inklusif.
Peluang Kerja
Kelengkapan Prasarana
Estetika
Fasilitas Pelayanan
Biaya
Lokasi Rusunawa
Berikut ini akan dijelaskan penggunaan lahan secara umum di perdesaan dan perkotaan. Daerah pedesaan sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan dan pertanian, seperti bertani, perkebunan, peternakan dan perikanan. Sesuai dengan karakteristik kegiatannya, penggunaan lahan di perdesaan cenderung melibatkan satuan lahan yang luas dengan intensitas penggunaan yang rendah, artinya cenderung merupakan lahan yang belum dikembangkan.
Desa adalah suatu kawasan yang digunakan sebagai tempat tinggal tetap masyarakat, yang meliputi bangunan dan lahan pertanian. Industri adalah suatu kawasan yang digunakan untuk kegiatan perekonomian dengan mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Pertambangan merupakan suatu kawasan yang dimanfaatkan untuk pengambilan bahan pertambangan, baik terbuka maupun swasta.
Sawah adalah kawasan pertanian yang terdiri dari petak-petak tanggul dan digenangi air secara berkala, ditanami padi dan dapat juga ditumpangsarikan dengan tanaman palawija, tebu, tembakau, dan palawija. Pertanian lahan kering musiman merupakan suatu lahan pertanian yang tidak pernah diairi air dan sebagian besar ditanami tanaman berumur pendek. Air tanah adalah wilayah daratan yang tergenang air tawar secara permanen, baik secara buatan maupun alami.
Penggunaannya memiliki intensitas yang tinggi karena jumlah penduduk di daerah pedesaan yang lebih besar. Dengan demikian, di pasar investasi tingkat permintaan lahan juga tinggi dan nilai guna lahan di perkotaan cenderung lebih tinggi pula. Hal ini sangat berbeda dengan daerah perdesaan yang memungkinkan lahan yang luas mempunyai fungsi yang sama sehingga cocok untuk kegiatan budidaya pertanian.
Secara umum klasifikasi penggunaan lahan di perkotaan dapat dibedakan menjadi 7 jenis (Sadyohutomo, 2013) antara lain. Industri merupakan suatu bidang kegiatan pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Perairan, adalah suatu kawasan genangan atau aliran air yang bersifat permanen atau musiman yang terjadi secara buatan dan alami.
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
Pemerintah dan berbagai lembaga non-pemerintah kerap berupaya memberikan solusi perumahan yang sesuai dengan kondisi perekonomian MBR. Salah satu bentuk perumahan yang dirintis MBR adalah Rumah Susun Sewa Sederhana (rusunawa) yang dirancang untuk memberikan alternatif tempat tinggal yang ekonomis dan efisien. Di sebagian besar negara, MBR juga seringkali memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan dan pendidikan.
Oleh karena itu, program pemerintah atau inisiatif swasta yang mengarah pada layanan kesehatan yang terjangkau dan inklusif menjadi sangat penting. Sementara itu, MBR di bidang pendidikan mungkin menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan tinggi atau keterampilan yang dapat meningkatkan mobilitas sosial mereka. Program pendidikan inklusif dan bantuan keuangan merupakan kunci untuk memastikan bahwa pendidikan berkualitas dapat diakses oleh MBR.
Dalam konteks ekonomi, MBR juga sering terlibat dalam sektor ketenagakerjaan informal, yang melibatkan pekerjaan yang tidak stabil dan tidak adanya jaminan sosial. Oleh karena itu, upaya penciptaan lapangan kerja yang stabil, pelatihan keterampilan, dan peningkatan akses terhadap pekerjaan formal menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi MBR. Keterlibatan mereka dalam proses kebijakan dapat memastikan bahwa kebijakan yang dibuat lebih efektif memahami dan memenuhi kebutuhan dan aspirasi MBR.
Pemberdayaan MBR mencakup penyediaan akses yang lebih besar terhadap sumber daya, informasi, dan peluang untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat. Dalam konteks global yang berubah dengan cepat, perhatian berkelanjutan terhadap MBR sangat penting untuk memastikan pembangunan berkelanjutan dan inklusif dengan memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang terabaikan atau terpinggirkan.
Penelitian Terdahulu
Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Variabel Penelitian
Metode Pengumpulan Data
Masing-masing indikator disesuaikan dengan menggunakan kalimat tanya agar respon yang diberikan sesuai (dari intensitas sangat setuju hingga jawaban sangat tidak setuju). Data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, peneliti dapat mencari sumber data tersebut melalui sumber data lain yang berkaitan dengan data yang ingin dicarinya (Sugiyono, 2016). Sumber data sekunder berupa dokumen resmi yang berkaitan dengan fasilitas penelitian di tingkat nasional, data dan literatur pendukung, buku perpustakaan, dokumentasi, arsip dan informasi lain yang berkaitan dengan masalah penelitian, yang digunakan sebagai pelengkap dan pendukung data primer.
Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi
Sampel
Berdasarkan penelitian terkait faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi hunian Rusunawa, jumlah penduduk pada penelitian ini berjumlah 97.106 jiwa, sehingga digunakan persentase tunjangan sebesar 10%, dan hasil perhitungannya dapat dibulatkan untuk mencapai konsistensi. Berdasarkan perhitungan di atas, maka sampel responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi apartemen di.
Teknik Analisis Data
RUMAH HUNIAN TERJANGKAU OLEH USAHA DAN PENGEMBANG SWASTA DI DKI JAKARTA (STUDI KASUS: SAMESTA SENTRALAND CENGKARENG DAN GREEN PRAMUKA CITY). ANALISIS PILIHAN PERLUASAN SEDERHANA BAGI MASYARAKAT BERpenghasilan Rendah MENGGUNAKAN METODE AHP (Studi Kasus Pada Perumahan Di Kecamatan Sematang Borang-Sako Palembang). Implementasi Kebijakan Program Perumahan Subsidi Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik.