• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL ALFON SARAGIH FIKS kali (Autosaved) (1)[1]

N/A
N/A
Jhonatan Sirait

Academic year: 2025

Membagikan "PROPOSAL ALFON SARAGIH FIKS kali (Autosaved) (1)[1]"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENINGKATAN LAJU INFILTRASI ULTISOL SERTA HASIL JAGUNG AKIBAT PEMBERIAN KOMBINASI KOMPOS

LAMTORO DAN BIOCHAR TEMPURUNG KELAPA

SKRIPSI

Alpon S Saragih D1A018138

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2023

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi dengan judul “peningkatan laju infiltrasi ultisol serta hasil jagung akibat pemberian kombinasi kompos lamtoro dan biochar tempurung kelapa” dapat diselesaikan dengan baik

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Ir.

Zurhalena, M.P. dan bapak Yudhi Achnopha, S.P., M.Si. sebagai pembimbing I dan II atas bimbingan, kritik dan saran telah diberikan selama melaksanakan bimbingan proposal skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada pihak yang telah membantu dalam penulisan proposal skripsi ini.

Menyadari keterbatasan ilmu yang penulis miliki, maka penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun semi kesempurnaan proposal skripsi ini. Atas perhatiannya, penulis mengucapkan terima kasih.

Jambi, Maret 2023

Penulis

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI...ii

DAFTAR LAMPIRAN...iv

I. PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Tujuan Penelitian... 4

1.3 Manfaat Penelitian...5

1.4 Hipotesis... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA...6

2.1 Karakteristik Ultisol... 6

2.3 Peranan Kompos Sebagai Pembenah Sifat Fisik Tanah dan Tanaman...9

2.4 Peranan Biochar Sebagai Pembenah Sifat Fisik Tanah dan Tanaman...10

2.5 Tanaman Jagung...13

III. METODE PENELITIAN...15

3.1 Tempat dan Waktu...15

3.2 Alat dan Bahan...15

3.3 Rancangan Penelitian...15

3.4 Pelaksanaan Penelitian...16

3.4.1 Pengambilan Data Awal...16

3.4.2 Pembuatan Kompos Lamtoro...16

3.4.3 Pembuatan Biochar...17

3.4.4 Persiapan Lahan...17

3.4.5 Pemberian Perlakuan Kompos Lamtoro dan Biochar...17

3.4.6 Penanaman...17

3.4.7 Pemupukan... 18

3.4.8 Pemeliharaan...18

3.4.9 Panen...19

3.4.10 Pengambilan Data Akhir Tanah dan Tanaman...19

3.5 Variabel Pengamatan...19

3.5.1 Tanah... 19

3.5.2 Tanaman... 22

3.6 Analisis Data... 23

(5)

3.1 Diagram Alir Penelitian...23

4.1 . Sifat Fisika Tanah Sebelum Pemberian Perlakuan...25

4.2 Karakteristik Biokompos Lamtoro dan Biochar Tempurung Kelapa...26

a) Bobot Volume (BV) Tanah...31

b) Total Ruang Pori (TRP)...32

c) Kadar Air Lapang...34

V. KESIMPULAN DAN SARAN...42

5.2. Saran...42

DAFTAR PUSTAKA...43

LAMPIRAN...49

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1Denah Petak Percobaan...49

Lampiran 2. Tata Letak Tanaman Dalam Petakan...50

Lampiran 3.Pembuatan Kompos Lamtoro...51

Lampiran 4.Pembuatan Biochar...52

Lampiran 5.Perhitungan Dosis Kompos Lamtoro dan Biochar pada Petak Percobaan... 53

Lampiran 6.Perhitungan Dosis Pupuk Dasar pada Petak Percobaan...54

Lampiran 7.Deskripsi Jagung Hibrida Varietas BISI 1...55

Lampiran 8.Pengukuran Infiltrasi di Lapangan...56

Lampiran 9.Kriteria/Kelas Penilaian Beberapa Sifat Fisik Tanah...57

(7)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ultisol di Indonesia luas dan mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pertanian tanaman pangan asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang penyebarannya di beberapa pulau besar mencapai luas sekitar 45.794.000 ha atau 25% dari luas wilayah daratan Indonesia (Subagyo et al.

2004). Provinsi Jambi memiliki luas Ultisol mencapai 2.272.725 ha atau 42,53%

dari luas Provinsi Jambi (Badan Pertanahan Nasional Provinsi Jambi, 2011).

Dominasi tanah Ultisol di sebagian besar wilayah Indonesia menimbulkan masalah tersendiri dalam hal pencapaian produktivitas pertanian dan perkebunan yang optimal. Menurut Yulnafatmawita et al., (2014) bahwa Ultisol memiliki kandungan liat yang tinggi mencapai >70%. Prasetyo dan Suriadikarta (2006) juga mengatakan bahwa kandungan liat yang tinggi akan menyebabkan pori mikro lebih banyak dibanding pori makro sehingga aerase tanah terbatas dan daya resap air rendah sehingga akar sulit berkembang untuk mendapatkan oksigen dan elemen hara. Permasalahan utama pada Ultisol disamping kondisi perharaannya yang tergolong miskin juga sifat fisiknya yang kurang baik. Menurut Utomo (2008) sifat- sifat fisik dari Ultisol umumnya sebagai berikut, struktur tanah yang kurang mantap, infiltrasi dan permeabilitas lambat, aerasenya buruk, kandungan bahan organik rendah, porositas yang rendah sehingga tanah cenderung lebih padat dan bobot volume tanah pada lapisan bawah tergolong tinggi, agregat kurang stabil akibatnya bahaya erosi dapat meningkat.

Laju infiltrasi merupakan banyaknya jumlah air persatuan waktu yang masuk melalui permukaan tanah, dinyatakan dalam cm/jam. Laju infiltrasi pada Ultisol tergolong rendah berpotensi memperbesar terjadinya runoff dan erosi. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain tutupan lahan, jenis tanah dan kemiringan lereng. Beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi laju infiltrasi 2 adalah tekstur, bahan organik, kadar air, berat volume, total ruang pori, dan permeabilitas tanah. Tekstur pada Ultisol dicirikan oleh kandungan liat yang tinggi dan debu yang rendah, berat volume yang tinggi antara 1,3-1,5 g/cm3 , dan

(8)

permeabilitas lambat hingga sedang. Pada tanah bertekstur liat yang memiliki laju infiltrasi sangat lambat, ini dipengaruhi oleh ruang pori pada tanah apabila ruang pori dominan dengan pori kasar maka air dapat dengan mudah masuk ke dalam tanah dibandingkan dengan pori halus, disamping ruang pori juga dipengaruhi oleh bahan organic

Salah satu usaha memperbaiki infiltrasi di Ultisol adalah penambahan bahan organik ke dalam tanah. Semakin tinggi bahan organik pada tanah maka laju infiltrasi akan tinggi karena bahan organik membentuk dan memantapkan aggregat tanah. Salah satu cara penambahan bahan organik ke dalam tanah untuk memperbaiki infiltrasi di Ultisol yaitu melalui pupuk organik. Salah satu pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kompos. Kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses pelapukan residu tanaman atau limbah organik yang berfungsi dalam memperbaiki sifat fisik tanah seperti struktur tanah, aerasi dan kemampuan tanah menahan air (Bacthiar dan Ahmad, 2019). Kompos berperan sebagai soil conditioner dalam pembentukan agregat tanah yang menyebabkan tanah menjadi gembur, mudah diolah dan mempunyai pori-pori yang cukup untuk kandungan air dan udara sehingga menyediakan air dan udara yang cukup untuk pertumbuhan tanaman dan berbagai makluk hidup lainnya di dalam tanah (Alibasayah, 2016).

Salah satu tanaman yang bisa dijadikan kompos yaitu daun lamtoro yang diolah menjadi kompos lamtoro. Menurut Soerodjotanoso (1993) daun lamtoro mengandung N (3,84%) ; P (0,2%) ; K (2,06%) ; Ca (1,31%) ; dan Mg (0,33%).

Pemanfaatan dedaunan lamtorogung sebagai bahan baku pupuk kompos karena kandungan nitrogen yang tinggi. Pupuk organik yang berasal dari limbah lamtorogung terdiri atas 4,33% N, 0,28 % P, 2,6 % K, 1,44 % Ca dan 0,36 % Mg, ditambah lagi bentuk daun yang simetris kecil-kecil dalam jumlah banyak, dengan warna hijau muda, mempercepat proses penguraian bahan baku menjadi pupuk kompos (Koudoro, 1982 dalam Ichsan et al, 2001)

Pengaruh dari pemanfaatan bahan organik seperti kompos pada tanah di daerah tropis cenderung berlangsung singkat yaitu satu atau dua musim tanam saja karena di dalam tanah terjadi proses oksidasi/mineralisasi bahan organik berlangsung sangat cepat (Nita et al., 2015). Upaya yang dapat dilakukan untuk

(9)

mengatasi kondisi tersebut adalah melakukan penambahan bahan pembenah tanah yang mempunyai pengaruh jangka panjang dalam meningkatkan dan mempertahankan stabilitas C-organik tanah. Salah satu bahan yang memiliki sifat kemampuan seperti ini adalah Biochar (Sukartono dan Utomo, 2012).

Biochar lebih efektif menahan unsur hara untuk ketersediaannya bagi tanaman dibandng bahan organic lainnya. Biochar dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk memulihkan dan meningkatkan kualitas tanah terdegradasi atau lahan kritis. Keuntungan pemberian biochar sebagai media dalam memperbaiki sifat fisik Ultisol, yaitu karena arang mempunyai kemampuan dalam memperbaiki sirkulasi air dan udara di dalam tanah serta memberikan habitat yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Penggunaan Biochar berpengaruh nyata terhadap perbaikan sifat fisik tanah yaitu terhadap bulk density (BD), ruang pori total dan distribusi pori sehingga meningkatkan kemampuan tanah memegang air yang sangat bermafaat untuk efisiensi penggunaan air (Dariah et al., 2013; Nurida, 2014; Maftu’ah dan Nursyamsi, 2015). Hasil penelitian Citra (2019) dengan pemberian biochar tempurung kelapa dosis 10 ton/ha dapat meningkatkan agregat terbentuk (51,75% menjadi 71,48%) dibandingkan tanpa perlakuan (52,11%) serta meningkatkan kemantapan agregat dari 48,35% menjadi 73,65%. Biochar yang diaplikasikan ke tanah dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan porositas, menurunkan berat jenis dan meningkatkan agregasi serta retensi air (Baiamonte et al, 2015).

Hasil penelitian I Putu Wira Bisana, et al, (2015) menunjukkan bahwa penambahan perlakuan kombinasi biochar sekam padi 20 ton/ha, tanah liat 20 ton/ha, dan mulsa jerami padi 10 ton/ha terdapat peningkatan tertinggi terhadap nilai TRP yaitu sebesar 23,23%, kandungan bahan organik sebesar 2,78%, dan kadar air tanah sebesar 6%, dan penurunan nilai BV sebesar 0,47 g/cm3. Penurunan nilai laju infiltrasi tertinggi berada pada perlakuan kombinasi mulsa jerami padi, liat dan biochar sekam padi dengan nilai sebesar 506,6 mm/jam dibandingkan kontrol sebesar 994,7 mm/jam, namun masih dalam kriteria yang sama.

Menurut Endriani et al., (2013) pemberian biochar cangkang kelapa sawit mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman setelah 8 minggu setelah tanam (MST). Semakin tinggi takaran biochar yang diaplikasikan ke dalam tanah

(10)

menyebabkan pertumbuhan tanaman semakin baik pula. Pada pemberian biochar dengan dosis 2 ton ha-1 dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, biomassa tanaman dan hasil tanaman kedelai. Menurut Sukartono, (2012) tanaman jagung menunjukkan respon positif terhadap aplikasi biochar, hasil biji jagung rata-rata dalam tiga siklus musim tanam dengan takaran 15 ton ha-1 mencapai 5,54 ton/ha dan 5,51 ton ha-1 untuk perlakuan biochar tempurung kelapa dan biochar kotoran sapi, sedangkan pupuk kandang aplikasi setiap musim tanam 5,62 ton ha-1 aplikasi tunggal pupuk kandang 5,36 ton ha-1 dan kontrol mencapai 4,83 ton ha-1. Menurut Sudjana (2014) biochar sekam padi yang mengandung unsur silika telah memberikan berat biomassa tanaman jagung tertinggi yaitu 245,44 gram dan serapan N di daun tertinggi yaitu 13,57 mg pada setiap tanaman.

Jagung merupakan tanaman yang kaya karbohidrat selain padi dan jagung.

Total produksi jagung di Indonesia tahun 2015 mencapai 19.612.435,00 ton dengan luas panen 3.787.367,00 ha, sedangkan total produksi jagung di Jambi mencapai 51  712,00 dengan luas panen yaitu 8 486,00 ha (Badan Pusat Statistik,2016).

Pengaplikasian kompos dan biochar pada lahan ultisol diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan meningkatkan produksi tanaman jagung.

Tanaman jagung sebagai salah satu jenis tanaman yang pertumbuhannya memerlukan unsur hara yang cukup, sehingga ketersediaan unsur hara menjadi mutlak untuk diperhatikan. Kaitan dengan hal tersebut maka upaya penyediaan unsur hara diperlukan.

Berdasarkan permasalahan yang ada, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “PENINGKATAN LAJU INFILTRASI ULTISOL SERTA HASIL JAGUNG AKIBAT PEMBERIAN KOMBINASI KOMPOS LAMTORO DAN BIOCHAR TEMPURUNG KELAPA”.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh aplikasi kompos Lamtoro dan Biochar cangkang kelapa sawit dalam meningkatkan laju infiltrasi dan Ultisol serta hasil jagung.

(11)

1.3 Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat sebagai sumber informasi bagi masyarakat dan peneliti tentang peranan kombinasi kompos lamtoro dengan biochar terhadap laju infiltrasi ultisol dan hasil tanaman jagung. Selain itu, penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi tingkat sarjana (S1) pada jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

1.4 Hipotesis

Kombinasi perlakuan kompos lamtoro dengan biochar tempurung kelapa pada dosis tertentu dapat meningkatkakn laju infiltrasi serta meningkatkan hasil tanaman jagung.

(12)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Ultisol

Ultisol merupakan tanah mineral yang berkembang dan mengalami pelapukan lanjut bahan induk tua yang bersifat masam pada daerah beriklim basah dengan curah hujan 2.500-3.500 mm per tahun dan tersebar di daerah dengan ketinggian 50-350 mdpl, dengan topografi Sebagian besar berombak sampai berbukit (Munir, 1996). Ultisol merupakan salah satu jenis tanah masam yang terbentuk dari bahan induk batuan sedimen masam (Prasetyo dan Suridiakarta 2006). Ultisol merupakan tanah yang mengalami penimbunan liat di horizon bawah (horizon argilik) sehingga mengurangi daya resap air dan meningkatkan aliran permukaan serta erosi tanah, bersifat masam, kejenuhan basa rendah (Hardjowigeno, 2014).

Sari et al. (2018) menyampaikan hasil penelitiannya, tanah Ultisol di Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi juga memiliki kandungan bahan organik tanah sebesar 6,33% termasuk kriteria sedang, BV sebesar 1,64% termasuk dalam kategori tinggi dan total ruang pori tanah sebesar 35,83% termasuk kriteria rendah yang menyebabkan akar tanaman akan sulit untuk memperoleh unsur hara dan oksigen.

Distribusi pori yang kurang berimbang mengakibatkan aerasi menjadi kurang baik, peka terhadap erosi dan juga laju infiltrasi menjadi rendah. Erosi merupakan salah satu masalah di dalam sifat fisik Ultisol yang dapat merugikan dan mengurangi kesuburan dari tanah. Hal ini dikarenakan kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kandungan bahan organik dilapisan atas. Bila lapisan ini mengalami erosi maka bahan organik dan hara menjadi rendah.

Kandungan unsur hara yang rendah umumnya disebabkan karena pencucian unsur hara yang terjadi secara intensif dan kandungan bahan organik yang rendah akibat proses dekomposisi yang terus menerus dan sebagian terbawa erosi ( Prasetyo dan Suriadikarta, 2006).

Ultisol umumnya berwarna kuning kecoklatan hingga merah yang diklasifikasikan sebagai Podsolik Merak Kuning (PMK). Ultisol memiliki solum yang dalam, permeabilitas yang lambat hingga sedang, dan kemantapan agregat

(13)

lemah sehingga sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi. Akibatnya pertumbuhan akar tanaman terhambat karena adanya penetrasi akar ke dalam tanah menjadi berkurang (Holilullah et al., 2015).

Kondisi Ultisol dengan unsur hara yang tergolong rendah, juga memiliki permasalahan utama sifat fisik yang kurang menguntungkan. Salah satu sifat fisiknya yaitu tekstur tanah yang dicirikan oleh kandungan liat yang tinggi dan debu rendah . Kondisi tekstur ini mendasari banyaknya masalah lain pada Ultisol, seperti masalah retensi dan transmisi air, pemadatan tanah, dan penetrasi akar. Distribusi pori yang kurang seimbang, dikarenakan oleh pori mikro yang menyebabkan aerasi kurang baik, laju infiltrasi rendah, dan peka terhadap erosi. Selanjutnya, kemantapan agregat dan permeabilitas tanah juga rendah karena kandungan bahan organik yang rendah (Sarief, 1989). Ultisol berwarna kuning kecokelatan hingga merah. Ultisol memiliki permeabilitas lambat hingga sedang, dan kemantapan agregat rendah sehingga sebagian besar tanah ini mempunyai daya memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Prasetyo dan Sudiakarta, 2006).

2.2 Laju Infiltrasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

Infiltrasi adalah proses aliran air masuk ke dalam tanah yang umumnya berasal dari curah hujan, sedangkan laju infiltrasi merupakan jumlah air yang masuk ke dalam tanah per satuan waktu. Proses laju infiltrasi yang efektif dapat mengurangi terjadinya erosi dan mengurangi terjadinya banjir. Peran laju infiltrasi adalah dapat memenuhi kebutuhan tanaman dan vegetasi akan air, mengisi kembali air tanah dan menyediakan aliran air sungai pada musim kemarau (Scyhan, 1990).

Proses ini merupakan bagian yang sangat penting dalam daur hidrologi yang dapat mempengaruhi jumlah air yang terdapat dipermukaan tanah. Setelah tanah mengalami infiltrasi maka air menuju lebih dalam yang akan mengalami namanya perkolasi dan aliran air tanah yang nanti nya akan menuju ke laut atau sungai.

Laju infiltrasi ditentukan oleh besarnya kapasitas infiltrasi dan laju penyediaan air (Intensitas hujan). Selama intensitas hujan lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sama dengan intensitas hujan. Jika intensitas hujan melampaui kapasitas infiltrasi, maka terjadilah genangan di atas permukaan atau

(14)

aliran permukaan. Dengan demikian laju infiltrasi berubah-ubah sesuai dengan variasi intensitas curah hujan. Infiltrasi yang terjadi pada suatu tempat berbeda-beda dengan tempat yang lain dan waktu yang lain, salah satunya ditentukan oleh tipe penggunaan lahan (Sudarman, 2007).

Kecepatan dan besaran masuknya atau meresapnya air secara vertikal ke dalam tubuh tanah dapat diktahui dengan cara kajian laju infiltrasi. Gambaran tentang kebutuhan air irigasi yang diperlukan bagi suatu jenis tanah untuk jenis tanaman tertentu dapat diketahui dengan cara mengamati atau dengan cara pengujian. Data laju infiltrasi ini juga dapat digunakan untuk menduga kapan suatu run-off akan terjadi bila suatu jenis tanah telah menerima sejumlah air tertentu baik melalui curah hujan atau pun irigasi dari suatu tandon air di permukaan tanah.

Banyaknya air yang masuk ke dalam tanah melalui proses infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tekstur dan struktur tanah, kelembaban tanah awal, kegiatan biologi dan unsur organik, jenis dan tebal serasah, tipe vegetasi dan tumbuhan bawah (Asdak, 2010). Nilai porositas yang tinggi menyebabkan air yang masuk ke dalam tanah lebih cepat sehingga dapat meningkatkan laju infiltrasi konstannya Pada porositas tanah yang tinggi, maka tanah dapat menyimpan air dalam jumlah yang besar, sehingga air hujan yang datang akan dapat meresap atau mengalami infiltrasi dengan baik tanpa terjadinya aliran permukaan (Suryatmojo, 2006).

Rendahnya kualitas tanah dicirikan dengan sedikitnya kandungan bahan organik tanah, tingginya berat isi tanah, rendahnya porositas serta lambatnya laju infiltrasi (Schoenholtz et al., 2000). Upaya untuk meningkatkan kualitas tanah harus berawal dari peningkatkan kandungan bahan organik tanah. Peningkatan kandungan bahan organik tanah akan memicu aktifnya organisme dalam tanah, semakin tinggi aktivitas organisme tanah khususnya yang berperan sebagai (ecosystem enggineer) mampu memperbaiki porositas dan stabilitas agregat tanah (Cardoso et al., 2013). Bahan organik berperan dalam merangsang granulasi agregat tanah dan pembentukan struktur mikro atau struktur kersai tanah (Lumbanraja, 2012).

Bahan organik yang banyak mempengaruhi laju infiltrasi tanah, karena pada tanah yang mengandung bahan organik yang banyak merupakan tanah subur

(15)

sehingga menyebabkan laju infltrasi semakin cepat. Semakin tinggi bahan organik suatu lahan dimana banyak seresah yang menutupi permukaan tanah dan terdapatnya tumbuhan penutup tanahakan meningkatkan aktifitas mikroorganisme dalam mendekomposisikan bahan organik akan menjaga struktur tanah, sedangkan daerah yang tanpa serasah kemungkinan akan mengeras dan membentuk lapisan kerak akibat tingginya aliran permukaan (rahayu et, al, 2012).

2.3 Peranan Kompos Sebagai Pembenah Sifat Fisik Tanah dan Tanaman Pupuk kompos berperan sebagai soil conditioner dalam pembentukan agregat tanah atau berperan sebagai granulator (pembentukan struktur tanah berbentuk granular) yang menyebabkan struktur tanah menjadi gembur, mudah diolah dan mempunyai pori-pori yang cukup untuk kandungan air dan udara tanah.

Dengan demikian, menyediakan cukup air dan udara untuk kebutuhan tanaman dan berbagai makluk hidup lainnya di dalam tanah.

Hasil penelitian Refliaty et,al (2003) dengan perlakuan: M0: Tanpa mulsa (kontrol), Mj1 : Pemulsaan dengan jerami padi 5 ton per hektar, Msl : Pemulsaan dengan serbuk gergaji 5 ton per heLtar, Mj2 = Pemulsaan dengan jerami padi 10 ton per hektar, Ms2 : Pemulsaan dengan serbuk gergaji 10 ton per hekrar, Mj3 : Pemulsaan de,rgan jerami padi 15 ton per hektar, Ms3: Pemulsaan dengan serbuk gergaji 15 ton per hektar. Hasil penelitiaii rirenuiijukkan Penrberian nulsa dapat muiingkatkan hasil jagung, permeabilitas, berat wlurne, totai rumrgpori, bahal urgrrik, pori drainase lambat dan menunrnkan laju erosi tanah dibandingkan dangan control.

Hasil penelitian windhi Aprilia et,al, (2018) dengan perlakuan tanpa kompos kotoran sapi, 5 ton ha-1 , 10 ton ha1 , 15 ton ha-1 , 20 ton ha-1 dan 25 ton ha1. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kompos kotoran sapi dan abu janjang kelapa sawit mampu menurunkan berat volume tanah dan ketahanan penetrasi tanah , meningkatkan total ruang pori dan kadar air tanah.

Hasil penelitian andi surya janah dengan perlakuan P0 = tanpa perlakuan bahan organik (kontrol), P1 = 30 ton per hektar kompos kotoran sapi, P2 = 30 ton per hektar kompos kotoran ayam, P3 = 30 ton per hektar kompos daun angsana, P4

= 30 ton per hektar kompos daun gamal,Daun angsana merupakan sumber bahan

(16)

organik terbaik dalam meningkatkan sifat fisik dan kimia tanah seperti kandungan lengas, berat volume, porositas, dan kadar C-Organik tanah

Hasil penelitian Herbert MCS (2010), menunjukkan bahwa pemberian bokashi taraf,10 ton/ha, 20 ton/ha, 30 ton/ha dan tandan kosong kelapa sawit taraf,10 ton/ha, 20 ton/ha, 30 ton/ha meningkatkan total ruang pori, permeabilitas, C-Organik, NTotal dan produksi tanaman kedelai, menurunkan bulk density tanah dan C/N tanah.

Berdasarkan hasil penelitian Fitri Elisabet S (2021), dapat disimpulkan bahwa pemberian biochar 10 ton/ ha, kompos tithonia 10 ton/ha, dan kombinasi kompos tithonia dengan biochar baik perbandingan kombinasi 1:3, 2:2, maupun 3:1 dapat mengendalikan kepadatan tanah dan meningkatkan bahan organik tanah.

Penambahan pupuk kompos lamtoro dengan perbandingan 1:1/2 ke dalam media tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah, menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman, meningkatkan populasi mikroba tanah dan mempercepat daya simpan air tanah serta mempunyai drainase dan aerasi yang baik (Sulham dan Wulandari, 2019). Hasil penelitian Setiadi (2017) bahwa pemberian 5 ton/ha dan 10 ton/ha biokompos pupuk kandang sapi-lamtoro, pupuk kandang sapi-gamal dan pupuk kandang sapi- kirinyuh mampu memperbaiki sifat fisik tanah diantaranya meningkatkan bahan organik dan total ruang pori tanah serta menurunkan bobot volume tanah.

2.4 Peranan Biochar Sebagai Pembenah Sifat Fisik Tanah dan Tanaman Biochar merupakan arang yang diberikan ke sistem tanah dan tanaman sebagai bahan pembenah tanah. Proses pembuatan biochar hampir sama dengan arang yang umumnya digunakan sebagai bahan bakar. Biochar dihasilkan dari proses pirolisis atau pembakaran bahan organik dalam kondisi oksigen yang terbatas. Berbeda dengan bahan organik, biochar tersusun dari cincin karbon aromatis sehingga lebih stabil dan tahan lama di dalam tanah(Maguire dan Aglevor, 2010). Biochar terbentuk melalui proses pembakaran bahan organik tanpa oksigen (pyrolisis) pada temperatur 250-500°C.

Biochar merupakan salah satu bahan pembenah tanah yang memiliki banyak peranan dalam meningkatkan kesuburan tanah baik sifat fisik, kimia, dan biologi

(17)

tanah. Selain itu biochar juga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Biochar juga disebut sebagai bahan amelioran yang berfungsi dalam proses perbaikan.

Ameliorasi merupakan cara yang dilakukan dalam memperbaiki kondisi tanah melalui aplikasi bahan organik (Prasetyowati, et al, 2019).

Penambahan biochar ke dalam tanah mampu memperbaiki sifat fisik tanah seperti meningkatkan stabilitas agregat tanah, meningkatkan permeabilitas, memperbaiki aerasi tanah, meningkatkan kandungan C-organik tanah, mampu meretensi hara dan air agar tersedia untuk tanaman (Widowati dan Sutoyo, 2013;

Safitri, et al., 2018). Biochar bermanfaat untuk memperbaiki kualitas secara fisik dengan meningkatkan kapasitas menahan air dan kemantapan agregat, memperbaiki bobot volume dan menurunkan ketahanan tanah karena strukturnya yang berpori (Melo et al., 2013).

Biochar juga berperan sebagai pembenah tanah yang memacu pertumbuhan tanaman dengan menyuplai hara (Ulfia, 2016). Pemberian biochar dan kompos dapat menurunkan berat volume tanah (1,23 g/cm3) dibandingkan tanpa perlakuan (1,31 g/cm3) (Muhammad et al, 2015). Kombinasi kompos 10 ton/ha dan Biochar batang jagung sebanyak 40 ton/ha dapat memperbaiki sifat fisika tanah seperti, menurunkan bobot volume sebesar 26,5%, meningkatkan porositas sebesar 9,2%, menurunkan kebutuhan total air tanaman sebesar 34,4%, dan meningkatkan air tersedia tanah sebesar 61,9% (Safitri et al., 2018).

Aplikasi dari Biochar dan kompos mampu menyumbangkan biomassa terhadap tanah sehingga berdampak pada peningkatan sumber bahan organik tanah yang akhirnya menurunkan berat volume tanah, dengan demikian pemberian Biochar dan kompos yang diberikan mampu menurunkan berat volume tanah (Muhammad et al., 2015). Pemberian Biochar tempurung kelapa dan sekam padi yang dikombinasikan dengan kompos mampu meningkatkan pembentukan bunga, mempengaruhi pertumbuhan tinggi pada tanaman cabai. Hal tersebut menunjukan bahwa pemberian Biochar yang dikombinasikan dengan kompos lebih baik terhadap pertumbuhan tanaman cabai dibandingkan dengan pemberian kompos dan Biochar secara terpisah (Rona et al., 2014).

Pemberian biochar dan kompos selain berpengaruh ke tanah juga berpengaruh terhadap tanaman. Hasil penelitian Rona, (2014) menunjukkan bahwa

(18)

pemberian biochar (sekam dan tempurung) dengan dosis 2,5 ton ha-1 dan kompos 12,5 ton ha-1 cenderung menghasilkan tinggi tanaman cabai yang lebih baik dari perlakuan lainnya, sedangkan untuk dosis terbaik terhadap jumlah buah adalah kombinasi kompos dosis tinggi 12,5 ton ha-1 dengan biochar dosis rendah 2,5 ton ha-1 dan untuk hasil panen dan bobot kering perlakuan terbaik adalah pada pemberian kompos dengan biochar tempurung.

Kualitas biochar ditentukan oleh proses pembuatan dan bahan bakunya.

Biochar dapat diproduksi dari berbagai bahan yang mengandung ligniselulosa, seperti kayu, sisa tanaman (jerami padi, sekam padi, tandan kosong kelapa sawit dan limbah sagu) dan pupuk kandang (Maguire dan Aglevor, 2010). Penggunaan biochar sebagai amandemen, diharapkan mampu mengatasi permasalahan pada tanah Ultisol.

Hasil penelitian Mifta Chairunisa menunjukkan bahwa: (1) Pemberian jenis biochar dan dosis biochar tidak memperlihatkan interaksi terhadap ketersedian air dan beberapa sifat fisik tanah sera pertumbuhan tanaman. Berinteraksi terhadap laju permeabilitas. (2) Pemberian yang terbaik dalam meningkatkan ketersediaan air dan pertumbuhan tanaman jagung yaitu pada pemberian 20 ton/ha, yang meningkatkan kandungan bahan organik tanah (dari 1,22% menjadi 3,12%), menurunkan nilai berat volume tanah dari ( 1.42 g/cm3 menjadi 1.17 g/cm3 ), total ruang pori tanah (dari 46,45% menjadi 54.17%), dan permeabilitas tanah (dari 198,80 cm/jam menjadi 24,11 cm/jam).

Hasil penelitian Ardinal et,al. (2021) dengan perlakuan A = Kontrol, B = Mulsa jerami padi (10 ton/ha), C= Biochar sekam padi (20 ton/ha), D = liat (20 ton/ha), E = Mulsa jerami padi (10 ton/ha) + liat (20 ton/ha), F =Mulsa jerami padi (10 ton/ha) + Biochar sekam padi (20 ton/ha), G = Biochar sekam padi (20 ton/ha) +liat (20 ton/ha), H = Mulsa jerami padi (10 ton/ha) + Biochar sekam padi (20 ton/ha) +liat (20 ton/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan perlakuan kombinasi biochar sekam padi, tanah liat, dan mulsa jerami padi terdapat peningkatan tertinggi terhadap nilai TRP yaitu sebesar 23,23%, kandungan bahan organik sebesar 2,78%, dan kadar air tanah sebesar 6%, dan penurunan nilai BV sebesar 0,47 g/cm3 . Penurunan nilai laju infiltrasi tertinggi berada pada perlakuan kombinasi mulsa jerami padi, liat dan biochar sekam padi dengan nilai sebesar

(19)

506,6 mm/jam dibandingkan kontrol sebesar 994,7 mm/jam, namun masih dalam kriteria yang sama.

Penelitian untuk menguji pengaruh pemberian biochar terhadap sifat fisik tanah masih terbatas, hanya beberapa hasil penelitian yang melaporkan efektivitas biochar terhadap sifat fisik tanah

2.5 Tanaman Jagung

Jagung (Zea mays L) merupakan tanaman pangan yang termasuk kedalam divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledone, ordo Graminae, dan famili Graminaceae. Jagung merupakan tanaman semusim. Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Jagung merupakan bahan pangan pokok kedua setelah beras yang digunakan sebagai sumber karbohidrat serta digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak.

Rendahnya hasil jagung disebabkan tingkat kesuburan tanah yang rendah sebagai akibat bahan organik yang rendah, lapisan olah yang tipis, kelembaban dan kemampuan yang rendah dalam menyimpan air (Rachman et al., 2006).Tanaman jagung sebagai salah satu jenis tanaman yang pertumbuhannya memerlukan unsur hara yang cukup, sehingga ketersediaan unsur hara menjadi mutlak untuk diperhatikan. Kaitan dengan hal tersebut maka upaya penyediaan unsur hara diperlukan. Rendahnya hasil tanaman jagung di lahan kering umumnya dikaitkan dengan buruknya sifat fisik dan kimia tanah. Penggunaan pupuk hijau lamtoro dengan dosis dan waktu yang tepat diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah dan akhirnya meningkatkan hasil tanaman.

Jagung termasuk tanaman C4 yang mampu beradaptasi baik pada faktor- faktor pembatas pertumbuhan seperti intensitas radiasi surya tinggi dengan suhu siang dan malam tinggi, curah hujan rendah dengan cahaya musiman tinggi disertai suhu tinggi serta kesuburan tanah yang relatif rendah (Nasution, 2019). Tanaman jagung berasal dari daerah tropis. Jagung tidak beradaptasi dengan baik pada kondisi tropika basah. Pertumbuhan jagung paling baik pada musim panas. Tingkat kemasaman (pH) tanah yang optimal untuk pertumbuhan jagung yaitu berkisaran antara 5,6-6,2. Temperatur udara untuk tanaman jagung adalah 23-27°C. Curah hujan yang ideal untuk tanaman jagung pada umumnya antara 200-300 mm/bulan

(20)

dan harus merata. Masa tanam jagung tidak tergantung pada musim, namun tergantung pada ketersediaan air yang cukup. Kalau pengairannya cukup, penanaman jagung pada musim kemarau akan memberikan pertumbuhan jagung yang lebih baik (Riwandi et al., 2014).

Selain itu umur produksinya lebih singkat sehingga sangat menguntungkan.

Faktor-faktor iklim yang paling mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah curah hujan dan suhu. Jumlah dan sebaran curah hujan merupakan dua faktor lingkungan yang memberikan pengaruh terbesar terhadap kualitas jagung. Secara umum, jagung memerlukan air sebanyak 200-300 mm/bulan, sedangkan selama pertumbuhannya sebanyak 300-600 mm/bulan. Jika terjadi kekurangan air akibat kelembapan rendah dan cuaca rendah, maka pembentukan 23 fotosintat akan berkurang dan hasilnya rendah. Keadaan suhu yang baik untuk pertumbuhan jagung 21o -30o C. Namun pada suhu rendah 16o C dan suhu 35o C, jagung masih dapat tumbuh. Suhu optimum untuk perkecambahan benih berkisar antara 21o -27o C.

Jagung dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah, asalkan drainasenya baik serta persediaan humus dan pupuk tercukupi.

Lahan pertanian di Indonesia tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

Ada yang berupa lahan gembur tetapi ada pula yang berupa lahan berpasir.

Tanaman jagung dapat tumbuh diberbagai jenis tanah mulai dari lempung berdebu sampai dengan liat, namun jagung lebih menghendaki jenis tanah lempung berdebu (Fiqriansyah et al., 2021).

(21)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro jambi,Provinsi Jambi. Analisa sampel tanah dan biochar akan dilaksanakan di Laboratorium Fisika Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Penelitian ini akan dilaksanakan selama ± 4 bulan, mulai dari Maret sampai Agustus 2023.

3.2 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung varietas bisi 1, biochar tempurung kelapa, tamaman lamtoro, sampel tanah, air, pupuk Urea, KCL, TSP, pupuk kendang ayam, Rock phosphate, Trichoderma, furadan, dithane M-45, Aquades.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain drum untuk pryolisis biochar, karung, cangkul, parang, cutter, meteran, terpal plastik, timbangan, timbangan elektrik, cawan, oven, ring sampel, double ring infiltrometer, stopwatch, palu, balok kayu, mistar/skala, ember, ajir, gembor, kertas label, alat tulis, karet gelang, tali, hand sprayer, selang, kamera, data curah hujan.

3.3 Rancangan Penelitian

Penelitian berupa percobaan (eksperimen) dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 10 perlakuan dan 3 kelompok, sehingga terdapat 30 petak percobaan. Ukuran petak percobaan 3 × 4 m dengan jarak tanam 75 × 40 cm sehingga jumlah tanaman dalam satu petakan yaitu 40 tanaman. Adapun perlakuan yang akan digunakan yaitu :

a0 = biokompos 0 ton/ha + biochar 0 ton/ha + pupuk anorganik sesuai rekomendasi

a1 = biokompos 5 ton/ha + biochar 10 ton/ha + pupuk anorganik ½ rekom a2 = biokompos 10 ton/ha + biochar 5 ton/ha + pupuk anorganik ½ rekom a3 = biokompos 10 ton/ha + biochar 0 ton/ha + pupuk anorganik ½ rekom a4 = biokompos 0 ton/ha + biochar 10 ton/ha + pupuk anorganik ½ rekom

(22)

a5 = biokompos 5 ton/ha + biochar 5 ton/ha + pupuk anorganik ½ rekom a6 = biokompos 5 ton/ha + biochar 5 ton/ha + pupuk anorganik sesuai rekom a7 = biokompos 10 ton/ha + biochar 0 ton/ha + pupuk anorganik sesuai rekom a8 = biokompos 0 ton/ha + biochar 10 ton/ha + pupuk anorganik sesuai rekom a9 = biokompos 10 ton/ha + biochar 10 ton/ha + pupuk anorganik ½ rekom

3.4 Pelaksanaan Penelitian 3.4.1 Pengambilan Data Awal

Pengambilan data tanah awal dilakukan sebelum kegiatan penelitian.

Pengambilan data awal dilakukan berupa pengukuran infiltrasi, pengambilan sampel tanah utuh dan sampel tanah terganggu. Pengukuran infiltrasi menggunakan double ring infiltrometer sebanyak 4 titik secara acak. Sampel tanah utuh diambil dengan menggunakan ring sampel sebanyak 4 titik secara acak untuk menentukan bobot volume (BV), total ruang pori (TRP) dan permeabilitas. Sampel tanah terganggu diambil secara komposit pada 5 titik dengan kedalaman ± 10 cm sebanyak 1 kg yang digunakan untuk menentukan kandungan bahan organik tanah dan tekstur tanah.

3.4.2 Pembuatan Kompos Lamtoro

Kompos lamtoro yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari hijauan segar, yang dimana bagian tanaman yang digunakan adalah daun. Bagian tanaman sudah dikumpulkan kemudian di cacah dengan tujuan mempercepat dekomposisi.

Pengomposan pada penelitian ini menggunakan Trichoderma sebagai decomposer untuk mempercepat proses pengomposan. Bahan kompos kemudian dimasukkan ke bak pengomposan berukuran 2x4 m secara berlapis. Lapisan pertama merupakan cacahan daun lamtoro selanjutnya ditambah Trichoderma yang telah dilarutkan dalam air sebgai lapisan kedua. Pelapisan dilakukan secara berulang-ulang hingga merata. Kompos ditutup dengan terpal dan diaduk tiga kali dalam seminggu selama proses pengomposan. Saat mengaduk kompos disiram dengan air agar suhu kompos menurun. Pengomposan pada penelitian ini berlangsung selama 4 minggu dicirikan kondisi kompos hancur.

(23)

3.4.3 Pembuatan Biochar

Alat pyrolisis yang digunakan pada proses pembuatan Biochar adalah drum bekas dengan ukuran tebal plat ± 1 mm, tinggi ± 80 cm dan diameter ± 60 cm. Alat ini merupakan drum sederhana tanpa pengatur suhu. Proses pembuatan Biochar dilakukan dengan beberapa tahap. Bahan baku Biochar cangkang kelapa sawit dipersiapkan terlebih dahulu, usahakan dalam keadaan kering. Selanjutnya disiapkan bahan bakar berupa sabut kelapa di dalam drum tersebut, lalu dibakar.

Bahan baku Biochar dimasukkan ke dalam drum tersebut. Setelah proses pembakaran berlangsung selama 2x24 jam atau bahan baku berubah menjadi arang hitam, api di dalam drum dipadamkan dengan air dan dibiarkan dingin secara alami.

Biochar kemudian diayak dengan menggunakan ayakan 50 mesh (lolos 100 %) dan ayakan 80 mesh (lolos 50 %).

3.4.4 Persiapan Lahan

Lahan yang digunakan terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan tumbuhan lainnya setelah itu diukur sesuai dengan kebutuhan. Kemudian dlakukan pengolahan tanah menggunakan cangkul pada kedalaman 20 cm hingga gembur dan tanah diratakan. Selanjutnya dibuat petakan sebanyak 30 petakan dengan masing-masing berukuran 3 × 4 m dengan jarak antar pelakuan 50 cm dan jarak antar kelompok 100 cm. Denah percobaan dapat dilihat pada lampiran 1.

3.4.5 Pemberian Perlakuan Kompos Lamtoro dan Biochar

Biochar dan kompos lamtoro diberikan sesuai dengan dosis perlakuan, kemudian biochar dan kompos lamtoro disebar di permukaan tanah pada masing- masing petakan, selanjutnya dicampur dengan tanah sedalam ± 20 cm dengan cara pencangkulan dan di inkubasi selama 1 minggu. Dosis perlakuan dapat dilihat pada lampiran 5.

3.4.6 Penanaman

Penanaman kacang tanah dilakukan setelah tanah diinkubasi selama 1 minggu. Sebelum menanam kacang tanah terlebih dahulu benih diseleksi dengan cara memilih benih yang seragam dan tidak keriput.. Penanaman benih jagung

(24)

dilakukan dengan cara tugal dengan kedalaman lubang tanam ± 3 cm, kemudian pada lubang tanam diberikan Furadan. Tiap lubang tanam dimasukkan 2 benih jagung dan selanjutnya lubang tanam ditutup dengan tanah gembur. Jarak tanam yang digunakan adalah 75cm x 40 cm sehingga terdapat 40 tanaman per petak percobaan. Denah tata letak tanaman dalam petak percobaan dapat dilihat pada Lampiran 2. Varietas benih jagung yang digunakan adalah varietas Bisi 1. Deskripsi jagung Hibrida varietas Bisi 1 dapat dilihat pada Lampiran 8 .

3.4.7 Pemupukan

Pemberian pupuk dasar dilakukan pada saat awal tanam berupa pupuk Urea, TSP dan KCl. Dosis pupuk dasar yang digunakan pada penelitian ini setengah rekomdasi dan rekomdasi penuh sesuai perlakuan. Pemberian pupuk dilakukan secara larikan dengan jarak ±5 cm dari lubang tanam. Perhitungan dosis pupuk dasar dapat dilihat pada Lampiran 6.

3.4.8 Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman jagung dilakukan dengan beberapa cara seperti penyiraman, penyulaman, penyiangan, penjarangan, serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman tanaman kacang tanah dilakukan sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari tergantung pada kondisi di lapangan (apabila terjadi hujan tidak dilakukan penyiraman). Penyulaman dilakukan apabila ada benih yang tidak tumbuh dengan cara membuat lubang tanam baru pada bekas lubang tanam yang lama. Penyiangan dilakukan setelah tanaman jagung berumur 3 – 4 minggu atau saat terdapat gulma pada sekitar jagung dengan cara membersihkan gulma yang tumbuh di dalam maupun di luar petakan. Penyiangan dilakukan dengan cara menggunting gulma yang ada di dalam petakan, sedangkan yang diluar petakan dapat dilakukan dengan cara mencabut gulma. Penjarangan dilakukan setelah tanaman jagung berumur 2 minggu dengan cara meninggalkan tanaman yang tegap dan sehat (seragam) supaya mencapai populasi yang diinginkan. Penjarangan dilakukan dengan cara menggunting tanaman yang tidak diinginkan.Pengendalian hama dan penyakit dilakukan tergantung pada hama dan penyakit apa yang ada pada tanaman jagung dan dilakukan dengan menyemprot insektisida/fungisida yang

(25)

cocok dengan hama ataupun penyakit yang menyerang tanaman. Adapun insektisida yang dipakai selama penelitian adalah Decis dan fungisida berupa Dithane M-45.

3.4.9 Panen

Pemanenan dilakukan pada saat tanaman jagung sudah menunjukkan ciri siap panen. Ciri jagung yang bisa di panen yaitu saat kondisi masak fisiologis berumur 120 HST, kulit klobot telah berwarna cokelat, rambut jagung pada tongkol telah kering dan berwarna hitam, tekstur keras pada biji jagung dengan ditandai apabila ditekan kuku tidak hancur, terdapat titik hitam pada bagian ujung biji.

3.4.10 Pengambilan Data Akhir Tanah dan Tanaman

Pengambilan data akhir tanah pada penelitian ini dilakukan seminggu sebelum panen. Data akhir yang diambil pada penelitian ini meliputi pengukuran infiltrasi, pengambilan Sampel tanah utuh untuk analisis BV, TRP dan kadar air tanah dengan menggunakan ring sampel, serta pengambilan sampel tanah terganggu untuk analisis bahan organik. Sampel tanah yang akan dianalisis diambil pada satu titik yang diambil pada setiap petakan di antara baris tanaman. Setiap petak percobaan di buat petak ubinan dengan tidak memasukkan tanaman yang berada paling luar pada petak percobaan. Petak ubinan ini akan digunakan untuk pengambilan sampel tanaman.

3.5 Variabel Pengamatan 3.5.1 Tanah

3.5.1.1 Laju Infiltrasi

pengukuran infiltrasi pada penelitian ini dilakukan dengan cara pengukuran langsung di lapangan dengan alat double ring infiltrometer. Ukuran double ring infiltrometer adalah ring pengukur bagian dalam umunya berdiameter 10-20 cm, sedangkan bagian luarnya berdiameter 50 cm.

hasil pengukuran laju infiltrasi di lapangan dapat dihitung berdasarkan rumus:

(26)

f=∆ H

t ×60(cm/jam)

Keterangan :

f = Laju Infiltrasi (cm/jam)

∆H = tinggi penurunan air dalam selang waktu tertentu (cm)

t = waktu yang dibutuhkan oleh air pada ∆H untuk masuk ke tanah (menit)

Model Horton adalah salah satu model infiltrasi yang terkenal dalam hidrologi. Kapasitas infiltrasi berkurang seiring dengan bertambahnya waktu hingga mendekati nilai yang konstan. Model Horton dapat dinyatakan secara matematis mengikuti persamaan berikut :

f=fc+(f0−fc)ekt

Keterangan :

f = Kapasitas infiltrasi air ke dalam tanah (cm/jam) fc = Laju infiltrasi tetap (cm/menit)

fo = Laju infiltrasi awal (cm/menit) e = 2,71828

k = Konstanta suatu tanah (koefisien infiltrasi) t = Waktu (menit)

3.5.1.2 Kadar Air Lapang

Kadar air lapang dapat diukur menggunakan metode gravimetri. Pengambilan sampel dilakukan bersamaan dengan pengukuran laju infiltrasi di lapangan. Metode gravimetri dapat dinyatakan sebagai berikut:

KA=BBBK

BK ×100 % keterangan:

KA = kadar Air (%)

BB = Berat Tanah Basah (g) BK = Berat Tanah Kering (g)

(27)

3.5.1.3 Bobot Volume Tanah

Bobot volume tanah ditetapkan menggunakan sampel tanah utuh dalam ring sampel yang telah di oven selama 2x24 jam dengan suhu 105 C. Bobot volume tanah dapat dihitung menggunakan rumus :

BV= Berat kering(g) Volume tanah(cm3) keterangan :

BV = Bobot Volume Tanah (g/cm3)

3.5.1.4 Total Ruang Pori

Total ruang pori ditetapkan dengan mengambil sampel tanah utuh daram ring sampel yang telah di ovenkan selama 2x24 jam dengan suhu 105 C.

TRP=

(

1−BJ−(0,02BVX %BO)

)

×100 %

Apabila kandungan bahan organic <1% total ruang pori dihitung menggunakan rumus :

TRP=

(

BVBJ

)

×100 %

BJ=Berat tanah kering mutlak Volume tanah Keterangan :

TRP = Total Ruang Pori (%)

BV = Bobot Volume Tanah (g/cm3)

BJ = Berat Tanah per Satuan Volume Partikel Tanah (g/cm3)

3.5.1.5 Kandungan Bahan Organik Tanah

Kandungan bahan organik tanah dianalisis menggunakan sampel tanah komposit yang telah dioven pada suhu 105°C selama 24 jam menggunakan metode pengabuan kering pada suhu 600°C selama 3,5 jam dengan menggunakan alat Furnance. Kandungan bahan organik dapat dihitung menggunakan rumus :

%BO=Berat kering sampelberat abu Berat kering sampel

¿%Corganik=%BO x1,724

×100 %

(28)

Keterangan :

BO = Bahan Organik (%) 3.5.1.6 Tekstur Tanah

Analisis Tekstur Tanah pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Hydrometer, sehingga diperoleh persentase debu, liat dan pasir. Kemudian ditentukan klasifikasi teksur tanah menggunakan segitiga tekstur tanah menurut USDA.

Tabel 1. Klasifikasi tekstur tanah menurut USDA

S u m b e r : BALITBANGTAN (2006)

3.5.2 Tanaman

3.5.2.1 Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah, untuk menghindari terjadinya kesalahan pengukuran tanaman, maka digunakan ajir sebagai titik awal pengukuran yang ditandai 5 cm dari pangkal batang. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur tinggi tanaman daripangkal batang sampai ke titik tumbuh tanaman pengukuran dilakukan setelah tanaman berumur 14 HST. Selanjutnya pengukuran dilakukan secara rutin seminggu sekali selama masa vegetative dan dihentikan saat tanaman sudah masuk masa generative ditandai dengan munculnya bunga sebnayak 60%(45 HST)

3.5.2.2 Hasil Tanaman (ton/ha)

Produksi hasil tanaman dihitung dari hasil tanaman pada tiap petakan. Jagung yang sudah dipanen kulit buahnya dikupas untuk ditimbang berat masing-masing perlakuan. Untuk hasil tanaman dihitung dengan kadar air tongkol jagung sebesar 14%. Hasil tanaman kg/petak selanjutnya dikonversi kedalam satuan ton/ha dengan

Diameter Fraksi

0,002- 0,05 Debu

< 0 ,002 Liat

0,05-2 Pasir

(29)

rumus :

Hasil=A

B×C ×10−3

keterangan :

A = Luas tanah dalam 1 hektar (m2) B = Luas tanah dalam 1 hektar (m2) C = Produksi per petak (kg)

Berat hasil jagung dijemur dan kadar air diukur menggunakan metode Gravimetri. Berat hasil panen pada kadar air 14 % dilakukan berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus:

W14=100−Mi 100−14 ×Wi

Keterangan :

W14 = Berat pada kadar air 14%

Mi = Kadar air awal

Wi = Berat pada kadar air awal

3.6 Analisis Data

Dalam hasil pengamatan berupa laju infiltrasi, BV,TRP, bahan organik, tinggi tanaaman dann hasil tanaman jagung. Dianalisis menggunakan sidik ragam taraf kepercayaan 95% (α = 5%) yang kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ untuk melihat pengaruh rata-rata perlakuan. Sedangkan tinggi tanaman jagung dianalisis secara deskriptif berdasarkan hasil pengamatan.

3.1Diagram Alir Penelitian

Tahapan proses yang akan dilakukan dalam penelitian ini digambarkan dalam diagram alir pada Gambar 1.

Pengumpulan bahan penelitian 23 Identifikasi masalah

Biochar Tempurung Kelapa

 Pengumpulan tempurung kelapa Kompos Lamtoro

 Pengumpulan tanaman lamtoro

 Pupuk kandang ayam

Mulai

(30)

Gambar 1. Bagan alur penelitian

VI.HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 . Sifat Fisika Tanah Sebelum Pemberian Perlakuan

Biochar Tempurung Kelapa

 Pengumpulan tempurung kelapa Kompos Lamtoro

 Pengumpulan tanaman lamtoro

 Pupuk kandang ayam

(31)

Hasil analisis tanah pada saat sebelum diberi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan kriteria tanah yang tidak mendukung di dalam pertumbuhan tanaman jagung.

Tabel 2. Hasil Analisis Tanah Sebelum Perlakuan

Keterangan : * Kriteria Berdasarkan Pusat Penelitian Tanah Bogor (1994)

**Kriteria Berdasarkan 1Kohnke (1968); 2Arsyad (2010)

Hasil analisis sifat fisika tanah dari lokasi penelitian sebelum percobaan menunjukkan bahan organik 2,12% bobot volume 1,42 g/cm3 dan total ruang pori 44,77%. Berdasarkan kelas penilaian sifat tanah tersebut, nilai bahan organik tergolong pada kriteria rendah dan bobot volume tanah tergolong pada kriteria yang tinggi,laju infiltrasi sebesar 0,90 cm/jam tergolong pada kriteria agak lambat. Hasil analasis menunjukkan bahwa kriteria kesuburan tanah di lokasi penelitian berada pada kriteria rendah. Tekstur tanah yang berada dilokasi penelitian termasuk kriteria lempung berpasir dengan presentase pasir 48,40%, debu 18,40% dan liat 33,20%. Terdapat tiga fraksi utama yang menyususn massa tanah yaitu fraksi liat (Clay), debu (Slit) dan pasir (Sand). Tekstur tanah mempengaruhi sifat fisik tanah, Menurut Septiana et al. (2021) bahwa kandungan liat dapat menentukan pembentukan tanah karena liat berfungsi sebagai pengikat. Kandungan liat >30%

akan berpengaruh terhadap agregasi, sedangkan kandungan liat <30% tidak berpengaruh terhadap agregasi. Tanah yang bertekstur lempung mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga mampu menahan air dan menyediakan unsur hara yang tinggi.

Kandungan bahan organik sangat berpengaruh terhadap beberapa sifat fisika tanah. Kondisi tersebut sejalan dengan Schoenholtz et al., (2000) rendahnya kualitas tanah dicirikan dengan sedikitnya kandungan bahan organik tanah,

Parameter Hasil Kriteria

Bahan Organik (%) 2,12 Rendah*

Bobot Volume (g/cm3) 1,42 Tinggi*

Total Ruang Pori (%) 44,77 Rendah*

Pasir (%) 48,40

Debu (%) 18,40 Pasir Berlempung*

Liat (%) 33,20

Laju Infiltrasi (cm/jam) 0,90 Agak Lambat**

(32)

tingginya berat volume tanah, rendahnya porositas serta lambatnya laju infiltrasi tanah. Bahan organik dengan kriteria sedang menyebabkan berat volume (BV) tanah tinggi. Hal tersebut berakibat pada ruang pori tanah yang rendah sehingga tanah mudah memadat. Akhirnya mempengaruhi proses masuknya air ke dalam tanah dan kemampuan tanah dalam meloloskan air.

Kemampuan tanah menahan air juga dipengaruhi oleh tekstur tanah. Hasil analisis awal menunjukkan bahwa tanah tersebut masuk ke dalam kelas tekstur kasar dan tanah tersebut mempunyai daya menahan air yang kecil. Sifat fisika tanah yang kurang baik menyebabkan perkembangan akar tanaman terganggu karena kesulitan menembus tanah sehingga akar kesulitan memperoleh unsur hara (Hariadjaja, 2010).

Kandungan C-organik tanah yang rendah disebabkan oleh bahan organik dalam tanah sudah terdekomposisi dan tidak ada tambahan bahan organik, sehingga perlu menambahkan bahan organik. Kandungan bahan organik tanah berpengaruh pada sifat fisik lainnya seperti bobot volume tanah dan total ruang pori. Ardiansyah et al. (2015) menyatakan bahwa bobot volume tanah berhubungan erat dengan total ruang pori, nilai total ruang pori tanah sejalan dengan nilai bobot volume tanah.

Kondisi tanah dengan sifat fisika tanah tersebut dapat diperbaiki agar tanah memiliki kualitas yang lebih baik sehingga dapat mendukung perkembangan dan pertumbuhan tanaman jagung. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan penambahan bahan organik dan bahan pembenah tanah seperti kompos Lamtoro dan Biochar tempurung kelapa.

4.2 Karakteristik Biokompos Lamtoro dan Biochar Tempurung Kelapa Hasil analisis kompos Tithonia sebelum diaplikasikan ke dalam tanah selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Karakteristik Biokompos Lamtoro dan Biochar Tempurung Kelapa

(33)

Keterangan : Standar Kualitas Kompos Menurut SNI (19-7030) tahun 2004

Hasil analisis biokompos lamtoro dan biochar tempurung kelapa menunjukkan bahwa nilai kadar air 38% pada biokompos dan 9,4% pada biochar, C -organik 28,97% pada biokompos dan 32,82% pada biochar, N-total biokompos sebesar 1,88% dan C/N sebesar 15,41 serta kadar abu biochar sebesar 8,6%.

Kandungan karbon pada biochar yang dipakai sudah cukup tinggi yaitu sebesar 32,82% dan juga sesuai dengan standar Internasional Biochar Inisiativei (IBI) bahwa C-organik pada biochar diatas 30% yang di kategorikan sedang. Sukmawati (2020) menyatakan bahwa kandungan C-organik pada biochar disebabkan oleh sejumlah residu tanaman organik seperti selulosa. Selulosa yang masih terdapat di dalam biochar mengandung 37% karbon dan 43-45% mineral anorganik.

Karbonisasi ditandai dengan degradasi atom-atom nonkarbon, sehingga meningkatkan kandungan karbon. Menurut Saputra dan Ardika (2012) juga menyatakan bahwa proses pembuatan biochar, sekitar 50% dari karbon yang ada dalam bahan dasar akan terkandung dalam biochar. Dekomposisi biologi biochar b iasanya kurang dari 20% setelah 5-10 tahun. Sedangkan pada pembakaran bahan secara sempurna hanya 3% karbon yang tertinggal dalam biochar.

Kandungan C-organik biokompos lamtoro sebesar 28,97% dimana presentase kandungan C-organik tersebut sudah sesuai dengan standar kualitas kompos menurut SNI yang mana kadar karbon yang terkandung di dalam kompos minimal sebesar 9,8% dan maksimal sebesar 32%. Pemberian biokompos akan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air, selain itu biokompos juga mampu menggemburkan tanah sehingga dapat menjadi media tumbuh bagi tanaman.

Kadar air merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi dalam pengomposan. Sesuai dengan pendapat Kurnia et al. (2017) menyatakan

Parameter Biokompos Biochar Standar Mutu

Kadar Air (%) 38 9,4 ≤ 50

C-organik (%) 28,97 32,82 9,8-32

N-total (%) 1,88 - ≥ 0,4

C/N 15,41 - 10-20

Kadar Abu (%) - 8,6 -

(34)

bahwa kadar air menjadi kunci penting pada proses pengomposan. Kadar air sebagai indikasi kematangan dan kualitas kompos. Apabila kandungan air terlalu rendah atau tinggi akan mengurangi efesiensi proses pengomposan. Kadar air biokompos lamtoro sebesar 38% yang mana kadar air tersebut sudah sesuai dengan standar mutu kualtias kompos menurut SNI dengan kadar air maksimal sebesar 50%.

Kadar nitrogen pada biokompos lamtoro sebesar 1,88% yang mana kadar nitrogen tersebut sudah memenuhi kriteria standar mutu kualitas kompos menurut SNI yang mana kadar nitrogen menurut standar mutu kualitas kompos yaitu 0,4%.

Menurut Triviana dan Pradhana (2017) menyatakan bahwa kadar nitrogen dibutuhkan mikroorganisme untuk pemeliharaan dan pembentukan sel tubuh.

Makin banyak kandungan nitrogen, semakin cepat bahan organik terurai karena mikroorganisme yang menguraikan bahan kompos memerlukan nitrogen untuk perkembangannya. Rasio C/N adalah rasio dari massa karbon terhadap massa nitrogen. Rasio C/N biokompos lamtoro yaitu sebesar 15,41 yang mana rasio C/N tersebut sudah memenuhi kriteria standar mutu kualitas kompos menurut SNI yang mana rasio C/N kompos yaitu 10-20. Kadar abu yang terkandung pada biochar tempurung kelapa yaitu sebesar 8,6%. Hasil penelitian Pratama et al. (2018) bahwa semakin tinggi suhu pirolisis yang digunakan maka semakin meningkat kadar abunya.

4.3. Pengaruh Kompos lamtoro dan Biochar Tempurung kelapa terhadap Bahan Organik Tanah

Berdasakan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos Tithonia dan Biochar cangkang kelapa sawit berpengaruh sangat nyata terhadap bahan organik (BO) (Lampiran 12). Nilai rata-rata bahan organik dari hasil uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh Pemberian Kompos Tithonia dan Biochar Cangkang Kelapa Sawit Terhadap Bahan Organik (BO) Tanah.

(35)

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf α 5%..

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan a9 (10 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi) berbeda nyata terhadap a0 (tanpa perlakuan). Pemberian perlakuan a1 (biokompos 5 ton/ha+10 ton/ha biochar+ pupuk anorganik ½ rekomendasi) tidak berbeda nyata dengan perlakuan a2 (10 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a3 dan a7 (10 ton/ha biokompos) dan a8 (10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi) namun berbeda nyata dengan perlakuan a4 (10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a5 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+ pupuk anorganik ½ rekomendasi) dan a6 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+ pupuk anorganik rekomendasi) dan tanpa perlakuan. Pemberian kombinasi biokompos 10 ton/ha dan biochar 10 ton/ha berbeda tidak nyata dengan kombinasi biokompos 5 ton/ha dan biochar 10 ton/ha maupun biokompos 10 ton/ha dan 5 ton/ha, namun berbeda nyata dengan pemberian 10 ton/ha biokompos, 10 ton/ha biochar dan kombinasi biokompos 5 ton/ha dan biochar 5 ton/ha.

Kandungan bahan organik tanah dan hasil uji bnj (Tabel 4) menunjukkan bahwa pemberian biokompos dan biochar dengan dosis yang berbeda berpengaruh

Perlakuan BO (%)

a0 (tanpa perlakuan + pupuk anorganik sesuai rekomendasi) 6.3 a a1 (5 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½

rekomendasi) 7.7 ab

a2 (10 ton/ha biokompos+5ton/ha biochar+pupuk anorganik ½

rekomendasi) 6.7 a

a3 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi)

6.3 a a4 (0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½

rekomendasi) 6.0 a

a5 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi)

7.0 a a6 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik

sesuai rekomendasi) 7.3 a

a7 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk anorganik

sesuai rekomendasi) 6.7 a

a8 (0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi)

8.7 b a9 (10 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½

rekomendasi 7.0 a

(36)

terhadap kandungan bahan organik tanah yang mengalami peningkatan dibandingkan tanpa perlakuan. Pemberian kombinasi biokompos 5 ton/ha dan biochar 5 ton/ha sudah mampu meningkatkan kandungan bahan organik tanah baik pemberian pupuk anorganik sesuai rekomendasi maupun ½ rekomendasi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi biokompos 5 ton/ha dan biochar 5 ton/ha yang diberi pupuk anorganik ½ rekomendasi sudah efektif dalam meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Pemberian kombinasi biokompos dan biochar serta pupuk anorganik ½ rekomendasi tidak berbeda dalam menyumbangkan bahan organik tanah dengan kombinasi biokompos, biochar dan dosis pupuk anorganik rekomendasi penuh. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi biokompos dan biochar dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai 50%.

Pemberian kompos Lamtoro ke dalam tanah juga menyebabkan peningkatan mikroorganisme di dalam tanah. Kompos Lamtoro juga berperan sebagai media tumbuh serta sumber energi yang baik bagi mikroorganisme tanah sehingga aktivitasnya semakin pesat. Aktivitas mikroorganisme yang tinggi akan meningkatkan kandungan bahan organik tanah karena mikroorganisme membutuhkan asam-asam organik dan mikroorganisme yang mati akan menjadi penyumbang bahan organik ke dalam tanah.

Pemberian Biochar memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan bahan organik tanah. Biochar memiliki sifat yang sarang, memiliki kemampuan memegang air dan menjadi media tumbuh yang baik bagi mikroorganisme.

Mikroorganisme yang mati akan menjadi sumber bahan organik di dalam tanah sehingga bahan organik tanah juga meningkat. Biochar juga menjadi sumber karbon di dalam tanah yang tersedia dalam jangka waktu yang lama. Endriani dan Kurniawan (2018) semakin tinggi takaran Biochar yang diberikan semakin tinggi juga cadangan karbon tanah. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Simamora (2020) bahwa pemberian 10 ton/ha Biochar cangkang kelapa sawit dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah sebesar 4,73% dibandingkan dengan kontrol sebesar 2,87 %

4.4. Pengaruh Kompos Lamtoro dan Biochar Tempurung Kelapa terhadap Bobot Volume Tanah, Total Ruang Pori Tanah dan Kadar Air Lapang

(37)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian kompos Tithonia dan Biochar cangkang kelapa sawit berpengaruh sangat nyata terhadap bobot volume tanah (BV) dan total ruang pori tanah (TRP) namun tidak berpengaruh terhadap kadar air tanah (Lampiran 13,14,15). Nilai rata-rata bobot volume tanah total ruang pori tanah dari hasil uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Pengaruh Pemberian Kompos Tithonia dan Biochar Cangkang Kelapa Sawit Terhadap Bobot Volume, Total Ruang Pori dan Kadar Air Lapang.

Perlakuan BV

(gr/

cm3)

TRP (%)

KA (%) a0 (tanpa perlakuan + pupuk anorganik sesuai

rekomendasi) 1.38 bc 34.50 b 21.67 e

a1 (5 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi)

1.51 a 36.27 d 22.08 e a2 (10 ton/ha biokompos+5ton/ha biochar+pupuk

anorganik ½ rekomendasi)

1.58 bc 37.87 b 23.77 e a3 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk

anorganik ½ rekomendasi)

1.59 bc 39.46ab 24.61 cd a4(0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk

anorganik ½ rekomendasi)

1.60 bc 39.58 b 26.44 b a5 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk

anorganik ½ rekomendasi) 1.60b 39.67 c 28.08 bc

a6 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi)

1.60 bc 40.09 b 28.16 cd a7 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk

anorganik sesuai rekomendasi)

1.65 c 40.53a 28.62 d a8 (0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk

anorganik sesuai rekomendasi)

1.69 d 42.93a 35.02 ab a9 (10 ton/ha biokompos+10 ton/ha

biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi)

1.73 c 47.98a 36.44 a Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama

tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf α 5%.

a) Bobot Volume (BV) Tanah

Tabel 5 menunjukkan bahwa pada perlakuan a0 (tanpa perlakuan + pupuk anorganik sesuai rekomendasi) tidak berbeda nyata dengan perlakuan a2 (10 ton/ha biokompos+5ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a3 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a4(0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a6 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi),tetapi

(38)

memberikan pengaruh nyata terhadap a1 (5 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a5 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a7 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi), a8 (0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi), a9 (10 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi)

Pemberian kompos lamtoro ke dalam tanah memiliki manfaat dalam penambahan bahan organik tanah. Bahan organik akan terdekomposisi menjadi asam-asam organik yang dapat mengikat partikel-partikel tanah sehingga agregat tanah menjadi mantap. Demikian juga dengan pemberian Biochar ke dalam tanah akan berdampak pada peningkatan mikroorganisme di dalam tanah sehingga memiliki potensi peningkatan bahan organik di dalam tanah. Agregat yang mantap memiliki kepekaan yang rendah terhadap erosi dan tidak mudah hancur apabila terkena pukulan butiran-butiran hujan sehingga tanah tidak mudah padat. Hal ini sejalan dengan Arsyad (2012) bahan organik tanah yang terdekomposisi mampu mengikat butir-butir tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi relatif gembur, keadaan tanah menjadi longgar dan bergranulasi yang mengakibatkan menurunnya nilai bobot volume tanah.

Hasil penelitian menunjukkan pemberian kombinasi kompos Lamtoro dan Biochar ke dalam tanah memberikan penurunan bobot volume tanah yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Kompos lamtoro yang mengandung bahan organik mampu memperbaiki sifat-sifat tanah namun mudah terdekomposisi oleh mikroorganisme. Kombinasi dengan Biochar menjadi alternatif karena biochar sebagai pembenah tanah memiliki sifat yang lebih stabil dan sukar teroksidasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Barus (2016) yang menunjukkan aplikasi kompos 10 ton/ha dan Biochar 10 ton/ha mampu menurunkan bobot volume tanah hingga 7,5%.

b) Total Ruang Pori (TRP)

Tabel 5 menujukkan bahwa pada perlakuan p0 (tanpa perlakuan) tidak berbeda nyata dengan perlakuan a2 (10 ton/ha biokompos+5ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a3 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a4(0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk

(39)

anorganik ½ rekomendasi), a6 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi), tetapi berpengaruh nyata terhadap a1 (5 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a1 (5 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi),a5 (5 ton/ha biokompos+5 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi), a7 (10 ton/ha biokompos+0 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi), a8 (0 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik sesuai rekomendasi), a9 (10 ton/ha biokompos+10 ton/ha biochar+pupuk anorganik ½ rekomendasi).

Pemberian kombinasi biokompos lamtoro dan biochar tempurung kelapa perlakuan a5 (5 ton/ha biokompos+ 5 ton/ha biochar+ pupuk anorganik ½ rekomendasi) dan a6 (5 ton/ha biokompos+ 5 ton/ha biochar+ pupuk anorganik rekomendasi) sudah memberikan pengaruh yang nyata dengan a0 (tanpa perlakuan). Pemberian biokompos dan biochar dengan dosis 5 ton/ha berpengaruh dalam meningkatkan total ruang pori (TRP) tanah dibandingkan tanpa perlakuan (dari 34,50% menjadi 39,67% dan 47,98%). Pemberian biokompos 10 ton/ha dan bi ochar 10 ton/ha memberikan kontribusi tertinggi dalam meningkatkan TRP tanah.

Penambahan biokompos dan biochar ke dalam tanah dapat menurunkan BV tanah sehingga otomatis dapat meningkatkan TRP tanah. Nilai BV tanah berbanding terbalik dengan nilai TRP tanah. Tanah yang mempunyai nilai BV tinggi maka mempunyai nilai TRP rendah dan sebaliknya.

Peningkatan total ruang pori tanah dipengaruhi oleh bahan organik tanah, kelembaban tanah dan pemadatan tanah. Bahan organik tanah sangat berperan dalam mempengaruhi agregasi tanah melalui proses humifikasi. Tingginya kandungan bahan organik yang ada pada tanah serta penambahan bahan organik yang diberikan kedalam tanah berperan sebagai pengikat partikel-partikel tanah sehingga agregasi tanah menjadi baik, ruang pori tanah meningkat dikarenakan bahan organik bersifat poros, sehingga dapat menurunkan BV tanah. Hal ini sesuai dengan Holilullah et al. (2015) yang menyatakan bahwa dengan tingginya kandungan bahan organik maka akan mempengaruhi ruang pori. Semakin tinggi bahan organik didalam tanah maka akan semakin besar nilai ruang pori tanah.

Total ruang pori tertinggi terdapat pada perlakuan a9(10on/ha kompos lamtoro + 10ton/ha Biochar cangkang kelapa sawit) sebesar 47,98%. Hal ini diduga

Gambar

Tabel 1. Klasifikasi tekstur tanah menurut USDA
Tabel 2. Hasil Analisis Tanah Sebelum Perlakuan
Tabel 5. Pengaruh Pemberian Kompos  Tithonia  dan  Biochar  Cangkang Kelapa Sawit Terhadap Bobot Volume, Total Ruang Pori dan Kadar Air Lapang.
Tabel 6. Pengaruh Pemberian Kompos lamtoro dan Biochar Cangkang
+2

Referensi

Dokumen terkait