i
PROPOSAL PENELITIAN
UJI DIAGNOSTIC RAPID ANTIGEN MALARIA DI RSUD dr. M.
THOMSEN NIAS TAHUN 2024
Desara V. Astrid Daeli 221210002
UNIVERSITAS METHODIST INDONESIA FAKULTAS KEDOKTERAN
MEDAN 2025
ii
iii DAFTAR ISI
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Penyakit malaria telah menjadi masalah yang serius dalam dunia kesehatan saat ini. Hal ini dikarenakan penderita penyakit malaria mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penyakit ini telah menyerang sekitar 263 juta kasus malaria dan 597.000 kematian akibat malaria di 83 negara dan menjadi penyakit mematikan khususnya bagi balita, anak-anak dan ibu hamil1. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2022 melaporkan bahwa kejadian malaria telah mengalami peningkatan pada tahun 2019-2021. Angka kematian akibat malaria yang terjadi pada tahun 2019-2021 di seluruh dunia mengalami peningkatan sebesar 12% dan terdapat empat negara dengan persentase angka kematian tercatat lebih dari setengah angka kematian malaria di dunia, diantaranya Nigeria (31%), Republik Demokratik Kongo (13%), Niger (4%), dan Tanzania (4%)2.
Menurut laporan WHO 2022, penyakit malaria telah menyebar di 84 negara, pada tahun 2022 diperkirakan terdapat 247 juta kasus malaria. Sementara itu, pada tahun 2021 jumlah kematian akibat malaria mencapai sekitar 619.000 kasus. Sejak 2016, jumlah kasus malaria terus meningkat dengan lonjakan terbesar sebanyak 13 juta kasus dimana terjadi antara tahun 2019 dan 2020. Secara global tercatat 63.000 kematian akibat malaria 1. Peta wilayah endemis malaria di wilayah Asia Tenggara tahun 2000-2020 terhitung 5,2 juta kasus dan telah berkontribusi 2% secara global.
Pada tahun 2022, India menyumbang sekitar 65,7% dari seluruh populasi kasus malaria dan 46% disebabkan oleh Plasmodium vivax. Rentang tahun 2000-2020, kasus malaria menurun sebesar 77% dari 22,8 juta pada tahun 2000 menjadi 5,2 juta pada tahun 2022 dan kejadianya menurun sebesar 83%. Sri Lanka pada tahun 2016 bersertifikat bebas malaria, di negara Timor Leste melaporkan tidak ada kasus penyakit malaria dan Bhutan melaporkan bebas kasus untuk pertama kalinya.
Meskipun terjadi penurunan keseluruhan sebesar 11,9% pada tahun 2021-2022, namun terjadi peningkatan kasus di negara Bangladesh, Indonesia, Myanmar dan Thailand.1
2
Penanganan kasus malaria di Indonesia sendiri masih menjadi masalah serius, dimana Indonesia merupakan daerah endemis antara lain wilayah Papua, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Berdasarkan data Kemenkes RI 2022, telah tercatat kasus malaria sebanyak 415.140 kasus sepanjang tahun 2022 di seluruh wilayah Republik Indonesia. Persentase angka penderita malaria terus meningkat hingga 32,29% dibandingkan dengan tahun 2021 sebanyak 304.607 kasus (Kemenkes RI, 2022)3. Peningkatan jumlah kasus tersebut menunjukkan bahwa upaya penanggulangan malaria di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari segi infrastruktur kesehatan, keterjangkauan layanan medis, hingga kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan malaria. Wilayah- wilayah endemis seperti Papua menyumbang lebih dari 80% total kasus nasional, yang disebabkan oleh kondisi geografis yang sulit dijangkau, iklim tropis yang mendukung perkembangan vektor malaria (nyamuk Anopheles), serta masih rendahnya akses terhadap fasilitas kesehatan dan edukasi masyarakat mengenai penyakit ini 4.
Penyakit malaria telah menyebar di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara seperti Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Asahan, Labuhan Batu, Nias, Nias Utara, Nias Selatan, Gunungsitoli dan Serdang Bedagai.
Laporan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menyatakan bahwa terdapat 1 orang yang meninggal akibat penyakit malaria dari 149 kasus baru penyakit malaria positif 5. Angka kesakitan malaria di Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir, dari 0,18 per 1.000 penduduk pada tahun 2017 menjadi 0,07 per 1.000 penduduk pada tahun 2020. Pada tahun 2020, sebanyak 71,8 persen suspek malaria di Provinsi Sumatera Utara telah menjalani pemeriksaan laboratorium (Rapid Diagnostic Test dan Mikroskop), angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019 yang tercatat sebesar 83,79 persen 6.
Berdasarkan data Dinas kesehatan Provinsi Sumatera Utara, sepanjang tahun 2022, ada 5.133 kasus positif malaria yang ditemukan. Sementara berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara Tahun 2022, ada 18.361 suspek Malaria yang tersebar diseluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara, diantaranya
Gunungsitoli (80 kasus), Nias (215), Nias Barat (200 kasus), Nias Utara (160 kasus) dan Nias Selatan (46 kasus)7. Meskipun angka kejadian penyakit malaria menunjukkan penurunan, penyakit ini tetap menjadi perhatian utama dalam kesehatan masyarakat karena berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Dampaknya cukup besar terhadap kualitas hidup, perekonomian, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Malaria juga berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia, yang pada gilirannya dapat menimbulkan masalah ekonomi, sosial, serta mempengaruhi ketahanan nasional 8.
Penyakit malaria berhubungan dengan kejadian anemia, dimana setelah terjadinya infeksi maka akan menyebabkan kekurangan sel darah merah akibat hancur dirusak oleh Plasmodium. Infeksi ini bisa menyebabkan malaria berat sehingga mengakibatkan koma, kegagalan multi organ, serta menyebabkan kematian, dan pada wanita hamil jika tidak diobati dapat menyebabkan keguguran, lahir kurang bulan (prematur) dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta lahir mati.
Beberapa faktor terjadinya anemia pada penderita malaria yaitu pemusnahan sel darah merah, gangguan pembentukan sel darah merah, respon inflamasi dan pembesaran limpa. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan penurunan jumlah sel darah merah dalam tubuh (anemia) dan akan semakin memburuk jika infeksinya berlangsung dalam jangka waktu yang lama (Fani, 2022)9.
Semenjak tahun 1990 telah dikembangkan dan penyempurnaan dari pemakaia rapid diagnostik test yang prinsip kerjanya menggunakan imunokromatografi untuk mendeteksi keberadaan antigen dari Plasmodium.
Manfaat dari uji diagnostik rapid antigen malaria ini adalah mampu untuk mendiagnosis malaria dengan cepat terutama pada fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak mampu melakukan pemeriksaan mikroskopis pada layanan rutin atau situasi emergensi atau yang membutuhkan pengobatan cepat. Saat ini terdapat rapid antigen malaria yang dapat mendeteksi antigen dari ke empat Plasmodium.
Sensitivitas dari diagnostik rapid antigen ini sebesar diatas 95% dan spesifisitas sebesar 98% namun penelitian yang dilakukan oleh Mayer, (2019) menunjukkan bahwa hasil sensitivitas dari rapid antigen malaria sebesar 67%10. Hal ini disebabkan oleh karena sensitivitas dan spesifisitas dapat menurun bila jumlah
4
parasit dalam darah hanya sedikit, hal ini sering ditemui pada daerah yang masuk dalam kategori endemisitas rendah. Sehingga, rapid antigen malaria masih belum bisa menggantikan konfirmasi mikroskopis sebagai baku emas diagnosis malaria oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian mengenai uji diagnostik rapid antigen malaria di RSUD dr. M. Thomsen Nias yang merupakan rumah sakit rujukan dari puskemas/klinik dan dari hasil survey awal pada Januari hingga September tahun 2024 jumlah penderita malaria di Pulau Nias adalah 921 kasus, serta rumah sakit ini berada di wilayah endemisitas malaria yang rendah.
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
bagaimana hasil uji diagnostik rapid antigen malaria di RSUD dr M. Thomsen Nias tahun 2024.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dilakukan penelitian ini adalah umtuk melakukan uji diagnostik rapid antigen malaria di RSUD dr. M. Thomsen Nias tahun 2024.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dilakukan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi penyakit malaria berdasarkan hasil pemeriksaan uji diagnostic rapid antigen malaria di RSUD dr. M. Thomsen Nias tahun 2024.
2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi penyakit malaria berdasarkan hasil konfirmasi pemeriksaan mikroskopis di RSUD dr. M. Thomsen Nias tahun 2024 3. Untuk mengetahui frekuensi penyakit malaria berdasarkan jenis Plasmodium yang
menyebabkan di RSUD dr. M. Thomsen Nias tahun 2024.
4. Untuk menganalisis hubungan antara uji diagnostik rapid antigen malaria dengan hasil pemeriksaan mikroskopis malaria di RSUD dr. M. Thomsen Nias tahun 2024.
5. Untuk menganalisis uji diagnostik penggunaan rapid antigen malaria di RSUD dr.
M. Thomsen Nias tahun 2024.
6. Untuk menghitung besar probabilitas hasil dari rapid antigen malaria yang positif bila pasien sudah terkonfirmasi positif malaria melalui pemeriksaan mikroskopis.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti
Melalui penelitian ini peneliti dapat memahami peningkatan pengetahuan tentang keefektifan uji diagnostik rapid antigen malaria, dan pengembangan metode diagnosis penyakit malaria yang lebih baik serta berinovasi dalam penggunaan teknologi diagnostik.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Adapun manfaat penelitian ini bagi Masyarakat adalah :
1. Mampu mendeteksi penyakit malari dan pengobatan yang lebih cepat 2. Memberikan pemahaman tentang kesadaran akan bahaya malaria
3. Memberikan informasi yang akurat untuk program pengendalian malaria 1.4.3 Bagi Peneliti lain
Melalui penelitian ini, peneliti lain dapat menggunakanya sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya di masa yang akan datang.
6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konsep Teori Malaria 2.1.1 Definisi Malaria
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dapat ditandai dengan demam, hepatosplenomegali dan anemia. Plasmodium hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Menurut World Health Organization (WHO, 2022), malaria merupakan penyakit yang ditandai dengan demam berkala, menggigil, anemia, dan dalam kasus parah dapat menyebabkan kematian11. Menurut David Edgar, (2022) malaria adalah penyakit yang menyerang sistem peredaran darah manusia akibat infeksi parasit Plasmodium yang berkembang dalam eritrosit12.
Gigitan nyamuk Anopheles biasanya menyerang pada malam hari mulai magrib sampai fajar. Malaria dapat meyerang berbagai usia, biasanya yang lebih beresiko yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil. Gejala klinis malaria biasanya dari ringan hingga berat dan tergantung dari sistem kekebalan tubuh dan bisa menyebabkan kematian. Malaria masih menjadi kejadian luar biasa (KLB) hampir disetiap benua, bukan saja menggangu kesehatan masyarakat tetapi bisa menimbulkan kematian, menurunya produktif kerja, dan dampak ekonomi lainnya termasuk juga menurunnya pariwisata. Peningkatan penularan Malaria sangat berkaitan dengan iklim baik itu musim penghujan dan musim kemarau.
Karena perubahan iklim yang sangat signifikan membuat penyebaran penyakit Malaria sangat cepat 12.
2.1.2 Penyebab Malaria
Penyebab malaria adalah parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Plosmadium SP pada manusia ini menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami reproduksi nonseksual di jaringan hati dan eritrosit.
Reproduksi seksual terjadi di dalam tubuh nyamuk, yaitu pada nyamuk Anopheles SP betina 13. Ada empat spesies Plasmodium SP yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia yaitu :
1. Plasmoduim vivax 2. Plasmodium falciparum 3. Plasmodium malariae 4. Plasmodium ovale
Setiap spesies Plasmodium SP menyebabkan infeksi berbagai jenis malaria.
Plasmodium vivax penyebab malaria vivax atau tertiana, Plasmodium Falciparum menyebabkan falciparum atau malaria tropis, Plasmodium malaria meyebabkan maria malariae atau quartana, dan plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale 13.
2.3.1 Siklus Hidup Plasmodium
Sebelum terjadinya penyakit malaria Plasmodium mempunyai 2 (dua) siklus yaitu pada manusia (siklus aseksual) dikenal sebagai schizogoni dan dalam tubuh nyamuk (siklus seksual) membentuk sporozoit sebagai sporogony14.
8
1. Siklus hidup pada manusia (aseksual)
Pada waktu nyamuk Anopheles infektif menghisap darah manusia, sporozoit yang berada di kelenjar liur nyamuk akan masuk ke 13 dalam peredaran darah selama lebih kurang ½ jam. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000 sampai 30.000 merozoit hati (tergantung spesiesnya). Siklus ini disebut siklus ekso-eritrositer yang berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Pada plamodium vivax dan Plasmodium Ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh)14.
Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8 sampai 30 merozoit, tergantung spesiesnya).
Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya.
Siklus ini disebut siklus eritrositer. Setelah 2 sampai 3 siklus skizogoni darah Sebagian merozoite yang menginfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina)15.
2. Siklus pada nyamuk Anopheles betina (seksual)
Apabila nyamuk betina menghisap darah yang mengandung gametosit di dalam tubuh nyamuk, gamet jantan dan betina melakukan pembuahan melalui zigot. Zigot berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada
dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit. Sporozoit ini bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia. Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam. Masa inkubasi bervariasi tergantung spesies Plasmodium. Masa prepaten adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik 15.
2.1.4 Gejala Klinis Malaria
Berdasarkan gejala klinis penderita malaria ditemukan dengan gejala utama demam, menggigil secara berkala dan sakit kepala, kadang- kadang dengan gejala klinis yang lain seperti: pucat dan terasa lemas karena kekurangan darah dan berkeringat, nafsu makan berkurang, mual-mual kadang-kadang diikuti muntah, sakit kepala yang berat, terus-menerus khususnya pada infeksi plasmodium falciparum, dalam keadaan menahan gejala di atas disertai pembengkakan limpa, pada malaria berat gejala di atas kejang-kejang dan penurunan kesadaran sampai koma16. Pada anak-anak makin muda usia seseorang maka makin tidak jelas gejala klinisnya tetapi yang menonjol adalah mencret (diare) dan pucat karena kekurangan darah (anemia) serta adanya riwayat kunjungan atau berasal dari daerah endemis malaria17.
Gejala demam tergantung pada jenis malaria. Sifat demam adalah akut (paroxysmal), didahului oleh periode dingin (menggigil), diikuti oleh demam tinggi dan kemudian berkeringat banyak. Gejala klasik ini sering terlihat pada pasien non-imun (dari daerah non-endemik). Selain gejala klasik yang disebutkan di atas, gejala lain seperti sakit
10
kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot dapat dialami. Gejala ini sering terlihat pada orang yang tinggal di daerah endemic14.
2.1.5 Diagnosis
Diagnosis malaria harus ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopis atau uji diagnostik rapid antigen malaria.
1. Anamnesis
Pada ananesis sangat penting diperhatiakan :
a. Keluhan : demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal.
b. Riwayat sakit malaria dan riwayat minum obat malaria.
c. Riwayat berkunjung ke daerah endimis malaria.
d. Riwayat tinggal di daerah endimis malaria.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Suhu tubuh aksiler > 37,5 ℃
b. Konjungtiva atau telapak tangan pucat c. Skera ikterik
d. Pembesaran limpa (slenopmegali) e. Pembesaran hati (hepatomegali) 3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan dengan Mikroskop18
Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas/lapangan/rumah sakit/laboratorium klinik untuk menetukan18 :
1) Ada tindaknya parasit malaria (positif atau negatif)
2) Spesies dan stadium plasmodium.
3) Kepadatan parasite
b. Pemeriksaan dengan uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan menggunakan metode imunokromatografi. Sebelum menggunakan rapid antigen perlu dibaca petunjuk penggunaan dan tanggal kadaluarsanya. Pemeriksaan uji diagnostik rapid antigen tidak digunakan untuk mengevaluasi pengobatan.
2.1.6 Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Kejadian Malaria
Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Kejadian malaria dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari lingkungan, individu, maupun vektor penularnya19.
1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap siklus hidup nyamuk Anopheles. Daerah dengan kondisi iklim tropis yang hangat dan lembap menjadi tempat ideal bagi perkembangbiakan nyamuk dan penyebaran malaria. Selain itu, keberadaan genangan air sebagai tempat bertelur nyamuk juga meningkatkan risiko penularan.
2. Faktor Sosial dan Ekonomi
Kemiskinan dan rendahnya akses terhadap fasilitas kesehatan meningkatkan risiko kejadian malaria. Masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah cenderung memiliki hunian yang tidak memadai, seperti rumah tanpa kelambu atau ventilasi yang tidak terlindungi dari nyamuk. Selain itu, kurangnya edukasi mengenai
12
pencegahan malaria juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian malaria.
3. Faktor Individu
Kondisi kesehatan individu, seperti sistem kekebalan tubuh, usia, dan status gizi, turut memengaruhi kerentanan seseorang terhadap infeksi malaria. Anak-anak, ibu hamil, dan individu dengan sistem imun yang lemah lebih rentan terhadap infeksi Plasmodium serta mengalami komplikasi yang lebih parah.
4. Faktor Vektor (Nyamuk Anopheles)
Keberadaan dan perilaku nyamuk Anopheles juga menentukan penyebaran malaria. Beberapa spesies Anopheles lebih efisien dalam menularkan parasit Plasmodium, tergantung pada habitat dan pola menggigitnya. Nyamuk yang lebih aktif menggigit manusia pada malam hari meningkatkan risiko penularan.
5. Faktor Perilaku Manusia
Perilaku masyarakat, seperti kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari tanpa perlindungan, kurangnya penggunaan kelambu, dan tidak adanya tindakan pencegahan seperti penyemprotan insektisida, turut meningkatkan risiko penularan malaria. Mobilitas penduduk ke daerah endemik juga menjadi faktor penyebaran malaria ke wilayah non-endemik19.
Selain itu terdapat beberapa factor lain seperti5: 1. Usia
Usia merupakan salah satu karakteristik utama manusia. Adanya golongan usia ini dapat membedakan tingkat kerentanan manusia terhadap infeksi suatu penyakit termasuk malaria. Usia yang diteliti dalam penelitian ini adalah usia remaja (12–25
tahun), dewasa (26–45 tahun) dan lansia (> 46 tahun). Perbedaan usia tersebut antara lain karena perbedaan daya tahan tubuh, aktivitas, pergaulan, tanggung jawab, peran serta dalam masyarakat. Hal itu menjadikan masing- masing kategori usia memiliki resiko yang berbeda terhadap penyakit malariaa.
2. Perilaku
Perilaku menjadi salah satu faktor peyebab terjadinya Malaria. Berikut beberapa faktor penyebab Malaria menurut Siregar, (2021)5:
a. Kebiasaan tidak memakai kelambu
b. Kebiasan menggantung pakaian didalam ruangan c. Kebiasaan keluar rumah dimalam hari
d. Kebiasaan tidak memakai obat anti nyamuk 3. Pendidikan
Faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan. Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah pula seseorang menerima informasi. Kurangnya pengetahuan dalam pendidikan kesehatan mempengaruhi kurangnya tingkat pemahaman malaria secara benar.
4. Pekerjaan
Pekerjaan yang diteliti adalah pekerjaan yang memiliki resiko besar terkena gigitan nyamuk yang bisa menyebabkan malaria, seperti tukang kayu, petani, ternak, dan berkebun.
Faktor lain yang menajadi penyebab malaria yaitu faktor lingkungan yang merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi agen dan merupakan peluang terpaparnya agen sehingga menyebabkan transmisi penyakit
14
a. Lingkungan Fisik
Tempat nyamuk berkembangbiak berbeda-beda. Daerah perbukitan dengan sawah nonteknis berteras dan saluran air yang ditumbuhi rumput yang menghambat aliran merupakan daerah yang cocok untuk anopheles aconitus, dan anopheles balaba censis cocok pada daerah perbukitan dengan banyak hutan dan perkebunan.
Begitu juga dengan nyamuk lain, sehingga lingkungan tidak hanya berpengaruh pada anopheles tetapi juga berpengaruh pada spesies lain. Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi kejadian malaria17:
1) Suhu
2) Kelembaban 3) Hujan 4) Angin 5) Arus Air
6) Topograi/ Ketinggian 7) Sinar Matahari b. LIngkungan bIologi
Lingkungan biologi dapat mempengaruhi kejadian Malaria melalui perkembangan nyamuk, baik saat menjadi larva, limfa, maupun nyamuk menjadi dewasa.seperti19:
1) Tempat Perindukan Nyamuk 2) Tempat Peristirahatan Nyamuk 3) Keberadaan Ternak
2.1.7 Pencegahan
Upaya pencegahan malaria adalah dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap resiko malaria, mecegah gigitan nyamuk, pengendalian vekor dan komoprofilaksis.
Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan kelambu berinsektisida, repelen, kawat kasa nyamuk dan lain-lain20.
Dalam Maifrizal dan Khatami, (2023), penyakit dapat dicegah dengan melakukan pemotongan rantai penularan dengan cara20:
1. Mencegah gigitan vector
2. Membunuh nyamuk dengan insektisida.
3. Tidur dengan mengunakan kelambu.
4. Menghilangkan kesempatan nyamuk berkembang biak.
5. Kemoprofolaksis yang bertujuan untuk mengurangi resiko terinfeksi malaria, dan apabila terinfeksi gejala klinisnya tidak berat
2.2 Raapid Diagnostic Test pada Malaria 2.2.1 Definisi Diagnostic Test
Rapid Diagnostic Test (RDT) merupakan suatu pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit malaria. Tes ini berdasarkan atas deteksi antigen parasit malaria di dalam darah, dengan menggunakan prinsip immunochromatographic1. Paling sering digunakan adalah dipstick atau tes strip yang dilakukan untuk pengujian monoclonal antibodies yang secara langsung menyerang target antigen dari parasit tersebut. Bidang ilmu ini telah berkembang dengan cepat dan peningkatan teknis secara
16
terus menerus dapat meningkatkan kemampuan RDT dalam menegakkan diagnosa malaria21.
Target antigen pada Rapid Diagnostic Test malaria antara lain21:
1. Histidine-rich protein 2 (HRP 2) adalah suatu protein yang dapat larut dalam air yang diproduksi oleh trophozoites dan gametocytes muda P. falciparum. Protein ini terdapat di dalam sitoplasma parasit dan permukaan membran eritrosit yang terinfeksi. Tes ini diproduksi pertama kali dengan merk Parasight-F dan dikenal dengan nama Immunochromatographic (ICT) Malaria P.falciparum.
2. Parasite lactate dehydrogenase (pLDH) yang diproduksi parasit malaria stadium aseksual maupun seksual. Tes ini telah dipasarkan dengan nama tes OPTIMAL.
Optimal dapat mendeteksi dari 0-200 parasit/µl darah. Monoklonal antibodi pLDH dapat menargetkan semua parasit malaria atau secara khusus dapat membedakan apakah infeksi tersebut akibat parasit P.falciparum atau P.vivax, 3. Aldolase merupakan enzim kunci pada jalur glikolisis parasit malaria dimana
digunakan sebagai target antigen panmalaria yang terdapat pada 4 spesies parasit.
Semua tes diagnostik cepat malaria yang tersedia di pasaran saat ini dapat mendeteksi Plasmodium falciparum yang merupakan penyebab utama malaria berat dan kematian. RDT dapat mendeteksi antigen HRP-II atau enzim pLDH yang terdapat pada P. falciparum. Pada pasien dengan malaria falciparum berat dapat terjadi sekuestrasi parasit sehingga parasit tidak selalu ditemukan di darah perifer. Oleh karena itu diagnosis infeksi P. falciparum dapat terlewatkan oleh pemeriksaan mikroskopik akibat tidak adanya parasit dalam sediaan darah tepi21.
Gambar 2.1 Tes strip untuk mendeteksi target antigen HRP-2 (atas) dan pLDH (bawah)
2.2.2 Prosedur Rapid Diagnostic Test Beserta Interpretasinya
Rapid Diagnostic Test adalah suatu tes yang dapat mendeteksi antigen malaria pada sejumlah kecil darah, biasanya 5–15 µl menggunakan prinsip imunokromatografi dengan antibodi monoklonal untuk mendeteksi antigen parasit dan biasanya dalam bentuk tes strip. Umumnya terdapat tiga jenis tes strip antara lain sample HRP-2, pLDH test sample 1, dan test aldolase3.
Dengan menggunakan pipa kapiler yang tersedia, darah diambil dengan menusuk ujung jari dan pastikan bahwa pipa kapiler telah terisi penuh darah. Kemudian darah diteteskan ke arah tes strip yang pada umumnya terdapat 3 tes strip (Sample HRP-2, pLDH test sample 1, dan test aldolase). Hasil dari Rapid Diagnostic Test tersebut akan tampak setelah kurang lebih 5-20 menit1.
Pada masing-masing tes strip tersebut memiliki interpretasi yang berbeda-beda sesuai dengan jenis tes strip yang digunakan (Sample HRP-2, PLDH test sample 1, dan pLDH test aldolase). Interpretasi hasil dari RDT dapat dilihat dari muncul atau tidaknya
18
warna pada tes strip tersebut. Pada setiap tes yang telah dilakukan warna pada garis kontrol harus muncul, apabila warna pada garis kontrol tidak muncul menandakan bahwa tes tersebut invalid10.
Gambar 2.2 Interpretasi hasil dari Sample HRP-2 test
Gambar 2.3 Interpretasi hasil dari pLDH test sample
Gambar 2.4 Interpretasi hasil dari test aldolase
2.1.3 Keunggulan dan Kelemahan Rapid Diagnostic Test
Rapid Diagnostic Test telah diuji secara ekstensif di dalam situasi klinis berbeda, baik di negara tidak endemik dan endemik. Tes ini dapat mendeteksi empat jenis plasmodium yang menginfeksi manusia, tergantung pada antigen yang menjadi dasarnya.
Keunggulan dari RDT tersendiri adalah konfirmasi dapat dilakukan dengan cepat, pelatihan tenaga lebih mudah, tidak memerlukan pengetahuan dan peralatan khusus, prosedur sederhana, mudah menyimpulkan hasil dengan validitas sama atau bahkan lebih baik dibandingkan pemeriksaan mikroskopis yang merupakan gold standard malaria.
Selain itu, praktisi kesehatan tidak perlu menyiapkan sediaan darah yang relatif lebih sulit, karena seringkali sediaan darah yang disiapkan telah rusak sebelum diperiksa di laboratorium22.
Kelemahan dari RDT ini antara lain biaya untuk melakukan test ini relatif lebih mahal dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis dan sensitivitas pada parasit yang bukan P.falciparum lebih rendah pada RDT khususnya pada HRP-2.
20
Tabel 2.1. Perbandingan antara pemeriksaan laboratorium malaria secara mikroskopis dan RDT22
MIKROSKOPI RDT
KEBUTUHAN
Peralatan Mikroskop Dipstik/tes strip Ketersediaan Membutuhkan pewarnaan Tidak membutuhkan
pewarnaan Latihan Pelatihan khusus dan perlu
pengalama
Pelatihan minimal, bisa dalam waktu singkat
PENAMPILAN Jangka
waktu tes Biasanya minimal 60 menit 15-20 menit Intensitas
Kerja
Tinggi Rendah
Subjektifitas Tinggi Rendah
Ketahanan Sedang Tinggi
TEKNIK SPESIFIK Pendeteksian
parasit 5-10 parasit/ml darah 40-100 parasit/ml darah Pendeteksian
semua jenis Ya Beberapa RDT
Perhitungan mungkin Tidak mungkin
Pembedaan antara P.vivax, P.ovale dan P.malaria
mungkin Tidak mungkin
Ketahanan antigen
Tidak bisa diterapkan Beberapa RDT
2.3 Metode Diagnostik Malaria
Diagnosis malaria merupakan langkah penting dalam pengendalian dan pengobatan penyakit ini. Terdapat beberapa metode diagnostik malaria yang digunakan di berbagai fasilitas kesehatan, antara lain23:
2.3.1 Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis dianggap sebagai standar emas dalam diagnosis malaria. Prosedur ini melibatkan analisis sediaan darah tebal dan tipis yang diwarnai dengan pewarnaan Giemsa. Menurut Aryani, (2023), metode ini memiliki sensitivitas tinggi terutama jika dilakukan oleh tenaga laboratorium yang berpengalaman. Namun, metode ini memerlukan waktu lebih lama dan peralatan laboratorium yang memadai23.
Selain itu, metode mikroskopis dapat memberikan informasi mengenai spesies Plasmodium yang menginfeksi, jumlah parasit dalam darah, serta tahap perkembangan parasit. Namun, kualitas pemeriksaan sangat bergantung pada keterampilan tenaga laboratorium serta kondisi mikroskop yang digunakan, yang dapat menyebabkan variasi dalam hasil pemeriksaan23.
2.3.2 Rapid Diagnostic Test (RDT) Malaria
Rapid Diagnostic Test (RDT) malaria adalah metode diagnostik berbasis deteksi antigen Plasmodium dalam darah dengan prinsip imunokromatografi. RDT sangat bermanfaat dalam kondisi di mana fasilitas laboratorium tidak tersedia atau terbatas.
WHO (2021) menyebutkan bahwa RDT dapat memberikan hasil dalam waktu kurang dari 20 menit, sehingga mempercepat keputusan klinis dalam menangani pasien malaria.
Namun, kekurangan utama dari RDT adalah kemungkinan adanya hasil positif palsu
22
akibat reaksi silang dengan antigen lain, serta sensitivitas yang lebih rendah pada kasus dengan tingkat parasitemia rendah1.
Walaupun RDT memiliki keunggulan dalam kecepatan dan kemudahan penggunaan, beberapa faktor dapat mempengaruhi keakuratan hasil, seperti penyimpanan alat uji pada suhu yang tidak sesuai, kesalahan dalam prosedur pengambilan sampel, dan variasi kualitas produk antar produsen. Oleh karena itu, uji validasi di tingkat lokal diperlukan sebelum RDT diadopsi secara luas dalam sistem kesehatan22.
2.3.3 Polymerase Chain Reaction (PCR)
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah metode molekuler yang digunakan untuk mendeteksi DNA Plasmodium dengan sensitivitas sangat tinggi. PCR memiliki kemampuan mendeteksi parasitemia yang sangat rendah sehingga dapat digunakan dalam penelitian epidemiologi dan diagnosis kasus dengan tingkat infeksi yang sangat rendah.
Langi et., al (2019) menekankan bahwa meskipun PCR memiliki keunggulan dalam akurasi, biaya dan ketersediaan peralatan yang mahal membatasi penggunaannya di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas24.
PCR juga memungkinkan identifikasi spesifik spesies Plasmodium, yang sangat penting dalam pengobatan dan pemantauan resistensi obat. Namun, metode ini memerlukan tenaga ahli yang terlatih serta waktu yang lebih lama dalam analisis sampel dibandingkan dengan metode diagnostik lainnya, sehingga kurang praktis untuk pengujian skala besar di daerah endemis malaria25.
2.4 Evaluasi Akurasi Uji Diagnostik
Dalam penelitian diagnostik, evaluasi akurasi suatu metode sangat penting untuk menentukan efektivitasnya dalam mendiagnosis penyakit tertentu. Evaluasi ini melibatkan beberapa parameter utama, yaitu25:
1. Sensitivitas: Kemampuan tes dalam mengidentifikasi individu yang benar-benar terinfeksi malaria. Semakin tinggi sensitivitas, semakin kecil kemungkinan hasil negatif palsu.
2. Spesifisitas: Kemampuan tes dalam mengidentifikasi individu yang tidak terinfeksi malaria. Spesifisitas yang tinggi berarti lebih sedikit kemungkinan hasil positif palsu.
3. Akurasi: Kombinasi antara sensitivitas dan spesifisitas yang menunjukkan seberapa baik suatu tes dalam membedakan individu yang terinfeksi dan tidak terinfeksi.
4. Nilai Prediktif Positif (NPP): Probabilitas bahwa seseorang dengan hasil tes positif benar-benar terinfeksi malaria.
5. Nilai Prediktif Negatif (NPN): Probabilitas bahwa seseorang dengan hasil tes negatif benar-benar tidak terinfeksi malaria.
Menurut Parikh et al. (2020), nilai diagnostik suatu tes bervariasi tergantung pada populasi yang diuji dan prevalensi malaria di suatu daerah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan uji validasi pada populasi setempat sebelum mengadopsi metode diagnostik tertentu sebagai alat utama dalam diagnosis malaria25.
24
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Hasil Uji Diagnostik
Hasil dari metode diagnostik malaria dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat menyebabkan hasil positif palsu atau negatif palsu. Beberapa faktor yang mempengaruhi akurasi hasil uji diagnostik malaria meliputi23:
2.5.1 Kualitas Sampel Darah
Kesalahan dalam pengambilan dan penyimpanan sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan malaria. Sampel yang tercemar atau mengalami hemolisis dapat mengurangi efektivitas pewarnaan dalam pemeriksaan mikroskopis dan mempengaruhi hasil tes RDT.
Selain itu, waktu pengambilan sampel juga berpengaruh terhadap hasil diagnosis.
Dalam beberapa kasus, parasitemia lebih rendah pada waktu tertentu dalam siklus hidup parasit, yang dapat menyebabkan hasil negatif palsu jika sampel tidak diambil pada saat yang tepat. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor ini, pemilihan metode diagnostik yang tepat dan pemantauan kualitas uji menjadi langkah penting dalam pengelolaan dan pengendalian malaria secara efektif25.
2.5.2 Kondisi Pasien
Pasien dengan tingkat parasitemia yang sangat rendah dapat memberikan hasil negatif palsu terutama pada pemeriksaan mikroskopis dan RDT. Selain itu, individu dengan infeksi campuran (Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax) mungkin hanya terdeteksi salah satu spesiesnya tergantung pada metode diagnostik yang digunakan 26.
Selain tingkat parasitemia, kondisi kesehatan pasien secara umum juga berperan dalam efektivitas metode diagnostik. Misalnya, individu dengan sistem imun yang
terkompromi atau yang telah menerima terapi antimalaria sebelumnya dapat menunjukkan hasil yang tidak akurat pada beberapa jenis pemeriksaan.
2.5.3 Jenis dan Kualitas Alat Diagnostik
Setiap alat diagnostik memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing.
Variasi kualitas antara produk RDT yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan hasil uji. Beberapa RDT lebih sensitif terhadap antigen spesifik Plasmodium falciparum tetapi kurang efektif dalam mendeteksi Plasmodium vivax 17.
Keandalan alat diagnostik juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti suhu penyimpanan, masa kedaluwarsa, dan cara penggunaan oleh tenaga kesehatan. Kesalahan dalam prosedur uji dapat menurunkan akurasi hasil dan menyebabkan salah diagnosis, yang berisiko dalam pengobatan pasien14.
2.5.4 Kesalahan Teknis dan Interpretasi Hasil
Kemampuan tenaga medis atau laboratorium dalam melakukan dan menginterpretasikan hasil tes sangat mempengaruhi akurasi diagnosis malaria. Pelatihan yang kurang dapat menyebabkan kesalahan interpretasi mikroskopis atau pembacaan strip RDT yang tidak akurat21.
26
2.7 Kerangka Teori
Gambar 2.5 Kerangka Teori Konsep Malaria
Penyebab Malaria Gejala Malaria Faktor Penyebab Malaria
Teori Tentang Diagnostik
MIkroskopis Rapid Diagnosis PCR
Evaluasi AKurasi Diagnostik
Sensitivitas Spesifisitas
Akurasi Rapid Antigen Malaria
2.8 Kerangka Konsep
Gambar 2.6 Kerangka Konsep
2.9 Hipotesis
Berikut hipotesis dalam penelitian ini:
𝐻0 = Rapid Diagnostic Test (RDT) tidak memiliki sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang signifikan dalam mendiagnosis malaria di RSUD Thomsen Nias tahun 2025 dibandingkan dengan metode standar (mikroskopis atau PCR)."
𝐻1= Rapid Diagnostic Test (RDT) memiliki sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang signifikan dalam mendiagnosis malaria di RSUD Thomsen Nias tahun 2025 dibandingkan dengan metode standar (mikroskopis atau PCR).
Spesifisitas Sensitivitas
Akurasi Rapid Diagnostic Test (RDT) Malaria
Diagnosis Malaria di RSUD Thomsen Nias
28
DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. World Malaria Report 2022. Geneva: WHO.; 2022.
2. WHO. Malaria Report. Geneva: WHO.; 2022.
3. KemenkesRI. Laporan tahunan Kementerian Kesehatan RI tentang malaria di Indonesia tahun 2022. Jakarta: Kemenkes RI.; 2022.
4. Guntur RD, Pahnael JR, Ginting K, Bria YP, Kusumaningrum D, Islam FA.
Malaria prevalence and its associated factors amongst rural adults: Cross-sectional study in East Nusa Tenggara Province Indonesia. Cross-sectional study East Nusa Tenggara Prov Indones medRxiv. 2024;3(1):1–34.
5. Siregar PA, Saragih ID. Faktor Risiko Malaria Masyarakat Pesisir di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Trop Public Heal J. 2021;1(2):50–7.
6. Fahmi F, Pasaribu AP, Theodora M, Wangdi K. Spatial analysis to evaluate risk of malaria in Northern Sumatera, Indonesia. Malar J [Internet]. 2022;21(1):1–12.
Tersedia pada: https://doi.org/10.1186/s12936-022-04262-y
7. Sari HN, Zein U, Lestari IC, Bestari R. Profil Pasien Malaria Di Tiga Desa Endemik Malaria Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2022. Ibnu Sina J Kedokt dan Kesehat - Fak Kedokt Univ Islam Sumatera Utara. 2024;23(2):227–34.
8. Safi SR, Solikah MP, Putri NE. Hubungan antara faktor usia & jenis kelamin terhadap peningkatan penyakit malaria di wilayah kerja puskesmas yausakor papua selatan. J Ilmu Terap. 2024;5(4):10406–15.
9. Fani A. Malaria dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Jakarta: Penerbit Ilmu Kesehatan.; 2022.
10. Mayer M. Accuracy of rapid diagnostic tests for malaria: Sensitivity and specificity evaluation in endemic and non-endemic regions. Int J Trop Med. 2019;14(3):45–
58.
11. Utami TP, Hasyim H, Kaltsum U, Dwifitri U, Meriwati Y, Yuniwarti Y, et al. Faktor Risiko Penyebab Terjadinya Malaria di Indonesia : Literature Review. J Surya Med. 2022;7(2):96–107.
12. Edgar D. Faktor Kondisi Fisik Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria. J Penelit Perawat Prof [Internet]. 2022;4(2715–6885):150–1. Tersedia pada: http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP
13. Hamdani N, Kartini, Mira M. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria Di Wilyah Kerja PuskesmasWandai Distrik Wandai Kabupaten Intan Jaya Papua. J Promot Prev. 2020;2(2):1–7.
14. Fitriany J, Sabiq A. Malaria. Trop Pediatr A Public Heal Concern Int Proportions.
2018;4(2):83.
15. Asmara IGY. Infeksi Malaria Plasmodium knowlesi pada Manusia. J Penyakit Dalam Indones. 2019;5(4):200–8.
16. Permata E, Eddy Purnama K, Hery Purnomo M. Klasifikasi Jenis dan Fase Parasit Malaria Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Vivax Dalam Sel Darah Merah Menggunakan Support Vector Machine. Setrum Sist KendaliTenaga elektronika telekomunikasi komputer. 2016;1(2):50.
17. Elbands ES, Fatriyadi J, Suharmanto. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria Vivax. J Penelit Perawat Prof [Internet]. 2022;4(2):655–62.
Tersedia pada: http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP
18. Mathison BA, Pritt BS. Update on Malaria Diagnostics and Test Utilizatio. Clin Microbiol. 2017;55(7):2009–17.
19. Aslina E, Raharjo M. Faktor Vektor Dan Host Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria : Literatur Review Vector And Host Factors Associated With Malaria Incidence : A Literature Review. J Heal Sci Res. 2025;2(1):124–32.
20. Maifrizal, Khatami K. Upaya Pencegahan Penyakit Malaria di Kabupaten Pidie Malaria Prevention Efforts in Pidie Regency. J Assyifa’ Ilmu Kesehat [Internet].
30
2023;8(2):41–51. Tersedia pada: https://jurnalassyifa.stikeslhokseumawe.ac.id 21. KemenkesRI. Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria [Internet]. Subdit
Malaria Direktorat P2PTVZ Kemetenterian Kesehatan Republik Indonesia; 2019.
Tersedia pada:
http://www.pdpersi.co.id/kanalpersi/data/elibrary/bukusaku_malaria.pdf
22. Wowor MF, Waworuntu OA, Polii H, Bernadus JBB. Sensitivitas dan Spesifisitas Rapid Diagnostic Test Malaria sebagai Diagostik Laboratorium Malaria di RSUD Noongan. JKK (Jurnal Kedokt Klin [Internet]. 2019;3(2):27–33. Tersedia pada:
https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/jkk/article/view/27288
23. Aryani D. Studi Literatur : Hasil Tes Diagnostik Cepat Malaria Negatif Palsu Dan Positif Palsu. Binawan Student J [Internet]. 2023;5(1):65–9. Tersedia pada:
https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/jkk/article/view/27288
24. Langi E, Bernadus J, Wahongan G. Perbandingan deteksi Plasmodium falciparum dengan metode pemeriksaan mikroskopik dan teknik real-time polymerase chain reaction. J Kesehat. 2019;4(2):12–78.
25. Cambey RM. Perbandingan Deteksi Plasmodium spp. Antara Cara Pemeriksaan Mikroskopik Sediaan Darah Tipis Dengan Teknik Polymerase Chain Reaction. J e-Biomedik. 2014;2(1).
26. Febriani ID, Muhimmah I, Lusiyana N. Identifikasi Stadium Plasmodium Vivax untuk Penegakan Diagnosis Penyakit Malaria dengan Sistem Berbantuan Komputer. Univ Islam Indones. 2016;3(2).