PROPOSAL TUGAS AKHIR
PERILAKU PENDERITA MALARIA DI DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN
TAHUN 2024
EENDRA NIM. PO7233322935
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES TANJUNGPINANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI DIII SANITASI
PROPOSAL TUGAS AKHIR
PERILAKU PENDERITA MALARIA DI DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN
TAHUN 2024
Diajukan sebagai salah satu Syarat untuk memperoleh gelar
Ahli Madya Kesehatan
EENDRA
NIM. PO7233322 935
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES TANJUNGPINANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PROGRAM STUDI DIII SANITASI
TAHUN 2025
2
PERSETUJUAN PEMBIMBING Proposal Tugas Akhir
PERILAKU PENDERITA MALARIA DI DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN TAHUN 2024
Disusun oleh:
EENDRA NIM. PO7233322935
Telah disetujui pembimbing pada tanggal: Februari 2025
Menyetujui,
Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping
RISMAN KURNIA,SKM., MSc
NIP. 19851010 201503 1001 RINALDI DASWITO, MPH
NIP. 19930706 201503 1 002
LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL TUGAS AKHIR
PERILAKU PENDERITA MALARIA DI DESA MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN TAHUN 2024
Disusun oleh:
EENDRA NIM. PO7233322935
Telah dipertahankan dalam Seminar di depan Dewan Penguji
Pada tanggal: 20 Januari 2025
SUSUNAN DEWAN PENGUJI
Ketua Dewan Penguji,
Risman Kurnia (...) Anggota Penguji I,
(...)
Anggota Penguji II,
(...)
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Yang bertanda tangan di bawah ini :
NAMA : EENDRA
N I M : PO7233322935
JUDUL : PERILAKU PENDERITA MALARIA DI DESA
MALANG RAPAT KABUPATEN BINTAN
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa Tugas Akhir ini adalah benar hasil karya saya dan bukan hasil penjiplakan dari hasil karya orang lain.
Demikian pernyataan ini dan apabila dikemudian hari terbutugas akhir dalam Tugas akhir ada unsur penjiplakan, maka saya bersedia mempertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tanjungpinang, Februari 2025 Yang membuat peryataan,
Materai Rp 10.000
EENDRA
NIM. PO7233322935
KATA PENGANTAR
iv
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING...i
LEMBAR PENGESAHAN...ii
KATA PENGANTAR...iv
DAFTAR ISI...v
DAFTAR TABEL...vii
DAFTAR GAMBAR...viii
DAFTAR LAMPIRAN...ix
BAB I... 1
PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...3
1.3 Tujuan Penelitian...3
1.4 Manfaat Penelitian...3
1.5 Ruang Lingkup...4
BAB II...5
TINJAUAN PUSTAKA... 5
2.1 MALARIA...5
2.2 MALARIA...5
2.3 Kerangka Teori... 5
BAB III...6
METODOLOGI PENELITIAN...6
3.1 Kerangka Konsep...6
3.2 Variabel Penelitian...6
3.3 Jenis dan Desain Penelitian...6
3.4 Definisi Operasional... 6
3.5 Lokasi dan Waktu Penelitian... 6
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian...6
3.7 Pengumpulan Data...7
3.8 Pengolahan Data... 7
3.9 Analisa Data...7
DAFTAR PUSTAKA...8
LAMPIRAN...9
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu hamil. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia (Harianty, 2024).
Penyakit Malaria masih menjadi masalah kesehatan yang perlu ditangani di dunia dan Indonesia dikarenakan angka kesakitan yang masih cukup tinggi. Malaria telah menyerang sekitar 209 negara di dunia. World Health Organization (WHO) melaporkan kasus malaria pada tahun 2019-2021 mengalami peningkatan yang terjadi di dunia. Kematian akibat malaria yang terjadi di seluruh dunia pada tahun 2019-2020 meningkat sebesar 12%, dan pada tahun 2021 ada empat negara meyumbang lebih dari setengah angka kematian malaria di dunia, diantaranya Nigeria (31%), Republik Demokratik Kongo (13%), Niger (4%) dan Tanzania (4%), diperkirakan dua pertiga kematian akibat malaria di seluruh dunia terjadi pada kelompok umur anak-anak di bawah usia lima tahun (WHO, 2022).
Malaria masih menjadi penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan secara global, termasuk di Indonesia. Etiologi penyakit ini yaitu parasit protozoa dari genus Plasmodium. Penularan penyakit malaria terjadi karena gigitan nyamuk Anopheles betina yang membawa penyakit tersebut (Kemenkes RI, 2022).
Prevalensi kasus malaria dapat menyebabkan penurunan kualitas sumber daya manusia, kesulitan sosial dan ekonomi, serta mempunyai kapasitas untuk berdampak pada keamanan nasional (Kemenkes RI, 2020). Oleh sebab itu, Sustainable Development Goals (SDGs) menetapkan pengendalian penyakit malaria sebagai salah satu prioritas global untuk memberantas malaria tahun 2030.
Kejadian malaria di Indonesia cenderung meningkat dari tahun 2019-2021.
Indonesia menyumbang kasus terbesar malaria kedua di region Asia setelah India, terutama pada wilayah bagian timur diantaranya Provinsi Papua, Provinsi Papua
2
Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Provinsi Maluku. Angka kematian akibat malaria masih terjadi di beberapa provinsi Indonesia (Kemenkes, 2022)
Secara Nasional angka kesakitan malaria atau Annual Parasite Incidence (API) di Indonesia menunjukkan, ada 415.140 kasus malaria pada 2022. Jumlah tersebut melonjak 36,29% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 304.607 kasus, Lebih lanjut, jumlah kasus positif malaria per 1.000 penduduk atau annual paracite incidence (API) sebesar 1,51 pada 2022. Angka tersebut juga meningkat 0,39 poin dibandingkan setahun sebelumnya yang tercatat 1,12. Dalam Kurun waktu 5 (Lima) Tahun terakhir kasus positif malaria di Indonesia mengalami peningkatan yakni sebanyak 222.084 Kasus (Tahun 2018), 250.644 kasus pada tahun 2019, 254.055 Kasus pada tahun 2020, 304.607 Kasus Tahun 2021, dan pada tahun 2022 terdapat 415.140 kasus (Kemenkes R.I 2022).
Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi yang masih terpadat kasus malaria, beberapa kabupaten yang masih melaporkan kejadian malaria yaitu Kabupaten Bintan, Lingga dan Kepulauan Anambas. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kepulauan Riau tahun 2021, kejadian malaria di Kabupaten Bintan pada tahun 2021 sebanyak 32 kejadian, sebanyak 19 orang berjenis kelamin laki-laki dan 13 orang berjenis kelamin perempuan. Sampai saat ini penyakit malaria masih menjadi permasalahan kesehatan lingkungan di Provinsi Kepulauan Riau (Dinkes, 2021).
Kejadian malaria di Kabupaten Bintan pada tahun 2022 dilaporkan terjadi dibeberapa kecamatan, Kecamatan Teluk Bintan berjumlah 2 kejadian, Kecamatan Teluk Sebung berjumlah 20 kejadian, Kecamatan Bintan Timur berjumlah 1 kejadian dan Kecamatan Gunung Kijang berjumlah 23 kejadian (BPS Kepri, 2023).
Desa Malang Rapat berada di Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan yang mana berdasarkan laporan Puskesmas Kawal melaporkan kejadian malaria pada tahun 2018 sebanyak 3 kejadian, pada tahun 2019 tidak terdapat kejadian, pada tahun 2022 mengalami peningkatan sebanyak 69 kejadian, pada tahun 2021 mengalami penurunan kejadian dengan 8 kejadian dan pada tahun 2022 terdapat 8 kejadian yang terdapat di Desa Malang Rapat. Sampai saat ini Puskesmas Kawal masih berupaya dalam melakukan pengendalian malaria di Desa Malang Rapat yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Kawal tersebut.
3
Perilaku merupakan faktor salah faktor mempengaruhi kejadian malaria, faktor perilaku dapat meningkatkan risiko penularan penyakit malaria adalah dengan melakukan banyak aktivitas diluar yang dapat meningkatkan kontak antara vektor malaria dengan individu (Mayasari et al., 2016). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Humaira et al., (2024) bahwasanya peningkatan kasus malaria di Kota Sabang disebabkan oleh faktor perilaku, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat dalam pencegahan penyakit malaria.
Pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai penyakit malaria dianggap sebagai salah satu faktor penyebab utama penyebaran penyakit ini (Athalia, 2023).
kurangnya kesadaran masyarakat dalam pencegahan malaria menjadi faktor lainnya terjadi peningkatan kasus malaria meningkat (Teuku, 2020). Pengetahuan mereka tidak benar dan menimbulkan persepsi yang salah sehingga menyulitkan dalam pengobatan. Disamping itu masyarakat juga perlu mengetahui cara melakukan pencegahan atau memproteksi diri dan keluarganya untuk menghindari gigitan malaria
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti mengusulkan usulan proposal penelitian dengan judul “Perilaku penderia malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan” yang meneliti terkait pengetahuan dan sikap penderita malaria terhadap kejadian malaria pada di Desa Malang Rapat Kabupaten Binta.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah perilaku penderita malaria terhadap kejadian malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan”?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran perilaku dan kondisi lingkungan rumah penderita malaria tahun di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran kepatuhan minum obat pada penderita malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan.
4
b. Mengetahui gambaran kebiasaan melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari penderita malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan.
c. Mengetahui gambaran kebiasaan menggunakan kelambu penderita malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan.
d. Mengetahui gambaran kebiasaan menggunakan repellent/ obat anti nyamuk penderita malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan.
e. Mengetahui gambaran kebiasaan menggantung pakaian dalam rumah penderita malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan.
f. Mengetahui kondisi lingkungan rumah penderita malaria di Desa Malang 1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis a. Bagi Akademik
Sebagai bahan referensi dan bahan bacaan yang diharapkan bermanfaat dalam menambah khazanah pengetahuan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang
b. Bagi Penulis
Untuk mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang telah diperoleh selama Pendidikan, menambah pengalaman, wawasan dan pengetahuan bagi penulis seta sebagai pengalaman yang berharga dalam rangka menambah wawasan keilmuan diri penulis
1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi Instansi Terkait
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sumber informasi serta acuan pengendalian penyakit malaria di Desa Malang Rapat Kelurahan Kawal Kabupaten Bintan.
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pada penelitian ini adalah penelitian ini dilakukan pada penderita malaria di Desa Malang Rapat terkait perilaku dan kondisi lingkungan tempat tinggal penderita malaria terhadap penyakit malaria.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perilaku 2.1.1 Pengetahuan
Pengetahuan menurut Notoadmodjo (2010) adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (over behavior). Perilaku yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng.
Tingkatan Pengetahuan di dalam domain kognitif, mencakup enam tingkatan, yaitu:
a. Tahu merupakan tingkatan Pengetahuan paling rendah. Tahu dapat mengingatkan atau mengingat kembali suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Ukuran bahwa seseorang itu tahu, adalah dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisi dan menyatakan.
b. Memahami artinya kemampuan untuk menjelaskan dan menginterprestasikan dengan benar tentang objek yang diketahui. Seseorang yang telah paham tentang sesuatu harus dapat menjelaskan, memberikan contoh dan menyimpulkan
c. Penerapan yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata atau dapat menggunakan hukumhukum, rumus, metode dalam situasi nyata.
d. Analisis artinya adalah kemampuan untuk menguraikan objek ke dalam bagian-bagian lebih kecil tetapi masih di dalam suatu struktur objek tersebut dan masih terkait satu sama lain. Ukuran kemampuan adalah ia dapat menggambarkan, membuat bagan, membedakan, memisahkan, membuat bagan proses adopsi perilaku dan dapat membedakan pengertian psikologi dengan fisiologi.
e. Sintesis yaitu suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk
6
kemampuan adalah ia dapat menyusun, meringkaskan, merencanakan dan menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu objek, evaluasi dapat menggunakan kriteria yang telah ada atau disusun sendiri.
2.1.2 Sikap
Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek, baik yang bersifat intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Sikap secara realitas menunjukkan adanya kesesuaian respons terhadap stimulus tertentu. Menurut Notoatmodjo (2010) sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:
a. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.
b. Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang di berikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap menghargai.
d. Bertanggung Jawab, Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
2.2 Malaria
2.1.1 Definisi Malaria
Malaria berasal dari dua kata bahasa Italia yaitu mal artinya buruk dan area artinya udara, yang secara harfiah berarti penyakit yang timbul di daerah dengan udara buruk akibat dari lingkungan yang buruk. Terdapat banyak istilah untuk malaria yaitu paludisme, demam intermitens, demam Roma, demam Chagres, demam rawa, demam tropik, demam pantai dan ague. Malaria adalah penyakit yang menyerang sel darah merah disebabkan oleh parasit plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terifeksi. Penyakit ini
7
banyak di daerah tropis seperti Afrika, Asia Tenggara, Amerika Tengah, dan Selatan (Zohra, 2020).
Menurut Kementerian Kesehatan RI penyakit Malaria merupakan salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasite. Parasite tersebut di tularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Manusia dapat terkena Malaria setelah digigit nyamuk yang terdapat parasite Malaria di dalam tubuh nyamuk.
Sedangkan menurut ahli lain penyakit Malaria merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebabkan oleh infeksi Plasmodium yang dapat menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah, dengan gejal demam, menggigil, anemia, dan pembesaran limpa (Zohra, 2020).
Ada lima jenis Plasmodium yang diketahui menyerang manusia yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium Vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium Malariae dan yang terakhir ditemukan yaitu Plasmodium knowlesi (Jannah et al., 2023).
2.1.2 Penyebab Malaria
Penyakit Malaria disebabkan parasite plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Gigitan nyamuk membuat parasite masuk, mengendap di organ hati dan menginfeksi sel darah merah. Ada 5 spesies malaria yang terkenal yaitu:
a. Plasmodium falciparum, merupakan jenis yang banyak terdapat di Afrika serta menyebabkan gejala parah.
b. Plasmodium vivax, yaitu jenis yang banyak terdapat di daerah tropis Asia.
c. Plasmodium ovale, yaitu jenis ini banyak terdapat di Afrika bagian barat.
d. Plasmodium malariae, merupakan jenis yang banyak terdapat di Afrika dan berdiam di aliran darah tanpa menimbulkan gejala apapun untuk beberapa tahun.
e. Plasmodium knowlesi, adalah parasite dari genus plasmodium yang secara alami menginfeksi monyet ekor panjang.
8
Penularan penyakit malaria sangat terkait dengan iklim yang bersifat lokal spesifik. Pergantian musim berpengaruh baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap vektor pembawa penyakit. Kondisi lingkungan berdampak langsung terhadap reproduksi vektor, perkembangan, umur relatif populasi dan perkembangan parasit dalam tubuh vektor, serta pergantian vegetasi dan pola tanam pertanian juga 12 mempengaruhi kepadatan populasi vektor (Dessy Triana, Elvira Rosana, 2017)
Penyakit Malaria juga dapat dibedakan berdasarkan cara penularannya, yaitu alamiah dan non alamiah (Apriliani, 2021).
1. Penularan Alamiah
Penularan alamiah adalah penularan melalui gigitan nyamuk anopheles yang mengandung parasit malaria (plasmodium) secara langsung menggigit manusia.
2. Penularan Non Alamiah
Penularan non alamiah adalah penyakit malaria yang ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui:
a. Malaria Kongenital (malaria bawaan)
Malaria kongenital adalah malaria pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria. Penularan terjadi karena kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta) sehingga tidak ada penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya. Penularan terjadi melalui tali pusat atau placenta.
b. Malaria mekanik
Malaria mekanik adalah malaria yang penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik. Penularan melalui jarum suntik yang tidak steril lagi.
c. Penularan secara oral
Penularan secara oral, pernah dibuktikan pada ayam (Plasmodium gallanasium), burung darah (Plasmodium 13 relection), dan monyet (Plasmodium knowlesi) yang akhir-akhir ini dilaporkan menginfeksi manusia.
9
2.1.4 Gejala Malaria
Gejala utama penyakit malaria adalah demam, menggigil dan disertai dengan sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot maupun pegal-pegal. Gejala- gejala yang muncul bervariasi berdasarkan dari daya tahan tubuh penderita serta gejala spesifik asal parasit. Malaria menjadi penyebab infeksi yang diakibatkan oleh Plasmodium memiliki gejala utama seperti demam. Demam yang dialami dianggap berhubungan dengan proses skizogoni (pecahnya merozoit atau skizon), pengaruh GPI (glycosyl phosphatidylinositol) atau terbentuknya sitokin atau toksin lainnya.
Beberapa penderita, tidak merasakan demam (misalnya pada daerah hiperendemik) banyak orang dengan parasitemia tidak bergejala. Gambaran karakteristik dari malaria yaitu demam periodic, anemia dan splenomegali (Julia F and Ahmad S, 2018).
Di daerah yang jarang didapatkan penyakit malaria, gejala tersebut biasanya dikaitkan dengan penyakit influenza, dingin, maupun infeksi atau peradangan lainnya, terutama apabila tidak terdapat gejala infeksi malaria. Akan tetapi penduduk yang berada di daerah endemis malaria, kerap mengenal gejala- gejala malaria tanpa menunggu diagnosa. Gejala yang dapat dilihat secara fisik yaitu demam tinggi, berkeringat, badan lemah serta membesarnya limpa (Sutarto and B 2018).
2.1.5 Faktor-Faktor Penyebab Malaria
Menurut (Purwanto et al., 2022) malaria terbagi menjadi beberapa faktor, yaitu:
1. Kerapatan dinding rumah dengan kejadian malaria
2. Keberadaan plafon/langit langit rumah dengan kejadian malaria 3. Keberadaan kassa pada ventilasi rumah dengan kejadian malaria 4. Keberadaan breeding place dengan kejadian malaria
5. Keberadaan resting place dengan kejadian malaria 6. Tingkat pengetahuan dengan kejadian malaria 7. Sikap dengan kejadian malaria
10
2.1.6 Pencegahan Malaria
Terdapat tiga komponen penyebaran penyakit malaria yang saling terkaitan yaitu host, agent dan environment. Komponen ini adalah rantai penularan penyakit malaria, sehingga upaya pencegahan dan pengendalian malaria melalui pemutusan mata rantai penularan sangat efektif (Sutarto and B 2018). Penanggulangan Malaria adalah segala upaya kesehatan yang mengutamakan aspek promotif dan preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif untuk melindungi kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan atau kematian, memutuskan penularan, mencegah resistensi obat dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat Malaria (Permenkes 22, 2022).
Upaya pencegahan untuk membunuh jentik dan nyamuk dewasa, yaitu:
1. Menyemprotkan insektisida fogging di sekitar rumah terkhusus pada daerah endemis malaria setidaknya dua kali dalam setahun dengan jangka waktu enam bulan.
2. Mengurangi kebiasaan masyarakat yang terbiasa berada di luar rumah hingga larut malam adalah salah satu faktor risiko penyebab penyakit malaria. Aktifitas nyamuk Anopheles yang berlangsung sepanjang malam, mulai dari pukul 18.30–22.00 WIB.
3. Salah satu metode untuk mencegah gigitan nyamuk telah dilakukan sejak jaman dahulu yaitu dengan menggunakan kelambu. Hal tersebut hingga sekarang masih ada ditemukan di pelosok kampung, akan tetapi penggunaan kelambu di daerah perkotaan kini jarang ditemui. Masyarakat kota beranggapan bahwa penggunaan kelambu merupakan perilaku primitif, padahal sebenarnya dengan menggunakan kelambu dapat mencegah gigitan nyamuk.
4. Pencegahan Malaria lainnya yaitu dengan pemakaian obat anti nyamuk. Cara ini sebagai alternatif untuk orang yang tidak ingin menggunakan kelambu secara rutin. Obat anti nyamuk didapatkan dengan harga yang relatif murah serta mudah didapatkan dipasaran.
5. Daerah tropis dapat menjadi ancaman untuk tempat perkembangbiakan nyamuk serta serangga, oleh sebab itu masyarakat yang berada di daerah tropis dan endemis Malaria sebaiknya melakukan pencegahan yaitu dengan
11
mengguakan pakaian dan celana panjang agar terhindar dari gigitan nyamuk, termasuk nyamuk Anopheles. (Astin, Alim, and Zainuddin 2020). Serta tidak memiliki kebiasaan menggantung pakaian (Rattu 2015).
6. Pemasangan kawat kasa dapat diterapkan untuk menghindari gigitan nyamuk selain dengan penggunaan kelambu ketika tidur (mosquito coil) (Sutarto and B 2018).
2.1.7 2.3
12
2.4 Kerangka Teori
= Diteliti = Tidak Diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Teori Karakteristik Penderita Malaria :
1. Usia
2. Jenis kelamin 3. Pendidikan 4. Pekerjaan
Perilaku manusia :
1. Kepatuhan minum obat 2. Kebiasaan keluar rumah
malam hari
3. Kebiasaan memakai kelambu 4. Kebiasaan memakai obat anti
nyamuk
5. Kebiasaan menggantung pakaian
Lingkungan:
1. Ventilasi di pasang kawat kasa 2. Keberadaan tempat perindukan
Anopheles
3. Jenis tempat perindukan: parit, selokan dan lain-lain
4. Semak-semak di sekitar rumah
Pelayanan Kesehatan
Kejadian Malaria
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:
Sub Variabel Variabel
Gambar 3.1 kerangka Konsep
3.2 Variabel Penelitian
Peneltian ini menggunakan dua variabel yang terdiri dari variabel dan sub variabel dengan uraian sebagai berikut:
a. Variabel adalah perilaku penderita malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan
b. Sub variabel adalah gambaran kebiasaan melakukan aktivitas diluar rumah pada malam hari, kebiasaan menggunakan kelambu pada malam hari, kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk, kebiasaan mengantung pakaian dirumah dan keadaan lingkungan rumah penderita malaria di desa Malang Rapat.
Perilaku
1. Kepatuhan minum obat
2. Kebiasaan keluar rumah malam hari
3. Kebiasaan memakai kelambu 4. Kebiasaan memakai obat anti
nyamuk
5. Kebiasaan menggantung pakaian didalam rumah
Lingkungan
6. Ventilasi di pasang kawat kasa 7. Keberadaan tempat perindukan
Anopheles
8. Jenis tempat perindukan: parit, selokan dan lain-lain
9. Semak-semak di sekitar rumah
Kejadian Malaria
14
3.3 Jenis dan Desain Penelitian a. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional yaitu untuk melihat gambaran perilaku penderita malaria di Desa Malang Rapat. Metode yang digunakan adalah wawancara, serta kuesioner.
b. Desain Penelitian
Desain penelitian ini ialah berupa deskriptif kuantitatif mengenai gambaran perilaku penderita malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan
3.4 Definisi Operasional Variabel Defisini Variabel
Operasional
Cara Pengukuran
Hasil Ukur/
Kategori
Skala Variabel
Kebiasaan melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari
Kebiasaan penderita malaria melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari yang
berpotensi memperbesar
jumlah gigitan nyamuk
kuesioner 1. Ya : apabila keluar rumah pada pukul 16.00-04.00
2. Tidak : apabila tidak pernah keluar pada malam hari
Nominal
Kebiasaan menggunakan kelambu pada malam hari
Kebiasaan penderita malaria menggunakan kelambu pada saat tidur guna mengurangi
kontak/gigitan nyamuk
Anopheles
kuesioner 1. Ya : Apabila
menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari
2. Tidak : apabila tidak menggunakan kelambu pada saat tidur malan
Nominal
Kebiasaan menggunakan repellent/obat anti nyamuk
Kebiasaan penderita malaria menggunakan obat anti nyamuk saat istirahat pada malam hari
kuesioner 1. Ya : Apabila menggunakan repellent/obat anti nyamuk pada saat istirahat malam hari 2. Tidak : apabila tidak
menggunakan repellent/obat anti nyamuk pada saat istirahat malam hari
Nominal
Kebiasaan menggantung pakaian dirumah
Kebiasaan penderita malaria menggantung kain/pakaian di dalam rumah sehingga menjadi tempat peristirahatan nyamuk
kuesioner 1. Ya : Apabila terdapat beberapa pakaian bergelantungan dalam rumah
2. Tidak : Apabila tidak terdapat pakiaan bergelantung dalam
Nominal
15
Variabel Defisini Variabel Operasional
Cara Pengukuran
Hasil Ukur/
Kategori
Skala rumah
Ventilasi di pasang kawat kasa
Lubang udara pada rumah diberikan kawat kasa
Lembar observasi
1. Ya : Apabila terdapat kasa di ventilasi 2. Tidak : Jika tidak
terdapat kasa pada ventilasi
Nominal
Keberadaan tempat perindukan
Anopheles
Ada dan tidaknya tempat perkembangbiakan nyamuk anopheles penyebab penyakit malaria.
Lembar observasi
1. Ya : Jika terdapat tempat perindukan 2. Tidak : Jika tidak
terdapat tempat perindukan
Nominal
Jenis tempat perindukan: parit, selokan dan lain- lain
Lokasi yang menjadi tempat perindukan nyamuk anopheles penyebab penyakit malaria seperti parit, selokan, genangan air
Lembar observasi
1. Parit 2. Selokan 3. Genangan air
Nominal
Semak-semak di sekitar rumah
Terdapat semak-semak seperti tumbuhan liar yang banyak di sekitar rumah penderita malaria
Lembar observasi
1. Ya : jika terdapat semak
2. Tidak : jika tidak terdapat semak
Nominal
3.5 Lokasi dan Waktu Penelitian a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan b. Waktu Penelitian
Uraian Kegiatan 1 2 3 4 5 6
Konsultasi Judul Penelitian Survei Lokasi Penelitian Penulisan Proposal Seminar Proposal Pelaksanaan Penelitian Pengolahan data, analisis data dan penyusunan laporan Seminar Hasil
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dengan gejala klinis malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan pada tahun 2018-2022.
b. Sampel Penelitian
16
Sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling yang dimana peneliti mengambil semua dari jumlah populasi yang ada berdasarkan data pasien dengan gejala klinis malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan pada tahun 2018-2022.
3.7 Sumber Data a. Data Primer
Data primer merupakan data yang di peroleh dari pasien dengan gejala klinis malaria di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan Tahun 2018-2022.
b. Data Sekunder
Data sekunder kejadian malaria didapatkan dari Puskesmas Kawal.
3.8 Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan pengguanaan lembar kuesioner
3.9 Pengolahan Data
Proses pengolahan data ini melalui tahap-tahap berikut:
a. Editing (edit)
Editing merupakan memeriksa data yang terkumpul pada saat observasi.
b. Coding (code)
Coding adalah pemberian kode-kode tertentu untuk memudahkan dalam pemberian angka agar memudahkan tahap pengolahan data.
c. Entry Data
Memasukkan data hasil observasi dan pemeriksaan secara langsung di lapangan yang telah di edit.
d. Tabulasi data
Yaitu mengelompokkan data ke dalam tabel yang dibuat sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.
3.10 Analisa Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat yaitu untuk menggambarkan atau mendeskripsikan setiap variabel penelitian. Pada penelitian ini variabel yang akan diteliti ialah pengetahuan sikap penderita malaria,
17
Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan PSPP dan disajikan dalam bentuk narasi dan table distribusi frekuensi.
DAFTAR PUSTAKA
Jannah, I. F., Shari, A., Sari, M. P., Radhina, A., & Arianto, S. (2023). Penggunaan Long-Lasting Insecticide-Treated Bednets (LLINS) Modifikasi Terbaru (Olyset Duo) Dalam Pengendalian Malaria. Indonesian Journal of Health Science, 3(2a), 271–280. https://doi.org/10.54957/ijhs.v3i2a.490
Purwanto et al. (2022). Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Malaria Di Wilayah Distrik Jayapura Selatan Kota Jayapura. Jurnal Kesehatan
Lingkungan Indonesia, 21(3), 358–365.
https://doi.org/10.14710/jkli.21.3.358-365
LAMPIRAN