• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aksesbilitas dan Dampak Kredit bagi Usahatani Cabai Merah di Kabupaten Kulon Progo

N/A
N/A
Muh Taufik Saputra

Academic year: 2023

Membagikan "Aksesbilitas dan Dampak Kredit bagi Usahatani Cabai Merah di Kabupaten Kulon Progo"

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)

i

Proposal Penelitian Tesis

Aksesbilitas dan Dampak Kredit bagi Usahatani Cabai Merah di Kabupaten Kulon Progo

Diajukan oleh Andre Semury Fanggidae

20/471449/PPN/0467

Program Studi Magister Manajemen Agribisnis

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA 2022

(2)

Proposal Penelitian

Aksesbilitas dan Dampak Kredit bagi Usahatani Cabai Merah di Kabupaten Kulon Progo

diajukan oleh Andre Semury Fanggidae (20/471449/PPN/04697)

telah disetujui oleh

Pembimbing Utama Tanda Tangan Tanggal

Prof. Dr. Mashyuri ……… ………

Pembimbing Pendamping

Dr. Jamhari, S.P. M.P. ……… ………

Penguji

Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P. ……… ………

Mengetahui,

Ketua Program Magister Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian

Universitas Gadjah Mada Tanggal …

Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P.

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Judul...i

Halaman Pengesahan...ii

DAFTAR ISI ... iii

Halaman Judul ... iii

Halaman Pengesahan ... iii

I.Pendahuluan ... 1

1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 6

1.3Tujuan ... 6

1.4Manfaat Penelitian ... 7

II.TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI ... 8

2.1Tinjauan Pustaka ... 8

2.1.1Penelitian Terdahulu ... 8

2.1.2Usahatani ... 12

2.1.3Morfologi Tanaman Cabai Merah ... 12

2.1.4Syarat pertumbuhan tanaman cabai merah ... 14

2.1.5Kredit ... 14

2.1.6Pentingnya Kredit bagi Usahatani ... 16

2.1.7Akses petani terhadap kredit ... 17

2.1.8Dampak kredit dalam usahatani ... 19

2.2.Landasan Teori ... 21

2.2.1Fungsi Produksi ... 21

2.2.2Biaya Produksi ... 24

2.2.3Teori Pendapatan ... 24

2.3Kerangka Pemikiran ... 26

2.4Hipotesis ... 27

III.METODE PENELITIAN ... 28

3.1.Metode Dasar ... 28

3.2.Jenis dan Sumber Data ... 28

3.3.Metode Sampling dan Waktu Pelaksanaan ... 28

3.4.Metode Pengumpulan Data ... 29

3.5.Asumsi dan Batasan Masalah ... 30

3.6.Definisi Variabel Penelitian ... 30

3.7.Analisis data ... 31

(4)

3.7.1Kontribusi kredit dalam memenuhi biaya usahatani cabai merah ... 34

3.7.2Akses Kredit Petani Cabai Merah ... 34

3.7.3Dampak kredit terhadap produksi usahatani cabai merah ... 36

3.7.4Dampak kredit terhadap pendapatan usahatani cabai merah ... 37

Daftar Pustaka ... 39

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Luas Panen Sayuran Potensi Tahun 2019-2020...4

Gambar 1.2. Produksi Sayuran Potensi tahun 2019-2020...4

Gambar 1.3. Produksi Sayuran Potensi menurut Kabupaten tahun 2020...5

Gambar 2.1 Kurva Fungsi Produksi...21

Gambar 2.2 Tiga Tahap Fungsi Produksi Neoklasik...22

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran...26

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Posisi pinjaman/kredit kodal kerja dan valas yang diberikan bank umum menurut lapangan usaha tahun 2019-2020...2 Tabel 1.2. Posisi pinjaman/kredit kodal kerja dan valas yang diberikan BPR menurut lapangan usaha tahun 2019-2020...2

(7)

1

I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, pertanian merupakan sektor yang berperan strategis bagi perekonomian negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peran sektor di Indonesia sebagai penyedia bahan makanan bagi penduduk di Indonesia dan sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Sasaran utama pembangunan pertanian dewasa ini adalah peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani, karena itu kegiatan disektor pertanian diusahakan agar dapat berjalan lancar dengan peningkatan produk pangan baik melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pertanian yang diharapakan dapat memperbaiki taraf hidup petani, memperluas lapangan pekerjaan bagi golongan masyarakat yang masih tergantung pada sektor pertanian. Namun, pada kenyataannya sektor pertanian Indonesia kini membutuhkan perhatian dari pemerintah agar dapat lebih berkembang dan mampu bersaing secara global karena memiliki pengaruh yang besar bagi perekonomian negara. Kendala dalam sektor pertanian di Indonesia salah satunya adalah keterbatasan modal bagi pelaku usaha di bidang pertanian untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan taraf hidupnya.

Peran sektor pertanian tentu akan lebih optimal jika didukung dengan sistem perencanaan yang terpadu, berkelanjutan dan diimbangi dengan penyediaan anggaran yang memadai. Untuk memperkuat posisi sektor pertanian, maka ketersediaan modal bagi pelaku usaha pertanian merupakan sebuah keharusan. Fungsi modal dalam tataran tingkat mikro (usahatani), tidak hanya sebagai salah satu faktor produksi, tetapi juga berperan dalam peningkatan kapasitas petani dalam mengadopsi teknologi seperti benih bermutu, pupuk berimbang, ataupun teknologi pasca panen. Pada era teknologi pertanian yang semakin modern, pengerahan modal yang intensif baik untuk alat-alat pertanian maupun sarana produksi mungkin akan menjadi suatu keharusan. Bagi pelaku pertanian (terutama petani), situasi tersebut dapat kembali memunculkan masalah karena sebagaian besar petani tidak sanggup mendanai usahatani yang padat modal dengan dana sendiri (Syukur et al., 2000).

(8)

Tabel 1.1 Posisi pinjaman/kredit kodal kerja dan valas yang diberikan bank umum menurut lapangan usaha tahun 2019-2020 (Mliliar Rp)

No Jenis Lapangan Usaha 2019 2020

1 Pertanian, Kehutanan & Perikanan 80.731 103.155

2 Pertambangan dan Penggalian 25.284 31.948

3 Industri Pengolahan 221.839 197.864

4 Pengadaan Listrik dan Gas 7.003 6.600

5 Pengadaan air, Pengelolaan sampah, limbah 772 619 dan daur ulang

6 Konstruksi 95.054 104.257

7 Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi 380.293 379.616 mobil dan motor

8 Transportasi dan Pergudangan 22.795 23.452

9 Penyediaan Akomodasi dan makan minum 11.709 17.870

10 Informasi dan komunikasi 18.718 17.109

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 42.805 32.289

12 Real Estate 18.903 19.680

14 Jasa Perusahaan 18.979 15.292

15 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan 76 52 Jaminan Sosial wajib

16 Jasa Pendidikan 510 526

17 Jasa Kesehatan dan Kegiatan lainnya 8.225 3.274 Sumber: Bank Indonesia, 2021

Penyaluran kredit oleh bank umum atau bank persero yang terbesar masih berada pada sektor perdagangan, sedangkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan berada diposisi ketiga setelah sektor industri pengolahan. Namun, dari tahun 2019 – 2020 penyaluran kredit untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mengalami peningkatan. Penyaluran kredit oleh bank umum masih tinggi fokusnya pada sektor perdagangan dan industri pengolahan, hal ini karena sektor pertanian dinilai memiliki risiko yang tinggi dan memiliki ketidakpastian sehingga hal ini menjadi pertimbangan oleh pemerintah untuk menyalurkan kredit pada sektor pertanian pada segi proporsi kredit yang diberikan.

Tabel 1.2 Posisi pinjaman/kredit kodal kerja dan valas yang diberikan BPR menurut lapangan usaha tahun 2019-2020 (Mliliar Rp)

No Jenis Lapangan Usaha 2019 2020

1 Pertanian, Kehutanan & Perikanan 8.053 7.771

2 Pertambangan dan Penggalian 642 803

3 Industri Pengolahan 7.591 8.586

4 Pengadaan Listrik dan Gas 232 174

5 Pengadaan air, Pengelolaan sampah, limbah 153 139 dan daur ulang

6 Konstruksi 22.564 20.140

(9)

7 Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi 28.496 30.025 mobil dan motor

8 Transportasi dan Pergudangan 516 1.532

9 Penyediaan Akomodasi dan makan minum 909 950

10 Informasi dan komunikasi 312 363

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 10.763 9.425

12 Real Estate 957 1.604

14 Jasa Perusahaan 3.566 1.585

15 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan 1.534 1.897 Jaminan Sosial wajib

16 Jasa Pendidikan 249 169

17 Jasa Kesehatan dan Kegiatan lainnya 666 471 Sumber: Bank Indonesia, 2021

Kontribusi kategori pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku tahun 2020 sebesar 13,70% atau naik 0,99% dibanding tahun sebelumnya. Urutan kontribusi terbesar terhadap PDB tahun 2020 pada sub kategori pertanian yaitu tanaman perkebunan (3,63%), tanaman pangan (3,07%), perikanan (2,80%), peternakan (1,69%), tanaman hortikultura (1,62%) kehutanan

(0,70%), jasa pertanian dan perburuan (0,20%) (BPS, 2020).

Tanaman hortikultura memiliki peran yang strategis dalam pembangunan sektor pertanian. Tidak hanya sebagai bahan pangan, komoditas hortikultura juga mempunyai kontribusi kepada aspek kesehatan, estetika dan lingkungan.

Komoditas hortikultura yang mencakup sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan obat-obatan merupakan salah satu komoditas unggulan sektor pertanian karena dapat memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap devisa negara, bahkan beberapa komoditas seperti bawang merah, cabe merah, dan cabai rawit merupakan komoditas yang mempengaruhi angka inflasi. Sektor Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai peranan yang sangat penting. Sektor ini mampu menyumbang sekitar 10,19 persen untuk produk domestik regional bruto atas dasar harga berlaku tahun 2020.

Jenis tanaman yang cukup potensial di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah cabai merah, bawang merah, cabe rawit, dan kacang panjang. Keempat jenis tanaman tersebut dapat ditemui di semua Kabupaten kecuali Kota Yogyakarta. Potensi terbesar untuk tanaman cabai besar dengan luas area panen seluas 4.587 hektar pada tahun 2020. Adapun untuk tanaman bawang merah seluas 1891 hektar, cabe rawit 2006 hektar, dan kacang panjang seluas 416 hektar pada tahun 2020.

(10)

Luas Panen Sayuran

5000 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0

Bawang merah Cabe Besar Cabe Rawit Kacang Panjang 20192020

20192020

B A W A N G M E R A HC A B E B E S A R C A B E R A W I TK A C A N G P A N J A N G

Sumber: Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta 2020 Gambar 1.1 Luas Panen Sayuran Potensi Tahun 2019-2020 (hektar)

(BPS, 2020)

Kabupaten Kulon Progo dan Sleman merupakan wilayah yang menghasilkan berbagai macam jenis sayur-sayuran semusim. Untuk tanaman bawang merah di DIY produksinya sebesar 188.105 kwintal, cabe besar sebesar

445.210 kwintal, cabe rawit sebesar 150.523 kwintal dan kacang panjang 39.625 kwintal pada tahun 2020.

Sumber: Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta 2020 Gambar 1.2 Produksi Sayuran Potensi tahun 2019-2020 (Kwintal)

(BPS,2020)

169985 188.105 329326 445.210 100398 150.523 23274 39.625

(11)

Sumber: Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta 2020 Gambar 1.3 Produksi Sayuran Potensi menurut Kabupaten

tahun 2020 (kwintal) (BPS,2020)

Keterbatasan modal bagi petani di Indonesia ini merupakan penghambat terbesar bagi petani untuk mengembangkan usahanya khususnya usahatani hortikultura sehingga usaha agribisnis yang dijalankan tidak dapat berkembang.

Peran pemerintah dan lembaga penyedia modal bagi pelaku usahatani sangat dibutuhkan agar dapat mengembangkan skala usahanya menjadi lebih besar.

Bantuan modal untuk petani dari pemerintah, diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dalam bidang usahatani di Indonesia melalui sistem kredit yang diberikan, baik kredit jangka panjang maupun jangka pendek (Anggraeni, 2013).

Bagi petani, kredit merupakan salah satu sarana untuk melangsungkan kegiatan produksi di saat kebutuhan modal usahatani tidak dapat dipenuhi sendiri oleh rumah tangga petani dan kredit juga diperlukan untuk keperluan konsumsi di saat penghasilan yang diharapkan belum atau tidak didapatkan. Jadi, permasalan kredit tidak hanya berkaitan dengan karakteristik rumah tangga sebagai unit produksi, tetapi berkaitan juga dengan karakteristik rumah tangga sebagai unit konsumsi (konsumen). Oleh sebab itu, mempelajari pengaruh kredit dilihat dari sisi rumah tangga secara utuh yang menggabungkan secara simultan sisi produksi dan sisi konsumsi adalah sangat penting. Pemikiran ini berlandaskan kepada karakteristik rumah tangga petani sebagai unit ekonomi yaitu sebagai unit produksi sekaligus unit konsumsi.

(12)

1.2 Rumusan Masalah

Pembiayaan pertanian merupakan salah satu komponen penting dalam upaya pengembangan sektor pertanian. Pertanian tercatat sebagai sektor yang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PDB, yaitu rata-rata sebesar 25,41% pada triwulan IV tahun 2021 (BPS, 2021). Namun, porsi kredit untuk sektor pertanian di Indonesia masih kecil dibandingkan sektor lainnya, yaitu sebesar 7,10% dari total kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan (Statistik Perbankan Indonesia – OJK Maret 2021). Rendahnya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian antara lain disebabkan karena usaha di sektor pertanian mempunyai risiko yang tinggi dan perputaran uang yang lambat sehingga pihak pemerintah cenderung lebih memperhatikan sektor non pertanian.

Adanya masalah permodalan dan adanya lembaga pemberian Kredit bagi petani di Kabupaten Kulon Progo, serta adanya perbedaan pendapat tentang pengaruh kredit terhadap hasil produksi dan pendapatan, maka diperlukan adanya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh kredit terhadap produksi dan pendapatan usahatani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo. Berdasarkan uraian diatas, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Berapa besar kontribusi kredit dalam memenuhi total biaya produksi usahatani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo ?

2. Bagaimana aksesbilitas petani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo terhadap kredit ?

3. Bagaimana dampak kredit bagi produksi usahatani merah merah di Kabupaten Kulon Progo?

4. Bagaimana dampak kredit bagi pendapatan cabai merah di Kabupaten Kulon Progo ?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui besar kontribusi kredit dalam memenuhi total biaya produksi usahatani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

2. Menganalisis aksesbilitas petani cabai merah terhadap kredit di Kabupaten Kulon Progo.

(13)

3. Mengetahui dampak kredit bagi produksi usahatani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

4. Mengetahui dampak kredit bagi pendapatan usahatani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat antara lain:

1. Sebagai acuan serta memberikan informasi, sumbangan pemikiran dan referensi pada bidang perkreditan bagi usahatani serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani.

2. Bagi petani, diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat produksi dan pendapatan usahatani mereka dengan adanya tambahan modal dari kredit untuk usahatani.

3. Bagi pemerintah atau pihak-pihak terkait, diharapkan mampu memberikan informasi dan rumusan yang tepat dalam penyaluran berbagai kredit usaha khususnya pada sektor pertanian

4. Bagi penulis, penelitian ini dapat menjadi tambahan wawasan dan pengetahuan, sekaligus menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama menjalani proses perkuliahan.

(14)

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Penelitian Terdahulu

Menurut penelitian Ginting (2020) dengan judul Analisis Pengaruh Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Faktor lain Terhadap Produksi Usahatani Padi di Kecamatan Kedungkandang, Malang, Jawa Timur dengan hasil penelitiannya menyatakan bahwa persentase jumlah KUR terhadap total biaya per hektar usahatani padi di Kecamatan Kedungkandang ialah sebesar 148 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan jumlah pinjaman KUR oleh petani di lokasi penelitian melebihi total biaya usahatani padi dalam satu musim panen.

Penggunaan KUR yang digunakan oleh petani dilokasi penelitian tidak hanya untuk kebutuhan usahatani padi, melainkan untuk kebutuhan selain usahatani padi, diatantaranya berupa konsumtif, pendidikan, dan lain-lain. Hal ini seharusnya tidak terjadi, karena tidak sesuai dengan tujuan peminjaman KUR yaitu sebagai tambahan modal usahatani padi. Jumlah KUR terlalu besar untuk total biaya usahatani sebesar Rp 7.788.376,00/hektar, sedangkan jumlah pinjaman KUR sebesar Rp 11.516.908,21/hektar.

Anggraeni, dkk (2013) melakukan penelitian tentang akses UMKM terhadap pembiayaan mikro syariah dan dampaknya terhadap perkembangan usaha: kasus BMT Tadbiirul Ummah, Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk akses UMKM terhadap pembiayaan syariah BMT dan dampaknya terhadap perkembangan usaha UMKM. Alat analisis yang digunakan adalah metode regresi logistik model logit untuk menganalisis akses UMKM terhadap pembiayaan syariah BMT terhadap perkembangan usaha UMKM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 4 faktor yang mempengaruhi akses UMKM terhadap pembiayaan BMT, yaitu jenis usaha, umur usaha, omset usaha dan akses simpanan. Dimana faktor akses simpanan berpengaruh nyata pada taraf 5 persen dan faktor jenis usaha, umur usaha dan omset usaha berpengaruh nyata pada taraf 10 persen. Sedangkan UMKM yang mengakses pembiayaan syariah yang diberikan oleh BMT memiliki dampak positif terhadap perkembangan keuntungan usaha sektor perdagangan, jasa dan industri makanan minuman. Dimana sektor jasa memiliki perkembangan usaha paling besar.

(15)

Penelitian Wati (2015) mengenai akses dan dampak kredit mikro bagi usahatani padi organik di Kabupaten Bogor. Alat analisis yang digunakan adalah Heckman Selection Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 faktor yang menentukan akses petani terhadap kredit mikro yaitu usia, jumlah anggota keluarga, lamanya jadi anggota kelompok tani, pengalaman usaha tani dan luas garapan lahan. Di antara faktor-faktor tersebut terdapat 3 faktor yang mempengaruhi secara negatif terhadap akses petani kredit mikro, yaitu usia petani, jumlah anggota keluarga dan pengalaman usahatani, sedangkan dua faktor lainnya yaitu lama keanggotaan dalam kelompok tani dan luas garapan lahan mempengaruhi akses kredit secara positif. Sedangkan dengan adanya akses kredit yang dilakukan oleh petani padi organik, akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan usaha padi organik. Hal tersebut dikarenakan, petani padi organik yang mengakses kredit akan menambah jumlah input produksinya sehingga dengan bertambahnya jumlah input produksi tersebut dapat meningkatkan hasil produksi padi organik dan secara tidak langsung juga akan meningkatkan pendapatan usahatani padi organik.

Penelitian Wedelia (2016) dengan judul Aksesbilitas Industri Agro Skala Mikro Kecil pada Sumber Pembiayaan dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Usaha di Kabupaten Bogor. Penelitian ini untuk menganalisis aksesbilitas industri agro skala mikro kecil pada sumber pembiayaan formal dan pengaruhnya terhadap kinerja usaha di Kabupaten Bogor. Alat analisis yang digunakan adalah model probit dan Two Stage Heckman Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesbilitas industri agro skala mikro kecil pada sumber pembiayaan formal (bank) di Kabupaten Bogor masih terbatas dengan presentase 26,4 persen. Hal ini dikarenakan persyaratan untuk mengajukan kredit di perbankan yang ketat dan membutuhkan waktu lama sehingga membuat pengusaha kesulitan untuk mengakses sumber pembiayaan formal. Faktor yang menentukan aksesbilitas industri agro mikro kecil pada sumber pembiayaan formal adalah agunan (jumlah aset yang dimiliki), tingkat pendidikan dan posisi pemilik usaha.

Sedangkan analisis pengaruh berbagai sumber pembiayaan terhadap kinerja usaha dapat dilihat dari kegiatan produksinya yang digambarkan dari nilai aset, nilai produksi dan pendapatan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses kredit formal (bank) dan semi formal (program kemitraan bina lingkungan) mampu memberikan pengaruh positif terhadap kinerja usaha berupa peningkatan aset, namun tidak

(16)

berpengaruh terhadap peningkatan nilai produksi dan pendapatan. Sedangkan kredit sumber pembiayaan informal tidak mampu memberikan pengaruh terhadap kinerja usaha yang dijalakan.

Penelitian Pentana (2019) mengenai akses dan dampak pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agribisnis koperasi keluarga mitra manunggal, Kota Tangerang Selatan. Alat analisis yang digunakan adalah model probit dan Two Stage Heckman Model. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik UMKM yang mengakses pembiayaan pada koperasi adalah pengusaha dalam usia produktif, telah menempuh pendidikan minimal 9 tahun, memiliki jumlah anggota keluarga 3 hingga 4 orang, tergolong usaha mikro dan berposisi ikut bekerja dalam menjalankan usahanya. Akses pembiayaan UMKM pada koperasi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu usia pengusaha, omset usaha dan keikutsertaan pemilik dalam pelatihan. Biaya operasional dan omset usaha mampu memberikan dampak terhadap pendapatan UMKM yang mengakses pembiayaan pada koperasi. Biaya operasional berdapak negatif sedangkan omset berdampak positif terhadap pendapatan UMKM.

Menurut penelitian Azriani (2013) Aksesbilitas dan Partisipasi Pengrajin Industri Tempe terhadap Sumber Pembiayaan Formal di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Studi ini bertujuan untuk membedakan akses dan partisipasi pengrajin tempe terhadap sumber pembiayaan formal dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi akses dan partisipasi pengrajin tempe terhadap kredit dengan menggunakan model probit serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi jumlah kredit yang diminta. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor pendidikan dan ketersediaan collateral menjadi faktor penting dalam menentukan aksessibilitas pengrajin industri tempe terhadap sumber pembiayaan formal.

Pengrajin yang lebih berpendidikan dan memiliki surat tanah akan memiliki peluang yang lebih besar untuk dapat akses terhadap sumber pembiayaan formal. Sedangkan partisipasi terhadap pembiayaan formal lebih dipengaruhi oleh total pendapatan pengrajin, umur, dan keikutsertaan dalam organisasi.

Menurut penelitian Siti (2019) dengan judul “Peran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Terhadap Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar” menyatakan bahwa Biaya total petani padi penerima KUR lebih besar dibandingkan non penerima KUR yakni penerima KUR sebesar Rp 20.159.138,9/usahatani atau Rp 11.621.332,70/ha, sedangkan non penerima KUR

(17)

sebesar Rp 17.603.899,90/usahatani atau Rp 10.931.826/ha. Penerimaan petani padi penerima KUR lebih besar daripada non penerima KUR yakni penerima KUR sebesar Rp 24.027.000/usahatani atau Rp 13.851.076,1/ha, sedangkan non penerima KUR sebesar Rp 17.470.000/usahatani atau Rp 10.848.685,57/ha.

Pendapatan petani padi penerima KUR lebih besar dibandingkan dengan petani non penerima KUR yakni penerima KUR sebesar Rp 12.141.522,8/usahatani atau Rp 6.999.340,55/ha, sedangkan non penerima KUR sebesar Rp 8.679.403,02/usahatani atau Rp 5.389.817,62/ha. Serta rata-rata pendapatan petani penerima KUR lebih kecil atau sama dengan petani non penerima KUR, dengan kata lain bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak berperan terhadap pendapatan petani padi karena petani tidak sepenuhnya menggunakan KUR untuk usahatani.

Penelitian Retno (2014) dengan judul analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani sorgum di Kabupaten Gunungkidul menjelaskan bahwa pada penelitian tersebut diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani sorgum di Kabupaten Gunungkidul adalah luas lahan dan harga bibit. Hal ini juga didukung oleh penelitian Damayanti (2013) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani padi sawah di daerah irigasi parigi moutong adalah luas lahan, harga benih, harga pupuk urea, harga pupuk phonska, harga pestisida, pendidikan petani, upah tenaga kerja.

Damayanti (2013) dalam penelitiannya yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, pendapatan dan kesempatan kerja pada usahatani padi sawah di daerah irigasi parigi moutong menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi sawah pada daerah irigasi parigi moutong adalah luas lahan, penggunaan benih, penggunaan pupuk urea, pupuk phonska, pestisida, total tenaga kerja, usia petani, frekuensi bimbingan petani.

Berdasarkan penelitian Andayani (2016) dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi produksi cabai merah di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda pada penelitian tersebut maka dihasilkan secara serempak faktor produksi lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah sedangkan secara parsial faktor produksi pupuk, pestisida, dan tenaga kerja berpengaruh nyata

(18)

terhadap produksi cabai merah tetapi untuk faktor produksi lahan dan bibit tidak berpengaruh terhadap produksi cabai merah.

2.1.2 Usahatani

Menurut Kadarsan (1993), usahatani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan ketrampilan dengan tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian. Usahatani adalah suatu tempat atau bagian dari permukaan bumi di mana kegiatan pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu, apakah ia seorang pemilik atau orang yang digaji. Usahatani merupakan himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di tempat tersebut yang diperlukan untuk proses produksi seperti tanah, air, perbaikan atas tanah tersebut, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan di atas tanah tersebut, tenaga kerja, modal, dan manajemen usaha tani (Suparmi, 1986).

Usahatani dapat berupa bercocok tanam ataupun berternak. Dalam bahasa ekonomi, produksi pertanian mengusahakan masukan untuk menghasilkan keluaran. Masukan adalah segala sesuatu yang diikutsertakan dalam proses produksi, seperti penggunaan tanah, tenaga kerja petani, beserta keluarganya dan pekerja upahan, kegiatan petani dalam perencanaan pengelolaan seperti bibit, pupuk, insektisida, dan sarana produksi lainnya.

Keluaran adalah hasil tanaman dan hasil ternak yang dihasilkan oleh usaha petani, masukan dan pengeluaran ini mencakup biaya dan hasil. Setelah pertanian menjadi lebih maju, semakin banyak biaya dan penerimaan yang berupa uang tunai, semakin petani memperhitungkan biaya dan hasil (Mosher, 1977).

2.1.3 Morfologi Tanaman Cabai Merah

Tanaman cabai tergolong dalam famili terung-terungan (Solanaceae) yang tumbuh sebagai perdu atau semak. Cabai termasuk tanaman semusim atau berumur pendek. Menurut Haryanto, (2018), dalam sistematika tumbuh- tumbuhan cabai diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom: Plantae Divisio:

Spermatophyta

Sub Divisio: Angiospermae

(19)

Classis: Dicotyledoneae Ordo: Tubiflorae

(Solanales) Famili:

Solanaceae Genus: Capsicum

Spesies: Capsicum annuum L.

Pratama (2021) menyatakan bagian-bagian utama tanaman cabai meliputi bagian akar, batang, daun, bunga dan buah. Penjelasan bagian-bagian tersebut sebagai berikut:

1. Akar

Tanaman cabai mempunyai akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar lateral (sekunder). Akar lateral mengeluarkan serabut-serabut akar yang disebut akar tersier. Akar tersier menembus kedalaman tanah sampai 50 cm dan melebar sampai 45 cm. Rata-rata panjang akar primer antara 35 cm sampai 50 cm dan akar lateral sekitar 35 sampai 45 cm.

2. Batang

Batang cabai umumnya berwarna hijau tua, berkayu, bercabang lebar dengan jumlah cabang yang banyak. Panjang batang berkisar antara 30 cm sampai 37,5 cm dengan diameter 1,5 cm sampai 3 cm. Jumlah cabangnya berkisar antara 7 sampai 15 per tanaman. Panjang cabang sekitar 5 cm sampai 7 cm dengan diameter 0,5 cm sampai 1 cm. Pada daerah percabangan terdapat tangkai daun. Ukuran tangkai daun ini sangat pendek yakni hanya 2 cm sampai 5 cm.

3. Daun

Daun cabai merupakan daun tunggal berwarna hijau sampai hijau tua dengan helai daun yang bervariasi bentuknya antara lain deltoid, ovate atau lanceolate. Daun muncul di tunas-tunas samping yang berurutan di batang utama yang tersusun sepiral.

4. Bunga

Bunga cabai merupakan bunga tunggal dan muncul di bagian ujung ruas tunas, mahkota bunga berwarna putih, kuning muda, kuning, ungu dengan dasar putih, putih dengan dasar ungu, atau ungu tergantung dari varietas. Bunga cabai berbentuk seperti bintang dengan kelopak seperti lonceng. Alat kelamin jantan dan betina terletak di satu bunga sehingga tergolong bunga sempurna. Posisi bunga cabai ada yang menggantung, horizontal, dan tegak.

(20)

5. Buah

(21)

Buah cabai memiliki plasenta sebagai tempat melekatnya biji. Plasenta ini terdapat pada bagian dalam buah. Pada umumnya daging buah cabai renyah dan ada pula yang lunak. Ukuran buah cabai beragam, mulai dari pendek sampai panjang dengan ujung tumpul atau runcing.

2.1.4 Syarat pertumbuhan tanaman cabai merah

Cabai merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga dapat ditanam di lahan sawah, tegalan, dataran rendah, maupun dataran tinggi (sampai ketinggian 1.300 m dpl). Tanaman cabai umumnya tumbuh optimum di dataran rendah hingga menengah pada ketinggian 0-800 m dpl dengan suhu berkisar 20-25 0C. Pada dataran tinggi (di atas 1.300 m dpl), tanaman cabai dapat tumbuh, tetapi pertumbuhanya lambat dan produktivitasnya rendah (Amri, 2017).

Tanah yang ideal bagi pertumbuhan cabai adalah tanah yang memiliki sifat fisik gembur, remah, dan memiliki derainase yang baik. Jenis tanah yang memiliki karakteristik tersebut yaitu tanah andosol, regosol, dan latosol. Derajat keasaman (pH) tanah yang ideal bagi pertumbuhan cabai berkisar antara 5,5 - 6.

Pertumbuhan cabai pada tanah yang memiliki pH kurang dari 5,5 kurang optimum. Hal tersebut dikarenakan, tanah masam memiliki kecenderungan menimbulkan keracunan unsur almunium, zat besi, dan mangan (Alviana &

Susila, 2009).

Curah hujan yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman cabai berkisar antara 600 mm/tahun sampai 1.2500 mm/tahun. Curah hujan yang terlalu tinggi menyebabkan kelembapan udara meningkat. Kelembapan udara yang meningkat menyebabkan tanaman gampang terserang penyakit. Selain itu, pukulan air hujan bisa menyebabkan bunga dan bakal buah berguguran yang berakibat pada penurunan produksi. Cabai paling ideal ditanam dengan intensitas cahaya matahari antara 60% sampai 70%. Lama penyinaran yang paling ideal bagi pertumbuhan tanaman adalah 10-12 jam (daerah garis katulistiwa) (Djarwaningsih, 2005).

2.1.5 Kredit

Istilah kredit berasal dari bahasa Yunani yaitu credere yang berarti kepercayaan (truth atau faith), oleh karena itu dasar dari kredit adalah kepercayaan. Arti percaya dari pemberi kredit adalah ia percaya kepada

(22)

penerima kredit bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai dengan

(23)

perjanjian. Sedangkan bagi penerima kredit merupakan penerimaan kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai dengan jangka waktu. Seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan yang berupa uang, jasa atau barang (Suyatno, 2007).

Pengertian kredit menurut Undang-undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Sedangkan pengertian bank menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 adalah usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentukbentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (Bank Indonesia, 2002). Dalam memberikan kredit, lem baga keuangan khususnya bank mempunyai kriteria penilaian terhadap nasabah. Suyatno (2007) menjelaskan beberapa unsur-unsur kredit adalah:

1. Kepercayaan

Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan (berupa uang, barang atau jasa) akan benar-benar diterima kembali dimasa tertentu dimasa yang akan datang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank, sebelumnya sudah dilakukan penelitian penyelidikan tentang nasabah baik secara internal maupun eksternal.

2. Kesepakatan

Disamping unsur percaya didalam kredit juga mengandung unsur kesepakatan antara pemberi kredit dengan penerima kredit. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dan masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya

3. Jangka Waktu

Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.

(24)

4. Risiko

Adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu resiko tidak tertagihnya/macet pemberian kredit. Semakin panjang suatu kredit semakin besar risikonya demikian pula sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan bank, baik risiko yang disengaja oleh nasabah yang lalai, maupun oleh risiko yang tidak disengaja. Misalnya terjadi bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya.

2.1.6 Pentingnya Kredit bagi Usahatani

Pusat Pembiayaan Pertanian (2009) menyatakan bahwa untuk sektor pertanian penyaluran kredit bertujuan untuk: (1) meningkatkan akses kredit/pembiayaan petani, kelompok tani dan gabungan kelompok tani kepada lembaga keuangan perbankan, (2) mempercepat pertumbuhan sektor riil (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan), (3) mendukung program ketahanan pangan dan program-program lain yang ada di Departemen Pertanian, dan (4) dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di sektor pertanian.

Pemberian kredit melalui perbankan merupakan intervensi pemerintah bagi dunia usaha agar roda perekonomian terus berjalan. Menurut Ellis (1992), bahwa pemberian kredit merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah yang cukup populer untuk sektor pertanian di negara berkembang dengan tujuan:

(1) mengatasi kendala kritis yang menghambat produktivitas pertanian, misalnya untuk pembelian sarana produksi, (2) mempercepat proses adopsi teknologi oleh petani, (3) membantu petani kecil mengatasi ketidak mampuan mereka untuk meminjam modal dari sumber keuangan informal dan komersial, dan (4) untuk pemerataan.

Kredit sangat berperan penting dalam pembangunan pertanian Indonesia.

Hastuti (2004), pentingnya kredit terkait dengan tipologi petani yang sebagian besar merupakan petani kecil dengan penguasaan lahan yang sempit sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pemupukan modal. Untuk melakukan pemupukan modal usahatani, salah satu caranya adalah akses terhadap kredit.

Peningkatan akses terhadap kredit akan meningkatkan kemampuan petani membeli sarana produksi dan menggunakan teknologi produksi sehingga dapat dicapai peningkatan efisiensi usahatani (Hazarika dan Alwang, 2003). Dapat

(25)

disimpulkan bahwa kredit merupakan salah satu pendukung utama pengembangan adopsi teknologi usahatani yang akhirnya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan pendapatan usahatani.

Syukur et al. (1990) selain meningkatkan adopsi terhadap teknologi, kredit untuk sektor pertanian seperti Bimas, kredit intensifikasi dan Kredit Usaha Tani (KUT), kredit juga berfungsi efektif sebagai perangkat introduksi. Hubungan adopsi teknologi dengan kredit adalah dengan adanya akses petani terhadap sumber kredit maka diharapkan petani dapat mengalokasikan kredit yang didapatnya untuk mengadopsi teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas usahataninya. Kita ketahui bahwa untuk mengadopsi teknologi baru umumnya membutuhkan modal yang besar, maka dengan adanya akses petani terhadap kredit petani dapat mengadopsi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani. Maka dapat disimpulkan bahwa kredit usahatani itu penting dan pemberian kredit usahatani harus dilaksanakan dengan efisien sehingga kredit tersedia dan mudah di dapatkan oleh petani. Petani yang dapat mengelola kredit dengan baik, akan dapat mengembalikan kredit tepat waktu.

2.1.7 Akses petani terhadap kredit

Menurut Undang-undang No 10 tahun 1998, pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Menurut Antonio (2001), pembiayaan adalah pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang mengalami defisit unit (kekurangan dana). Bentuk pembiayaan yang umum dikenal di Indonesia adalah kredit.

Menurut Ellis (1992) kredit adalah sejumlah uang yang dipinjamkan dari satu pihak (pemberi pinjaman) ke pihak lain (peminjam) dengan unsur yang pentingnya yaitu uang dan tingkat bunga. Menurut Firdaus (2004) kredit adalah pertukaran sesuatu yang berharga dengan suatu barang lainnya baik itu berupa uang, barang ataupun jasa dengan keyakinan bahwa uang atau barang tersebut mampu dibayar kembali dengan harga yang sama pada waktu yang ditentukan bersama.

(26)

Berdasarkan tujuan penggunaannya, kredit dibagi ke dalam dua jenis, yaitu kredit konsumtif dan kredit produktif. Kredit produktif menurut Firdaus (2004)

(27)

adalah kredit yang digunakan untuk kegiatan produktif dalam artian untuk meningkatkan kegunaan (utility) bisa dalam bentuk investasi atau modal kerja.

Kredit konsumtif digunakan untuk membeli barang-barang konsumsi. Dalam penelitian ini, kredit yang digunakan adalah kredit produktif untuk membiayai usahatani.

Tidak semua lembaga keuangan bersedia memberikan kredit kepada petani, terutama karena petani tidak memiliki aset yang bisa dijadikan sebagai collateral. Ellis (1992) membagi institusi keuangan yang memberikan kredit mikro untuk sektor pertanian menjadi 5 jenis, yaitu : bank pertanian umum, agen pembangunan multi-guna, pemegang hak pertanian dan proyek, bank komersial, dan koperasi kelompok tani. Berdasarkan legalitas hukum di Indonesia, institusi penyalur kredit mikro terbagi menjadi tiga macam, yaitu: institusi formal, semi- formal, dan informal (de Aghion dan Murdoch 2005; Anggraeni 2009; Hartono 2013). Masing-masing institusi memiliki mekanisme tersendiri untuk menjaring nasabah (petani) sebanyak-banyaknya. Adapun lembaga formal terdiri dari bank umum dan bank pembiayaan rakyat, lembaga semi-formal terdiri dari koperasi, bank desa, dan LKM, sedangkan lembaga informal terdiri dari arisan kelompok, pelepas uang, dan sebagainya yang tidak memiliki aturan dan badan hukum resmi. Akses dalam penelitian ini diartikan sebagai kemampuan petani untuk meminjam pada sumber pembiayaan (Azriani 2014). Menurut Diagne dan Zeller (2001) bahwa petani dikatakan akses kepada suatu sumber kredit jika mampu meminjam (memiliki credit worthy), sedangkan dikatakan berpartisipasi jika petani meminjam dari sumber kredit tertentu. Jika petani tidak dapat meminjam karena berbagai kendala (credit constraints), maka petani tersebut tidak memiliki akses kepada sumber kredit. Adapun faktor-faktor yang dapat menentukan petani bisa mengakses kredit antara lain terkait dengan karakter individu dan jenis usaha yang dilakukan. Akses pada kredit juga menggambarkan kinerja sebuah pasar kredit dimana dalam penelitian ini, petani cabai merahmiik menjadi sasaran dari sumber- sumber kredit. Dalam penelitian- penelitian terdahulu, analisis mengenai akses biasa disandingkan dengan partisipasi.

Terlepas dari itu, petani harus memiliki kelayakan (worthiness) untuk bisa mengakses kredit supaya dapat meningkatkan modal usahatani. Secara umum, creditworthty bagi petani merupakan alasan dan kriteria yang harus dimiliki untuk mengakses kredit baik dari lembaga formal, semi-formal, maupun informal.

(28)

Menurut Quoc (2012) keberhasilan kredit yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan tergantung bisa atau tidaknya diakses oleh petani karena akan membutuhkannya jika mengalami defisit anggaran untuk produksi usahatani.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Takyi (2011), nasabah harus memiliki lebih dari 1 sumber penghasilan, lahan sendiri, dan aset pribadi lainnya (bukan lahan) sehingga layak memperoleh kredit. Sebanyak 75 persen responden memperoleh kredit karena memiliki sumber penghasilan lain yang dapat dijadikan jaminan jika usaha yang sedang dijalani mengalami kegagalan.

Berbeda dengan temuan dari Reyes et al. (2012) bahwa pendidikan petani adalah faktor penentu dalam peningkatan produktifitas karena antara keputusan usahatani dan konsumsi rumah tangga terjadi pemisahan yang jelas.

Walaupun petani merasa memiliki kendala dalam memperoleh kredit, tapi produktifitas tidak terpengaruh oleh hal tersebut. Berbekal pendidikan yang ada, petani dapat memanfaatkan input dan peralatan yang dimiliki untuk berproduksi semaksimal mungkin.

2.1.8 Dampak kredit dalam usahatani

Adanya perlakuan terhadap suatu kondisi diharapkan memberi dampak baik positif maupun negatif. Begitupun dengan pemberian kredit kepada petani yang dimaksudkan dapat meningkatkan produksi pertanian. Dalam produksi pasti terjadi penuruanan dan peningkatan yang tidak pasti. Sehingga hal ini yang menjadi dilema bagi petani maupun lembaga pelaksana kredit karena tidak adanya kepastian dalam usahatani.

Ibrahim dan Bauer (2013) melakukan penelitian tentang dampak dari akses kredit mikro terhadap pendapatan petani menggunakan model seleksi Heckman. Dari hasil analisis ditemukan bahwa kredit mikro berdampak signifikan terhadap perolehan keuntungan petani. Berdasarkan hasil penelitian, pendapatan petani yang memperoleh kredit mikro lebih tinggi begitu juga dengan keuntungan yang diperoleh. Kesimpulan peneliti adalah bahwa besarnya kredit menentukan meningkatnya keuntungan petani, sehingga perlu ditingkatkan jumlah kredit yang disalurkan agar keuntungan juga dapat ditingkatkan.

Dampak kredit tersebut dapat diukur atau dinilai melalui beberapa cara dan sudut pandang. Lebih jauh dampak yang dilihat akan lebih banyak komponen yang harus dimasukkan dalam analisis. Metode yang digunakan untuk menilai dampak

(29)

kredit secara umum dikelompokkan ke dalam dua paradigma yang berbeda, yaitu metode ilmiah dan tradisi humaniora (Hulme 2000). Metode ilmiah dilakukan melalui eksperimen dimana akan dipastikan bahwa hasil dapat langsung dihubungkan dengan input. Para peneliti menggunakan metode kelompok kontrol, yang membandingkan antara kelompok penerima kredit dan kelompok identik yang tidak menerima kredit. Metode ini memungkinkan untuk mengestimasi dampak program dan kesimpulan yang lebih kuat dari kausalitas.

Hanya saja sulit diidentifikasi dari sisi pengelolaan manajemen usahatani secara detail per petani sehingga tetap akan ada error dalam hasil yang diperoleh.

Metode tradisi humaniora menggunakan data kualitatif yang mengandalkan ketajaman analisis. Namun metode ini dianggap subjektif dan tidak akurat.

Sedangkan metode ilmiah memiliki kekurangan yaitu bias seleksi.

Azriani (2014) menjelaskan bahwa bias seleksi yang timbul dalam menilai dampak kredit adalah seleksi diri dari kredit itu sendiri. Hal ini dapat terjadi jika anggota kelompok penerima kredit memiliki atribut yang tidak teramati sehingga hasil dari perlakuan penyaluran kredit menjadi sulit atau tidak bisa digeneralisasi ke populasi yang lebih luas dari calon penerima kredit. Sumber kedua dari bias seleksi adalah penempatan program non-acak. Pada akhirnya metode yang paling umum digunakan untuk mengatasi bias seleksi dengan menggunakan kelompok kontrol, yaitu populasi dengan karakteristik identik tapi tidak memperoleh atau bukan penerima kredit.

Menurut Hulme 2000, terdapat 3 model ekonometrika yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah bias seleksi yang menggunakan kelompok kontrol. Metode pertama mengasumsikan distribusi kesalahan dianggap normal dari variabel hasil pada kelompok bukan penerima kredit.

Kemudian ditentukan dengan mengukur penyimpangan dari normalitas hasil dalam kelompok penerima kredit. Metode kedua dengan menggunakan instrumen variabel. Metode ketiga menggunakan data panel, namun lebih sulit dilakukan dan mahal. Metode lain yang digunakan adalah penggunaan prosedur dua langkah Heckman (Heckman Selection Model) untuk mengendalikan bias seleksi.

(30)

2.2. Landasan Teori 2.2.1 Fungsi Produksi

Menurut Gilarso (2003), fungsi produksi menunjukkan hubungan teknis antara besarnya hasil output (optimal) yang dapat diperoleh dari bermacam- macam jumlah dan kombinasi input faktor produksi tertentu dengan tingkat perkembangan teknologi tertentu. Fungsi produksi menunjukkan bagaimana permintaan konsumen akan output atau hasil produksi menjadi permintaan produsen akan input faktor-faktor produksi.

Menurut Soekartawi et al. (1986), fungsi produksi adalah hubungan kuantitatif antara masukan (input) dan produksi (output). Fungsi produksi dengan n jenis input X dan satu output Y dinyatakan sebagai berikut:

Y = f (X1, X2, X3……. Xn)...(1) Keterangan:

Y = Tingkat produksi (output) dipengaruhi oleh faktor produksi X X = Input yang digunakan atau variabel yang mempengaruhi Y

Gambar 2.1 Kurva Fungsi Produksi (Soekartawi, 1986)

Pada gambar menunjukkan bahwa dengan pengunaan input sebesar X1, output maksimal yang dapat dihasilkan adalah Y2, yaitu tepat pada fungsi produksi Y = f(X). Sedangkan produksi di titik A adalah layak dilaksanakan namun belum optimal sehingga produsen yang rasional tidak akan memilih berproduksi dititik A.

(31)

Menurut Debertin (1986) fungsi produksi Neoklasik telah lama terkenal menggambarkan hubungan produksi dalam bidang pertanian. Akibat penggunaan input X meningkat, produktivitas dari input pertama-tama juga meningkat dengan laju bertambah sampai pada titik balik (inflection point). Titik balik merupakan penanda berakhirnya increasing marginal return dan mulainya diminishing marginal return. Pada titik balik ini fungsi berubah dari kenaikan hasil bertambah (increasing rate) menjadi kenaikan hasil berkurang (decreasing rate).

Fungsi produk marjinal (PM) berubah karena penggunaan input X meningkat.

Pertama, karena produktivitas input X meningkat, fungsi produk marjinal juga meningkat. Pada titik balik, produk marjinal mencapai maksimum. Pada titik balik ini, produktivitas dari tambahan unit input X adalah paling besar. Setelah titik balik, produk marjinal dari input X menurun. Produk marjinal input X adalah nol ketika produksi output maksimum, dan negatif pada tingkat penggunaan input X yang lebih besar.

Gambar 2.2 Tiga Tahap Fungsi Produksi Neoklasik Sumber : Debertin (1986)

(32)

Keterangan :

PM = produk marjinal PR = produk rata-rata 2.2.2 Biaya Produksi

Dalam proses produksi, biaya merupakan suatu unsur yang sangat penting. Biaya produksi merupakan total biaya dari semua input yang dimanfaatkan oleh perusahaan dalam sebuah proses produksi. Biaya produksi dalam pengertian ekonomi adalah keseluruhan pengeluaran yang harus ditanggung untuk menghasilkan barang atau jasa (Soeharno, 2007:145).

Menururut Sudarman (1992:188) bahwa besarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen ditentukan oleh tiga hal, yaitu kondisi fisik dari proses produksi, harga faktor produksi di pasar, dan efisiensi kerja pengusaha dalam memimpin produksi.

Dalam menjalankan sebuah usaha mempunyai sejumlah biaya dalam jangka pendek yang tergantung pada tingkat output yang telah mereka pilih.

Jenis biaya ini disebut dengan biaya variabel. Biaya tetap dan biaya variabel merupakan penyusun dari biaya total (Case and Fair, 2007:192).

TC = TFC + TVC...(1) Keterangan :

TC = Total cost / Biaya Total

TFC = Total Fixed Cost / Total Biaya Tetap TVC

= Total variabel Cost / Total Biaya Variabel

Hal utama di dalam konsep biaya adalah konsep mengenai biaya marjinal (MC), yakni naiknya biaya total yang disebabkan oleh tambahan produksi suatu unit output. Soeharno (2007:147) berpendapat bahwa biaya marginal adalah tambahan terhadap biaya total sebagai akibat ditambahnya satu unit produk yang dihasilkan. Biaya marjinal mencerminkan perubahan biaya variabel karena baiaya

(33)

itu berubah apabila keluaran berubah. Biaya-biaya tidak akan berubah apabila, keluarannya tidak berubah.

MC =𝚫𝐓�...

𝚫� (2) Keterangan:

MC = Marjinal Cost.

𝚫TC = Perubahan pada total cost 𝚫q = Perubahan pada unit output 2.2.3 Teori Pendapatan

Ukuran keberhasilan usahatani dapat dilihat dari pendapatan yang diperoleh petani, baik dalam bentuk tunai maupun bukan tunai (Soekartawi et al.

1986). Menurut Debertin (1986) pendapatan merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya total yang dikeluarkan. Pendapatan usahatani dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pendapatan tunai, pendapatan kotor, dan pendapatan bersih. Pendapatan tunai diperoleh dari pengurangan penerimaan tunai oleh pengeluaran tunai usahatani. Pendapatan kotor diperoleh dari semua hasil produksi dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun Sedangkan pendapatan bersih merupakan selisih dari pendapatan kotor dengan pengeluaran total usahatani dalam bentuk uang tunai.

Pengeluaran usahatani atau biaya usahatani terdiri dari pengeluaran tunai dan pengeluaran tidak tunai. Biaya tunai menurut Hernanto (1989) meliputi air, pajak tanah, penggunaan benih, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja luar keluarga, sedangkan pengeluaran tidak tunai meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga, biaya panen, dan biaya pupuk kandang yang dipakai. Keduanya terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel dimana pada setiap musim tanam akan sedikit berbeda tergantung dari luas lahan yang akan digarap. Semua informasi terkait penerimaan dan pengeluaran akan digunakan untuk menghitung pendapatan.

Tapi di luar itu juga dibutuhkan informasi mengenai harga jual komoditi. Adapun rumus penerimaan usahatani adalah perkalian antara jumlah produksi dengan harga jual output.

TR = Y. PY...(3) Keterangan :

(34)

TR = Total penerimaan (Rp)

Y = jumlah output yang dihasilkan (Kg) PY = Harga output (Rp)

Menurut Case and Fair (2007:205) Marginal Revenue (MR) penerimaan tambahan yang diterima perusahaan ketika perusahaan meningkatkan output sebanyak satu unit tambahan.

MR =𝚫𝐓�...

𝚫� (4) Keteranagan :

MR = Marginal Revenue

𝚫TR = Perubahan Total Revenue 𝚫q = Perubahan Output

Setelah diketahui perhitungan dari sisi revenu-nya langkah selanjutnya adalah mengetahui pendapatan bersih (laba) diterima petani yang hasilnya diperoleh dari pengurangan dari penerimaan dengan biaya total sebagai berikut:

π = TR – TC...(5)

Keterangan:

TR = Total Revenue (penerimaan total) TC = Total Cost (biaya total)

Berdasarkan Konsep penerimaan dan biaya dapat diketahui beberapa kemungkinan diantaranya:

TR > TC : Keadaan untung/laba TR = TC : Keadaan BEP

TR < TC : Keadaan rugi

(35)

2.3 Kerangka Pemikiran

Petani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo belum bisa mencapai tingkat hasil produksi yang tinggi. Produktifitas yang rendah ini dikarenakan keterbatasan modal. Petani tidak bisa mengakses modal karena sumber pembiayaan yang mudah diakses belum banyak tersedia. Sedangkan lembaga keuangan formal tidak bisa diakses karena pertimbangan risiko tinggi dan tidak adanya collateral.

Kredit untuk sektor pertanian dapat diperoleh dari institusi formal, semi- formal, dan informal. Bagi petani yang memilih untuk melakukan usahatani cabai merah, dukungan modal sangat dibutuhkan. Sehingga ketiga lembaga keuangan tersebut harus berperan aktif dalam menyalurkan kredit untuk usahatani cabai merah. Namun lembaga yang bisa diakses hanya sampai pada lembaga semi- formal dimana tidak memiliki persyaratan administrasi rumit untuk pengajuan maupun pengembalian. Petani cabai merah yang tidak dapat mengakses kredit akan menjadi responden kontrol untuk membandingkan dampak yang ditimbulkan dari adanya kredit tersebut.

Adanya kredit akan memberi dampak terhadap usahatani cabai merah yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Kulon Progo. Dampak yang ingin dilihat adalah bagaimana akses dari kredit tersebut dapat dimanfaatkan oleh petani untuk meningkatkan produksi cabai merah (Gambar 2.3). Selain itu juga ingin dilihat bagaimana dampak akses kredit terhadap Pendapatan usahatani cabai merah. Karena harapan dari petani maupun lembaga penyalur kredit adalah bahwa kredit tersebut benar-benar bermanfaat dan memberikan dampak positif pada kesejahteraan petani.

(36)

Kendala modal

Petani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo

Produktifitas cabai merah yang rendah Askes kredit terbatas

Mengajukan kredit

Kontribusi Akses Dampak

Heckman two step selection

Produksi Pendapatan

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran 2.4 Hipotesis

Berdasarkan pemaparan yang telah diuraikan sebelumnya, ditarik beberapa hipotesis dalam penelitian ini, yaitu:

1. Kontribusi kredit dapat memenuhi total biaya produksi usahatani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

2. Kredit dapat diakses oleh petani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

3. Kredit memberi dampak positif terhadap produksi cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

4. Kredit memberi dampak positif terhadap pendapatan usahatani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

(37)

III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Dasar

Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan metode verifikatif, yaitu hasil penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya, artinya penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data numeric (angka), dengan menggunakan metode penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti, sehingga menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.

Menurut Sugiyono (2014:21) metode analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

Sedangkan menurut Nazir (2003:54) metode desktiptif yaitu suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang diperlukan dalam kajian ini adalah:

a. Data Primer: pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi, wawancara terstruktur dengan kuesioner dan diskusi dengan petani cabai merah.

b. Data Sekunder: pengumpulan data sekunder yang diperlukan antara lain Data BPS dan Profil Desa.

3.3. Metode Sampling dan Waktu Pelaksanaan

Penentuan lokasi ditentukan dengan Purposive Sampling dengan Desa Bugel, Kapanewon Panjatan yang terpilih karena merupakan sentra dalam budidaya tanaman cabai merah di Kabupaten Kulon Progo. Data yang diambil untuk sampel didapatkan dari kelompok tani Gisik Wonotoro dan Gisik Pranaji sebagai kelompok tani yang memiliki produksi cabai tertinggi di Desa Bugel, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo. Sampel pada penelitian ini terdiri dari dua jenis sampel yaitu, sampel petani yang mengakses kredit pada lembaga

(38)

kredit formal dan semi-formal (sampel bebas) dan sampel petani yang tidak mengakses kredit (sampel khusus). Untuk pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive Sampling yaitu sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan peneliti.

Kriteria sampel bebas yang mengakses kredit pada lembaga formal dan semi-formal adalah sebagai berikut :

1. Anggota dari kelompok tani Gisik Wonotoro atau Gisik Pranaji 2. Merupakan petani cabai merah

3. Melakukan kredit pada lembaga formal atau semi-formal

Berdasarkan kriteria tersebut, jumlah sampel bebas dalam penelitian ini berjumlah 60 dari 127 petani cabai merah yang merupakan anggota dari kelompok tani Gisik Wonotoro dan Gisik Pranaji. Untuk penentuan sampel kontrol pada penelitian ini mengacu pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh anggraeni, dkk (2013) dengan perbandingan responden bebas berbanding respomden kontrol 2:1. Sehingga untuk jumlah sampel petani kontrol dalam penelitian ini sebesar 30 responden.

Kriteria sampel kontrol yakni petani yang tidak mengakses kredit pada lembaga formal dan semi-formal adalah sebagai berikut :

1. Anggota dari kelompok tani Gisik Wonotoro atau Gisik Pranaji 2. Merupakan petani cabai merah

3. Tidak melakukan kredit pada lembaga formal atau semi-formal 3.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam peneliitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan bertanya langsung kepada responden. Wawancara dilakukan berdasarkan kuisioner sebagai acuan yang telah disiapkan sebelumnya. Wawancara yang dilakukan di Kabupaten Kulon Progo dapat membantu penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan dalam penelitian.

2. Obsevasi

Observasi dilakukan untuk melakukan pengamatan secara langsung dilokasi pengamatan, sehingga mengetahui fakta yang terjadi di daerah penelitian berdasarkan pengamatan sendiri.

(39)

3. Studi Pustaka

Studi Pustaka adalah metode penegumpulan data yang bersumber dari berbagai literatur seperti buku, jurnal, internet maupun sumber pustaka lain.

Studi Pustaka untuk memperoleh data sekunder yang dibutukan dalam penelitian.

3.5. Asumsi dan Batasan Masalah

Asumsi dan batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan langsung dengan mewawancarai petani-petani cabai merah yang ada di Kabupaten Kulon Progo pada bulan Oktober berdasarkan kuisioner yang telah disiapkan.

2. Responden adalah petani yang menanam cabai merah di Kabupaten Kulon Progo.

3. Usahatani cabai merah yang diteliti adalah periode tanam dari bulan agustus 2021 hinggan agustus 2022

4. Jenis kredit yang dianalisis dalam penelitian ini adalah kredit formal dan semi-formal

3.6. Definisi Variabel Penelitian

Definisi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Usia petani adalah usia petani responden pada saat penelitian dilakukan dengan satuan tahun.

2. Pendidikan petani diukur dari lamanya pendidikan formal yang ditempuh petani dengan satuan yang digunakan adalah tahun.

3. Jumlah anggota keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang masih dibiayai oleh petani responden dengan satuan yang digunakan adalah banyaknya orang.

4. Pengalaman usahatani adalah lamanya petani melakukan usahatani baik itu cabai merah maupun pengalaman-pengalaman usahatani sebelumnya dengan satuan yang digunakan adalah tahun.

5. Lama keanggotaan kelompok tani adalah lamanya petani menjadi anggota kelompok tani dan satuan yang digunakan adalah tahun.

6. Luas lahan garapan adalah luasan lahan yang digarap petani cabai merah untuk satu musim tanam dan satuan yang digunakan adalah meter persegi.

(40)

7. Pekerjaan utama petani (dummy) adalah pekerjaan utama yang dilakukan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

8. Keikutsertaan sosialisasi (dummy) adalah pengalaman keikutsertaan petani dalam kegiatan sosialisasi yang diadakan pemerintah atau lembaga lain terkait dengan kredit atau permodalan bagi usahatani.

9. Jumlah benih adalah banyaknya benih yang digunakan untuk 1 musim tanam cabai merah dengan satuan kilogram.

10. Jumlah pupuk organik adalah jumlah pupuk kandang dan pupuk kompos yang digunakan selama 1 musim tanam dengan satuan kilogram.

11. Jumlah pupuk kimia adalah penjumlahan pupuk kimia (Urea, TSP, ZA, dan atau KCl) yang digunakan selama 1 musim tanam dengan satuan kilogram.

12. Jumlah tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani cabai merah selama 1 musim tanam dan dikonversi ke dalam satuan jam kerja pria (JKP) dimana perbandingan untuk tenaga kerja wanita adalah 1:0,8 dan untuk traktor per 1 hari penggunaan setara dengan 5 HKP.

13. Jumlah kredit adalah sejumlah uang yang dipinjam oleh petani untuk meningkatkan modal usahatani cabai merah pada satu musim tanam dengan satuan yang digunakan adalah rupiah (Rp).

14. Produksi cabai merah merupakan hasil panen 1 musim tanam dalam satuan kilogram.

15. Produktifitas cabai merah adalah tingkat produksi cabai merah per satuan hektar lahan yang dapat dicapai petani selama satu musim tanam.

Satuan yang digunakan adalah ton per hektar.

16. Harga jual cabai merah merupakan harga yang berlaku pada saat penelitian dilakukan dan diterima oleh petani pada penjualan hasil panen cabai merah. Satuan yang digunakan adalah rupiah.

17. Pendapatan usahatani adalah sejumlah nilai uang yang diterima petani pada saat panen menjual hasil panen cabai merah lalu dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan selama satu musim tanam cabai merah.

Satuan yang digunakan adalah rupiah.

3.7. Analisis data

Untuk menjawab tujuan dari penelitian ini digunakan Heckman Selection Model (Heckman 1976; Hopkins 2005; Ibrahim dan Bauer 2013). Model ini terdiri

(41)

dari dua langkah yang terdiri dari dua persamaan yaitu outcome equation dan selection equation. Langkah pertama menggunakan model Probit (selection equation) yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi petani mengakses kredit. Sedangkan langkah kedua (outcome equation) ditempuh untuk menjawab tujuan ketiga dan keempat yakni melihat dampak yang ditimbulkan dari adanya kredit tersebut terhadap produksi cabai merah dan pendapatan usahatani. Model Seleksi Heckman ini memperbolehkan penggunaan informasi dari persamaan seleksi pada tahap pertama yang diestimasi dengan menggunakan metode estimasi Likelihood maksimum (Ibrahim dan Bauer, 2013). Model ini lebih konsisten, estimasi efisien secara asimtotik untuk semua parameter dalam model. Untuk melihat kesesuaian model seleksi Heckman dilakukan uji parameter secara parsial dan serentak. Penggunaan model seleksi Heckman dilakukan dengan pertimbangan bahwa nilai pencocokan yang dihasilkan dari pendugaan model probit lebih mendekati nilai medianya dan dapat langsung diubah sebagai probabilitas dari variabel tersebut dengan mencocokkan nilai z dengan tabel z. Model probit didasarkan atas asumsi bahwa variabel dependen yang diteliti mengikuti fungsi distribusi kumulatif yang berbentuk normal. Penggunaan model probit dilakukan untuk menjelaskan perilaku suatu variabel tak bebas (dependen) yang bersifat dummy atau dikotomis yakni bernilai 0 atau 1 (Gujarati, 1997).

Pengujian statistik dilakukan untuk menentukan apakah variabel-variabel bebas yang terdapat dalam model memiliki hubungan nyata (signifikan) dengan variabel tidak bebas (Wulandari dan Sutanto 2010). Pengujian ini dilakukan dalam bentuk sebagai berikut :

A. Uji Serentak (Goodness of Fit)

Uji serentak dilakukan untuk memeriksa keberartian koefisien α (parameter pada persamaan seleksi) dan β (parameter pada persamaan hasil) secara keseluruhan atau serentak. Hipotesis pengujiannya adalah :

H0 : α1 = α2 = … = αn = 0 dan β1 = β2 = … βn = 0

H2 : Paling sedikit ada satu αi atau βi ≠ 0; i = 1,2,….,n

Statistik uji yang dilakukan adalah uji G2 atau likelihood ratio test, yaitu:

(42)

Keterangan:

………..……….(6)

n1 = banyaknya observasi yang memiliki nilai y=1 n0 = banyaknya observasi yang memiliki nilai y=0 n = n1 + n0

Statistik uji G2 mengikuti distribusi X2, maka pengujian dilakukan dengan membandingkan antara nilai statistik uji G dan nilai tabel X2 dengan derajat bebas v (banyaknya parameter) pada α (taraf signifikan 0,05). Ditolak H0 jika G2 > X2 (vα) atau p-value < α.

B. Uji Parsial

Uji parsial dilakukan untuk menguji keberartian koefisien β (parameter pada persamaan seleksi) dan α (parameter pada persamaan hasil) secara parsial dengan membandingkan dugaan β dan α dengan penduga standar errornya.

Dengan hipotesis:

H0: β dan α = 0

H1: β dan α ≠ 0 : i = 1,2, …, n Dengan statistik uji Wald:

𝑊 = 𝑆𝐸(𝛽�)𝛽�2 2………(7)

Statistik uji Wald mengikuti distribusi normal strandar, maka pengujian dilakukan dengan membandingkan statistik uji Wald dengan distribusi normal standar pada taraf nyata 0,05. Ditolak H0 jika nilai mutlak W > Za/2 atau p-value < taraf nyata.

c. Bias Seleksi (selection bias)

Untuk membuktikan tidak adanya bias dalam model seleksi, dapat dilihat pada nilai koefisien pada lambda Mill’s Ratio (λ). Jika koefisien Mill’s ratio signifikan secara statistik, maka terjadi bias pada model. Tapi jika sebaliknya, nilai koefisien lambda (λ) pada Mill’s Ratio tidak signifikan secara statistik, maka pada model

(43)

tersebut tidak terjadi bias atau dengan kata lain persamaan seleksi yang dibangun sudah benar.

3.7.1 Kontribusi kredit dalam memenuhi biaya produksi usahatani cabai merah

Untuk menjawab tujuan pertama, maka dihitung total biaya usahatani cabai merah per hektar yang meliputi biaya luas lahan, biaya tenaga kerja, biaya benih, biaya pupuk, biaya pestisida dan bunga kredit. Kemudian, dilihat seberapa besar penggunaan kredit dapat memenuhi total biaya usahatani cabai merah dengan membandingkan jumlah kredit per hektar dengan total biaya produksi usahatani usahatani per hektar. Berikut adalah rumus yang akan digunakan untuk menjawab tujuan diatas:

Kontribusi = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑟𝑒𝑑�� (𝑅𝑝)

× 100%...(8)

𝑇𝑜�𝑎𝑙 𝑏�𝑎𝑦𝑎 (𝑅𝑝)

3.7.2 Akses Petani Cabai Merah terhadap Kredit

Untuk menjawab tujuan kedua, analisis data merupakan langkah pertama dari model seleksi Heckman dimana akan terlihat aksesibilitas petani terhadap kredit. Adapun model Seleksi Heckman tahap pertama menggunakan model Probit. Model probit diperkenalkan pertama kali oleh Chester Bliss pada tahun 1934. Model ini merupakan sebuah model fungsi distribusi kumulatif yang cocok menjelaskan respon variabel dependen biner (binary response) yang bersifat kualitatif (Intriligator et al. 1996). Kondisi variabel dependen bersifat kualitatif, maka urutan angka variabel dapat dinyatakan sebagai frekuensi relatif. Sampel dihitung dari satu atau dua kemungkinan, yaitu akses atau tidak akses terhadap kredit. Model untuk melihat akses kredit pada petani cabai merah di Kabupaten Kulon Progo digunakan model Seleksi Heckman tahap pertama yang digunakan juga oleh Ibrahim dan Bauer (2013); Azriani (2014); Wati (2015); dan wedelia (2016) sebagai berikut:

Pr ((Z = 1│w)) = Φ (w’α)...(9) Keterangan:

Pr: Peluang kejadian (P(1) = terjadi; P(0) = tidak terjadi)

Φ: Fungsi Distribusi Kumulatif (Cumulatif Distribution Cumulatif)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk mengetahui karakteristik petani cabai merah

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk mengetahui karakteristik petani cabai merah

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk mengetahui karakteristik petani cabai merah

Kelayakan usahatani tumpangsari cabai merah dan bawang merah di lahan pasir Kabupaten Bantul merupakan perbandingan antara penerimaan yang diterima oleh petani dari

Penggunaan faktor produksi pada usahatani cabai merah masih didasarkan pada minat dan pengalaman para petani cabai merah, penggunaan bibit, pupuk organic dan anorganik,

Tujuan penelitian adalah Untuk menganalisis perkembangan produktivitas usahatani cabai merah dan cabai rawit 5 tahun terakhir, untuk menganalisis karakteristik petani

Kelayakan usahatani tumpangsari cabai merah dan bawang merah di lahan pasir Kabupaten Bantul merupakan perbandingan antara penerimaan yang diterima oleh petani dari

Petani responden yang melakukan usahatani cabai merah di Desa Cinta Damai Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin yang berjumlah 32 petani.. Pengambilan sampel dalam penelitian