• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL RISKAA B1,B2,B3[1][1]

N/A
N/A
Riska Natalia kristiyani

Academic year: 2025

Membagikan "PROPOSAL RISKAA B1,B2,B3[1][1]"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

HUBUNGAN INTERAKSI SOSIAL DENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF PADA LANSIA DI UPTD PUSKESMAS

MENTENG PALANGKA RAYA ( PENELITIAN KORELASIONAL)

Disusun Oleh :

RISKA NATALIA KRISTIYANI NIM : 2021-01-14201-137

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN TAHUN 2025

(2)

i STIKES Eka Harap

MENTENG PALANGKARAYA

Dibuat Sebagai Syarat Dalam Menempuh Ujian Sidang Proposal dan Melanjutkan Penelitian Pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Eka

Harap Palangka Raya

Disusun Oleh :

RISKA NATALIA KRISTIYANI NIM : 2021-01-14201-137

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN TAHUN 2025

(3)

ii STIKES Eka Harap

SURAT PERNYATAAN

KEASLIAN KARYA TULIS BEBAS PLAGIASI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Riska Natalia Kristiyani

NIM : 2021-01-14201-137

Program Studi : Sarjana Keperawatan

Judul Karya Tulis : Hubungan interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis tersebut secara keseluruhan adalah murni karya saya sendiri, bukan dibuatkan oleh orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan, bukan plagiasi sebagian atau keseluruhan dari karya tulis orang lain, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sebagai sumber pustaka sesuai dengan aturan penulisan yang berlaku.

Apabila dikemudian hari didapatkan bukti bahwa karya tulis saya tersebut merupakan karya tulis orang lain, dibuat oleh orang lain baik sebagian maupun keseluruhan dan atau plagiasi karya orang lain, saya sanggup menerima sanksi peninjauan kembali kelulusan saya, pembatalan kelulusan, pembatalan dan penarikan ijazah saya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sungguh-sungguh dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Atas perhatianya disampaikan terima kasih.

Palangka Raya, 12 Maret 2025 Penulis,

Riska Natalia Kristiyani (2021-01-14201-137)

(4)

iii STIKES Eka Harap

Judul : Hubungan Interaksi Sosial Dengan Kemampuan Kognitif Pada Lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

Nama : Riska Natalia Kristiyani

NIM : 2021-01-14201-137

Proposal ini telah disetujui untuk diuji Tanggal, 2025

Pembimbing I, Pembimbing II,

( Septian Mugi Rahayu, Ns., M.Kep.) ( Zia Abdul Aziz, Ns., M.Kep)

(5)

iv STIKES Eka Harap

PENETAPAN PANITIA PENGUJI PROPOSAL

Nama : Riska Natalia Kristiyani

NIM : 2021-01-14201-137

Program Studi : Sarjana Keperawatan

Judul Karya Tulis : Hubungan Interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Menteng Palangka Raya

Proposal ini Telah Diuji dan Disetujui Oleh Tim Penguji Pada Tanggal, 2025 PANITIA PENGUJI:

Ketua : Ayu Puspita, Ns., M.kep ( )

Anggota 1 : Septian Mugi Rahayu,Ns., M.Kep ( )

Anggota 2 : Zia Abdul Aziz, Ns., M.Kep ( )

Mengetahui,

Ketua Program Studi Sarjana Keperawatan

Meilitha Carolina, Ns., M.Kep

(6)

v STIKES Eka Harap

NIM : 2021-01-14201-137

Program Studi : Sarjana Keperawatan

Judul Karya Tulis : Hubungan Interaksi Sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

Proposal ini Telah Diuji dan Disetujui Oleh Tim Penguji Pada Tanggal, 2025

PANITIA PENGUJI :

Ketua : Ayu Puspita, Ns., M.kep ( )

Anggota 1 : Septian Mugi Rahayu,Ns., M.Kep ( )

Anggota 2 : Zia Abdul Aziz, Ns., M.Kep ( )

Mengetahui, Ketua

STIKes Eka Harap

Maria Adelheid Ensia., S.Pd., M.Kes

Ketua

Program Studi S1 Keperawatan

Meilitha Carolina, Ns., M.Kep

(7)

vi STIKES Eka Harap

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal yang berjudul

Hubungan Interaksi Sosial Dengan Kemampuan Kognitif Pada Lansia Di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya ”. Proposal ini disusun sebagai persyaratan untuk memenuhi Ujian Akhir Program (UAP).

Penulisan proposal ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, dalam kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1) Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M.Kes., selaku Ketua STIKES Eka Harap yang telah memberikan kesempatan dan memfasilitasi kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan.

2) Ibu Meilitha Carolina, Ners, M.Kep selaku Ketua Program Studi Sarjana Keperawatan STIKES Eka Harap.

3) Septian Mugi Rahayu, Ns., M.Kep. selaku Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu, serta banyak memberikan saran dan dengan sabar memberikan bimbingan selama penyusunan proposal ini.

4) Bapak Zia Abdul Aziz, Ns., M.Kep. selaku Pembimbing II yang yang telah bersedia meluangkan waktu, serta banyak memberikan saran dan dengan sabar memberikan bimbingan selama penyusunan proposal ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan proposal ini banyak terdapat kekurangan, maka kritikan dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk memperbaiki kekurangan proposal ini.

Palangka Raya,12 Maret 2025

Riska Natalia Kristiyani

(8)

vii STIKES Eka Harap

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ...ii

HALAMAN PERSETUJUAN ...iii

HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI ...iv

HALAMAN PENGESAHAN ...v

KATA PENGANTAR ...vi

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL……….ix

DAFTAR BAGAN ...x

BAB 1 PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang ...1

1.2 Rumusan Masalah ...4

1.3 Tujuan Penelitian ...4

1.3.1 Tujuan Umum ...4

1.3.2 Tujuan Khusus ...4

1.4 Manfaat Penelitian ...4

1.4.1Teoritis ...4

1.4.1Praktis ...5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ...6

2.1 Konsep Dasar Interaksi Sosial ...6

2.1.1 Definisi Interaksi Sosial ...6

2.1.2 Jenis Jenis Interaksi ...6

2.1.3 Syarat Terjadi Interaksi Sosial ...7

2.1.4 Bentuk Bentuk Interaksi Sosial ...8

2.1.5 Faktor Faktor Yang mempengaruhi ...9

2.2 Konsep Dasar Tentang Fungsi Kognitif pada Lansia ...10

2.2.1 Pengertian Fungsi Kognitif ...10

2.2.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Kognitif ...15

2.2.3 Pengukuran Fungsi Kognitif ...17

2.3 Konsep Dasar Lansia ...18

2.3.1 Definisi Lansia ...18

2.3.2 Kategori Lansia ...19

2.3.3 Prevalensi Lansia ...19

2.3.4 Perubahan perubahan pada lansia...21

2.4 Kerangka Konsep ...26

2.5 Hipotesis ...27

2.6 Penelitian Terkait ...28

BAB 3 METEDEOLOGI PENELITIAN ...31

3.1 Rancangan Penelitian ...31

3.2 Variabel Penelitian ...31

(9)

viii STIKES Eka Harap

3.3 Kerangka Oprasional ...32

3.4 Definisi Oprasional ...34

3.5 Tempat Dan Waktu penelitian ...35

3.5.1 Lokasi Penelitian ...35

3.5.2 Waktu Penelitian ...35

3.6 Populasi Penelitian ...35

3.7 Sampel Penelitian ...35

3.8 Tehnik Sampling Penelitian ...36

3.9 Instrumen Pengumpan Data ...36

3.10 Pengolahan Data ...37

3.11 Analisi Data ...38

3.12 Etika Penulisan ...39

DAFTAR PUSTAKA ...40 LAMPIRAN

(10)

ix STIKES Eka Harap

Tabel 2.2 Penelitian terkait hubungan interaksi sosial dengan tingkat kemandirian dalam pemenuhan Instrumental activity daily living pada lansia

28

Tabel 2.3 Penelitian terkait hubungan dukungan keluarga dengan interaksi sosial dengan kualitas hidup lansia

29

Tabel 2.4 Variabel penelitian hubungan interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

33

(11)

x STIKES Eka Harap

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka konsep hubungan interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

25

Bagan 2.2 Rancangan penelitian korelasional 31

Bagan 2.3 Kerangka kerja interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

33

(12)

1 STIKES Eka Harap

1.1 Latar Belakang

Seiring bertambahnya usia, lansia cenderung mengalami penurunan dalam frekuensi dan kualitas interaksi sosial karena faktor seperti pensiun, kehilangan pasangan hidup, keterbatasan fisik, atau berpindahnya anggota keluarga ke tempat yang jauh. Interaksi sosial merupakan sebuah hubungan timbal balik antar individu atau kelompok dapat berupa komunikasi langsung maupun dengan perantara atau tidak langsung (Batinah, Meiranny, & Arisanti, 2022). Interaksi sosial dapat berlangsung baik ada problema atau hanya sekerdar menyapa. Masalah interaksi sosial pada lansia kadang muncul sikap cenderung egois dan enggan mendengarkan pendapat orang lain, sehingga mengakibatkan lansia merasa terasing secara sosial yang pada akhirnya merasa terisolir dan merasa tidak berguna (Kamsari, Riyanto, Husnaniyah, & Fadhilah, 2022). isolasi sosial pada lansia kini menjadi masalah umum di banyak masyarakat lansia yang kurang memiliki interaksi sosial dan berisiko lebih tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif, seperti gangguan daya ingat, kesulitan dalam berpikir logis, dan penurunan kemampuan berbahasa.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi demensia atau penyakit Alzheimer jika tidak ditangani secara serius. Di Indonesia sendiri, banyak lansia yang tinggal sendiri atau hanya bersama pasangan, tanpa dukungan sosial yang memadai dari keluarga maupun komunitas. Hal ini memperburuk risiko isolasi dan penurunan kognitif.

Fenomena yang di temukan di Puskesmas Menteng Palangka Raya banyak dari para lansia tersebut tinggal sendiri di rumah atau hanya bersama pasangan yang juga sudah lanjut usia. Mereka jarang berinteraksi dengan tetangga, tidak mengikuti kegiatan Posyandu lansia atau kelompok lansia binaan, dan tidak memiliki aktivitas rutin yang melibatkan Interaksi sosial. Kurangnya interaksi sosial dapat turut berpengaruh pada kesehatan mental dan fungsi kognitif lansia, di mana mereka lebih sering merasa kesepian, murung, dan mengalami penurunan kemampuan berpikir serta mengingat.

(13)

2

STIKES Eka Harap

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2023, diperkirakan ada 55 juta orang di dunia yang hidup dengan demensia.Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 78 juta pada tahun 2030 dan 139 juta pada tahun 2050.Demensia adalah penyebab utama gangguan kognitif pada lansia, yang memengaruhi memori, berpikir, dan kemampuan sosial. sekitar 20% lansia di dunia mengalami masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan, yang dapat memengaruhi interaksi sosial mereka. Gangguan interaksi sosial pada lansia sering terkait dengan isolasi sosial, depresi, atau kondisi kesehatan mental lainnya Diperkirakan 15-20% lansia di dunia mengalami isolasi sosial, yang dapat memperburuk gangguan kognitif dan kesehatan mental, Menurut Kementerian Kesehatan RI (2023) sekitar 15-20% lansia di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan, yang dapat memengaruhi interaksi sosial mereka. Studi juga menunjukkan bahwa 10-15% lansia di Indonesia mengalami isolasi sosial, terutama di daerah perkotaan dan pedesaan terpencil.

Menurut badan pusat statistik (BPS) pada tahun 2023 sekitar 10-15% lansia di Kalimantan Tengah mengalami isolasi sosial atau masalah kesehatan mental yang memengaruhi interaksi sosial mereka.Dengan total populasi lansia sekitar 200.000 orang, diperkirakan ada 20.000-30.000 lansia yang mengalami gangguan interaksi sosial, Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan catatan sipil Kota Palangka Raya, jumlah lansia di kota Palangka Raya pada tahun 2023 diperkirakan mencapai 30.000 orang (sekitar 9% dari total populasi Palangka Raya).Berdasarkan hasil survey pendahuluan pada tgl 23 April 2025 dengan metode wawancara sebanyak 5 dari lansia yang diteliti menunjukkan adanya gangguan dalam interaksi sosial dan kemampuan kognitif ditandai dengan perilaku menarik diri dari lingkungan, kurangnya partisipasi dalam kegiatan kelompok, dan perasaan kesepian yang diungkapkan oleh lansia tersebut Sementara itu, gangguan kemampuan kognitif yang ditemukan meliputi keluhan sering lupa, kesulitan berkonsentrasi, bingung terhadap waktu dan tempat, serta ketidakmampuan mengikuti percakapan atau memahami instruksi sederhana. Beberapa lansia juga menunjukkan tanda-tanda awal penurunan daya ingat jangka pendek dan disorientasi ringan.

(14)

STIKES Eka Harap

Huang et al. (2024) bertambahnya umur seseorang secara degeneratif akan mencapai masa penuaan. Pada proses penuaan terjadi perubahan-perubahan diri seperti perubahan fisik, kognitif, dan sosial. Lanjut usia atau biasa disebut lansia merupakan fase dimana manusia mengalami ketidakberdayaan serta penurunan kemampuan pada fisik, sosial, motorik dan psikologis dimana sifat penurunannya dapat saling berhubungan. Penurunan interaksi memicu perasaan kesepian dan keterasingan. juga memicu perubahan biologis dalam tubuh, termasuk peningkatan hormon stress Rini Sabarini ( 2019) menunjukkan bahwa perubahan status sosial dari aktif menjadi terisolasi menyebabkan percepatan penurunan kognitif serta kurangnya stimulasi mental melalui percakapan dan aktivitas sosial menyebabkan penurunan fungsi otak seperti memori, perhatian, dan kecepatan berpikir. Ini bisa menjadi tahap awal dari gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment / MCI). Jika tidak ditangani, gangguan kognitif dapat berkembang menjadi demensia, seperti Alzheimer lansia menjadi semakin tergantung pada orang lain, kualitas hidup menurun, dan beban keluarga meningkat

Masa lanjut usia merupakan fase kehidupan yang rentan terhadap berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun kognitif. Dalam tahap ini, penting untuk mengidentifikasi kondisi interaksi sosial dan kemampuan kognitif lansia, karena keduanya memiliki peranan besar dalam menjaga kualitas hidup dan kesehatan secara menyeluruh.Interaksi sosial pada lansia berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan emosional. Ketika seorang lansia tetap aktif dalam hubungan sosial baik melalui keluarga, teman, maupun komunitas mereka cenderung merasa lebih dihargai, tidak kesepian, dan memiliki makna dalam hidupnya. Sebaliknya, isolasi sosial dapat menyebabkan munculnya stres, depresi, hingga mempercepat penurunan fungsi kognitif. Sementara itu, kemampuan kognitif seperti daya ingat, perhatian, dan berpikir logis adalah aspek penting yang menentukan kemandirian lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, pengamatan dan identifikasi dini terhadap kedua aspek ini sangat penting.

Dengan memahami kondisi interaksi sosial dan kognitif pada lansia, keluarga dan tenaga kesehatan dapat memberikan dukungan dan intervensi yang tepat, sehingga lansia dapat menjalani hidup yang lebih sehat, mandiri, dan bermakna.

(15)

4

STIKES Eka Harap 1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah adalah’’Bagaimana hubungan antara tingkat interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya’’

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara interaksi sosial dan kemampuan kognitif pada lansia.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi interaksi sosial pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

1.3.2.2 Mengidentifikasi kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

1.3.2.3 Menganalisis hubungan interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangkara Raya

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1Teoritis

Penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teori yang berkaitan dengan interaksi sosial dan kognisi pada lansia,dalam memperdalam pemahaman tentang bagaimana interaksi sosial mempengaruhi kemampuan kognitif serta faktor-faktor yang memediasi hubungan tersebut

1.4.1Praktis

1.4.1.1 Bagi Perkembangan IPTEK

Penelitian tentang hubungan interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia tidak hanya memberikan wawasan baru dalam bidang IPTEK, tetapi juga memiliki dampak praktis yang luas dalam meningkatkan kualitas hidup lansia dan pengembangan program-program yang mendukung mereka.

1.4.1.2 Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan Penelitian tentang hubungan interaksi sosial dengan kemampuan kognitif pada lansia memberikan manfaat yang luas dan beragam bagi tempat penelitian. Dengan memahami dan menerapkan hasil penelitian ini, berbagai pihak dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup

(16)

STIKES Eka Harap

lansia dan pengembangan masyarakat yang lebih inklusif.

1.4.1.3 Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini dapat memperkaya literatur akademis dan memberikan kontribusi pada pemahaman tentang psikologi gerontologi dan sosiologi. Mendorong kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu, seperti psikologi, sosiologi, kesehatan masyarakat, dan teknologi informasi.

1.4.1.4 Bagi Peneliti

Peneliti dapat memperdalam pemahaman mereka tentang aspek psikologis dan sosial yang mempengaruhi kesehatan kognitif lansia, serta mengembangkan keahlian dalam metodologi penelitian yang relevan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur yang ada

(17)

6 STIKES Eka Harap

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Interaksi Sosial 2.1.1 Definisi Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara individu dan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.Interaksi sosial terjadi ketika ada komunikasi dan mempengaruhi satu sama lain dalam pikiran dan perilaku.Kesehatan manusia dan kemampuan fisik berarti bahwa orang tua perlahan -lahan menarik diri dari hubungan mereka dengan

komunitas sekitarnya.Ini dapat mengurangi interaksi sosial (Sinthania, 2015) Menurut Walgito (2003), interaksi sosial saling terkait karena mereka adalah

hubungan antara individu dan individu, individu dan orang lain, dan sebaliknya (Sunaryo, 2010).Interaksi sosial adalah hubungan dinamis antara individu dan individu dengan kelompok dalam bentuk kerja sama, kompetisi, dan konflik (Sunaryo, 2010).Interaksi sosial yang dapat dilakukan orang dewasa yang lebih tua termasuk partisipasi dalam kegiatan baik di dalam maupun di luar rumah, termasuk membaca, bersantai dengan keluarga, televisi dengan keluarga, dan bertukar pendapat dengan anggota keluarga.

Kesimpulan dari definisi di atas adalah bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara individu dan individu, individu, kelompok, dan kelompok, yang memicu hubungan timbal balik.

2.1.2 Jenis Jenis Interaksi

Menurut (Sunaryo, 2010) menjelaskan interaksi sosial dibagi menjadi tiga, antara lain:

2.1.2.1Individu

Hubungan ada antara orang dan orang lain.tidak ada korespondensi antara interaksi, tetapi interaksi ditentukan ketika keduanya bertemu.

2.1.2.2 Individu dengan kelompok

Adalah hubungan yang ada antara satu orang dan yang lain.Interaksi ini memiliki bentuk konteks yang berbeda.

2.1.2.3 Kelompok dengan kelompok

(18)

STIKES Eka Harap

Hubungan ada bukan untuk kehendak pribadi, tetapi sebagai unit dari beberapa kelompok. Kelompok ini terdiri dari pelaku dengan banyak orang. ada komunikasi antara para pelaku.

2.1.3 Syarat Terjadi Interaksi Sosial

Interaksi sosial terjadi karena ada beberapa syarat tertentu. kontak sosial dan Ada dua syarat (Sunaryo, 2010) yaitu:

2.1.3.1 Ada berbagai jenis kontak sosial:

1)Kontak langsung dan tidak langsung

a) Kontak langsung termasuk berbicara, tersenyum, bahasa isyarat.

b) Kontak tidak langsung termasuk surat, media massa dan media elektronik.

2) Kontak interpersonal, antarkelompok, dan kelompok individu.

3) Kontak positif dan negative

a) Kontak sosial yang menawarkan keuntungan bersama dengan kontak positif b) Kontak negatif mengarah pada kontradiksi.

4) Kontak primer dan sekunder

a) Kontak utama terjadi ketika seseorang bertemu dalam hubungan langsung dan bertemu.

b) Kontak sekunder terjadi saat anda membutuhkan media sosial dengan agen.

2.1.3.2 Komunikasi

Komunikasi hampir sama dengan kontak sosial dalam komunikasi, individu perlu memahami pentingnya komunikator ada kontak sosial, tetapi komunikasi tidak selalu terjadi. Kontak sosial tidak ada gunanya tanpa adanya komunikasi.

Kontak lebih ditekankan pada seseorang atau kelompok yang ingin mereka berinteraksi meskipun komunikasi lebih menekankan bagaimana pesan diproses.

Menurut (Nugroho, 2009) faktor yang mempengaruhi proses dalam berkomunikasi antara lain:

1)Perkembangan

Perkembangan manusia memengaruhi komunikasi dalam dua aspek.

Menggunakan teknik komunikasi, menyiapkan pesan yang dikirim ke orang lain, dan pengembangan kejuaraan bahasa tergantung pada perkembangan kognitif seseorang

2)Budaya Sosial

(19)

8

STIKES Eka Harap

Sosial-budaya telah berdampak besar pada perilaku komunikasi antara individu sejak proses komunikasi bentuk sosial-budaya.

3)Perhatian

Mempengaruhi kemampuan individu untuk berinteraksi. Beberapa perhatian dapat menyebabkan, mengurangi

2.1.4 Bentuk Bentuk Interaksi Sosial 2.1.4.1 Kerja Sama

Bentuk interaksi sosial terutama kerja sama adalah upaya umum untuk mencapai tujuan bersama antara individu atau antara kelompok per individu. Jika kelompok mengalami kekecewaan dan ketidakpuasan, kerja sama bisa menjadi agresif.

2.1.4.2 Persaingan

Ini adalah proses sosial ketika individu dan kelompok orang bersaing di bidang kehidupan dan mencari keuntungan yang akan menjadi pusat perhatian publik dengan akhirnya menarik perhatian masyarakat.

2.1.4.3 Pertentangan

Ketika seorang individu atau kelompok berusaha untuk mencapai tujuan dengan menentukan siapa yang terancam atau kejam. Mungkin ada inkonsistensi karena beberapa faktor. Faktor -faktor yang menyebabkan konflik termasuk perbedaan antara individu, perbedaan budaya, perbedaan dalam kepentingan, dan perubahan sosial.

2.1.4.4 Akomodasi atau penyesuain

Akomodasi atau adaptasi mengacu pada suatu situasi akomodasi dapat diartikan sebagai cara untuk mengadaptasi oposisi tanpa menghancurkan partai lain sehingga pihak lain tidak kehilangan karakternya. Akomodasi diterapkan untuk mengurangi konflik, mencegah ledakan konflik, memungkinkan kerja sama, dan mencoba meleleh di antara kelompok sosial akomodasi atau adaptasi

2.1.4.5 Asimilasi

Proses Sosial di tingkat lain Ini ditandai dengan adanya upaya untuk mengurangi perbedaan antara individu atau kelompok manusia.

(20)

STIKES Eka Harap 2.1.4.6 Kewajiban

Adalah bentuk proses sosial antara persaingan dan konflik bentuk -bentuk umum dari kontainer adalah penolakan, resistensi, perlawanan, pencegahan, protes, kekerasan, induksi, penolakan, dan kebingungan, pencegahan,

2.1.5 Faktor Faktor yang mempengaruhi

Hubungan sosial terjadi ketika ada stimulus dan respons. Ini berarti bahwa masing -masing pihak memahami pesan yang dikirim dan merespons satu sama lain. Interaksi sosial tidak terjadi tanpa mempengaruhi faktor -faktor yang mempengaruhi interaksi sosial, seperti:

2.1.5.1Latar belakang budaya

Di sini interaksi sosial dibentuk dari pemikiran orang melalui kebiasaan, menghasilkan lebih banyak interaksi antara satu orang dan yang lain (Lestari, 2013).

2.1.5.2 Kelompok Grup

Hubungan dengan Ini akan menghasilkan pengaruh yang kuat pada cara interaksi dilakukan (Nugroho, 2009)

2.1.5.3 Pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin kompleks pandangan dalam perang melawan komunikasi yang dikomunikasikan (Nugroho, 2009)

2.1.6 Akibat Interaksi Sosial

Orang yang melakukan interaksi sosial menawarkan manfaat mereka sendiri.

Sebagai contoh, kami terus -menerus menyadari kemampuan orang dewasa yang lebih tua untuk meningkatkan Kesehatan fisik dan mental mereka (Laelasari's Oxman & Hall; Sari; Rejeki; 2015). Menurut Sianipar, kehadiran interaksi sosial di antara orang dewasa yang lebih tua dapat meningkatkan kualitas hidup orang dewasa yang lebih tua. Minat, perhatian, dan kegiatan kreatif dan inovatif dapat dilakukan Bersama (Widodo; Nurhamidi; Agustina:2016).

Berkurangnya interaksi sosial dapat menyebabkan emosi yang terisolasi.

Seperti orang tua yang sendirian atau mengalami isolasi sosial. Orang yang lebih tua lebih rentan terhadap depresi ketika mereka meningkatkan rasa isolasi mereka (Kusumowardani & Puspitosari, 2014). Menurut Sanjaya 2012 Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup orang dewasa yang lebih tua sendiri, karena orang

(21)

10

STIKES Eka Harap

dewasa yang lebih tua merasa terisolasi dan memungkinkan orang dewasa yang lebih tua mengalami depresi (Widodo; Nurhamidi; Agustina; 2016). Jika orang tua jarang terlibat dalam interaksi sosial, mereka dapat mengurangi keterampilan bahasa dan memori mereka (Laelasari; Sari; Fortune; 2015).

2.2 Konsep Dasar Tentang Fungsi Kognitif pada Lansia 2.2.1 Pengertian Fungsi Kognitif

Fungsi Kognitif adalah proses mental yang menggunakan penalaran, indera, dan pengalaman untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman. Termasuk di dalamnya bagaimana manusia belajar, bagaimana informasi disajikan dan ditransformasikan menjadi pengetahuan bagaimana pengetahuan diekspresikan dalam suatu ingatan dan kemudian muncul kembali, serta bagaimana pengetahuan digunakan oleh manusia untuk memahami sikap -sikap dan perilaku-perilakunya (Dhakal and Bobrin, 2020).

Menurut Lezak (1995) dalam Pasha & Wijayahadi (2014) terdapat klasifikasi dari fungsi kognitif yaitu:

2.2.1.1 Fungsi reseptif mengacu pada kemampuan otak untuk mengenali memahami , menafsirkan, atau menguraikan berbagai informasi yang berasal dari sensor .

2.2.2.2 Fungsi belajar dan mengingat adalah kemampuan untuk mengingat dan mengumpulkan kembali informasi yang diperoleh dari indera dari belajar dan mengingat adalah kemampuan untuk mengingat dan mengumpulkan kembali informasi yang diperoleh dari indera .

2.2.2.3 Fungsi berpikir adalah kemampuan otak untuk mengatur emosi serta mengevaluasi dan mengukur semua informasi yang diperoleh dari berpikir adalah kemampuan otak untuk mengatur emosi dan mengevaluasi dan mengukur semua informasi yang diperoleh.

2.2.2.4 Kemampuan otak untuk mengekspresikan diri sehubungan dengan informasi yang tersedia dikenal sebagai fungsi ekspresif dari sebuah kemampuan otak untuk mengekspresikan diri sehubungan dengan informasi yang tersedia dikenal sebagai fungsi ekspresif .

2.2.2 Aspek-aspek Fungsi Kognitif

(22)

STIKES Eka Harap

Kemampuan kognitif dapat dibagi menjadi beberapa domain kognitif spesifik termasuk atensi, memori, fungsi eksekutif, bahasa, dan kemampuan visuospasial (Murman, 2015).

2.2.2.1 Attention (Perhatian)

Atensi adalah proses kognitif kompleks kognitif dengan banyak dengan banyak sub proses yang secara khusus dirancang untuk menangani berbagai aspek fokus perhatian ( Glisky, 2007 ).sub proses yang dirancang khusus untuk menangani berbagai aspek fokus perhatian (Glisky, 2007 ) . Kemampuan untuk bereaksi atau memperhatikan suatu rangsangan tunggal sambil mengabaikan rangsangan lain yang kurang penting dikenal sebagai atensi .untuk bereaksi atau perhatikan stimulus tunggal sambil mengabaikan stimulus lain yang kurang penting dikenal sebagai atensi . Setiap orang perlu mampu mengenali menjadi informasi penting dan membedakan informasi yang tidak relevan .mampu mengenali informasi penting dan membedakan informasi yang tidak relevan . Oleh karena itu Hasilnya , dapat diamati bahwa atensi adalah proses di mana seorang individu menunjukkan perhatiannya kepada suatu objek tertentu dengan mengabaikan objek lain dan menunjukkan penyesalannya saat melakukan tindakan tersebut .atensi adalah Proses di mana seorang individu menunjukkan perhatiannya terhadap suatu objek tertentu dengan mengabaikan objek lain dan menunjukkan penyesalan saat melakukan tindakan tersebut .

Untuk meningkatkan fungsi kognitif terutama selama proses pembelajaran , perhatian dan konsentrasi sangatlah penting Untuk meningkatkan fungsi kognitif Fungsi seperti memori bahasa dan fungsi eksekutif akan terpengaruh oleh kurangnya fokus dan konsentrasi . memiliki dampak signifikan pada kemampuan seseorang untuk mengelola kehidupan sehari - hari mereka dengan tenang dan efisien . ditandai dengan menurunkan tujuan angka yang kita pilih ke arah yang aman untuk kembali atau dengan menyesuaikan jari di atasnya agar sesuai dengan angka yang disebutkan ( Satyanegara , 2010 ) .

Atensi dan konsentrasi umumnya dibagi menjadi dua subdomain global yaitu selective attention dan sustained attention (Harvey, 2019).

1)Selective Attention

Selektif pada proses menyorot informasi penting dan relevan sambil mengabaikan informasi yang kurang penting .proses menyorot informasi yang penting dan

(23)

12

STIKES Eka Harap

relevan sambil mengabaikan informasi yang kurang penting .Misalnya misalnya saat melakukan visualisasi tugas pencarian pencarian orang lebih suka mencari target visual yang dikelilingi huruf non - target .tugas, orang lebih suka mencari target visual yang dikelilingi oleh huruf non - target

2)Sustained Attention/Vigilance

Dalam jangka waktu lama , atensi berkelanjutan mengacu pada kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi pada tugas .pada tugas kemampuan untuk meningkatkan rentang perhatian dari satu momen ke momen berikutnya disebut sebagai kewaspadaan .untuk meningkatkan rentang perhatian dari satu saat ke saat berikutnya disebut kewaspadaan .

2.2.2.2 Language (Bahasa)

Bahasa merupakan komunikasi dan modalitas dasar yang mengembangkan kemampuan kognitif . Keterampilan bahasa mencakup kemampuan memahami Bahasa menghafal informasi semantik, mengidentifikasi objek berdasarkan nama, dan mengikuti instruksi verbal dengan tindakan perilaku . Penamaan objek, menanggapi instruksi, dan kefasihan (misalnya, mengumpulkan hewan sebanyak mungkin) merupakan contoh bahasa terampilan . Kemampuan bahasa menjadi terganggu

Kondisi ini lebih sering terjadi pada kondisi yang melibatkan stroke, kerusakan otak, atau demensia degenerative demensia dari pada dibandingkan dengan kondisi neuropsikiatri .kondisi neuropsikiatri . Dalam kondisi neuropsikologis , kemahiran berbahasa kecakapan dapat dihubungkan dengan kemahiran fungsional (misalnya, kemampuan untuk berhasil melakukan tugas semantik ) atau melambatnya pemrosesan ( Harvey, 2019).dapat dihubungkan dengan kecakapan fungsional (misalnya, kemampuan untuk berhasil melakukan tugas semantik ) atau memperlambat pemrosesan (Harvey, 2019 ).

2.2.2.3 Memory (Daya Ingat)

Memori dikenal sebagai ingatan adalah proses memasukkan informasi ke dalam suatu tindakan yang dapat ditinjau kemudian . yang juga dikenal dengan sebutan ingatan, adalah proses memasukkan informasi ke dalam suatu tindakan yang nantinya dapat ditinjau kembali . Memori adalah proses menghidupkan kembali apa pun yang pernah dialami atau sesuatu yang sebelumnya telah ditangkap dengan indera ( Arianti K , 2017 ). proses menghidupkan kembali sesuatu yang

(24)

STIKES Eka Harap

pernah dialami atau sesuatu yang sebelumnya telah ditangkap dengan indera ( Arianti K, 2017) Kesimpulannya , Bruno dalam Arianti K ( 2017 ) mendefinisikan memori sebagai proses proses mental yang meliputi pengkodean , penyimpanan , dan pengambilan kembali semua informasi dan pengetahuan yang tersimpan di otak .pengkodean penyimpanan , dan pengambilan semua informasipengetahuan yang disimpan diotak.

Menurut Neath et al., (2019) memori secara garis besar dibagi menjadi tiga kategori yaitu,

1)Short term memory memori adalah jangka pendek kemampuan seseorang untuk mengingat informasi baru , seperti ketika kita mengingat nomor telepon .

2)Long term memory memori adalah jangka panjang kemampuan seseorang untuk mengingat kembali informasi yang telah kita pelajari sebelumnya atau dapat diingat seorang individudi lain waktu ; misalnya , kemampuan mengingat topik berskala kecil .untuk mengingat informasi yang telah kita pelajari sebelumnya atau dapat diingat di lain waktu ; misalnya , kemampuan mengingat topik berskala kecil . 3)Working memory yaitu Sebagai contoh Misalnya ketika kita melakukan penghitungan terhadap pembagian angka, kita harus mencatat satu hasil angka , dan pada saat yang sama kita melakukan penghitungan terhadap pembagian angka yang berbeda Ini dikenal sebagai memori kerja

2.2.2.4 Visuospatial (Visuospasial: Pengenalan Ruang)

Visuospasial mengacu untuk kemampuan mengenali mengintegrasikan mengenali dan bentuk tertentu dari beberapa dimensi (Markwick et al ., 2012).

bentuk tertentu dari beberapa dimensi (Markwick et al., 2012 ). Salah satu cara untuk mengukur kemampuan visuospasial adalah melalui kemampuan struktural seperti meminta responden untuk menggambar atau mengilustrasikan berbagai gambar dari yang paling sederhana seperti segi empat hingga yang lebih kompleks seperti kubus (Saputri dan Purwoko, 2015).Cara mengukur kemampuan visuospasial adalah melalui kemampuan struktural yaitu meminta responden untuk menggambar atau mengilustrasikan berbagai macam gambar dari yang paling sederhana seperti segiempat sampai yang paling kompleks seperti kubus ( Saputri dan Purwoko, 2015 ) . Semua lobusberperan dalam kemampuan konstruksi ini berperan namun hemisfer kanan merupakan lobus parietal yang paling dominan

(25)

14

STIKES Eka Harap

.dalam kemampuan konstruksi ini namun hemisfer kanan merupakan lobus parietal yang paling dominan Menggambar kemacetan sering sering digunakan untuk memeriksa fungsi visual dan eksekutif yang terkait dengan gangguan di lobus frontal dan parietal untuk memeriksa fungsi visual dan eksekutif yang berhubungan dengan gangguan di lobus frontal dan parietal pasien diminta menggambar jam berbentuk lingkaran kemudian dengan angkanya yang lengkap. Jika selai selai yang difoto terlalu kecil sehingga angkanya tidak terlalu kuat , hal ini akan menyebabkan gangguan pada perencanaan .difoto terlalu kecil sehingga angkanya tidak terlalu kuat hal ini akan menimbulkan gangguan dalam perencanaan . Langkah langkah selanjutnya adalah untuk adalah pasien menggambar paku sebelum terlambat .pasien menggambar paku sebelum terlambat . Seseorang dengan gangguan visuospasial akan mengalami jarum di tubuh bagian bawah dan atas ( Puspitasari , 2012 ) . Orang dengan gangguan visuospasial akan merasakan jarum pada tubuh bagian bawah dan atas (Puspitasari, 2012).

1)Executive Function (Fungsi Eksekutif: Fungsi Perencanaan, Pengorganisasian dan Pelaksanaan)

Fungsi eksekutif adalah suatu struktur multi-komponen yang mencakup berbagai proses dalam perencanaan, pengaturan, koordinasi, pelaksanaan, penilaian serta keterampilan pemantauan diri sendiri. Pengaturan diri sendiri (self-regulation) (Glisky, 2007). Domain kognitif ini sering disebut sebagai keterampilan dalam penalaran dan pemecahan masalah. Fungsi kognitif ini penting untuk perilaku yang ditujukan pada tujuan. Kemampuan eksekutif dikendalikan oleh lobus frontal (pusat berpikir). Di dekade terakhir, ada peningkatan fungsi eksekutif sebagai penyebab utama penurunan kognitif seiring bertambahnya usia. Kerusakan pada kortikal frontal dianggap sebagai pemicu disfungsi eksekutif. Terdapat serangkaian tes psikologi standar untuk mengevaluasi defisit fungsi eksekutif (Harvey, 2019).

2.2.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Kognitif 2.2.2.1 .Usia

Faktor risiko untuk menurunnya fungsi kognitif terkait dengan usia individu.

Seiring bertambahnya usia, terjadi modifikasi struktural dan fungsional di otak yang berhubungan dengan perubahan kognitif, antara lain perubahan pada struktur saraf, kehilangan sinapsis, dan gangguan pada jaringan saraf. Penyakit yang berhubungan

(26)

STIKES Eka Harap

dengan usia mempercepat proses disfungsi saraf, kehilangan saraf, dan penurunan kemampuan kognitif. Ini menyebabkan banyak individu mengalami masalah kognitif yang cukup parah dan mempengaruhi kemampuan mereka untuk berfungsi sehari-hari (Murman, 2015). Banyak studi sebelumnya telah membuktikan hubungan antara usia dan kemampuan kognitif. Sebuah studi yang mengevaluasi kognisi pada orang tua menunjukkan bahwa usia berdampak signifikan pada seluruh aspek pengukuran kognitif, berdasarkan penelitian yang melibatkan 578 lansia sehat dengan rentang usia antara 64 dan 81 tahun (Akdag et al., 2013).

2.2.2.2.Jenis Kelamin

Jenis kelamin berpengaruh pada kemampuan kognitif, terutama dalam hal memori individu. Ada studi yang menunjukkan bahwa pria memiliki amigdala dan thalamus yang lebih besar dibandingkan dengan wanita, sementara dalam hal ukuran hipokampus, wanita memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan pria.

Pada wanita, terdeteksi lebih banyak reseptor estrogen di hipokampus dan reseptor androgen di amigdala dibandingkan pria. Ini menunjukkan bahwa wanita cenderung memiliki keterampilan memori verbal yang lebih baik, sementara pria memiliki keunggulan dalam memori spasial. Studi lain juga menunjukkan bahwa wanita memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan kognitif akibat penurunan hormon estrogen saat memasuki masa menopause (Qotifah dan Maliya, 2017) (Rasyid et al., 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Wang et al. (2020) juga menunjukkan bahwa prevalensi wanita yang mengalami gangguan kognitif jauh lebih besar dibandingkan pria di pedesaan China, disebabkan oleh faktor status sosial ekonomi yang rendah dan terbatasnya sarana kesehatan. Pada pria, prevalensi gangguan kognitif adalah 40.0%, sementara pada wanita, angkanya mencapai 45.1%. Setelah usia 75 tahun, wanita menunjukkan prevalensi yang jauh lebih tinggi.

2.2.2.3.Status Kesehatan

Kondisi kesehatan yang baik, seperti bebas dari gejala depresi, tidak mengalami insomnia, tidak menderita hipertensi, tidak memiliki gagal jantung, cukup gizi, tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dan kualitas hidup yang superior tanpa adanya cacat fungsional, berkaitan dengan peningkatan kemampuan kognitif pada usia tua (Pengpid et al., 2019). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kim & Park

(27)

16

STIKES Eka Harap

(2017), salah satu penyebab penurunan kognitif pada lansia adalah riwayat penyakit seperti diabetes, hipertensi, stroke, hiperlipidemia, serta jumlah penyakit penyerta, trouble vasculaire (Umegaki, 2014). Risiko gangguan vaskular lain, seperti obesitas, merokok, dan hipertensi juga berkontribusi pada penurunan kognitif (Baumgart et al., 2015)

Kondisi otak yang abnormal atau cedera otak juga merupakan faktor yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, baik di kalangan kelompok usia dewasa muda maupun lanjut usia. Satu lagi yang diyakini sebagai penyebab penurunan fungsi kognitif adalah paparan stres jangka panjang, karena stres dikaitkan dengan pengurangan volume hipokampus dan daerah orbito-frontal otak yang pada gilirannya dapat meningkatkan apoptosi neuron (Bath et al., 2013).

2.2.2.4 Status Pendidikan

Durasi pendidikan yang lebih panjang dikaitkan dengan tingkat kognitif yang lebih tinggi. Individu yang memiliki pendidikan tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam berbagai tugas yang melibatkan kemampuan kognitif. Sementara itu, pendidikan sejatinya dapat memperbaiki fungsi otak karena mampu menciptakan lebih banyak sinapsis yang berkaitan dengan tingkat kecerdasan (Alley et al., 2007). Di samping itu, pendidikan mungkin berpengaruh langsung terhadap fungsi kognitif masa kanak-kanak dengan perannya dalam mendorong perkembangan kognitif. Selain itu, pendidikan bisa turut berperan secara tidak langsung dalam mempertahankan fungsi kognitif di masa depan melalui kaitannya dengan posisi sosial ekonomi dan perilaku sosial (Zahodne et al., 2015).

2.2.2.5 Aktivitas Fisik

Kegiatan fisik adalah salah satu elemen yang telah di identifikasi memiliki hubungan positif dengan kemampuan kognitif. Sistematik review yang dilakukan oleh Carvalho et al. (2014) menjelaskan hal ini dengan menunjukkan hasil dari 27 studi; di mana 26 diantaranya menampilkan korelasi positif antara aktivitas fisik dan perubahan fungsi kognitif, sementara 1 penelitian tidak menemukan korelasi yang signifikan. Studi lain menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik, yang dibagi menjadi dua kategori yaitu aktif dan tidak aktif, mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat aktivitas fisik tinggi memiliki fungsi kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang memiliki tingkat aktivitas fisik rendah. Ini

(28)

STIKES Eka Harap

menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat aktivitas yang teratur dan berkepanjangan dengan tinggi rendahnya skor fungsi kognitif. Sebaliknya, ketika seseorang mengalami penurunan aktivitas fisik, penurunan fungsi kognitif akan terjadi lebih cepat (Muzamil et al., 2014). Aktivitas fisik tidak hanya terdiri dari kegiatan olahraga atau pekerjaan rutin, tetapi juga mencakup pelatihan otak atau brain training yang tentunya bisa meningkatkan beberapa aspek dari fungsi kognitif seperti memori, perhatian, konsentrasi, dan kemampuan berbahasa (Karbach dan Verhaeghen, 2014).

2.2.3 Pengukuran Fungsi Kognitif

Pengukuran fungsi kognitif global telah di rancang menjadi sebuah instrumen yang mengcover beberapa domain yang akan diukur, di mana setiap domain tersebut kemudian akan disampaikan kepada subjek atau narasumber. Jumlah dan jenis domain yang ditanyakan bisa berbeda-beda untuk setiap tipe instrumen pengukuran fungsi kognitif. Ada berbagai alat ukur yang bisa dipakai untuk mengevaluasi kemampuan kognitif pada lansia, salah satunya adalah Mini Mental State Examination (MMSE)

Pemeriksaan Mini Mental State Examination (MMSE) ini awalnya dikembangkan untuk skrining demensia, namun sekarang digunakan secara luas untuk pengukuran fungsi kogntif secara umum. Pemeriksaan MMSE kini adalah instrumen skrining yang paling luas digunakan untuk menilai status kognitif dan status mental pada usia lanjut (Kochhann dkk. 2009, Burns dkk. 2002). Sebagai satu penilaian awal, MMSE merupakan alat ukur yang dikembangkan oleh Folstein et al. (1975) untuk menilai tingkat fungsi kognitif, dengan menilai beberapa domain seperti orientasi waktu dan tempat, registrasi, atensi, perhitungan, bahasa, dan perintah visual. Skor maksimal MMSE adalah 30, dengan klasifikasi:

1) 24–30: normal

2) 18–23: gangguan sedang 3) ≤17: gangguan berat 2.3 Konsep Dasar Lansia 2.3.1 Definisi Lansia

Pengertian definisilanjut usia ( lansia ) menurut Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia diartikan

(29)

18

STIKES Eka Harap

sebagai seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun .lanjut usia ( lansia ) menurut Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia diartikan sebagai seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun . Lanjut usia adalah sekelompok orang yang telah mencapai akhir siklus kehidupan manusia .dari orang-orangyang telah mencapai akhir siklus kehidupan manusia . Lansia bukanlah bukanpenyakit yang menggambarkan suatu tahap tertentu dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan menurunnya kemampuan fisik seseorang . penyakit yang menggambarkan tahap tertentuproses kehidupan yang ditandai dengan menurunnya kemampuan fisik seseorang . Suatu proses yang dikenal sebagai " proses penuaan "

Sebagai komponen proses biologis yang teratur biologis bahasa penuan mengacu pada rusaknya banyak fungsi fisiologis sistem organ manusia ( Gilbert, 2000) mengacu pada rusaknya fungsi fisiologis banyak sistem organ manusia (Gilbert, 2000) Secara berbicara umum penuaan juga didefinisikan sebagai berbagai perubahan yang terjadi pada sistem dan jaringan dengan bantuan orang - orang yang memperhatikan peningkatan risiko penyakit dan kematian ( Harman , 2003 ) .hasil berbagai perubahan yang terjadi dalam sistem dan jaringan dengan bantuan orang - orang yang memperhatikan peningkatan risiko penyakit dan kematian ( Harman , 2003 ) . Proses proses penuaan merupakan kelanjutan dari kehidupan tidak hanya dimulai pada waktu tertentu tetapi dimulai pada awal kehidupan .daripenuaan merupakan kelanjutan dari kehidupan tidak hanya dimulai pada waktu tertentu saja melainkan dimulai awal kehidupan . Menua berarti itu seseorang telah melalui beberapa tahap kehidupan mulai dari masa kanak - kanak remaja seseorang dan dewasa hingga akhirnya menjadi tua .telah melalui beberapa tahap kehidupan mulai dari masa kanak-kanak remaja dan dewasa hingga akhirnya menjadi tua .

2.3.2 Kategori Lansia

Batasan umur pada usia lanjut dari waktu ke waktu berbeda. Menurut World Health Organitation (WHO) dalam (Wijoyo and Daulima, 2020) kategori usia pada lansia yaitu:

1. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun 2. Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun

(30)

STIKES Eka Harap

3. Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun 4. Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun

Sedangkan menurut Departemen Kesehatan RI (2009) batasan lansia terbagi dalam tiga kelompok yaitu:

1. Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan kematangan jiwa (usia 55-59 tahun)

2. Usia lanjut dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai memasuki usia lanjut dini (usia 60-64 tahun)

3. Lansia berisiko tinggi menderita penyakit degenerative (usia > 65 tahun) 2.3.3 Prevalensi Lansia

Sejumlah nomor penelitian menunjukkan bahwa populasi dunia akan terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya dari studi menunjukkan bahwa populasi dunia akan terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya . Hal adalah ini berhubungan erat dengan pertumbuhan banyak industry yang berkontribusi terhadap peningkatan UHH pada populasi umum .pertumbuhan banyak industri yang berkontribusi terhadap peningkatan UHH pada populasi umum . Antara tahun 2015 dan pada tahun 2050 populasi dunia diperkirakan akan meningkat sebesar diperkirakan meningkat sekitar dua poin persentase dari 12 % menjadi 22 tentang.dua poin persentase dari 12% menjadi 22%. Menurut data Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa -Bangsa ada 703 juta orang yang tinggal di Asia yang berusia 65 tahun atau lebih pada tahun 2019 .dari Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa -Bangsa , terdapat 703 juta orang yang tinggal di Asia yang berusia 65 tahun atau lebih pada tahun 2019. Ada banyak sekali orang lanjut usia tinggal di negara ini lansia tinggal di negara tersebut . Asia Timur dan Tenggara merupakan negara negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia (260 juta), diikuti oleh Eropa dan Amerika Serikat (260 juta), diikuti oleh Eropa dan Amerika Serikat ( lebih dari 200 juta ).

Misalnya misalnya pada tahun 2020,tahun jumlah orang orang yang berusia 60 berusia 60 tahun ke atas akan lebih sedikit dari pada jumlah anak - anak di bawah usia lima tahun ( WHO, 2020).dan yang lebih tua akan lebih sedikit dibandingkan jumlah anak di bawah usia lima tahun (WHO, 2020)

(31)

20

STIKES Eka Harap

Di sisi lain , menurut data dari populasi survei kependudukan , jumlah penduduk Indonesia mencapai 9,60 % atau sekitar 25,64 juta jiwa pada tahun 2019 dan diperkirakan akan terus bertambah setiap tahunnya hingga pada tahun 2035 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 15,77 % atau sekitar 48,2 juta jiwa ( survei,Pusat Statistik , 2019 ) .Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 mencapai 9,60% atau sekitar 25,64 juta jiwa dan diperkirakan akan terus bertambah setiap tahunnya hingga pada tahun 2035 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 15,77 % atau sekitar 48,2 juta jiwa ( Badan Pusat Statistik , 2019 ) . Pertumbuhan jumlah lansia di Indonesia terjadi dalam kurun waktu hampir 50 tahun ( 1971-2020 ) .dariJumlah lansia di Indonesia terjadi dalam kurun waktu hampir 50 tahun ( 1971-2020 ) . Pada masa ini waktu itu penduduk Indonesia mengalami dua kali mengalami dua perubahan perubahan signifikan dibandingkan sebelumnya

Persentase lansia mencapai 9,92% pada tahun 2020 atau lebih dari 2682 juta orang. Dengan kata lain kata lain Indonesia saat ini sedang dalam kondisi sulit saat ini berjuang dalam transisi untuk memperbaiki kondisi warga negaranya .transisi untuk meningkatkan kondisi warga negaranya . menunjuk kanHal ini bahwa proporsi orang orang di atas usia 60 tahun lebih dari 60 masih hidup kira - kira 7%

dari total populasi dan akan berubah menjadi negara dengan populasi lanjut usia jika mencapai 10 % .yang masih hidup kira - kira 7 % dari total populasi dan akan berubah menjadi negara dengan populasi menua jika mencapai 10 % . Berdasarkan untuk memproyeksikan data daritahun 2045, tahun 2045,berada pada kondisi penurunan jumlah penduduk ( Badan Pusat Statistik , 2019).

2.3.4 Perubahan perubahan pada lansia

Proses penuaan atau "aging proces," biasanya ditandai dengan perubahan karakteristik manusia beberapa perubahan yang mungkin terjadi termasuk perubahan pada tubuh pikiran dan / atau jiwa Untuk penjelasan lebih rinci tentang perubahan pada lansia lihat berikut ini :

2.4.4.1Perubahan fisik 1) Sistem Indra

Seiring berjalannya waktu melewati sistem indra mengalami beberapa perubahan. Penurunan fokus ( presbiopia) silau toleransi adaptasi dan

(32)

STIKES Eka Harap

peringatan diskriminasi yang terjadi di lingkungan dan diskriminasi warna yang terjadi di pusat pengolahan dan komponen mata Penuaan menyebabkan gangguan pendengaran konduktif dan sensorik (presbiakusis) dikarenakan hilangnya kemampuan pendegaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi suara yang tidak jelas membuat konsonan dalam ucapan sulit untuk dibedakan. Selain itu indra perasa juga mengalami penurunan terhadap sensivitas rasa akibat penurunan jumlah dan kerusakan papilla. Indra penciuman mengalami penurunan kemampuan dalam mendeteksi bau seiring bertambahnya usia. Sementara itu indra peraba juga mengalami penurunan kepekaanyang disebabkan oleh perubahan pada kulit serta berkurangnya aliran dar ah ke reseptor raba atau ke otak dan sumsum tulang belakang. Menurunnya indra peraba ini berpengaruh pada keterampilan motorik dasar kekuatan genggaman tangan, serta keseimbangan (Amarya et al., 2018).

2) Sistem Muskuloskeletal

Sistem muskuloskeletal mengalami transformasi yang nyata seiring bertambahnya usia. Penyebabnya adalah adanya modifikasi dalam struktur dan fungsi dari semua komponen yang membentuk sistem muskuloskeletal, yang meliputi: otot, tulang, ligamen, dan tendon. Otot salah satu perubahan yang terlihat pada sistem otot adalah penurunan massa serta kekuatan otot rangka sejalan dengan bertambahnya usia. Perubahan ini kebanyakan terjadi karena pengurangan serabut otot serta modifikasi pada tingkat sel dan molekul yang memperlambat proses produksi gaya.Tulang: seiring bertambahnya usia terjadi penurunan dalam kadar serta kepadatan mineral tulang. Massa tulang yang rendah meningkatkan kemungkinan patah tulang pada individu yang lebih tua.Tendon dan ligamen:

mengalami perubahan biokimia yang penting yang langsung mempengaruhi fungsi biomekaniknya (Frontera, 2017).

3) Sistem Saraf

Penuaan yang terjadi pada sistem saraf melibatkan pengurangan ukuran dan massa otak antara 10 hingga 20 persen (setiap individu mengalami pengurangan neuron di otak secara harian). Setelah mencapai usia 40 tahun, ukuran dan massa otak berkurang sekitar 5 persen setiap dekade. Ketika otak mencapai usia 70 tahun laju penurunan ini diperkirakan akan meningkat. Perubahan dalam volume saraf

(33)

22

STIKES Eka Harap

dan area yang terdampak mungkin berhubungan dengan jenis kelamin. Proses atrofi otak mulai lebih awal pada pria, tetapi progresinya lebih cepat pada wanita setelah titik awalnya. Penelitian jangka panjang yang memanfaatkan MRI dan tinjauan terhadap studi cross-sectional menunjukkan bahwa korteks prefrontal adalah area yang paling terpengaruh oleh kematian sel saraf (Alvis dan Hughes, 2015).

4)Sistem Kardiovaskuler

Perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia dalam sistem kardiovaskular terutama diawali oleh perubahan pada jaringan ikat. Jaringan ikat mengalami peningkatan kekakuan di arteri vena dan miokardium yang mengakibatkan kehilangan fleksibilitas. Kekakuan arteri mengarah pada hipertensi sistolik, masalah dalam pencocokan impedansi dan hipertrofi otot jantung. Kekakuan yang terjadi di aorta meningkatkan tekanan darah sistolik sekaligus mengurangi tekanan diastolik. Penurunan pada tekanan diastolik berakibat pada berkurangnya aliran darah ke jantung. Perubahan lain dalam sistem kardiovaskular mencakup pertumbuhan massa jantung serta penurunan curah jantung disebabkan oleh turunnya denyut jantung maksimum dan volume sekuncup. Kapasitas konsumsi oksigen pada tingkat maksimal (VO2 maks) menurun sehingga mengurangi kemampuan paru-paru (Alvis dan Hughes, 2015).

5)Sistem Respirasi

Perubahan dalam sistem pernapasan mencakup modifikasi pada sifat mekanik dari sistem ini, penurunan tingkat saturasi oksihemoglobin dalam arteri, dan gangguan dalam respons terhadap kekurangan oksigen. Di samping itu, proses penuaan membawa perubahan pada jaringan ikat yang berdampak signifikan pada fungsi paru-paru. Terjadi peningkatan dalam kapasitas residu fungsional, serta kenaikan volume residu. Kapasitas total paru-paru tidak mengalami perubahan, mengakibatkan penurunan kapasitasi vital paru. Reduksi pada massa otot pernapasan bisa mengakibatkan penurunan kekuatan yang dihasilkan dalam aktivitas otot pernapasan. Penuaan juga berdampak pada sifat pertukaran gas (Alvis dan Hughes, 2015).

6)Sistem Reproduksi dan Kegiatan Seksual

Perubahan dalam sistem reproduksi pada orang tua meliputi penurunan atau kekeringan pada selaput vagina, penyusutannya ovarium dan rahim, serta atrofi

(34)

STIKES Eka Harap

payudara. Testis masih mampu menghasilkan meskipun ada penurunan yang terjadi secara bertahap, dan hasrat seksual tetap ada hingga usia di atas 70 tahun, asalkan kesehatan terjaga dengan baik. Seksualitas merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia yang berkaitan dengan fungsi alat reproduksi (Sunaryo et al., 2015).

1)Perubahan Sistem Reproduksi Pada Pria

Perubahan penuaan yang dialami oleh pria meliputi hal-hal berikut. Pertama, testis masih mampu memproduksi spermatozoa meskipun mengalami penurunan secara bertahap. Kedua, terdapat atrofia asini pada otot prostat dengan adanya area hiperplasia yang fokus (Sunaryo et al., 2015).

2)Perubahan Sistem Reproduksi Pada Wanita

Perubahan yang dialami wanita seiring bertambahnya usia adalah sebagai berikut. Pertama, ada penurunan kadar estrogen yang beredar yang menyebabkan atrofi jaringan pada payudara dan organ genital. Kedua, terjadi peningkatan kadar androgen yang beredar yang berakibat pada berkurangnya massa tulang, meningkatkan risiko osteoporosis serta fraktur, dan mempercepat terjadinya aterosklerosis (Sunaryo et al., 2015).

7.Sistem Renal dan Urinaria

Terdapat pergeseran besar dalam sistem peredaran darah ginjal di kalangan individu lanjut usia, termasuk penurunan yang jelas dan proporsional dalam aliran darah ginjal dengan bertambahnya usia. Proses penuaan mempengaruhi pengurangan laju filtrasi glomerulus dan mengurangi kemampuan untuk mengatur keseimbangan elektrolit (Alvis dan Hughes, 2015).Perubahan yang muncul dalam sistem urinaria sejalan bertambahnya usia ditandai dengan menurunnya kemampuan kandung kemih, meningkatnya volume sisa, kontraksi tidak terduga pada kandung kemih, serta pengecilan otot kandung kemih, yang semuanya berujung pada meningkatnya masalah inkontinensia (Alvis dan Hughes, 2015).

2.4.4.2Perubahan Kognitif

Fungsi otak berubah seiring dengan bertambahnya usia individu. Ini disebabkan oleh berbagai faktor terkait penuaan di tingkat neurobiologis serta perubahan pada struktur dan fungsi otak yang muncul seiring dengan bertambahnya usia. Perubahan kognitif pada orang tua dianggap sebagai bagian dari proses penuaan yang wajar, yang berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif tertentu, termasuk

(35)

24

STIKES Eka Harap

kecepatan berpikir, ingatan, bahasa, kemampuan visuospasial, dan kemampuan eksekutif. Penelitian di bidang neurologi telah menunjukkan adanya pengurangan dalam volume materi abu-abu dan putih, perubahan pada materi putih, serta penurunan kadar neurotransmitter yang mungkin menjadi penyebab perubahan kognitif seiring bertambahnya usia (Cohen et al., 2019).

Perubahan yang berkaitan dengan usia tidak terjadi secara seragam di semua area kognitif atau pada semua orang yang berusia lanjut. Aspek kognitif utama yang paling terpengaruh oleh bertambahnya usia adalah konsentrasi dan ingatan.

Berbagai studi telah menunjukkan bahwa ada penurunan yang signifikan dalam perhatian dan memori. Selain itu, persepsi juga menunjukkan adanya penurunan yang signifikan seiring bertambahnya usia, yang terutama disebabkan oleh berkurangnya kapasitas sensorik. Gangguan pada tahap awal pemrosesan ini dapat berpengaruh pada fungsi kognitif di tahap selanjutnya dalam proses pemrosesan.

Kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti pengolahan bahasa dan membuat keputusan, juga dapat dipengaruhi oleh faktor usia. Di samping itu, penyelesaian tugas kognitif yang kompleks mungkin memerlukan kumpulan fungsi eksekutif yang mengatur dan menyelaraskan berbagai elemen dari tugas tersebut. Terdapat cukup banyak bukti yang mengindikasikan adanya penurunan. Fungsi eksekutif berperan penting dalam penurunan kemampuan kognitif seiring bertambahnya usia di berbagai jenis tugas (Glisky, 2007)

2.4.4.3Perubahan Mental

Penuaan akan menyebabkan individu mengalami berbagai perubahan seperti timbulnya sikap pesimis, munculnya rasa cemas dan tidak aman, adanya kebingungan mental yang parah, perasaan terancam terkait potensi penyakit terkait dengan kepadatan mineral tulang, ketakutan akan ditinggalkan karena merasa tidak berkontribusi lagi, serta munculnya perasaan kurang mampu untuk hidup secara mandiri (Sunaryo et al., 2015).

2.4.4.4 Perubahan Psikososial

Seiring bertambahnya usia, orang-orang lanjut akan menghadapi berbagai masalah dan cara mereka merespons akan bervariasi, tergantung pada karakter masing-masing. Saat ini, individu yang telah menghabiskan waktu bekerja diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan fase pensiun mereka. Akibatnya, banyak

(36)

STIKES Eka Harap

lansia yang merasa terasing karena tidak lagi berinteraksi dengan komunitas (Sunaryo et al., 2015).

2.4 Kerangka Konsep

Keterangan

= Tidak teliti

= Diteliti

= Berhubungan

Bagan 2.1 Kerangka Konsep Hubungan Interaksi Sosial dengan Kemampuan

Kognitif pada Lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya 2025 Faktor-faktor yang mempengaruhi

interaksi sosial:

1.Latar belakang budaya 2. Kelompok grup 3. Pendidikan

Faktor- faktor yang

mempengaruhi kemampuan kognitif:

1. Usia

2. Jenis Kelamin 3. Status Kesehatan 4. Status Pendidikan 5. Aktivitas Fisik

Variabel Independen Interaksi Sosial

1) Kerjasama 2) Persaingan 3) Pertentangan 4) Penyesuaian 5) Asimilasi 6) Kewajiban

Variabel Dependen Kemampuan Kognitif

1) Orientasi 2) Registrasi 3) Atensi 4) Perhitungan 5) Bahasa

6) Perintah visual

Kategori:

1) Normal ( 24-30)

2) Gangguan sedang ( 18-23) 3) Gangguan berat ( ≤ 17) Kategori:

1) Baik ( 41-60 ) 2) Cukup (21-40 ) 3) Kurang (1-20 )

(37)

26

STIKES Eka Harap 2.5 Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam, 2020)

Hipotesis Nol (Ho) adalah hipotesis yang akan dievaluasi umumnya, hipotesis ini merupakan klaim yang mengindikasikan bahwa sebuah parameter dalam populasi memiliki nilai spesifik. Hipotesis nol umumnya dinyatakan dengan frasa

"tidak ada perbedaan."

Hipotesis Alternatif (H1) merujuk pada sebuah klaim yang identik dengan parameter populasi yang juga termuat dalam hipotesis nol.umumnya, hipotesis ini menjelaskan bahwa parameter populasi tersebut memiliki nilai yang tidak sama dengan apa yang dinyatakan dalam hipotesis nol.

2.5.1 Jika nilai P value (≤ 0,05) maka keputusan yang diambil adalah menolak H0 dan menerima H1, yang berarti terdapat interaksi antara variabel independen dan dependen

2.5.2 Jika nilai P value lebih besar dari ( > 0,05) maka keputusan yang diambil adalah menerima H0 dan menolak H1, yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

(38)

STIKES Eka Harap 2.6 Penelitian terkait

Tabel 2.1 Penelitian terkait fungsi kognitif dan interaksi sosial pada lansia tahun 2022-2024

Author Populasi

Penelitian

Tindakan Yang di Berikan Hasil Penelitian Uji Statistik

Halimatus Sa’diah 2024

Lansia pria dan wanita dengan usia dengan umur 60-80 tahun ke

atas yang

berjumlah 87 orang.

Penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional

Hasil penelitian didapatkan mayoritas responden adalah lansia muda yaitu usia 60- 69 tahun dengan jenis kelamin perempuan.

Mayoritas responden dengan tingkat Pendidikan mayoritas Sekolah Dasar.

Berdasarkan fungsi kognitif mayoritas dengan permasalahan kognitif ringan dan berat. Berdasarkan data interaksi sosial mayoritas memiliki interaksi sosial yang baik dan kurang Berdasarkan hasil analisis Chi Square, diperoleh nilai Continuity Correction p= 0,000. Hasil tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan interaksi sosial pada lansia di Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Budi Sejahtera.

analisis Chi Square

(39)

28

STIKES Eka Harap

Author Populasi

Penelitian

Tindakan Yang di Berikan Hasil Penelitian Uji Statistik

Dita Fadhila 2022

Populasi pada penelitian ini terdiri dari lansia di Kelurahan Labuh Baru Barat 1.097 orang.

berupa probability sampling yaitu tipe cluster sampling.

Untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus Slovin, jumlah sampel yang dihasilkan adalah 91,645 dibulatkan menjadi 92 responden.

Berdasarkan tabel 4 diketahui jumlah responden yang memiliki tingkat interaksi sosial yang sedang-baik sebanyak 38 responden dan dari 38 responden tersebut sebanyak 16 (42,1%) responden masuk dalam dalam kategori mandiri, 20 (52,6%) responden masuk dalam dalam kategori ketergantungan ringan dan 2 (5,3%) sisanya dalam kategori ketergantungan berat.

Selanjutnya Jumlah responden dengan tingkat interaksi sosial yang buruk sebanyak 54 responden dan dari 54 responden tersebut sebanyak 2 (3,7%) responden masuk dalam kategori mandiri, 11 (20,4%) responden masuk dalam kategori ketergantungan ringan, 22 (40,7%) responden masuk dalam kategori ketergantungan sedang dan sisanya 19 responden . Dapat disimpulkan bahwa responden yang berinteraksi sosial dengan baik sebagian besar Activity of Daily Living kategori ketergantungan ringan. Sedangkan responden yang berinteraksi sosial buruk sebagian besar Activity of Daily Living kategori ketergantungan sedang. Adapun nilai signifikansi (P Value) sebesar 0,000.

Sehingga menjelaskan adanya hubungan antara interaksi sosial dengan tingkat

Analisis Chi Square

(40)

STIKES Eka Harap

kemandirian dalam pemenuhan Activity of Daily Living.

Author Populasi

Penelitian

Tindakan Yang di Berikan Hasil Penelitian Uji Statistik

Sri Setyowati 2023

Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah Lansia Di Kelurahan

Timbulaharjo Kecamatan

Sewon berjumlah 60 orang yang diambil dengan teknik total sampling.

Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dukungan social dan interaksi sosial yang telah di uji validitas (>0,361) dan reliabilitas (0,89).

Instrumen untuk mengukur kualitas hidup lansia menggunakan instrument WHOQOL-BREF dengan uji Cronbach alpha kategori baik (0,798). Analisa data dengan menggunakan analisis kendalltau.

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan mayoritas responden masih dalam kategori usia pra lanjut usia yaitu 55% dengan jenis kelamin perempuan (38%). Mayoritas dari responden berpendidikan terakhir SD (58,30%). Mayoritas responden mengatakan mendapat dukungan yang baik (51,70%). Semua responden menyatakan kurang melakukan interaksi sosial (100%).

instrument WHOQOL-BREF

(41)

31 STIKES Eka Harap

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN 3.1Rancangan penelitian

Metode penelitian merupakan langkah-langkah sistematis yang melibatkan pengumpulan informasi analisis serta penafsiran data yang relevan dengan subjek penelitian (Sugiyono 2019). Pada studi ini pendekatan yang dipilih adalah kuantitatif dengan kuesioner sebagai instrumen untuk mengumpulkan informasi.

Pendekatan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah survei, menggunakan kuesioner sebagai sarana pengumpulan data. Menurut Sugiyono (2019) metode survei dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif yang dirancang untuk mengumpulkan informasi terkait kondisi yang telah terjadi baik di masa lalu maupun saat ini, mengenai kepercayaan opini karakteristik dan perilaku dalam hubungan variabel sosial dari kelompok tertentu dalam populasi tehnik untuk mengumpulkan data ini mengandalkan kuesioner yang bersifat tidak mendalam dan umumnya temuan penelitian dapat di generalisasikan

Bagan 2.2 Rancangan Penelitian Korelasional 3.2 Variabel penilitian

3.2.1 Variabel Independen (Bebas)

Variabel independent adalah variabel yang mempengaruhi nilainya yang ditentukan oleh variabel yang lain (Nursalam,2020). Variabel independen yaitu interaksi sosial pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

3.2.2 Variabel Dependen

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam,2020). Variabel dependen yaitu kemampuan kognitif pada lansia di UPTD Puskesmas Menteng Palangka Raya

Interaksi sosial Kemampuan

Kognitif

Interaksi sosial di ukur menggunakan kuisoner

Kemampuan kognitif dikukur menggunakan

kuesioner

Uji Hubungan

Interprestasi makna

(42)

STIKES Eka Harap

3.3 Kerangka Operasional

Kerangka kerja merupakan serangkaian langkah aktivitas ilmiah yang dimulai dari penetapan populasi dan sampel, serta berlanjut dengan berbagai kegiatan yang dilakukan sejak awal penelitian dilaksanakan (Nursalam, 2015)

Referensi

Dokumen terkait

INTERAKSI SOSIAL DALAM KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII DALAM MATA PELAJARAN IPS TERPADU DI SMP NEGERI 1 KLEGO KABUPATEN BOYOLALI TAHUN

Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) tingkat kepercayaan diri siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Grogol tergolong sedang, (2) intensitas interaksi sosial dengan teman sebaya siswa

Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan : 1) Modal sosial pada responden Purse seine di Aertembaga Kota Bitung yaitu kepercayaan, norma sosial dan interaksi sosial. 2)

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik simpulan bahwa (1) interaksi sosial siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura tergolong sedang,

Setelah melaui uji normalitas maka dilanjutkan dengan uji linearitas dengan hasil output SPSS 19.0 anatara variabel (X 1 ) konsep diri dan (X 2 ) interaksi sosial terhadap (Y)

terdapat hubungan positif yang signifikan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada remaja di SMP Negeri 1 Sukoharjo, koefisien korelasi rx 2

Diantara perkembangan sosial- emosional anak melalui interaksi sosial dengan teman sebaya di PAUD Indriyasana adalah : 1 menunjukkan sikap suka memberi kepada temannya, sopan santun, 2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VIII semester 1 dengan materi pokok pengaruh interaksi sosial terhadap perkembangan kehidupan kebangsaan dan sub materi mobilitas sosial dengan alokasi waktu 1 x pertemuan (2 x 40