PROPOSAL TEKNIS PERANCANGAN KOTA
“PALU BARAT SEBAGAI KOTA BUDAYA DAN WISATA”
KELOMPOK PALU BARAT :
Ahmad Rizki Annabawi F23121063
Fahra Rizka Wati F23121089
Vira Praditha Lamali F23121099
Muh. Anggi Junialdo Dg.Malino F23121111
Grayn Abdiel F23122044
Dinda Angelita Seleng F23123026
Sitti Nur Maliza F23123030
PRODI S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TADULAKO
2024
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangRencana Pengembangan wilayah dibutuhkan untuk menjawab tantangan pertumbuhan penduduk dan ekonomi, namun dalam pelaksanaannya sering terjadi kurang terintergrasinya pengembangan antar sektor. Pembangunan fisik dalam penyediaan prasarana dan sarana dasar wilayah sebagai penunjang kehidupan dan perkembangan suatu wilayah cenderung menekankan pada pemenuhan kebutuhan dasar (basic need approach) dan bukan pada pengembangan daerah secara menyeluruh (development approach). Untuk itu diperlukan adanya strategi penanganan pembangunan yang tidak saja berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pada kebutuhan secara menyeluruh guna terselenggaranya fungsi wilayah dalam kerangka sistem perwilayahan yang lebih luas.
Pariwisata adalah serangkaian aktivitas yang berupa perpindahan orang untuk sementara waktu ke suatu tujuan di luar tempat tinggal maupun tempat kerjanya, aktifitas yang dilakukannya selama tinggal di tempat tujuan tersebut dan kemudahan-kemudahan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhannya baik selama dalam perjalanan maupun di lokasi tujuannya. (mathieson dan wall,1982).
Dalam pariwisata juga dikenal dengan adanya Kawasan Strategis Pariwisata yang menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 menyatakan bahwa kawasan strategis pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan.
Kecamatan Palu barat adalah salah satu kecamatan di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia yang memiliki luas wilayah sebesar 8,28 Km2 yang terdiri atas 6 kelurahan. Berdasarkan letak geografisnya Kecamatan Palu Barat berbatasan dengan sebelah Utara Kecamatan Ulujadi, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Palu Timur , Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tatanga, dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi.
Berdasarkan RTRW Provinisi Sulawesi Tengah 2010-2030, Kecamatan Palu Barat memiliki berbagai potensi pengembangan kawasan pariwisata budaya berupa buatan alam dan manusia dengan arahan peruntukan lahannya seluas kurang lebih tujuh puluh enam (76) hektar.
Peruntukkan kawasan pariwisata budaya tersebut salah satunya berada di Kawasan Religi Sis Aljufri yang berperan penting dalam membangun cagar budaya Sulawesi Tengah khususnya dalam bidang pendidikan dan religi.
2 Untuk merencanakan pengembangan pariwisata di Kecamatan Palu Barat perlu ditinjau dari beberapa sisi serta panduan dari Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan
Dengan adanya perencanaan pengembangan kawasan pariwisata di Kecamatan Palu Barat diharapkan kedepannya dapat berguna untuk berbagai macam kegiatan seperti menjadi area rekreasi dan hiburan,pemberdayaan sumber daya alam ,pengembangan kebudayaan,serta yang terpenting berfungsi dalam menggerakkan sektor ekonomi local di Kecamatan Palu Barat. Dengan berbagai kelebihan ini, pembangunan kawasan pariwisata dan budaya diharapkan juga dapat menjadi investasi jangka panjang yang memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan lingkungan Kota Palu.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang serta tujuan dan sasaran dalam perencanaan ini, maka rumusan masalah yang teridentifikasi sebagai berikut :
1. Bagaimana arahan pengembangan Kecamatan Palu Barat sebagai kota Budaya dan Wisata menurut arahan tata ruang?
2. Seperti apa rancangan pengembangan kawasan wisata Religi Sis Al- Jufri?
3. Bagaimana kolaborasi teori Hamid Shirvani dan Kevin Lynch dalam pengembangan Kecamatan Palu Barat sebagai kota Budaya dan Wisata?
1.3 Tujuan Dan Sasaran 1.3.1 Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah merumuskan arahan pengembangan potensi Kecamatan Palu Barat menjadi Kawasan Pariwisata Budaya yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan berbagai aspek Rancang kota berdasarkan Teori Hamid shirvani (1985) dan Citra Kota oleh Kevin Lynch (1960) yang akan di wujudkan dalam bentuk desain.
1.3.2 Sasaran
Untuk mencapai tujuan, maka sasaran yang akan dicapai adalah antara lain :
1. Mengidentifikasi pengembangan Kecamatan Palu Barat sebagai kota Budaya dan Wisata menurut arahan tata ruang.
2. Mengidentifikasi bagaimana rancangan pengembangan kawasan wisata Religi Sis Al-Jufri.
3 3. Mengidentifikasi kolaborasi antara teori Hamid Shirvani dan Kevin
Lynch dalam pengembangan Kecamatan Palu Barat sebagai kota Budaya dan Wisata.
1.4. Dasar Hokum
Dalam menyusun proposal teknis perancangan kota di palu barat, terdapat beberapa Dasar Hukum yang menjadi landasan atau pedoman.
Berikut Dasar Hukum yang digunakan dalam Kegiatan Penyusunan proposal teknis perancangan kota di palu barat.
1. UU No 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan 2. RTRW Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2010-2030 3. RDTR Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2023-2043
4. Permen Nomor 06/2007 Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
1.5 Ruang Lingkup
1.5.1 Ruang Lingkup Materi
Merujuk pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
06/Prt/M/2007 Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan, Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.
Pada Bab I ketentuan umum pada bagian kesatu pasal 1, Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Pedoman umum adalah suatu acuan yang bersifat umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan.
2. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.
3. Dokumen RTBL adalah dokumen yang memuat materi pokok RTBL sebagai hasil proses identifikasi, perencanaan dan perancangan suatu lingkungan/kawasan, termasuk di dalamnya adalah identifikasi dan apresiasi konteks lingkungan, program peran masyarakat dan pengelolaan serta pemanfaatan aset properti kawasan.
4 4. Penataan bangunan dan lingkungan adalah kegiatan
pembangunan untuk merencanakan, melaksanakan, memperbaiki, mengembangkan atau melestarikan bangunan dan lingkungan/ kawasan tertentu sesuai dengan prinsip pemanfaatan ruang dan pengendalian bangunan gedung dan lingkungan secara optimal, yang terdiri atas proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung dan lingkungan. 5.
Pembinaan pelaksanaan adalah kegiatan pengaturan, pemberdayaan, dan pengawasan yang ditujukan untuk mewujudkan efektivitas peran para pelaku penyelenggara penataan bangunan dan lingkungan (pemerintah, masyarakat dan dunia usaha) pada tahap penyusunan RTBL, penetapannya menjadi peraturan gubernur/ bupati/walikota, pelaksanaan pembangunan, dan peninjauan kembali/evaluasi terhadap penerapan RTBL.
Dalam Pasal 3 ayat (1) tertuang materi pokok Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan meliputi :
a. Program Bangunan dan Lingkungan b. Rencana Umum dan Panduan Rancangan c. Rencana Investasi
d. Ketentuan Pengendalian Rencana e. Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.
Dalam ayat (2), dijelaskan terkait Penyusunan Dokumen RTBL.
Penyusunan Dokumen RTBL dilaksanakan pada suatu kawasan/lingkungan bagian wilayah kabupaten/kota, kawasan perkotaan dan/atau perdesaan meliputi :
a. kawasan baru berkembang cepat b. kawasan terbangun
c. kawasan dilestarikan d. kawasan rawan bencana
d. kawasan gabungan atau campuran dari keempat jenis kawasan pada butir (a), (b), (c) dan/atau (d) ayat ini.
Ayat (3) menjelaskat terkait Penyusunan Dokumen RTBL berdasarkan pola penataan bangunan dan lingkungan yang ditetapkan pada kawasan perencanaan. Penyusunan Dokumen RTBL berdasarkan pola penataan bangunan dan lingkungan yang ditetapkan pada kawasan perencanaan meliputi:
a. Perbaikan kawasan, seperti penataan lingkungan permukiman kumuh/nelayan (perbaikan kampung), perbaikan desa pusat pertumbuhan, perbaikan kawasan, serta pelestarian kawasan.
b. Pengembangan kembali kawasan, seperti peremajaan kawasan, pengembangan kawasan terpadu, revitalisasi kawasan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan pascabencana.
c. Pembangunan baru kawasan, seperti pembangunan kawasan permukiman (kawasan siap bangun/lingkungan siap bangun –
5 berdiri sendiri), pembangunan kawasan terpadu, pembangunan desa agropolitan, pembangunan kawasan terpilih pusat.
d. Pertumbuhan desa (KTP2D), pembangunan kawasan perbatasan, dan pembangunan kawasan pengendalian ketat (high-control zone).
e. Pelestarian/pelindungan kawasan, seperti pengendalian kawasan pelestarian, revitalisasi kawasan, serta pengendalian kawasan rawan bencana.
1.5.2 Ruang Lingkup Wilayah
Kecamatan Palu Barat merupakan bagian dari Kota Palu mempunyai batas-batas administrasi sebagai berikut:
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Ulujadi Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Palu Timur Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Tatanga Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi
Karakteristik wilayah kecamatan palu barat menurut elevasi ketinggian di atas permukaan laut (DPL) yang berada diantaranya 0-15 m, ketinggian tersebut diukur berdasarkan letak kantor kelurahan. Seluruh wilayah merupakan daratan dan morfologinya relative datar. Wilayah yang berbatasan langsung oleh laut dan daerah pesisir pantai yaitu kelurahan lere, sedangkan wilayah lainnya bukan daerah pesisir pantai.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan memudahkan pembaca dalam memahami laporan ini secara keseluruhan, maka penulisan ini dibagi menjadi 4 bagian sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang penjelasan latar belakang lokasi studi,rumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
BAB 2 KAJIAN LITERATUR
Bab ini berisi studi literatur relevan yang menjadi alat mengkaji bagi obyek penulisan dengan teori dari hamid shirvani (perancangan kota), Teori Kevin Lynch (Citra Kota), dan tabel persandingan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab isi berisi tentang pendekatan penelitian, lokasi dan waktu penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data dan metode analisis data.
BAB IV PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dan desain lokasi studi/kawasan berupa gambar (gambar 3D)
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Hamid ShirvaniHamid Shirvani (1985). Dalam setiap perancangan kota harus memperhatikan elemen elemen perancangan yang ada sehingga nantinya kota tersebut akan mennpunyai karakteristik yang jelas. Dalam teori perancangan kota menurut Hamid Shirvani (1985) terdapat 8 elemen yang meliputi; Tata Guna Lahan (Land Use), Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing), Sirkulasi dan Parkir (Sirculation and Parking), Ruang Terbuka (Open Space), Pedestrian (Pedestrian Ways), Aktivitas Pendukung (Support Activity), Perpapanan nama/penanda (Signage), Preservasi (Preservation).
2.2.1 Tata Guna Lahan (Land Use)
Merupakan elemen pokok dalam urban design yang menetukan dasar perencanaan dalam dua dimensi, bagi terlaksananya ruang tiga dimensi. Tata guna lahan merupakan suatu pengaturan lahan dan keputusan untuk menggunakan lahan bagi maksud tertentu sesuai dengan peruntukanya. Dalam peruntukan lahan terdapat pembagian penggunaan lahan menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan interaksi antara unsur aktifitas, manusia dan lokasi, pertama menghasilkan land use plan dengan pengelompokan aktifitas, fungsi dan karakter tertentu, kedua menghasilkan mixed land use plan sebagai alternatif dalam pembagian penggunaan lahan yang terbatas. Kebijakan tata guna lahan mempertimbangkan hal-hal berikut :
a. Tipe penggunaan lahan yang di izinkan
b. Hubungan fungsional yang terjadi antara area yang berbeda c. Jumlah maksimum floor area yang ditampung dalam suatu area
tata guna lahan
d. Skala pembangunan baru
e. Tipe intensif pembangunan yang sesuai untuk dikembangakan pada area dengan karakteristik tertentu
Dalam hal ini yang termasuk dalam penggunaan lahan pada Elemen perancangan kota antara lain :
a. Tipe penggunaan dalam suatu area
b. Spesifikasi fungsi dan keterkaitan antar fungsidalam pusat kota c. Ketinggian bangunan
d. Skala fungsi
2.2.1 Bentuk Dan Massa Bangunan (Building From And Massing) Bentuk dan Massa Bangunan Building form and missing membahas mengenai bagaimana bentuk dan massa-massa bangunan yang dapat memebentuk suatu kota serta bagaimana hubungan antara massa yang ada. Pada penataan suatu kota, bentuk dan hubungan antara massa seperti ketinggian bangunan, pengaturan massa bangunan dan lain-lain
7 harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk teratur, mempunyai garis langit yang dinamis serta mnghindari adanya lost space ( ruang tidak terpakai ). Bentuk dan massa bangunan berkaitan erat dengan ketinggian Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan / Building Coverage, Garis Sempadan Bangunan, Style, Skala, Bahan Bangunan, Tekstur, dan Warna bangunan. Building form and massing dapat meliputi kualitas yang berkaitan dengan penampilan bangunan, yaitu:
1. Ketinggian Bangunan
Ketinggian bangunan berkaitan dengan jarak pandang pemerhati, baik yang berada dalam bangunan maupun yang berada pada jalur pejalan kaki. Ketinggian bangunan pada suatu kawasan membentuk skyline. Skyline dalam skala kota mempunyai makna :
a) Sebagai simbol kota b) Sebagai indeks sosial c) Sebagai alat orientasi d) Sebagai perangkat estetis 2. Kepejalan Bangunan
Pengertian dari kepejalan adalah penampilan gedung dalam konteks kota. Kepejalan suatu gedung ditentukan oleh tinggi, luas- lebar- panjang, olahan massanya dan variasi penggunaan material.
3. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
Koefisien Lantai Bangunan adalah jumlah luas lantai bangunan dibagi dengan luas tapak. Koefisien Lantai Bangunan dipengaruhi oleh daya dukung tanah, daya dukung lingkungan, nilai harga tanah dan faktor- faktor khusus tertentu sesuai dengan peraturan atau kepercayaan daerah setempat.
4. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
KDB Adalah luas tapak yang tertutup dibandingkan dengan luas tapak keseluruhan. Koefisien Dasar Bangunan dimaksudkan untuk menyediakan area terbuka yang cukup di kawasan perkotaan agar tidak keseluruhan tapak diisi dengan bangunan sehingga daur lingkungan menjadi terhambat.
5. Garis Sempadan Bangunan (GSB)
GSB adalah jarak bangunan terhadap jalan. Garis ini sangat penting dalam mengatur keteraturan bangunan di tepi jalan kota.
6. Langgam
Langgam atau gaya dapat diartikan sebagai suatu kumpulan karakteristik bangunan dimana struktur, kesatuan dan ekspresi digabungkan di dalam satu periode atau wilayah tertentu. Peran dari langgam ini dalam skala urban jika direncanakan dengan baik dapat menjadi guideline yang mempunyai kekuatan untuk menyatukan fragmen-fragmen kota.
7. Skala
Rasa akan skala dan perubahan-perubahan dalam ketinggian ruang atau bangunan dapat memainkan peranan dalam menciptakan
8 kontras visual yang dapat membangkitkan daya hidup dan kedinamisan.
8. Material
Peran material berkenaan dengan komposisi visual dalam perancangan. Komposisi yang dimaksud diwujudkan oleh hubungan antar elemen visual.
9. Tekstur
Dalam sebuah komposisi yang lebih besar (skala urban) sesuatu yang dilihat dari jarak tertentu maka elemen yang lebih besar menimbulkan efek-efek tekstur.
10. Warna
Dengan adanya warna (kepadatan warna, kejernihan warna), dapat memperluas kemungkinan ragam komposisi yang dihasilkan.
2.1.3 Sirkulasi dan Parkir (Sirculation and Parking)
Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk dan mengkontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan keberadaan system transportasi dari jalan public, pedestrian ways, dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk pergerakan (suatu kegiatan). Sirkulasi di dalam kota merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan kerena dapat membentuk, mengarahkan, dan mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota. Sirkulasi dalam elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk dan mengontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian ways dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan akanmembentuk pergerakan (suatu kegiatan). Dalam proses perancangan sebuah pola sirkulasi perlu diperhatikan beberapa anggapan mengenai sirkulasi yaitu :
1. Sirkulasi sebagai sebuah pergerakan, Hal ini merupakan pandangan umum semua orang mengenai suatu sirkulasi yaitu sebuah pergerakan atau perpindahan dari suatu tempat ketempat yang lainnya.
2. Sirkulasi sebagi sebuah penekanan material, pembuatan material yang senada ataupun sejenis dapat merupakan sebuah penanda atau sebuah penekanan dalam suatu pola sirkulasi. Jalur yang jelas akibat penekanan pada bahan material mempermudah system sirkulasi suatu Kawasan.
3. Sirkulasi sebagai pertimbangan desain, Jika kita mengangap sirkulasi merupakan pertimbangan dalam desain maka kita harus mepertimbangkan masalah kegunaan bentuk, keamanan, dan skala dari suatu jalan atau jalur bagi pembentukan pola sirkulasi.
4. Sirkulasi sebagai sebuah mata rantai dan sistemvisual, Suatu pola sirkulasi merupakan suatu pola yang berkelanjutan dan berkesinambungan sehingga menjadi satu kesatuan dengan hasil rancangan sehingga menimbulkan kesan desain yang menarik.
9 5. Sirkulasi sebagai sebuah mata rantai dan sistemvisual, Suatu pola
sirkulasi merupakan suatu pola yang berkelanjutan dan berkesinambungan sehingga membentuk suatu sistem yang tertata. Suatu sistem yang berpola dan tertata rapi menjadi satu kesatuan dengan hasil rancangan sehingga menimbulkan kesan desain yang menarik.
6. Sirkulasi sebagai perbedaan waktu, dalam suatu proses sirkulasi, terdapat perbedaan waktu dalam mencapai tempat yang merupakan tujuan akhir dari alur sirkulasi. Hal ini diakibatkan krena adanya proses pencapaian dalam sebuah kegiatan sirkulasi.
Dalam suatu sirkulasi tentulah tidak terlepas dari perencanan sebuah jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain, jenis jenis jalan antara lain : (George Nez,Time Saver for Urban Design. 1989).
A. Jalan arteri primer
1) Kecepatan rencana minimal 60 km/jam 2) Lebar badan jalan minimal 8meter
3) Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata 4) Lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas
ulang alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal 5) Jalan masuk dibatasi secara efisien
B. Jalan Arteri sekunder
1) Kecepatan rencana minimal 20 km/ jam 2) Lebar badan jalan minimal 8meter
3) Kapasitas sama atau lebih besar dari pada volume lalu lintas rata- rata
4) Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat,
5) Persimpangan dengan pengaturan tertentu tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan.
C. Jalan kolektor primer
1) Kecepatan rencana minimal 40 km/jam 2) Lebar jalan minimal 7 meter
3) Jalan masuk dibatasi, direncanakan sehingga tidak mengurangi kecepatan rencana dan kapasitas jalan
4) Tidak terputus walaupun melalui kota.
D. Jalan kolektor sekunder
1) Kecepatan rencana minimal 20 km/jam 2) Lebar badan jalan minimal 7 meter E. Jalan local primer
1) Kecepatan rencana minimal 20 km/jam 2) Lebar badan jalan minimal 6 meter 3) Tidak terputus walaupun melalui desa.
F. Jalan lokal sekunder
1) Kecepatan rencana minimal 10 km/jam 2) Lebar badan jalan minimal 5meter
10 3) Persyaratan teknik diperuntukkan bagi kendaraan beroda
tiga atau lebih
4)
Lebar badan jalan tidak diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga atau lebih, minimal 5 meter.Dalam perencanaan untuk jaringan sirkulasi dan parkir harus selalu memperhatikan :
1. Jaringan jalan harus merupakan ruang terbuka yang mendukung citra kawasan dan aktivitas pada kawasan.
2. Jaringan jalan harus memberi orientasi pada penggunan dan membuat lingkungan yang legible.
3. Kerjasama dari sektor kepemilikan dan privat dan publik dalam mewujudkan tujuan dari kawasan.
Sedangkan dalam masalah parkir harus diperhatikan antara parkir individu dan parkir umum. Dalam penelitian akan penyediaan parkir perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Karakter pengguna
2. Kegiatan dan kebiasaan dari operasi usaha 3. Biaya
4. Peraturan pemerintah
2.1.4 Ruang Terbuka (Open Space)
Ruang terbuka adalah suatu sebutan yang diberikan orang atas ruang yang terjadi karena pembatasan alat hanya pada dua unsur atau bidang, yaitu alas dan dinding tanpa bidang atap (terbuka). Ruang luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam. Ruang luar dipisahkan dengan alam dengan memberi “frame”, jadi bukan alam itu sendiri (yang dapat meluas tak terhingga). Ruang terbuka adalah bentuk dasar dari ruang terbuka dari bangunan dan dapat digunakan oleh publik atau semua orang, serta dapat memberi kesempatan untuk bermacam-macam kegiatan. Ruang terbuka berdasarkan kegiatan yang terbagi sebagai berikut :
1. Ruang terbuka aktif, yaitu ruang terbuka yang mengandung unsur-unsur kegiatan didalamnya.
2. Ruang terbuka pasif, yaitu ruang terbuka yang di dalamnya tidak mengandung kegiatan manusia.
Elemen ruang terbuka kota meliputi lansekap, jalan, pedestrian, taman, dan ruang- ruang rekreasi. Langkah-langkah perencanaan ruang terbuka:
1. Survei pada daerah yang direncanakan untuk menentukan kemampuan daerah tersebut untuk berkembang.
2. Rencana jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi alami (natural) kawasan sebagai ruang publik.
3. Pemanfaatan potensi alami Kawasan dengan menyediakan sarana yang sesuai
4. Studi mengenai ruang terbuka untuk sirkulasi mengarah pada kebutuhan akan penataan yang manusiawi.
11 Perencanaan open space harus merupakan bagian yang integral dengan perencangan kota terdiri dari 4 elemen yaitu :
1. Elemen system tertutup yang linear: memperhatikan ruang yang bersifat linear tetapi kesannya tertutup
2. Elemen system yang memusat : berkesan tertutup dan terfokus 3. Elemen system terbuka yang sentral : terbuka nemun masih
tampak terfokus
4. Elemen system terbuka yang linear : berkesan terbuka dengan linear.
2.1.5 Jalur Pejalan Kaki (Pedestrian Ways)
Berjalan kaki merupakan suatu alat untuk pergerakan internal kota, satu satunya alat untuk memenuhi kebutuhan interaksi tatap muka yang ada di dalam aktivitas kehidupan kota. Masalah pokok dalam perencanaan jalan bagi pejalan kaki adalah pada kebutuhan akan keseimbangan antara ketentuan bagi elemen pejalan kaki untuk menciptakan pusat kota yang nyaman dinikmati serta pembagian dari akses-akses pelayanan umum lainnya. Perubahan-perubahan rasio penggunaan jalan raya yang dapat mengimbangi dan meningkatkan arus pejalan kaki dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek berikut:
1. Pendukung aktivitas di sepanjang jalan, adanya sarana komersial seperti toko, restoran, cafe.
2. Street furniture berupa pohon-pohon, rambu-rambu, lampu, tempat duduk, dan sebagainya.
2.1.6 Pendukung Aktivitas (Activity Support)
Secara umum, aspek-aspek perancangan kota (urban design) yang ada selalu berkaitan dengan bangunan-bangunan dan hubungan antar ruang bangunan, ruang terbuka di sekelilingnya, serta fasilitas transportasi yang dapat dicapai. Activity support sebagai salah satu elemen atau aspek dalam perancangan kota, keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek lainnya, terutama ruang terbuka dan jalur pendestrian.
Definisi activity support adalah kegiatan yang menyangkut seluruh penggunaan kegiatankegiatan yang menunjang keberadaan ruang-ruang umum kota. Kegiatan-kegiatan dan ruang- ruang umum tersebut merupakan dua hal yang selalu bersifat saling mengisi/ melengkapi antara satu dengan lainnya. Selanjutnnya bentuk, lokasi, dan karakteristik suatu area (dalam hal ini adalah ruang-ruang umum kota), akan menghasilkan fungsi-fungsi, penggunaan, dan kegiatan-kegiatan yang spesifik pula.
Aktivitas dan ruang fisik saling melengkapi satu sama lain, meliputi segala fungsi dan aktivitas yang memperkuat ruang terbuka publik. Pendukung aktivitas tidak hanya berupa sarana pendukung pedestrian ways atau plaza tetapi juga pertimbangan akan fungsi dan guna elemen kota yang dapat membangkitkan aktivitas seperti pusat perbelanjaan, taman rekreasi, alun- alun dan sebagainnya.
12 Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan desain activity support adalah:
1. Adanya koordinasi antara kegiatan dengan lingkungan binaan yang dirancang
2. Adanya keragaman intensitas kegiatan yang dihadirkan dalam suatu ruang tertentu
3. Pengadaan fasilitas lingkungan
4. Sesuatu yang terukur, menyangkut ukuran, bentuk dan lokasi dan fasilitas yang menampung activity support yang bertitik tolak dari skala manusia.
2.1.7 Penandaan (Signage)
Penanda (signages) Dalam kehidupan kota saat ini, iklan atau advertising mengisi ruang visual kota melalui papan iklan, spanduk, baliho dan sebagainya. Hal ini sangat mempengaruhi visualisasi kota baik secara makro maupun mikro.Kehidupan kota sangat tergantung pada aktivitas komersialnya, akibatnya penandaan atau petunjuk mempunyai pengaruh penting pada desain tata kota. Pengaturan pemunculan dan lokasi pemasangan papan- papan petunjuk sebaiknya tidak menimbulkan pengaruh visual negatif dan tidak mengganggu tanda-tanda lalu lintas.
Adapun jenis tanda-tanda (sign) dibedakan menjadi:
1. Identitas, Tanda digunakan untuk pengenalan kegiatan pada lingkungan / lokasi tertentu. Tandatanda yang mempunyai bentuk khusus dan skala yang besar dapat dijadikan landmark.
2. Nama Bangunan, Dipakai sebagai nama bangunan yang biasanya dilengkapi dengan petunjuk jenis kegiatan yang ada di dalamnya.
3. Petunjuk sirkulasi, Biasanya disebut sebagai rambu-rambu lalu lintas yang berfungsi untuk mengatur dan mengarahkan pengandara atau pejalan kaki dalam sirkulasi.
4. Komersial, Tanda jenis ini adalah reklame dan iklan.
5. Petunjuk ke lokasi dan fasilitas lain, Tanda jenis ini merupakan petunjuk arah lokasi kegiatan tertentu yang mempunyai keterangan jarak.
6. Informasi, Berfungsi untuk menginformasikan kegiatan di suatu lokasi.
Dalam pemasangan papan iklan harus memperhatikan pedoman sebagai berikut :
1. Penggunaan papan iklan harus merefleksikan karakter kawasan.
2. Jarak dan ukuran harus memadahi dan di atur sedemikian rupa agar menjamin jarak penglihatan dan menghindari kepadatan.
3. Penggunaan harus harmonis dengan bangunan arsitektur di sekitar lokasi
4. Pembatasan penggunaan lampu hias kecuali penggunaan khusus untuk teater dan tempat pertunjukkan
5. Pembatasan papan iklan yang berukuran besar yang mendominir di lokasi pemandangan kota.
13 2.1.8 Preservasi (Preservation)
Preservasi dalam perncangan kota adalah perlindungan terhadap lingkungan tempat tinggal (permukiman) dan urban places (alun-alun, plasa, area perbelanjaan) yang ada dan mempunyai ciri khas, seperti halnya perlindungan terhadap bangunan bersejarah. Manfaat dari adanya preservasi antara lain:
1. Peningkatan nilai lahan 2. Peningkatan nilai lingkungan
3. Menghindarkan dari pengalihan bentuk dan fungsi karena aspek komersial
4. Peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi
2.2 Teori Citra Kota (Kevin Lynch)
Teori ini diformulasikan oleh Kevin Lynch, seorang tokoh peneliti kota. Risetnya didasarkan pada citra mental jumlah penduduk dari kota tersebut ( Lynch, Kevin. The image of the city. Cambridge. 1969 ). Dalam risetnya, ia menemukan bahwa pentinganya suata citra mental karena citra yang jelas akan memberikan banyak hal yang sangat penting bagi masyarakatnya, seperti kemampuan untuk berorientasi dengan mudah dan cepat disertai perasaan nyaman karena merasa tidak tersesat, identitas yang kuat terhadap suatu tempat,dan keselarasan hubungan dengan tempat-tempat yang lain. Ada lima elemen kota yang mendasar yang mampu memberikan kualitas visual bagi kota itu sendiri. Elemen-elemen inilah yang dianggap kasat mata dan terasa di kawasan kota. Semakin kuat kelima elemen ini maka semakin baik kota itu akan memberikan kualitas imageeble terhadap pengamat. Lima elemen kota ini adalah :
1. Jalur (Path ) 2. Tepian (Edge) 3. Kawasan (District ) 4. Simpul (Nodes) 5. Tangeran (Landmark)
2.2.1 Jalur (Paths)
Mereka adalah saluran pergerakan di mana kota dapat dikandung seperti gang, jalanan, rel kereta api, jalan raya, kanal dan sejenisnya. Jalan mana pun memiliki tiga karakteristik yang meningkatkan keunggulannya, yaitu identitas, kontinuitas dan kualitas terarah. Jalan mungkin kontinuitas, jika ada konsentrasi dan variasi kegiatan di sekitarnya, maka orang akan berorientasi dengan mengikuti arus lalu lintas utama.
2.2.2 Batas ( Edges )
Tepi adalah elemen linier yang tidak digunakan atau dianggap sebagai jalan oleh pengamat. Mereka adalah batas antara dua fase, inkontinuitas linier: pantai, jalan kereta api, tepi pembangunan, dinding
"(Lynch, 1960: 47). Ujung adalah garis yang memisahkan dua area dengan fitur yang berbeda satu sama lain, garis ini mungkin merupakan batas alami seperti sungai, jembatan dan topografi atau bentuk buatan seperti
14 greenbelt, waterfront, highway, jalan raya yang ditinggikan atau yang lainnya, karena mungkin saja Tingkat diferensiasi antara dua kabupaten melalui karakteristiknya yang berbeda, karakteristik ini dapat dihasilkan dari penggunaan kosa kata arsitektur yang berbeda di fasad, jenis elemen lanskap tertentu, sifat cekung, tinggi bangunan, jenis rumah, klasifikasi kegiatan, kelas sosial lainnya.
2.2.3 Kawasan ( District )
Kabupaten adalah daerah karakter yang dianggap memiliki karakteristik umum, identitas visual yang terpisah dari lingkungan lainnya.
Daerah ini bisa dikenali sebagai unit tematik. Karakteristik fisik kabupaten yang baik ditentukan oleh kontinuitas dan homogenitas bahan fasad, tekstur, ruang, bentuk, rincian, simbol, jenis bangunan, kegunaan, aktivitas, penghuni, warna, topografi dan langit (Lynch, 1960). Semua fitur ini memberi identitas pada distrik, menciptakan keintiman antara bagianbagiannya, dan mengidentifikasi petunjuk dasar kota.
2.2.4 Simpul (Nodes)
Menurut Lynch "Node adalah fokus strategis dimana pengamat Dapat masuk, biasanya persimpangan jalan, atau konsentrasi beberapa karakteristik "(Lynch, 1960: 72). Mereka adalah titik temu seperti kotak, stasiun kereta api, plaza dan persimpangan bahkan persimpangan jalan biasa adalah simpul. Simpul bisa berupa persimpangan, maka kaitannya dengan jalur, sebagai konvergensi dari jalur ini seperti kotak; Atau konsentrasi tematik seperti konsentrasi belanja; Atau kedua persimpangan dan konsentrasi.
2.2.5 Tangeran
(Landmark) Berbeda dengan simpul, yang bisa dimasukkan, tengara merupakan ciri eksternal bagi individu yang bertindak sebagai rujukan (Lynch, 1960). Tengaran berbeda dengan pengalaman pribadi seseorang.
Mereka biasanya statis (mereka juga bisa menjadi benda bergerak seperti matahari) dan benda unik (struktur fisik atau fitur geografis) yang bisa dipilih dari sejumlah kemungkinan. Tengaran adalah isyarat yang sangat penting dalam proses pencarian jalan ketika mereka berbeda dan tidak terlalu banyak (Kaplan, et al., 1998).
2.3 Persandingan Teori Hamid Shirvani dan Teori Kevin Lynch Berdasarkan Arahan Pembangan Rencana Detail Tata Ruang
Tabel 2. 1 Tabel Persandingan Teori Hamid Shirvani Berdasarkan Arahan Pembangan Rencana Detail Tata Ruang
No. Teori Hamid Shirvani
Arahan Pengembangan Rencana Detail Tata Ruang
1. Tata Guna Lahan
a. Zona Kawasan Peruntukkan Industri dengan luas, 5,63 Ha
b. Zona Pariwisata dengan luas, 18,09 Ha c. Zona Perumahan dengan luas 1014,18 Ha d. Zona SPU dengan luas, 67,71 Ha
15 No. Teori Hamid
Shirvani
Arahan Pengembangan Rencana Detail Tata Ruang
e. Zona Perdagangan dan Jasa dengan luas, 267,57 Ha
f. Zona Perkantoran dengan luas, 10,11 Ha g. Zona Pengelolaan Persampahan dengan luas,
0,10 Ha
h. Zona Pertahanan dan Keamanan dengan luas, 7,03 Ha
2. Bentuk Dan Massa Bangunan
a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimum diturunkan sebesar minimal 5% (lima persen) sampai dengan maksimum 20% (dua puluh persen);
b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) maksimum diturunkan sebesar minimal kaveling 5% (lima persen) sampai dengan maksimum 20% (dua puluh persen);
c. Koefisien Dasar Hijau (KDH) minimal dinaikkan sebesar l minimal 5% (lima persen) sampai dengan maksimum 20% (dua puluh persen);
d. Untuk, Garis Sempadan Bangunan telah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Palu No. 6 Tahun 2011, yaitu dengan ketentuan Garis Ruang Milik Jalan dan Garis Sempadan Bangunan ditetapkan maksimal 1,5 meter, boleh dibuat dalam bentuk massif atau tidak tembus pandang. Garis sempadan bangunan terluar yang sejajar dengan as jalan (rencana jalan) ditentukan berdasarkan lebar jalan/ rencana jalan, fungsi jalan dan peruntukan kavling/kawasan. Letak garis sempadan dinding bangunan terluar, bilamana tidak ditentukan lain adalah separuh lebar Ruang Milik Jalan ditambah 1m dihitung dari as pagar. Untuk rumija dengan lebar kurang dari 4 meter, letak garis sempadan bangunan minimal 2 meter dihitung dari tepi jalan atau pagar.
3. Sirkulasi Dan Parkir
a. ruang publik dilengkapi fasilitas pejalan kaki seperti lampu jalan, papan petunjuk, bangku dan jalur hijau serta dapat terintegrasi dengan tempat parkir atau jalur sepeda;
b. penyediaan parkir tidak boleh mengurangi daerah-daerah penghijauan dan harus
memperhatikan kelancaran sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki, keamanan, keselamatan dan kenyamanan.
4. Ruang Terbuka Hijau
a. Rimba Kota dengan luas 3,86 Ha b. Taman Kota dengan luas, 282,89 Ha c. Taman Kecamatan dengan luas, 1,67 Ha d. Taman Kelurahan dengan luas 0,02 Ha e. Taman RT dengan luas 0,33 Ha f. Pemakaman dengan luas 6,84 Ha 5. Jalur Pejalan
Kaki/Pedestrian
a. Jaringan Pejalan Kaki sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d terdapat di seluruh WP I b. Jalur Sepeda sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf c, melalui WP I
6. Rambu/Penandaan Pembangunan jalur dan rambu evakuasi bencana dari permukiman penduduk
16 No. Teori Hamid
Shirvani
Arahan Pengembangan Rencana Detail Tata Ruang
7. Aktivitas Pendukung 8. Preservasi
Sumber : Analisis Kelompok 4 Palu Barat
Tabel 2. 2 Tabel Persandingan Teori Kevin Lynch Berdasarkan Arahan Pembangan Rencana Detail Tata Ruang
No. Teori Kevin Lynch Arahan Pengembangan Rencana Detail Tata Ruang
1. Path (Jalur)
a. Jalan Arteri Primer b. Jalan Arteri Sekunder c. Jalan Kolektor Primer d. Jalan Kolektor Sekunder e. Jalan Lokal Primer f. Jalan Lokal Sekunder g. Jalan Lingkungan Primer h. Jalan Lingkungan Sekunder
2. Edge (Tepian) -
3. District (Kawasan)
a. Kawasan Peruntukkan Industri b. Kawasan Pariwisata
c. Kawasan Perumahan d. Kawasan SPU
e. Kawasan Perdagangan dan Jasa f. Kawasan Perkantoran
g. Kawasan Pengelolaan Persampahan h. Kawasan Pertahanan dan Keamanan
4. Node (Simpul) -
5. Landmark (Tangeran/Penanda) - Sumber : Kelompok 4 Palu Barat
17
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan PenelitianPendeketan penelitian yang kelompok kami gunakan yaitu pendekatan Kualitatif dan pendekatan penelitian Deskriptif.
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
Lokasi yang menjadi penelitian kelompok kami yaitu berada di Kota Palu tepatnya di Kecamatan Palu Barat dimana keberadan lokasi tersebut di tetapkan sebagai kawasan budaya dan wisata. Hal ini di dukung dengan adanya cagar budaya seperti, rumah adat souraja yang berada di Kelurahan Lere dan kawasan Religi Yang berada Kelurahan Siranindi.
3.3 Jenis Dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan, diklasifikasi dan dianalisis menjadi 2 bagian yaitu primer dan sekunder , dimana data-data ini dianalisis menggunakan pendekatan kualitatiif dan sebagian menggunakan pendekatan deskriptif. Data Primer meliputi hasil survey, wawancara, dokumentasi, kemudian data sekunder meliputi tinjauan literatur terdahulu, dan dokumen rencana tata ruang.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan . Berdasarkan sumber datanya, pengumpulan data menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti secara langsung misalnya survey langsung ke lapangan dari objek yang diteliti dan untuk kepentingan studi yang bersangkutan yang dapat berupa interview, observasi. Sedangkan sumber sekunder adalah data yang diperoleh/ dikumpulkan dan disatukan oleh studi-studi sebelumnya atau, biasanya sumber tidak langsung berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi. Berikut tabel kebutuhan data :
Tabel 4. 1 Tabel Kebutuhan Data
Jenis Indikator Bentuk Data
Shp Foto Deskripsi Penggunaan
Lahan
Jenis Penggunaan
Lahan (Non Bangunan) Polygon √
Potensi Masalah Penataan Bangunan Fungsi, Tinggi, KDB,
KLB, KDH, dan GSB Polygon √ Jalan dan
Pergerakan
Kondisi Jalan Garis √
Lebar RUMIJA Titik √ Ukuran
Sirkulasi Pejalan
Kaki Trotoar/Pedestrian Garis √
Parkir Parkir On Street Titik √
Drainase Kondisi Drainase Garis √
Sumber : Kelompok 4 Palu Barat
18 3.5 Metode Analisis Data
1. Analisis Cagar Budaya 2. Analisis Penggunaan Lahan 3. Analisis Transportasi
4. Analisis Aksesibilitas Pejalan Kaki dan Pesepeda
5. Analisis Ketersediaan dan Dimensi Jalur Khusus Pedestriaan