Ilmu Ekonomi
Kehutanan
Kontekstual
70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Penyunting:
Didik Suharjito Fitta Setiajiati Handian Purwawangsa Soni Trison 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Ilmu Ek onomi K ehutanan K ont ek stual
ISBN : 978-623-256-234-9
Kehutanan
Ilmu Ekonomi
Kehutanan
Kontekstual
70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Ilmu Ekonomi
Kehutanan Kontekstual
70 TAHUN PROF DR DUDUNG DARUSMAN
C.01/09.2020
Penerbit IPB Press
Jalan Taman Kencana, No. 3 Kota Bogor - Indonesia
Ilmu Ekonomi
Kehutanan Kontekstual
70 TAHUN PROF DR DUDUNG DARUSMAN
C.01/09.2020
Penerbit IPB Press
Jalan Taman Kencana, No. 3 Kota Bogor - Indonesia
Penyunting:
Didik Suharjito Fitta Setiajiati Handian Purwawangsa
Soni Trison
Judul Buku:
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman Penyunting:
Didik Suharjito Fitta Setiajiati Handian Purwawangsa Soni Trison
Penyunting Bahasa:
Dwi M Nastiti Aditya Dwi Gumelar Desain Sampul:
Army Trihandi Putra Penata Isi:
Muhamar Alwedy Korektor:
Dwi M Nastiti Atika Mayangsari Jumlah Halaman:
398 + 14 halaman romawi Edisi/Cetakan:
Cetakan Pertama, September 2020
PT Penerbit IPB Press Anggota IKAPI
Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor 16128
Telp. 0251 - 8355 158 E-mail: [email protected] www.ipbpress.com
ISBN: 978-623-256-234-9
Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan
© 2020, HAK CIPTA PADA PENULIS DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku
tanpa izin tertulis dari penerbit
KATA PENGANTAR
Seseorang yang berkiprah dalam pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan patut menjadi teladan bagi teman sejawat maupun warga masyarakat yang lebih luas. Keteladanan pemikirannya, sikap dan tindakannya dalam berbagai kesempatan sepanjang kariernya dapat menjadi pelita kehidupan dari generasi ke generasi. PROF DR IR DUDUNG DARUSMAN, MA adalah salah seorang pendidik dan pengembang ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ekonomi kehutanan telah meniti karier hingga mencapai usia 70 tahun. Ilmu yang dipelajari dan dikembangkan telah disebarluaskan kepada akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, maupun praktisi. Demikian juga sisi-sisi sikap dan tindakannya sangat berkesan pada teman sejawat dan alumni.
Orang-orang yang belajar kepada PROF DUDUNG DARUSMAN dan para teman sejawat yang membidangi ilmu pengetahuan yang sama atau bersinggungan telah dan terus mengembangkan, menyebarluaskan, mengamalkannya. Semua itu berkontribusi pada pengayaan ilmu ekonomi kehutanan, berkontribusi pada perubahan dan pembentukan konsep atau teori baru ilmu ekonomi kehutanan.
Rencana semula disusun 2 (dua) buku. Buku pertama merupakan kumpulan naskah atau artikel ilmiah yang dapat menjadi bahan rujukan untuk perkuliahan, penelitian dan penulisan karya ilmiah, landasan bagi perumusan kebijakan kehutanan, maupun pedoman bagi praktisi pengelolaan sumberdaya hutan. Buku ini menyajikan hasil-hasil penelitian lapangan ataupun tinjauan konseptual/teoritik/metodologis. Sedangkan buku kedua menyajikan cerita kesan-kesan teman sejawat termasuk alumni bimbingan. Pada akhirnya diambil keputusan untuk menyatukan kedua buku tersebut menjadi satu buku ini.
vi
Kata Pengantar
Para kontributornya adalah teman sejawat PROF DUDUNG DARUSMAN yang berkiprah di fakultas atau jurusan kehutanan, lembaga penelitian, pemerintahan, atau bisnis. Teman sejawat mencakup mereka yang lebih tua, seangkatan, ataupun yang lebih muda dari sisi usia; mereka sekaligus yang mengenal ketika Prof Dudung Darusman sebagai mahasiswa, dosen muda, maupun terkini; mereka mengenal ketika Prof Dudung Darusman menjadi murid, pimpinan atau “atasan”, kolega kerja, maupun pembimbing akademiknya. Kami menyampaikan terima kasih kepada semua kontributor naskah ilmiah dan atau kesan-pesan sehingga buku ini dapat diwujudkan.
Kepada pimpinan Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, dan IPB kami menyampaikan terima kasih atas dukungannya.
Kepada Rektor IPB Prof Arif Satria disampaikan terima kasih telah berkenan memberikan sambutan untuk buku ini. Terima kasih kami sampaikan juga kepada para pihak lainnya yang tidak kami sebutkan satu per satu atas berbagai bentuk dukungan.
Kami persembahkan buku ini untuk PROF DUDUNG DARUSMAN di usia 70 tahun. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat-Nya kepada Pak Dudung, selalu sehat wal afiat, dan terus berkarya, beramal ilmu pengetahuan untuk kemajuan bangsa, ladang pahala yang luas.
Kami bersyukur kepada Allah atas izin-Nya, sehingga buku ini dapat sampai di tangan pembaca. Semoga buku ini menggugah spirit generasi muda untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Penyunting
Didik Suharjito Fitta Setiajiati Handian Purwawangsa Soni Trison
SAMBUTAN
REKTOR IPB UNIVERSITY
Institut Pertanian Bogor memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas terbitnya buku yang berjudul “Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual”
ini. Buku yang ditujukan untuk memperingati 70 tahun Prof Dr Dudung Darusman ini juga sekaligus menjadi kado indah bagi Institut Pertanian Bogor yang merayakan Dies Natalis yang ke-57 pada tahun ini.
IPB sebagai salah satu institusi pendidikan pertanian terbesar di Indonesia, sangat mengapresiasi apa yang sudah Prof Dudung lakukan untuk dunia kehutanan di tanah air maupun mancanegara. Lebih dari setengah abad Prof Dudung mendedikasikan hidupnya untuk dunia ekonomi kehutanan. Prof Dudung telah menunjukkan kepada kita bukti nyata kontribusi seorang akademisi yang sangat peduli terhadap perkembangan dunia kehutanan di Indonesia. Belajar, berkarya, dan berkontribusi untuk kemaslahatan bangsa.
Kepada para penulis dan penyunting buku ini, saya sangat menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja kerasnya menyusun buku ini. Saya yakin buku ini akan menginspirasi para generasi muda untuk meneliti dan menjaga hutan tropis Indonesia. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat yang berarti bagi kita semua yang membacanya dan memacu setiap dosen di perguruan tinggi untuk menerbitkan buku di bidangnya.
Bogor, 4 September 2020 Rektor,
Prof Dr Arif Satria
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...v
SAMBUTAN REKTOR IPB UNIVERSITY ...vii
DAFTAR ISI ...ix
DAFTAR TABEL ...xi
DAFTAR GAMBAR ...xiii
RIWAYAT HIDUP PROF DUDUNG DARUSMAN ...1
I. PENDAHULUAN ...17
1. Perubahan dan Kesinambungan dalam Ilmu Ekonomi Kehutanan ...19
II. KONSEP, TEORI, DAN APLIKASI ILMU EKONOMI KEHUTANAN ...23
2. Valuasi Ekonomi Agroforestry: Pemanfaatan Lahan Optimal Pola Diversifikasi Komoditas (Teori, Implementasi, Usulan Kebijakan)...25
3. Nilai Ekonomi Agroforestri Lahan Gambut ...51
4. Integrasi Agroforestri Kopi dalam Pengelolaan Hutan ...89
5. Politik dan Ekonomi Kawasan Hutan Indonesia ...101
6. Permasalahan, Konsep dan Implementasi Pembayaran Jasa Lingkungan: Perspektif Kelembagaan ...117
7. Konstruksi Historis Evolusi Property Right Hutan Indonesia: Refleksi Bagi Keadilan Manfaat Hutan ...157
8. Kaidah 5-Persen Versus Sumbangan 1-Persen ...183
x
Daftar Isi
III. EKONOMI DALAM SISTEM SOSIAL BUDAYA
DI TINGKAT LOKAL...201 9. Peran dan Keberlanjutan Institusi Lokal Pengelolaan
Mangrove di Kelurahan Setapuk Besar Kecamatan
Singkawang Utara ...203 10. “Poktamas Tuna Dei”: Kisah Perjuangan Warga Desa
Hikong Pasca Izin HKm Diberikan ...217 11. Memahami Kelestarian Hutan Adat di Sumatera Selatan:
Kemandirian Komunitas dan Spirit Identitas Agraris ...237 12. Daya Dukung Fisik Kawasan Wisata di Pusat Latihan
Gajah, Taman Nasional Way Kambas ...265 13. Prospek Resolusi Konflik Pemanfaatan Lahan di Taman
Nasional ...281 IV. EPILOG ...299
14. Ilmu Ekonomi Kehutanan di Dalam Pergulatan Paradigma Ilmu Ekonomi ...301 KESAN DAN PESAN ...313
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Karakteristik Pola Tanam Tunggal dan Pola Tanam Ganda ...27
Tabel 2.2 Formulasi Program Linear...35
Tabel 2.3 Rekapitulasi Biaya (nominal) usahatani pola agroforestri (Rp/40 tahun) ...39
Tabel 2.4 Pendapatan (nominal) Pola Agroforestri (Rp/40 th) ...40
Tabel 2.5 Keuntungan (nominal) Pola Agroforestri (Rp/40 th) ...41
Tabel 2.6 Nilai NPV, BCR, IRR, dan AEV/EAI ...42
Tabel 2.7 Alokasi optimal pemanfaatan lahan pola agroforestri ...45
Tabel 3.1 Nilai dan Volume Produksi Manfaat Langsung Pohon Jelutung di Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan ...56
Tabel 3.2 Volume Produksi dan Nilai Manfaat Langsung dari Tanaman Jagung di Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan. ...57
Tabel 3.3 Volume Produksi dan Nilai Manfaat Langsung dari Tanaman Sawi di Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan ...60
Tabel 3.4 Volume Produksi dan Nilai Manfaat Langsung dari Tanaman Cabai di Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan. ...62
Tabel 3.5 Volume Produksi dan Nilai Manfaat Langsung dari Tanaman Bawang Prei di Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan ...65
Tabel 3.6 Nilai Ekonomi Pasar Tanaman Pokok dan Tanaman Semusim Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan ...66
Tabel 3.7 Manfaat Tak Langsung Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kalteng ...68
xii
Daftar Tabel
Tabel 3.8 Nilai Manfaat Tak Langsung Lahan Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kalteng ...69 Tabel 3.9 Nilai Manfaat Keberadaan Lahan Eks Transmigrasi ...71 Tabel 3.10 Kuantifikasi Manfaat Langsung dan Manfaat Tidak Langsung
dari Ekosistem Kawasan Lahan Gambut Eks Transmigrasi Di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau ...71 Tabel 3.11 Pola Agroforestri Dua Kombinasi Tanaman di Lahan Gambut
Eks Transmigrasi Kelurahan Kalampangan Kecamatan
Sabangau Kalteng ...76 Tabel 3.12 Pola Agroforestri Tiga Kombinasi Tanaman di Lahan Gambut
Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kalteng ...77 Tabel 3.13 Pola Agroforestri Empat Kombinasi Tanaman di Lahan
Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan
Kecamatan Sabangau Kalteng ...77 Tabel 3.14 Pola Agroforestri Lima Kombinasi Tanaman di Lahan
Gambut Eks Transmigrasi di Kelurahan Kalampangan
Kecamatan Sabangau Kalteng ...78 Tabel 4.1 Ringkasan Sejarah Masuknya Kopi di Wilayah Pegunungan
Sigi ...95 Tabel 5.1 Persentase Minimum Luas Kawasan Lindung terhadap
Pulau (Daratan) berdarkan PP 13/2017 ...108 Tabel 6.1 Beberapa contoh PES di Indonesia ...124 Tabel 6.2 Lesson Learned dari Skema PES dan PJA ...147 Tabel 7.1 Resume evolusi property right hutan Indonesia dari masa
ke masa ...175 Tabel 11.1 Sebaran dan Tipologi Eksistensi Hutan Adat (HA)
di Sumatera Selatan ...247 Tabel 11.2 Kecenderungan Performansi Hutan-hutan Adat
di Sumatera Selatan ...255 Tabel 12.1 Standar Kebutuhan Fasilitas Wisata ...268 Tabel 12.2 Jumlah Pengunjung TNWK ...270 Tabel 12.3 Daya Dukung Fisik Kawasan untuk Setiap Aktivitas
Wisata ...271 Tabel 12.4 Daya Dukung Fasilitas Wisata PL ...275
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kurva Nilai Tukar ...32
Gambar 2.2 Kurva Kemungkinan Produksi/PPC (di titik B,C,D) ...33
Gambar 2.3 Kurva Pendapatan (estimasi) ...33
Gambar 2.4 Kurva pendapatan maksimum (di Titik E/TRmaks ) ...33
Gambar 3.1 Tanaman Jelutung dan Jagung ...58
Gambar 3.2 Tanaman Sawi Saat Dipanen ...60
Gambar 3.3 Tanaman Jelutung dan Cabai ...63
Gambar 3.4 Tanaman Jelutung dengan Bawang Prei ...65
Gambar 3.5 Model Agroforestri ...86
Gambar 3.6 Jumlah Petani Kopi dan Keluarga Perhutanan Sosial di Sulawesi Tengah dan Indonesia ...93
Gambar 5.1 Peta TGHK Provinsi Kalimantan Selatan (Sumber, BKSDA Kalimantan Selatan) ...104
Gambar 5.2 Peta Kawasan Hutan Indonesia (Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2018) ...107
Gambar 5.3 Situasi produksi dan unit-unit pengusahaan (2013–2019) ...111
Gambar 6.1 Proses kelembagaan ideal ...144
Gambar 8.1 Supply-Demand Jasa Ekosistem ...191
Gambar 9.1 Peta lokasi penelitian ...205
Gambar 9.2 Struktur Organisasi Perkumpulan Swadaya Peduli Mangrove ‘Surya Perdana Mandiri’ ...208
Gambar 10.1 Areal HKm “Poktamas Tuna Dei” di kawasan HL Wuko-Lewororo yang Cukup Lebat dengan Berbagai Jenis Tumbuhan (kiri) dan yang Terbuka di Daerah Perbukitan dengan Topografi yang Curam (kanan) ...219
xiv
Daftar Gambar
Gambar 10.2 Peta Kelas Lereng HKm “Poktamas Tun Dei”,
Desa Hikong-Kabupaten Sikka ...222 Gambar 10.3 Kawasan Hutan Mahe Natar Gahar di Blok II Natar
Gahar yang Dijaga Kelestariannya untuk Ritual Adat Syukuran Hasil Bumi ...226 Gambar 12.1 Lokasi Penelitian (Pusat Konservasi Gajah Taman
Nasional Way Kambas) ...267 Gambar 13.1 Lokasi Desa-desa Sampel Penelitian ...283 Gambar 13.2 Persentase Perubahan Tutupan Lahan di Desa Sampel
Tahun 2015 dan 2019 ...286 Gambar 13.3 Jenis Sumberdaya Hutan yang Dimanfaatkan Masyarakat
di TNLL: (a) Kemiri, (b) Aren, (c) Bambu dan
(d) Rotan ...288 Gambar 13.4 Jenis Tanaman Obat yang Dimanfaatkan Masyarakat
di TNLL: Mayana Merah; (b) Jeruk Nipis ...288 Gambar 13.5 Jenis Pakan Ternak yang Ditanam Masyarakat di dalam
Kawasan Hutan: (a) Rumput Gajah; (b) Ubi Jalar ...289 Gambar 13.6 Peta Perubahan Zonasi TNLL (a) Sebelum Revisi;
(b) Setelah Revisi (Data: Diadaptasi dari
BBTNLL 2020) ...291 Gambar 13.7 Tahapan proses membangun kemitraan di TNLL ...293
PROSPEK RESOLUSI KONFLIK PEMANFAATAN LAHAN DI TAMAN 13.
NASIONAL
Golar38
Pendahuluan
Lahan bagi masyarakat memiliki makna majemuk, baik berupa makna ekonomi, sosial, budaya maupun makna politik. Secara ekonomi, lahan merupakan sarana produksi yang dapat mendatangkan kesejahteraan (Irawan et al. 2016; Wittayapak & Baird 2018)secara sosial lahan merupakan salah satu penentu status sosial seseorang terhadap yang lainnya, dan secara budaya lahan merupakan media dalam mempertahankan tradisi leluhur mereka (Muttaqin et al. 2019). Sementara itu, nilai politik lahan dapat menentukan power bagi seseorang di dalam kelompoknya (Irawan et al. 2016).
Kompleksitas pemaknaan terhadap lahan yang dimiliki atau dikuasai cenderung mendorong individu maupun kolektif untuk terus berupaya mempertahankan lahannya dengan cara apapun, terutama apabila hak-haknya dilanggar (Nerfa et al. 2020; Wood et al. 2019). Situasi tersebut sering memicu munculnya konflik pemanfaatan lahan. Di banyak tempat, pemanfaatan lahan selalu berhubungan dengan para pihak, sehingga memiliki potensi munculnya perbedaan kepentingan, tujuan, kemampuan, dan sistem nilai (Duguma et al. 2018; Golar et al. 2019; van der Maesen & Cadman 2015). Di dalam perspektif pengelolaan sumber daya alam, situasi tersebut dikategorikan sebagai “permasalahan kepentingan para pihak” (Isoaho et al. 2019), di mana kepentingan didefinisikan sebagai apa yang diinginkan atau dipedulikan oleh satu pihak dalam perselisihan yang menimbulkan hasrat dasar dan perhatian yang memotivasi seseorang untuk mengambil posisi tertentu (Handoko &
Yumantoko 2015).
38 Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
282
Perbedaan kepentingan dapat menjadi sumber pemicu konflik ketika terjadi interaksi sosial (Duguma et al. 2018). Konflik sendiri didefinisikan sebagai persepsi terhadap perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest) atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan (Ambarwati et al. 2018; Golar 2010). Oleh karena itu mekanisme manajemen konflik harus dipersiapkan dengan baik.
Salah satunya dengan mengedepankan partisipasi aktif masyarakat lokal di dalamnya (Giessen et al. 2016).
Beberapa pertimbangan objektif yang melandasi perlunya partisipasi aktif masyarakat lokal adalah (Darusman 2012): (a) masyarakat lokal adalah bagian atau subsistem ekosistem hutan di mana masyarakat tersebut berada, yang memiliki keterkaitan yang erat dengan subsistem yang lain dari ekosistem hutan itu; (b) masyarakat lokal adalah bagian terbesar dari subjek dan objek pembangunan negara Indonesia; dan yang terpenting adalah (c) masyarakat lokal memiliki hak untuk mendapat kesempatan yang sama dengan masyarakat lainnya dalam pengelolaan sumberdaya lokal dan pembangunan sektoral apapun di wilayahnya, terurtama di sektor kehutanan. Terkait upaya resolusi konflik pemanfaatan lahan dan sumberdaya hutan, beberapa penelitian menyimpulkan pentingnya peran aktif masyarakat lokal di dalamnya (Ambarwati et al. 2018; Bhugeloo et al. 2019; Irawan et al. 2016).
Paper ini mengurai tentang bagaimana prospek resolusi konflik pemanfaatan lahan yang terjadi di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), melalui analisis terhadap penerapan skema Kemitraan Konservasi di lima desa penyangga TNLL.
Metodologi
Paper didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan pada bulan Maret sampai dengan September 2019 di beberapa komunitas masyarakat di TNLL.
Pemilihan desa sampel dilakukan secara purposive dengan kriteria: (a) letak desa berbatasan langsung dengan TNLL; (b) Sebagian besar masyarakat desanya melakukan pemanfaatan lahan di wilayah TNLL; (c) Pernah dijumpai konflik pemanfaatan lahan di wilayah desanya; (d) Terdapat skema atau program dari TNLL yang pernah atau sedang berjalan di desa tersebut.
283
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Atas dasar kriteria tersebut, maka lokasi penelitian ditetapkan di Desa Tuare, Lengkeka, Kageroa, Lelio, dan Tomihipi (Gambar 13.1).
Lokasi Desa-desa Sampel Penelitian Gambar 13.1
Jenis data yang digunakan di dalam paper ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer terdiri atas: ragam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat melalui pemanfaatan lahan dan hasil hutan; penerapan skema Kemitraan Konservasi yang dilakukan oleh TNLL; dan prospek resolusi konflik pemanfaatan lahan melalui Kemitraan Konservasi. Sementara itu, data sekunder meliputi kondisi eksisting masyarakat yang diperoleh dari data demografi desa, laporan hasil penelitan terdahulu, dan beberapa sumber data pendukung lainnya yang relevan.
Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling, yaitu dengan menentukan informan utama (main person) sesuai kebutuhan dan kedalaman informasi data. Pendalaman hasil dilakukan dengan menetapkan 5 (lima) orang informan kunci (key informan) terhadap data-data yang telah diperoleh sebelumnya.
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
284
Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri atas: observasi dan wawancara mendalam. Teknik observasi menggunakan pendekatan partisipasi pasif (passive participation), yang mengedepankan pengamatan langsung terhadap aktivitas pemanfaatan sumberdaya hutan dan interaksi sosial yang terjalin di lapangan (Sugiyono 2014).
Sementara itu, teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data dan informasi secara mendalam terkait pemanfaatan lahan dan hasil hutan oleh masyarakat, potensi dan bentuk konflik pemanfaatan lahan apa saja yang pernah, sedang berlangsung, atau masih berupa berpotensi, serta sejumlah upaya resolusi konflik yang digagas TNLL. Setelah proses pengumpulan data di lapangan selesai dilakukan, berikutnya adalah tahap pengolahan dan analisis. Pada tahap ini keseluruhan data dianalisis secara kualitatif.
Konsep Teoritis yang Digunakan
Istilah konflik memiliki terminologi yang kompleks. Secara sederhana, konflik dapat diartikan sebagai benturan atau perseteruan yang terjadi antara dua pihak atau lebih, sebagai akibat adanya perbedaan nilai, status, kekuasaan, dan keterbatasan sumberdaya (van der Maesen & Cadman 2015). Ada pula yang memandang konflik sebagai suatu keniscayaan dalam masyarakat, sejalan dengan proses pemenuhan kebutuhan komunitas dan perubahan sosial yang terjadi (Ambarwati et al. 2018).
Lebih jauh lagi, berdasarkan perspektif interaksi sosial, konflik terjadi akibat adanya ketimpangan sosial, atau yang dikenal dengan istilah peminggiran (marginal), mengakibatkan munculnya “konflik kepentingan” (Hvenegaard et al. 2015; Wittayapak & Baird 2018). Faktor pendorongnya bisa berupa politik (pengaruh perilaku elit pusat dan daerah, implementasi kebijakan publik), ekonomi (penguasaan sumberdaya alam, konflik lahan), maupun kultural (tradisi, konflik teritori) (Mayer 2019; Mockrin et al. 2018). Konflik dapat berfungsi sebagai faktor positif (pendukung) dan faktor negatif (perusak) bagi kedamaian sosial, terutama yang bersifat destruktif terhadap keutuhan kelompok dan integrasi sosial masyarakat. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganannya perlu dipersiapkan dengan baik.
285
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Terkait dengan konflik pemanfaatan lahan, beberapa peneliti kerap mengkaitkan dengan berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinnya kepercayaan dan relasi sosial di setiap lapisan masyarakat. Secara spesifik, hal ini diterminologikan sebagai kondisi di mana tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan, termasuk di bidang pembangunan kehutanan, ditandai dengan terbukanya akses terhadap pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan hutan, termasuk akses terhadap lahan. Harapannya adalah adanya jaminan, kepastian, dan kepercayaan antara para pihak yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya (Traedal & Vedeld 2018; Velez et al. 2020; Golar et al. 2019).
Paper ini memandang bahwa salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk menekan konflik pemanfaatan lahan di TNLL adalah melalui pengembangan masyarakat lokal (human capital). Tujuannya adalah untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi masyarakat, melalui partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri (Handoko & Yumantoko 2015).
Taman Nasional Lore Lindu, selaku pemegang otoritas dapat memfasilitasi pengembangan masyarakat. Pengembangan masyarakat dapat difokuskan pada “tujuan proses” (process goal) dari pada sekadar tujuan tugas atau tujuan hasil (task or product goal), sehingga dapat tercipta sebuah perencanaan sosial bersama dalam mencegah bahkan meretas konflik pemanfaatan lahan di kawasan TNLL (Golar et al. 2019).
Hasil
Perubahan Tutupan Lahan
Secara keseluruhan luasan tutupan lahan di desa sampel adalah seluas 32.327,80 Ha. Selama rentang waktu 5 tahun (periode 2015 dan 2019) dinamika pemanfaatan lahan telah menyebabkan terjadinya perubahan tutupan lahan hutan. Pada tahun 2019, hutan primer mengalami penurunan luas sebesar ± 3%, dan sebaliknya hutan sekunder mengalami peningkatan sebesar ± 6%. Selain perubahan hutan primer menjadi hutan sekunder, juga
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
286
terjadi perubahan hutan primer menjadi pertanian lahan kering. Hal ini sekaligus menunjukkan aktivitas pemanfaatan lahan di dalam TNLL yang terus bertambah, baik untuk kebutuhan ladang maupun lahan pertanian masyarakat (Gambar 13.2).
Hutan primer mengalami pengurangan luas sebesar ± 902,37 Ha. Sementara hutan sekunder mengalami peningkatan sebesar ± 2.233,61 Ha. Berdasarkan trend penutupan lahan yang berubah cukup drastis adalah hutan lahan kering sekunder pada tahun 2015 seluas 6,9 Ha, meningkat setelah lima tahun (2019) mencapai luas 2.240,5 Ha. Hal ini mengindikasikan bahwa tutupan lahan primer menjadi lahan sekunder di Taman Nasional Lore Lindu dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan.
(Sumber: Hasil survei tutupan lahan Lore Lindu tahun 2019, TNLL)
Persentase Perubahan Tutupan Lahan di Desa Sampel Tahun Gambar 13.2
2015 dan 2019
Bertambahnya luasan hutan sekunder juga disertai dengan bertambahnya alih fungsi lahan dari penggunaan hutan sekunder menjadi lahan pertanian ataupun kebun campuran. Alih fungsi lahan merupakan salah satu indikator penting yang menunjukan masih terjadinya tekanan aktivitas pemanfaatan lahan non kehutanan di wilayah TNLL (Khuc et al. 2018; Golar et al. 2019)
287
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Pemanfaatan Sumberdaya Hutan di TNLL
Seperti halnya desa-desa lain yang berada di sekitar kawasan hutan, masyarakat di desa sampel penelitian juga melakukan aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam di TNLL, baik itu pemanfaatan lahan maupun hasil hutan. Sumberdaya hutan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah hasil hutan non kayu, seperti: aren (Arrenga pinnata), kemiri (Aleurites moluccanus), bambu (Bambuseae sp) dan rotan (Calamus sp). Jenis-jenis tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif dan komersial (Gambar 13.3).
Jenis aren dimanfaatkan hasilnya berupa buah untuk dijadikan kolang-kaling dan nira untuk bahan baku utama pembuatan gula merah dan dimanfaatkan sebagai minuman tradisional. Sementara itu, jenis kemiri memiliki nilai yang sangat strategis Selain mudah diperoleh, jenis ini menjadi salah satu penunjang ekonomi keluarga dan telah dimanfaatkan secara turun-temurun. Masyarakat hanya memungut dan mengumpulkan buahnya lalu menjualnya langsung ke pasar atau ke pembeli perantara (pengepul) buah kemiri di desa mereka.
Berbeda dengan aren dan kemiri, pemanfaatan bambu oleh masyarakat relative lebih variatif. Selain untuk bahan ramuan rumah (pagar, dinding rumah), bambu juga digunakan untuk bahan baku kerajinan. Demikian halnya dengan rotan, di mana jenis ini masih menjadi primadona masyarakat di tiap-tiap lokasi penelitian. Umumnya hasil rotan yang diperoleh dari hutan langsung dijual dalam bentuk mentah kepada para pengepul rotan, yang sebelumnya telah memberikan uang panjar kepada para pemungut rotan.
Pemanfaatan rotan sering menimbulkan masalah antara masyarakat dengan pihak TNLL. Banyak keluhan dari masyarakat terkait penyitaan dan pemusnahan rotan hasil pungutan yang diperoleh dari dalam kawasan oleh petugas TNLL. Meskipun demikian, aktivitas pemungutan rotan terus berlangsung hingga saat ini, meski aktivitas ini tergolong ilegal. Selain desakan kebutuhan, permintan yang tinggi dari para pengepul rotan.
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
288
Jenis Sumberdaya Hutan yang Dimanfaatkan Masyarakat di Gambar 13.3
Tnll: (a) Kemiri, (b) Aren, (c) Bambu dan (d) Rotan
Selain keempat jenis HHBK di atas, masyarakat juga memanfaatkan tumbuhan obat Tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah mayana merah (Plectranthus scutellarioides) dan jeruk nipis (Citrus aurantiifolia).
Bagian tanaman yang dimanfaatkan seperti: daun, batang, umbi, akar dan yang bagian lainnya. Pengambilan tumbuhan obat tidak dilakukan setiap hari, tergantung kebutuhan. Jenis tanaman obat ini dipercaya oleh mereka secara turun temurun, atau yang sudah teruji medis dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Bahkan, tumbuhan yang diketahui berkhasiat obat tersebut, oleh sebagian masyarakat dibudidayakan di kebun atau di pekarangan mereka (Gambar 13.4).
Jenis Tanaman Obat yang Dimanfaatkan Masyarakat di TNLL:
Gambar 13.4
(a) Mayana Merah; (b) Jeruk Nipis
289
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Bentuk pemanfaatan sumberdaya alam lainnya adalah pemanfaatan lahan untuk ditanami jenis pakan ternak (Gambar 13.5). Kegiatan ini dilakukan oleh sebagian besar masyarakat yang memelihara ternak peliharaan berupa sapi, babi dan kambing. Jenis yang di tanam, diantaranya: rumput gajah (Pennisetum purpurreum) dan daun ubi jalar (Ipomoea batatas). Rumput gajah dan ubi jalar umumnya dimanfaatkan untuk konsumsi ternak pribadi. Hanya sebagian saja yang diperjualbelikan untuk menambah kebutuhan ekonomi keluarga.
Jenis Pakan Ternak yang Ditanam Masyarakat di dalam Gambar 13.5
Kawasan Hutan: (a) Rumput Gajah; (b) Ubi Jalar
Masyarakat juga memanfaatkan jasa lingkungan TNLL untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Untuk mengalirkan air, mereka membuat saluran air dengan pipa-pipa yang disambungkan sepanjang desa sampai ke rumah-rumah warga. Hal ini sudah dilakukan masyarakat sejak lama, sehingga menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap eksistensi TNLL. Intensitas dan ragam pemanfaatan sumberdaya alam mencerminkan tingkat ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap TNLL (Girsang 2006).
Masyarakat sebagai Subjek Pengelolaan
Taman Nasional sebagai kawasan pelestarian alam memiliki fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
290
hayati dan ekosistemnya. Meskipun ditetapkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budaya, pariwisata dan rekreasi, namun tidak dapat dipungkiri terdapat ruang-ruang akses kelola bagi masyarakat setempat untuk memenuhi kelangsungan hidup keluarganya (van Haren et al. 2019).
Pemerintah mengklaim bahwa paradigma pengelolaan taman nasional saat ini telah mengakomodir kepentingan masyarakat lokal. Melalui peraturan Direktur Konservasi SDA dan Ekosistem no. P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang petunjuk teknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam semakin tegas adanya peluang akses masyarakat untuk memanfaatkan SDA di TNLL. Perpaduan antara tujuan konservasi, ekonomi, dan pelestarian budaya menjadi pilar penopangnya. Lebih jauh, secara koneptual cara baru pengelolaan kawasan konservasi ingin “memposisikan masyarakat sebagai subjek atau pelaku utama dalam pengelolaan kawasan konservasi”. Diwujudkan melalui kerja sama pengelola taman nasional dengan pemerintah desa dan atau kelompok masyarakat.
Beberapa progam utama yang telah dijalankan oleh TNLL dalam rangka mewujudkan paradigma baru tersebut adalah melalui skema kemitraan konservasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat, pemulihan ekosistem, pembinaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi. Selain itu pihak TNLL juga telah melakukan review zonasi (Gambar 13.6) dalam rangka mengakomodir ruang kelola masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Massiri 2019)
Luas perubahan zonasi dan peruntukannya cukup signifikan, di mana terdapat satu zona baru (zona tradisional) yang khusus diperuntukan sebagai ruang kelola masyarakat. Luasnya sebesar 11 persen (%) dari total luas TNLL.
Secara kontekstual, zona tradisional merupakan bagian dari kawasan TNLL yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional. Tentunya tidak semua kategori masyarakat dapat diakomodir pada zona ini, hanya bagi mereka yang karena kesejarahannya memiliki ketergantungan dengan TNLL.
Pada zona tradisional ini masyarakat dapat memanfaatkan potensi sumberdaya alam tertentu secara lestari, melalui pengaturan pemanfaatan dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarganya.
291
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Peta Perubahan Zonasi TNLL (a) Sebelum Revisi; (b) Setelah Gambar 13.6
Revisi (Data: Diadaptasi dari BBTNLL 2020)
Pembagian ruang ini memiliki sejumlah konsekuensi, terutama terhadap aspek hukum pemanfaatannya. Oleh karena itu, diperlukan penjabaranya bagi masyarakat di sekitar TNLL. Mengacu pada Permenhut P.56/Menhut-II/2006, pemanfaatan zona tradisional ini diperuntukan bagi kegiatan perlindungan dan pengamanan, inventarisasi dan monitoring potensi jenis yang dimanfaatkan masyarakat, pembinaan habitat, penelitian dan pengembangan, pemanfaatan potensi dan kondisi sumberdaya alam sesuai kesepakatan dan ketentuan yang berlaku. Dari uraian tersebut, ada peluang yang sangat baik bagi pemanfaatan masyarakat melalui “mekanisme kesepakatan”. Hal inilah yang mendorong pihak TNLL untuk terus menggalakkan program kemitraan konservasi, khususnya bagi desa-desa penyangga TNLL.
Implementasi Program Kemitraan Konservasi
Seperti diuraikan sebelumnya bahwa ke lima desa sampel merupakan representasi desa KKM, dan telah menandatangani kesepakatan konservasi dengan pihak TNLL pada tahun 2019 silam. Kesepakatan konservasi ini
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
292
merupakan ruang negosiasi bagi kepentingan masyarakat secara kolektif dan kepentingan pelestarian fungsi kawasan TNLL. Artinya, hak pengelolaan berada pada level kolektif melalui kelembagaan KKM, menuju kemitraan konservasi.
Jauh sebelum pihak TNLL menggagas program kemitraan konservasi, telah ada program KKM yang dipelopori oleh The Nature Conservancy (TNC) di tahun 2000-an. Melalui fasilitasi TNC berhasil dibangun KKM di 62 desa sekitar TNLL. Kegiatan ini menghasilkan sejumlah aturan pada level operasional di antaranya: (a) aturan pemanfaatan sumberdaya TNLL di wilayah KKM; (b) aturan monitoring; dan (c) penerapan sanksi. Program ini sempat berjalan sampai batas kontrak TNC berakhir. Pasca kontrak, sejumlah desa tidak lagi menjalankan kesepakatan yang telah dibangun tersebut. Lemahnya dasar hukum serta kesiapan teknis terkait kejelasan kelola masyarakat menjadi faktor penyebabnya (Massiri et al. 2019).
Program keberlanjutan KKM yang digagas TNLL saat ini diklaim memiliki kekuatan yang dapat menjamin keberlanjutan program tersebut. Beberapa hal yang mendasarinya: (a) program ini telah menyiapkan aturan yang jelas;
(b) TNLL telah dilakukan revisi zona pengelolaannya; dan (c) ketersediaan pendanaan untuk mendukung penguatan dan pengembangan program KKM di TNLL. Saat ini teladah tersedia dukungan pendanaan dari Forest Program III (FP III) dan Enhaccing the Protected Area System in Sulawesi (EPASS).
Hal lainnya bahwa program ini memiliki perbedaan dengan KKM yang pernah diprakarsai TNC, di mana kemitraan konservasi yang dibangun saat ini merupakan “kerjasama kemitraan antara pengelola TNLL dengan pemerintah desa, bukan kemitraan antara TNLL dengan kelompok masyarakat”.
Kelebihannya adalah program kemitraan yang direncanakan bersama memiliki peluang untuk mendapat dukungan pendanaan dari dana desa. Selain itu, mekanisme kontrol akan berjalan lebih mudah karena desa memiliki tanggungjawab di dalamnya. Tahapan proses kemitraan konservasi disajikan pada Gambar 13.7. Tahapan membangun kemitraan konservasi diawali dengan proses identifikasi ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan, dilanjutkan dengan proses membangun kesepahaman dan kesepakatan sebagai bentuk jaminan bagi para pihak dalam kemitraan konservasi. Sebagai
293
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
penguat dalam kesepahaman dan kesepakatan yang telah dibangun, maka dilakukan penandatanganan kesepahaman, yang sekaligus sebagai simbolisasi bahwa kesepahaman dibangun secara sukarela dan tanpa paksaan.
Tahapan proses membangun kemitraan di TNLL Gambar 13.7
Prospek Resolusi Konflik Permanfaatan Lahan
Mengutip pendapat Darusman (2012), bahwa hal yang paling berat dan paling berbahaya bagi kemajuan pembangunan kehutanan adalah keengganan untuk berubah. Perubahan ke arah yang lebih baik akan lebih efektif bila mau belajar dari kesalahan masa lalu. Apa yang dilakukan oleh TNLL melalui program kemitraan konservasi saat ini adalah bagian dari proses perubahan ke arah yang lebih baik, dalam menekan konflik pemanfaatan sumberdaya alam yang kerap terjadi di TNLL.
Revitaliasi dan reorientasi pengelolaan kawasan konservasi menuju kemitraan konservasi direspon baik oleh sebagian besar informan di lokasi penelitian.
Kebijakan itu dinilai mampu memberikan ruang komunikasi dan negosiasi bagi masyarakat di dalam memanfaatakan sumberdaya hutan.
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
294
Secara konseptual, apa yang dilakukan oleh pengelola TNLL merupakan bagian dari proses membangun modal sosial (social capital) yang kondusif bagi terciptanya kepercayaan dan relasi sosial di masyarakat. Hal penting yang mendasarinya adalah terbukanya akses terhadap pemanfaatan sumberdaya alam, termasuk akses terhadap lahan. Hal ini secara perlahan namun pasti akan memberikan jaminan, kepastian, dan kepercayaan antara para pihak, yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antar mereka secara teratur, terbuka dan terpercaya (Traedal & Vedeld 2018; Velez et al.
2020).
Namun demikian, masih dijumpai ketimpangan terutama di dalam pengembangan modal manusia (human capital) masyarakat lokal. Sebagai sebuah proses interaksi, pengelola TNLL selaku pemegang otoritas seyogianya memfasilitasi penyiapan dan pengembangan masyarakat, difokuskan pada
“tujuan proses” yang sifatnya spesifik (non generik). Dengan demikian, model implementasi kesepakatan yang dibangun sangat bergantung pada kesiapan masyarakatnya, yang bertolak ukur pada kapasitas modal manusianya (Wood et al. 2019).
Meskipun telah disiapkan ruang kelola bagi masyarakat pada zona tradisional TNLL, namun keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat dapat menyebabkan pengelolaannya menjadi tidak efektif. Pada akhirnya orientasi pengelolaan yang tercipta hanya sekadar pemenuhan kebutuhan sesaat, tanpa berorientasi pada upaya pengembangan usaha masyarakat (capacity building) yang berkelanjutan.
Disadari bahwa Lore Lindu merupakan kawasan Taman Nasional yang memiliki fungsi utama perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Namun, secara rasional pengelola sudah harus memperhatikan kondisi eksisting kawasan yang sebagian besar telah terokupasi. Dibutuhkan kemampuan adaptasi yang memposisikan masyarakat sebagai subjek dan pelaku utama dalam pengelolaan taman nasional (Garcia-Lopez & Antinori 2018; Satyanarayana et al. 2012; Zeb et al. 2019).
295
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Kesimpulan
Kemitraan konservasi merupakan program potensial di dalam mengatasi a.
konflik pemanfaatan sumberdaya alam di TNLL;
Pengembangan skema kemitraan konservasi di TNLL membutuhkan b.
reorientasi dan kemampuan adaptasi pengelolan di dalam menyeimbangkan antara pembangunan modal sosial (social capital) dan modal manusia (human capital), berdasarkan karakteristik spesifik tiap- tiap desa.
Daftar Pustaka
Bhugeloo A., Peerbhay K., Ramdhani S., and Sershen. 2019. Tracking indigenous forest cover within an urban matrix through land use analysis: The case of a rapidly developing African city,” Remote Sensing Applications: Society and Environment, vol. 13, pp. 328–336, doi:
10.1016/j.rsase.2018.12.003.
Darusman D. 2012. Kehutanan Demi Keberlanjutan Indonesia. Bogor: IPB Press.
Duguma L.A. et al. 2018. Community forestry frameworks in sub-Saharan Africa and the impact on sustainable development. E&S, vol. 23, no. 4, p. art21, doi: 10.5751/ES-10514-230421.
Endah Ambarwati M., Sasongko G., and Therik W.M.A. 2018. Dynamics of The Tenurial Conflict in State Forest Area (Case in BKPH Tanggung KPH Semarang). Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, vol. 6, no. 2, doi:
10.22500/sodality.v6i2.23228.
García-López G. and Antinori C. 2018. Between Grassroots Collective Action and State Mandates: The Hybridity of Multi-Level Forest Associations in Mexico. Conservation and Society, vol. 16, no. 2, p. 193, doi: 10.4103/
cs.cs_16_115.
Giessen L., Burns S., Sahide M.A.K., and Wibowo A. 2016. From governance to government: The strengthened role of state bureaucracies in forest and agricultural certification. Policy and Society, vol. 35, no. 1, pp. 71–
89, doi: 10.1016/j.polsoc.2016.02.001.
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
296
Girsang R.E. 2006. Pemanfaatan sumberdaya hutan oleh masyarakat sekitar hutan jati di BKPH Bancar, KPH Jatirogo, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. p. 78.
Golar. 2010. Strategi Adaptasi Masyarakat Adat Toro: Kajian Kelembagaan Lokal dalam Pengelolaan dan Permanfaatan Sumberdaya Hutan di Taman Nasional Lore Lindu Provinsi Sulawesi Tengah.
Golar et al. 2019. The adaptive-collaborative as a strategy comunications for conflict resolution on the National Park.
Handoko C. and Yumantoko Y. 2015. Local perspectives on tenure rights and conflict in fmu rinjani barat, west nusa tenggara province. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, vol. 4, no. 2, p. 157, doi: 10.18330/
jwallacea.2015.vol4iss2pp157-170.
Hvenegaard G., Carr S., Clark K., and Dunn P. 2015. Promoting Sustainable Forest Management Among Stakeholders in the Prince Albert Model Forest, Canada. Conservation and Society, vol. 13, no. 1, p. 51, doi:
10.4103/0972-4923.161222.
Irawan A., K. Mairi, and S. Ekawati. 2016. Analysis of Tenurial Conflict in Production Forest Management Unit (PFMU) Model Poigar. Jurnal Wasian, vol. 3, no. 2, p. 79, doi: 10.20886/jwas.v3i2.1595.
Isoaho K., Burgas D., Janasik N., Mönkkönen M., Peura M., and Hukkinen J.I. 2019. Changing forest stakeholders’ perception of ecosystem services with linguistic nudging. Ecosystem Services, vol. 40, p. 101028, doi: 10.1016/j.ecoser.2019.101028.
Khuc Q.V., Tran B. Q., Meyfroidt P., and Paschke M. W. 2018. Drivers of deforestation and forest degradation in Vietnam: An exploratory analysis at the national level,” Forest Policy and Economics, vol. 90, pp. 128–141, doi: 10.1016/j.forpol.2018.02.004.
Massiri S.D. 2019. Membangun Kesepakatan Konservasi Masyarakat: Sebuah Proses Pembelajaran Kolaborasi Pengelolaan di Taman Nasional Lore Lindu. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.
297
Ilmu Ekonomi Kehutanan Kontekstual: 70 Tahun Prof Dr Dudung Darusman
Massiri S.D., Nugroho B., Kartodihardjo H., and Soekmadi R. 2019.
Institutional Sustainability of a Community Conservation Agreement in Lore Lindu National Park. FS, vol. 3, no. 1, p. 64, doi: 10.24259/
fs.v3i1.5204.
Mayer A.L. 2019. Family forest owners and landscape-scale interactions:
A review. Landscape and Urban Planning, vol. 188, pp. 4–18, doi:
10.1016/j.landurbplan.2018.10.017.
Mockrin M.H., Locke D.H., S. I. Stewart S.I., Hammer R. B., and Radeloff V. C. 2019. Forests, houses, or both? Relationships between land cover, housing characteristics, and resident socioeconomic status across ecoregions,” Journal of Environmental Management, vol. 234, pp. 464–
475, doi: 10.1016/j.jenvman.2018.12.001.
Muttaqin M.Z., Alviya I., Lugina M., Hamdani F.A.U., and Indartik. 2019.
Developing community-based forest ecosystem service management to reduce emissions from deforestation and forest degradation.
Forest Policy and Economics, vol. 108, p. 101938, doi: 10.1016/j.
forpol.2019.05.024.
Nerfa L., Rhemtulla J. M., and Zerriffi H. 2020. Forest dependence is more than forest income: Development of a new index of forest product collection and livelihood resources,” World Development, vol. 125, p.
104689, doi: 10.1016/j.worlddev.2019.104689.
Sahide M. A. K., Nurrochmat D. R., and Giessen L. 2015. The regime complex for tropical rainforest transformation: Analysing the relevance of multiple global and regional land use regimes in Indonesia. Land Use Policy, vol. 47, pp. 408–425, doi: 10.1016/j.landusepol.2015.04.030.
Satyanarayana B., Bhanderi P., Debry M., and Maniatis D. 2012. A Socio- Ecological Assessment Aiming at Improved Forest Resource Management and Sustainable Ecotourism Development in the Mangroves of Tanbi Wetland National Park, The Gambia, West Africa,” AMBIO, vol. 41, no. 5, pp. 513–526, doi: 10.1007/s13280-012-0248-7.
Sugiyono. 2014. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: alfabeta.
Ekonomi dalam Sistem Sosial Budaya di Tingkat Lokal
298
Trædal L.T. and Vedeld P. 2018. Cultivating forests: The role of forest land in household livelihood adaptive strategies in the Bac Kan Province of northern Vietnam. Land Use Policy, vol. 73, pp. 249–258, doi:
10.1016/j.landusepol.2018.02.004.
van der Maesen L. and Cadman T. 2015. Sustainable Forest Management: T he Role of Government Agencies, NGOs, and Local Communities in Western Australia. The International Journal of Social Quality, vol. 5, no.
2, doi: 10.3167/IJSQ.2015.050204.
van Haren N., Fleiner R., Liniger H., and Harari N. 2019. Contribution of community-based initiatives to the sustainable development goal of Land Degradation Neutrality. Environmental Science & Policy, vol. 94, pp. 211–219, doi: 10.1016/j.envsci.2018.12.017.
Vélez M.A., J. Robalino J., Cardenas J.C., Paz A., and Pacay E. 2020. Is collective titling enough to protect forests? Evidence from Afro-descendant communities in the Colombian Pacific region,” World Development, vol.
128, p. 104837, doi: 10.1016/j.worlddev.2019.104837.
Wittayapak C. and Baird I. G. 2018. Communal land titling dilemmas in northern Thailand: From community forestry to beneficial yet risky and uncertain options,” Land Use Policy, vol. 71, pp. 320–328, doi:
10.1016/j.landusepol.2017.12.019.
Wood A., Tolera M., Snell M., O’Hara P., and Hailu A. 2019. Community forest management (CFM) in south-west Ethiopia: Maintaining forests, biodiversity and carbon stocks to support wild coffee conservation.
Global Environmental Change, vol. 59, p. 101980, doi: 10.1016/j.
gloenvcha.2019.101980.
Zeb A., Armstrong G.W., and Hamann A. 2019. Forest conversion by the indigenous Kalasha of Pakistan: A household level analysis of socioeconomic drivers,” Global Environmental Change, vol. 59, p.
102004, doi: 10.1016/j.gloenvcha.2019.102004.