• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSI mini riset wawancara uts

N/A
N/A
hisyam al faris

Academic year: 2025

Membagikan "PSI mini riset wawancara uts"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

MINI RISET

“Fenomena Marriage is Scary dalam Epistemologi Al-Jabiri: Analisis Pemahaman Gen Z tentang Pernikahan”

Dosen pengampu: Dr. Siti Jahroh, S. H.I., M. SI.

Disusun oleh:

Muhammad Hisyam Al Faris Sayoga 24103070060

PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2024

(2)

BAB I A. LATAR BELAKANG

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah memperluas akses informasi bagi Generasi Z, hanya dengan sentuhan layar di smartphone semua dapat mengakses informasi secara global. Kondisi ini memberi angin segar, khususnya bagi generasi muda untuk mencoba hal-hal baru yang lebih banyak, terutama melalui media social. Generasi Z, menggunakan media social sebagai platform utama untuk berkomunikasi dan berbagi pandangan tentang kehidupan, termasuk pernikahan. Namun seiring dengan kemudahan akses tersebut, informasi yang didapat tidak selalu sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan social yang mendasari pernikahan, salah satu hal yang dianggap penting bagi kehidupan manusia. Kecenderungan untuk terpapar pada konten yang mendistorsi nilai-nilai pernikahan atau mengarah pada ketakutan dan kecemasan terhadap komitmen jangkan Panjang, seperti fenomena ‘marriage is scary’1 yang muncul sebagai respon terhadap ketidak pastina menjadi tantangan tersendiri. Banyak dari generasi ini menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan dan penuh risiko, baik dari segi finansial, emosional maupun sosial2. Menggunakan pendekatan Epistemologi Al-Jabiri, pemahaman seseorang terhadap suatu konsep dapat dianalisis melalui tiga pendekatan, yaitu Bayani (teks agama), Burhani (nalar/rasionalitas), dan ‘irfani (spiritualitas/pengalaman batin).

B. TUJUAN PENELITIAN

1. Menganalisis pemahaman Gen Z tentang pernikahan dengan pendekatan epistemology Al-Jabiri (bayani,burhani,’irfani)

2. Mengindetifikasi factor-faktor yang mempengaruhi ketakutan Gen Z terhadap pernikahan

3. Memberikan wawasan bagi Pembina agama dan Masyarakat untuk memahami tantangan yang dihadapi generasi muda dalam menghadapi pernikahan

1 Muhammad Fikri A dan Adinda Rizqy A, Terjebak dalam Standar Tiktok: Tuntutan yang Harus Diwujudkan? (Studi Kasus Tren Marriage is Scary), Jurnal Multidisiplin West Science, 2024, hlm. 1439-1440.

2 Romadhona S, Tren Marriage is Scary, Ini 6 Faktornya Menurut Pakar Psikologi Umsida, 2024, https://umsida.ac.id/tren-marriage-is-scary-ini-kata-pakar-umsida/ diakses pada 27 Oktober 2024.

(3)

C. PERTANYAAN RISET

1. Bagaimana pemahaman Gen Z terhadap pernikahan?

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi pandangan Gen Z terhadap pernikahan?

3. Bagaimana kesiapan emosional dan spiritual Gen Z terhadap pernikahan?

D. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengisian kuesioner dan wawancara mendalam. Mengumpulkan 2 responden dengan usia antara 20- 28 tahun di Yogayakarta, yang merupakan salah satu pusat dinamika sosial dan budaya di kalangan anak muda. Metode ini dipilih karena efektif untuk mengumpulkan data secara sistematis tentang pemahaman Gen Z terhadap fenomena ‘marriage is scary’ dengan pisau analisis epistimologi Al-Jabari yang telah dibagi menjadi tiga pendekatan (bayani, burhani,’irfani). Analisa dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menjawab permasalahan penelitian. Langkah pertama dilakukan dengan studi pustaka atas kajian- kajian dengan tema sejenis, kemudian dikaitkan dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan penyebaran kuisioner. Kajian pustaka dan hasil pengamatan dapat saling menguatkan temuan yang ada.

E. NARASUMBER

Narasumber pada mini riset ini adalah dua orang (Perempuan dan laki-laki) yang secara sukarela memberikan pandangan mereka terhadap pernikahan, dan beragam faktor yang membuat mereka cenderung takut/ragu terhadap konsep pernikahan.

1. Nur Rihladhatul ‘Aisy Sayoga (23205031080) Prodi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

2. Muhammad Imam Syafi’I (23205031037) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

BAB II A. HASIL WAWANCARA

- Pernyataan 1

(4)

 Narasumber 1: Menurutku, pernikahan merupakan suatu hal yang penting, terutama sebagai umat Islam yang segala sesuatunya sudah diatur dalam Al- Qur’an. Kemudian sebagai mahkluk sosial yang berbangsa dan bernegara, masyarakat secara umum menetapkan usia ideal bagi Perempuan, saat usia 20- 27, “pertanyaan tentang kapan menikah” menjadi pressure buat saya, karena meskipun agama menganjurkan pernikahan, saya lebih mengutamakan pendidikan dan karir untuk saat ini. Mengingat dalam pernikahan itu banyak sekali hal-hal yang perlu dipersiapkan, jadi saya memilih untuk lebih focus terhadap diri saya terlebih dahulu, menikah kemudian, tidak menurut pada standar masyarakat

 Narasumber 2: Pernikahan merupakan suatu moment yang sangat sakral, Dimana ada dua insan yang berjanji dan berkomitmen untuk menyatu dalam satu ikatan cinta yang halal, pernikahan menjadi wajib bagi orang yang tidak bisa menahan hawa nafsu-nya. Maka dari itu, pernikahan menjadi solusi bagi tinggi-nya angka seks bebas di Indonesia pada saat ini.

- Pernyataan 2

 Narasumber 1: Faktor yang terpenting dalam pernikahan pasti kesiapan mental, spiritual dan finansial. Karena menikah adalah perjanjian sacral antara dua mahkluk (suami dan istri) dan hamba dengan TuhaNya, kemudian membutuhkan waktu seumur hidup, artinya dengan harapan dapat merealisasikan komitmen dalam jangka waktu yang Panjang, maka tidak mau buru-buru dalam melaksanakanya. Kemudian ada ketakutan dalam diri sendiri jika menginjak pernikahan, takut tidak sesuai ekspektasi.

 Narasumber 2: jika ada orang yang berpandangan negatif tentang nikah maka factor yang mempengaruhinya adalah media sosial. Baru-baru ini banyak muncul artis-artis yang selingkuh, melakukan KDRT, bercerai, sehingga menyebabkan adanya ketakutan untuk menikah, padahal suatu hal yang gamasuk akal Ketika menjadikan artis sebagai panutan. Yang kedua, terdapat sebuah trend yang beredar di media sosial yaitu”marriage is scary” Dimana orang dengan mudahnya membeberkan semua permasalahan yang terjadi di rumah tangga mereka, padahal jika terdapat permasalahan dalam rumah tangga

(5)

maka solusi terbaiknya adalah tidak membiarkan masalah itu diketahui orang lain termasuk orang tua dan mertua sendiri.

- Pernyataan 3

 Narasumber 1: Kesiapan mental dan spiritual penting sekali untuk memasuki jenjang pernikahan, karna menikah kan untuk seumur hidup, dan seumur hidup itu panjang loh, pertanggung jawabanya berat banget. Maka perlu ilmu dan tentunya materi biar bisa balance. Karena hal itu,untuk saat ini saya memilih menunda pernikahan terlebih dahulu untuk mempersiakan diri dan bekal.

 Narasumber 2: Ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum menikah, baik itu dari segi emosinal atau spiritual, tetapi menurut saya yang paling penting adalah spiritual. Kita harus mempunyai agama yang kuat, paham bahwa Allah- lah yang memberikan kita rezeki, bahwa Allah-lah yang mengatur kehidupan di dunia ini, salain itu kita juga minimal harus paham, tidak perlu sampai khatam, tentang fiqih nikah, dari segi emosional. Kita harus bisa menahan emosi, menjaga perasaan pasangan, tidak main tangan ketika ada masalah, dan saling menerima ihklas, sabar dan Syukur dalam setiap perjalanan rumah tangga yang akan saya atau kalian hadapi kelak.

BAB III A. Analisis Kesimpulan

- Narasumber 1:

Nalar pemikiran atau pendekatan dalam memahami ajaran agama Islam yang digunakan oleh Narasumber adalah Bayani, namun Narasumber juga berpemikiran secara Burhani, yang dimana Narasumber mengambil dalil atau berlandasan kepada teks Al-Qur’an lalu manjelaskan lagi pentingnya kesiapan mental, spiritual maupun finansial, dan juga Narasumber labih mengutamakan Pendidikan serta karir terlebih dahulu. Dari kedua pemikiran yang digunakan Narasumber, maka bentuk pemikiranya adalah pararel.

- Kesimpulan:

Narasumber menyadari akan pentingnya ibadah yang telah ditetapkan (tertulis) di Al-Qur’an yaitu pernikahan, namun untuk saat ini Narasumber mengambil jalan yang

(6)

aman nan pasti untuk mengejar karirnya terlebih dahulu, agar jika sudah menemukan pangeranya mempunyai bekal dan mental yang siap untuk menempuh jenjang pernikahan.

- Narasumber 2:

Pendekatan dalam memahami ajaran agama Islam (pemikiran atau nalar) yang dipakai Narasumber adalah Bayani, Burhani dan juga Irfani. Narasumber mengambil hukum wajib untuk menikah bagi orang yang tidak bisa menahan hawa nafsunya, melihat dari angka seks di Indonesia yang semakin tinggi. Narasumber juga menambahkan pendapatnya dalam hal persiapan sebelum menikah yaitu dari segi spiritual. Dari ketiga pemikiran yang digunakan Narasumber, maka bentuk pemikiranya adalah pararel

- Kesimpulan:

Narasumber memahami konsep pernikahan dengan melihat kondisi yang saat ini terjadi (Gen Z) dari trend marriage is scary. Narasumber menjelaskan, bawasanya jangan sampai kita terutama Gen Z untuk menjadikan Artis sebagai standar hidup kita (hal yang lagi Viral) serta bijak dalam menggunakan media sosial, pentingnya bekal ilmu dalam hal pernikahan walaupun hanya sedikit, serta berfikir secara kritis dalam menjalani dan mengambil suatu keputusan.

BAB IV PENUTUP

Demikianlah mini riset tentang trend yang saat ini sedang di alami oleh kaum muda yaitu Gen Z. Permintaan maaf jika banyak tutur kata serta ketidak sopanan penulis, dan juga ucapan terima kasih atas dosen pengampu mata kuliah Pengantar Studi Islam yang telah membagikan ilmunya kepada kami. Semoga mini riset ini dapat membuka pemikiran serta wawasan kita dalam langkah kecil, yang berdampak besar bagi kehidupan umat muslim kedepanya.

Referensi

Dokumen terkait

Lingkungan pedesaan lebih rentan terjadi pernikahan usia dini, menurut UNICEF (2020) anak perempuan di daerah pedesaan dua kali lebih mungkin untuk menikah sebelum

Menurut Rosmiati seorang warga Desa Terbanggi Marga, Ia mengatakan bahwa salah satu alasan yang menyebabkan para pemuda memilih untuk jalan menikah dengan

Indonesia, yang memiliki salah satu angka pernikahan anak tertinggi di dunia menurut UNICEF, tahun lalu menaikkan usia resmi untuk menikah dari 16 menjadi 19 untuk kedua jenis

• Database : berfungsi untuk memilih nama database accurate 4 yang sudah Anda daftarkan pada accurate Service Setting. Jadi Anda perlu memilih 1 nama database accurate

Rancangan pembelajaran tematik yang berorientasi pada pendidikan kecakapan hidup untuk kelas rendah sekolah dasar perlu dipersiapkan secara serius mengingat SD

Data 2016 sebaiknya tidak digabung dengan 2017 (difilter menurut tahun), mengingat aplikasi dan kriteria dalam kuesioner yang berbeda dan data digunakan untuk menyusun RUK

Menurut Soetjipto 1992:76 pengelolaan keuangan meliputi: kegiatan perencanaan, penggunaan atau pemanfaatan, pencatatan data, pelaporan dan pertanggungjawaban yang dialokasikan untuk

• Pandangan pribadi Darren Menurut saya pernikahan, kohabitasi, dan penceraian adalah suatu hal yang tidak harus dilakukan dikarenakan setiap orang memiliki hak untuk menikah Bersama