• Tidak ada hasil yang ditemukan

inilah salah satu dokumen yang salah upload

N/A
N/A
celine huang

Academic year: 2025

Membagikan "inilah salah satu dokumen yang salah upload"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERNIKAHAN, KOHABITASI, DAN PERCERAIAN

---

Bab 1: Pendahuluan

Perkawinan adalah persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita atas dasar ikatan cinta kasih yang tulus dengan persetujuan bebas dari keluarga yang tidak dapat ditarik kembali dengan tujuan : kelangsungan bangsa, perkembangan pribadi dan kesejahteraan keluarga.

Dapat diartikan juga perkawinan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Perkawinan atau pernikahan ini juga tentu sudah diperintahkan pada salah satu ayat alkitab yaitu Kejadian 2:18 yang berbunyi "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."" Pada ayat ini dijelaskan bahwa manusia tidak baik hidup sebagai seorang diri saja, dibutuhkannya seorang pendamping yang sepadan dengan dirinya. Lalu pada ayat Kejadian 1:28 “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."” Di ayat ini dijelaskan bahwa kita perlu menikah dan beranak cucu dan mempunyai keturunan.

Kohabitasi adalah suatu istilah yang dapat terjadi ketika dua orang yang sepasang, belum melalui pernikahan, mereka hidup bersama sebagai istri atau suami yang tidak memiliki sah atau tidak legal untuk tinggal disatu rumah, mereka juga sering atau pun jarang melakukan hubungan seksual diluar pernikahan, melalui jangka yang panjang, mau pun yang permanen, dari ini banyak yang ketika melakukan kohabitasi dapat menyebabkan kehamilan diluar nikah.

Perceraian adalah suatu hubungan yang terpisanya dari ikatan cinta antara satu sama lain dikarenakan suatu masalah,perselingkuh, masalah pribadi yang dapat terjadi pada saat setelah menikah SAH dan juga pereraian membutuhkan surat cerai yang ditantatangani oleh kedua pihak yaitu suami dan istri agar penceraian dapat berlangsung dengan adil dan juga disetujui dikedua pihak.

(2)

Bab 2: Permasalahan dan penyelesaian

Pernikahan

Pada bulan November tahun 2023 angka pernikahan dini sudah melampaui angka kasus serupa pada tahun 2022 di kabupaten Kulon Progo, DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta).

Pengadilan Agama (PA) Wates mencatat ada 64 permohonan dispensasi pernikahan bagi pasangan usia anak sepanjang Januari hingga pekan ketiga November 2023 ini. Permohonan itu sudah lebih tinggi dari catatan PA Wates selama Januari–Desember 2022, yakni 54 dispensasi. Pernikahan ini paling banyak dialami anak usia 16-17 tahun, namun paling muda masih umur 14 tahun. Hampir semua pernikahan dilatari remaja yang sudah hamil. Ada pula pernikahan karena sudah berteman lama hingga soal takut zina. Anak-anak yang menikah itu berada dalam lingkup keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Pernikahan dini ini disebabkan karena beberapa faktor seperti karena kondisi keluarga yang kesulitan ekonomi sehingga salah satu jalan keluarnya adalah menikahkan anaknya di usia dini untuk meringankan beban keluarga dan mengharapkan anaknya mendapat kehidupan yang layak. Faktor Pendidikan yang rendah juga terjadi pada orang tua dan anak. Orang tua yang berpendidikan rendah pasti akan cenderung berpikir pasrah dan tidak melakukan kalkulasi dampak yang disebabkan kepada anak. Begitu juga Pendidikan yang rendah bagi anak mengakibatkan mereka hanya bisa menerima apa yang diperintahkan orang tuanya. Lalu bagi beberapa masyarakat menganggap bahwa menolak lamaran adalah sesuatu yang menghina padahal umurnya belum mencukupi 16 tahun. Ada juga faktor lainnya seperti Anak-anak mudah sekali melihat situs-situs pornografi yang kemudian tidak dibekali bekal emosional dan pengetahuan yang cukup sehingga menimbulkan banyaknya hamil di luar nikah menjadi pemicu pernikahan usia dini. Kalau dilihat dari beberapa faktor pernikahan dini yang tercatat, salah satunya adalah anak-anak yang mudah sekali melihat situs-situs “Pornografi” Alkitab sendiri mengatakan di tidak perbolehkan adanya perzinaan. Sebab melihat situs-situs tersebut termasuk perzinaan maka sudah termasuk melanggar. Padahal pada Alkitab sendiri sudah ada larangan yang tercatat pada ayat Amsal 6:32 “Siapa melakukan zina tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri.”. Juga pada Alkitab sendiri tidak menerapkan persyaratan usia untuk menikah tetapi dibutuhkannya Iman dan persiapan batin, dikarenakan pernikahan sendiri memiliki beberapa tujuan kalau dilihat dari beberapa ayat yang ada di Alkitab seperti: Efesus 5:21-33:

Pernikahan adalah gambaran hubungan Kristus dengan jemaat, di mana suami berperan sebagai kepala dan istri sebagai tubuh. Kejadian 1:28: Pernikahan bertujuan untuk memiliki keturunan dan mengasuh anak-anak dalam iman Kristen Matius 19:5-6: Pernikahan adalah perpaduan antara laki- laki dan perempuan, sehingga keduanya menjadi satu daging, dan masih banyak lainnya. Sebab itu jika adanya pernikahan dini atau pernikahan yang terlalu awal, maka tujuan dari pernikahan ini tidak dapat tercapai sebab itu diperlukannya suatu pembelajaran mengenai pernikahan dan persiapan mental dan batin agar bisa memenuhi tujuan dari pernikahan yang sesuai dengan Alkitab.

(3)

Perceraian

Awalnya, netizen menduga Baim Wong dan Paula Verhoeven tengah bermasalah lantaran jarang tampil bersama di depan publik. Yang makin menguatkan dugaan, netizen melihat Baim Wong bertemu dengan pengacara Hotma Sitompul. Namun, kemudian diklarifikasi bahwa pertemuan tersebut hanya untuk keperluan pembuatan konten.

Saat Idul Adha, Baim Wong dan Paula Verhoeven tidak berfoto bersama dan Paula tidak hadir di acara ulang tahun ayah Baim pada 9 Juni 2024. Baim pun mengaku saat ini lebih sering tidur di kantor ketimbang di rumah. Pada unggahan di Instagram pada Juni 2024, Baim Wong mengungkap bahwa Paula pernah selingkuh dengan sahabat karibnya. Ia mengetahui perselingkuhan tersebut setelah menemukan rekaman telepon dan Paula mengganti nama kontak orang yang diduga sebagai orang lain di telepon genggamnya. Baim Wong menyebut ada 2 orang dekat yang berkhianat dan menyinggung soal itu. Awalnya, Baim Wong sudah memaafkan Paula. Namun, Baim menyatakan ketidakjujuran Paula masih berlanjut. Ayah Baim menyarankannya untuk mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada Selasa, 8 Oktober 2024.

Baim Wong menggelar jumpa pers untuk mengonfirmasi perceraian tersebut. Ia mengungkapkan kesedihan dan mengungkap perjuangan panjangnya selama setahun ini. Baim wong dan Paula Verhoeven bercerai dikarenakan Baim wong selalu berada di kantor yang menyebabkan dia selalu lembur dan jarang pulang ke rumah. Hal itu pun akan membuat Paula Verhoeven menjadi kurang perhatian dari suaminya yaitu Baim wong. Seperti yang dikatakan, bahwa Baim Wong melakukan penceraian dengan Paula Verhoeven yang dikarenakan Baim pernah mengungkapkan bahwa Paula pernah selingkuh dengan sahabatnya. Paula berselingkuh disebabkan karena Baim terlalu sering tidur di kantor dan lembur sehingga ia merasa kurangnya perhatian dari Baim. Padahal permasalahan ini dapat terselesaikan jika Baim dan Paula saling menerima satu sama lain, dibutuhkannya suatu komunikasi dari kedua pihak juga dibutuhkannya komitmen yang harus terlaksana dalam hubungan pernikahan ini. Padahal pada Alkitab sendiri sudah memberikan larangan mengenai perceraian yang tercatat pada ayat Matius 19:6 “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia". Tetapi Alkitab sendiri sudah memberikan solusi mengenai permasalahan yang dialami Baim dan Paula. Solusi tersebut tercatat pada ayat Efesus 5:33 yang berkata "Bagaimanapun juga, kamu masing-masing harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri dan istri harus menghormati suaminya".

Kohabitasi

Seperti definisi atau arti yang sudah dijelaskan, kohabitasi merupakan suatu keadaan dimana sepasang kekasih tinggal dalam satu rumah yang sama tanpa adanya status suami istri atau ikatan janji suami-istri. Kohabitasi sendiri banyak dilakukan sejak dulu, namun seiring berjalannya waktu, di masa sekarang, banyak pasangan yang melakukan hal ini bahkan tanpa mereka sadari.

Seorang selebriti sekaligus pemain bola, Christiano Ronaldo, merupakan salah satu bukti bahwa benar adanya kohabitasi. Ronaldo tinggal bersama pasangannya, Georgina, di dalam rumah yang sama. Sebelum menganilisis mengapa kohabitasi dapat dilakukan oleh sepasang kasih ini, kita

(4)

harus mengetahui latar belakang mereka terlebih dahulu. Georgina adalah seorang model, ayahnya merupakan pelatih sepak bola dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan Ronaldo, ia merupakan peman bola yang sangat terkenal, dan terlahir dari keluarga miskin. Setelah mencari lebih lanjut tentang Ronaldo, ia dikarunai 5 orang anak, namun salah satu anaknya meninggal sehingga menyisakan 4 anak. Keempat anak ini pun lahir dari perempuan yang berbeda-beda, namun yang membesarkan mereka sekaligus peran sebagai ibu adalah Georgina, bersama dengan Ronaldo. Dapat kita lihat dan spekulasikan bahwa salah satu penyebab terjadinya kohabitasi dalam sepasang kasih ini karena adanya hubungan seksual dengan orang lain selain pasangannya seperti yang dilakukan Ronaldo pada Georgina. Mengingat bahwa Ronaldo merupakan pemain sepak bola, memungkinkan bahwa ia tidak mendapatkan waktu luang yang panjang bersama Georgina dan anak-anaknya, yang dapat menjadi pertimbangan dalam melanjuti langkah berikutnya yaitu pernikahan. Beberapa masalah internal juga dapat menjadi pembahasan dan pertimbangan bagi masa depan mereka. Hal ini berupa perbedaan pendapat dan pandangan pasangan mengenai kehidupan berkeluarga mereka, seperti contohnya pembagian finansial. Belum siapnya mental dan mereka untuk berkomitmen dapat menjadi alasan yang menghambat mereka untuk menikah. Perlu diketahui bahwa sebelum menjalankan pernikahan, pasangan harus membuat banyak keputusan serta pertimbangan agar menjalani kehidupan pernikahan yang baik dan benar di hadapan Allah.

Tentunya banyak yang harus dikorbankan dalam setiap masa kita bertumbuh, dan pengorbanan tersebut dapat disaksikan sebagai cinta abadi yang dalam terhadap pasangan, yang diyakini sudah dipersatukan oleh Tuhan melalui iman. Menurut Ronaldo pernikahan itu bukanlah hal yang wajib dan utama untuk dilakukan sehingga ia menunda pernikahanya, tetapi tetap hidup bersama Georgina. Dan menurut Ronaldo hubungan sex di luar nikah itu tidak papa karena menurut dia tidak ada kewajiban moral, yang penting hubungan saling suka saja. Maka karena itu, kami bisa mensimpulkan bahwa Ronaldo belum begitu mengerti mengenai makna pernikahan itu sendiri serta bagaimana cara mendalaminya. Padahal Ronaldo seharusnya bisa lebih menghargai pernikahan, pasangan dan kesucian dengan hubungan lawan jenis. Pada salah satu ayat Alkitab yaitu Efesus 5:21-33 mengajarkan bahwa pernikahan adalah gambaran hubungan Kristus dengan jemaat, jika seseorang hanya menganggap suatu hubungan sex di luar nikah itu tidak apa apa, maka sama seperti kita menganggap hubungan kita dengan Kristus itu sepele tidak ada artinya sama seperti pernikahan. Juga salah satu ayat Alkitab 1 Korintus 7:9 yang berbunyi "Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu" yang mengartikan, diharuskannya menikah dari pada hubungan itu hanya digunakan sebagai hawa nafsu saja. Maka dapat disimpulkan bahwa diperlukannya pemahaman mengenai pernikahan dan menghargainya, jadi solusi secara umum adalah dari kecil harus diajarkan makna dari pernikahan dan membangun hubungan dengan lawan jenis supaya mereka mendapatkan pemahaman yang benar. Karena jika membangun hubungan dengan lawan jenis dengan tidak menikah dan hanya untuk hawa nafsu, pada suatu hari nanti pasti akan terjadi suatu konflik seperti hubungan toxic, sehingga dapat menyebabkan pelecehan, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan dan lainnya juga mendapatkan kerugian-kerugian lain dan juga dosa.

(5)

Bab 3: Pandangan Kristen dan pribadi

Pandangan Kekristenan

Sebagai anak-anak yang dikasihi oleh Allah, Ia memberikan hikmat kepada kita manusia untuk memilih jalan yang benar. Hikmat yang diberikan oleh Tuhan itu harus kita gunakan dengan baik dan bijak, dengan bimbingan Roh Kudus. Dalam kasus ini, yaitu pernikahan, kohabitasi, dan perceraian, telah dijelaskan pada Alkitab bagaimana ketiga hal ini dari sudut pandang Tuhan, apa yang baik dan apa yang jahat. Pertama, pada hal pernikahan, pernikahan adalah salah satu karunia Tuhan pada manusia. Berdasarkan dengan apa yang Yesus katakan pada Matius 19 ayatnya yang ke 6, bahwa pernikahan itu bersifat permanen, dan lebih dari kontrak manusia. Pernikahan atau

(6)

perkawinan adalah kuk ilahi. Bahkan ketika hubungan sepasang suami-istri sudah "mati", hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk berpisah. Dasar persatuan bukanlah pengalaman manusiawi yang naik turun seperti perkataan "Aku mencintaimu" dan "Aku tidak mencintaimu", tetapi kehendak ilahi dan firman, dimana mereka sudah dipersatukan oleh Allah dan satu daging.

Namun, ketika kita lihat lagi dalam Alkitab, terkhususnya Ulangan 24:1-5, terdapat sebuah kutipan mengenai perceraian yang dituliskan oleh Musa. Hal ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari orang Farisi, dan dilontarkan pada Yesus. Yesus meresponi pertanyaan tersebut sesuai dengan apa yang dituliskan pada kitab Kejadian 1 dan 2, yang menjelaskan bahwa seharusnya perceraian tidak boleh dilakukan karena mereka sudah dipersatukan oleh Allah dan menjadi satu daging. Dalam konteks perikop Ulangan 24:1-5, teks tersebut bukanlah "perintah" melainkan "izin". "Izin" yang dimaksud pun direlakan dengan sedih hati, yang diberikan karena kekerasan hati manusia dan bukan kehendak ilahi. Akan tetapi, perceraian bertentangan dengan pernikahan sebagaimana yang dikehendak oleh Allah sejak semula.

Pandangan pribadi (Darren)

Menurut saya pernikahan, kohabitasi, dan penceraian adalah suatu hal yang tidak harus dilakukan dikarenakan setiap orang memiliki hak untuk menikah Bersama pasangannya tersendiri, menurut saya kita tidak baik Ketika melakukan kohabitasi, dikarenakan sebaiknya kita menikah dengan pasangan kita dengan pernikahan sah, dari kohabitasi juga dapat menyebabkan sebuah masalah yaitu sex diluar nikah yang menurut saya tidak baik, solusinya adalah sebaiknya menikah dahulu, untuk perceraian, sebaiknya lebih baik berdamai dengan pasangan untuk menyelesaikan suatu masalah tersebut, sebaiknya juga kita tidak menyebabkan suatu masalah agar tidak harus melakukan penceraian, maka dari itu menurut saya penceraian itu adalah suatu hal yang tidak harus dilakukan dikarenakan pada ayat alkitab 1 Korintus 7:10-16 menyucapkan “bahwa Kepada orang- orang yang telah kawin aku--tidak, bukan aku, tetapi Tuhan--perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.”, Allah mengucapkan bahwa tidak boleh menceraikan suatu suami dan juga istrinya, maka dari itu saya tidak setuju jika melakukan perceraian.

Pandangan pribadi (Delbert)

Saya setuju dengan pernikahan tetapi kurang setuju dengan kohabitasi dan penceraian. Sebab pernikahan merupakan suatu hal yang diperintahkan dalam Alkitab, dengan tujuan untuk menemani kita, membuat keturunan, sebagai penolong dan lainnya, mengenai pernikahan kalau dilihat dari analisis kasus yang diambil yaitu mengenai pernikahan dini yang marak terjadi di Kulon Progo, adanya kurang siapnya mental, dipengaruhi keadaan ekonomi, dorongan keluarga dan lainnya. Kurang siapnya batin ini dapat menyebabkan suatu pernikahan berujung menjadi penceraian, yang tentu tidak diperbolehkan kalau dilihat dari pandangan Alkitab. Seperti yang tertulis pada ayat Maleakhi 2:16 “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel”, dan ayat Matius 2:16 “Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu, apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”. Dari kedua ayat ini Alkitab melarang kita untuk melakukan penceraian sebab itu tidak diperbolehkan adanya pernikahan dini karena bisa

(7)

saja berujung penceraian. Lalu adanya kohabitasi dan penceraian, kalau dilihat dari definisi kohabitasi itu sendiri saya tidak menyetujui kohabitasi, sebab kohabitasi merupakan suatu hubungan yang belum menikah tetapi sudah hidup dalam satu rumah dan mempunyai anak, yang membuat saya merasa cukup aneh. Saya juga tidak menyetujui dengan penceraian, karena Alkitab tidak memperbolehkan penceraian sebab apa pun yang sudah di satukan oleh Allah, tidak boleh dipisahkan (referensi dari ayat Markus 10: 8-9). Maka itu saya tidak setuju dengan adanya penceraian.

Pandangan pribadi (Ryo)

Menurut saya pribadi pernikahan adalah hal yang wajib dilakukan untuk kita semua karena Firman Tuhan berkata yaitu dari Kejadian 1:28 "Perintah Allah kepada manusia untuk beranak cucu, memenuhi bumi, dan menguasai ciptaan-Nya". Walaupun begitu kita juga harus berkomitmen untuk menjadi orang tua yang baik untuk mendidik anak kita dan juga harus memiliki rasa tanggung jawab. Lalu menurut saya jika kita melakukan kohabitasi, maka akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakan. Hal itu pun seperti minimnya komitmen, kepercayaan, dan kesetiaan kepada pasangan, hanya menggunakan pasangannya sebagai hawa nafsunya, ketidakpastian untuk masa depan, dll. Dan saya juga tidak menyetujui perceraian, karena Firman pun juga berkata di ayat 1 Korintus 7:10-16. Maka dari itu kita harus tetap setia kepada pasangan-pasangan kita masing- masing dan menjalani hubungan yang baik.

Pandangan pribadi (Akiko)

Menurut saya, saya setuju dengan pernikahan karena merupakan aturan dari Tuhan untuk menikah dan melanjutkan garis keturunan. Namun, saya tidak setuju dengan pernikahan yang tidak disetujui oleh kedua pihak dan pernikahan di bawah umur karena jika terjadi perkawinan di bawah umur, anak-anak atau remaja belum memiliki kematangan mental dan emosional yang cukup untuk menghadapi perkawinan. Perkawinan di bawah umur dan tanpa persetujuan juga mengabaikan hak asasi manusia untuk mengambil keputusan dan memiliki kebebasan.. Hidup bersama tidak boleh dilakukan karena menurut pendapat saya, hal itu dianggap berdosa dan tidak pantas karena pernikahan harus didahulukan sebelum hidup bersama. Mengenai perceraian, saya melihatnya sebagai perjanjian yang sakral dan seumur hidu antara pasangan. Hal itu juga dapat memicu perjuangan pasca-perceraian dan masalah untuk anak-anak (jika ada).

Pandangan pribadi (Greysia)

Pernikahan, kohabitasi, dan perceraian merupakan topik yang sensitif bagi sebagian orang sehingga mengundang banyak pro-kontra, dan pandangan perspektif setiap orang yang berbeda- beda. Sekarang, saya diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat saya tentang hal tersebut. Pertama, saya akan membahas soal pernikahan atau perkawinan. Sesuai yang dikatakan

(8)

dalam Alkitab, bahwa pernikahan adalah saat dimana sepasang kekasih sudah disatukan oleh Tuhan. Kemudian dari pandangan saya, pernikahan adalah dimana kita siap menghadapi kehidupan selanjutnya dengan bersama, mulai dari finansial, mungkin anak, dan lain sebagai hal.

Pernikahan menjadi bukti bentuk kesetiaan manusia untuk saling berkomitmen menjalani hidup bersama sampai akhir. Perjanjian yang dikatakan pada pernikahan bukanlah janji-janji palsu, melainkan janji suci. Ketika sepasang kekasih sudah menikah, maka mereka sudah menjadi satu, dan tidak boleh berpisah, karena mereka sudah berjanji di altar untuk tetap setia. Pernikahan merupakan hal yang sakral, karena bukan hanya melibatkan pasangan yang menikah, melainkan juga melibatkan dengan Tuhan. Juga pernikahan adalah kehendak dan rencana Allah untuk manusia, dan menjadi bukti bahwa Tuhan selalu mempunyai rancangan untuk manusia. Kemudian saya akan membahas mengenai kohabitasi. Kohabitasi adalah ketika sepasang kekasih yang belum berstatus menikah sudah tinggal di tempat yang sama. Saya sendiri sangat tidak setuju dengan adanya kohabitasi. Menurut saya, kohabitasi adalah tindakan yang zinah, karena pasangan yang tinggal bersama belum mempunyai hubungan yang legal dan pasti. Hal ini juga tidak sesuai dengan firman Tuhan karena pasangan yang melakukan kohabitasi belum bersatu dalam perkawinan kudus. Terakhir, saya akan menyampaikan pemdapat saya tentang perceraian. Perceraian adalah tindakan dimana pasangan mengakhiri hubungan pernikahan mereka. Saya pribadi tidak setuju dengan tindakan perceraian. Di saat sudah berstatus sebagai pasangan suami-istri, maka kita akan menjadi satu, tidak menjad 2 lagi. Menjadi satu disini dimaksud dalam batin, bukan secara fisik.

Sebelum pernikahan, seharusnya pasangan mempertimbangkan masa depan mereka, mulai dari kesenangan hingga tantangan-tantangan yang akan dihadapi. Sehingga, menurut saya perceraian adalah hal yang ceroboh yang bertolak belakang dengan apa yang Tuhan inginkan, yaitu untuk tetap setia sampai akhir. Bagi saya, perceraian bukanlah satu-satunya jalan keluar dari masalah.

Ketika pasangan mengalami masalah, seharusnya kita berkomunikasi, memahami, dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik kedepannya. Karena pasangan suami-istri sudah disatukan oleh Tuhan, sehingga keberlangsungan pernikahan bukan hanya dari pembuktian luar saja seperti perkataan dan perlakuan, melainkan hati yang penuh kasih, iman, dan pengharapan.

Referensi

Dokumen terkait

2. Penyelesaian sengketa melalui mediasi pribadi, diatur oleh para pihak itu sendiri dibantu oleh mediator terkait atau mengikuti pendapat /pandangan para ahli yang tehnik dan

Indonesia, yang memiliki salah satu angka pernikahan anak tertinggi di dunia menurut UNICEF, tahun lalu menaikkan usia resmi untuk menikah dari 16 menjadi 19 untuk kedua jenis

Agama itu urusan orang per orang, perkawinan itu juga urusan orang per orang sehingga pernikahan beda agama itu tidak menjadi masalah karena yang menikah adalah manusia itu,

Masalah dalam Pernikahan Usia Masalah akan dialami seseo Menurut Winkel (1997:334) masa mengganggu berjalan dan berkemb Wanita yang menikah pa Kertamuda, 2009:31)

Simpan nomor TIKET untuk melakukan pengecekan status pengaduan. Pengecekan dapat dilakukan minimal 1x

Dalam hak untuk dilupakan, data pribadi yang disebarkan hingga menimbulkan jejak digital, tanpa persetujuan orang yang memiliki atau berkaitan dengan data pribadi

Wajib Pajak Orang Pribadi adalah semua orang yang telah memiliki penghasilan, yaitu penghasilan yang merupakan objek pajak dan dikenakan tarif umum yang jumlahnya

Tabel 4.2 dapat diketahui karakteristik berdasarkan usia menikah, pendidikan terakhir, usia orang tua saat menikah dan pendidikan terakhir orang tua remaja