SIFAT – SIFAT POSITIF YANG DAPAT MEMPERKUAT
KESEHATAN MENTAL (SHABAR & SYUKUR)
Psikologi Islam 4 - F Psikologi Islam 4 - F
Utari Mahesty - 10050020234
SABAR
Menurut KBBI Sabar adalah tabah dan tahan dalam mengahadapi cobaan.
Seperti tidak lekas marah, tidak lekas putus asa dan tidak lekas patah hati; Tenang yang berarti tidak tergesa-gesa atau terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan dan menentukan tindakan
Al Habs: Menahan diri, mengendalikan/mengontrol diri (arti asal), Al Jarooah : Berani, semangat/ memberi semangat (kk), Al Ikrooh : Pemakasaan/ memaksakan diri, dan Tuqidhu al jazu ’ a : mengendalikan diri dari keputusasaan (Ibn Manshur)
Sabar adalah menahan dan mengendalikan diri dari hal-hal yang dibenci dan menahan dan mengendalikan lisan agar tidak mengeluh, berusaha dengan kuat agar terhindar dari perasaan cemas, putus asa dan marah serta berusaha agar terhindar dari perilaku yang tidak terarah.
PENGERTIAN SABAR
Merupakan sutu proses untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan nafsu syahwat, yang dihasilkan oleh suatu keadaan.
Tetap tegaknya dorongan agama (hidayah Allah untuk mengenal, mengetahui dan mengamalkan ajaran-Nya) ketika berhadapan dengan dorongan hawa nafsu (melampiaskan segala macam kesyahwatan sesuai dengan apa yang dikehendaki olehnya)
Menahan kehendak nafsu demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.
Menahan dan mengendalikan diri dari sesuatu yang semestinya terjadi baik yang dibenarkan aqal dan dibenarkan syariat maupun yang dibenarkan oleh keduanya.
Sabar menurut Al-Gazali, yaitu :
Sabar menurutQuraisy Sihab (1997) : 484 Sabar Menurut Ar Raghib Al Ashfahani
PENGERTIAN SABAR
Shabar Billah (Shabar Rububiyyah): sabar pada umumnya manusia yaitu selalu mengharapkan pertolongan Allah, karena meyakini bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dari-Nya, penuh harap agar menerima pahala dari Allah dan takut akan siksanya
Shabar Lillah (Sabar Uluhiyyah) : Sabar untuk selalu mengharapkan adanya kesabaran yg dianugrahkan Allah kepadanya, karena ia merasa dekat dan cinta kepada-Nya sehingga ia tidak pernah menunjukkan kekuatan dirinya di hadapan makhluk lain kecuali kekuatan Allah (tawdhu)
Shabar Ma’a Allah : Sabar untuk tetap menempuh jalan spiritual dengan cara tunduk dan senang melaksanakan kehendak Allah melalui penunaian hukum-hukum-Nya.
Tiga tahapan shabar menurut Ibn Qoyyim Al Jawziyyah, yaitu : 1.
2.
3.
Tahapan Sabar
At Tashabbur : sabar terhadap kesulitan dan tidak terjerembab pada
kesedihan
Ash Shabr : tidak merasa terbebani oleh adanya musibah dan kesulitan,
bahkan dengan semangatnya mampu menghadapi kesulitan dan musibah dengan ringan atau mudah
Al Ishtibar : Menikmati/ menghadapi mushibah dengan perasaan gembira.
Shabar Badani ( fisik) : menahan dan meregulasi diri dalam menghadapi
kesulitan dan kelelahan badan dalam menjalankan yang baik atau menahan dan meregulasi diri ketika menghadapi rasa sakit fisik karena penyakit atau luka fisik.
Shabar Nafsi (psikis) : menahan dan meregulasi diri dari sifat dan tuntutan
hawa nafsu
Bentuk menurut Ibn Qoyyim Al Jawziyyah, yaitu : 1.
2.
3.
Bentuk sabar menurut Al Ghazali, yaitu : 1.
2.
Bentuk Sabar
Al-Iffah 1.
Secara etimologi al-iffah berarti menjauh kan diri dari perkara tidak baik/hina/syubhat. Secara terminology sebagaimana dikatakan Imam al-Mawardi berarti “menempatkan kecenderungan terhadap sesuatu yang menyenangkan dibawah hukum (al-hukm) akal, baik kesenangan tersebut bersifat jasmani (jasmun) maupun bersifat rohani (ruuhun) seperti emosi (al-infi’al) dan perasaan (al‘awathif)”. sabar (al-shabr) mengendalikan nafsu perut adalah memenuhi kebutuhan (needs)nya sesuai porsinya dan tidak berlebihan, konsumsi yang halal, baik esensinya maupun cara memperolehnya. Sedangkan sabar (al[1]shabr) mengendalikan nafsu biologis adalah memenuhi kebutuhannya dengan cara yang halal, benar dan logis
2. Dhabt Al nafs x al-bathr
Secara etimologi Dhabth al-nafs, berarti menahan atau mengendalikan diri. Pengertian ini sebenarnya berhubungan dengan semua nama sabar. Akan tetapi apabila dilihat dari antonimnya yaitu al-bathr yang berarti menyalahgunakan kenikmatan, tidak mensyukuri, meremehkan, menyombongi, tidak menerima keadaan dirinya, kufur nikmat, maka kata Dhabth al-nafs. Merupakan sabar dalam kondisi menerima nikmat kekayaan materi.
Bentuk sabar nafsi
3. Al-Saja’ah
Secara etimologi kata al-syaja’ah berarti berani antonimnya dari kata al-jabn yang berarti pengecut.
Kata ini digunakan untuk menggambarkan kesabaran di medan perang. Sisi positif dari sikap berani yaitu mendorong seorang muslim untuk melakukan pekerjaan berat dan mengandung resiko dalam rangka membela kehormatannya. Tetapi sikap ini bila tidak digunakan sebagaimana mestinya menjerumuskan seorang muslim kepada kehinaan. Ahmad Amin mendefinisikan berani sebagai: “Sikap gentle dalam menghadapi kesulitan atau bahaya ketika dibutuhkan. Orang yang melihat kejahatan, dan khawatir terkena dampaknya, kemudian menentang maka itulah pemberani. Dan orang yang berbuat maksimal sesuai statusnya itulah pemberani (al-syujja’). Al-syajja’ah (berani) bukan sinonim
‘adam al-khauf (tidak takut sama sekali)
·4. Al-Hilm
Secara etimologi kata al-hilm berarti kesabaran atau kemurahan hati, antonim dari kata al-tazammur yang berarti emosi. Kata ini digunakan untuk menggambarkan sabar (al-shabr) mengendalikan nafsu emosi. sabar melawan nafsu emosi tidak berarti menahan dan terlebih meniadakannya secara total, tetapi menguatkan dan melemahkannya sesuai dengan akal dan agama Islam. Emosi dalam kondisi yang wajib adalah sebuah keharusan, dalam kondisi makruh dibolehkan dengan orientasi pendidikan.
Maka yang dimaksud dengan sabar (al[1]shabr) mengendalikan emosi adalah emosi yang tercela
5. Sa’at Al Shadr
Kata Sa’at al-Shadr (lapang dada) merupakan lawan dari kata al-dhajr (gelisah), al[1]tabarrum (cemas, jemu, bosan), dhayyiq al-sh`adr (sempit dada). Kata Sa’at al- Shadr digunakan untuk menggambarkan kesabaran seorang muslim ketika mengalami kegelisahan sebab menunggu hasil perjuangan.
6. Kitman Al Sirr
Kata Kitman al-Sirr secara etimologi berarti menyimpan atau menyembunyikan rahasia.
Kata ini digunakan untuk menggambar kan kemampuan seorang muslim dalam menyimpan rahasia, dan pelakunya disebut Katum al-sirr
7. Al Zuhd
Secara etimologi kata al-zuhd berarti meninggalkan atau menjauhkan diri, antonim nya al-hirsh yang berarti ketamakan dan kebakhilan. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kesabaran seorang muslim pada saat mengalami kemewahan
3 TINGKAT ZUHUD
al-mutazahhud yaitu tingkat orang zuhud tetapi nafsu nya masih cenderung kepada dunia.
zuhud yaitu tingkat orang zuhud yang tidak
cenderung kepada dunia sebab menurutnya, dunia tidak mungkin digabungkan dengan akhirat.
al-zuhd fi al-zuhd yaitu tingkat orang zuhud yang tidak cenderung kepada dunia tetapi tidak pula menghindarinya
1.
2.
3.
ZUHUD DITINJAU DARI OBJEKNYA
Zuhud terhadap segala sesuatu selain Allah, baik yang ada di dunia maupun di akhirat dan inilah
zuhud sempurna.
Zuhud terhadap dunia saja dan tidak terhadap akhirat.
Zuhud terhadap harta tidak kepada kedudukan atau zuhud terhadap sebagian kesenangan tidak terhadap kesenangan yang lain. Zuhud ketiga ini merupakan zuhud yang terendah.
1.
2.
3.
Dari segi etimologi kata al-qana’ah berarti rela atau puas dengan bagian yang diterima. Antonimnya adalah kata al-syarrah yang berarti tamak, rakus, lahap.
Maksudnya, kata al[1]Qusyairi, adalah “rela terhadap rezeki yang diterima, tidak melihat kepada yang belum ada, dan merasa cukup dengan yang dimiliki”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sabar menghadapi sedikitnya keberuntungan yang ditakdirkan kepadanya. Al-qanaah adalah kemampuan seorang muslim mengendalikan diri untuk tidak mencari harta kekayaan kemudian cara-cara yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, mendorong untuk menjunjung prinsip- prinsip keadilan dan kebijaksanaan, dan tidak melupakan bahwa rezeki yang bermanfaat adalah rezeki yang halal, diperoleh dengan cara[1]cara yang halal, dan dimanfaatkan di jalan Allah (fi-sabilillahi). Bila demikian, maka sikap al- qanaah melahirkan sikap ikhlas terhadap ketentuan dan sikap syukur terhadap nikmat Tuhan (Allah SWT) yang diterima.
8. AL-Qonaah
Derajat Kesabaran
Siddiqqun dan Muqarrabun: orang yang dapat menguasai dan menaklukan hawa nafsunya
terus menerus. Mereka tetap mempuanyai pendirian yang kuat dan teguh, senantiasa menuruti jalan lurus, teguh hati mematuhi ketentuan-ketentuan agama. Mereka itulah orang-orang yang menyandang predikat sidditqin dan muqarrabin, yaitu orang yang lurus dan berdiri tegak di atas rel yang betul.
Ghafilun: orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya, yang selalu dikendalikan dan di setir oleh syaitan, dan tidak mampu melawannya. Hidupnya selalu di buaikan oleh kemewahan dunia. Hawa nafsulah yang jadi pimpinannya. Hidupnya selalu diperbudak oleh hawa nafsunya. Orang-orang yang demikian itu hidupnya selalu bersengatan kedurhakaan kepada Allah. Lalu mereka dihukum sebagai musuh Allah dalam hati mereka, di mana hal itu adalah salah satu daripada urusan Allah.
Mujahidun: orang yang terus menerus berjuang (jihad) melawan hawa nafsunya. Mereka
berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengusir dan melenyapkan nafsu syaithaniyah yang selalu menghadang di muka jalan yang benar, mereka tidak kehilangan semangat, tidak putus asa. Mereka itu dinamakan Mujahiddun.
1.
2.
3.
DERAJAT KESABARAN MENURUT AL-GHAZALI
Siddiqqun dan Muqarrabun: orang yang dapat menguasai dan menaklukan hawa
nafsunya terus menerus. Mereka tetap mempuanyai pendirian yang kuat dan teguh, senantiasa menuruti jalan lurus, teguh hati mematuhi ketentuan-ketentuan agama.
Mereka itulah orang-orang yang menyandang predikat sidditqin dan muqarrabin, yaitu orang yang lurus dan berdiri tegak di atas rel yang betul.
Ghafilun: orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya, yang selalu dikendalikan dan di
setir oleh syaitan, dan tidak mampu melawannya. Hidupnya selalu di buaikan oleh kemewahan dunia. Hawa nafsulah yang jadi pimpinannya. Hidupnya selalu diperbudak oleh hawa nafsunya. Orang-orang yang demikian itu hidupnya selalu bersengatan kedurhakaan kepada Allah. Lalu mereka dihukum sebagai musuh Allah dalam hati mereka, di mana hal itu adalah salah satu daripada urusan Allah.
Mujahidun: orang yang terus menerus berjuang (jihad) melawan hawa nafsunya.
Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengusir dan melenyapkan nafsu syaithaniyah yang selalu menghadang di muka jalan yang benar, mereka tidak kehilangan semangat, tidak putus asa. Mereka itu dinamakan Mujahiddun.
1.
2.
3.
Konsep sabar dalam Al-Qur'an
Konsep dasar shabar dalam Al Qur ’ an adalah kemampuan meregulasi
atau mengontrol pikiran, perasaan dan perilaku yang dapat merugikan
diri sendiri dan orang lain. Hal ini diterangkan dalam surat Kahfi/18
ayat 65-72 dan Al hadits riwayat Bukhori, yang menggambarkan bahwa
Musa AS. gagal belajar ilmu (ladunni) dari Nabi Hidhir AS. Karena ia
tidak mampu bersabar (mengontrol dan meregulasi diri) ketika melihat
perilaku Nabi Hidhir AS. yang dianggap tidak sesuai dengan dirinya dan
etika seorang hamba tuhan yang shaleh.
MAKNA SABAR DALAM AL-QUR'AN
Menerima
Berserah diri Optimis
Ulet
Memaafkan
Kata Kunci Sabar dalam menjalankan perintah
Kuat hati dalam upaya mengembangkan kebaikan diri dan memiliki persepsi yang tidak mudah dialihkan dan dipengaruhi
Hati-hati dalam hidup dan berusaha memanfaatkan potensi agar bisa melakukan sesutu dengan sebaik-baiknya demi mencapai kehidupan yang lebih baik lagi
Konsekwen, sungguh-sungguh, patuh dan taat serta memiliki daya juang dalam menjalankan aturan, siap untuk dibantah dan dibohongkan serta siap dan tabah dalam menghadapi penolakan, tidak sempit dada karena tipu daya orang dan siap menerima segala konsekwensi yang bisa menyakiti hati dan fisik serta tidak isti'jal (buru-buru) dalam mengambil keputusan
Siap meninggalkan keburukan demi mencapai kebaikan dan berjuang dengan sekuat tenaga dalam menggapai kehidupan terbaik
Memiliki waktu khusus untuk melakukan instrospeksi diri 1.
2.
3.
4.
5.
Kata Kunci Sabar dalam Musibah
Tahan menderita (tabah), ulet serta tidak mudah menyerah dalam mengahadapi segala kesulitan hidup
Tabah dalam mengahadapi segala kesulitan hidup sambil tetap konsisten terhadap aturan dalam mencari jalan keluarnya
Siap menerima konsekwensi buruk dari segala amal baik yang telah diperbuat Tidak mudah menyerah dan menjadi lemah ketika dihadapkan dengan kegagalan, kesulitan dan penderitaan hidup
Tidak berputus asa akan rahmat tuhan ketika menghadapi kegagalan dan kesulitan
Memiliki keyakinan yang kuat akan adanya jalan keluar dari suatu kesulitan dan berusaha agar bisa menemukan jalan keluar dari kesulitan tersebut
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kata Kunci Sabar dalam Ma'shiyat
Konsisten dalam menjauhi perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul.
Tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan karena mempertimbangkan konsekwensi buruknya.
Menahan diri agar tidak membalas tindakan buruk dari orang lain secara berlebihan.
Berusaha membalas keburukan orang lain dengan kebaikan.
1.
2.
3.
4.
Aspek kognitif menunjukkan adanya kesadaran kognitif terhadap permasalahan yang sedang dihadapi sehingga memandang permasalahan yang dihadapi secara jernih
Aspek Afektif menunjukkan adanya kesediaan melakukan regulasi emosi dan perasaan, sehingga tetap berlapang dada ketika menghadapi suatu permasalahan
Aspek Konatif menunjukkan adanya kesediaan memelihara semangat untuk tetap menunjukkan usaha/ikhtiyar, karena didasari dengan keyakinan bahwa ada hikmah di balik mushibah dan ada kesenangan dibalik kesulitan.
1.
2.
3.
sabar dalam Al Qur’an berhubungan dengan tiga
aspek dari fungsi psikologis individu, yaitu :
SYUKUR
Syukur berasal dari kata Syukur î yang berarti penuh. jadi dari kata ini syukur diartikan sebagai: “sepenuhnya mengingat (zat) yang telah memberi kenikmatan kepadanya” (Al Ashfahani, 461)
Syukur adalah mengingat-ingat segala kenikmatan dan menampakkannya. Sebalik syukur adalah kufur yaitu melupakan segala kenikmatan dan menutup-nutupinya (ibid, 461).
Syukur adalah menerima segala kebaikan dengan rasa gembira, dan memujinya serta memanfaatkannya sesuai dengan peruntukannya. (Ibid, 461).
Etimologis :
Terminologis :
PENGERTIAN SYUKUR
BENTUK -BENTUK SYUKUR
a.Syukur Al qalb, yaitu memahami atau mengingat-ingat kenikmatan.
b. Syukur Al Lisan, yaitu memuji atau menyatakan terima kasih kepada yang memberikan nikmat.
c.Syukur sâir al jawarih, yaitu memanfaatkan segala kenikmatan sesuai dengan
peruntukannya.
Perintah syukur : Al Baqarah ayat 152, Al Baqarah ayat 172, Nahl ayat 114, Al Ankabut 17, Saba ayat 15, Luqman ayat 12, Luqman ayat 14, Al A’raf ayat 144
Manusia memiliki Potensi bersyukur dan kufur : Al Insan ayat 3, Al An’am ayat 63, Al A ‘raf ayat 189, Yunus ayat 22
Kebanyakan manusia tidak bisa mensyukuri nikmat Allah : Al Baqarah ayat 243, Yunus ayat 60, Yusuf ayat 38, An Naml ayat 73 Syukur identik dengan sabar : Ibrahim ayat 5, Luqman ayat 31, As Sab ayat 19, Asy Syuara ayat 33
Syukur disebut Allah dengan 66 kali pengulangan, yang penggunaannya secara rinci bisa di lihat dalam ayat-ayat sebagai berikut:
Syukur dalam Al-Qur'an
Syukur sebalik dari kufur
Syukur memanfaatkan telinga, mata, dan hati secara baik
Syukur memanfaatkan makanan dan pakaian dengan baik
Syukur memakan makanan halal dan baik Syukur memanfaatkan segala sarana yang
disediakan untuk mencari keuatamaan hidup Sukur membagikan sebagian rizki yang
diberikan Allah kepada orang lain
Syukur memahami dan memanfaatkan air secara proposional
Syukur mengingatkan nilai taqwa kepada Allah
Makna Sykur dalam Al-QUr'an
Syukur berusaha mencari ridha Allah dalam kehidupan
Mensyukuri dan memanfaatkan perhatian oralng lain dan rizki yang diterima
Memahami tumbuhan sebagai sumber makanan merupakan nikmat Allah dan berusaha untuk
megoptimalkan pengolahannya
Syukur mamanfaatkan ampunan dan kesempatan yang diberikan Allah
Syukur mamanfaatkan Rukhshah (kringanan) dari Allah
Syukur dalam melaksanakan kafarat dari perbuatan terlarang (melanggar sumpah) Syukur menyadari pertolongan Allah dan memanfaatkan rizki dari Allah
Syukur dalam senang mengerjakan kebaikan- kebaikan yang disunatkan
Ibnu Umar berkata: telah bersabda Rasul SAW: Alhamdulillah merupakan puncak dari syukur, Allah tidak akan berbuat syukur bagi seorang hamba yang tidak pernah memujinya (membaca hamdalah) (Hr. Abdur Raq dari Qotadah, dalam dalam tafsir Al Baghawi, 5 :139) Mengagumkannya urusan seorang mumin itu adalah, tidak ada suatu ketentuan Allah yang ditetapkan baginya kecuali semuanya baik baginya. Apabila Allah mengenakan keburukan kepadanya, ia akan bershabar dan itu adalah baik baginya, dan apabila Allah memberikan kebaikan kepadanya, ia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan hal itu tidak akan terjadi kecuali pada seorang yang beriman (Hr. Muslim, dari Shuhaib Arumi, dalam Tafsir Ibnu Katsir, 4:252)
1.
2.
Syukur dalam Hadis Nabi
3. Dari Sa’id bin abi waqas ia berkata: telah bersabda Rasul SAW, Hal yang mengagumkan dari ketentuan Allah yang ditentukan bagi seorang mu’min adalah: Apabila Allah menurunkan kebaikan kepadanya, ia memuji Allah dan mensyukurinya, dan bila Allah menurunkan mushibah, ia memujinya dan ia bershabar. Seorang mu’min akan dibalas (dengan kebaikan) dalam segalanya, sehingga ketika ia memberikan satu suapan pada mulut istrinya (Hr. Ahmad, dalam Ibnu Katsir, 6 :512)
Syukur dalam Hadis Nabi
Terima kasih
Qona'ah, Muru'ah, Tawakal
Utari Mahesty - 10050020234
Psikologi Islam 4 - F
Psikologi Islam 4 - F
QONA'AH
PENGERTIAN QONA'AH
Qana’ah adalah akhlak mulia yang tercermindari sikap
merasapuas dengan rezekiyang diterima, rela atas apa yang
dimilikinya dan jika menerimakekayaan adalah untuk
menjaga statusnya diri perilaku meminta-minta. Qana ’ ah
berarti menerima keputusan Allah Swt dengan tidak
mengeluh, merasa puas dan penuh keridhaan atas
keputusan Allah Swt, serta senantiasa tetap berusaha sampai
batas maksimal kemampuannya. Dapat diartikan pula
qanaah merasa cukup terhadap pemberian rezeki dari Allah
Swt.
Menurut bahasa qonaah adalah rela/ridho, sedangkan menurut istilah dimaknai menerima ketika berada dalam ketiadaan/tidak memiliki apa yang diinginkan (Abdullah, tth. 60). Qonaah merupakan salah satu diantara sifat-sifat baik, kendatipun manusia memiliki sifat-sifat tidak baik yang juga bagian dari diri setiap manusia. Namun, dengan potensi akal yang dimiliki manusia mampu memilah dan mengidentifikasikan sifat-sifat baik sebagai bagian dominan dalam diri atau jiwanya dan berupaya mengendalikan sifat tidak baiknya.
Sehingga dengan sifat baik yang ditampakkan dalam perilakunya
merepresentasikan keadaan jiwa.
Amal, yaitu kesederhanaan dalam penghidupan dan pembelanjaan. Barang siapa menghendaki kemuliaan qana’ah, hendaklahia mengurangi pengeluaran dan belanja. Dalam hadis disebutkan, “Pengaturan adalah separuhdari penghidupan.”
Sabar, yaitu Pendek angan-angan, sehingga ia tidak bergelut dengan kebutuhan-kebutuhan sekunder.
Ilmu, yaitu hendaklah ia mengetahui apa yang dikandung di dalam sikapqana’ah, berupa kemuliaandan terhindar dari meminta-minta, serta mengetahui kehinaanketamakan.
Al Ghazali menjelaskan, dalam kitab Ihya Ulumuddin, sikap qana’ah sebagai obat untuk mengendalikan sifat rakus dan tamak, terdiri atas 3 (tiga) penopang, yaitu: amal, sabar, dan ilmu.
1.
2.
3.
Menerima dengan rela apa yang ada. Maksudnya sesuatu yang diberikan oleh Allah haruslah diterima dengan senang hati dan tidak mudah menggerutu, karena dalam qana’ah sendiri sikap rela (ridha) tertera dalamnya, yang selanjutnya juga ridha terbagi menjadi dua sebagaimana yang telah dikutip Amin Syukur dalam Ma’luf menyatakan bahwa rela (ridha) yang pertama adalah ridha Allah terhadap hambanya, dan ridha hamba terhadap Allah (Syukur, 2012) Bahwa kerelaan ialah tidak keberatan terhadap ketetapan illahi dan pengadilanya (Abd Al Karim, 1990).
Memohon tambahan yang sepantasnya kepada Allah yang dibarengi dengan usaha.
Berupaya untukterus positif thinking alias khusnudzan tentang segala yang sudah digariskan oleh Allah, karena Allah akan menghargai usaha dan bagaimana hambanya bersyukur, serta Allah pastilah akan memberikan balasan atas usaha dan rasa syukur pada hambanya, ini juga sesuai dengan dalil Al Qur’an berikut: “Dan (ingatlah juga), tatkalaTuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S.Ibrahim Ayat 7)
1.
2.
Adapun 5 (lima)sikap mental qana’ahyang dipaparkan oleh Hamka (1996),yaitu sebagai berikut:
3. Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah. Dengan sabar dimaksudkan untuk tetap kuat, tidak gelisah serta cemas akan takdir yang telah Allah janjikan, dari keteguhan dan keyakinan itulah, segala kegelisahan bisa sirna.
4. Bertawakal kepada Allah. Yaitu percaya bahwa segala ketetapannya pasti akan dipenuhi oleh- Nya, dan tak ada kata ragu dalamdiri ini, karena tawakal adalah akibat dari orang yang beriman (Hamka,2015)
5.Tidak tertarik oleh tipu dunia. Pada bagian ini menjelaskan bahwa dalam qana’ah terdapat juga unsur zuhud. Yang bertujuan agar manusia tidak bersedih hati karena ada sesuatu yang lepas darinya dan tidak banggadengan apa yang diberikan kepadamu. Manusia diingatkan untuk tidak terlenadengan dunia, bahwa dunia hanya tempat singgahsementara dan dunia juga adalah tempat untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk dibawa akhiratnanti (Syukur, 2012).
1. Memberikan rasa tentram dan tenang pada jiwa seseorang karena tidak dihantui rasa tamak dan kekurangan terhadapkeduniaan.
2. Mendatangkan etos kerja dan giat berusaha untuk memperoleh sesuatu yang pantas untuk didapatkan, karenasemua sudah menjadi ketentuan.
3. Optimis, percaya diri dan tidakragu-ragu dan syak dalam menghadapi hidup.
4. Hidup sederhanadan bersahaja apa adanya.
5. Membawa seorangmuslim untuk tawakaldan sabar dalam menghadapi hidup serta mendorongseorang muslim untuk selalu berusaha
mendapatkan kebahagiaan hidup yang sebenar-benarnya, yaitu kaya hati bukan kaya harta (Fabriar, 2020).
Hikmah dari sikap Qona'ah
MURU'AH
Secara bahasa muru'ah merupakan kata sifat yang diambil dari kata benda “Mar’u” yang berarti manusia atau orang. Jadi arti asal muru’ah adalahsifat yang dimilikioleh manusia yang akan membedakan manusia dari hewan dan makhluk lain pada umumnya. Muru’ah secara bahasa biasa diartikan sebagai kehormatan, harga Diri, dan kewibawaan.
Secara terminologis muru’ah merupakan usaha manusia untuk
membangunkehormatan atau citra diri yang baik
sesuaipetunjuk Allah dan Rasul-Nya. Muru’ahdalam koridor
akhlaqdiartikan sebagai upaya mengaplikasikan akhlakyang
terpuji dalam segala aspek kehidupan sertamenjauhkan akhlak
yang tercela sehinggaseseorang senantiasa hidupsebagai orang
terhormat dan penuh kewibawaan
4 ASPEK UTAMA MURU'AH
muru’ah lisan berupa perkataan yang manis, baik, lembut dan yang dapatmemudahkan untuk meraihhasil.
Muru’ah akhlaq (sikap dan perbuatan) ialah kelapangannya dalam menghadapi orang yang dicintai dan dibenci.
Muru’ah harta ialah ketepatan penggunaannya untuk hal- hal yang terpuji, baik dalam pandangan akal, tradisimaupun syariat.
Muru’ah kedudukan ialah menggunakan kedudukan itu untukseseorang yang memerlukannya.
1.
2.
3.
4.
Muru’ah terhadap diri sendiri; yaitu mempertahankan dan melaksanakan akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang rendahdan tercela, kendatipun hanya diketahui oleh diri sendirisehingga hal demikian menjadi milik pribadinya ketika bergaul dalam masyarakat.
Muru’ah terhadap sesama makhluk; yaitu senantiasa berakhlak luhur dan menjauhi akhlak tercela ditengah khalayak ramai, sanggup menahan diri terhadap sesuatu yang tidak disenangi dan dapat memetikmamfaat dari suatu keburukan yang timbul ditengah masyarakat.
Muru’ah terhadapAllah SWT; yaitu merasa malu terhadap Allah SWT sehinggamembuat seseorang senantiasa berupaya melakukan segalaperintah-Nya dan menjauhisegala larangan-Nya.
DERAJAT MURU'AH
1. Memiliki tindak-tanduk dan kebiasaan yang baik.
2.
Kedermawanan, sesungguhnya merupakan refleksi dari itsar (mengutamakan orang lain), futuwwah (murah hati), tidak cinta dunia, saling menolong dalam kebajikan dan takwa, mendatangkan kegembiraan kepada sesama, dsb.
3.
Rendah hati (tawadhu’), kita bisa memahami betapa hebatnya akhlak ini dengan merenungkan kisah Adam, Malaikat, dan Iblis sebagaimana
disitir al-Qur’an.
4. Tekun beribadah
Karakteristik
Muru'ah
TAWAKKAL
Pengertian Tawakkal
Kata tawakkal berasal dari bahasa Arab at-tawakkul yang dibentuk dari kata ﻞﻛو yang berarti mewakilkan atau menyerahkan diri. Kata tawakkal juga dapat dimaknai menyerahkan segala perkara, ihktiar, dan usaha yang dilakukan kepada Allah swt serta berserah diri sepenuhnya kepada Allah untuk mendapatkan manfaat atau menolak yang mudarat.
(Depdiknas : 2003, 97)
Secara istilah kata tawakkal dapat diartikan sebagai sikap
menyandarkan diri kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu
kepentingan. Bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati
tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang
tenteram. (al-Ghazali: 1992, 19).
Karakteristik Tawakkal
Keyakinan sepenuhnya akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah SWT
Mampu menerima dengan sabar segala macam cobaan dan musibah
Berusaha menghindarkan diri dari kemudaratan
Orang yang aktif dan melakukan ikhtiar semaksimal mungkin dan tidak boleh putus asa
Menanti apa saja yang akan terjadi dengan berpeluk lutut dan berpangku tangan
1.
2.
3.
4.
5.
DAFTAR PUSTAKA
Noorhayati, S Mahmudah. 2016. “Konsep Qonaah Dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah”. KONSELING RELIGI:
Jurnal Bimbingan Konseling Islam.
Nurmayani. 2013. “Kecerdasan Qalbiah Dalam Psikologi Islam”. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 19 No. 7
Miswar. 2008. “Konsep Tawakal Dalam Al-Qur’an”.