Psikopatologi Perkembangan
Dosen Pengampu : Rahmah Rezki Elvika, S.Pd.I., M.Si.
Anggota kelompok :
Alfiah Rahmi Putri (21011222) Aulia Aisha Nadhirah (21011235) Jihan Zahira Nurista (21011266) Lifsha Zulvia (21011274) Salma Syakira (21011187)
ANOREXIA NERVOSA 1. DEFINISI
Anoreksia nervosa adalah kondisi serius yang melibatkan penurunan berat badan yang signifikan melalui pola makan yang ketat dan/atau pembatasan makanan secara sukarela. Ada dua jenis anoreksia berdasarkan cara seseorang mencapai kekurusan. Pertama, ada yang hanya mengandalkan diet ketat (tipe pembatasan), dan kedua, orang bergantian antara diet dan makan berlebihan, diikuti dengan tindakan muntah atau penggunaan obat pencahar (tipe binge- eating/purging). Anoreksia paling umum terjadi pada remaja perempuan dan perempuan muda, tetapi juga bisa memengaruhi remaja laki-laki, laki-laki muda, serta anak-anak yang mendekati masa pubertas dan perempuan yang mendekati menopause. Kondisi ini terkait dengan psikopatologi spesifik di mana rasa takut akan kegemukan dan obsesi terhadap tubuh yang kurus tetap ada sebagai ide yang berlebihan, sehingga individu memaksakan berat badan yang sangat rendah pada diri mereka sendiri.
Gejalanya meliputi pola makan yang terbatas, aktivitas fisik berlebihan, upaya untuk memicu muntah atau penggunaan obat penekan nafsu makan, serta perubahan endokrin dan metabolik yang dapat mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Orang yang menderita anoreksia sering kali memiliki kesadaran normal akan rasa lapar tetapi takut untuk makan, dan sebagai hasilnya, mereka dapat mengalami kekurangan gizi yang berbahaya dalam upaya mencapai tubuh yang dianggap "ideal" menurut mereka. Contoh kasus yang ekstrim melibatkan remaja yang hanya makan seledri dan permen karet selama satu tahun. Orang
dengan anoreksia sering merasa bangga dengan kontrol yang mereka miliki terhadap makanan mereka, bahkan jika itu berdampak negatif pada kesehatan mereka. Diperlukan pengawasan medis dan dukungan psikologis yang kuat untuk membantu orang dengan anoreksia.
2. KARAKTERISTIK Gender
Berdasarkan gender, anorexia nervosa sering terjadi pada remaja perempuan dan perempuan muda dibandingkan remaja laki-laki dan laki-laki muda. Gangguan ini berhubungan dengan psikopatologi, dimana mereka memiliki rasa takut untuk gemuk dan memiliki batasan terhadap berat badan yang terlalu ekstrim bahkan dibawah batas berat badan mereka seharusnya. Berdasarkan tingkat keparahannya bisa terjadi kekurangan gizi dan gangguan fungsi tubuh. Gejala anorexia meliputi makanan yang dibatasi, olahraga berlebihan, muntah disengaja, menggunakan obat penekan nafsu makan dan diuretic (obat untuk meningkatkan produksi urine dalam tubuh).
Gejala umum yang terjadi pada anorexia yaitu olahraga yang berlebihan, mengalami kurang menstruasi (amenorrhea), gejala fisik seperti perubahan warna kulit (hypercarotenemia), tumbuh bulu haslus di seluruh tubuh (lanugo), hipersensitif terhadap dingin. Selain itu gejala orang yang mengalami anorexia seperti hipotensi, detak jantung lambat, dan masalah kardiovaskular lainnya. Orang yang mengalami anorexia dapat menyebabkan kematian baik itu karena bunuh diri atau komplikasi seperti rusaknya organ tubuh, anemia, gangguan sistem ginjal, osteoporosis, dehidrasi kronis sehingga berdampak pad acara kerja jantung yang menyebabkan kematian.
Prevalensi dan Onset
Berdasarkan data prevalensi, penderita anorexia banyak dialami oleh wanita yang lebih muda dengan berat badan yang naik-turun (tidak menentu), menstruasi tidak menentu. Berdasarkan data, anorexia banyak dialami oleh wanita berusia 10-19 tahun dan banyak daripada mereka tidak melaporkan gejala anorexia ini kepada seorang professional. Secara umum berdasarkan gender, rasio anorexia yaitu 1:12 atau 3,8% perempuan dan 1,5% laki-laki. Untuk usia puncak terjadi anorexia dimulai usia 14-18 tahun yang mana pada fase ini adalah transisi memasuki masa remaja dan keluar dari masa remaja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di 6 negara Eropa, menunjukkan timbulnya anorexia lebih dini dibandingkan dengan bulimia.
Etnis dan Kelas Sosial
Sterotipe awal menunjukkan bahwa anorexia lebih banyak terjadi pada kalangan remaja kelas sosial menengah dan atas. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, warga kelas sosial atas sering mengikuti berbagai olahraga ataupun tari demi mementingkan berat badan atau penampilan mereka sehingga lebih memungkinkan terjadinya anorexia.
3. KRITERIA DIAGNOSTIK
A. Penolakan untuk mempertahankan berat badan pada atau di atas berat badan minimal normal menurut usia dan tinggi badan (misalnya, penurunan berat badan yang menyebabkan untuk mempertahankan berat badan kurang dari 85 persen dari yang diharapkan; atau kegagalan dalam mencapai kenaikan berat badan yang diharapkan selama masa pertumbuhan, yang menyebabkan berat badan kurang dari 85 persen dari yang diharapkan)
B. Ketakutan yang sangat besar akan bertambahnya berat badan atau menjadi gemuk, meskipun berat badannya kurang.
C. Gangguan dalam cara seseorang mengalami berat badan atau bentuk tubuh, pengaruh berat atau bentuk tubuh yang tidak semestinya terhadap evaluasi diri, atau penolakan terhadap keseriusan berat badan rendah saat ini.
D. Pada wanita pascamenarke, amenore (yaitu tidak adanya setidaknya tiga siklus menstruasi berturut-turut)
Tentukan Jenis Tipe Pembatas
Selama episode Anoreksia Nervosa saat ini, orang tersebut tidak secara teratur melakukan perilaku makan berlebihan atau buang air besar (yaitu, muntah yang dilakukan sendiri atau penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, atau enema).
Tipe Binge-Eating/Purging
Selama episode Anorexia Nervosa saat ini, orang tersebut sering melakukan perilaku binge- eating atau purging.
4. ETIOLOGI Konteks Biologis 1. Genetika
Anoreksia cenderung diturunkan dalam keluarga. Strober dan rekannya (2000) menemukan bahwa individu dengan anoreksia memiliki kemungkinan 11,3 kali lebih besar untuk memiliki anggota keluarga yang menderita anoreksia dan 4,2 kali lebih besar kemungkinannya untuk memiliki anggota keluarga dengan bulimia jika dibandingkan dengan kontrol normatif. Lebih khusus lagi, terdapat peningkatan risiko sebesar 3-10 persen pada saudara kandung. 27 persen untuk ibu, 16 persen untuk ayah, dan 29 persen pada kerabat tingkat pertama.
2. Neurokimia
Anoreksia nervosa mungkin terkait dengan ketidakseimbangan serotonin yang memicu suasana hati disforik, kecemasan, pemikiran obsesif, dan perfeksionisme. Kelaparan yang terjadi pada penderita anoreksia membentuk sebuah lingkaran setan, di mana pembatasan kalori sementara mengurangi suasana hati disforik, namun malnutrisi dan penurunan berat badan justru memperburuk kondisi ini melalui perubahan neuropeptida dan fungsi monoamina.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien yang pulih dari gangguan makan memiliki kadar asam 5-hidroksiindolasetat (5-HIAA), suatu metabolit serotonin, yang lebih tinggi, menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas serotonin yang berlebihan dan atribut kepribadian seperti perfeksionisme, obsesif, dan kekakuan.
3. Studi Pencitraan Otak
Sejumlah kelainan pada struktur dan fungsi otak pada individu dengan gangguan makan umumnya berhubungan dengan rasa lapar pada diri sendiri, yang dapat kembali normal seiring peningkatan berat badan. Namun, pengecualian terjadi dalam temuan peningkatan aktivitas pada reseptor 5-HT di daerah frontal-limbik otak, yang terkait dengan kontrol impuls dan penghambatan perilaku. Defisit dalam kapasitas kontrol ini terlihat pada remaja dengan anoreksia, bahkan sebelum timbulnya gangguan, dan cenderung tetap ada setelah pemulihan.
Konteks Individu 1. Citra Tubuh
Proses perkembangan pubertas pada wanita, terutama percepatan lemak, dapat memicu ketidakpuasan terhadap tubuh, yang berpotensi menjadi faktor risiko untuk gangguan makan.
Penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan dengan perkembangan fisik dini lebih rentan terhadap ejekan dan agresi relasional, yang juga dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan makan. Persepsi tubuh yang tidak akurat dan kesulitan dalam mengenali kondisi proprioseptif (tubuh internal) juga terlihat pada penderita anoreksia, yang menjadi faktor penting dalam pengembangan gangguan makan. Studi pemindaian otak menunjukkan adanya perubahan dalam kesadaran proprioseptif pada pasien yang pulih, menunjukkan adanya perubahan neurobiologis yang terkait dengan gangguan makan.
2. Karakteristik Kepribadian
Secara umum, remaja yang menderita anoreksia cenderung memiliki harga diri rendah dan menggambarkan diri mereka sebagai buruk dan tidak layak. Kecemasan, obsesi, kekakuan, dan perfeksionisme merupakan ciri-ciri yang menonjol, baik sebelum maupun setelah pemulihan. Anoreksia tipe pembatasan seringkali terkait dengan tingkat neurotisisme yang lebih tinggi, yang meliputi sifat kaku, ketidakamanan sosial, dan obsesi, sementara anoreksia tipe binge-purge lebih terkait dengan ekstrovertisme dan kesulitan dalam mengendalikan emosi, seringkali mengarah pada perilaku impulsif dan maladaptif. Studi pada pasien pria dengan gangguan makan menunjukkan bahwa lebih dari separuh dari mereka menderita depresi berat dan gangguan kepribadian, serta rentan terhadap penyalahgunaan zat.
3. Kognisi
Peran kognisi, termasuk kebutuhan berlebihan akan kontrol dan distorsi kognitif, memainkan peran sentral dalam pemahaman tentang anoreksia. Anoreksia ditandai oleh upaya kuat untuk mengontrol asupan makanan dan berat badan sebagai cara untuk menangani persepsi diri yang tidak efektif dan tidak memadai. Studi pada pelaku diet normatif menunjukkan bahwa kontrol kognitif terhadap pola makan dapat mengarah pada pemikiran hitam-putih yang memicu perilaku makan yang bertentangan dengan aturan. Selain itu, kelainan anoreksia cenderung bersifat ego sintonik, di mana penderita melihat pencapaian berat badan rendah sebagai bentuk "kemenangan disiplin diri" yang memperkuat harga diri, sehingga membuat motivasi untuk perubahan menjadi lemah. Hal ini menunjukkan pentingnya memahami peran kognisi dalam pengobatan dan intervensi terhadap anoreksia.
Konteks Keluarga 1. Sikap Orang Tua
Sikap orang tua terhadap berat badan dan pola makan juga tampaknya berperan dalam gangguan makan pada sam. permintaan diambil dari AS, Inggris, dan Eropa. Sejak usia 5 tahun, kekhawatiran ibu terhadap berat badan anak perempuannya dan pembatasan aksesnya terhadap makanan dikaitkan dengan rendahnya kompetensi yang dirasakan anak perempuan (Davison dan Birch, 2001), dan pada usia 7 tahun, kekhawatiran ibu mengenai berat badan anak perempuannya dan pembatasan akses terhadap makanan dikaitkan dengan rendahnya kompetensi yang dirasakan anak perempuan (Davison dan Birch, 2001). ketidakpuasan tubuh dan pembatasan makan (Anschutz et al., 2009). Akibatnya, gangguan makan lebih banyak terjadi pada anak perempuan yang orangtuanya memberikan komentar kritis terhadap berat badan anak perempuan mereka. bentuk tubuh atau kebiasaan makan dan orang tua yang melakukan diet (Fairburn et al., 1997). Temuan ini dikonfirmasi dalam sebuah penelitian di Spanyol yang menemukan bahwa ketidakpuasan ibu terhadap tubuh, keinginan untuk menjadi kurus, ketidakamanan sosial dan kurangnya kesadaran interoseptif merupakan prediksi perkembangan gangguan makan pada anak perempuan mereka (Canals et al., 2009). Pada gilirannya, perfeksionisme ayah. juga berkontribusi terhadap gangguan makan anak perempuan.
2. Teori Sistem Keluarga
Pengamatan Minuchin dan rekan-rekannya pada 'keluarga anoreksia' pada tahun 1978 menyoroti empat pola interaksi khas dalam keluarga remaja yang menderita anoreksia, termasuk keterikatan yang patologis, perlindungan yang berlebihan, kekakuan terhadap perubahan, dan kurangnya resolusi konflik. Keluarga tersebut cenderung terfokus secara berlebihan pada pola makan, penampilan, dan kontrol, menghambat otonomi remaja dan menyebabkan gangguan psikologis dan fisik. Meskipun ada dukungan empiris untuk gagasan ini, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola-pola serupa dapat ditemukan dalam keluarga dengan berbagai bentuk psikopatologi, bukan hanya anoreksia. Namun, kurangnya penelitian prospektif longitudinal membuat tidak jelas apakah gaya interaksi keluarga ini merupakan
prediktor atau konsekuensi dari gangguan tersebut dan upaya orang tua untuk melawan penolakan remaja yang keras kepala untuk makan.
3. Keterikatan Orang Tua-Anak
Perspektif lain tentang bagaimana masalah hubungan orang tua-anak dapat berkontribusi terhadap anoreksia berasal dari penelitian tentang keterikatan remaja. Peneliti Inggris Ward dan rekannya (2001) melakukan wawancara Keterikatan Orang Dewasa dengan pasien anoreksia dan ibu mereka dan menemukan bahwa gaya keterikatan yang meremehkan, di mana pentingnya hubungan diremehkan. adalah hal biasa di antara kedua anggota angka dua.
Selain itu, wawancara dengan para ibu seringkali mengungkap tema kehilangan dan trauma yang belum terselesaikan. Para peneliti berspekulasi bahwa kesulitan dalam memproses emosi dapat diturunkan dari ibu ke anak perempuannya dan dengan demikian meningkatkan risiko berkembangnya anoreksia. Sikap tidak terikat terhadap orang tua juga terlibat dalam penelitian Cunha dan rekannya (2009) terhadap pasien anoreksia di Portugal.
4. Penganiayaan Anak
Melalui penelitian yang lebih mendalam terhadap faktor-faktor yang terkait dengan perkembangan anoreksia, peneliti menemukan hubungan antara pelecehan seksual dan gangguan makan, meskipun bukti-bukti mengenai hubungan tersebut cenderung bervariasi.
Beberapa studi menemukan prevalensi pelecehan seksual yang tinggi pada individu dengan gangguan makan, namun penelitian longitudinal menunjukkan bahwa pelecehan seksual mungkin lebih berkaitan dengan peningkatan risiko psikopatologi secara umum daripada faktor risiko spesifik untuk anoreksia. Penelitian yang membedakan antara individu dengan riwayat pelecehan seksual yang mengalami dan tidak mengalami gangguan makan menunjukkan bahwa, sementara pelecehan seksual mungkin bukan faktor utama yang memicu anoreksia, beberapa karakteristik seperti usia yang lebih muda, awal menstruasi, dan persepsi kontrol yang berlebihan dari orang tua, terutama ayah, dapat berperan dalam perkembangan gangguan makan.
Konteks Sosial
Melalui pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor kompleks yang terlibat dalam perkembangan anoreksia, penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor pra-morbid seperti kecemasan, depresi, dan isolasi sosial dapat menjadi prediktor penting dalam perkembangan gangguan makan. Selain itu, tekanan dari hubungan romantis juga dapat
memperburuk gejala anoreksia, dengan penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami gejala depresi dan disfungsi romantis memiliki risiko lebih tinggi terkena patologi makan. Konteks budaya femininitas dan tekanan untuk mencapai standar kecantikan yang sempit juga berkontribusi pada peningkatan insiden anoreksia, dengan penekanan pada tubuh ramping dan penampilan fisik yang mempengaruhi terutama remaja perempuan. Sementara beberapa bukti menunjukkan adanya faktor perlindungan dalam beberapa kelompok etnis, penelitian menekankan pentingnya konsistensi intervensi dini dan peran keluarga yang fungsional sebagai faktor penting dalam proses penyembuhan dan kesembuhan dari anoreksia.
Meskipun remaja penderita anoreksia dapat mengalami kesulitan jangka panjang dalam menjaga hubungan sosial dan individuasi dari keluarga, beberapa faktor ketahanan seperti intervensi dini dan keluarga yang berfungsi dapat membantu meningkatkan prognosis penyembuhan.
5. KOMORBID
Anoreksia seringkali muncul bersamaan dengan gangguan depresi, kecemasan, dan gangguan kepribadian. Sebuah studi Jerman menunjukkan tingkat komorbiditas yang tinggi antara anoreksia dan depresi. Meskipun mereka sering terjadi bersama, penelitian menunjukkan bahwa mereka adalah gangguan yang independen. Perbaikan dalam gangguan makan tidak selalu menghilangkan depresi, dan depresi sering menyertai kelaparan. Penelitian juga menunjukkan bahwa depresi dapat mendahului perkembangan anoreksia. Selain itu, gangguan makan dapat meningkatkan risiko gangguan lain, seperti penyalahgunaan zat, terutama pada jenis anoreksia yang melibatkan muntah-makan berlebihan. Gangguan kecemasan, terutama gangguan obsesif-kompulsif, juga sering terjadi bersamaan dengan anoreksia, dengan kecemasan yang sering muncul sebelum gejala anoreksia. Gangguan kepribadian juga dapat terlihat, terutama pada mereka yang muntah-makan berlebihan, dan komorbiditas ini dapat menyebabkan kursus penyakit yang lebih parah dan berlangsung lama.
6. INTERVENSI Modifikasi Perilaku
Karena anoreksia bisa membahayakan jiwa, modifikasi perilaku seringkali menjadi perhatian utama dalam penanganan awal untuk menyelamatkan nyawa pasien dengan
mengembalikan berat badannya. Ketika anoreksia mencapai tingkat yang parah, pengobatan biasanya dilakukan di rumah sakit untuk memantau perilaku dan kesehatan pasien secara ketat (Lock, 2010). Salah satu teknik yang digunakan adalah pemberian makanan dengan memberikan imbalan, seperti izin menonton acara TV favorit atau menerima kunjungan dari teman, serta mengurangi imbalan jika ada ketidakpatuhan.
Dalam kasus bulimia, modifikasi perilaku berfokus pada menghentikan kebiasaan diet yang memicu keinginan makan berlebihan dan masalah makan, serta mendorong penggunaan strategi yang lebih baik untuk mengatur suasana hati, seperti olahraga. Meskipun perawatan rawat inap terbukti efektif dalam mencapai penurunan berat badan yang cepat pada anoreksia, bukti menunjukkan bahwa perawatan ini tidak memberikan hasil jangka panjang, dan biayanya bisa lebih mahal daripada manfaatnya (Crow dan Smiley, 2010). Selain itu, terapi perilaku saja tidak cukup untuk mengatasi pemahaman yang salah tentang makanan, dan juga tidak membantu remaja dalam memperbaiki masalah pribadi dan hubungan antarpribadi mereka.
Oleh karena itu, pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi diperlukan untuk mengatasi gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia.
Terapi Kognitif
Terapi kognitif bertujuan untuk mengubah pola pikir yang salah, pemikiran berlebihan, pandangan negatif terhadap diri sendiri, dan keyakinan yang tidak benar terkait dengan pola makan dan citra diri, misalnya, seperti keyakinan bahwa "Jika saya kurus, saya akan menjadi sempurna." Teknik-teknik ini melibatkan remaja sebagai mitra terapi, di mana mereka bekerja sama dengan terapis untuk mengidentifikasi dan mengatasi pikiran otomatis dan keyakinan yang tidak rasional (Wilson, 2010). Salah satu teknik yang digunakan adalah pemantauan mandiri, yang membantu meningkatkan kesadaran akan situasi, pikiran, dan emosi yang memicu gangguan makan. Kontrak perilaku juga digunakan untuk memantau dan memperkuat langkah-langkah kecil menuju tujuan yang lebih baik secara keseluruhan.
Selain mengoptimalkan perilaku makan, restrukturisasi kognitif juga melibatkan perubahan pola pikir yang lebih luas yang terkait dengan diri sendiri, hubungan interpersonal, dan keinginan untuk menjadi sempurna secara umum. Sebagai contoh, Wonderlich dan timnya (2008) mengembangkan terapi kognitif-afektif integratif khusus untuk bulimia, yang berfokus pada tiga aspek utama: konsep diri negatif, pengaruh negatif, dan strategi penanganan masalah.
Dalam sebuah inovasi menarik, terapi ini dapat diberikan melalui telemedicine kepada individu di daerah pedesaan yang mungkin kesulitan mengakses perawatan berkualitas tinggi dan
berbasis bukti (Mitchell et al., 2008). Secara umum, penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kognitif terhadap bulimia efektif, dengan tingkat pemulihan penuh yang dilaporkan pada 50 hingga 90 persen kasus, serta tingkat kekambuhan yang rendah (Keel dan Haedt, 2008). Meskipun pendekatan lain dapat membantu mengurangi kebiasaan makan berlebihan dan meningkatkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan, pendekatan kognitif terbukti lebih berhasil dalam mengubah sikap terhadap tubuh dan pola makan yang tidak sehat, serta dalam mencegah kekambuhan gangguan makan.
Interpersonal Psychotherapy
Salah satu pendekatan terapi individual yang telah terbukti efektif dalam pengobatan gangguan makan adalah psikoterapi interpersonal (IPT). IPT berfokus pada bagaimana gejala berasal dari masalah hubungan dan bagaimana hal tersebut dapat mengganggu fungsi interpersonal. Versi IPT yang dikhususkan untuk bulimia, yang dikembangkan oleh Fairburn dan timnya pada tahun 1993, telah terbukti menguntungkan dalam jangka waktu enam tahun (Tanofsky-Kraff dan Wilfley, 2010).
Meskipun uji klinis dengan melibatkan peneliti di Inggris dan AS menemukan bahwa Cognitive Behavioral Therapy (CBT) memberikan perbaikan terbesar pada pasien bulimia pada akhir terapi, pada masa tindak lanjut 8 hingga 12 bulan, kedua jenis perawatan terbukti sama efektifnya (Agras et al., 2000). Oleh karena itu, meskipun IPT mungkin menghasilkan perubahan yang lebih lambat dibandingkan CBT, namun tetap mampu mencapai tujuannya dalam jangka waktu yang cukup.
Family Therapy
Salah satu pendekatan keluarga yang dihormati dalam penanganan anoreksia adalah model Maudsley, yang pertama kali dikembangkan di Rumah Sakit Maudsley di Inggris (Dare dan Eisler, 1997; Lock et al., 2002) dan kemudian diterapkan di berbagai lokasi melalui serangkaian uji klinis. Terinspirasi oleh model keluarga klasik tentang asal usul anoreksia (Minuchin et al., 1978), pendekatan Maudsley melihat gangguan ini sebagai hasil dari dinamika keluarga yang bermasalah yang mengganggu perkembangan normal remaja. Pada awal terapi, fokusnya adalah membantu orang tua mengendalikan pola makan remaja mereka, mengingat bahwa pikiran dan perilaku remaja terganggu oleh makanan yang mengancam kesehatannya.
Setelah berat badan yang dapat mempertahankan hidup dipulihkan, perawatan bergeser ke membantu orang tua mendukung remaja dalam mencapai kemandirian dan mengambil kendali atas kehidupannya sendiri. Pada tahap terakhir terapi, perhatian beralih untuk membantu
remaja dalam proses pemisahan diri dari orang tua, menetapkan batasan keluarga yang sehat, dan mengembangkan fungsi individu.
Adaptasi lebih lanjut dari model Maudsley melibatkan sesi terpisah untuk orang tua remaja yang mengalami depresi. Fokus terapi kognitif interpersonal (IPT) khususnya pada keluarga dengan tingkat emosi negatif yang tinggi, yang mungkin berasal dari hubungan yang bermasalah, dan dapat mengancam efektivitas perawatan (Eisler et al., 2000). Penelitian menunjukkan bahwa terapi keluarga Maudsley, khususnya dalam keluarga di mana tingkat kritik orang tua tinggi, telah terbukti memberikan hasil yang menguntungkan, dengan kemungkinan kesembuhan yang lebih tinggi pada remaja. Dalam penelitian lain, ditemukan bahwa versi terapi Maudsley dengan durasi pendek (10 sesi selama enam bulan) sama efektifnya dengan versi terapi yang lebih panjang (20 sesi selama 12 bulan) (Le Grange dan Hoste, 2010). Bukti penelitian yang tersedia secara keseluruhan mendukung efektivitas model Maudsley, dengan tingkat kesembuhan yang signifikan terjadi pada 63 hingga 94 persen kasus yang diobati, melebihi terapi psikodinamik atau suportif individu.
Pharmacological Intervention
Beberapa hasil yang menjanjikan dalam pengobatan bulimia telah ditemukan dengan antidepresan, khususnya jenis SSRI yang lebih baru (lihat Bab 9), meskipun penelitian yang menyelidiki efektivitas dan keamanannya masih terbatas (McElroy et al., 2010). Namun, meskipun pengobatan mungkin membantu dalam meringankan psikopatologi komorbiditas seperti anxiety atau depresi, pengaruhnya kecil terhadap perilaku makan atau penambahan berat badan (Lock et al., 2002). Oleh karena itu, obat-obatan umumnya digunakan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti, bentuk terapi lain. Peringatan utama adalah masih kurangnya uji klinis menyeluruh yang melibatkan remaja (Lock dan le Grange, 2006).
Pencegahan Gangguan Makan
Mengingat merugikan secara fisik dan psikis dampak dari kelaparan atau pembersihan diri, dan kesulitan untuk menghentikan remaja dari hal ini setelah mereka mulai melakukan hal ini, maka pencegahan akan sangat bermanfaat. Stice dan Shaw (2004) memberikan meta- analisis menyeluruh mengenai program pencegahan gangguan makan, yang secara keseluruhan cukup menggembirakan karena menunjukkan bahwa upaya ini membuahkan hasil. Mereka menemukan bahwa program pencegahan yang paling berhasil adalah program yang menyasar generasi muda yang berisiko dibandingkan program yang bersifat universal di seluruh sekolah,
program yang bersifat interaktif dibandingkan program yang bersifat didaktik dan tidak bersifat mendidik.
Program yang melibatkan beberapa sesi dan bukan intervensi tunggal, program yang ditujukan khusus untuk anak perempuan dan mereka yang berusia di atas 15 tahun, dan program yang menghindari 'pengajaran kepada remaja melalui fokus pada konseling psikoedukasi. Sebaliknya, strategi yang paling efektif tampaknya mencakup intervensi kognitif yang dirancang untuk melawan sikap maladaptif seperti internalisasi ideal kurus dan ketidakpuasan terhadap tubuh, serta intervensi perilaku yang menargetkan pola makan maladaptif seperti puasa dan makan berlebihan.
BULIMIA NERVOSA 1. DEFINISI
Bulimia nervosa adalah kondisi di mana seseorang mengalami episode makan berlebihan secara berulang, yang biasanya diikuti oleh tindakan untuk mencegah kenaikan berat badan, seperti memicu muntah atau menggunakan obat pencahar (tipe pembersihan), atau melalui puasa dan olahraga berlebihan (tipe non-pembersihan). Meskipun berat badan penderita bulimia bisa normal, mereka sering kali mengalami perasaan kehilangan kendali atas pola makan mereka. Penting untuk membedakan makan berlebihan dalam bulimia dengan makanan sehari-hari dan penyalahgunaan zat yang berkelanjutan. Terkadang, bulimia dapat dimulai sebagai lanjutan dari anoreksia pada beberapa individu. Meskipun makan berlebihan terkadang melibatkan jumlah makanan yang besar, penelitian telah menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu terjadi seperti yang dianggap sebelumnya.
Menurut ICD-10 (WHO, 2007), bulimia nervosa dapat dijelaskan sebagai sindrom yang menunjukkan pola serangan makan berlebihan yang berulang, disertai dengan usaha yang berlebihan untuk mengendalikan berat badan, seperti memicu muntah atau menggunakan obat pencahar. Gangguan ini memiliki ciri-ciri psikologis yang mirip dengan anoreksia nervosa, termasuk kecemasan yang berlebihan terhadap bentuk dan berat badan.Meskipun risiko kematian akibat bulimia tidak sebesar seperti pada anoreksia, praktik pembersihan dalam bulimia juga membawa risiko serius terhadap kesehatan fisik. Muntah berulang dapat merusak lambung dan kerongkongan, sedangkan tindakan pembersihan asam lambung secara berulang dapat merusak lapisan enamel gigi, menyebabkan kerusakan permanen. Penggunaan obat pencahar yang berlebihan dapat menyebabkan ketergantungan dan masalah pencernaan yang parah setelah penghentian penggunaan, serta kerusakan permanen pada usus besar.
Tindakan pembersihan berulang juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dan cairan dalam tubuh, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kelemahan, kelesuan, depresi, masalah ginjal, detak jantung yang tidak teratur, dan bahkan kematian mendadak.
Selain itu, muntah yang sering juga dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di wajah, kulit berjerawat, retensi air yang berlebihan, kerusakan esofagus, dan pembengkakan kelenjar ludah, yang dapat mengubah penampilan wajah menjadi tidak alami. Terkadang, bau muntah juga dapat tersisa pada gigi dan alat pembersih.
Orang dengan bulimia cenderung takut kehilangan kendali atas pola makan mereka, dan perasaan ini, bukan hanya jumlah makanan yang dikonsumsi, membedakan antara makan
berlebihan dan pesta makan yang tidak terkendali. Mereka sering mengalami perasaan bersalah, malu, dan penghinaan terhadap diri sendiri setelah makan berlebihan. Beberapa juga memiliki kekhawatiran yang berlebihan terkait dengan berat badan mereka, meskipun sebenarnya berat badan mereka berada dalam rentang normal. Dukungan medis dan psikologis penting dalam pengelolaan bulimia nervosa.
2. KARAKTERISTIK
Bulimia ditandai dengan makan yang berulang atau konsumsi makanan dalam jumlah yang besar secara cepat dalam waktu yang singkat. Orang yang mengalami bulimia diiringi dengan upaya untuk mencegah berat badan bertambah seperti muntah secara sengaja atau menggunakan obat-obatan yang dapat menyeimbangkan berat badan mereka (tipe pembersihan. Ada juga yang melakukan puasa dan olahraga yang berlebihan (tipe non- pembersihan). Walaupun penderita bulimia memiliki berat badan yang kurang atau berlebih tapi masih dalam kisaran rata-rata. Makan berlebihan oleg orang bulimia berbeda dengan orang normal, dimana mereka makan sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan rasa lapar sampai mereka berada di titiik tidak nyaman, sakit, jijik, atau depresi. Pola pikir orang yang mengalami bulimia berbeda dengan orang normal, dimana mereka takut untuk makan dalam jumlah yang sedikit yang nantinya akan menyebabkan kurang asupan yang buruk, oleh karena itu mereka cemas dan makan sebanyak-banyaknya dan kemudian berpikir bahwa mereka akan menjadi gemuk sehingga kembali memuntahkan makanan. Mereka dikendalikan oleh perasaan cemas, kehilangan dendali untuk menjadi obesitas, satu sisi mereka juga merasa bersalah dan satu sisi mereka malu makan secara berlebihan.
Menurut ICD-10 bulimia adalah sesuatu yang ditandari dengan makan berlebihan dan berulang, aktivitas yang berlebihan dengan mengontrol berat badan, yang menyebabkan pola makan berlebihan diikuti dengan muntah atau penggunaan obat-obatan. Makan sebanyak- banyaknya kemudian memuntahkan dapat membahayakan lambung dan kerongkongan, pencucian asam lambung yang berulang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada lambung.
Prevalensi dan Onset
Onset dari bulimia lebih lambat daripada anorexia yang mana bulimia muncul rata-rata pada usia 18 tahun, masa remaja akhir atau memasuki dewasa awal. Tingkat prevalensi bulimia
seumur hidup diperkirakan mencapai 1,5% perempuan dan 0,5% lali-laki. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebanyak 75% orang yang mengalami bulimia tidak mencari pengobatan atau bahkan tidak mengkonsultasikannya kepada orang profesional. Bulimia memang banyak terjadi pada perempuan dan pada laki-laki biasanya muncul lebih lambat, sekita usia 18-26 tahun. Hal ini dapat terjadi karena menurut penelitian yang dilakukan, laki- laki yang mengalami bulimia cenderung melakukan olahraga ekstrim dibandingkan memuntahkan kembali makanan mereka.
3. KRITERIA DIAGNOSTIK
A. Episode pesta makan berlebihan yang berulang, ditandai dengan kedua hal berikut:
(1) Makan, dalam jangka waktu tertentu (misalnya, dalam jangka waktu 2 jam), dengan jumlah makanan yang pasti lebih banyak daripada yang dimakan kebanyakan orang dalam jangka waktu yang sama dan dalam keadaan yang serupa.
(2) Perasaan tidak dapat mengontrol makan selama episode tersebut (misalnya, perasaan bahwa seseorang tidak dapat berhenti makan atau mengontrol apa atau berapa banyak yang dimakannya).
B. Perilaku kompensasi yang tidak tepat dan berulang untuk mencegah penambahan berat badan, seperti muntah yang dilakukan sendiri; penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, enema;
puasa; atau olahraga berlebihan.
C. Makan berlebihan dan perilaku kompensasi yang tidak tepat rata-rata terjadi setidaknya dua kali seminggu selama 3 bulan
D. Evaluasi diri terlalu dipengaruhi oleh bentuk tubuh dan berat badan.
E. Gangguan tidak terjadi secara eksklusif pada episode Anorexia Nervosa.
Tentukan Jenis
Tipe Pembersihan
Selama episode Bulimia Nervosa saat ini, orang tersebut secara teratur melakukan tindakan yang disengaja muntah Atau penyalahgunaan obat pencahar, diuretik. atau enema.
Tipe Tidak Membersihkan
Selama episode Bulimia Nervosa saat ini, orang tersebut telah melakukan perilaku kompensasi lain yang tidak pantas, seperti puasa atau olahraga berlebihan, namun tidak secara teratur melakukan muntah yang disengaja atau penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, atau enema.
4. ETIOLOGI Konteks Biologis 1. Genetika
Berdasarkan penelitian tentang faktor-faktor yang terlibat dalam perkembangan bulimia, terdapat bukti yang menunjukkan adanya faktor genetik yang kuat dalam kondisi tersebut. Temuan menunjukkan bahwa bulimia cenderung diturunkan dalam keluarga, dengan tingkat bulimia yang jauh lebih tinggi pada individu yang memiliki kerabat dengan kelainan makan. Penelitian genetik mengindikasikan tingkat heritabilitas yang bervariasi, namun, secara umum, berkisar antara 28 hingga 83 persen. Selain itu, ditemukan bahwa ada riwayat kelebihan berat badan dalam keluarga remaja yang didiagnosis dengan bulimia, yang menyarankan bahwa kecenderungan konstitusional membuat penurunan berat badan sulit bagi individu tersebut. Dorongan untuk mengadopsi strategi diet yang ekstrem seringkali berujung pada efek yang bertolak belakang, yang pada akhirnya semakin memperparah masalah tersebut.
2. Neurokimia
Bulimia melibatkan kelainan pada sistem noradrenergik dan serotonergik, dengan rendahnya aktivitas serotonergik menjadi karakteristik utama. Gangguan dalam sistem serotonin ini kemungkinan berkontribusi pada pengembangan pola makan yang tidak sehat, dengan upaya untuk mengatur suasana hati dan peningkatan makan yang terkait dengan penurunan kadar serotonin. Selain itu, faktor-faktor psikologis dan fisiologis seperti perfeksionisme, kebutuhan akan persetujuan, kritik diri, harga diri rendah, dan sensitivitas tinggi terhadap penolakan juga terkait erat dengan bulimia. Kecemasan, perasaan tidak mampu, dan kemampuan yang terbatas dalam mengelola emosi juga memainkan peran penting dalam pengembangan dan pemeliharaan gangguan makan ini. Karakteristik kepribadian ambang, termasuk impulsivitas, hubungan yang tidak stabil, gangguan identitas, dan tindakan menyakiti diri sendiri, juga sering terlihat di antara individu dengan bulimia. Dengan demikian, bukti- bukti ini menunjukkan adanya kombinasi faktor biologis dan psikologis yang saling terkait dalam perkembangan dan pemeliharaan bulimia.
3. Regulasi Emosi
Regulasi emosi memainkan peran krusial dalam mendorong perilaku bulimia, terutama praktik pembersihan diri setelah episode makan berlebihan. Temuan menunjukkan bahwa pada hari-hari ketika individu mengalami episode makan berlebihan dan pembersihan, tingkat pengaruh negatif yang lebih tinggi, seperti kemarahan dan stres, terlihat lebih dominan, sementara tingkat pengaruh positif cenderung menurun. Prosedur pembersihan tampaknya memberikan rasa tenang, pengendalian diri, dan kecukupan, menciptakan persepsi yang hampir 'kosong' atau 'bersih' setelah tindakan tersebut. Meskipun awalnya bertujuan untuk mengatur suasana hati, perubahan biologis dan konsekuensi psikologis yang terkait dengan perilaku bulimia, seperti penipisan serotonin, rasa malu, rasa bersalah, dan citra diri yang buruk, pada akhirnya memperburuk suasana hati yang tidak menyenangkan, menunjukkan adanya siklus yang memperparah permasalahan emosional yang mendasari.
4. Kognisi
Terlihat bahwa perempuan muda yang menderita bulimia cenderung memiliki gaya kognitif yang kaku, cenderung berpikir secara hitam-putih dan menilai diri mereka secara ekstrem. Mereka juga cenderung mengikuti standar kecantikan budaya yang mengedepankan kekurusan tubuh dan melihat bentuk tubuh mereka sebagai sesuatu yang tidak memuaskan.
Konseptualisasi kognitif bulimia mengungkapkan keyakinan yang terdistorsi terkait dengan berat dan bentuk tubuh, serta cara makan yang tidak akurat, yang menginspirasi upaya ekstrem dalam mengendalikan berat badan. Perbedaan utama dengan anoreksia adalah bahwa bulimia cenderung lebih bersifat ego-distonik, di mana penderita memiliki kesadaran yang lebih besar akan kondisi mereka dan lebih bersedia untuk mengubah perilaku mereka meskipun mungkin ada ambivalensi yang dirasakan.
Konteks Sosial
Berdasarkan beberapa penelitian, terlihat bahwa pengaruh teman sebaya memainkan peran penting dalam inisiasi remaja ke dalam perilaku bulimia, terutama ketika remaja terpapar teknik pengendalian berat badan yang tidak sehat dari teman-teman mereka. Kualitas hubungan teman sebaya juga membedakan antara anoreksia dan bulimia, dengan remaja penderita bulimia cenderung lebih mudah bersosialisasi dan aktif secara seksual, meskipun mungkin kurang menikmati aktivitas seksual. Selain itu, hubungan antara citra diri, status sosial, dan
gangguan makan juga kompleks, dengan tingkat ketidakpuasan terhadap tubuh yang tinggi dikaitkan dengan tingkat popularitas yang lebih rendah dari waktu ke waktu. Dalam jangka panjang, perilaku bulimia cenderung mendorong isolasi sosial, di mana remaja yang terlibat dalam siklus binge-purge sering kali menghabiskan lebih sedikit waktu bersosialisasi dan lebih banyak waktu sendirian, menunjukkan bahwa gangguan makan tidak hanya mempengaruhi aspek fisik, tetapi juga sosial dan emosional dari kehidupan remaja.
Konteks Keluarga
Terlihat bahwa anggota keluarga dari remaja penderita bulimia cenderung merasa terganggu secara terbuka, berbeda dengan anggota keluarga dari remaja yang didiagnosis menderita anoreksia yang mungkin cenderung menyembunyikan masalah. Psikopatologi orang tua, terutama depresi dan penyalahgunaan zat, sering kali diamati dalam konteks keluarga penderita bulimia. Selain itu, hubungan keluarga penderita bulimia sering kali ditandai dengan konflik orang tua-anak, perselisihan, dan kurangnya keterlibatan, yang semuanya berperan sebagai faktor risiko spesifik untuk perkembangan bulimia. Lebih lanjut, pengalaman penganiayaan pada masa kanak-kanak, terutama pelecehan seksual, juga tampaknya menjadi faktor risiko khusus untuk bulimia. Studi menunjukkan bahwa remaja yang melaporkan pengalaman pelecehan seksual pada masa kanak-kanak memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami bulimia daripada mereka yang tidak melaporkan pengalaman tersebut.
Konteks Budaya
Pengaruh masyarakat dan budaya, terutama penekanan pada citra tubuh yang ideal dan kecenderungan untuk mengevaluasi perempuan berdasarkan penampilan fisik mereka, memainkan peran penting dalam perkembangan bulimia. Bukti menunjukkan bahwa anak perempuan dan perempuan dewasa memiliki harga diri yang seringkali didasarkan pada citra tubuh, yang bisa dipengaruhi oleh opini orang lain. Selain itu, paparan media terhadap gambaran tubuh ideal kurus telah dikaitkan dengan peningkatan ketidakpuasan terhadap tubuh dan pengaruh negatif di kalangan remaja. Meskipun demikian, tidak semua individu yang terpapar pada tekanan sosial ini mengalami gangguan makan, sehingga interaksi antara faktor- faktor sosiokultural dan individual perlu dipertimbangkan. Para remaja penderita bulimia cenderung merasakan tekanan yang lebih besar dari teman sebaya dan orang tua mereka untuk memiliki tubuh yang kurus, dan mereka juga lebih mungkin menginternalisasikan aturan- aturan sosial terkait dengan penampilan fisik.
5. KOMORBID
Salah satu masalah yang sering terjadi bersamaan dengan bulimia adalah penyalahgunaan zat, yang dapat ditemukan pada sekitar 30 hingga 50 persen individu yang mencari pengobatan untuk bulimia. Gangguan ini juga dapat memiliki faktor kepribadian yang sama, seperti ketidakmampuan untuk mengatur emosi negatif dan perilaku impulsif. Selain itu, gangguan kecemasan juga sering ditemukan pada remaja dengan bulimia, dengan tingkat sekitar 70 persen dalam populasi klinis dan 58 persen dalam sampel masyarakat. Ini termasuk gangguan obsesif-kompulsif, fobia sosial, kecemasan umum, dan gangguan stres pasca-trauma.
Gejala depresi juga umum terjadi, dengan sekitar 25 hingga 80 persen individu dengan bulimia memenuhi kriteria untuk gangguan afektif, seperti distimia, depresi mayor, atau bipolar. Selain itu, gangguan perilaku juga sering muncul bersamaan. Namun, data tentang tumpang tindih antara bulimia dan gangguan kepribadian tidak selalu konsisten, misalnya, gangguan kepribadian borderline adalah salah satu yang sering disebut, tetapi tingkat prevalensinya dapat bervariasi dari 2 persen hingga 50 persen.
Referensi:
Kerig, P. K., Ludlow, A., & Wenar, C. (2012). Developmental Psychopatology From Infacy.
Sixth Edition. New York: McGraw-Hill.