PEMBIAYAAN PENDIDIKAN KEJURUAN
TUGAS MATA KULIAH LANDASAN KEILMUAN PTK
Disusun Oleh Kelompok 5 :
Aulia Cyndi Ayu P. P. (K1522016) Desta Dewa Angga (K1522022) Haichal Vahlevy (K1522040) Narendra Hidayah (K1522060) Yuniar Dwi R. (K1522084)
Dosen Pengampu :
Bapak Dr. A. G. Tamrin, M.Pd, M.Si.
PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2022/2023
i KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “Pembiayaan Pendidikan Kejuruan”.
Makalah ini berisikan tentang berbagai informasi terkait Pembiayaan Pendidikan Kejuruan atau yang lebih khususnya membahas mengenai
“Penegertian, Jenis, Konsep, Fungsi, Faktor, Sumber, Karakteristik, Komponen Pembiayaan Pendidikan Kejuruan, Standar Pembiayaan Pendidikan, Model Pendekatan PPBS (Planning, Programming, Budgeting System), serta Penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja Sekolah (RAPBS)”. Diharapkan Makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan kepada kita semua tentang Pembiayaan Pendidikan Kejuruan. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin.
Surakarta, 29 Maret 2023
Penulis
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 1
1.3 Tujuan Makalah ... 2
BAB II ... 3
2.1 Pembiayaan Pendidikan Kejuruan ... 3
2.1.1 Pengertian Pembiayaan Pendidikan Kejuruan ... 3
2.1.2 Jenis-Jenis Pembiayaan Pendidikan ... 5
2.1.3 Konsep Pembiayaan Pendidikan... 7
2.1.4 Fungsi Biaya Pendidikan ... 9
2.1.5 Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Pendidikan ... 9
2.1.6 Sumber-sumber Pembiayaan Pendidikan ... 10
2.1.7 Karakteristik Pembiyaan Pendidikan ... 11
2.1.8 Kompenen Biaya Pendidikan ... 11
2.2 Standar Pembiayaan Pendidikan Kejuruan ... 12
2.2.1. Pengertian Standar Pembiayaan Pendidikan ... 12
2.2.2. Tujuan Standar Pembiayaan Pendidikan ... 12
2.2.3. Analisis Standar Pembiayaan Pendidikan ... 13
2.2.4. Konsep Pembiayaan Pendidikan... 15
2.2.5. Model Pembiayaan Pendidikan ... 18
2.2.6. Formulasi Model Pembiayaan Pendidikan ... 21
2.2.7. Pengukuran Pembiayaan Pendidikan ... 22
2.3 PPBS (Planning, Programming, and Budgeting System) ... 25
iii
2.3.1. Pengertian Sistem PPBS ... 25
2.3.2. Tahapan Sistem PPBS ... 27
2.3.3. Karakteristik Sistem PPBS ... 29
2.3.4. Keunggulan dan Kelemahan Sistem PPBS ... 29
2.3.5. Sifat-sifat Esensial Sistem PBBS ... 31
2.3.6. Konsepsi Pokok Sistem PPBS ... 31
2.3.7. Komponen Pokok Sistem PPBS... 32
2.3.8. Perangkat Operasional Sistem PPBS ... 32
2.3.9. Faktor yang Mempengaruhi Perencanaan Sistem PPBS ... 33
2.4 Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) ... 34
2.4.1. Pengertian RAPBS ... 36
2.4.2. Unsur-unsur RAPBS ... 36
2.4.3. Prinsip-prinsip RAPBS ... 37
2.4.4. Bentuk-bentuk Anggaran dalam RAPBS ... 38
2.4.5. Fungsi-fungsi RAPBS ... 40
2.4.6. Prosedur Penyusunan RAPBS ... 41
2.4.7. Contoh Format RAPBS ... 43
BAB III ... 46
3.1 Kesimpulan... 46
DAFTAR PUSTAKA ... 47
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan kejuruan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja dan kemajuan ekonomi suatu negara. Namun, salah satu masalah utama yang dihadapi oleh siswa dan institusi pendidikan kejuruan adalah biaya pendidikan yang tinggi. Untuk memastikan bahwa pendidikan kejuruan dapat diakses oleh semua siswa yang memenuhi syarat, pembiayaan pendidikan kejuruan menjadi sangat penting.
Oleh karena itu, makalah "Pembiayaan Pendidikan Kejuruan" ini kami buat untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya pembiayaan dalam pengembangan pendidikan kejuruan, dan membahas mengenai pengertian pembiayaan pendidikan kejuruan, standar pembiayaan pendidikan, model PPBS, serta penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).
Dapat kita ketahui bahwa pembiayaan pendidikan kejuruan di Indonesia masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Beberapa masalah tersebut antara lain adalah kurangnya akses dan kualitas fasilitas dan infrastruktur pendidikan kejuruan, kurangnya dukungan dana dari pemerintah, serta belum optimalnya peran sektor swasta dalam membiayai pendidikan kejuruan. Dengan adanya makalah ini, diharapkan kita semua dapat mengetahui dan memahami pentingnya pembiayaan dalam pengembangan pendidikan kejuruan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat kami rumuskan topik masalah sebagai berikut :
1) Apa Pengertian, Jenis, Fungsi, Faktor, Sumber, Karakteristik, Komponen serta Bagaimana Konsep Pembiayaan Pendidikan Kejuruan di Indonesia?
2) Apa dan Bagaimana Standar Pembiayaan Pendidikan Kejuruan?
3) Apa, Bagaiamana, dan Mengapa menggunakan Model Sistem PPBS (Planning, Programming, and Budgeting System)?
2 4) Apa, Bagaiamana, dan Mengapa harus Penyusunan Rencana
Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS)?
1.3 Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat kami simpulkan bahwa tujuan makalah ini sebagai berikut :
1) Untuk mengetahui dan memahami Pengertian, Jenis, Konsep, Fungsi, Faktor, Sumber, dan Karakteristik Pembiayaan Pendidikan Kejuruan di Indonesia.
2) Untuk mengetahui dan memahami Pengertian, Tujuan, Analisis, Konsep, Model, Formulasi, dan Pengukuran Standar Pembiayaan Pendidikan Kejuruan.
3) Untuk mengetahui dan memahami Pengertian, Tahap, Karakteristik, Keunggulan-Kelemahan, Sifat esensial, Konsepsi Pokok, Komponen, Perangkat, dan Faktor yang mempengaruhi Model Sistem PPBS (Planning, Programming, and Budgeting System).
4) Untuk mengetahui dan memahami Pengertian, Unsur, Prinsip, Bentuk Anggaran, Fungsi, Prosedur, dan contoh format dalam Penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).
3 BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pembiayaan Pendidikan Kejuruan
2.1.1 Pengertian Pembiayaan Pendidikan Kejuruan
➢ Pengertian Pembiayaan Pendidikan
Pendidikan Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya.
Pembiayaan yaitu pendanaan yang diberikan oleh satu pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung dapat menunjang keefektifan dan efisiensi pengelolaan pendidikan.
Menurut Supriyono biaya adalah pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa. Secara bahasa, biaya (cost) dapat diartikan sebagai pengeluaran, dalam istilah ekonomi biaya pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya.
Menurut Yahya yang dikutip oleh Mulyono pembiayaan adalah bagaimana mencari dana atau sumber dana dan bagaimana menggunakan dana itu dengan memanfaatkan rencana biaya standar, memperbesar modal kerja, dan merencanakan kebutuhan masa yang akan datang akan uang.
Pembiayaan pendidikan merupakan proses yang dimana pendapatan dan sumber daya tersedia digunakan untuk menyusun dan menjalankan program kegiatan sekolah. Menurut Levin (1987) pembiayaan pendidikan adalah proses dimana pendapatan dan sumber daya yang tersedia digunakan untuk menyusun dan menjalankan sekolah di berbagai wilayah dengan tingkat pendidikan yang berbeda-beda.
Menurut Nanang Fattah biaya pendidikan merupakan jumlah uang yang dihasilkan dan dibelanjakan untuk berbagai keperluan penyelenggaraan pendidikan yang mencakup gaji guru, peningkatan profesional peralatan, pengadaan alatalat dan buku pelajaran, alat tulis
4 kantor (ATK), kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pengelolaan pendidikan, dan supervisi pendidikan.
➢ Pengertian Pembiayaan Pendidikan Kejuruan
Pembiayaan kejuruan merupakan suatu bentuk dukungan finansial atau sumber dana yang diberikan untuk membiayai kegiatan pendidikan dan pelatihan kejuruan. Berikut adalah pengertian pembiayaan kejuruan menurut beberapa ahli:
Menurut Nursidah dan Sunarti (2017), pembiayaan kejuruan adalah sumber daya yang digunakan untuk membiayai berbagai program pendidikan dan pelatihan kejuruan, baik dari pemerintah maupun swasta.
Menurut R. Sukmadinata (2013), pembiayaan kejuruan adalah pengeluaran yang dilakukan oleh individu, lembaga, atau pemerintah dalam rangka membiayai program pendidikan dan pelatihan kejuruan.
Menurut Aswin Nasution (2018), pembiayaan kejuruan adalah sumber daya yang diberikan oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat untuk membiayai kegiatan pendidikan dan pelatihan kejuruan, baik dalam bentuk uang maupun barang.
Menurut Standar Nasional Pendidikan (SNP) tahun 2022, pembiayaan pendidikan kejuruan adalah semua sumber daya atau dana yang digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pelatihan kejuruan.
Pembiayaan tersebut mencakup berbagai jenis biaya yang diperlukan untuk menunjang kegiatan pendidikan kejuruan, seperti biaya operasional, biaya belajar mengajar, biaya penelitian dan pengembangan, biaya beasiswa, dan biaya sarana dan prasarana.
Pembiayaan operasional digunakan untuk membiayai kegiatan operasional di sekolah kejuruan, seperti gaji guru, biaya listrik, air, dan kebutuhan operasional lainnya. Pembiayaan belajar mengajar digunakan untuk membiayai kegiatan belajar mengajar di sekolah kejuruan, seperti buku pelajaran, alat praktikum, dan kebutuhan belajar mengajar lainnya.
Pembiayaan penelitian dan pengembangan digunakan untuk melakukan penelitian dan pengembangan di sekolah kejuruan, seperti pembuatan laboratorium baru, pengembangan kurikulum, dan kegiatan penelitian dan pengembangan lainnya.
5 Pembiayaan beasiswa digunakan untuk memberikan bantuan finansial kepada siswa yang membutuhkan, seperti biaya sekolah, biaya hidup, dan kebutuhan belajar lainnya. Pembiayaan sarana dan prasarana digunakan untuk membangun, memperbaiki, dan memelihara sarana dan prasarana di sekolah kejuruan, seperti gedung sekolah, laboratorium, perpustakaan, dan kebutuhan sarana dan prasarana lainnya.
Sistem pembiayaan pendidikan sangat bervariasi tergantung dari kondisi masing-masing negara seperti kondisi geografis, tingkat pendidikan, kondisi politik pendidikan, hukum pendidikan, ekonomi pendidikan, program pembiayaan pemerintah dan administrasi sekolah.
Sementara itu terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk mengetahui sesuai tidaknya sistem dengan kondisi negara.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembiayaan pendidikan kejuruan adalah dana yang diberikan kepada sekolah untuk memfasilitasi setiap kegiatan proses pembelajaran di sekolah dan berbagai keperluan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pembiayaan pendidikan kejuruan yang memadai sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan kejuruan di Indonesia. Dengan pembiayaan yang memadai, diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap bekerja di bidang kejuruan yang dipilihnya, sehingga dapat membantu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
2.1.2 Jenis-Jenis Pembiayaan Pendidikan
1) Biaya Langsung (Direct Cost) dan Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) Biaya langsung (direct cost) diartikan sebagai pengeluaran uang yang secara langsung membiayai penyelenggaraan pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Anwar (1991:30). Biaya yang secara langsung menyentuh aspek dan proses pendidikan, contohnya: Biaya-biaya untuk gaji guru dan pengadaan fasilitas belajar mengajar, Gaffar (1991:57). Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa berupa pembelian alatalat pelajaran, sarana belajar, baiya transportasi, gaji guru baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua, maupun siswa sendiri, Fattah (2000:23).
Biaya tidak langsung (Indirect Cost) diartikan sebagai biaya yang umumnya meliputi hilangnya pendapatan peserta didik karena sedang
6 mengikuti pendidikan (earning foregone by students), bebasnya beban pajak karena sifat sekolah yang tidak mencari laba (cost pf tux exemption), bebasnya sewa perangkat sekolah yang tidak dipakai secara langsung dalam proses pendidikan serta penyusutan sebagai cermin pemakaian perangkat sekolah yang sudah lama dipergunakan (implicit rent and depreciation) Fattah (2000:24).
2) Biaya Rutin dan Biaya Pembangunan (Recurrent and Capital Cost) Biaya rutin dan pembangunan merupakan bagian dari biaya langsung (direct cost). Biaya rutin (recurrent cost) adalah biaya yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional pendidikan selama satu tahun anggaran. Biaya ini digunakan untuk menunjang pelaksanaan program pengajaran, pembayaran gaji guru dan personil sekolah, administrasi kantor, pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana. Menurut Gaffar (1987:162) biaya rutin dihitung berdasarkan “per student enrolled”.
Menurutnya biaya rutin dipengaruhi oleh tiga factor utama, yaitu: ratarata gaji guru per tahun, ration guru, murid dan proporsi gaji guru terhadap keseluruhan biaya rutin.
Biaya pembangunan (capital cost) adalah biaya yang digunakan untuk pembelian tanah, pembangunan ruang kelas, perpustakaan, lapangan olah raga, konstruksi bangunan, pengadaan perlengkapan mobelair, biaya penggantian dan perbaikan. Menurut Gaffar (1987:165) biaya pembangunan dihitung atas dasar “per student place”. Menurutnya dalam menghitung biaya pembangunan ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan, yaitu: tempat yang menyenangkan untuk murid belajar, biaya lokasi atau tapak (site), dan biaya perabot dan peralatan.
3) Biaya Pribadi dan Biaya Masyarakat (Private and Social Cost)
Biaya pribadi (private cost) adalah biaya yang dikeluarkan oleh keluarga untuk membiayai sekolah anaknya dan termasuk di dalamnya forgone opportunities. Dalam kaitan ini Jones (1985:5) mengatakan “in the context of education these include tuitions, fees and other expenses paid for by individuals”. Dengan kata lain biaya pribadi adalah (di dalamnya termasuk biaya pribadi). Dalam kaitan ini Jones (1985:5) mengatakan
“Sometimes called public cost, the include cost of educations financed through taxation. Most public school expenses are examples of social costs”. Dengan kata lain biaya masyarakat adalah biaya sekolah yang dibayar oleh masyarakat.
7 Biaya pribadi adalah jenis biaya yang masih sering dikeluhkan masyarakat Indonesia berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua peserta didik.
4) Monetary Cost dan Non Monetery Cost
Monetary cost adalah semua bentuk pengeluaran dalam bentuk uang baik langsung maupun tidaklangsung yang dikeluarkan untuk kegiatan pendidikan. Sedangkan non monetery cost adalah semua bentuk pengeluaran yang tidak dalam bentuk uang, meskipun dapat dinilai ke dalam bentuk uang, baik langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk kegiatan pendidikan, misalnya materi, waktu, tenaga, dan lain-lain.
2.1.3 Konsep Pembiayaan Pendidikan
Indra Bastian (2007:160) menyatakan bahwa ditinjau dari sudut human capital (modal manusia) sebagai unsur modal pendidikan diperhitungkan sendiri sebagai factor penentu keberhasilan sseorang, baik secara sosial maupun ekonomi. Nilai pendidikan merupakan aset moral, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pendidikan di anggap sebagai upaya pengumpulan dana untuk membiayai operasional dan pengembangan sector pendidikan.
Menurut Mulyono (2010: 84- 92) ada tujuh konsep yang terkait dengan pembiayaan yang meliputi:
1) Objek Biaya
Objek biaya adalah akumulasi biaya dari berbagai aktivitas. Yang menjadi objek biaya dalam lembaga pendidikan adalah jasa pendidik.
2) Informasi Manajemen Biaya
Informasi manajemen biaya adalah suatu konsep yang mencakup segala informasi yang dibutuhkan dalam mengelola keuangan agar berjalan secara efektif dan efesien. Informasi manajemen biaya berfungsi untuk menentukan harga, memgubah produk jasa atau jasa dalam rangka meningkatkan profitabilitas, memperbaharui fasilitas layanan pada saat yang tepat dan menentukan metode.
Layanan informasi manajemen biaya sangat diperlukan sebab terkait terhadap empat hal yaitu:
8 a. Manajemen strategis yaitu untuk membuat keputusan, keputusan strategis yang tepat untuk peralihan produk, metode proses, teknik dan saluran pemasaran, dan hal-hal yang bersifat jangka pendek.
b. Perencanaan dan pengambilan keputusan yaitu untuk mendukung keputusan yang terus menerus dilakukan.
c. Pengendalian manajemen dan operasional yaitu memberikan dasar yang wajar dan efektif untuk mengidentifikasikan operasi yang tidak efesien.
d. Penyusunan laporan keuangan yaitu untuk memberikan catatan yang akurat tentang persediaan dan aset lainnya.
3) Pembiayaan (Financing)
Pembiayaan adalah bagaimana cara mencari dana atau sumber dana atau bagaimana menggunakan dana tersebut.
4) Keuangan (Finance)
Keuangan adalah seni untuk mendapatkan alat pembayaran. Dalam dunia usaha keuangan meliputi pemeliharaan kas yang memadai dalam bentuk uang atau kredit disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
5) Anggaran (Budget)
Anggaran adalah alat penjabaran suatu rencana ke dalam bentuk biaya untuk setiap komponen kegiatan.
6) Biaya (Cost)
Biaya adalah jumlah uang yang disediakan dan digunakan atau dibelanjakan untuk terlaksananya berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan dalam rangka proses manajemen.
7) Pemicu Biaya (Cost Driver)
Pemicu biaya adalah faktor yang memberi dampak pada perubahan biaya total. Artinya jumlah total biaya sangat dipengaruhi efek terhadap perubahan level biaya total dari obyek biaya.
Moch. Idochi Anwar (2003:123-129) mengemukakan konsep ekonomi yang melandasi pembiayaan pendidikan yaitu :
a. Konsep Supply-Demand
Analisis mengenai supply berkaitan erat dengan kemampuan penyediaan tenaga oleh lembaga pendidikan sedangkan analisis demond berkaitan dengan besarnya kebutuhan atau permintaan tenaga yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan melalui program-
9 program tertentu. Konsep ini dalam hubungannya dengan pembiayaan pendidikan terutama nampak dalam analisis mengenai keseimbangan antara besarnya permintaan terhadap hasil-hasil pendidikan.
Dengan mengetahui berapa besar output yang harus diusahakan agar dapat memenuhi permintaan. Dengan dasar analisis ini dapat pula diprediksi berapa input yang seharusnya diproses untuk mendapatkan hasil (output ) yang dibutuhkan.
Dengan demikian pertimbangan-pertimbangan ini akan menjadi masukan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan yang pada akhirnya akan berhubungan dengan pembiayaan pendidikan.
b. Konsep Biaya Untuk Pengambilan Keputusan
Ketetapan dalam menghitung biaya akan membantu ketetapan dalam pengambilan keputusan sehingga kebijakan perusahaan atau organisasi akan berjalan dengan baik dalam mencapai tujuan. Dengan menghitung biaya secara cepat dan tepat dapat memberikan informasi yang benar. Dengan demikian yang diambil akan tepat pula
2.1.4 Fungsi Biaya Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor prnting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas fungsi biaya merupakan alat bantu dalam mengerahkan suatu lembaga menempatkan organisasi dalam posisi yang kuat atau lemah.biaya juga berfungsi sebagai tolak ukur keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan,disamping itu dapat juga dijadikan alat mempengaruhi atau memotivasi pimpinana dan karyawan untuk bertindak efisien dalam mencapai sasaran lembaga. Apabila dilihat dari perkembangannya biaya memiliki fungsi sebagai alat efisiensi.
2.1.5 Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Pendidikan
Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya dan pembiyaan pendidikan sekolah hal ini dipengaruhi oleh:
1) Kenaikan kurs harga (rising prices)
2) Perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallearies)
3) Perubahan dalam populasi dan kenaikannya prosentasi anak di sekolah negeri
10 4) Meningkatnya standar pendidikan (educational standards)
5) Meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah
6) Meningkatnya tuntunan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher education)
Dikutip dari Simkins:2013:1
2.1.6 Sumber-sumber Pembiayaan Pendidikan
Menurut peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 44 tahun 2012 tentang pungutan dan sumbangan biaya pendidikan pada satuan pendidikan pada sistem pendidikan dasar adalah sebagai berikut:
1) Sumber biaya dari pemerintah
Sumber biaya pendidikan pada satuan pendidikan dasar yang diselanggerakan oleh pemerintah dan atau pemerintah daerah yang tercantum dalam pasal 5adalah anggaran pendapatan dan belanja negara;anggaran pendapatan dan belanja daerah; sumbangan dari pesertadidikatauprang tua/walinya;sumbangandari pemungku kepentingan pendidikan dasar diluar peserta didikan atau orang tua/walinya;bantuanlembaga lainnya yang tidak mengikat;bantuan lembaga lain yang tidak mengikat;hasil usaha penyelenggara atau satuan pendidikan;dan/sumber lain yang sah.
2) Sumber biaya dari masyarakat
Kemudian dalam pasal 6, sumber biaya pendidikan pada satuan pendidikan dasar yang diselenggerakan oleh masyarakat adalah bantuan dari penyelenggara atau satuan pendidikan yang bersangkutan;
pungutan, dan atau sumbangan dari peserta didik atau orang tua/walinya;bantuan dari masyarakat diluar peserta didik atau orantua/walinya; bantuan pemerintah; bantuan pemerintah daerah;
bantuan pihak asingyang tidak mengikat; bantuan lembaga lainyang tidak mengikat; hasil usaha penyelenggara atau satuan pendidikan;
dan/sumber lain yang sah.
Sumber sumber pembiyaan pendidikan di sekolah menurut (Amirin,2013:92) dikategorikan menjadi lima yaitu;
(1) Anggaran rutin dan APBN (anggaran pembangunan (2) Dana penunjang pendidikan (DPP) (3) Bantuan / sumbangan dari BP3 (4)
11 Sumbangan dari pemerintah daerah setempat (kalau ada) (5) Bantuan lain-lain.
2.1.7 Karakteristik Pembiyaan Pendidikan
Beberapan hal yang merupakan karakteristik atau ciri ciri pembiyaan pendidikan adalah sebagai berikut;
1) Biaya pendidikan akan selalu naik dan perhitungan pembiyaan pendidikan dinyatakan dalam satuan unit cost, yang meliputi:
a. Unit cost lengkap,yaitu perhitungan unit cost berdasarkan semua fasilitas yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pendidikan.
b. Unit cost setengah lengkap, hanyamemperhitungkan biaya kebutuhan yang berkenaan dengan bahan dan alat yang berangsur habis walaupun jangka waktunya berbeda.
c. Unit cost sempit, yaitu unit cost yang diperoleh hanya denganmemperhitungkan biayayanglangsung berhubungan dengan memperhitungkan biaya yang lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar.
2) Biaya terbesar dalam pelaksanaan pendidikan adalah biaya pada faktor manusia. Pendidikan dapat dikatakan sebagai “human investment”, yang artinya biaya terbesar diserap oleh tenaga manusia.
3) Unit cost pendidikan akan naik sepadan dengan tingkat sekolah.
4) Unit cost pendidikan dipengaruhi oleh jenis lembaga pendidikan.
Biaya untuk sekolah kejuruan lebih besar daripada biaya untuk sekolah umum.
5) Komponen yang dibiayai dalam sistem pendidikan hampir sama dari tahun ke tahun
2.1.8 Kompenen Biaya Pendidikan
Dalam menghitung biaya pendidikan kejuruan disekolah, banyak kompenen yang mesti dipertimbangkan oleh pembuat anggaran.
Kompenen kompenen yang dimaksud adalah :
(1) Peningkatan KBM (2) Peningkatan pembinaan kegiatan siswa (3) Pembinaan tenaga kependidikan (4) Rumah tangga sekolah (5) Pengadaan alat-alat belajar (6) Kesejahteraan (7) Pengadaan bahan pelajaran (8) Perawatan (9) Sarana kelas (10) Pengadaan alat-alat belajar
12 (11) Sarana sekolah (12) Pembinaan tenaga kependidikan (13) Pembinaan siswa (14) Pengadaan bahan pelajaran (15) Pengelolaan sekolah, (16) Pemeliharaan dan penggantian sarana dan prasarana pendidikan (17) Biaya pembinaan, pemantauan, pengawasan dan pelaporan (18) Peningkatan mutu pada semua jenis dan jenjang pendidikan (19) Peningkatan kemampuan dalam menguasai iptek
2.2 Standar Pembiayaan Pendidikan Kejuruan 2.2.1. Pengertian Standar Pembiayaan Pendidikan
Standar pembiayaan pendidikan kejuruan adalah perhitungan biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang berkualitas dan memadai. Standar ini mencakup biaya operasional, biaya investasi, dan biaya overhead.
Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan acuan bagi seluruh pelaku pendidikan di Indonesia, termasuk untuk pembiayaan pendidikan kejuruan. Menurut SNP tahun 2021, pembiayaan pendidikan kejuruan adalah segala sumber daya atau dana yang digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pelatihan kejuruan. Pembiayaan tersebut terbagi menjadi 3 jenis biaya, (1) biaya investasi; (2) biaya personal; (3) biaya operasi,
Pembiayaan pendidikan kejuruan harus memadai dan seimbang dengan pembiayaan pendidikan lainnya, serta harus mencakup kebutuhan untuk operasional sekolah, pembelian peralatan dan perlengkapan, upah tenaga pengajar, dan kegiatan pengembangan kurikulum dan penelitian.
Standar pembiayaan pendidikan kejuruan dapat berasal dari beberapa sumber, seperti anggaran pemerintah, dana bantuan operasional sekolah, bantuan pemerintah dan non-pemerintah, pinjaman, iuran siswa, dan sumber lain yang sah.
2.2.2. Tujuan Standar Pembiayaan Pendidikan
Tujuan dari standarisasi pembiayaan melalui konsep pembiayaan pendidikan adalah menentukan mekanisme penganggaran. Selain itu, tujuan standar pembiayaan pendidikan juga untuk memastikan pembiayaan pendidikan kejuruan agar dapat digunakan secara efektif,
13 diperlukan adanya perencanaan dan pengelolaan yang baik, serta pengawasan yang ketat dari pihak berwenang. Hal ini penting untuk memastikan bahwa dana yang disediakan dapat digunakan secara optimal dan sesuai dengan tujuan pendidikan kejuruan, yaitu mempersiapkan lulusan yang memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh dunia kerja.; Model pembiayaan sebagai upaya membagi pembiayaan melalui dua sisi, yaitu sisi pengalokasian dan sisi penghasilan; Formulasi pembiayaan pendidikan sebagai upaya pembagian model pembiayaan melalui model sumber pembiayaan model surat bukti atau penerimaan, model rencana bobot siswa, model berdasarkan pengalaman model usulan, model berdasarkan kebijaksanaan dan; Pengukuran pembiayaan pendidikan dilakukan dalam rangka menilai kinerja manajemen dengan kewajaran pebiayaan.
2.2.3. Analisis Standar Pembiayaan Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan (SNP) juga menetapkan standar pembiayaan pendidikan kejuruan yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan lembaga pendidikan kejuruan. Menurut SNP tahun 2021, standar pembiayaan pendidikan kejuruan harus memenuhi beberapa aspek, antara lain:
1) Ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan kejuruan yang memadai dan memenuhi standar teknis dan keselamatan.
2) Ketersediaan dan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan yang memadai dan memenuhi standar kompetensi dan profesionalisme untuk mendukung kegiatan praktik kerja di industri atau perusahaan.
3) Ketersediaan dana operasional sekolah dan dana bantuan operasional pendidikan (BOPTN) yang cukup untuk membiayai kegiatan operasional dan belajar mengajar ajar dan perlengkapan praktik kerja di industri atau perusahaan.
4) Ketersediaan dana penelitian dan pengembangan untuk mengembangkan kurikulum dan memperbaharui sarana dan prasarana pendidikan kejuruan.
5) Ketersediaan dana beasiswa untuk mendukung siswa atau peserta didik yang membutuhkan.
6) Dalam pembiayaan pendidikan kejuruan, SNP juga menetapkan bahwa pembiayaan harus dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Pemerintah dan lembaga pendidikan kejuruan harus menyusun anggaran pendidikan kejuruan yang terperinci dan terukur, serta
14 mempublikasikan laporan keuangan secara berkala agar dapat dipertanggungjawabkan
Hasil analisis standar pembiayaan pendidikan mencakup beberapa faktor yaitu:
1) Konsep Pembiayaan pendidikan
Konsep pembiayaan pendidikan yaitu suatu unsur yang menentukan dalam mekanisme penganggaran. Penentuan biaya akan memengaruhi tingkat efisiensi dan efektivitas kegiatan dalam suatu organisasi mencapai tujuannya.
2) Model pembiayaan pendidikan.
Model pembiayaan pendidikan itu pada prinsipnya memiliki dua sisi yaitu sisi pengalokasian dan sisi penghasilan.
3) Formulasi pembiayaan pendidikan
Formulasi pembiayaan pendidikan berbeda satu sama lainnya, yakni;
a) Model sumber pembiayaan (The Resources Cost Model) yang menerapkan suatu prototype pembiayaan pendidikan yang mencerminkan kebutuhan berbeda dari kondisi ekonomi di setiap daerah;
b) Model surat bukti atau penerimaan (Models of Choice and Voucher Plans) memberikan corak pembiayaan pendidikan yang langsung kepada individu atau institusi rumah tangga berdasarkan kebutuhan pendidikan;
c) Model rencana bobot siswa (Weight Student Plan) merupakan model pembiayaan pendidikan yang mempertimbangkan siswa-siswa berdasarkan proporsinya;
d) Model berdasarkan pengalaman (Historic Funding) model ini sering disebut incrementalism, dimana biaya yang diterima satu sekolah mengacu pada penerimaan tahun yang lalu, dengan hanya penyesuaian;
e) Model Berdasarkan Usulan (Bidding Model) ini sekolah mengajukan usulan pada sumber dana dengan berbagai acuan, kemudian sumber dana meneliti usulan yang masuk, dan menyesuaikan dengan kriteria;
f) Model berdasarkan kebijaksanaan (Discretion Model) ini memberikan formulasi dimana penyandang dana melakukan studi terlebih dahulu untuk mengetahui komponen-komponen apa yang
15 perlu dibantu berdasarkan prioritas pada suatu tempat dari hasil eksplorasinya
4) Pengukuran pembiayaan pendidikan.
Keterkaitan antara kinerja manajemen dengan kewajaran biaya yang dibebankan kepada peserta didik, didasarkan pada suatu dugaan sementara, bahwa mutu penyelenggaraan pendidikan memiliki hubungan timbal balik dengan kewajaran biaya pendidikan yang dibebankan kepada peserta didik.
Untuk memudahkan dalam melihat kerangka pemikiran standar pembiayaan pendidikan, berikut dapat terlihat pada gambar perumusan masalah di bawah ini :
2.2.4. Konsep Pembiayaan Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan yang telah diamanatkan dalam Undang- undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 35 yang dikuatkan dengan adanya tambahan payung hukum dengan diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2007. Berdasarkan Peraturan Pemerintah ini, terdapat delapan standar nasional pendidikan, yaitu:
Standar Pengelolaan; Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; Standar Sarana Prasarana; Standar Pembiayaan; Standar Proses; Standar Isi;
Standar Penilaian dan Standar Kompetensi Lulusan. Ke delapan standar
16 tersebut menjadi syarat bagi semua satuan pendidikan. Secara garis besar, lingkup SNP dalam lingkup standar pembiayaan dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) Pasal 62 berisi persyaratan minimal tentang:
(1) biaya investasi; (2) biaya personal; (3) biaya operasi, (Depdiknas, 2005)
1) Biaya investasi
Biaya investasi satuan pendidikan meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap, 2) Biaya personal
Biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan
3) Biaya operasi
Biaya operasi yang meliputi :
(a) gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji; (b) bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan (c) biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya
Dalam perkembangannya, kebutuhan pendanaan pendidikan merupakan salah satu permasalahan yang cukup pelik untuk dikelola secara efektif dan efisien. Permasalahan pendanaan pendidikan erat kaitannya dengan keperluan operasionalisasi penyelenggaraan pendidikan. Biaya tersebut, antara lain: 1) biaya operasional pendidik dan tenaga kependidikan (gaji dan honor/insentif/tunjangan); 2) proses pembelajaran dan penilaian; 3) pengadaan, perawatan, dan perbaikan/perawatan saranaprasarana pendidikan; dan 4) manajemen.
Fungsi pembiayaan tidak dapat terpisahkan dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Oleh karena itu, pembiayaan menjadi masalah sentraldalam pengelolaan penyelenggaraan pendidikan yang harus disikapi dan dicar ikan berbagai alternatif solusinya. Ketidakmampuan lembaga penyelenggara pendidikan untuk menyediakan pendanaan pendidikan akan menghambat proses operasionalisasi penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Namun demikian, bukan jaminan manakala tersedia
17 biaya pendidikan yang memadai akan menjamin penyelenggaraan pendidikan berhasil lebih baik.
Dalam memahami permasalahan pembiayaan pendidikan di Indonesia, perlu memahami permasalahan apa saja yang timbul serta alternatif penyelesaiannya (Depdiknas,2005). Berdasarkan uraian klasifikasi biaya pendidikan, maka jelaslah bahwa biaya pendidikan memiliki pengertian yang luas.
Hal ini sebagaimana dipertegas oleh Anwar (1991) bahwa hampir segala pengeluaran yang bersangkutan dengan penyelenggaraan pendidikan dianggap sebagai biaya. Oleh karena itu, diperlukan kebijaksanaan dalam melakukan klasifikasi biaya pendidikan untuk mencapai tujuan yang dituju semua pihak yaitu kesuksesan pelaksanaan pendidikan.Pembiayaan pendidikan terdiri atas biayainvestasi, biaya operasi, dan biaya personal (Sulistyoningrum, 2010). Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap. Lebih lanjut, biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud meliputi: a) gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji; b) bahan atau peralatan pendidikan habis pakai; dan c) biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya (Sulistyoningrum, 2010).
Pembiayaan pendidikan sangat bervariasi tergantung dari kondisi masing-masing negara maupun daerah seperti kondisi geografis, tingkat kemahalan, kondisi politik, hukum, kekuatan ekonomi, program pembiayaan pemerintah dan sistem administrasi di masing-masing lembagapendidikan itu sendiri.
➢ Indikator Penentu Keberhasilan Pembiayaan Pendidikan
Untuk mengetahui apakah pembiayaan yang sudah tersedia sudah memuaskan. Hal ini dilihat dari perspektif: a) proporsi dari kelompok usia, jenis kelamin, tingkat buta huruf; b) distribusi alokasi sumber daya pendidikan secara efisien dan adil sebagai kewajiban pemerintah pusat, pemerintah daerah mensubsidi layanan pendidikan dibandingkan dengan sektor lainnya, c) dukungan orang tua siswa dan masyarakat sebagai komponen yang strategis dalam membiayai pendidikan.
18 Keputusan dalam pembiayaan lembaga pendidikan akan memengaruhi bagaimana sumber daya yang diperoleh dan dialokasikan.
Oleh karena itu perlu dikaji siapa yang akan dididik dan seberapa banyak peserta didik dapat menikmati layanan pendidikan, bagaimana mereka akan dididik, siapa yang akan membayar biaya pendidikan itu.
➢ Peran Pemerintah dalam Pembiayaan Pendidikan
Demikian pula pembiayaan pendidikan seperti apa yang perlu dilakukan pemerintah, agar mampu memberikan kontribusi secara signifikan mendukung pembiayaan lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah maupun swasta. Pembiayaan pendidikan perlu juga dilihat dari faktor kebutuhan dan ketersediaan pendidikan, tanggung jawab orang tua dalam menyekolahkan anaknya vs social benefit secara luas yang akan didapatkan, pengaruh faktor politik dan ekonomi terhadap sektor pendidikan.J. Wiseman (1987) dalam Rosita, T., Nasoha, M., & Isman, S.M. (2013) menjelaskan ada tiga aspek yang perlu dikaji dalam melihat apakah pemerintahan perlu terlibat dalam masalah pembiayaan pendidikan 1) kebutuhan dan ketersediaan pendidikan terkait dengan sektor pendidikan dapat dianggap sebagai salah satu alat perdagangan dan kebutuhan akan investasi dalam sumberdaya manusia/human capital;
2) pembiayaan pendidikan terkait dengan hak orang tua dan murid untuk memilih menyekolahkan anaknya ke pendidikan yang akan berdampak pada social benefit secara keseluruhan; 3) pengaruh faktor politik dan ekonomi terhadap sektor pendidikan.
Dalam hal pendidikan kejuruan dan industri, M. Woodhall (1987) Triwiyanto, T. (2011) menjelaskan bahwa di masa lalu pembiayaan pendidikan jenis ini ditanggung oleh korporasi yang menyediakan CSR (corporate social responsibility), baik untuk para pekerjanya, maupun masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya. Apalagi sekarang ini peran pemerintah semakin besar dalam pembiayaan kejuruan sebagai bentuk komitmen menciptkan link and match antara lembaga pendidikan dan dunia kerja. Hal itu disebabkan adanya kepentingan ekonomi. Artinya kebijakan ketenagakerjaan, diharapkan dapat meningkatkan kepentingan untuk membagi biaya dan manfaat dari pendidikan ini dengan adil.
2.2.5. Model Pembiayaan Pendidikan
Model manajemen pembiayaan pendidikan di Indonesia sebenarnya merupakan modifikasi dan gabungan dari berbagai model pembiayaan
19 pendidikan di Negara lain di dunia. Model-model pembiayaan pendidikan itu pada prinsipnya memiliki dua sisi yaitu sisi pengalokasian dan sisi penghasilan (Armida, 2011:145). Sisi pengalokasian biaya pendidikan ditentukan daripenerimaan atau perolehan biaya, yang besarannya ditentukan dari dana yang diterima oleh lembaga pendidikan yang bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat (Nanang Fattah, 2006:48). Dimensi alokasi biaya pendidikan juga terkait dengan target populasi yang disesuaikan dengan program layanan pendidikan, kelengkapan untuk mencapai layanan pendidikan. Perhitungan unit biaya masing-masing program yang dibiayai, ditentukan oleh kemampuan pemerintah lokal dan usaha yang disepakati Negara bagian (Model Amerika Serikat). Sedangkan sisi penghasilan (revenue) merupakan persentase dari penghasilan yang ditetapkan dari berbagai sumber seperti negara bagian, pemerintah pusat dan pemerintah lokal(Kabupaten dan Kota).
Pengalokasian biaya pendidikan menurut Thomas H. Jones (1985;100- 131), mengklasifikasikan model pembiayaan pendidikan, seperti yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat saat ini, terdiri dari 6 model,antara lain flat grant, complete state funding, the foundation plan, guaranteed tax base plan, power equalizing, sebagai berikut:
a. Model Dana Bantuan Murni (Flat Grant Model)
Merupakan tipe bantuan pembiayaan pendidikan yang tertua. Dimana model ini mendistribusikan dana pendidikan pada Negara bagian tanpa mempertimbangkan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan dari pajak lokal atau pembagian anya daerah, jumlah bantuan sama rata untuk semua siswa. Sehingga setiap sekolah mendapatkan bantuan sejumlah dana yang sama, dihitung persiswa atau per unit pendanaan lainnya.
Sebagaimana penjelasan terdahulu, Model ini memberikan kesan bantuan pendidikan dengan sistem ini membagi rata, sekolah yang jumlah siswanya banyak akan mendapatkan pembiayaan (uang) lebih besar.
b. Model Pendanaan Negara Sepenuhnya (Complete State Funding Model)
Dimana pendanaan pendidikan ditanggung Negara Sepenuhnya (full state funding). Model ini merancang pembiayaan pendidikan yang berusaha mengeliminir perbedaan pemerintah federal dalam hal pembelanjaan dan perpajakan. Pendanaan sekolah akan dikumpulkan di tingkat negara dan diberikan ke sekolah distrik dengan dasar yang sama.
20 Asas keadilan tentang perlakuan terhadap siswa dan pembayar pajak, serta pembiayaan pendidikan berdasarkan tingkat kekayaan yang dimiliki. Model ini berusaha menghindari banyaknya anak pada masyarakat miskin meninggalkan pendidikan sehingga muncul masalah pengangguran dan kesejahteraan bagi generasi penerusnya.
c. Model Landasan Perencanaan (The Foundation Plan Model)
Ini ditekankan pada patokan tarif pajak property minimum dan tingkat pembelanjaan untuk setiap distrik sekolah lokal di Negara-negara bagian (federal). The foundation plan Model bantuan pembiayaan pendidikan ini dari Negara tanpa mempertimbangkan kekayaan dan pajak masing- masing daerah. Negara dapat memberikan dana kepada daerah yang miskin lebih banyak untuk setiap siswanya dibandingkan dengan daerah yang makmur. Tujuan model ini adalah untuk menjaga sekolah dari kehancuran lebih parah pada daerah-daerah yang miskin. Perilaku lain yang muncul dari penggunaan model adalah memberikan peluang munculnya berbadai daerah dengan kategori miskin. Di Indonesia dikenal dengan label daerah tertinggal.
d. Model Perencanaan Pokok Jaminan Pajak (Guaranteed Tax Base Plan)
Model ini merupakan matching plan, dimana persentase tertentu dari total biaya pendidikan yang diinginkan oleh setiap distrik sekolah.
Bantuan negara menjadi berbeda antara apa yang diterima daerah per siswa dengan jaminan negara per siswa. Pembagian persentasenya sangat tinggi di sekolah distrik yang miskin, dan rendah di sekolah distrik yang kaya/sejahtera.
e. Model Persamaan Persentase (Percentage Equalizing Model), Model ini dikembangkan pemerintah Amerika Serikat sejak tahun 1920- an. Model ini merupakan kelanjutan dari bentuk Guaranteed Tax Base, dimana negara menjamin untuk memadukan tingkat-tingkat pembelanjaan tahun pertama di distrik lokal dengan penerimaan dari sumber-sumber negara dan match berada pada suatu rasio variabel dana yang diperlukan pada tiap murid dan guru ke daerah-daerah yang kurang makmur. Jumlah yang diperlukan berubah-ubah tiap bagian sesuai keperluan.
f. Model Perencanaan Persamaan Kemampuan (Power Equalizing Plan), Model ini memerintahkan distrik-distrik yang sangat kaya untuk membayarkan sebagian pajak sekolah yang mereka pungut ke kantong pemerintah negara bagian. Selanjutnya Negara menggunakan dana
21 tersebut untuk meningkatkan bantuan kesekolah pada distrik yang lebih miskin. Di samping itu, beberapa Negara di dunia juga menerapkan model pembiayaan pendidikan yang berbeda, antara lain the resources cost model, models of choice and voucher plans, weight student plan, historic funding, bidding model, discretion model (Thamrin Abdullah, 2012:79-90).
2.2.6. Formulasi Model Pembiayaan Pendidikan
Formulasi model pembiayaan pendidikan masing-masing model ini tentunya berbeda satu sama lainnya, sebagai berikut.
a. Model Sumber Pembiayaan (The Resources Cost Model)
Model yang dikembangkan oleh Hambers dan Parish menerapkan suatu prototype pembiayaan pendidikan yang mencerminkan kebutuhan berbeda dari kondisi ekonomi di setiap daerah. Model ini menurut Sergiovanni tidak bersangkutan dengan pendapatan pajak maupun kekayaan suatu daerah.
b. Model Surat Bukti/Penerimaan (Models of Choice and Voucher Plans) Model yang memberikan corak pembiayaan pendidikan yang langsung kepada individu atau institusi rumah tangga berdasarkan kebutuhan pendidikan. Mereka diberikan surat bukti penerimaan dana untuk bersekolah melalui sistem voucher yang mencerminkan subsidi langsung kepada pihak yang membutuhkan yaitu murid dan orang tua peserta didik.
Indonesia tahun 2004 pernah memberlakukan cara pembiayaan berupa voucher ke lembaga-lembaga pendidikan, tapi pada akhirnya menimbulkan persoalan karena seringkali pejabat yang membantu memperjuangkan anggaran tersebut menginginkan diberikan komisi atas usahanya.
c. Model Rencana Bobot Siswa (Weight Student Plan)
Merupakan model pembiayaan pendidikan yang mempertimbangkan siswa-siswa berdasarkan proporsinya. Contoh siswa yang cacat (disabilitas), siswa program kejuruan atau siswa yang pandai dua bahasa (akselerasi).
d. Model Berdasarkan Pengalaman (Historic Funding)
Model ini sering disebut incrementalism, dimana biaya yang diterima satu sekolah mengacu pada penerimaan tahun yang lalu, dengan hanya penyesuaian.
e. Model Berdasarkan Usulan (Bidding Model)
22 Model ini memungkinkan sekolah mengajukan usulan pada sumber dana dengan berbagai acuan, kemudian sumber dana meneliti usulan yang masuk, dan menyesuaikan dengan kriteria.
f. Model Berdasarkan Kebijaksanaan (Discretion Model)
Model ini memberikan formulasi dimana penyandang dana melakukan studi terlebih dahulu untuk mengetahui komponen-komponen apa yang perlu dibantu berdasarkan prioritas pada suatu tempat dari hasil eksplorasinya. Model pembiayaan pendidikan yang telah dijelaskan di atas memberi gambaran ada keunggulan dan kelemahan pada masing- masing model. Sistem pembiayaan pendidikan di Indonesia sulit merujuk kepada salah satu model pembiayaan seperti: pemerintah pusat, pemerintah daerah dan orang tua serta masyarakat secara ideal harus memberi biaya untuk pendidikan. Di era otonomi daerah dan otonomi pendidikan persoalan pendanaan pembiayaan pendidikan telah mengalami perubahan yang mendasar setelah melihat ada berbagai model pembiayaan, misalnya tanggung jawab dan sumber biaya pendidikan ditanggung secara bersamasama oleh pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan dan berkelanjutan.
2.2.7. Pengukuran Pembiayaan Pendidikan
Keterkaitan antara kinerja manajemen dengan kewajaran biaya yang dibebankan kepada peserta didik, didasarkan padasuatu dugaan sementara, bahwa mutu penyelenggaraan pendidikan memiliki hubungan timbal balik dengan kewajaran biaya pendidikan yang dibebankan kepada peserta didik.
a. Pembebanan biaya dan perhitungan biaya harus dilakukan secara cermat dan hati-hati, karena biaya merupakan faktor penting dalam memenangkan persaingan. Peserta didik akan memilih sekolah yang mampu menghasilkan layanan akademik yang memiliki mutu tinggi dengan harga yang termurah. Harga murah hanya dapat dihasilkan oleh sekolah yang secara terus menerus melakukan perbaikan terhadap aktivitas-penambah nilai (value-added activities), dan yang senantiasa berusaha menghilangkan aktivitas-bukan penambah nilai (non-value- added activities). Dengan demikian, cost effectiveness menjadi salah satu faktor untuk memenangkan persaingan jangka panjang
b. Kemudian Identifikasi Sumber Dana, Sekolah harus mampu menghasilkan layanan akademik yang bermutu dengan harga yang
23 rendah untuk dapat tetap bertahan di pasar. Sekolah berlomba untuk menghasilkan layanan akademik yang bermutu dengan harga yang rendah dengan berpedoman bahwa pesera didik hanya dibebani dengan biaya-biaya untuk aktivitaspenambah nilai (value-added activities).
Dengan demikian dalam persaingan yang semakin tajam, manajemen memerlukan informasi biaya yang teliti, yang memperhitungan secara cermat sumber dana (resources) yang dikorbankan untuk aktivitas penambah nilai bagi peserta didik. Sumber dana ini dapat berasal dari modal sendiri, dana pihak ketiga, dan dari masyarakat.
c. Selanjutnya Struktur Pentaripan. Dengan semakin mudahnya peserta didik memperoleh informasi mengenai mutu, harga, dan peringkat akreditasi, maka peserta didik hanya memilih sekolah yang mampu memberikan layanan akademik yang sesuai dengan kebutuhannya, dengan harga yang terendah diantara harga berbagai yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah. Keadaan ini memaksa para penyelenggara pendidikan hanya membebani peserta didik dengan harga yang benar- benar wajar. Dalam situasi seperti ini, struktur pentaripan harus ditentukan berdasarkan biaya penuh layanan akademik yang dihitung secara cermat.
Biaya yang Dibebankan kepada Peserta didik. Titik berat strategi untuk memenangkan persaingan yaitu pada usaha-usaha untuk menghilangkan non-value added activities. Non-value added activities merupakan aktivitas yang tidak seharusnya menjadi beban peserta didik, sehingga seharusnya dihilangkan dari proses/aktivitas. Dengan demikian, manajemen memerlukan informasi biaya penuh yang dikaitkan dengan berbagai aktivitas untuk mempertahankan dan memperbaiki mutu layanan agar sesuai dengan mutu yang diharapkan oleh peserta didik sebagai pemakai layanan.
d. Mutu Penyelenggaraan. Agar peserta didik terjamin hanya akan dibebani dengan biaya yang wajar, maka penyelenggara pendidikan harus senantiasa melakukan penyempurnaan aktivitas secara berkesinambungan (continual improvement) yang digunakan untuk menghasilkan layanan pendidikan. Pengumpulan informasi biaya penuh masa lalu ditujukan untuk memberikan kemudahan dalam menghilangkan berbagai pemborosan yang terjadi dalam aktivitas untuk menghasilkan layanan pendidikan. Ukuran mutu yang digunakan ditetapkan berdasarkan empat perspektif, yaitu kualitas dan kapabilitas personal, kualitas proses penyelenggaraan, layanan kepada mahasiswa, dan kinerja keuangan.
24 e. Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu ekonomis, efisiensi, dan efektifitas (Lailiana, 2013).
1) Rasio Ekonomi.
Rasio ini menggambarkan kehematan dalam penggunaan anggaran dan kecermatan dalam pengelolaan serta menghindari pemborosan.
Kegiatan operasional dikatakan ekonomis jika dapat mengurangi biaya- biaya yang tidak perlu (Darmiyati & Purwanto, 2013; Pramadhany, 2011;
Iswari, 2011).
Rasio Ekonomi = Total Belanja dibagi Anggaran yang ditetapkan 100%
2) Rasio Efisiensi.
Rasio ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang digunakan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan (Pramadhany, 2011; Anonim, 1996).
Rasio Efisiensi = Total Belanja dibagi Total Realisasi Pendapatan 100%
3) Rasio Efektivitas.
Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan (Lailiana, 2013).
Rasio Efektivitas = Total Realisasi Pendapatan Target Pendapatan 100%
25 2.3 PPBS (Planning, Programming, and Budgeting System)
Terdapat pendekatan dalam penyusunan anggaran yaitu: 1) Pendekatan tradisional (line-item/object of expenditure budget). Pendekatan ini menampilkan anggaran dalam prespektif sifat dasar (nature) dari sebuah pengeluaran atau belanja. Pendekatan tradisional ini tidak memiliki tolok ukur; 2) Pendekatan kinerja, yaitu memiliki proses untuk mengklasifikasikan anggaran berdasarkan kegiatan dan unit organisasi tanpa meninggalkan rincian belanja. Anggaran yang telah terkelompokkan dalam kegiatan- kegiatan akan memudahkan bagi pihak yang berkepentingan melakukan pengukuran kinerja dengan indikator yang telah dibuatnya terlebih dahulu;
3) Pendekatan anggaran berbasis nol (Zero Based Budgeting–ZBB).
Pendekatan tersebut menghendaki setiap aktivitas atau program yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya tidak secara otomatis dapat dilanjutkan.
Setiap aktivitas harus dievaluasi setiap tahun untuk menentukan apakah aktivitas itu akan diadakan tahun ini dengan melihat konstribusi yang diberikan kepada tujuan organisasi; 4) Pendekatan sistem perencanaan dan penganggaran terpadu (Planning Programming and Budgeting System–PPBS). Pendekatan tersebut memandang bahwa penyusunan anggaran bukanlah proses terpisah dan berdiri sendiri, melainkan sebuah bagian yang tidak terpisah dari proses perencanaan dan perumusan program kegiatan (Nordiawan dkk., 2007).
2.3.1. Pengertian Sistem PPBS
Salah satu model perencanaan pendidikan adalah Model PPBS (Planning, Programming, Budgeting, System). Model perencanaan pendidikan PPBS (Planning, Programming, Budgeting, System) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan SP4 (sistem perencanaan, penyusunan program dan penganggaran). Menurut Mc.
Ashan PPBS (Planning, Programming, Budgeting, System) adalah suatu
26 pengorganisasian yang sistematis, analitis dan informasi keuangan yang terintegrasi ke dalam semua program yang direncanakan, diimplementasikan, dan dievaluasi untuk menolong melakukan alokasi sumber pendidikan termasuk pembiayaan. Kast dan Rosenzweig mengemukakan bahwa PPBS merupakan suatu pendekatan yang sistematik yang berusaha untuk menetapkan tujuan, mengembangkan program-program untuk dicapai, menemukan besarnya biaya dan alternatif dan menggunakan proses penganggaran yang merefleksikan kegiatan program jangka panjang
Planning programing budgeting system (PPBS) merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada teori sistem yang berorientasi pada output dan tujuan dengan penekanan utamanya adalah alokasi sumberdaya berdasarkan analisis ekonomi. Sistem anggaran PPBS tidak mendasarkan pada struktur organisasi tradisional yang terdiri dari divisi- divisi, namun berdasarkan program, yaitu pengelompokkan aktivitas untuk mencapai tujuan tertentu. PPBS adalah salah satu program penganggaran yang ditujukan untuk membantu manajemen pemerintahan di dalam membuat keputusan alokasi sumberdaya secara lebih baik. Hal tersebut disebabkan oleh sumberdaya yang dimiliki pemerintah yang terbatas jumlahnya, sementara tuntutan masyarakat sangat banyak bahkan tidak terbatas jumlahnya. Dalam keadaan seperti itu, pemerintah dihadapkan pada pilihan alternatif keputusan yang memberikan manfaat paling besar dalam pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan. PPBS memberikan rerangka untuk membuat pilihan tersebut
Perencanaan pembiayaan berbasis PPBS (Planning, Programming, Budgeting System) merupakan salah satu wujud aktivitas manajemen.
Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan dengan menggunakan sumber manusia dan sumber lain (Terry, 2013). Manajemen itu adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian dan pengarahan serta pengawasan dalam mengorganisasi anggota dan mempergunakan seluruh sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan ecara efektif dan efisien. Manajemen dapat juga dipahami sebagai proses kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan- tujuan yang telah ditentukan.
27 2.3.2. Tahapan Sistem PPBS
Berdasarkan uraian pendekatan di atas, pada dasarnya manajemen memiliki proses cara mencapai tujuan sehingga setiap kegiatan harus direncanakan, ditentukan waktunya, serta berapa besar dana yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Pendekatan dan model perencanaan dan penganggaran terpadu (baik aktivitas yang dilakukan secara global ataupun pada unit terkecil) dapat dibuat tahapan PPBS sebagai berikut:
Tahapan PPBS (Planning, Programming, Budgeting System) jika dilakukan penganalisaan akan memiliki manfaat dalam manajemen pembiayaan yaitu meningkatnya efektifitas dan efisiensi penggunaan dana, meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, serta dapat meminimalisasi penyalahgunaan dana. Jika di dalam praktik pengelolaan dana atau memanajemen pembiayaan yang dilakukan minimal sesuai dengan format sesuai dengan tahapan PPBS (Planning, Programming, Budgeting System).
Adapun langkah yang dapat dilakukan dalam perencanaan pembiayaan adalah menganalisis kebutuhan, merencanakan pembiayaan, dan mengatur struktur finansial. Menganalisa kebutuhan dapat dilakukan
28 melalui identifikasi masalah atau kebutuhan yang terjadi pada jangka waktu pendek ataupun jangka waktu panjang. Berdasarkan kebutuhan tersebut diperhitungkan anggaran dana yang akan dibelanjakan, sehingga muncul perencanaan cara memperoleh dana dan waktu belanja atau penggunaan dana. Perencanaan memperoleh dan membelanjakan dana disebut sebagai pengaturan struktur finansial. Langkah ini dapat dirinci sebagai berikut:
1) Membedakan kebutuhan dan keinginan. Produk yang dibeli belum tentu merupakan kebutuhan tetapi hanya sekedar keinginan. Dalam format tahapan PPBS (Planning, Programming, Budgeting System) yang diperbolehkan masuk dalam kelompok perencanaan adalah kegiatan atau produk yang benar-benar dibutuhkan. Sehingga pos pendanaan akan sesuai dengan pos yang sebenarnya.
2) Mengelompokkan pengeluaran. Pengeluaran yang akan didanai harus dikelompokkan pada jangka waktu pendek atau jangka waktu panjang.
3) Membatasi pengeluaran, ditentukan terlebih dahulu dalam bentuk besaran anggaran setiap kegiatan, dengan demikian akan sesuai pada pos yang sebenarnya.
4) Mencatat pengeluaran yang sudah dilakukan.
5) Menabung. Dalam hal ini jika anggaran lebih besar dari pada realisasinya, maka sisa anggaran ini dapat dikategorikan dalam tabungan.
Namun seyogyanya untuk menabung harus diambilkan terlebih dahulu dari sebagian dana yang dimiliki sebelum dianggarkan pada kegiatan atau sebelum perencanaan dibuat.
6) Menghindari hutang, caranya adalah harus bijak dalam menggunakan uang.
7) Mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat, misalnya nongkrong ataupun ngrumpi. Kecuali kegiatan ini diisi dengan kegiatan berwirausaha, sekalian nongkrong atau ngrumpi.
8) Berwirausaha, dilakukan untuk mencari tambahan dana.
9) Berpuasa yang dalam manajemen pembiayaan ini mohon tidak diniatkan untuk mengurangi pengeluaran, tetapi berpuasa semata-mata untuk mencari ridho dan pahala dari Alloh Swt
(Syamsuddin, 2004). Llkkk
29 2.3.3. Karakteristik Sistem PPBS
Pendekatan Sistem PPBS Memiliki beberapa karakteristik, karakteristik tersebut antara lain :
1) Berfokus pada tujuan dan aktivitas (program) untuk mencapai tujuan.
2) Secara eksplisit menjelaskan implikasi terhadap tahun anggaran yang akan datang, karena PPBS berorientasi pada masa depan.
3) Mempertimbangkan semua biaya yang terjadi.
4) Dilakukan analisis secara sistematis atas berbagai alternatif program, yang meliputi: (a) identifikasi tujuan, (b) identifikasi secara sistematik alternatif program untuk mencapai tujuan, (c) estimasi biaya total dari masing-masing alternatif program, (d) estimasi manfaat (hasil) yang ingin diperoleh dari masing-masing alternatif program.
Pendekatan sistem perencanaan dan penganggaran terpadu PPBS (Planning, Programming, Budgeting System) memandang bahwa penyusunan anggaran bukanlah proses terpisah dan berdiri sendiri, melainkan sebuah bagian yang tidak terpisah dari proses perencanaan dan perumusan program kegiatan. Berdasarkan model dan pendekatan PPBS (Planning, Programming, Budgeting System) pada dasarnya di dalam manajemen telah terproses tentang apa yang akan menjadi tujuan sehingga setiap kegiatan harus direncanakan, ditentukan waktunya, hingga berapa besar dana yang dibutuhkan untuk melaksanakannya.
Dengan pendekatan dan model perencanaan dan penganggaran terpadu (baik aktivitas yang dilakukan secara global ataupun pada unit terkecil) (Astuty, 2016).
2.3.4. Keunggulan dan Kelemahan Sistem PPBS
➢ Keunggulan PPBS
Setiap model perencanaan pembiayaan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan model pembiayaan berbasis PPBS (Planning, Programming, Budgeting System) adalah
1) Memudahkan dalam pendelegasian tanggung jawab dari manajemen puncak ke manajemen menengah.
2) Memperbaiki kualitas pelayanan melalui pendekatan sadar biaya (cost-consciousness/cost awareness) dalam perencanaan program.
3) Menitikberatkan pemanfaatan biaya secermat mungkin untuk mendapatkan hasil pendidikan yang seoptimal mungkin, baik secara
30 kuantitatif maupun kualitatif. Pendidikan ini hanya diadakan jika memberikan keuntungan yang relatif pasti, baik bagi penyelenggara maupun peserta didik.
4) Menggambarkan tujuan organisasi yang lebih nyata dan membantu pimpinan di dalam membuat keputusan yang menyangkut usaha pencapaian tujuan.
5) Menghindarkan adanya pertentangan dan overlaping program dan mewujudkan sinkronisasi dan integrasi antar aparat organisasi dalam proses perencanaan.
6) Alokasi sumberdaya yang lebih efisien dan efektif berdasarkan analisis manfaat dan biaya untuk mencapai tujuan, karena PPBS menggunakan teori marginal utility.
7) Dalam jangka panjang dapat mengurangi beban kerja.
8) Lintas departemen, sehingga dapat meningkatkan komunikasi, koordinasi dan tentunya adalah kerja sama yang baik antara departemen.
➢ Kelemahan PPBS
1) PPBS membutuhkan sistem informasi yang canggih, ketersediaan data, adanya sistem pengukuran dan staf yang memiliki kapabilitas tinggi.
2) Implementasi PPBS membutuhkan biaya yang besar, karena PPBS membutuhkan teknologi yang canggih.
3) PPBS hanya bagus secara teori, namun peng implementasian nya cukup sulit.
4) PPBS mengabaikan realitas politik dan realitas organisasi sebagai kumpulan manusia yang kompleks.
5) Memerlukan pengelola yang ahli dan memiliki kualitas tinggi.
6) Pengaplikasian PPBS menghadapi masalah teknis. Hal ini terkait dengan sifat program atau kegiatan yang lintas departemen, sehingga menyulitkan di dalam mengalokasikan biaya. Sementara itu, sistem akuntansi dibuat berdasarkan departemen, bukan program.
7) PPBS merupakan teknik anggaran yang statistically oriented.
Penggunaan statistik terkadang kurang tajam untuk mengukur efektivitas program. Statististik hanya tepat untuk mengukur beberapa program tertentu saja.
8) Pengelolaan dana pendidikan terutama di negara berkembang masih sangat lemah (Aisyah, 2018).
31 2.3.5. Sifat-sifat Esensial Sistem PBBS
Sifat-sifat esensial PPBS (Planning, Programming, Budgeting System) yakni: (1) memerinci secara cermat dan menganalisis secara sistematik terhadap tujuan yang hendak dicapai; (2) mencari alternatif-alternatif yang relevan, serta cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan; (3) menggambarkan biaya total dari setiap alternatif, baik langsung atau pun tidak langsung, biaya yang telah lewat atau pun biaya yang akan datang, baik biaya yang berupa uang maupun biaya yang tidak berupa uang; (4) memberikan gambaran tentang efektifitas setiap alternatif dan bagaimana alternatif itu mencapai tujuan; dan (5) membandingkan dan menganalisis alternatif tersebut, yaitu mencari kombinasi yang memberikan efektivitas yang paling besar dari sumber yang ada dalam pencapaian tujuan (Priyanto, 2011).
2.3.6. Konsepsi Pokok Sistem PPBS
Ada beberapa konsep daripada PPBS, yang meliputi beberapa hal.
Antara lain:
1) Tujuan; Menjadi pengarah pada hasil yang akan diperoleh ataupun pelayanan dan jasa-jasa yang akan diberikan.
2) Alternatif Cara; Menyajikan pilihan dari serangkaian cara ataupun tindakan.
3) Hasil Guna; Berkaitan dengan pengukuran atas tingkat keberhasilan tindakan dalam rangka pencapaian tujuan.
4) Dimensi Waktu; Memperkiran perspektif secara tahunan dalam mempertimbangkan akibat dari tuntutan yang diproyeksi pada masa mendatang.
5) Prioritas; Berkaitan dengan penentuan atas tindakan yang diutamakan, akan diambil kriteria pilihan tertentu.
6) Pengendalian atau Pengawasan; Pengendalian atau pengawasan ke tata laksanaan yang terintegrasi berkaitan dengan sistem pelaporan dan aliran balik informasi.
7) Dayaguna; Berkaitan dengan pengukuran atas tingkat hasilnya tindakan pencapaian tujuan, jika tujuan dan tindakan itu dapat dinyatakan dan dinilai secara kuantitatif.
32 2.3.7. Komponen Pokok Sistem PPBS
Selain konsepsi, di PPBS juga terdapat beberapa komponen pokok yang perlu kita ketahui, antara lain:
1) Analisis.
Merupakan komponen utama PPBS. Analisis ini begitu penting, karena tanpa adanya analisis terlebih dahulu maka perencanaan dan pelaksanaan akan dirasa akan sia-sia. Sebab yang terjadi nantinya akan bertolak belakang dengan yang diharapkan.
2) Program.
Merupakan komponen dasar penyusunan program, menunjukkan penyatuan kegiatan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu atau serangkaian tujuan tertentu.
3) Struktur Program.
Merupakan suatu sistem untuk mengelompokkan kegiatan pemerintah dalam tingkatan hubungan yang berorientasi pada tujuan tanpa memperhatikan lokasi organisasi dari kegiatan itu.
4) Bentuk Anggaran.
Dalam PPBS, penyajian anggaran adalah bentuk program yang didasarkan perhitungan untuk jangka beberapa tahun mendatang.
5) Rencana Tindakan.
Dibagian ini, penterjemahan anggaran ke dalam bentuk program, di dalam artian siapa yang berbuat apa, bilamana, dimana dan dengan sumber apa saja. Setiap tujuan program perlu diselaraskan dengan tujuan organisasi.
6) Sistem Informasi.
Mekanisme feedback dapat diinterpretasi sebagai penyampaian informasi tentang akibat dari keputusan, sehingga dapat diambil tindakan setelah dilakukan evaluasi keputusan yang ada.
2.3.8. Perangkat Operasional Sistem PPBS
Secara rinci, perangkat operasional adalah sebagai berikut:
1) Masalah Program Utama.
Setiap permasalahan organisasi biasanya diputuskan dalam perspektif anggaran, seperti implikasi dalam besaran biaya, arah rincian program,
33 dan pilihan kebijakan sekarang maupun dimasa mendatang. Gambaran perumusan permasalahan program utama adalah identifikasi alternatif pelaksanaan, biaya serta manfaat yang ada hubungannya dengan pertimbangan legislatif maupun pertimbangan kapasitas sumberdaya.
2) Struktur Program.
Struktur program PPBS merupakan alat penurunan tujuan kegiatan, melalui kategorisasi berbagai kegiatan tersebut kedalam program.
Struktur program PPBS dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
3) Kategori Program (Sektor).
Struktur program disusun berdasarkan kerangka dasar yang diinspirasi dengan pemecahan masalah utama. Struktur ini terdiri dari tujuan atau sasaran dan skala operasi yang dikembangkan dalam berbagai tingkat ke tatalaksanaan atau administrasi.
4) Sub Kategorisasi Program.
Rincian program dalam sektor dan elemen program yang menghasilkan output yang serupa.
5) Elemen Program (Proyek).
Rincian kegiatan departemen atau lembaga yang secara langsung dihubungkan dalam output atau sekelompok output yang saling terkait.
2.3.9. Faktor yang Mempengaruhi Perencanaan Sistem PPBS
Adapun faktor-faktor yang ditekankan oleh para perencana pendidikan dalam perencanaan pendidikan menggunakan model PPBS adalah sebagai berikut:
a. Berorientasi kepada output atau efektivitas. Usaha utama penyusunan budget terarah kepada pencapaian tujuan program. Dana dialokasikan sedemikian rupa dengan memperhitungkan hubungannya dengan sumber-sumber yang lain yang secara bersama menyelesaikan tugas secara efektif.
b. Dana dialokasikan kepada setiap program yang akan dikerjakan yang telah disusun secara analistis dan sistematis. Program utama atau proyek atau seluruh kegiatan dianalisis dahulu secara sistematis untuk mendapatkan program-program yang spesifik. Baru kemudian
dialokasikan kepada program-program ini dengan mempertimbangkan
34 kebutuhan, prioritas dan kaitan antar program sendiri. Di sini pemetaan dan analisa kebutuhan pengembangan menjadi hal yang penting.
c. Pembiayaan bersifat terencana dan terintegrasi. Unsur pembiayaan masuk dalam analisis sistem menjadi satu dengan analisis program dan analisis sistem menjadi satu dengan analisis alat dan metode.
d. Alokasi dana diatur/disusun atas dasar realita. Alokasi dana tidak boleh dilakukan atas dasar angan-angan pribadi atau kelompok orang, belaka atau atas dasar pemerataan. Melainkan harus dilakukan atas dasar kebutuhan nyata dan skala prioritas. Misalkan alokasi anggaran yang diajukan masing-masing sub kegiatan ekstra kurikuler di sekolah yang disodorkan masing-masing sub unit atau kelompok kerja (Pokja) kurang memenuhi sasaran. Sering terjadi mark up dan ketika dana diturunkan tidak termanfaatkan dengan baik.
e. Pengalokasian dana dibuat sedemikian