• Tidak ada hasil yang ditemukan

QOWAID TAFSIR TENTANG MANTUQ DAN MAFHUM

N/A
N/A
Nur Aini. My

Academic year: 2023

Membagikan "QOWAID TAFSIR TENTANG MANTUQ DAN MAFHUM"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

“QOWAID TAFSIR TENTANG MANTUQ DAN MAFHUM”

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Pada Mata Kuliah Ushul Tafsir Wa Qawaiduhu II

UIN SUSKA RIAU

Oleh :

Minta Vania (12030215719) Nur Aini (12030225549) Yuda Putra Pratama (12030216009)

Dosen Pengampu :

Ustadz Fikri Mahmud., Lc. MA.

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

2023

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan kami kemudahan untuk dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Qowaid Tafsir Tentang Mantuq Dan Mafhum”

ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Shalawat beriring salam tidak lupa pula kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua selalu mendapat syafa’at dan dalam lindungan Allah SWT.

Kehadiran karya ilmiah ini di tengah-tengah masyarakat pembaca sangat berarti, karena makalah mengenai Qowaid Tafsir Tentang Mantuq Dan Mafhum yang telah disusun oleh Penulis secara ilmiah sebagai tugas kelompok secara referensi melalui kitab-kitab tafsir, buku, skripsi, artikel, jurnal dan beberapa sumber internet lainnya yang dibimbing oleh yang terhormat Ustadz Fikri Mahmud Lc. MA.

Perlu diketahui bahwa penyusunan makalah ini, pada hakekatnya, sebagai salah satu usaha sungguh-sungguh yang dilakukan oleh penulis.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, motivasi, dan berbagai kemudahan lainnya selama proses belajar ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun guna hasil yang lebih baik.

Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembacanya dan dapat menjadi salah satu amal jariah bagi Penulis. Aamiin !

Pekanbaru, 12 Desember 2023

Kelompok 9.

(3)

ii DAFTAR ISI

Isi Halaman

HALAMAN JUDUL ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 2 C. Tujuan Penulisan ... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Penjelasan Mantuq Dan Pembagiannya ... 3 B. Penjelasan Mafhum Dan Pembagiannya ... 9

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 18 B. Saran ... 18

DAFTAR PUSTAKA

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Salah satu alat atau ilmu yang digunakan untuk menetapkan hukum Islam atau syariah Islam adalah ushul fiqih karena kajian ushul fiqih sangat kaitannya dengan Al- Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Di mana keduanya merupakan sumber hukum inti syariah Islamiyyah yang dijadikan sebagai hujjah yang diproses oleh kaidah-kaidah ushuliyah dalam menelurkan hukum-hukum syariah. Karena pada dasarnya setiap pengambilan hukum (istinbath) dalam syariat Islam harus berpijak atas al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Terdapat dua pendekatan cara penggalian hukum (thuquq al-istinbath) dari nash.

Pertama, pendekatan makna (thuruq ma’nawiyah), yaitu istidlal (penarikan kesimpulan hukum bukan kepada nash langsung seperti menggunakan qiyas, istihsan, mashalih mursalah, dzara’i dan lain sebagainya.

Kedua, pendekatan lafadh (thuruq lafziyah) yaitu penerapannya membutuhkan beberapa faktor pendukung yang sangat dibutuhkan yaitu penguasaan terhadap ma’na dan lafadhlafadh nash. Karena itu di antara persoalan pokok dalam ushul fiqih adalah persoalan yang berkaitan dengan lafadh, khususnya dalam kaitannya dengan makna lafadh tersebut, baik lafadh itu berdiri sendiri dalam sebuah mufrodat (kosakata) maupun telah terangkai (tarkib) dalam susunan kalimat. Cara kerja para ushuli dalam istinbath hukum ini biasanya dilakukan melalui pengamatan dan induksi (istiqra’) sehingga kesimpulan yang mereka rumuskan (natijah) dapat dijadikan patokan untuk menetapkan hukum.1

Berdasarkan uraian singkat di atas, maka penulis rasa perlu untuk membahas Mantuq dan Mafhum yang mana keduanya berhubungan dengan penetapan hukum yang tergali dari teks-teks Al-Qur’an maupun sunnah Nabi.

1 Ahmad Atabik, “Peranan Manthuq Dan Mafhum Dalam Menetapkan Hukum Dari Alqur’an Dan Sunnah”. Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam. Volume 6 No. 1. (Kudus: IAIN Kudus, 2019), hlm 98.

(5)

2 B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut:

1. Bagaimana penjelasan mantuq dalam qawaid tafsir serta apa saja pembagian dan contohnya?

2. Bagaimana penjelasan mafhum dalam qawaid tafsir serta apa saja pembagian dan contohnya?

C. TUJUAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sebagai barikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana penjelasan mantuq dalam qawaid tafsir serta apa saja pembagian dan contohnya.

2. Untuk mengetahui bagaimana penjelasan manfhum dalam qawaid tafsir serta apa saja pembagian dan contohnya.

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

A. MANTUQ

1. Pengertian Mantuq

Mantuq secara bahasa bermakna: berkata, berucap, bertutur berbicara dan sebagainya. Sedangkan mantuq secara istilah ushul diartikan sebagai: makna yang ditunjukkan oleh sebuah kata pada waktu kata itu diucapkan atau kata yang diperoleh dari penjelasan kata.

Maksudnya, dalalah mantuq adalah makna yang dipahami oleh kata itu sendiri ketika kata tersebut disampaikan, baik melalui lisan atau tulisan.

Kalau berupa ayat Al-Qur’an adalah makna yang langsung dipahami melalui teks ayat itu sendiri, begitupun jika di dalam hadis Nabi maka hadis tersebut langsung dipahami melalui matannya.2

2. Kaidah-Kaidah Tafsir Tentang Mantuq Kaidah pertama:

اَذِإ

ََبَّتَر

َ عِراَّشلا

ََمحك حلْا ىَلَع

َِفحصَو

َ بِساَن م

ََّنِإَف

ََكِلَذ

َ ل دَي ىَلَع

ََّنَأ

َ هَتحو ب ث

َِهِلحجَِلِ

Artinya: : "Apabila yang menurunkan syariat ini (Allah SWT) mengiringkan penyebutan hukum dengan sifat yang relevan, maka sesungguhnya yang demikian menunjukkan bahwa hukum itu ditetapkan karena sifat tersebut.

Kaidah kedua:

َِهِصحقَ نِبَ ص قح نَ يَوَِهِتَّو قِبَىَوحقَ يَ ِفحصَوَىَلَعَ قَّلَع محلاَ محك حلْا

22 Fikri Mahmud. Qawa’id Tafsir (Kaidah-Kaidah Menafsirkan Al-Qur’an). (Pekanbaru: Azka Pustaka, 2021), hlm. 177-178.

(7)

Artinya: "Sebuah hukum yang tergantung dengan satu sifat maka ia akan bertambah kuat dengan kuatnya sifat itu dan akan berkurang dengan berkurangnya sifat tersebut."

3. Contoh Ayat Al-Qur’an Yang Mantuq

Terdapat dalam Q. S. Al-Baqarah ayat 257, khususnya pada ayat yang bercetak tebal berikut ini:

َ ِ سَم ۡلٱَ َنِمَ نَٰط ۡيَّشلٱَ ه طَّبَخَتَ يَيِذَّلٱَ مو قَ يَاَمَكَ َّلَِإََنو مو قَ يَ َلََحاٰوَ بِ رلٱََنو ل ك ۡ

َيَََنيِذَّلٱ

َ َكِلَٰذَ

ََ ْۗ

حاٰوَ بِ رلٱَ ل ۡثِمَ عۡيَ بۡلٱَاََّنَِّإَحآو لاَقَۡم َّنََِّبِ

حاٰوَ بِ رلٱََمَّرَحَوََعۡيَ ب َ ۡلٱَ َّللَّٱََّلَحَأَو ةَظِعۡوَمَۥ هَءٓاَجَنَمَف َ

َ ٞ

َنِ م

َۡصَأَ َكِئَٰٓلحو أَفََداَعَ ۡنَمَوََِِّۖللَّٱَ َلَِإَ ٓۥ ه رۡمَأَوََفَلَسَاَمَۥ هَلَ فَٰىَهَ تنٱَفَۦِهِ بَّر

َاَهيِفَۡم هَ ِِۖراَّنلٱَ بَٰح

َََنو دِلَٰخ ٢٧٥

َ

Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;

mereka kekal di dalamnya.

Contoh lainnya juga terdapat dalam hadis Rasulullah, Nabi memegang kain sutera di tangan kirinya dan menggenggam emas di

(8)

tangan kanannya kemudian beliau bersabda, Hadis No. 3595 berikut ini:3

ََّنِإ

َِنحيَزَه

َ ماَرَح ىَلَع

َِرو ك ذ

، ِتَِّم أ

َ لِح

َحمِهِثَنَِِلِ

Artinya: Sesungguhnya dua barang ini haram memakainya bagi kaum laki-laki dari ummatku dan halal bagi kaum perempuannya.

4. Jenis-jenis Mantuq

Para ulama’ membagi mantuq menjadi beberapa kategori berikut ini:

a. Berdasarkan kepada kejelasan makna kata yang terdapat dalam teks atau yang diucapkan itu. Maka mantuq terbagi kepada (nash, zhahir, mu’awwal, mujmal dam mubayyan atau mufassar).

b. Berdasarkan kepada keragaman penggunaan kata yang terdapat dalam teks atau yang diucapkan itu. Maka mantuq terbagi menjadi dua macam, yaitu Sharih atau eksplisit dan Ghairu Sharih atau implisit.

1. Sharih

Yaitu menyampaikan denganterus terang, mengucapkan dengan tegas dan jelas, secara langsung dan sebagainya. (makna objektif yang sesuai dengan tujuan penggunaa kata itu sendiri).

Dengan kata lain mantuq yang sharih adalah perkataan atau ayat yang mengandung makna denotatif atau eksplisit sesuai dengan apa adanya atau pengertian yang dikandung secara objektif).

Indikasi makna atau dalalah yang terdapat dalam mantuq sharih tersebut ada dua macam, yakni:

a. Dalalah Al-Mutabaqah (makna sebuah kata secara sempurna terhadap objek yang ditujukan baginya tersebut.

3 Fikri Mahmud. Qawa’id Tafsir (Kaidah-Kaidah Menafsirkan Al-Qur’an), Hlm. 178. Dikutip Dari Muhammad Bin Yazid Al-Qazwaini Ibn Majah, Sunan Ibnu Majah, Ed. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi (Beirut: Dar Al-Fikr) Halaman 1189, Hadis No. 3595.

(9)

Contohnya shiyam atau berpuasa dalam Q.S. Al- Baqarah ayat 183:

ََحاو نَماَءََنيِذَّلٱَاَه يََٰٓيَ

َ ماَيِ صلٱَ م كۡيَلَعََبِت ك

َنِمََنيِذَّلٱَىَلَعََبِت كَاَمَك ََ

َََنو قَّ تَ تَۡم كَّلَعَلَۡم كِلۡبَ ق ١٨٣

َ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Ayat ini secara mutabaqah memerintahkan agar melaksanakan puasa dengan sempurna, menunjuk kepada semua aspek di dalamnya, mulai dari menahan diri dari mkan dan minum, ucapan, mata dan lainnya yang dapat merusak ibadah puasa. Jadi dinamai makna di atas bila relasi antar maknanya dengan makna refensialnya bersifat konsisten atau selaras.

b. Dalalah Tadhammum, (indikasi sebuah kata terhadap sebagian dari maknanya)

Contohnya dalam Q.S. Maryam ayat 26:

َِل كَف

َ ۡيَعَيِ رَ قَوَ ِبَِر ۡشٱَوَي دَحَأَِرَشَب ۡلٱَ َنِمََّنِيَرَ تَاَّمِإَفَ ِۖا ٞ

َ ِ نِّإَِٓلِو قَ فَا ٞ

َم ۡوَصَِنَٰ ۡحَّرلِلَ تۡرَذَن

َ يِسنِإََمۡوَ ي ۡلٱَ َمِ لَك أَ ۡنَلَ فَا ٞ

ََا ٞ ٢٦

َ

Artinya: maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

Bukanlah bermaksud puasa yang dikehendaki pada Q.S. Al-Baqarah ayat 183, karena awal ayat tersebut

(10)

dengan jelas disebutkan makan dan minum tetapi hanyalah “menahan diri untuk tidak berbicara”.

2. Ghairu Sharih

Yaitu indikasi makna yang ditunjukkan oleh sebuah kata kepada suatu hukum secara kohern, karena kata itu ada kaitannya dengan makna tersebut.. dengan kata lain dalalah mantuq gairu sharih adalah makna implisit dari sebuah teks atau ayat , bukanlah makna literal dari teks itu sendiri tetapi makna lain yang koheren, yang ada pertaliannya dengan kata tersebut.

Para ulama membagi menjadi tiga macam antara lain:

a. Dalalah al-Iqtidha (makna implisit yang diperlukan sebuah kalam untuk menentukan kebenarannya atau keabsahannyan, baik menurul aqli maupun syar’i).

Contohnya dalam Q. S. Al-Baqarah ayat 184:

مَّيََّأ تَٰدو دۡعَّمَا ٞ

ََ ۚ ٞ

َرَفَسَٰىَلَعَ ۡوَأَاًضيِرَّمَم كنِمََناَكَنَمَف

ََ ٖ ةَّدِعَف

ََ ٖ

ََأَ ۡنِ م

َ َرَخ أَ مَّيَّ

ةَي ۡدِفَۥ هَنو قيِط يََنيِذَّلٱَىَلَعَو ََ

ََ ٞ

َيِك ۡسِمَ ماَعَط

َنَمَفَ ِۖۚ ٞ

َۡيَخََعَّوَطَت

َۡيَخََو هَ فَا ٞ

ََ ٞ

َۡيَخَحاو مو صَتَنَأَوَ ۥ هَّل

ََ ٞ

َََنو مَلۡعَ تَۡم تن كَنِإَۡم كَّل

١٨٤

َ

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan

(11)

kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bila makna tekstualnya kita pakai, maka menimbulkan pemahaman hukum yang rancu, mengapa ia harus menggantu puasanya pada hari lain, maka diselipkan makna implisit kedalam ayat tersebyt, yaitu (lalu ia berbuka) sehingga maknanya “ barangsiapa di antara kamu sakit atau musafir lalu ia berbuka maka hendaklah ia mengganti puasanya pada hari lain”

b. Dalalah al-Isyarah (makna yang melekat dengan sebuah kalimatyang bukan dimaksudkan oleh kalimat itu untuk menjelaskannya).

Contohnya Q. S. Al-Imran ayat 159:

ةَۡحَرَاَمِبَف

ََ ٞ

ََظيِلَغَاًّظَفََتن كَ ۡوَلَوَ ِۖۡم َلَََتنِلََِّللَّٱََنِ م

َ ۡنِمَحاو ضَفنٱَلَ ِبۡلَقۡلٱ ََ

م َلََ ۡرِفۡغَ ت ۡسٱَوَۡم ه ۡ نَعَ فۡعٱَفَ َِۖكِلۡوَح

َِِۖر ۡمَ ۡلِٱَ ِفَِ ۡم هۡرِواَشَوَ ۡۚ

َ ۡلَّكَوَ تَ فََتۡمَزَعَاَذِإَف ََ

َََيِلِ كَوَ ت م ۡلٱَ بِ يَََُّللَّٱََّنِإَ َِّللَّٱَىَلَع ١٥٩

َ

Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

(12)

Ayat ini memerintahkan agar bermusyawarah. Tetapi pada masa yang sama ayat ini juga mengandung isyarat bahwa wajib membentuk kelompok atau lembaga musyah yang akan membincangkan persoalan ummat.

c. Dalalah al-Ijma (memahami Illat (sebab atau alasan) melalui penyebutan suatu hukum beriringan dengan sifat yang relevan).

Contohnya Q.S. an-Nur ayat 2:

دِحَٰوََّل كَحاو دِلۡجٱَفَ ِنّاَّزلٱَوَ ةَيِناَّزلٱ

َ ٞ

ََم ه ۡ نِ م ةَد ۡلَجََةَئحاِمَا

َاَمِِبَِم كۡذ خَۡتََ َلََوَِۖۚ ٞ

ةَف ۡ أَر

ََ ٞ

َاَم َبِاَذَعَ ۡدَهۡشَيۡلَوَِِۖرِخٓۡلِٱَِمۡوَ يۡلٱَوََِّللَّٱِبََنو نِمۡؤ تَۡم تن كَنِإََِّللَّٱَِنيِدَ ِفِ

ةَفِئٓاَط

ََ ٞ

ََََيِنِمۡؤ م ۡلٱَ َنِ م ٢

َ

Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

Melalui mantuq ayat ini dapat ditangkap Illat (sebab) kenapa mereka dihukum cambuk karena mereka berzina.

B. MAFHUM

1. Pengertian Mafhum

Mafhum secara bahasa adalah yang dimengerti, maksud, pengertian dapat dipahami makna tersirat dan sebagainya.

Sedangkan menurut istilah yakni pengertian yang diperoleh melalui lafaz (teks ayat) dan lafaz itu sendiri tidak menyebutkannya secara eksplisit.

(13)

2. Kaidah Tafsir Tentang Mafhum Kaidah pertama:

كحلِاَهبَتبثتَةجحَةقفاولماَموهفم

َةيعرشلاَما

Artinya: "Mafhum al-muwafaqah itu adalah farjah (dalil autoritatif) yang bisa menjadi landasan bagi penetapan hukum syara'.

Kaidah kedua:

ََيغَةدئاقَركذلباَقوطنلماَصيصختلَرهظيَلمَاذإَ ةَّج حَِةَفَلاَخ محلاَ محو هحفَم هنعَتوكسلماَنعَمكلْاَيفن

Artinya: "Mafhüm al-mukhalafah adalah hujjah (dalil autoritatif), apabila tidak tampak tujuan khusus dalam penyebutan manthüg itu selain dari penafian (peniadaan) hukum dari persoalan yang tidak disebutkan dalam ayat,"

Kaidah ketiga:

ََعَ مكلْاَبت رَاَذ

إ

َ هحارطاَزحَيََحَلمَاًَبََتحع مََنو كَيَنأَنك يَُفصَوَىَل

Artinya: "Apabila sebuah hukum diiringkan dengan keterangan yang mungkin bisa hanggap sebagai konsiderasi ibagi penetapan nya, maka tidaklah boleh mengabaikan keterangan itu."

3. Jenis-Jenis Mafhum

Mafhum terbagi menjadi dua yaitu: mafhum al-muwafaqah dan mafhum al-mukhalafah, berikut penjelasannya:

(14)

a. Mafhum al-muwafaqah

Adalah sesuainya antara hukum yang disebutkan dalam ayat dengan yang tidak disebutkan. Terbagi menjadi beberapa jenis antara lain:

1. Lahn al-Khitab (jika persoalan yang tidak disebutkan dalam ayat itu sama beratnya dengan yang disebut) maka disebut dengan istilah lahn al-khitab (makna sejajar).

Contohnya Q. S. An-Nisa ayat 10:

َ ۡ

َيَََنيِذَّلٱََّنِإ

َرَنََۡمِِنَّو ط بَ ِفََِنو ل ك ۡ

َيََاََّنَِّإَاًم ۡل ظَٰىَمَٰتَ يۡلٱََلَٰوۡمَأََنو ل ك

ََنۡوَلۡصَيَسَوَ ِۖا ٞ

يِعَس

َََا ٞ ١٠

َ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

Misalnya membakar dan membuang harta anak yatim tidak disebut dalam ayat di atas tetapi membakar harta anak yatim sama jeleknya dengan memakannya dan mengamblnya dengan cara yang zalim.

2. Fahwa al-Khitab (bila persoalan yang tidak disebut dalam ayat itu lebih berat dari yang disebutkan).

Contohnya Q. S. al-Isra ayat 23:

َََبَِكۡلٱََكَدنِعََّنَغ لۡ بَ يَاَّمِإَ اًنَٰسۡحِإَِنۡيَدِلَٰوۡلٱِبَوَ هَّيَِّإََّٓلَِإَحآو د بۡعَ تَ َّلََأََك بَرَٰىَضَقَو۞

َِكَ ۡوَأَٓاَ هُ دَحَأ

َ ف أَٓاَم َّلََل قَ تَ َلََفَاَ هُ َلَ

ََ ٞ ل ۡوَ قَاَم َّلََل قَوَاَ هُۡرَه ۡ نَ تَ َلََو

َيِرَكَا ٞ

ََا ٞ

٢٣

َ

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-

(15)

baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Misalnya memukul orang tua tidak disebut dalam ayat di atas namun, memukulorang tua lebih berat dari pada mengatakan

“uff atau ah!”

b. Mafhum Al-Mukhalafah

Yaitu menetapkan lawan hukum masalah yang disebutkan (dalam ayat) bagi masalah yang tidak disebutkan. Terbagi menjadi beberapa jenis antara lain:

1. Mafhum sifat (ayat yang mendekskripsikan sesuatu dengan menyebutkan sifat, karakter atau atribut tertentu.

Contohnya Q. S. Al-Hujurat ayat 6:

إَبَ نِبَ ُۢ

قِساَفَ ۡم كَءٓاَجَنِإَحآو نَماَءََنيِذَّلٱَاَه يََٰٓيَ

ََ ٞ ةَلَٰهَِبَِاَُۢمۡوَ قَحاو بيِص تَنَأَحآو نَّ يَ بَ تَ ف

َ ٞ

َِدَٰنَۡم ت ۡلَعَ فَاَمَٰىَلَعَحاو حِبۡص تَ ف

َََيِم ٦

َ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Mafhum mukhalafahnya adalah jika yang datang itu orang yang kredibel dan terpercaya, maka berita yang disampaikannya dapat diterima dan tidak perlu lagi diteliti.

(16)

2. Mafhum Syarat (jika dalam mantuq disebutkan hukum sesuatu disertai dengan syarat tertentu, maka yang tidak memiliki syarat tersebut berarti hukumnya kebalikannya).

Contohnya Q.S. An-Nisa ayat 3:

ََٰنَۡثَمَِءٓاَسِ نلٱََنِ مَم كَلََباَطَاَمَحاو حِكنٱَفَٰىَمَٰتَ ي ۡلٱَ ِفَِحاو طِسۡق تَ َّلََأَۡم تۡفِخَۡنِإَو

ََّلََأََٰٓنۡدَأََكِلَٰذَ ۡم ك نَٰ ۡيَُأَ ۡتَكَلَمَاَمَۡوَأًَةَدِحَٰوَ فَحاو لِدۡعَ تَ َّلََأَۡم تۡفِخَۡنِإَفََِۖعَٰب رَوََثَٰل ثَو

َ

َحاو لو عَ ت

ََ

٣

َ

Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Menurut mantuq ayat ini dibolehkan dipoligami sampai empat orang istri, dengan syarat seorang suami mampu berlaku adil , sebaliknya jika tidak adil menurut mafhum al-mukhalafat dilarang.

3. Mafhum Adad (apabila dalam mantuq disebutkan ketentuan bilangan angka atau adad’(mengaitkan sebuah hukum dengan bilangan tertentu, menunjukkan ternafinya hukum itu pada persoalan di luar bilangan tersebut, baik terlebih ataupun kurang)).

Contohnya Q.S. Al-Mujadilah ayat 4:

(17)

َ ماَع ۡطِإَفَۡعِطَتۡسَيََّۡلمَنَمَفَِۖاَّسٓاَمَتَ يَنَأَِلۡبَ قَنِمَِۡيَعِباَتَ ت مَِنۡيَرۡهَشَ ماَيِصَفَۡدَِيَََّۡلمَنَمَف يِك ۡسِمََيِ تِس

َ باَذَعََنيِرِفَٰك ۡلِلَوََِّْۗللَّٱَ دو د حََكۡلِتَوَ ۦِهِلو سَرَوََِّللَّٱِبَحاو نِمۡؤ تِلََكِلَٰذَ ا ٞ

ََ ميِلَأ ٤

َ

Artinya: Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum- hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.

Mafhum adadnya tidak wajib berpuasa lebih dari dua bulan berturut-turut dan tidak wajib memberi makan lebih dari 60 orang miskin dan tidak pula boleh kurang dari jumlah itu.

4. Mafhum Ghayah (hukum yang disebutkan dalam mantuq (redaksi ayat) dikaitkan dengan ghayah(batasan tertentu) maka dipahamilah darinya bahwa hukum itu tidak berlaku sesudah batasan tersebut).

Contohnya Q.S. Al-Maidah ayat 6:

ََِةٰوَلَّصلٱَ َلَِإَۡم ت ۡم قَاَذِإَحآو نَماَءََنيِذَّلٱَاَه يََٰٓيَ

ََ َلَِإَ ۡم كَيِدۡيَأَوَۡم كَهو ج وَحاو لِس ۡغٱَف

َ ِ ۡيَبۡعَك ۡلٱَ َلَِإَۡم كَل جۡرَأَوَۡم كِسو ء رِبَحاو حَسۡمٱَوَِقِفاَرَمۡلٱ ب ن جَۡم تن كَنِإَو ََ

َ حاو رَّهَّطٱَفَا ٞ

َۡوَأَٰٓىَضۡرَّمَم تن كَنِإَو دَحَأََءٓاَجَ ۡوَأَ رَفَسَٰىَلَعَ

ََ ٞ

َ م تۡسَمَٰلَ ۡوَأَِطِئٓاَغ ۡلٱَ َنِ مَم كنِ م

ءٓاَمَحاو دَِتََۡمَلَ فََءٓاَسِ نلٱ

ََ ٞ

َديِعَصَحاو مَّمَيَ تَ ف بِ يَطَا ٞ

َ ۡم كِهو ج وِبَحاو حَسۡمٱَفَا ٞ

جَرَحَ ۡنِ مَم كۡيَلَعََلَعۡجَيِلَ َّللَّٱَ ديِر يَاَمَ ه ۡنِ مَم كيِدۡيَأَو

ََ ٞ

َِكَٰلَو

ََّمِت يِلَوَۡم كَرِ هَط يِلَ ديِر يَن

ََََنو ر ك ۡشَتَۡم كَّلَعَلَۡم كۡيَلَعَۥ هَتَمۡعِن ٦

َ

(18)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);

sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Maka dapat dipahami bahwa lebih dari siku dan dua mata kaki tidak wajib dibasuh dalam berwudhu.

5. Mafhum Zaman (indikasi ang diperoleh melalui lafaz(ayat) tidak disebutkan dalam teks ayat itu sendiri, bahwa selain dari waktu yang ditetapkan dalam mantuq maka hukumnya berlawanan dengannya).

Contohnya Q.S. AL-Baqarah ayat 197:

ر ه ۡشَأَ جَ ۡلْٱ

ََ ٞ تَٰمو لۡعَّم

َ َلََوََقو س فَ َلََوََثَفَرَ َلََفََّجَۡلْٱََّنِهيِفََضَرَ فَنَمَفَ ۚ ٞ

َۡيَخَ ۡنِمَحاو لَع ۡفَ تَاَمَوَِْۗ جَۡلْٱَ ِفََِلاَدِج

ََ ٞ

َْۗ َّللَّٱَ هۡمَلۡعَ ي

َِداَّزلٱََۡيَخََّنِإَفَحاو دَّوَزَ تَوَ

َِبَٰب ۡلَ ۡلِٱَ ِلِحو َٰٓيََِنو قَّ تٱَوَِٰۖىَوۡقَّ تلٱ

١٩٧

Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa

(19)

kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Beberapa hari yang terbilang itu adalah 11,12,13 Zulhijjah, maka diluar waktu itu tidak terhitung sebagai ibadah haji.

6. Mafhum Makan (indikasi yang diperoleh melalui lafaz ayat tidak disebutkan dalam teks ayat itu sendiri, bahwa selain dari tempat yang ditetapkan dalam mantuq maka hukumnya berlawanan dengannya).

Contohnya Q.S. Al-Baqarah ayat 144:

ةَل ۡ بِقََكَّنَ يِ لَو نَلَ فَِِۖءٓاَمَّسلٱَ ِفََِكِهۡجَوََب لَقَ تَٰىَرَ نَ ۡدَق

ََ ٞ

ََر ۡطَشََكَهۡجَوَِ لَوَ فَ اَهٰ ىَضۡرَ ت

َۡم تن كَاَمَ ثۡيَحَوَ ِماَرَ ۡلْٱَِدِجۡس َم ۡلٱ

ََبَٰتِكۡلٱَحاو تو أََنيِذَّلٱََّنِإَوَْۗۥ هَرۡطَشَۡم كَهو ج وَحاو لَوَ فَ

َََنو لَمۡعَ يَاَّمَعَ لِفَٰغِبَ َّللَّٱَاَمَوَ ْۗۡمِِ بَِّرَنِمَ قَۡلْٱَ هَّنَأََنو مَلۡعَ يَل ١٤٤

َ

Artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Qiblat arah sholat adalah ke tempat di mana masjidil haram berada, jika mengarah ke tempat lain maka tidaklah sah.

7. Mafhum Hashar (menetapkan hukum yang berlawananbagi yang mantuq (disebutkan dalam redaksi ayat) terhadap apa yang tidak disebutkan, dan menafikan darinya apa yang dibatasi bagi yang tersebut dalam ayat).

(20)

4. Syarat Penggunaan Mafhum Mukhalafah

Karena maftüm al-mukhalafah tergolong ke dalam penafsiran ayat dan penetapan hukum melalui pemahaman. ijtihad, atau m'yu, agar penggunaannya benar dan tepat sasaran, maka para ulama menetapkan dhawûbith atau regulasi yang disebut juga dengan syarat-syaratnya, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Maftum al-mukhalafah tidak bisa digunakan apabila keterangan yang disebutkan dalam munthig ayat berupa deskripsi tentang persoalan yang secara umum biasa terjadi dalam masyarakat.

b. Yang disebutkan dalam mantiq ayat bukan dengan. maksud untuk memberikan imtinan atau pemberian nikmat.

c. Penjelasan mantuq ayat tidak disebabkan karena kasus tertentu atau menjawab pertanyaan yang terjadi dalam masyarakat ketika ia diturunkan.

d. Keterangan dalam mantuq ayat mestilah independen, bukan hanya sebagai keterangan pelengkap bagi persoalan inti yang disebutkan.

e. Mafhum al-mukhalafah tidak bisa digunakan apabila bertentangan dengan dalil yang lebih kuat darinya, baik berupa ayat aAl-Qur'an, ataupun hadits, atau bertentangan dengan mantuq ayat, atau mafum al- muwafaqah

(21)

18

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Mantuq diartikan sebagai: makna yang ditunjukkan oleh sebuah kata pada waktu kata itu diucapkan atau kata yang diperoleh dari penjelasan kata. Maksudnya, dalalah mantuq adalah makna yang dipahami oleh kata itu sendiri ketika kata tersebut disampaikan, baik melalui lisan atau tulisan. Kalau berupa ayat Al-Qur’an adalah makna yang langsung dipahami melalui teks ayat itu sendiri, begitupun jika di dalam hadis Nabi maka hadis tersebut langsung dipahami melalui matannya.

Sedangkan mafhum yakni pengertian yang diperoleh melalui lafaz (teks ayat) dan lafaz itu sendiri tidak menyebutkannya secara eksplisit.

B. Saran

Setelah kita dapat mengetahui tentang mantuq dan mafhum. Semoga pengetahuan tersebut tidak menjadi kesalah pahaman, karena pemahaman yang keliru lebih berbahaya dari pada tidak tau sama sekali. Dan semoga kita dapat mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari hari.

Mohon ma’af atas segala kekurangan dalam pembuatan makalah ini, kritik dan saran sangat dibutuhkan dalam pembuatan makalah selanjutnya agar lebih baik dan benar.

(22)

19

DAFTAR PUSTAKA

Atabik Ahmad. 2019. “Peranan Manthuq Dan Mafhum Dalam Menetapkan Hukum Dari Alqur’an Dan Sunnah”. Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam. Volume 6 No. 1. Kudus: IAIN Kudus.

1Mahmud Fikri. 2021. Qawa’id Tafsir (Kaidah-Kaidah Menafsirkan Al-Qur’an). Pekanbaru:

Azka Pustaka.

Tim Al-Qosbah. 2020. Al-Qur’an Hafazan Metode 7 Kotak. Bandung: Al-Qur’an Al-Qosbah.

Tim Penyusun Pedoman Skripsi (Edisi Revisi) Fakultas Ushuluddin Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. 2019. Pedoman Penulisan Skripsi (Edisi Revisi).

Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama.

Referensi

Dokumen terkait

Kami pun memaknai kata pinjaman kepada Allah dalam ayat ini sejalan dengan makna yang lebih luas seperti pada ayat ke-20 surat al-Muzzammil yang dapat berarti pinjaman

Jika hermeneutika diartikan sebagai ilmu yang digunakan untuk memahami teks, baik lisan maupun tulis, sehingga maknanya menjadi lebih jelas dengan memahami makna kata

Mustojo tidak keluar dari makna literal dalam bahasa Arab – denotatif dalam istilah Barthes- ( ẓāhir ), ia menggunakan makna literal dari sebuah kata yang ada

- Memahami dan menginterpretasi makna teks cerita pendek Memproduksi teks cerita pendek yang koheren sesuai dengan karakteristik yang akan dibuat baik secara lisan

Kajian ilmu dalalah (semantik) adalah sebagai salah satu metode penting untuk mengetahui makna-makna kata yang ada dalam al-Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan

Dari tiga point di atas, maka dalam kitab tafsir al-Farra dapat dilihat berapa contoh penafsirannya terhadap sebuah ayat yang menjelaskan makna kosa kata yang terkandung dari ayat-ayat

Data Primer Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayat-ayat yang berhubungan tentang makna cyber bullying yang di ambil dari kata as-sakhar, al-lamz, istahza’a, dan

Tetapi ia tetap memperhatikan makna literal ayat itu sendiri, karena ia adalah orang yang berjasa dalam mengembalikan tasawuf pada landasan al-Qur'an dan al-Hadis, dengan kata lain