• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancang Bangun Sistem Pengukuran Indikator Pelayanan Pasien Rawat Inap Untuk Peningkatan Mutu Layanan Puskesmas Menggunakan Rumus IPRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Rancang Bangun Sistem Pengukuran Indikator Pelayanan Pasien Rawat Inap Untuk Peningkatan Mutu Layanan Puskesmas Menggunakan Rumus IPRI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Rancang Bangun Sistem Pengukuran Indikator Pelayanan Pasien Rawat Inap Untuk Peningkatan Mutu Layanan Puskesmas Menggunakan Rumus

IPRI

Ali Tarmuji*, Cantya Dhanurendra

Fakultas Teknologi Industri, Program Studi Informatika, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia Email: 1,*[email protected], 2[email protected]

Email Penulis Korespondensi: [email protected] Submitted 24-08-2022; Accepted 14-12-2022; Published 30-12-2022

Abstrak

Indikator pelayanan instansi layanan kesehatan digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan instansi layanan kesehatan. Pengukuran indikator layanan ditentukan dengan menerapkan metode/rumus IPRI (Indikator Pelayanan Pasien Rawat Inap) yang benar. Berdasarkan hasil observasi di unit Rekam Medis Puskesmas Berbah Sleman Yogyakarta didapatkan bahwa keterlambatan pengembalian lembar sensus harian rawat inap mempengaruhi nilai setiap indikator pelayanan. Selain itu, ketidaktelitian dalam melakukan perhitungan perekapan data sensus harian rawat inap mengakibatkan data menjadi tidak akurat. Oleh karena itu diperlukan sistem pengukuran indikator pelayanan pada rawat inap berbasis komputer guna menghasilkan nilai setiap indikator pelayanan pada layanan rawat inap yang lebih cepat dan akurat. Penahapan penelitian yang dilakukan mengadopsi tahapan yang ada di SDLC metode Waterfall, meliputi tahap pertama communication (project initiation & requirement gathering). Tahap kedua planning (estimating, schedulling, tracking). Tahap ketiga modeling (analysis & design). Tahap keempat construction (code & test).

Tahapan terakhir, deployment (delivery, support, feedback). Penerapan metode/rumus IPRI dalam pengkodean PHP dan didukung penyimpanan DBMS MySQL merupakan bagian dari tahapan construction yang dikombinasikan dengan pengujian menggunakan metode black box test dan alpha test. Tujuan yang telah dicapai dengan terbentuknya Aplikasi Sistem Pengukuran Indikator Pelayanan berdasarkan IPRI pada layanan rawat inap di Puskesmas Berbah Sleman Yogyakarta. Sistem dikategorikan baik dan layak untuk digunakan berdasarkan hasil pengujian black box sebesar 84,62% true. Pengujian alpha didapatkan tingkat penerimaan (menyetujui) sebesar 100%. Penggunaan aplikasi ini terbukti dapat menghasilkan perhitungan IPRI dengan cepat dan akurat sehingga mampu meningkatkan mutu layanan rawat inap, khususnya terkait sensus harian, sehingga pimpinan semakin cepat dapat mengambil keputusan.

Kata Kunci: Indikator Pelayanan; Layanan Kesehatan; Rancang Bangun, Rawat Inap; Rekam Medis; Sistem Berbasis Komputer Abstract

Health agency service indicators are used to determine the level of utilization, quality, and efficiency of health agency services. The measurement of service indicators is determined by applying the correct IPRI (Indicator of Inpatient Service) method/formula. Based on the results of observations in the Medical Record unit of the Berbah Public Health Center, Sleman Yogyakarta, it was found that the delay in returning the daily inpatient census sheets affected the value of each service indicator. In addition, inaccuracy in calculating the daily inpatient census data recapitulation resulted in inaccurate data. Therefore, a computer-based inpatient service indicator measurement system is needed in order to produce a faster and more accurate value for each service indicator in inpatient services. The stages of the research carried out adopted the stages in the SDLC Waterfall method, including the first stage of communication (project initiation & requirement gathering). The second stage is planning (estimating, scheduling, tracking). The third stage of modeling (analysis & design). The fourth stage of construction (code & test). The last stage, deployment (delivery, support, feedback). The application of the IPRI method/formula in PHP coding and supported by MySQL DBMS storage is part of the construction phase which is combined with testing using the black box test and alpha test methods. The goal has been achieved with the establishment of the Service Indicator Measurement System Application based on IPRI in inpatient services at the Berbah Health Center, Sleman Yogyakarta. The system is categorized as good and feasible to use based on the results of black box testing of 84.62% true. Alpha testing obtained a very high level of acceptance (approved) of 100%. The use of this application is proven to be able to produce IPRI calculations quickly and accurately so as to improve the quality of inpatient services, especially related to the daily census, so that leaders can make decisions faster.

Keywords: Service Indicators; Health Services; Design, Hospitalization; Medical Records; Computer Based System

1. PENDAHULUAN

Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan kebijakan yang menjadi pedoman bagi penyelenggaraan layanan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun swasta dalam meningkatkan mutu pelayanan dan kesehatan. Sistem Informasi layanan kesehatan (Rumah Sakit/puskesmas/dan sejenisnya) adalah suatu proses pengumpulan dan penyajian data layanan kesehatan (rumah sakit) se-Indonesia. Sistem informasi ini mencakup semua layanan kesehatan umum maupun khusus, baik yang dikelola secara publik maupun privat[1].

Keterlibatan komputer dalam roda kehidupan perusahaan memang bermacam, tergantung pada tingkat kebutuhan dan kemampuan instansi. Bagi instansi besar yang memiliki sistem yang rumit dan kompleks, komputer akan dipergunakan secara maksimal dengan cara membangun suatu jaringan yang integral dan rumit dengan mengoperasikan komputer dalam jumlah banyak. Tetapi tidak sedikit juga perusahaan yang menggunakan jaringan komputer yang sederhana dengan beberapa unit saja, tanpa menggunakan teknologi komunikasi yang terlalu rumit. Dewasa ini perkembangan teknologi di bidang komputer sudah semakin berkembang dengan semakin banyak inovasi yang terjadi baik dalam hal pengembangan perangkat keras maupun lunak. Oleh karena itu perkembangan teknolgi di bidang komputer

(2)

ini akan membawa dampak yang cukup berarti dalam perkembangan sistem informasi di instansi layanan kesehatan[2].

Pada Bidang kesehatan banyak manfaat yang telah dirasakan oleh kita dengan adanya komputer, sekarang ini tidak hanya sekedar teknologi informasi yang berjalan di fasilitas kesehatan, perkembangan teknologi komputer dan informasi sudah ke ranah Personal Health Record (PHR). Contoh produk PHR yang telah banyak digunakan di dunia kesehatan adalah berbentuk telemedicine, yaitu bentuk teknologi home care jarak jauh. Pasien tinggal di rumah dan petugas kesehatan hanya mengecek kesehatan, terutama pada pasien jantung yang tinggal di rumah sendiri maka alat yang berbentuk gelang tangan itu bisa mengirimkan sinyal kepada petugas kesehtan jika pasiennya terjadi perubahan kesehatan.[3]

Pesatnya perkembangaan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini berpengaruh pola pada pola pikir masyarakat yang semakin maju diikuti dengan makin tingginya kepekaan masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan sarana pelayanan kesehatan menjadi suatu kebutuhan yang makin hari makin meningkat. Maka rumah sakit berkewajiban meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolanya juga harus baik, agar masyarakat tertarik untuk menggunakan fasilitas kesehatan yang disediakan oleh rumah sakit.[4] Penyelenggaraan kesehatan di tingkat pertama, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dalam penyelenggaraan layanannya telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014, sebagai salah satu jenis fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan nasional, khususnya subsistem upaya kesehatan.[5]

Puskesmas Berbah yang merupakan Lembaga Teknis Daerah penyelenggaran pelayanan kesehatan. Puskesmas Berbah melayani masyarakat baik rawat jalan maupun rawat inap. Pendirian Puskesmas berdasarkan Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi Kedudukan. Keputusan Bupati Nomor 900/57 Tahun 2009 Tentang Penetapan Puskesmas sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD). Fasilitas pelayanan kesehatan yang ada antara lain: rawat jalan, rawat inap, unit gawat darurat, unit penunjang medis dan lain-lain. [6]

Berdasarkan hasil wawancara terhadap petugas unit Rekam Medis Puskesmas Berbah saat, diperoleh keterangan adanya permasalahan kegiatan pengelolaan data sensus harian pada pelayanan rawat inap, permasalahan tersebut di antaranya keterlambatan perawat dalam pengembalian lembar sensus harian rawat inap ke bagian unit rekam mesdis. Hal tersebut tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) di Puskesmas Berbah yang berlaku. Pengembalian lembar sensus harian rawat inap harus sudah dikirim ke bagian unit rekam medis paling lambat jam 09.00 WIB pada pagi hari berikutnya. Terkadang beberapa perawat mengembalikan lembar sensus harian rawat inap lebih dari dari dua hari dikarenakan perawat disini merangkap dua tugas yaitu, tugas dalam melakukan kegiatan keperawatan dan juga tugas dalam melakukan pengelolaan data sensus harian. Dampak dari keterlambatan pengembalian lembar sensus harian rawat inap ke bagian unit rekam medis di Puskesmas Berbah di antaranya akan menimbulkan terlambatnya pembuatan laporan dan penyajian data indikator pelayanan pada rawat inap. Proses untuk menghasilkan indikator pelayanan pada rawat inap di Puskesmas Berbah memiliki beberapa kendala di antaranya, keterlambatan dalam pengembalian lembar sensus harian rawat inap sehingga terjadi keterlambatan dalam menghasilkan indikator pelayanan dan ketidaktelitian dalam melakukan perhitungan perekapan oleh unit rekam medis karena dalam melakukan perhitungan tidak semuanya memanfaatkan rumus yang tersedia sehingga data menjadi tidak akurat. [7]

Proses untuk mendapatkan aplikasi yang tepat guna telah dilakukan penelusuran referensi dan pustaka terkait penelitian terdahulu yang terkait. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan [3], penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pengolahan data pasien yang terjaga dan terintegrasi. Membantu dalam pendaftaran pasien, untuk menentukan status kamar rawat inap, proses pencarian data pasien dan pembuatan laporan.

Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sugiarti, dkk [10], mengungkapkan bahwa salah satu peran dari rumah sakit ibu dan anak ini yaitu memberikan pelayanan kesehatan anak-anak, ibu dan masyarakat pada umumnya.

Untuk kelancaran data pasien, ruang rawat inap, yang berada di rumah sakit diperlukan suatu sistem yang dapat mengelola informasi ini. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pengolahan data pasien yang terjaga dan terintegrasi.

Membantu dalam pendaftaran pasien, untuk menentukan status kamar rawat inap, proses pencarian data pasien dan pembuatan laporan.

Penelitian terkait lainnya dilakukan oleh Gunawan Susanto dan Sukadi[11] yang membahas sistem informasi yang ditujukan untuk mendukung ketersediaan data informasi bagi manajemen dan pelaksanaan layanan serta pengembangan jaringan kesehatan. Sistem yang berjalan menemui berbagai kendala dan permasalahan terutama pada penggunaan basisdata dan sistem yang diterapkan hanya sebagai mesin pencatat. Dalam perkembangannya diharapkan sistem ini dapat diterapkan dalam jaringan intranet dan saling terhubung dengan instasi medis lain.

Penelitian yang dilakukan oleh Dewanto, dkk[12] yang membahas pembuatan sistem pelaporan sensus harian rawat inap di Rumah Sakit Umum Kaliwates Jember yang belum memanfaatkan sistem informasi dan masih menggunakan sistem manual, sehingga pengolahan data laporan kurang optimal. Masih terjadi banyak kesalahan penginputan, ketidak tepatan data, dan kurang efisien dalam segi waktu, biaya, dan tenaga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk untuk merancang dan membuat suatu aplikasi pelaporan sensus harian rawat inap di rumah sakit umum kaliwates Jember guna mengatasi permasalahan yang ada pada saat ini.

Penelitian terkait indikator IPRI dilakukan oleh Ninda Agustriyani dan Hendra Rohman[13] yang mengimplementasi Kebijakan Terhadap Efisiensi Penggunaan Tempat Tidur di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan perhitungan menggunakan rumus IPRI. Penelitian tersebut menyimplukan bahwa kebijakan pemantauan tim verifikasi internal dan JKN dan kebijakan peningkatan fasilitas pelayanan rawat inap. Akibat dari kebijakan tersebut, angka BOR rendah dan angka LOS turun.

(3)

Penelitian terkait pengukuran IPRI lainnya, dilakukan oleh Septiani Tri Utami, dkk [14] yang membahas pengukuran IPRI di saat pandemi COVID-19 di Rumah Sakit Islam (RSI) Assyifa Sukabumi. Kesimpulan yang didapatkan bahwa indikator Rawat Inap di RSI Assyifa Sukabumi belum ideal. Hal tersebut dikarenakan sarana dan prasarana belum terpenuhi, sehingga harus dilakukan peningkatan terhadap pelayanan dan perlengkapan yang dibutuhkan terutama saat pandemi COVID-19.

Penggunaan metode Waterfall dalam pengembangan perangkat lunak salah satu penelitian yang dilakukan oleh Melinda, dkk [15] pada pengembangan aplikasi Sistem Informasi Akademik Berbasis Web sebagai Sistem Pengolahan Nilai Siswa dengan alur pengerjaan sesuai dengan tahapan dalam metode tersebut.

Berdasarkan latar belakang dan hasil penelitian terdahulu, maka penelitian ini dilakukan untuk penyediaan alat bantu berupa program komputer kategori sistem informasi yang dapat melakukan sensus harian rawat inap guna menghasilkan sebuah indikator pelayanan pada rawat inap yang lebih cepat dan akurat. Diharapkan dengan dengan adanya alat bantu aplikasi pengukuran tersebut maka beberapa permasalahan di atas dapat diatasi dan memperlancar proses layanan di Puskesmas Berbah khususnya bagian layanan rawat inap.

2. METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Pengukuran IPRI

Pengukuran layanan kesehatan di Puskesmas Berbah menerapkan metode IPRI (Indikator Pelayanan Rawat Inap). IPRI merupakan salah satu bagian dari statistik rumah sakit. Indikator-indikator tersebut dapat dipakai untuk mengukur tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Rumus IPRI terdiri dari beberapa indikator, yaitu BOR (Bed Occupancy Ratio), ALOS (Average Length of Stay), TOI (Turn Over Interval), dan BTO (Bed Turn Over) [8]. Rumus IPRI berikut sesuai dengan pedoman Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian RI[9]. Rumus IPRI merupakan salah satu bagian dari statistik rumah sakit. Indikator-indikator tersebut dapat dipakai untuk mengukur tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Rumus IPRI terdiri dari beberapa indikator, yaitu BOR (Bed Occupancy Ratio), ALOS ((Average Length of Stay), TOI (Turn Over Interval), dan BTO (Bed Turn Over).[9]

Berikut rumus berhitungan indikator-indikator yang digunakan[9], yaitu:

a. BOR (Bed Occupancy Ratio)

BOR digunakan untuk menghitung prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-80%.

Rumus BOR:

BOR = jumlah hari perawatan

(jumlah tempat tidur x jumlah periode) x 100% (1)

b. ALOS (Average Length of Stay)

ALOS digunakan untuk menghitung rata-rata berapa lama sorang pasien dirawat. Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari.

Rumus ALOS:

ALOS =jumlah hari perawatan

jumlah pasien keluar (2)

c. TOI (Turn Over Interval)

TOI digunakan untuk menghitung rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.

Rumus TOI:

TOI =(jumlah tempat tidur x jumlah periode)−hari perawatan

jumlah pasien keluar (3)

d. BTO (Bed Turn Over)

BTO digunakan untuk menghitung frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun, satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.

Rumus BTO:

BTO =jumlah pasien keluar(hidup+mati)

jumlah tempat tidur (4)

2.2 Pembangunan Aplikasi Pengukuran

Proses pengembangan aplikasi ini mengadopsi tahapan yang terdapat pada metode pengembangan perangkat lunak atau Software Development Life Cycle (SDLC) model Waterfall. Metode Waterfall menurut Pressman dalam bukunya Software Engineering: A Practitioner's Approach 9th Edition[16], adalah model klasik yang bersifat sistematis, berurutan dalam membangun perangkat lunak. Nama model ini awalnya adalah “Linear Sequential Model” . Model ini sering disebut juga dengan “classic life cycle” atau metode Waterfall. Model ini termasuk ke dalam model generik pada rekayasa

(4)

perangkat lunak dan pertama kali diperkenalkan oleh Winston Royce sekitar tahun 1970 sehingga sering dianggap kuno, tetapi merupakan model yang paling banyak dipakai dalam pengembangan perangkat lunak. Model ini melakukan pendekatan secara sistematis dan berurutan. Disebut dengan Waterfall karena tahap demi tahap yang dilalui harus menunggu selesainya tahap sebelumnya dan berjalan berurutan[17]. Fase-fase dalam model Waterfall menurut Pressman (2020) [16] ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. SDLC Metode Waterfall[16]

a. Tahap Communication (Project Initiation & Requirements Gathering)

Tahap perencanaan akan dilakukan untuk menentukan beberapa hal yang terkait dengan jalannya penelitian, dengan mengadopsi beberapa langkah dan penyesuaian antara lain penentuan objek penelitian, berkomunikasi dengan pelanggan (lokasi penelitian). Tahap pengumpulan data dikhususkan untuk mendapatkan data-data yang akan digunakan sebagai bahan penelitian yang bersumberkan dari hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka.

b. Tahap Planning (Estimating, Scheduling, Tracking)

Tahapan penelitian akan mengadopsi dan penyesuaian dengan melakukan perencanaan jangka waktu penelitian, perencanaan sumber daya dan peralatan yang digunakan dalam penelitian, serta pemilihan metode pemrograman yang akan digunakan.

c. Tahap Modeling (Analysis & Design)

Tahapan ini melakukan analisis kebutuhan dan permodelan arsitektur sistem yang berfokus pada perancangan struktur data, perancangan proses, tampilan antarmuka, dan algoritma program. Tahapan tersebut diadopsi ke tahapan penelitian yang meliputi beberapa langkah yang dilakukan yaitu.

a. Analisis kebutuhan pengguna

Tahapan ini didasarkan pada hasil observasi dan wawancara di lokasi penelitian didapatkan kelompok pengguna yang akan terlibat dalam penggunaan sistem yang akan dibangun, antara lain: pimpinan, pengelola, perawat, dan bagian rekam medis.

b. Analisis kebutuhan sistem

Tahapan ini didasarkan pada kebutuhan pengguna yang sesuai dengan proses bisnisnya, yang akan meliputi langkah untuk menghasilkan sistem dengan kemampuan/spesifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Analisis kebutuhan sistem meliputi analisis kebutuhan fungsional dan non fungsional. Analisis kebutuhan fungsional meliputi kebutuhan-kebutuhan sistem didasarkan pada fungsionalitas dari sistem berupa fitur-fitur apa saja yang akan dapat dilakukan oleh sistem nantinya. Analisis kebutuhan nonfungsional berupa kebutuhan di luar sistem namun sangat berpengaruh pada kelancaran dari jalannya sistem nantinya, yang akan dianalisis berupa kebutuhan keamanan.

c. Tahap Desain

Tahap desain atau perancangan meliputi beberapa langkah teknis dalam menyusun bahan sebagai landasan berikutnya.

Tahapan yang akan dilakukan.

1. Arsitektur Sistem

Langkah ini akan menggambarkan keberadaan aplikasi dalam arsitektur sistem yang sedang berjalan/ digunakan saat ini.

2. Desain Proses

Langkah desain proses akan menggunakan pemodelan UML (Unified Modeling Language) yang berupa perancangan Use Case dan penjabarannya ke activit diagram.

3. Desain Basisdata

Langkah desain basisdata akan menggunakan pemodelan data ERD (Entity Relationship Diagram), yang berupa langkah teknisnya perancangan konseptual, perancangan ER, perancangan relasi antartabel, dan perancangan struktur tabel.

4. Desain Antarmuka

Perancangan Struktur Menu Aplikasi a) Perancangan struktur menu

(5)

Struktur menu aplikasi ini menampilkan menu apa saja yang disediakan pada aplikasi yang akan dibangun.

Perancangan ini mempermudah untuk melihat menu fitur apa saja yang disediakan pada aplikasi yang dibangun.

b) Perancangan Input

Perancangan input adalah proses merancang tampilan form input yang akan digunakan untuk memasukkan data-data ke dalam database. Dalam tahap ini difokuskan untuk pembuatan tampilan input yang mudah dipahami user.

c) Perancangan Output

Perancangan output adalah proses merancang tampilan atau form yang digunakan umtuk menampilkan data- data yang telah dimasukkan dan tersimpan dalam database. Seperti merancang form list untuk menampilkan daftar ruang rawat inap, merancang form laporan untuk menampilkan sensus harian berdasar pada periode atau waktu, dan merancang output lainnya.

d. Tahap Construction (Code & Test)

Tahapan ini merupakan proses penerjemahan bentuk desain dari tahap sebelumnya menjadi kode atau bentuk/bahasa yang dapat dibaca oleh mesin. Setelah pengkodean selesai, dilakukan pengujian terhadap sistem dan juga kode yang sudah dibuat. Tujuannya untuk menemukan kesalahan yang mungkin terjadi agar segera bisa diperbaiki. Tahap ini meliputi implementasi database dengan menerapkan ke DBMS MySQL dan implementasi koding menggunakan bahasa pemrograman PHP berbasis Framework CodeIgniter. Framework CodeIgniter menerapkan konsep MVC (Model View Controller). MVC memiliki 3 komponen yang saling terkait sehingga menjadikan aplikasi yang dibangun semakin kuat dan lengkap. Komponen pertama yaitu model yang mewakili struktur data, berhubungan langsung dengan basis data, menangani validasi dari bagian controller, namun tidak dapat berhubungan langsung dengan bagian view. Komponen kedua adalah View, merupkan bagian yang menangani presentation logic. Pada suatu aplikasi web, berupa file template HTML, yang diatur oleh controller. View berfungsi untuk menerima dan merepresentasikan data kepada pengguna yang disajikan ke dalam tampilan browser. Bagian ini tidak memiliki akses langsung terhadap bagian model. Komponen ketiga adalah Controller, merupakan bagian yang mengatur hubungan antara bagian model dan bagian view, controller berfungsi untuk menerima request dan data dari pengguna kemudian menentukan apa yang akan diproses oleh aplikasi.[18]

Tahap pengujian merupakan tahap akhir dari proses penelitian, di tahap ini akan dilakukan validasi terhadap sistem yang telah dihasilkan agar didapatkan sistem yang layak digunakan oleh pihak Puskesmas Berbah Sleman. Pengujian akan menggunakan metode Black Box dan Alpha Test.

e. Tahap Deployment (Delivery, Support, Feedback)

Tahapan Deployment merupakan tahapan implementasi perangkat lunak ke pelanggan, pemeliharaan perangkat lunak secara berkala, perbaikan perangkat lunak, evaluasi perangkat lunak, dan pengembangan perangkat lunak berdasarkan umpan balik yang diberikan agar sistem dapat tetap berjalan dan berkembang sesuai dengan fungsinya.

Penelitian ini mengadopsi beberapa langkah saja, yaitu implementasi perangkat lunak dengan menyerahkan aplikasi dan melakukan pelatihan penggunaan ke Puskesmas Berbah.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil dan Pembahasan Tahap Communication

Objek penelitian adalah terkait dengan pelayanan pasien rawat inap di Puskesmas Berbah Sleman Yogyakarta. Berkomuni dengan pelanggan telah dilakukan yaitu dengan Kepala Puskesmas dan kepala Bagian Rekam Medis Puskesmas Berbah didapatkan daftar berbagai permasalahan yang telah dirangkum dalam latar belakang (pendahuluan) naskah ini yang akan dijadikan dasar dalam memberikan solusi berupa penyediaan alat bantu program komputer. Hasil dari pengumpulan data antara lain yang bersumber dari observasi didapatkan gambaran langsung terkait rincian proses bisnis yang terjadi di objek penelitian. Hasil wawancara digunakan untuk melengkapi informasi yang didapatkan dari observasi, yang telah diperoleh berupa daftar permasalahan dan kebutuhan terkait pengukuran indikator layanan. Studi pustaka didapatkan tambahan data bersumberkan dari dokumen dan laporan yang berupa buku berasal dari lokasi penelitian dan juga studi pustaka lain yang sangat mendukung dalam penelitian ini.

3.2 Hasil dan Pembahasan Tahap Planning

Penelitian ini dilakukan selama enam bulan yang diawali dengan inisiasi penelitian dan dilanjutkan dengan observasi di lokasi penelitian dan dilanjutkan dengan tahapan-tahapan selanjutnya. Sumber daya berupa perangkat keras yang digunakan dalam penelitian ini merupakan spesifikasi standar komputer (laptop) biasa dengan tersedia fasilitas untuk terkoneksi ke internet. Sumber daya berupa perangkat lunak yang mendukung penelitian antara lain aplikasi offic, aplikasi editor bahasa pemrograman PHP, HTML, CSS, Javascript, browser internet, aplikasi webserver lokal, pengolah diagram proses, dan pengolah grafis. Pemrograman webnya menggunakan bahasa framework PHP Code Igniter V3.1.4, dan aplikasi pendukung lainnya.

3.3 Hasil dan Pembahasan Tahap Modeling

(6)

Tahapan ini melakukan analisis kebutuhan dan permodelan arsitektur sistem yang berfokus pada perancangan struktur data, perancangan proses, tampilan antarmuka, dan algoritma program. Tahapan tersebut diadopsi ke tahapan penelitian yang meliputi beberapa langkah yang dilakukan yaitu.

a. Analisis kebutuhan pengguna

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak Puskesmas Berbah, didapatkan kebutuhan pengguna antara lain:

a. Administrator

1. Dapat login ke sistem

2. Dapat melakukan operasi CRUD (Cread, Read, Update, dan Delete) data user dan data ruang 3. Dapat mengakses semua fitur yang ada di user lainnya.

4. Dapat logout dari sistem b. Pimpinan

1. Dapat login ke sistem

2. Dapat melihat informasi hasil perhitungan indikator pelayanan rawat inap 3. Dapat mengakses laporan-laporan

4. Dapat logout dari sistem c. Perawat

1. Dapat login ke sistem

2. Dapat melakukan operasi CRUD (Cread, Read, Update, dan Delete) data sensus harian rawat inap 3. Dapat melakukan resume data sensus harian rawat inap

4. Dapat melihat data histori sensus harian rawat inap 5. Dapat logout dari sistem

d. Rekam medis

1. Dapat login ke sistem

2. Dapat melihat informasi sensus harian rawat inap

3. Dapat melihat rekap sensus harian rawat inap bulan sekarang 4. Dapat melakukan perhitungan indikator pelayanan rawat inap 5. Dapat menyimpan hasil perhitungan indikator pelayanan rawat inap 6. Dapat mencetak laporan

7. Dapat melihat

b. Analisis kebutuhan sistem

Hasil analisis sistem terdapat dua kelompok, yaitu a. Analisis kebutuhan fungsional

1. Sistem dapat melakukan autentikasi pengguna, yakni memproses validasi user pada saat memasuki sistem dengan memasukkan username dan password.

2. Sistem dapat dilakukan penggantian password oleh pengelola pada sistem.

3. Sistem dapat dilakukan penambahan, perubahan dan penghapusan data user.

4. Dapat dilakukan penambahan, perubahan dan penghapusan data ruang.

5. Sistem dapat menyimpan data sensus harian

6. Sistem dapat melakukan proses resume sensus harian dengan baik.

7. Sistem dapat menampilkan histori sensus harian.

8. Sistem dapat menampilkan rekap data sensus harian.

9. Sistem dapat melakukan proses perhitungan indikator pelayanan, yaitu BOR, ALOS, TOI, dan BTO.

10. Sistem dapat menampilkan informasi indikator pelayanan rawat inap.

11. Sistem dapat menampilkan laporan indikator pelayanan rawat inap.

12. Sistem dapat menampilkan histori rekap data sensus harian.

b. Analisis kebutuhan nonfungsional

1. Sistem harus didukung dengan server yang memadai 2. Sistem dapat diakses dengan nyaman

3. Sistem harus terjada keamanannya c. Tahap Desain

Hasil dari tahap desain meliputi beberapa langkah teknis dalam menyusun bahan sebagai landasan berikutnya.

Tahapan yang akan dilakukan.

a. Arsitektur sistem

Berdasarkan kondisi sistem saat ini, berikut gambaran dari arsitektur sistem Pengukuran Indikator Pelayanan Pasien Rawat Inap Puskesmas Berbah.

(7)

Gambar 2. Arsitektur Sistem Pengukuran IPRI Puskesmas Berbah b. Desain Proses

Alur jalannya aplikasi Sistem Pengukuran IPRI Puskesmas Berbah digambarkan melalui diagram UML berupa diagram use case dan diagram aktiviti . Proses yang terjadi sebanyak 17 proses yang ditujukan untuk keempat jenis pengguna sistem ini, terlihat di gambar 3.

Gambar 3. Diagram use case Sisetm Pengukuran IPRI Puskesmas Berbah

Ketujuhbelas proses tersebut telah dibuat rincian aktivitasnya pada 17 diagram aktivity, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah proses terkait dengan proses input, dan kedua adalah proses output. Namun dalam paparan naskah ini akan ditampilkan 2 diagram aktiviti utama dalam proses input dan 2 diagram aktiviti dari proses output.

Diagram aktiviti tersebut adalah diagram aktiviti resum harian (gambar 4), dan tampilan informasi indikator layanan (gambar 5).

Gambar 4. Diagram aktiviti resume sensus Gambar 5. Tampil indikator layanan

(8)

c. Desain Basisdata

Langkah desain basisdata menggunakan pemodelan data ERD (Entity Relationship Diagram), yang berupa langkah teknisnya perancangan konseptual, perancangan ER, perancangan relasi antartabel, dan perancangan struktur tabel.

Seluruh langkah tersebut telah diimplementasikan, berikut adalah salah satu langkah berupa hasil akhir diagram ER- nya, gambar 6. Terdapat entitas yaitu, user, pasien, ruang, dan indikator.

Gambar 6. Diagram ER Basisdata Sistem Pengukuran IPRI Puskesmas Berbah d. Desain Antarmuka

Antarmuka yang dibuat untuk aplikasi ini sejumlah item-item yang diejelaskan dalam struktur menu berikut. Struktur menu aplikasi ini gambar 7, menampilkan menu-menu yang akan digunakan untuk operasional rawat inap dan sekaligus akan melakukan rekap perhitungan yang menghasilkan indikator layanan berdasarkan inputan sensus harian.

Gambar 7. Struktur menu Sistem Pengukuran IPRI Puskesmas Berbah

(9)

3.4 Hasil dan Pembahasan Tahap Construction

Hasil dari tahap construction berupa implementasi basisdata ke DBMS MySQL dan ke dalam Bahasa Pemrograman PHP dengan Framework CodeIgniter, selanjutnya aplikasi yang telah terbangun akan dilakukan pengujian dengan metode metode Black Box dan Alpha Test.

a. Implementasi Basis data

Berdasarkan tahap perancangan basis data, dihasilkan sebanyak tujuh (7) tabel yang diterapkan ke DBMS MySQL.

Pembahasan di naskah ini hanya menampilkan capture gambar dua struktur tabel utama yang mendukung penjelasan proses-proses sebelumnya.

Berikut tabel yang digunakan untuk menyimpan data hasil sensus harian, sebagai salah satu sumber data dalam pengukuran indikator layanan sesuai rumus IPRI, gambar 10.

Gambar 8. Struktur Tabel Data Sensus Harian

Berikut tabel yang digunakan untuk menyimpan data indikator layanan ditunjukkan pada gambar 11, yang berisi semua data yang pendukung rumus IPRI.

Gambar 9. Struktur Tabel Indikator Layanan b. Implementasi Program

Pembangunan aplikasi pengukuran IPRI telah menghasilkan sebuah sistem yang berjalan di atas platform web.

Implementasi program pada bahasa pemrograman PHP berbasis Framework MVC. Pembahasan berikut akan ditampilkan tangkapan layar dari aplikasi yang dijalankan di browser internet untuk tampilan utama sesuai penjelasan dari alur

(10)

sebelumnya yaitu menggambarkan proses form input sensur harian dan laporan hasil pengukuran indikator. Juga akan dibahas potongan program untuk menjelaskan penerapan rumus IPRI ke dalam koding PHP.

Tangkapan layar pertama yaitu sebuah form untuk pengelolaan sensus harian, yang datanya digunakan sebagai salah satu dasar dalam perhitungan IPRI, diejaskan di gambar 12.

Gambar 10. Form Input Resume Sensus Harian

Form input resume sensus harian dan data dari sumber form inputan lainnya akan diproses untuk dihitung berdasarkan rumus IPRI. Berikut penerapan rumus IPRI ke dalam koding bahasa pemrograman PHP.

Tangkapan layar koding program Keterangan

Inisiasi dan perhitungan rumus BOR

Inisiasi dan perhitungan rumus ALOS

Inisiasi dan perhitungan rumus TOI

(11)

Inisiasi dan perhitungan rumus BTO

Tangkapan layar kedua yaitu sebuah tampilan laporan dari hasil perhitungan akhir IPRI dari implementasi rumus IPRI, dijelaskan di gambar 13.

Gambar 11. Laporan Hasil Pengukuran Indikator IPRI Puskesmas Berbah c. Pengujian Program

Proses validasi program untuk memastikan kelayakan dari Sistem Aplikasi Pengukuran IPRI Puskesmas Berbah ini telah dilakukan dengan pengujian menggunakan metode Black Box Test dan Alpha Test.

Gambar 12. Grafik Hasil Pengujian Black Box Gambar 13. Grafik Hasil Pengujian Alpha

Hasil pengujian Black Box Test (gambar 14) didapatkan 84,62% true, 15,38% false. Sedangkan hasil Alpha Test (gambar 15) didapatkan 79,2% sangat setuju, 20,8% setuju, 0%, dan untuk kurang setuju/tidak setuju.

3.5 Tahap Deployment

Tahap deployment merupakan tahap akhir dari proses pembangunan perangkat lunak, di mana proses ini merupakan penyerahan produk aplikasi ke pengguna, yang meliputi serah terima produk aplikasi dan modul panduannya, pemasangan ke lingkungan kerja (server) pengguna, dan pelatihan penggunaan ke pengguna langsung, serta perawatan aplikasi yang dilakukan langsung oleh pengguna dalam hal ini pengelola Sistem Aplikasi Pengukuran IPRI Puskesmas Berbah Sleman Yogyakarta.

4. KESIMPULAN

Penelitian ini telah menghasil sebuah program aplikasi yang proses utamanya digunakan untuk perhitungan terhadap komponen-komponen untuk mengukur Indikator Pelayanan Pasien Rawat Inap di Puskesmas Berbah Sleman.

Berdasarkan hasil pengujian (black box: 84,62%, dan Alpha Test: 100% diterima) tersebut bahwa Sistem Aplikasi

(12)

Pengukuran Indikator Pelayanan Pasien Rawat Inap Puskesmas Berbah layak untuk digunakan dan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi saat ini terkait peningkatan mutu layanan.

REFERENCES

[1] P. Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan.

Indonesia: https://jdih.setkab.go.id/PUUdoc/176340/PP_Nomor_47_Tahun_2021.pdf, 2021.

[2] M. Kesehatan RI, “Petunjuk Teknis Sistem Informasi Rumah Sakit (Juknis SIRS),” Jakarta, 2011. Diakses: Mei 14, 2021.

[Daring]. Available: https://sardjito.co.id/sardjitowp/wp-content/uploads/2018/05/Juknis-SIRS-2011.pdf

[3] F. A. Junaedi dan D. Barsasella, Teknologi Informasi Kesehatan I, 1 ed. Jakarta: BPPSMK Kementerian Republik Indonnesia, 2018.

[4] D. Kesehatan RI, Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Indonesia:

http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__3_Th_2020_ttg_Klasifikasi_dan_Perizinan_Rumah_Sakit.pdf, 2020.

[5] M. Kesehatan RI, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.

2014.

[6] P. Berbah, “Gambaran Umum Puskesmas Berbah Yogyakarta,” 2020. https://puskesmasberbah.wordpress.com/profil- 2/gambaran-umum-puskesmas-berbah/ (diakses Mei 14, 2022).

[7] C. Dhanurendra dan A. Tarmuji, “Penerapan Rumus IPRI pada Sistem Pengukuran Inidkator Pelayanan Pasien Rawat Inap di Puskesmas Berbah Sleman Yogyakarta,” Yogyakarta, 2021.

[8] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.01.07/Menkes/1128/2022 Tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit. 2022. Diakses: Sep 27, 2022. [Daring]. Available:

https://yankes.kemkes.go.id/unduhan/fileunduhan_1654499045_682777.pdf

[9] D. P. kesehatan Kementerian Kesehatan RI, “Kamus Indikator Kinerja Badan Layanan Umum Rumah Sakit Umum.”

https://sardjito.co.id/sardjitowp/wp-content/uploads/2016/12/Kamus-Indikator-Kinerja-BLU-2016-hal1-34.pdf (diakses Sep 27, 2022).

[10] Y. Sugiarti, N. Fitriani, dan Nuryasin, “Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi Rawat Inap (Studi Kasus: Rumah Sakit Dan Anak Buah Hati Ciputat),” Sisterm Informasi, vol. 8, no. 2, hlm. 1–11, Okt 2015, Diakses: Jun 15, 2021. [Daring]. Available:

https://journal.uinjkt.ac.id/index.php/sisteminformasi/article/download/3036/2419

[11] A. al Kaafi, R. Azmi, E. Nurelasari, dan L. Widiastuti, “Implementasi Sistem Informasi Rekam Medis Pada Laboratorium Klinik MediCall dengan Penerapan Incremental Model,” SPEED - Sentra Penelitian Engineering dan Edukasi, vol. 12, no. 3, Jul 2020.

[12] W. K. Dewanto, F. Hikmah, dan J. F. Anantio, “Perancangan dan Pembuatan Aplikasi Sensu Harian Rawat Inap dengan Pemprograman Berbasis Web di Rumah Sakit Umum Kaliwates Jember,” Jurnal Teknologi Informasi dan Terapan, vol. 2, no. 2, hlm. 243–249, Jan 2016.

[13] N. Agustriyani dan H. Rohman, “Implementasi Kebijakan Terhadap Efisiensi Penggunaan Tempat Tidur Di Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Yogyakarta,” dalam Prosiding “e-Health,” Jan 2020, hlm. 15–22.

[14] S. T. Utami, V. H. Azizah, dan S. Setiatin, “Indikator Rawat Inap pada Masa Pandemi COVID-19 di RSI Assyifa Sukabumi,”

CERDIKA, Jurnal Ilmiah Indonesia, vol. 1, no. 9, hlm. 1227–1239, Sep 2021.

[15] S. Melinda, A. R. Maulana, K. Fahrezi, Nurhaliza, dan S. Mulyati, “Penerapan Model Waterfall dalam Pengembangan Sistem Informasi Akademik Berbasis Web sebagai Sistem Pengolahan Nilai Siswa,” Jurnal Teknologi Sistem Informasi dan Aplikasi, vol. 4, no. 2, hlm. 98–102, Apr 2021.

[16] R. S. Pressman dan B. R. Maxim, Software Engineering: A Practitioner’s Approach 9th Edition, 9 ed. New York: McGraw-Hill Education, 2020.

[17] Admin, “Metode Waterfall Menurut Pressman 2015,” 2020. http://www.kuliahkomputer.com/2018/09/metode-waterfall- menurut-pressman-2015.html (diakses Mei 16, 2022).

[18] Supono dan V. Putratama, Pemrograman Web Dengan Menggunakan PHP dan Framework Codeigniter, 1 ed. Yogyakarta:

Deepublish, 2016.

Referensi

Dokumen terkait

5.2 Faktor Mutu pelayanan Kesehatan Yang Tidak Berpengaruh Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Puskesmas Batang Kuis Kabupaten

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh dari suatu kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien rawat inap di puskesmas gondang sragen pada tahun

Kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan di bagian rawat inap Puskesmas DTP Pangandaran adalah baik, dimana responden pada umumnya secara keseluruhan sudah merasa puas

6.51 Distribusi informasi yang dicari responden dalam pemilihan tempat rawat inap baik yang melakukan rawat inap di dalam maupun di luar Puskesmas Waru tahun. 2010

Untuk mengetahui mutu pelayanan di rawat inap Puskesmas Tarub Kabupaten Tegal kepada pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional dilihat dari aspek efisiensi.a. Untuk mengetahui

6.51 Distribusi informasi yang dicari responden dalam pemilihan tempat rawat inap baik yang melakukan rawat inap di dalam maupun di luar Puskesmas Waru tahun. 2010

Gambar 1 Alur Sensus Harian Rawat Inap Manual Rumah Sakit Elisabeth Medan Alur sensus harian rawat inap SIMRS tidak sesuai dengan SPO sensus yang terdapat di rumah sakit dan BPPRM,2006

Hasil study pendahuluan yang dilakukan peneliti di Puskesmas Cilimus, dengan cara membagikan lembar pertanyaan tentang kepuasan pasien, terhadap 10 pasien rawat inap, menyatakan baik