C. Redefinisi Konsep Supervisi
Fungsi supervisi telah mengalami perkembangan, yang dalam paradigma lama sebagai pengawasan alat kontrol birokrasi yang digunakan oleh para eksekutif untuk mengetahui keterlaksanaan program-programnya, kini telah berubah. Perubahan paradigmanya dari pengawasan menjadi pemberdayaan yang menyediakan kesempatan banyak untuk belajar dan memperbaiki diri.
Supervisi sebagai pemberdayaan berusaha membangkitkan kesadaran guru menjadi seorang pembuat keputusan profesional penting ketika menjalankan tugasnya. la seorang pengajar yang profesional yang mengharuskan dirinya bertindak membuat putusan berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah atas pertimbangan rasional demi kebaikan peserta didiknya. Menjadikan seorang guru yang mempunyai kewenangan yang otonoom dalam menjalankan tugasnya.
Untuk itu guru dibantu dan dilayani pertumbuhan profesinya oleh para supervisor, sehingga ia bekerja dengan memiliki kepuasan, keterikatan dan komitmen dalam menjalankan tugasnya, menjadikan dirinya seorang guru yang memiliki daua efektivitas besar dalam mengajar.
D. Sasaran Suoervisi Pendidikan
Suharsimi Arikunto (2004:33) sasaran supervisi ada tiga tiga pembelajaran atau instructional, pendukung macam, yaitu kelancaran pembelajaran atau administratif dan kelembagaan. Ditinjau dari objek yang disupervisi dan biasanya dalam praktik sekarang ada tiga macam supervisi, yaitu:
1. Supervisi akdemik yang menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah- masalah akademik, yaitu hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu.
2. Supervisi Administrasi supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran. yang menitikberatkan pengamatan.
3. Supervisi Lembaga yang menebarkan atau menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di seantero sekolah. Jika supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, maka supervisi lembaga
dimaksudkan untuk meningkatkan nama baiksekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa sasaran supervise pendidikan adalah meningkatkan proses pembelajaran untuk meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran (Djam’an Satori 1997). Proses pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran antara lain adalah guru dan peserta didik, program kurikulum, buku teks yang dipakai oleh murid dan guru, fasilitas belajar dan media belajar, kultur sekolah serta lingkungan fisik disekitarnya.
Oleh karena luasnya yang mempengaruhi pembelajaran, maka supervisi harus ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan situasi belajar mengajar. Pada situasi yang dalam baik, pembelajaran akan tumbuh dan berkembang dengan subur. Situasi dan lingkungan merupakan tempat, fasilitas, kultur atau budaya sekolah, maupun iklim kepemimpinannya, yang dapat menumbuhkembangkan pembelajaran. Pada situasi yang kondusif guru dapat mengembangkan profesionalitasnya, sehingga guru sanggup menangani dan mengakomodasikan semua persoalan yang di fokuskan pada peristiwa belajar secara efektif.