• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajari dan analisis stroke

N/A
N/A
meilani silitonga

Academic year: 2023

Membagikan "Pelajari dan analisis stroke "

Copied!
58
0
0

Teks penuh

Bentuk: Deformitas Normocephalic: Tidak Ada Ukuran: Fraktur Normocephal: Tidak Ada Simetris: Fraktur Simetris Nyeri: Tidak Ada. Ataksia: Tidak Dinilai Romberg: Tidak Dinilai Hemiplegia: Tidak Dinilai Dismetria: Tidak Dinilai Gunting: Radius Tidak Dinilai Penggerak: Tidak Dinilai Hidung: Tidak Dinilai Histeris: Tidak Dinilai Hocks: Belum Dinilai. Manken : belum dinilai Fenomena rebound : belum dinilai Steppage : belum dinilai Dysdiadochokinesis : belum dinilai Astasia-Abasia : belum dinilai Rompataxia : belum dinilai.

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium

Diagnosis

Tatalaksana

Prognosis

Tabel Follow-up Harian

Definisi

Epidemiologi

Etiologi dan Faktor Risiko

Penderita dislipidemia disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup dan mendapat obat penghambat HMG-CoA reduktase (statin), terutama pada pasien berisiko tinggi seperti riwayat penyakit jantung koroner dan diabetes. Penurunan berat badan menurunkan risiko stroke, infark miokard (MI), diabetes, dan hipertensi. Orang dewasa disarankan untuk melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang minimal 40 menit per hari, 3 hingga 4 hari setiap minggu.3.

Risiko stroke meningkat pada orang dengan riwayat penyakit aterosklerotik, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan klaudikasio intermiten. Pada pasien dengan fibrilasi atrium non-katup yang diketahui menderita fibrilasi atrium dengan skor CHA2 DS2-VASc ≥2, sebaiknya diberikan antikoagulasi. Antikoagulan pilihan adalah antikoagulan oral baru (NOACs) seperti dabigatran, apixaban, rivaroxaban atau warfarin dengan target INR 2,0-3,0.

Pasien CHA2 DS2-VASc grade 1 dengan risiko komplikasi perdarahan rendah tidak dapat diberikan antitrombotik, antikoagulan, atau aspirin. Pada pasien dengan PFO, faktor-faktor tertentu seperti adanya shunt kanan-ke-kiri (RLS) saat istirahat, RLS saat Valsalva, atau PFO disertai aneurisma septum arteri atau peningkatan mobilitas septum intra-arteri, diketahui. untuk dikaitkan dengan kriptogen. infark, dimana bentuk yang paling sering adalah embolic infarction of unknown origin (ESUS). Pasien dengan riwayat infark miokard elevasi ST (STEMI) dengan trombus mural ventrikel kiri atau kelainan akinetik segmen ventrikel kiri dapat diberikan warfarin untuk mencegah stroke.

Patofisiologi

Masuknya ion Ca2+ secara besar-besaran dan terus menerus ke dalam sel akan mengaktifkan berbagai enzim pendegradasi sehingga menyebabkan proses rusaknya membran sel dan struktur penting neuron lainnya. Radikal bebas, asam arakidonat, oksida nitrat juga dihasilkan oleh proses ini dan menyebabkan kerusakan saraf lebih lanjut.5,7. Iskemia juga secara langsung menyebabkan disfungsi pembuluh darah otak dengan kerusakan sawar darah otak (BBB) ​​​​dalam waktu 4-6 jam setelah infark.

Proses ini akan memperburuk kondisi edema serebral dan lesi menempati ruang dengan puncaknya pada hari ke 3 sampai ke 5, dan umumnya akan terjadi perbaikan dalam beberapa minggu akibat proses resorpsi air dan protein. Terakhir, neuron di area penumbra iskemik juga akan terlibat dalam proses cedera progresif ini dan menyatu. Daerah jaringan yang mengalami infark kemudian akan mengalami nekrosis likuifaksi dan akan ditelan serta dikeluarkan oleh makrofag sehingga menyebabkan proses hilangnya volume parenkim.

Perubahan patologis kronis ini dapat terlihat dalam beberapa minggu hingga bulan setelah terjadinya infark jaringan otak.

Gambar 1. Cascade iskemik [ada sel neuron setelah terjadi stroke5
Gambar 1. Cascade iskemik [ada sel neuron setelah terjadi stroke5

Manifestasi Klinis 5,8

Jika lesinya kortikal maka akan timbul gejala klinis seperti: afasia, gangguan sensorik kortikal, kelumpuhan wajah dan lengan atau lebih banyak lumpuh pada tungkai, deviasi mata, hemiparesis disertai kejang, kelumpuhan, postur distonik, gangguan sensorik nyeri dan peraba. . pada wajah lengan dan kaki (terlihat pada lesi thalamus). Bila lesi pada batang otak, gambaran klinisnya adalah: hemiplegia alternans, gejala cerebellar, nistagmus, gangguan pendengaran, gangguan sensorik, disartria, gangguan menelan, deviasi lidah. Apabila sumbatan terdapat pada sumsum tulang belakang maka akan timbul gejala seperti: gangguan sensorik dan berkeringat tergantung luasnya lesi, gangguan buang air kecil dan besar.

Diagnosis 1. Anamnesis 5,8

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik selalu meliputi pemeriksaan lengkap pada kepala dan leher untuk mencari tanda-tanda trauma, infeksi dan tanda-tanda iritasi meningeal.

Pemeriksaan Neurologi

Pemeriksaan Penunjang 1) Elektrokardiografi (EKG)

  • Modifikasi Gaya Hidup Diet dan nutrisi dengan;
  • Aktivitas Fisik
  • Mengatur Pola Makan yang Sehat
  • Penanganan Stress dan Istirahat yang Cukup
  • Komplikasi

Terdapat sinyal rendah (hipointense) pada T1 (terkadang sulit dilihat pada fase ini) dan sinyal tinggi (hiperintens) pada. Gambaran densitas berbobot T2 dan berbobot proton dimulai 8 jam setelah onset dan harus mengikuti distribusi vaskular. Peningkatan parenkim menghilang setelah beberapa bulan.

Prevalensi segmen QT panjang, depresi ST, dan inversi gelombang T lebih sering terjadi pada stroke iskemik akut, terutama bila melibatkan korteks insular. f) Angiografi pengurangan digital serebral (DSA). Untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi, dianjurkan untuk mengurangi asupan natrium dan meningkatkan asupan kalium. Metode Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) yang menekankan pada konsumsi buah-buahan, sayuran, dan produk susu rendah lemak merupakan pola makan yang dianjurkan dan menurunkan tekanan darah.

Orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik aerobik minimal 150 menit (2 jam 30 menit) setiap minggu dengan intensitas sedang, atau 75 menit (1 jam 15 menit) setiap minggu dengan intensitas lebih berat. bersepeda, berenang dan lain-lain) secara rutin akan mampu menurunkan tekanan darah, meningkatkan pengendalian diabetes, memperbaiki kebiasaan makan, menurunkan berat badan dan meningkatkan kadar kolesterol HDL. Kedelai dan produk olahannya dapat menurunkan lipid serum, menurunkan kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida, namun tidak mempengaruhi kadar kolesterol HDL. Minimalkan makanan tinggi lemak jenuh dan kurangi asupan asam lemak trans seperti kue kering, kerupuk, telur, gorengan, dan mentega.

Antikoagulasi mendesak dengan tujuan mencegah kekambuhan stroke secara dini, menghentikan perburukan defisit neurologis, atau memperbaiki outcome setelah stroke iskemik akut tidak direkomendasikan sebagai pengobatan untuk pasien dengan stroke iskemik akut. Antikoagulasi segera tidak dianjurkan pada pasien dengan stroke akut sedang hingga berat karena peningkatan risiko komplikasi perdarahan intrakranial. Namun, beberapa ahli masih merekomendasikan heparin dosis penuh pada pasien stroke iskemik akut yang berisiko tinggi mengalami reembolisasi, diseksi aorta, atau stenosis karotis parah sebelum operasi.

Pada setiap stroke iskemik akut, dianjurkan pemberian aspirin dengan dosis awal 325 mg dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah timbulnya stroke. Komplikasi jantung, pneumonia, tromboemboli vena, demam, nyeri pasca stroke, disfagia, inkontinensia dan depresi merupakan komplikasi yang sangat umum terjadi pada pasien stroke.

Prognosis

AFASIA .1 Definisi

  • Anatomi dan Fisiologi

Tingkat ketiga yang paling penting, yaitu pengenalan simbol-simbol yang berupa kata-kata atau efek dan asosiasi simbol-simbol tersebut sebagai bentuk bahasa. Penderita masih mempunyai kemampuan berbicara dan menulis kata-kata yang masih aktif, padahal apa yang diucapkan dan ditulis penderita tidak ada artinya. Afasia jenis ini ditandai dengan adanya masalah dalam penamaan dan pencarian kata namun masih dapat berbicara spontan dan lancar, mengulang kata, memahami dan menulis, namun kesulitan menemukan kata dan membentuk kalimat.

Pemahaman bahasa pada afasia translasi mengalami gangguan ringan, ditandai dengan gangguan pengulangan dan jeda pencarian kata, meskipun pasien masih lancar berbicara bahasa tersebut. Penderita afasia ini dapat mengulang (repeat), memahami dan membaca, namun ucapan spontannya terbatas, sama seperti penderita afasia Broca. Jenis afasia ini juga disebut dengan istilah awam “kebodohan verbal murni”.

Jika penderita afasia motorik masih dapat menirukan, namun tidak mampu lagi menghasilkan kata-kata sebagai cara berekspresi yang aktif, maka afasia motorik tersebut disebabkan oleh lesi kortikal yang cukup besar antara area Broca dan Wernicke. Ini adalah afasia yang terkait dengan hilangnya pemahaman pendengaran dan visual terhadap kata-kata dan ketidakmampuan menulis dan membaca dengan pemahaman. Afasia ini dapat berulang (repeat) dengan baik, namun tidak memahami apa yang didengarnya atau apa yang diulang-ulangnya.

Jenis ini tidak mudah masuk ke dalam klasifikasi di atas, meskipun lesi pada posisi lebih anterior cenderung menghasilkan afasia yang mirip dengan afasia Broca, dan lesi pada posisi lebih posterior cenderung menghasilkan gejala yang mirip dengan afasia Wernicke. Kefasihan berbicara seseorang dikatakan lancar jika orang tersebut mampu berbicara secara spontan, tanpa bersusah payah mencari kata-kata yang ingin diucapkannya. Cacat ringan dapat diketahui melalui tes kefasihan, yaitu dengan menghasilkan kata-kata tertentu, misalnya kategori binatang atau kata-kata yang diawali dengan huruf tertentu; menghilangkan sebanyak-banyaknya nama orang atau nama kota dalam waktu terbatas; umumnya dalam waktu 60 detik.

Kemampuan mengulang harus diuji pada pasien afasia karena terdapat gangguan pengulangan pada pasien yang dinilai dengan meminta pasien mengulangi kata sederhana dengan banyak kata (satu kalimat). Banyak pasien dengan afasia akan mengalami kesulitan dalam mengulang, namun ada juga pasien yang menunjukkan kemampuan pengulangan yang baik, bahkan seringkali lebih baik daripada kemampuan pasien untuk berbicara secara spontan. Terdapat kesalahan pembentukan kalimat, kesalahan penggunaan kata (paraphasia—kata pengganti—atau neologisme) dan retensi (kesulitan mengungkapkan kata secara berurutan dan bervariasi sehingga mengakibatkan pengulangan kata yang tidak tepat.) 8.

Secara umum fungsi membaca dan menulis pada penderita afasia akan lebih buruk dibandingkan fungsi pemahaman dan bicara. Secara umum, afasia akibat trauma otak atau cedera kepala sembuh lebih cepat dan tuntas dibandingkan afasia akibat stroke.

Gambar  3.1  Pembagian area-area pada otak
Gambar 3.1 Pembagian area-area pada otak

ANALISIS KASUS

Pemberian cairan pada pasien pasca stroke yaitu cairan isotonik seperti saline 0,9% untuk menjaga euvolemia pada pasien. Clopidogrel digunakan pada pasien ini untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah dan meningkatkan sirkulasi darah.Clopidogrel merupakan obat antiplatelet untuk pencegahan sekunder aterotrombosis pada pasien stroke. Selain itu, clopidogrel juga merupakan obat yang menghambat proses pembekuan darah sehingga terdapat resiko terjadinya pendarahan pada penggunanya, namun resiko tersebut sangat kecil.

Pada pasien ini diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang menunjang diagnosis stroke non hemoragik. Stroke non hemoragik atau stroke iskemik dapat terjadi akibat emboli dari faktor risiko pasien yaitu hipertensi, obesitas, dan dislipidemia. Stroke dan penyakit penyerta harus mendapat pengobatan yang memadai agar kondisi pasien dapat membaik dan mencegah perburukan atau komplikasi.

Gambar

2.8  Tabel Follow-up Harian
Gambar 1. Cascade iskemik [ada sel neuron setelah terjadi stroke5
Gambar 3. Algoritma Gadjah Mada
Gambar 2. Siriraj Stroke  Score
+3

Referensi

Dokumen terkait

b) Sebelum melakukan pengukuran tekanan darah, responden sebaiknya menghindar kegiatan aktivitas fisik seperti olah raga, merokok, dan makan, minimal 30 menit

Untuk meningkatkan kebugaran jasmani dapat dilakukan dengan latihan aerobik yang berpedoman: 1) Latihan dilakukan secara teratur dengan frekuensi 3-5 kali per minggu, 2)

1) Untuk mengetahui intensitas aktivitas fisik Mahasiswa angkatan 2016 dalam melaksanakan senam COVID-19. 2) Untuk mengetahui seberapa besar tingkat aktivitas

Berdasarkan hasil studi literatur diatas, aktivitas fisik berupa olahraga dengan intensitas sedang atau olahraga aerobik seperti joging, berenang, yoga yang dilakukan

Seseorang yang sering melakukan aktivitas fisik minimal 3-5 kali dalam seminggu dalam waktu minimal 30-60 menit dapat menurunkan risiko untuk terkena penyakit

Kapasitas aerobik berhubungan dengan kemampuan individu untuk melakukan aktivitas fisik dinamis pada intensitas sedang hingga tinggi, dengan melibatkan kelompok otot

Aktifitas fisik adalah salah satu komponen yang sangat menguntungkan dari kesehatan mental yaitu olahraga. Dengan melakukan beberapa bentuk aktivitas aerobik selama menimal 20

Menentukan agen geologis yang berinteraksi dengan bahan batuan dan memengaruhi laju reaksi fisik dan kimia Agen geomorfologi  aktivitas Sungai → lingkungan lembab  aktivitas Angin