RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER LOGIKA DAN PENALARAN HUKUM
Pertemuan 14
Kharakter Penalar Hukum (Bagian Ketiga) A. Tujuan Pembelajaran
Dari hasil pertemuan pertama ini, diharapkan mahsiswa akan mengerti dan memahami tentang :
1. Macam-macam legal reasoning 2. Penalaran hukum hakim
3. Penalar hukum politisi B. Materi
Penalaran hukum disebut juga legal reasoning. Pengertian sederhana Legal Reasoning adalah penelusuran/penalaran tentang hukum yaitu pencarian atau penelusuran “reason” tentang hukum atau pencarian dasar tentang bagaimana seorang hakim memutuskan perkara/ kasus hukum, seorang pengacara meng-argumentasi-kan hukum dan bagaimana seorang ahli hukum menalar hukum. Namun pengertian sederhana ini menjadi tidak lagi sederhana apabila pertanyaan dilanjutkan kepada: apakah yang dimaksud dengan hukum dan bagaimana sebenarnya atau seharusnya seorang hakim memutuskan suatu perkara/ kasus hukum dan bagaimana seorang pengacara meng-argumentasi-kan hukum?
Pengertian lainnya yang sering diberikan kepada Legal Reasoning adalah:
suatu kegiatan untuk mencari atau menelusuri dasar hukum yang terdapat di
dalam suatu peristiwa hukum, baik yang merupakan perbuatan hukum (perjanjian, transaksi perdagangan, dll) ataupun yang merupakan kasus pelanggaran hukum (pidana, perdata, ataupun administratif) dan memasukkannya ke dalam peraturan hukum yang ada.
1. Penalar Hukum : hakim
Kegunaan Legal Reasoning bagi Hakim berguna dalam mengambil pertimbangan untuk memutuskan suatu kasus.
Pasal 25 ayat (1) UU No. 4/2004 menegaskan :
“Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut, memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang- undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.”
Dalam pasal 19 ayat (4) UU No.4/2004 juga menegaskan:
“Dalam sidang permusyawaratan,setiap hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang diperiksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan”
Bagi para hakim legal reasoning ini berguna dalam mengambil pertimbangan untuk memutuskan suatu kasus. Sedangkan bagi para praktisi hukum legal reasoning ini berguna untuk mencari dasar bagi suatu peristiwa atau perbuatan hukum dengan tujuan untuk menghindari terjadinya pelanggaran hukum di kemudian hari dan untuk menjadi bahan argumentasi apabila terjadi sengketa mengenai peristiwa ataupun perbuatan hukum tersebut. Bagi para penyusun undang-undang dan peraturan, legal reasoning ini berguna untuk mencari dasar mengapa suatu undangundang disusun dan mengapa suatu peraturan perlu dikeluarkan. Sedangkan bagi pelaksana, legal reasoning ini berguna untuk mencari pengertian yang mendalam
tentang suatu undang-undang atau peraturan agar tidak hanya menjalankan tanpa mengerti maksud dan tujuannya yang hakiki.
Para ahli juga berbeda pandangan mengenai formulasi tentang bagaimana hakim memutuskan perkara, yang menurut mereka mengandung juga ambigu, yaitu apakah dalam memutus perkara, hakim harus mencari reasoning dari substansi hukum positif yang ada mengenai kasus tersebut ataukah hakim harus mempertimbangkan semua aspek yang ada termasuk isu mengenai moral dan lain-lain?
Dengan perbedaan ini para ahli teori hukum mengambil tiga pengertian tentang legal reasoning yaitu:
a.Reasoning untuk mencari substansi hukum untuk diterapkan dalam masalah yang sedang terjadi.
b.Reasoning dari substansi hukum yang ada untuk diterapkan terhadap putusan yang harus diambil atas suatu perkara yang terjadi.
c. Reasoning tentang putusan yang harus diambil oleh hakim dalam suatu perkara, dengan mempertimbangkan semua aspek.
2. Penalar Hukum : Politisi
Bagi Politisi legal reasoning ini berguna untuk mencari dasar mengapa suatu undang-undang disusun dan mengapa suatu peraturan perlu dikeluarkan.
Legal Reasoning Dalam Penyusunan Konsep Hukum oleh politisi akan mempertimbangkan hal-hal berikut :
a.Tahap yang pertama adalah penciptaan konsep hukum yang terjadi yaitu dengan membandingkan suatu kasus dengan kasus-kasus yang lain, b.Tahap yang kedua adalah periode di mana konsep tersebut sedikit
banyaknya menjadi suatu yang tetap, meskipun reasoning melalui contoh terus berlangsung untuk mengklasifikasikan hal-hal yang ada di luar dan di dalam konsep tersebut.
c. Tahap ketiga adalah tahap di mana terjadi keruntuhan konsep tersebut, apabila reasoning melalui contoh kasus telah bergerak ke depan dan membuktikan bahwa ketetapan yang dibuat melalui kata-kata tidak lagi diperlukan, dan dimulai lagi penciptaan konsep hukum yang baru, dan kemudian mengalami reasoning kembali, demikian seterusnya yang terjadi sebagai suatu lingkaran yang tak terputus.
Penalaran hukum politisi sangat dipengaruhi oleh azas parta dari politisi itu sendiri. Seorang politisi yang memiliki sifat negarawan akan lebih mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan partainya. Hal ini bukan berarti politisi harus selalu sama atau harus selalu berbeda pendapat dengan partainya karena sejatinya partai politik adalah kumpulan rakyat yang bergerak dengan kesamaan tujuan untuk menjalankan negara dengan bentuk partai politik untuk memenuhi ketentuan undang-undang dengan pandangan- pandangan yang sama mengenai bagaimana negara ini harus dijalankan dengan berpedoman pada grundnorm atau konstitusi negara yang harus diterjemahkan menjadi undang-undang sebagai peraturan pelaksana dari grundorm yang kemudian diterjemahkan dengan dibuatnya hirarki peraturan perundang-undangan sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi sebanyak- banyaknya rakyat
C. Soal dan Tugas
Jelaskan Kembali tentang :
1. Macam-macam legal reasoning 2. Penalaran hukum hakim
3. Penalar hukum politisi D.Daftar Pustaka,
1. Abintoro Prakoso, Hukum, Filsafat, Logika, dan Argumenytasi Hukum, LaksBang Justitia, Surabaya, 2015
2. Sukarno Aburaera, Filsafat Hukum, Teori dan Praktek, Fajar Interpratama Mandiri, 2016
3. Soetjipto Wirosardjono, Dialog Dengan Kekuasaan, Mizan 1995 4. Amsal Bakhtiar, Filsafa Ilmu, Raja grafindo Persada, 2016
5. Muhamad Syukri Albani Nasution dan Zul Fahmi Lubis, Hukum Dalam pendekatan Filsafat, Fajar Interpratama Mandiri, 2017
6. Zainudin Ali, Filsafat Hukum, Sinar Grafika 2011
7. Budiono Kusumo Hadidjojo, Filsafat Hukum, Problematika Ketertiban Yang Adil, Manda Maju,, Bandung, 2011
8. Deskartez, Spinoza, Berkeley, Menguak Tabir Pemikiran Filsafat, Sociality Bandung, 2017
9. Bernard L.Tanya, Yoan N. Simajuntak, dan Markus Y. Huge, Teori Hukum, Strategi Tertib Manusia, Lintas Ruang dan Generasi, Genta, 2013
10. Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, PT. Gramdia Pustaka UItama, Jakarta, 2008
11. Fokky Fuad Wasitaamadja, Filsafat Hukum, Akar Religiositas Hukum, Kharisma Putera Utama, 2015
12. Suri Ratnapala, Jurisprudence, Camridge University, 2009 13. The Liang Gie, Teori-Teori Keadilan, Super, Yogyakarta, 1979
14. I Dewa Gede Atmadja, Perdebatan Akan Derajat Keilmuan Dari Ilmu Hukum, Suatu Renungan Filsafat Hukum, Dalam Kartha Patrikha, No.58 Tahun XVIII, Maret 1992
15. Sudikno Martokusumo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bhakti 1993
16. Punadi Purwacaraka dan Soerjono Soekanto,Perihal Kaedah Hukum, Alumni Bandung, 1979.