• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA TATA RUANG WILAYAH

N/A
N/A
Ndaru

Academic year: 2023

Membagikan "RENCANA TATA RUANG WILAYAH"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

TUNJUNGAN

(2)

KAJIAN KEBIJAKAN

KAWASAN PERENCANAN DALAM RENCANA TATA RUANG WILAYAH (PERDA 12 TAHUN 2014)

■ KODIROR JALAN TUNJUNGAN - UNIT PENGEMBANGAN (UP) VI TUNJUNGAN

■ RENCANA STRUKTUR RUANG DALAM UP.VI TUNJUNGAN

Kebijakan Arahan

Fungsi Kegiatan Utama

Pusat Lingkungan pada UP VI Tunjungan memiliki fungsi utama: permukiman, pemerintahan, dan perdagangan dan jasa

Struktur Kegiatan Utama  

Jenis kegiatan:

1. Perdagangan dan Jasa

- Plasa Tunjungan (merupakan perdagangan eksklusif)

- Pasar Turi (perdagangan grosir) - Pasar Blauran (perdagangan emas) - Pasar Praban (perdagangan sepatu) - Pasar Gemblongan/Kramat gantung

(perdagangan mebel, busa, plastik, dsb) - Pasar Kedungdoro (perdagangan onderdil

kendaraan dan jasa pemasangannya) - WTC (pusat perdagangan ponsel) 2. RTH dan Lapangan Olah Raga:

- Taman / jalur hijau - Lapangan olah raga - Makam

Rencana pusat-pusat pelayanan kota dan struktur kegiatan utama Kota Surabaya didukung oleh beberapa fungsi utama kota dengan arahan sebagai berikut:

a. Perdagangan

Kawasan pusat kota juga diarahkan bagi kegiatan perdagangan yang mempunyai spesifikasi tertentu sesuai dengan kecenderungan yang terjadi, misalnya perdagangan barang eksklusif di Jl.Tunjungan, perdagangan emas di Jl.Blauran, dsb. Perkembangan kegiatan perdagangan dan jasa diarahkan untuk kegiatan perdagangan dan jasa yang tidak berpotensi sebagai bangkitan lalu lintas.

b. Ruang Terbuka Hijau

Ruang terbuka hijau dalam bentuk tempat bermain anak-anak, taman, lapangan olah raga, dan makam yang ada, dipertahankan keberadaannya dan lebih meningkatkan kualitasnya.

(3)

■ RENCANA POLA RUANG

Kawasan perdagangan dan jasa dikembangkan berdasarkan jenis perdagangan dan jasa serta skala pelayanan. Jenis pelayanan perdagangan dan jasa meliputi pasar tradisional, pusat perbelanjaan, toko/pasar modern dan kawasan perdagangan khusus. Skala pelayanan perdagangan dan jasa, meliputi skala pelayanan nasional dan internasional, regional dan kota, UP dan lingkungan:

1. Pengembangan pasar tradisional tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya dan di arahkan pada pusat-pusat permukiman kota;

2. Pengembangan pusat perbelanjaan meliputi :

 Pengembangan pada masing – masing pusat UP;

 Pengembangan di kawasan Segiempat Emas Tunjungan dan Segidelapan Darmo;

 Pengembangan toko modern meliputi: perbelanjaan tingkat unit lingkungan yang tersebar di seluruh wilayah;

3. Pengembangan kawasan perdagangan khusus, meliputi :

 kawasan perdagangan elektronik di pasar Genteng;

 kawasan perdagangan grosir di Pasar Turi;

 kawasan perdagangan sepatu di koridor Praban;

 kawasan perdagangan meubel di koridor Kramat Gantung dan Gemblongan;

 kawasan perdagangan emas di koridor Blauran;

 pasar bunga di Kecamatan Genteng, Wonocolo;

 pasar ikan hias di Tegalsari;

4. Pengembangan perdagangan dan jasa yang menyatu dengan prasarana transport, meliputi :

 Pengembangan perdagangan dan jasa menyatu dengan stasiun KA;

 Pengembangan perdagangan dan jasa menyatu dengan terminal;

 Pengembangan perdagangan dan jasa skala internasional dan nasional dilakukan secara terintegrasi melalui pengembangan Segiempat Emas Surabaya yang meliputi UP VI Tunjungan yaitu di kawasan Basuki Rahmat, Embong Malang, Blauran, Praban, Bubutan, Pahlawan, Pasar Turi, Kapas Krampung, Tunjungan;

 Pengembangan perdagangan dan jasa skala UP dan lingkungan tersebar pada setiap pusat UP dan pusat lingkungan perumahan.

5. Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa dilakukan melalui :

 mengembangkan kawasan perdagangan dan jasa secara terpadu termasuk penyediaan lahan bagi pedagang informal maupun dan kawasan budidaya lainnya;

 mengembangkan kawasan perdagangan terpadu dengan pemenuhan kewajiban pengembang/pelaksana dalam penyediaan: prasarana lingkungan, utilitas umum, Ruang Terbuka Hijau, pedagang informal dan fasilitas sosial;

 mengembangkan pusat perbelanjaan yang terpadu dengan pusat jasa, melalui konsep wisata belanja;

 melakukan revitalisasi Pasar Tradisional sebagai salah satu potensi perdagangan Kota Surabaya;

 mengembangkan perdagangan dan jasa di sepanjang jalan baru dengan sistem blok yaitu pada jalan arteri primer, arteri sekunder dan jalan kolektor primer; dan

 Pengaturan mengenai penempatan toko modern dan penyediaan prasarana lingkungan, utilitas umum, Ruang Terbuka Hijau, pedagang informal dan fasilitas sosial pada kawasan perdagangan terpadu akan diatur dalam peraturan tersendiri.

(4)

1. Kawasan Strategis Ekonomi

Kawasan strategis ekonomi di UP Tunjungan terletak di Kawasan Segi Empat Emas Tunjungan dan Sekitarnya. Merupakan kawasan CBD yang dalam perkembanganya mulai mengalami penurunan vitalitas karena tidak harmonisnya kegiatan satu dan lainnya dikawasan tersebut. Pada beberapa sisi kawasan Segiempat Emas Tunjungan sebagai contoh Jalan Tunjungan tingkat intensitas kegiatan komersial cenderung menurun dari setiap waktunya dan terksesan koridor tersebut tidak lagi hidup. Disisi lain perkampungan didalamnya juga menghambat pengembangan konsep superblok di Segi Empat Emas Tunjungan.

Strategi didalam pengelolaan dan pengembangan kawasan ini adalah dengan mengembangkan pusat perdagangan yang sekaligus dapat berfungsi sebagai wisata belanja.

2. Kawasan Bangunan dan Lingkungan Cagar Budaya

Bangunan dan lingkungan pada kawasan Darmo-Diponegoro serta kawasan kampung lama Tunjungan di Kecamatan Tegalsari berada di Unit Pengembangan VI Tunjungan. Kawasan ini pada awalnya merupakan kawasan permukiman penduduk pada masa berjayanya Kerajaan Surabaya atau yang biasa disebut Kraton Surabaya. Kawasan Kampung lama yang masih bertahan hingga kini meliputi Kampung Kraton, Kampung Kepatihan, Perkampungan Jalan Praban, Kawasan Baliwerti, Kawasan Tumenggungan, perkampungan Keputran, Kawasan Lawang Seketheng/Jagalan Pandean, Kawasan perkampungan Kawatan, Perkampungan Simokerto, Perkampungan Peneleh dan Kawasan Perkampungan Darmo.

Strategi di dalam pengelolaan dan pengembangan perkampungan lama ini berupa penetapan sebagai kawasan dan lingkungan cagar budaya, didukung dengan program revitalisasi kampung dengan upaya-upaya teknis terkait.

■ KAWASAN STRATEGIS

(5)

UP VI TUNJUNGAN:

‘Mewujudkan pengembangan kawasan sebagai pusat perdagangan dan jasa skala nasional dan internasional, pusat pemerintahan dan kawasan permukiman yang berkarakter’.

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG

RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

(6)

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

 RENCANA POLA RUANG

A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B9 C1 C2 C3 C4 D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9 D10 D11 D12 E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7

Sempadan Sungai PS-2 0.06 0.45 0.64 0.00 0.99 0.73 0.67 0.07 3.62494

Sempadan Kereta Api PS-5 3.06 2.45 3.20 1.33 0.17 2.81 0.53 4.45 1.09 0.47 0.20 3.11 22.87548

Taman dan Lapangan Olahraga RTH-1

0.04 2.78 0.19 0.19 3.30 0.13 0.00 0.62 1.08 0.53 0.20 0.12 0.12 9.30384

Jalur Hijau RTH-2 0.21 0.07 0.11 0.43 0.22 0.23 0.33 0.04 0.02 0.02 0.04 0.24 0.74 0.36 0.57 0.71 0.00 0.02 0.10 0.04 0.11 0.12 0.13 0.07 0.56 0.22 0.54 0.08 6.31727

Makam RTH-3 1.12 6.92 0.05 0.05 0.02 12.40 2.57 4.20 1.32 0.06 0.54 29.24835

Perumahan Kepadatan Tinggi R-2 24.88 8.46 26.70 21.53 22.68 21.86 14.61 40.86 2.93 1.97 12.80 7.80 9.46 34.72 30.53 13.94 25.85 14.57 1.81 4.13 7.26 7.81 15.19 25.29 20.59 2.00 28.57 22.31 17.90 4.23 4.53 20.66 518.42063

Perumahan Kepadatan Sedang R-3 8.93 4.27 0.32 2.20 0.57 16.29372

Perumahan Kepadatan Rendah R-4

1.78 1.77511

Perdagangan dan Jasa Skala Internasional/ Nasiona; K-4

1.06 4.64 2.48 4.21 2.83 9.84 3.90 6.63 4.25 9.63 8.37 12.80 13.24 9.64 23.41 1.23 9.74 127.89291

Perdagangan dan Jasa Skala Regional/ Kota/ UP K-5

9.16 2.52 12.89 14.17 4.90 4.88 6.01 3.87 5.51 14.33 11.20 3.99 20.11 12.54 4.81 7.56 10.84 20.81 5.70 18.90 4.55 1.05 14.13 4.16 5.06 3.97 6.04 7.37 8.75 0.38 15.59 11.28 2.43 279.45391

Perdagangan dan Jasa Skala

Lokal/ Lingkungan K-6 3.75 2.56 1.87 1.55 0.05 4.86 0.09 0.13 0.07 3.11 2.15 1.94 2.42 4.72 5.15 1.46 9.08 0.24 4.73 8.03 15.09 14.26 8.14 95.44189

Perkantoran Perkantoran Pemerintah KT-1 0.04 0.23 0.05 0.53 2.52 4.21 0.02 0.64 0.15 0.03 0.11 0.04 0.09 0.29 2.67 0.09 0.70 3.77 1.65 0.63 0.25 0.17 0.04 0.03 0.05 0.63 0.61 0.29 0.22 20.72679 20.72679

Pendidikan SPU-1 0.67 0.14 0.11 0.71 2.29 1.74 0.34 0.92 0.96 2.82 0.01 0.64 0.36 0.82 2.11 2.14 4.20 0.85 2.60 0.14 0.97 0.19 0.17 0.63 0.29 0.13 0.24 1.35 0.59 4.02 0.20 0.59 0.36 2.12 36.40414

Transportasi SPU-2 15.20 2.19 17.38864

Kesehatan SPU-3 0.03 0.42 0.79 0.15 0.03 0.04 0.87 1.43 0.56 0.13 0.14 0.08 0.13 0.12 0.04 4.14 0.17 9.26252

Olahraga SPU-4 0.47 0.47372

Sosial dan Budaya SPU-5 0.17 0.23 0.03 0.03 0.16 0.06 0.09 1.06 2.59 0.02 4.44848

Peribadatan SPU-6 0.27 0.20 0.18 0.22 0.02 0.04 0.56 0.04 0.29 0.04 0.40 0.03 0.32 0.24 0.29 0.15 0.28 1.98 0.18 0.09 0.11 0.04 0.56 0.34 0.06 0.20 1.49 0.06 0.37 0.18 0.14 0.06 0.32 0.17 0.13 10.04781

Lainnya SPU-7 0.43 0.43446

Industri Aneka Industri I-4 0.86 1.26 5.44 0.88 8.42714 8.42714

Pertahanan dan Keamanan KH-1 0.10 2.02 1.39 0.08 0.18 0.75 0.07 0.08 0.07 0.21 0.53 5.48243

Instalasi Utilitas KH-5 0.11 0.43 0.35 0.02 0.91003

6.34 3.09 3.76 7.95 8.37 4.71 8.33 8.13 2.37 5.73 8.32 5.56 4.73 8.30 9.28 4.50 8.17 11.18 16.65 3.44 3.12 8.50 4.01 2.77 8.23 6.03 3.64 3.31 7.71 2.44 4.50 5.51 4.62 4.98 6.09 3.59 10.25 10.05 4.49 242.77103 242.77103

0.38 0.76 1.57 0.15 0.28 1.33 1.96 0.25 0.13 0.15 0.60 0.44 1.13 0.56 0.04 0.08 0.12 0.43 0.39 0.37 0.53 0.41 0.35 0.52 0.67 0.74 0.74 0.10 1.51 0.96 0.26 17.91967 17.91967

1.19 1.92 2.50 0.01 3.20 2.75 1.22 3.20 0.70 1.89 0.31 18.90079 18.90079

46.85 35.86 41.43 46.68 55.94 36.54 39.76 62.23 19.03 23.27 38.16 31.31 36.42 87.53 58.98 31.37 57.55 55.06 68.19 13.25 21.70 43.18 34.81 17.91 43.93 32.68 40.70 30.82 37.47 10.04 40.68 41.85 30.79 18.35 29.54 14.81 46.56 42.37 40.64 1504.24570 1504.24570 Peruntukan Khusus

Jalan Saluran Sungai

Luas Total (Ha) Perdagangan dan

Jasa

Sarana Pelayanan

Umum 78.45977

6.39246 Perlindungan

Setempat 26.50042

44.86946

536.48946

502.78871 Ruang Terbuka

Hijau

Perumahan

Zona Subzona Kode Sub UP VI-A Sub UP VI-B Sub UP VI-C Sub UP VI-D Sub UP VI-E

Luas Total (Ha) Luas Total Sub Zona

Intensitas Bangunan Tinggi di Koridor UP VI Tunjungan Sumber: Hasil Perencanaan 2018

(7)

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

SISTEM JARINGAN PEJALAN KAKI

arahan pengembangan jalur pejalan kaki (pedestrian) di wilayah perencanaan sebaiknya diprioritaskan untuk menghubungkan ikon-ikon kota UP VI Tunjungan di sepanjang jalur yang dilewati oleh AMC dan pada jalan-jalan utama. Secara umum pengembangan jalur pedestrian akan diarahkan pada jalan arteri dan jalan kolektor, sebagai berikut:

 Jalan Raya Darmo;

 Jalan Urip Sumoharjo;

 Jalan Basuki Rahmad;

 Jalan Embong Malang;

 Jalan Praban;

 Jalan Bubutan;

 Jalan Pahlawan;

Jalan Tunjungan;

 Jalan Gubernur Suryo;

 Jalan Panglima Sudirman;

 Jalan Pemuda;

■ SISTEM PELAYANAN ANGKUTAN UMUM

Rencana pengembangan angkutan massal cepat (AMC) di Kota Surabaya nantinya akan ditunjang oleh feeder maupun trunk dari segala penjuru Kota Surabaya. Kendaraan feeder yang dimaksud dapat berupa lyn atau bus. Sebagai kawasan pusat kota, UP VI Tunjungan merupakan persimpangan jalur berbagai macam lyn dan bus yang ada di Kota Surabaya, sehingga dapat menunjang keberadaan konsep AMC tersebut.

No. Sistem

J aringan J alan Nama J alan

Eksisting GSP (meter)

1

Arteri Primer

Jalan Demak 35

Jalan Kalibutuh 25

Jalan Kapasari 25

Jalan Kusuma

Bangsa 28

Jalan Kenjeran 30

Jalan Simokerto 25

Jalan Sidotopo Lor 25 Jalan Stasiun

Gubeng 30

Jalan Raya Gubeng 30

Jalan Diponegoro 40

2

Arteri Sekunder

Jalan Panglima

Sudirman 25

Jalan Raya Darmo 35

Jalan Ambengan 20

Jalan Blauran 25

Jalan Genteng Kali 25

Jalan Praban 25

Jalan Kranggan 25

Jalan Bubutan 25

Jalan Kedungdoro 30

Jalan Raya Dupak 40

Jalan Embong

Malang 35

Jalan Gemblongan 20

Jalan Gubernur Suryo

25

Jalan Jagalan 35

Jalan Kalianyar 35

Jalan Basuki

Rahmad 25

Jalan Kapasan 25

Jalan Kramat Gantung

15

Jalan Ngaglik 35

Jalan Pahlawan 20

Jalan Pandegiling 40

Jalan Pasar Besar 40

Jalan Pemuda 20

Jalan Kapas

Krampung 35

Jalan Tidar 25

Jalan Tembaan 40

Jalan Tunjungan 20

Jalan Urip

Sumoharjo 35

■ RENCANA JARINGAN PRASARANA

(8)

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

■ SISTEM JARINGAN PERKERETAAPIAN

Rencana pengembangan sistem jaringan perkeretaapian di UP VI Tunjungan dijabarkan sebagai berikut:

a. Pengoptimalan jalur kereta api yang sudah ada;

b. Pengembangan jalur perkeretaapian ganda;

c. Pengembangan jalur angkutan massal berbasis rel yang menghubungkan Wonokromo – Tunjungan – Perak;

d. Pengembangan jalur angkutan massal berbasis rel rute

Lidah Kulon – Lontar – HR Muhammad – Joyoboyo –

Wonokromo – Ngagel – Gubeng – Dharmahusada –

UNAIR C – Kertajaya Indah – ITS - Mulyosari –

Kejawan.

(9)

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

■ RENCANA SUB UP YANG DIPRIORITASKAN PENANGANANNYA

Tema penanganan: perbaikan dan peningkatan kawasan dalam rangka memberi ruang yang cukup bagi keberlangsungan pengembangan pusat perdagangan dan jasa, permukiman, dan pusat pemerintahan yang memperhatikan keberadaan daya dukung infrastruktur kawasan.

1. Penataan kawasan perdagangan dan jasa skala internasional/nasional

 penataan intensitas bangunan dan tata bangunan

 pengembangan fasilitas pendukung 2. Pengembangan RTH

 Pengembangan taman untuk ruang publik

 Pengembangan jalur hijau 3. Penataan koridor jalan (AMC)

 penataan intensitas bangunan di sekitar jalur AMC;

 pengembangan jalur pejalan kaki prioritas di sepanjang koridor AMC;

 pengembangan halte/stasiun pada titik-titik yang telah ditentukan; dan

 penataan wajah bangunan dan pelengkap jalan.

4. Penataan kawasan perumahan

 peningkatan kualitas lingkungan perumahan dengan partisipasi masyarakat;

 pengembangan sarana dan prasarana pendukung perumahan; dan

 pengembangan aksesibilitas yang menghubungkan perkampungan dengan AMC 5. Penataan kawasan cagar budaya

 penataan intensitas bangunan dan tata bangunan;

 pemeliharaan bangunan cagar budaya;

 mempertahankan keaslian tampilan bangunan; dan

 mengendalikan perubahan fungsi bangunan dan kegiatan.

Dalam UP VI Tunjungan penetapan Sub Unit Pengembangan yang diprioritaskan penanganannya yang berfungsi sebagai:

a. Dasar penyusunan RTBL dan rencana teknis pembangunan sektoral;

b. Dasar pertimbangan dalam penyusunan indikasi program prioritas RDTR.

(10)

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

■ INTENSITAS BANGUNAN

(11)

Zona Ketinggia

n

Ketinggia n Maksimu

m

Ketentuan

1 250 m Jalan arteri sekunder di kaki suramadu dan pelabuhan Teluk Lamong

2 200 m Area CBD dan area di simpul dari koridor zona 3-3 yang dilalui MRT atau di simpul koridor zona 2-3

3 150 m Persil yang menghadap jalan arteri sekunder yang dilalui MRT atau area di simpul dari koridor zona 3 & 4, atau zona 4-4

4 100 m Persil yang menghadap jalan kolektor atau area lapis kedua & berikutnya di koridor/simpul zona 150

5 50 m Persil yang menghadap jalan kolektor atau area lapis kedua & berikutnya di koridor zona 100

Di luar

zona 40 m Mengikuti ketentuan dasar dari peraturan zonasi

Pengaturan sub zona K-4 pada UP VI Tunjungan dibatasi ketinggian maksimum 200 (dua ratus) meter sedangkan pengaturan sub zona K-5 pada UP VI Tunjungan dibatasi ketinggian maksimum 150 (seratus lima puluh) meter.

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

■ KETENTUAN KHUSUS

(12)

Adapun pengaturan pada bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya meliputi:

1. kegiatan dan jenis kegiatan yang diizinkan mengikuti sub zona yang bertampalan

2. KDB diizinkan 100 (seratus) persen apabila mempertahankan bangunan eksisting

3. GSP dapat disesuaikan dengan kondisi eksisting apabila mempertahankan bangunan eksisting

4. GSB dapat disesuaikan dengan kondisi eksisting apabila mempertahankan bangunan eksisting

5. perlakuan terhadap bangunan dan/ atau lingkungan cagar budaya tetap memperhatikan rekomendasi Tim Cagar Budaya dan mengikuti ketentuan yang diatur pada peraturan tersendiri.

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

■ KETENTUAN KHUSUS

(13)

RAWAN BENCANA BANJIR/GENANGAN

Ketentuan intensitas yang berlaku adalah juga sesuai dengan ketentuan dasar teks zonasi, namun terdapat pengecualian berupa:

- Tidak dizinkan KDB 0% bagi pengajuan izin baru seperti pada pengajuan izin bangunan rumah di R2.

- KDH minimal yang diizinkan adalah 10% untuk kelompok kegiatan perumahan, dan untuk kegiatan lainnya diizinkan sesuai dengan aturan dalam teks zonasi.

- Ketinggian bangunan untuk kepentingan publik, terutama pada zona SPU dapat diizinkan sedikit lebih tinggi (maksimal 1 lantai) dari ketentuan jika difungsikan sebagai bangunan evakuasi bencana dalam rangka meningkatkan daya tampungnya. Toleransi ketinggian juga dapat diberikan dengan kompensasi penurunan KDB maksimal atau peningkatan KDH minimal.

RAWAN BENCANA KEBAKARAN

Ketentuan khusus mengenai rawan bencana kebakaran adalah:

 pengoptimalan dan penyediaan jaringan pelayanan hidran umum pada lokasi-lokasi strategis dan permukiman kota.

 Ketentuan GSB pada jalan lingkungan yang menjadi akses utama bagi mobil pemadam kebakaran atau pada jalan dengan lebar rencana 3 m tidak berlaku ketentuan minimal 0 m. Ketentuan GSB yang diizinkan adalah minimal 1 m pada kegiatan yang zona GSB- nya ditetapkan sebesar 0 m.

KAWASAN PERENCANAAN DALAM PERDA NO.8 TAHUN 2018 TENTANG RDTR DAN PERATURAN ZONASI KOTA SURABAYA 2018-2038

■ KETENTUAN KHUSUS

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa RTH kota DKI Jakarta saat ini tidak sesuai dengan perda yang telah diatur, karena berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji arahan fungsi dan menghasilkan peta yang berisi zonasi-zonasi fungsi kawasan hutan yang optimal di wilayah Kota Palangka

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji arahan fungsi dan menghasilkan peta yang berisi zonasi-zonasi fungsi kawasan hutan yang optimal di wilayah Kota Palangka

Selain batasan- batasan kawasan, peta pola ruang pada RDTR tersebut juga menggambarkan kawasan yang pemanfaatannya sebagai kawasan lindung, seperti Kawasan Terbuka

Note: Peta Dasar Skala Besar yang dibutuhkan untuk penyusunan RDTR berdasarkan Permen PU No.. Kesiapan Data dan Informasi

5 2.2 Hasil dan Pembahasan 2.2.1Efektivitas Izin Mendirikan Bangunan Sebagai Salah Satu Pengendalian Pemanfaatan Ruang Di Kabupaten Buleleng Perda Kabupaten Buleleng Nomor 9

Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten dilaksanakan berdasarkan tema pengembangan dan karakteristik wilayah perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat 3 untuk Sleman