• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Keperawatan Psikiatri

N/A
N/A
Nabila Nada Maisa

Academic year: 2024

Membagikan " Resiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Keperawatan Psikiatri"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN KEPERAWATAN PSIKIATRI

Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Tugas Praktik Early Expousure Mata Kuliah Keperawatan Psikiatri

Disusun Oleh : Nabila Nada Maisa

NIM 2419010095 Kelas 5B

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

TAHUN 2024

(2)

A. Kasus (Masalah Utama) Resiko Perilaku Kekerasan B. Proses Terjadinya Masalah

1. Definisi

Risiko perilaku kekerasan merupakan hal yang dapat membahayakan secara fisik, emosi dan seksual pada diri sendiri ataupun orang lain (SDKI, 2017). Risiko periaku kekerasan merupakan perilaku yang menunjukan bahwa dirinya mampu membahayakan dirinya sendiri dan orang lain baik secara fisik, emosional dan seksual (NANDA, 2018).

Menurut (Sutejo, 2019) risiko perilaku kekerasan terbagi menjadi dua yaitu risiko perilaku kekeraan pada diri sendiri (risk for self-directed) dan risko peilaku kekerasan pada orang lain (risk for other-directed).

2. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi resiko perilaku kekerasan meliput sebagai berikut (Kandar, 2019) : a. Faktor genetik : Faktor genetik tidak mempengaruhi terjadinya perilaku

kekerasan pada partisipan.

b. Faktor psikologis : Beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku kekerasan antara lain:

 Kepribadian tertutup: individu dengan kepribadian tertutup cenderung menyimpan masalah emosional, yang dapat memicu gangguan jiwa.

 Kehilangan : perasaan kehilangan yang mendalam dapat memicu gangguan jiwa dan meningkatkan risiko kekerasan.

 Aniaya seksual : pengalaman kekerasan seksual dapat menyebabkan pasien berisiko mengalami perilaku kekerasan.

 Kekerasan dalam keluarga : kekerasan dalam lingkungan keluarga juga mempengaruhi perilaku kekerasan.

c. Faktor sosial budaya : Faktor sosial budaya yang mempengaruhi perilaku kekerasan meliputi :

(3)

 Pekerjaan : kesulitan dalam pekerjaan, seperti berganti-ganti pekerjaan dan penghasilan yang rendah, dapat menyebabkan stres dan kemarahan.

 Pernikahan : pengalaman buruk dalam pernikahan, seperti ditinggal pasangan, juga dapat memicu perilaku kekerasan.

3. Faktor Presipitas

a. Faktor genetik : Putus obat meningkatkan risiko perilaku kekerasan, dipicu oleh efek samping obat, kurangnya pengingat kontrol, dan keinginan pasien untuk berhenti minum obat.

b. Faktor psikologis : Konsep diri yang buruk memicu risiko perilaku kekerasan.

c. Faktor sosial budaya : Konflik lingkungan dan ketidakharmonisan menjadi stressor yang memicu gangguan jiwa, kemarahan, dan ucapan kasar (Kandar, 2019).

4. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan adalah sebagai berikut : a. Fisik

 Muka merah dan tegang

 Mata melotot/ pandangan tajam

 Tangan mengepal

 Rahang mengatup

 Postur tubuh kaku b. Verbal

 Bicara kasar

 Suara tinggi, membentak atau berteriak

 Mengancam secara verbal atau fisik

(4)

c. Perilaku

 Melempar atau memukul benda/orang lain

 Menyerang orang lain

 Melukai diri sendiri/orang lain

 Merusak lingkungan

 Amuk/agresif

C. Dasar Penetapan Masalah Klien D. Diagnose Keperawatan

E. Rencana Tindakan Keperawatan

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian studi kasus ini adalah menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien risiko perilaku kekerasan dengan pemberian teknik mengontrol perilaku

Berdasarkan hasil study yang didapat bahwa terapi musik dapat menurunkan tanda dan gejala perilaku kekerasan pada klien resiko perilaku kekerasan, studi ini

Pada hari Selasa, 19 April 2022 jam 10.00 WIB tindakan keperawatan yang sudah dilakukan antara lain : mengidentifikasi tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan

Perencanaan tindakan dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2018, saat melakukan tindakan keperawatan pada diagnosa Resiko perilaku kekerasan pada tanggal 12 Maret 2018 pukul 10.00

Diagnosa resiko perilaku kekerasan, penulis membuat rencana keperawatan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan masalah resiko perilaku kekerasan dapat

ii KARYA ILMIAH AKHIR NERS ASUHAN KEPERAWATAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI BALI TAHUN 2022 Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu

Salah satu tindakan non farmakologis pada pasien resiko perilaku kekerasan yaitu dengan terapi relaksasi napas dalam yang mana dengan relaksasi napas dalam dapat mengambil “waktu” dari

Laporan pendahuluan tentang harga diri rendah sebagai masalah utama dalam keperawatan