MAKALAH
Respon Internasional Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Disusun Oleh : Kelompok DINA FITRIA ENDA YULITA RAHMA
ENTRIS ERIK Kelas : XII IPS 2
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Respon Internasional Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas kelompok mata pelajaran Sejarah Minat.
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.
Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dan Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.
Sirenja, 18 Juli 2024 Kelompok 1 XII IPS
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……….
DAFTAR ISI ……….
BAB I PENDAHULUAN ………
A. Latar Belakang ………
B. Rumusan Masalah ………
BAB II PEMBAHASAN………
A. Respon Belanda terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ………..
B. Respon PBB terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ……….
BAB III PENUTUP ……….
A. Kesimpulan ………..
B. Saran ………
DAFTAR PUSTAKA ………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemerdekaan Indonesia menandai berakhirnya masa pendudukan Jepang di wilayah yang dahulu lebih dikenal dengan nama Hindia-Belanda. Kekalahan Jepang terhadap Sekutu dalam Perang Dunia II menyebabkan kekosongan pemerintahan di Hindia-Belanda, sehingga akibat dari kekosongan itu dimanfatkan oleh golongan nasionalis untuk memerdekakan wilayah itu dengan nama Indonesia. Oleh karena Jepang telah meninggalkan Indonesia, membuat Belanda merasa berhak kembali atas wilayah itu. Keinginan Belanda itu tidak terlepas dari serangkaian perjanjian pasca Perang Dunia II antar Jepang dengan Sekutu, di mana salah satu poinnya adalah negara-negara yang diduduki Jepang selama Perang Dunia II harus dikembalikan kepada penguasa asalnya.
Hal inilah yang menjadi alasan bagi Belanda merasa bahwa Hindia-Belanda (Indonesia) adalah wilayah kekuasaanya.Oleh Karena itu belanda melakukan beberapa aksi di Indonesia untuk merebut kembali kekuasaannya tetapi hal ini tidak diterima oleh rakyat Indonesia karena merdeka merupakan harga mati sehingga terjadilah perlawanan antara rakyat Indonesia dengan belanda yaitu Pertempuran Surabaya, Pertempuran lima hari di Semarang, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Bandung Lautan Api, dan Puputan Margarana di Bali. Selain itu belanda juga melakukan Aksi Polisionil yang dilakukan pada tahun 1947 dalam sejarah Indonesia lebih dikenal dengan istilah Agresi Militer Belanda I dan pada tahun 1948 dikenal dengan istilah Agresi Militer Belanda II. Disebut agresi militer sebab Belanda mengirimkan kekuatan militernya masuk dan melakukan penyerangan terhadap wilayah negara Indonesia. Sehingga Agresi Militer yang dilakukan Belanda mendapat kecaman dari Dewan keamanan PBB untuk segera mengakhiri agresinya terhadap Indonesia dan juga terdapat kecaman dari Amerika Serikat yang akan memberikan bantuan ekonomi kepada Belanda jika masih melakukan agresinya terhadap Indonesia. Dengan demikian konflik bersenjata antara Indonesia dengan Belanda dapat diakhiri dan melanjutkannya ke meja perundingan pada tahun 1949 di dalam Konferensi Meja Bundar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Respon Belanda terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?
2. Upaya apa yang dilakukan belanda untuk menjajah kembali Indonesia?
3. Mengapa belanda ingin menjajah kembali Indonesia?
4. Bagaimana Jalannya Perlawanan rakyat Indonesia terhadap aksi aksi yang dilakukan belanda?
5. Bagaimana Respon PBB terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?
6. Upaya apa yang dilakukan PBB untuk menyelesaikan Konflik antara Indonesia dan Belanda?
BAB II PEMBAHASAN
A. Respon Belanda terhadap Ploklamasi Kemerdekaan Indonesia
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tetapi Belanda tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia, dan berupaya kembali ke Indonesia dengan membonceng kedatangan pasukan Sekutu yang bertujuan melucuti pasukan Jepang dan mengembalikan pasukan Jepang ke negaranya.
Belanda lalu mendirikan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda untuk membentuk kembali pemerintahan Hindia Belanda dan menjadikan kembali Indonesia sebagai wilayah jajahan Belanda. Pada 24 Agustus 1945 Belanda dan Inggris menandatangani Civil Affairs Agreement (CAA) yang memiliki kesepakatan penyerahan wilayah Indonesia yang telah “dibersihkan” oleh tentara Inggris kepada Belanda.
Keturutsertaan Inggris terhadap Indonesia disebabkan Inggris terikat dengan Perjanjian Postdam di mana Inggris bertanggung jawab atas pendudukan kembali Indonesia.
Pasukan Sekutu yang memenangkan perang memiliki tugas untuk menerima penyerahan pasukan dan melucuti persenjataan Jepang. Pasukan Sekutu yang ditugaskan adalah pasukan Allied Forces Netherlands Indies (AFNEI) yang merupakan bagian dari South East Asia Command (SEAC).
Adapun tugas AFNEI di Indonesia adalah;
1. Menerima penyerahan kekuasaan dari tentara Jepang tanpa syarat, melucuti dan mengembalikannya ke tanah airnya.
2. Membebaskan APWI (Allied Prisoners and War Internees), tugas ini disebut RAPWI (Recovery of Allied Prisoners and War Internees), atau biasa diartikan sebagai tugas membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu.
3. Menjaga keamanan dan ketertiban sehingga memungkinkan pemerintah sipil berfungsi kembali.
4. Mencari keterangan untuk menyelidiki pihak-pihak yang dianggap sebagai penjahat perang dan mengadilinya.
Masuknya pasukan sekutu ke Indonesia ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali menguasai dan menjajah Indonesia. Selain itu usaha Belanda yang lain untuk melemahkan negara Indonesia adalah melalui Blokade Laut (Blokade Ekonomi) pada November 1945.
Blokade ini bertujuan untuk menutup pintu keluar-masuk perdagangan Indonesia.
Blokade laut ini jika dirinci tujuannya terdiri dari:
1. Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belada dan milik asing.
2. Mencegah dimasukkannya senjata dan peralatan militer ke Indonesia.
3. Melindungi Indonesia dari tindakan-tindakan bangsa lain.
Dari blockade tersebut Belanda mengharapkan memburuknya perekonomian Indonesia, sebab tentunya hasil dari blokade itu adalah:
1. Barang ekspor Indonesia terlambat dikirim.
2. Indonesia kekurangan bahan impor yang sangat dibutuhkan, terutama tekstil, obat-obatan dan persenjataan.
3. Barang ekspor Indonesia tidak dapat dikirimkan, bahkan barang-barang tersebut di bumi hanguskan.
Setelah terjadinya kekacauan ekonomi di Indonesia, maka harapan Belanda selanjutnya adalah:
1. Dapat menekan Indonesia untuk menyerah dan dapat kembali dikuasai oleh Belanda.
2. Agar terjadi kerusuhan sosial yang dikarenakan rakyat tidak percaya kepada pemerintah.
Indonesia dan Belanda dapat dengan mudah berkuasa kembali di Indonesia. Melalui Dr.
Hubertus J. van Mook atas nama Ratu Belanda, memimpin pasukan Belanda masuk ke wilayah Indonesia untuk membentuk negara persemakmuran Hindia-Belanda melalui Netherland Indies Civil Adiminstration (NICA). Mesikipun NICA sesungguhnya adalah para pegawai sipil Belanda, namun pihak Belanda juga menyertakan pasukan militernya untuk mengawal NICA dan menjaga keamanan di Indonesia. Tindakan dan strategi awal NICA dan pasukan militernya adalah menduduki kembali pusat pemerintahan Indonesia yang dulu pernah dikuasai oleh Belanda yaitu Jakarta.
Rakyat Indonesia dengan tegas menginginkan pihak Belanda untuk keluar meninggalkan Indonesia dan mengakui kemrdekaan sekaligus kedaulatan Republik Indonesia. Di sisi lain pihak Belanda tidak memberikan respon positif dan tidak mau mengakui kemerdekan dan kedaulatan Indonesia. Hal ini karena Belanda memiliki tujuan untuk tetap membentuk negara persemakmuran Hindia-Belanda. Keputusan pihak Belanda ini jelas-jelas mendapatkan tantangan dan reaksi keras dari bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang telah mencapai kemerdekan dengan perjuangan dan pengorbanan besar tidak ingin dijajah dan dikuasai lagi oleh pihak asing.
Perbedan pandangan dan tujuan antara Indonesia dengan Belanda tidaklah melahirkan sebuah kesepakatan. Hal ini menyebabkan munculnya respon dari rakyat Indonesia kepada Belanda di berbagai wilayah berupa perlawanan untuk mengusir Belanda dari kedaulatan Indonesia. Pasukan Belanda yang dibantu oleh Sekutu dan terutama oleh Inggris pun melakukan serangkaian operasi militer untuk menguasai wilayah Indonesia. Operasi Militer yang dilakukan ini mengakibatkan banyak terjadi pertempuran antara rakyat Indonesia melawan militer Sekutu.
Beberapa pertempuran yang terjadi antar Indonesia dengan Sekutu antara lain adalah:
1. Pertempuran Surabaya
Pertempuran di Surabaya dilatarbelakangi oleh kedatangan pasukan sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherland East Indies (NICA) pada 25 Oktober 1945 atau dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pasukan sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sother Mallaby langsung masuk ke Kota Surabaya dan mendirikan pos-pos pertahanan.Kedatangan pasukan sekutu awalnya untuk mengamankan tawanan perang, melucuti senjata Jepang, atau menjaga ketertiban di berbagai daerah di Indonesia salah satunya Surabaya.
Namun, kenyataannya pasukan sekutu yang kebanyakan pasukan Inggris menyimpang.
Pada 27 Oktober 1945, pasukan sekutu menyerbu penjara membebaskan tawanan perwira sekutu yang ditahan Indonesia. Pasukan sekutu juga menduduki tempat-tempat vital. Seperti lapangan terbang, kantor radio, radio Surabaya, gedung internatio, dan pusat kereta api. Pasukan sekutu menyebarkan famplet yang isinya agar masyarakat menyerahkan senjata yang dimilikinya. Namun masyarakat Surabaya menolak, apalagi harus mengangkat tangan.
Kondisi itu membuat masyarakat Surabaya marah dan semakin anti sekutu. Pada 28 Oktober 1945, pejuang Indonesia menyerang pos pertahanan. Aspirasi perlawanan terhadap sekutu dikumandangkan oleh Bung Tomo menggunakan radio. Dia, dengan berapi-api memberikan semangat kepada masyarakat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1945, para pemuda Surabaya bersemangat untuk mengusir sekutu dan mempertahankan kedaulatan. Dengan penuh semangat, akhirnya masyarakat Surabaya mampu merebut tempat-tempat vital. Sempat ada perundingan antara Pemerintah Indonesia yang diwakili Preside Soekarno, Moh Hatta dan Amir Syarifuddin dan sekutu, tapi pertempuran tetap terjadi.
Pada 31 Oktober 1945, Brigader Mallaby tewas dan menyulut kemarahan pihak sekutu.
Pihak sekutu memperingatkan masyarakat Surabaya untuk menyerah, jika tidak akan dihancurkan. Namun masyarakat Surabaya tidak mau memenuhi tuntutan pihak sekutu.
Puncak pertempuran Surabaya terjadi pada 10 November 1945.
Pasukan sekutu melakukan penyerangan di Kota Surabaya dan pejuang Indonesia tidak gentar malah bersemangat berjuang. Dalam menghadapi sekutu, senjatan yang dipakai pejuang tidak hanya senjata tapi juga bambu runcing. Tak sedikit pejuang Indonesia gugur dalam pertempuran tersebut mencapai 20.000 orang, sementara dari pihak sekutu mencapai 1.500 orang.
Pertempuran terakhir terjadi pada 28 November 1945. Semangat para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan membuat Presiden Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Ini ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Pertempuran di Surabaya tersebut berlangsung selama tiga minggu. Kerugian jiwa di pihak Indonesia cukup banyak dan mencapai ribuan. Penduduk banyak mengungsi meninggalkan Kota Surabaya. Selain itu banyak bangunan-bangunan rusak dan hancur.
2. Pertempuran Lima Hari di Semarang
Peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang melibatkan sisa-sisa pasukan Jepang di Indonesia dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atau angkatan perang Indonesia saat itu sebelum menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan pada 17 Agustus 1945, masih cukup banyak prajurit Jepang yang belum bisa pulang ke negaranya. Tidak sedikit serdadu Jepang yang dipekerjakan, misalnya di pabrik-pabrik atau sektor lain. Seiring dengan itu, pasukan Sekutu, termasuk Belanda, mulai datang ke Indonesia dengan maksud melucuti senjata dan memulangkan para mantan tentara Jepang yang masih tersisa. pada 14 Oktober 1945 terjadi perlawanan dari 400 mantan tentara Dai Nippon Jepang yang dipekerjakan di pabrik gula Cepiring yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Semarang. Saat itu, mereka akan dipindahkan ke Semarang, namun melarikan diri dari pengawalan. Ratusan bekas serdadu Jepang tersebut melakukan perlawanan dan kabur ke daerah Jatingaleh. Di sana, mereka bergabung dengan pasukan batalion Kidobutai yang dipimpin oleh Mayor Kido.
Upaya penentangan dari para mantan prajurit Jepang mulai terlihat di Semarang. Mereka bergerak melakukan perlawanan dengan alasan mencari dan menyelamatkan orang-orang Jepang yang ditawan. Pertempuran Lima Hari di Semarang dimulai sejak 15 hingga 20 Oktober 1945.
Pada dini hari tanggal 15 Oktober, kurang lebih 2.000 orang dari Kidobutai mendatangi Kota Semarang.
Kedatangan mereka ternyata disambut oleh angkatan muda Semarang dengan dukungan TKR. Pertempuran pun terjadi selama lima hari antara kedua pihak. Ternyata, Kidobutai juga didampingi oleh pasukan Jepang lain di bawah pimpinan Jenderal Nakamura. Perang ini terjadi di empat titik di Semarang, yakni daerah Kintelan, Pandanaran, Jombang, dan di depan Lawang Sewu (Simpang Lima). Lokasi konflik yang disebut banyak menelan korban dan berdurasi paling lama adalah di Simpang Lima atau yang kini disebut daerah Tugu Muda.
Agar pertikaian tidak berlarut-larut, maka digelar perundingan untuk mengupayakan gencatan senjata. Kasman Singodimedjo dan Mr. Sartono mewakili Indonesia, sedangkan dari Jepang hadir Letnan Kolonel Nomura, Komandan Tentara Dai Nippon. Selain itu, ada pula perwakilan dari pihak Sekutu yakni Brigadir Jenderal Bethel. Perdamaian antara kedua belah pihak pun terjadi.
Pada 20 Oktober 1945, pihak Sekutu melucuti seluruh persenjataaan para tentara Jepang.
Peristiwa Pertempuran Lima Hari kemudian dikenang dengan pembangunan Tugu Muda di Simpang Lima, Kota Semarang.
3. Pertempuran Ambarawa
Pertempuran Ambarawa adalah pertempuran yang terjadi antara Tentara Indonesia dengan Tentara Inggris. Peristiwa ini terjadi antara 20 Oktober sampai 15 Desember 1945 di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pertempuran Ambarawa dimulai saat pasukan Sekutu dan NICA atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda mulai mempersenjatai tawanan perang Belanda di Ambarawa dan Magelang. Hal ini kemudian memicu kemarahan pada
penduduk setempat. Hubungan pun semakin runyam saat Sekutu mulai melucuti senjata anggota Angkatan Darat Indonesia.
Peristiwa Pertempuran Ambarawa dimulai saat terjadi insiden di Magelang. Pada 20 Oktober 1945, Brigade Artileri dari Divisi India ke-23 atau militer Inggris mendarat di Semarang yang dipimpin oleh Brigadir Bethell. Oleh pihak Republik Indonesia, Bethell diperkenankan untuk mengurus pelucutan pasukan Jepang. Ia juga diperbolehkan untuk melakukan evakuasi 19.000 interniran Sekutu (APW) yang berada di Kamp Banyu Biru Ambarawa dan Magelang.
Tetapi, ternyata mereka diboncengi oleh orang-orang NICA (Netherland Indies Civil Administration) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.
Mereka kemudian mempersenjatai para tawanan Jepang. Pada 26 Oktober 1945, insiden ini pecah di Magelang. Pertempuran pun berlanjut antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan tentara Inggris. Pertempuran sempat berhenti setelah kedatangan Presiden Soekarno dan Brigadir Bethell di Magelang pada 2 November 1945. Mereka pun mengadakan perundingan untuk melakukan gencatan senjata.
Melalui perundingan tersebut tercapai sebuah kesepakatan, antara lain:
Pihak Inggris akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melakukan kewajibannya melindungi dan mengurus evakuasi APW.
Jalan raya Magelang-Ambarawa terbuka bagi lalu lintas Indonesia dan Inggris.
Inggris tidak akan mengakui aktivitas NICA dalam badan-badan yang berada di bawah kekuasaannya. Sayangnya, pihak Inggris mengingkari perjanjian tersebut.
Kesempatan dan kelemahan yang ada dalam pasal tersebut dipergunakan Inggris untuk menambah jumlah pasukannya yang berada di Magelang. Pada 20 November 1945, di Ambarawa pecah pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pasukan Inggris. Pada 21 November 1945, pasukan Inggris yang berada di Magelang ditarik ke Ambarawa dan dilindungi oleh pesawat-pesawat udara.
Pertempuran mulai berkobar pada 22 November 1945, saat pasukan Inggris melakukan pengeboman terhadap kampung-kampung di sekitar Ambarawa. Pasukan TKR bersama pasukan pemuda lain yang berasal dari Boyolali, Salatiga, dan Kartasura membentuk garis pertahanan sepanjang rel kereta api dan membelah Kota Ambarawa.
Dari arah Magelang, pasukan TKR dari Divisi V/Purwokerto di bawah pimpinan Imam Adrongi melakukan serangan fajar. Serangan ini bertujuan untuk memukul pasukan Inggris yang berkedudukan di Desa Pingit. Pasukan Imam pun berhasil menduduki Pingit. Sementara itu, kekuatan di Ambarawa semakin bertambah dengan datangnya tiga batalion yang berasal dari Yogyakarta. Mereka adalah Batalio 10 Divisi X di bawah pimpinan Mayor Soeharto, Batalion 8 di bawah pimpinan Mayor Sardjono, dan Batalion Sugeng. Meskipun tentara Inggris sudah dikepung, mereka tetap mencoba menghancurkan kepungan tersebut. Kota Ambarawa dihujani dengan tembakan meriam. Untuk mencegah jatuhnya korban, TKR diperintahkan untuk mundur ke Bedono oleh masing-masing komandannya. Bala bantuan dari Resimen 2 dipimpin M. Sarbini dan Batalion Polisi Istimewa dipimpin Onie Sastoatmodjo serta Batalion dari Yogyakarta berhasil menahan gerakan musuh di Desa Jambu. Di Desa Jambu terjadi rapat koordinasi dipimpin oleh Kolonel Holand Iskandar. Rapat ini menghasilkan terbentuknya suatu komando yang disebut Markas Pimpinan Pertempuran bertempat di Magelang.
Pada 26 November 1945, salah satu pimpinan pasukan harus gugur. Ia adalah Letnan Kolonel Isdiman, pemimpin pasukan asal Purwokerto. Posisinya pun digantikan oleh Kolonel Soedirman. Sejak saat itu, situasi pertempuran berubah semakin menguntungkan pihak TKR.
Pada 5 Desember 1945, musuh berhasil terusir dari Desa Banyubiru.
Pada 11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mengadakan perundingan dengan mengumpulkan para komandan sektor. Berdasarkan dari laporan para komandan sektor, Kolonel Soedirman menyimpulkan bahwa posisi musuh sudah terjepit.
Maka perlu segera dilancarkan serangan terakhir, yaitu:
Serangan pendadakan dilakukan serentak dari semua sektor.
Tiap-tiap komandan sektor memimpin serangan.
Para pasukan badan-badan perjuangan (laskar) disiapkan sebagai tenaga cadangan.
Serangan akan dimulai pada 12 Desember pukul 04.30.
Pada 12 Desember 1945, pasukan TKR bergerak menuju target masing-masing. Dalam kurun waktu 1,5 jam, mereka sudah berhasil mengepung kedudukan musuh dalam kota. Kota Ambarawa dikepung selama empat hari empat malam. Pasukan Inggris yang sudah merasa terdesak berusaha untuk memutus pertempuran. Pada 15 Desember 1945, pasukan Inggris meninggalkan Kota Ambarawa dan mundur ke Semarang.
4. Pertempuran Medan Area
Sukarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia telah menyatakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Kabar gembira tersebut baru sampai ke rakyat Medan 10 hari berselang atau pada 27 Agustus 1945. Namun, kedatangan pasukan Sekutu yang disertai oleh NICA atau balatentara Belanda membuat rakyat dan kaum pejuang di Sumatera Utara merasa terusik.
Di Medan, Belanda mulai menunjukkan pergerakan yang mencurigakan. NICA mengumpulkan para mantan serdadu Belanda di Medan untuk membentuk kembali kekuatan militer mereka. Para pemuda di Medan pun segera mengambil sikap. Dimotori oleh Ahmad Tahir yang pernah bergabung dengan tentara sukarela (gyugun) pada masa pendudukan Jepang, dibentuklah Barisan Pemuda sebagai tindakan antisipasi. Barisan Pemuda di Medan punya ciri khas, yakni mengenakan lencana merah-putih.
Tanggal 13 Oktober 1945, tentara Belanda menginjak-injak lencana kebanggaan tersebut.
Insiden inilah yang memicu pecahnya perang di Medan. Dalam peristiwa yang disebut Pertempuran Medan Area itu, pihak republik berhasil melumpuhkan hampir 100 orang serdadu Belanda. Hal ini membuat militer Belanda murka dan menetapkan sejumlah aturan. Ditegaskan oleh Belanda bahwa rakyat Indonesia di Medan tidak boleh membawa senjata. Mereka yang masih membawa senjata diwajibkan menyerahkannya kepada pihak Belanda atau Sekutu. Tentu saja, rakyat Medan tidak mematuhi aturan tersebut.
Tanggal 1 Desember 1945, Sekutu menetapkan beberapa garis batas di beberapa titik kota Medan. Simbol pembatas ini adalah papan-papan yang di dalamnya terdapat tulisan Fixed Boundaries Medan Area. Penyebutan ‘Medan Area’ sebagai nama pertempuran ini diklaim berawal dari papan tersebut. Konflik kian membara.
Terjadilah peperangan lagi pada 10 Desember 1945. Pasukan RI di bawah komando Abdul Karim meladeni tentara Sekutu atau Belanda di Deli Tua. Di Kota Medan, Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran. Tercatat dalam Sejarah Nasional Indonesia VI (1984) karya Marwati Djoened Poesponegoro dan kawan-kawan, kaum rakyat pejuang di Medan meladeni serbuan tersebut. Perang yang terjadi membuat jatuhnya banyak korban dari kedua belah pihak. Buku Republik Indonesia: Sumatera Utara (1953), mencatat, kala itu Kota Medan digempur peperangan, situasi kacau-balau, para prajurit Sekutu melakukan berbagai tindakan keji yang membuat rakyat Medan kian murka.
Sekutu dan NICA akhirnya berhasil menduduki Kota Medan pada April 1946. Pusat perjuangan rakyat Medan pun terpaksa digeser ke Pematang Siantar. Kendati begitu, masih terjadi perlawanan, termasuk pada 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi. Para komandan pasukan RI yang berjuang di Medan kemudian bertemu dan membentuk satuan komando bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Tanggal 19 Agustus 1946, dibentuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI) di Kabanjahe. BPI menjadi salah satu unsur pembentuk Badan Keselamatan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Laskar-laskar rakyat di berbagai daerah di Sumatera Utara terus melancarkan perlawanan terhadap Sekutu dan
NICA meskipun Kota Medan telah diduduki. Tak hanya di Sumatera Utara, gelora perlawanan juga terjadi di berbagai daerah lain di Sumatera, seperti Padang, Bukittinggi, Aceh, dan lainnya.
5. Pertempuran Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api diawali dengan datangnya pasukan Sekutu/Inggris pada 12 Oktober 1945. Beberapa pekan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang ke Indonesia usai memenangkan Perang Dunia II melawan Jepang. Mohamad Ully Purwasatria dalam penelitian bertajuk "Peranan Sukanda Bratamanggala dan Sewaka di Bandung Utara dalam Mempertahankan Kemerdekaan Tahun 1945-1948" (2014), menyampaikan, awalnya kedatangan mereka hanya untuk membebaskan tentara Sekutu dari tahanan Jepang. Namun, ternyata Belanda atau NICA membonceng pasukan Sekutu dan ingin menguasai Indonesia lagi. Bergolaklah perlawanan dari prajurit dan rakyat Indonesia atas kehadiran Belanda.
Pasukan Sekutu mulai melancarkan propaganda. Rakyat Indonesia diperingatkan agar meletakkan senjata dan menyerahkannya kepada Sekutu. Pihak Indonesia tidak menggubris ultimatum tersebut. Angkatan perang RI merespons dengan melakukan penyerangan terhadap markas–markas Sekutu di Bandung bagian utara, termasuk Hotel Homan dan Hotel Preanger yang menjadi markas besar Sekutu, pada malam tanggal 24 November 1945. Pada 27 November 1945, Kolonel MacDonald selaku panglima perang Sekutu sekali lagi menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat, Mr. Datuk Djamin, agar rakyat dan tentara segera mengosongkan wilayah Bandung Utara. Peringatan yang berlaku sampai tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 harus dipenuhi. Jika tidak, maka Sekutu akan bertindak keras. Ultimatum kedua itu pun tidak digubris sama sekali. Beberapa pertempuran terjadi di Bandung Utara. Pos-pos Sekutu di Bandung menjadi sasaran penyerbuan.
Tanggal 17 Maret 1946, Panglima Tertinggi AFNEI di Jakarta, Letnan Jenderal Montagu Stopford, memperingatkan kepada Soetan Sjahrir selaku Perdana Menteri RI agar militer Indonesia segera meninggalkan Bandung Selatan sampai radius 11 kilometer dari pusat kota.
Hanya pemerintah sipil, polisi, dan penduduk sipil yang diperbolehkan tinggal. Menindaklanjuti ultimatum tersebut, pada 24 Maret 1946 pukul 10.00, Tentara Republik Indonesia (TRI) di bawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution memutuskan untuk membumihanguskan Bandung.
Rakyat mulai diungsikan. Sebagian besar bergerak dari selatan rel kereta api ke arah selatan sejauh 11 kilometer. Gelombang pengungsian semakin membesar setelah matahari tenggelam.
Pembumihangusan Bandung pun dimulai. Warga yang hendak meninggalkan rumah membakarnya terlebih dahulu. Pasukan TRI punya rencana yang lebih besar lagi. TRI merencanakan pembakaran total pada 24 Maret 1945 pukul 24.00, namun rencana ini tidak berjalan mulus karena pada pukul 20.00 dinamit pertama telah meledak di Gedung Indische Restaurant. Lantaran tidak sesuai rencana, pasukan TRI melanjutkan aksinya dengan meledakkan gedung-gedung dan membakar rumah-rumah warga di Bandung Utara. Malam itu, Bandung terbakar dan peristiwa itu kemudian dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api.
6. Puputan Margarana
Puputan Margarana terjadi setelah Jepang kalah dan Belanda datang ke Indonesia untuk mengambil alih atau merebut daerah kekuasaan Jepang. Belanda berambisi untuk membuat Negara Indonesia Timur (NIT). Namun, I Gusti Ngurah Rai menolak rencana Belanda tersebut.
Dalam Perjanjian Linggarjati 15 November 1946, Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto Indonesia pada wilayah Jawa, Madura dan Sumatra.
Pengakuan secara de facto ini memunculkan rasa kekecewaan dalam hati rakyat Bali.
Karena Bali belum diakui secara de facto sebagai wilayah Indonesia.
Pada 18 November 1946, markas pertahanan atau militer Belanda di Tabanan, Bali diserang secara habis-habisan. Hal ini membuat Belanda murka dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Bali, khususnya Tabanan. Belanda mengirimkan pasukan 'Gajah Merah', 'Anjing Hitam', 'Singa', 'Polisi Negara' dan 'Polisi Perintis. Tidak hanya itu, Belanda juga
mengirimkan tiga pesawat pemburu miliknya. Pasukan yang dikirim Belanda tersebut mulai melakukan serangan pada 20 November 1946 pukul 05.30 WITA, dengan menembaki area pasukan warga Bali. Kekuatan persenjataan yang dimiliki pasukan tersebut tergolong minim, sehingga mereka belum bisa melakukan aksi balas serangan kepada pasukan Belanda.
Sekitar pukul 09.00 WITA, pasukan Belanda yang kira-kira berjumlah 20 orang mulai mendekat dari arah barat laut. Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tembakan. 17 orang pasukan Belanda ditembak mati oleh pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Setelah mengetahui jika pasukannya mati, Belanda melakukan aksi serangan dari berbagai arah. Namun, upayanya ini beberapa kali mengalami kegagalan karena pasukan Ciung Wanara berhasil melakukan aksi serangan balik.
Tidak hanya itu, Belanda juga sempat menghentikan aksi serangannya selama satu jam.
Beberapa saat kemudian, Belanda kembali menyerang dengan mengirimkan banyak pasukan serta pesawat terbang pengintai, kira-kira pukul 11.30 WITA. Serangan ini kembali berhasil dihentikan oleh pasukan Ciung Wanara.
Akhirnya Belanda dan pasukannya mundur sejauh 500 meter ke belakang untuk menghindari pertempuran. Kesempatan ini digunakan oleh I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya untuk meloloskan diri dari kepungan musuh. Dalam perjalannya meloloskan diri, tiba-tiba Belanda mengirimkan pesawat terbang untuk memburu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya.
Untuk terakhir kalinya I Gusti Ngurah Rai menyerukan "Puputan!', yang berarti habis-habisan. I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya bertempur melawan Belanda hingga titik darah penghabisan. I Gusti Ngurah Rai dan 1372 pejuang Dewan Perjuangan Republik Indonesia Sunda Kecil gugur dalam Puputan Margarana.
Sementara itu, van Mook berdasarkan perubahan iklim politik di Vietnam di mana telah terjadi kesepakatan yang membawa Vietnam menjadi negara yang merdeka berada didalam kekuasaan federasi Indo-Cina.
Berdasarkan pada fenomena itu Van Mook pun memberikan usulan secara pribadi agar Indonesia pun setuju menjadi wakil Jawa dalam upaya membentuk negara yang bebas dalam lingkup kerajan Belanda. Hal ini berarti bahwa negara Indonesia berada di bawah naungan dari pemerintah Kerajaan Belanda.
Pemerintah Indonesia, melalui perdana menteri Sutan Sjahrir, pada 27 Maret 1946 memberikan tanggapan terhadap usulan yang dikemukakan olek Van Mook tersebut dalam bentuk traktat yang merupakan konsep persetujuan di mana kesepakatan itu dilaksanakan di kota Hooge Valuwe, Belanda.
Respon keras dari rakyat Indonesia sepanjang periode 1945-1946 terhadap kedatangan Belanda pada akhirnya telah menghasilkan suatu kesepakatan di Linggarjati pada November 1946 dan disebut sebagai Perundingan Linggarjati. Kesepakatan ini baru ditandatangani pada 25 Maret 1947 sebagai perkembangan dari perundingan Hooge Valuwe dan perundingan gencata senjata pada 7 Oktober 1946.
Kesepakatan ini ternyata tidak mengakhiri konflik antara Indonesia dengan Belanda.
Sebab kedua belah pihak merasa tidak menyetujui hasil dari kesepakatan itu. Terutama Belanda yang memang sejak awal tujuannya untuk menguasai kembali bekas wilayah kekuasaannya itu, tidak merasa puas atas keputusan diakuinya negara Indonesia meskipun Indonesia sendiri hanya mencakup wilayah Sumatera, Jawa dan Madura saja.
Isi dari Perjanjian Linggarjati yakni:
Belanda mengakui secara de facto atas eksistensi Negara Republik Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura.
Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam bentuk membentuk negara Serikat, yang salah satu negaranya adalah Republik Indonesia.
Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Ketidakpuasan Belanda dapat disadari sebab Sumatera dan Jawa terutama adalah sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian sejak masa kekuasaan pemerintah Kolonial Hindia- Belanda. Dengan demikian maka adalah sebuah keharusan bagi Belanda untuk kembali menguasai Sumatera dan Jawa secara khususnya dan wilayah negara Indonesia secara umumnya yang telah memproklamasikan kemerdekaannya.
Pada 20 Juli 1947 Belanda dan Indonesia memperdebatkan kembali hasil dari perundingan Linggarjati. Pihak Belanda secara sepihak menyatakan tidak terikat lagi dengan perundingan Linggarjati itu. Sehingga pada 21 Juli 1947 Belanda melakukan “Aksi Polisionil”- nya terhadap Indonesia yang dikenal dengan Agresi Militer 1 Selain itu Belanda juga melaksanakan kembali aksinya itu pada Desember 1948.
Belanda melaksanakan Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947. Agresi Militer Belanda I juga biasa disebut dengan Operatie Product. Berikut beberapa latar belakang Agresi Militer Belanda I, yaitu: Adanya keinginan Belanda untuk menjadikan Indonesia sebagai negara jajahannya kembali. Pemerintah Indonesia menolak ultimatum dari Van Mook untuk menarik tentara Indonesia sejauh 10 km dari garis demarkasi. Belanda ingin menguasai sumber daya alam Indonesia untuk membantu perekonomian Belanda yang mengalami krisis pasca perang.
Agresi Militer Belanda I bertujuan untuk menguasai sumber daya alam di pulau Sumatra dan Jawa dan menguasai daerah yang memiliki nilai starategis dan ekonomi tinggi dimana terdapat kota, pelabuhan, pabrik, perkebunan, dan pertambangan
Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam, Belanda mulai melancarkan aksi militer.
Pasukan Belanda bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat. Pasukan Belanda di Surabaya digerakan untuk menguasai Madura dan Jawa Timur. Sedangkan Pasukan Belanda di Semarang digerakan untuk menguasai Jawa Tengah. Prioritas Agresi Militer di pulau Jawa adalah untuk menguasai kawasan pelabuhan pesisir utara, perkebunan tebu dan pabrik- pabrik gula. Di Sumatera, Belanda mampu menguasai perkebunan di sekitar Medan serta tambang minyak dan batu bara di sekitar Palembang.
Agresi Militer Belanda I memperoleh kecaman dari dunia Internasional, termasuk PBB.
India dan Australia mengajukan permasalahan Agresi Militer Belanda I untuk dibahas pada agenda sidang Dewan Keamanan PBB tanggal 31 Juli 1947. Berdasarkan hasil sidang, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang berisi himbauan kepada Belanda dan Indonesia untuk menghentikan pertempuran fisik dan mengadakan gencatan senjata. Agresi Militer 1 tersebut dapat diakhiri melalui perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948.
Perundingan Renville terjadi pada tanggal 1 Agustus 1947, di mana Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi sebuah gencatan senjata antara Belanda- Indonesia. Jenderal Van Mook dari Belanda memerintahkan pasukannya melakukan gencatan senjata pada 5 Agustus. 20 hari kemudian, 25 Agustus, Dewan Keamanan berusaha untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia dengan Belanda melalui saran dari Amerika Serikat.
Agar konflik dapat mereda dengan damai, dibentuklah Komisi Tiga Negara yang telah disetujui kedua belah pihak, yaitu Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Pemerintah RI dan Belanda pada 17 Agustus 1947 sudah lebih dulu sepakat untuk melakukan gencatan senjata sampai Perjanjian Renville disetujui, tetapi perang terus berlanjut. Sampai akhirnya Perjanjian Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948 antara Indonesia dengan Belanda di atas geladak kapal perang Amerika Serikat yang berlabuh di Jakarta.
Isi dari Perjanjian Renville:
Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia.
Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda.
TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Sehingga pada tahun 1948 Belanda melakukan Agresi Militer Belanda II yang mengirimkan kekuatan militernya masuk dan melakukan penyerangan terhadap wilayah negara Indonesia.
Belanda kembali melanggar perjanjian damai Renville dengan melancarkan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, terdapat beberapa tujuan Agresi Militer Belanda II, yaitu:
Menghancurkan status Republik Indonesia sebagai kesatuan negara.
Menguasai Ibukota sementara Indonesia yang saat itu berada di Yogyakarta.
Menangkap pemimpin-pemimpin pemerintahan Indonesia
Belanda mulai menyerang Yogyakarta secara mendadak pada Minggu pagi 19 Desember 1945. Belanda menyerang Yogyakarta melalui jalur darat dan udara. Angkatan Udara dan pasukan terjun payung dikerahkan oleh Belanda untuk membombardir lapangan terbang Maguwo dan kawasan timur kota Yogyakarta. Tentara Indonesia sangat terkejut dengan serangan cepat yang dilakukan oleh Belanda dan tidak mampu berbuat banyak. Pada sore hari 19 Desember 1945, Yogyakarta berhasil dikuasai oleh Belanda dan Istana pemerintah Indonesia dapat ditaklukan.
Selanjutnya, Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpin tertinggi negara seperti Soekarno, Moh Hatta, Agus Salim dan jajaran kabinet yang berada di Istana. Para pemimpin Indonesia membiarkan dirinya ditangkap agar serangan fisik Belanda dapat diredakan dan menggiring opini dunia mengenai kebrutalan sikap Belanda. Sebelum ditangkap, para pemimpin Indonesia telah memberikan mandat kepada Syafrudin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Agresi Militer Belanda II menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang masif bagi Indonesia. Namun di sisi lain, Indonesia diuntungkan dengan adanya kecaman dari dunia Internasional terhadap Agresi Militer Belanda II. Belanda memperoleh bencana politik dari keputusan mereka untuk melancarkan Agresi Militer Belanda II.
Oleh karena itu dilakukan Perjanjian Roem-Royen yang dibuat Indonesia dengan Belanda pada 7 Mei 1949 untuk menyelesaikan konflik di awal kemerdekaan. Perundingan tersebut dipimpin oleh Mele Cochran dari Amerika Serikat. Untuk delegasi dari Indonesia adalah Moh.
Roem, sedangkan delegasi dari Belanda adalah H.J. Van Royen.
Latar belakang perundingan Roem-Royen adalah aksi militer yang dilakukan oleh Belanda pada agresi militer II serta ketegangan-ketegangan akibat konflik Indonesia-Belanda.
Akhirnya Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 4 Januari 1949 memerintahkan Belanda dan Indonesia menghentikan masing-masing operasi militernya. United Nations Commission for Indonesia (UNCI) membawa perwakilan kedua negara ke meja perundingan pada 17 April 1949.
PBB merasa sangat tersinggung dengan adanya Agresi Militer Belanda II. PBB menganggap bahwa Belanda tidak memiliki etikat baik dalam upaya penyelesaian masalah.
Selain itu, Amerika Serikat juga melemparkan amarahnya kepada Belanda. Hal tersebut terlihat dari tindakan Amerika Serikat yang menghentikan dana bantuan kepada Belanda. Amerika Serikat dan PBB sebagai kekuatan besar dunia menyudutkan Belanda untuk mengadakan gencatan senjata dan melakukan perundingan damai sesegera mungkin.
Belanda mendapat kecaman dari Dewan keamanan PBB untuk segera mengakhiri agresinya terhadap Indonesia. Selain itu juga terdapat kecaman dari Amerika Serikat yang akan memberikan bantuan ekonomi kepada Belanda jika masih melakukan agresinya terhadap
Indonesia. Dengan demikian konflik bersenjata antara Indonesia dengan Belanda dapat diakhiri dan melanjutkannya ke meja perundingan pada tahun 1949 di dalam Konferensi Meja Bundar.
B. Respon PBB terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Di awal kemerdekaan, tidak semua negara mengakui kemerdekaan Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia langsung mendapat penolakan keras dari pihak Belanda yang memang pernah lama menjajah Indonesia selama berabad-abad.
Meski begitu, ada juga beberapa negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah Mesir, India, Australia, dan negara-negara lainnya. Tentu jalan panjang pengakuan kemerdekaan ini dilalui melalui diplomasi dan perundingan. Tokoh-tokoh diplomat Indonesia saat itu turut berjuang untuk mendapat pengakuan dari dunia internasional. PBB selaku lembaga internasional yang turut mendorong perdamaian dunia juga turut berperan dalam pengakuan kemerdekaan Indonesia.
Berikut ini merupakan pembahasan respon PBB terhadap kemerdekaan Indonesia yaitu : 1. Menjadi Perantara dalam Konferensi Meja Bundar antara Indonesia dan Belanda
Konferensi Meja Bundar (KMB) menjadi tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia.
Pasalnya, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda masih berupaya menguasai Indonesia. Berbagai upaya dilakukan Indonesia agar bisa merdeka.
Mulai dari perang gerilya hingga diplomasi. Konferensi Meja Bundar yang digelar di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus-2 November 1949 menjadi upaya diplomasi yang berhasil membebaskan Indonesia dari Belanda.
Sebelum KMB, Indonesia dan Belanda sudah beberapa kali mengupayakan kemerdekaan lewat diplomasi.Ada perjanjian Linggarjati pada 1946, perjanjian Renville pada 1948, dan perjanjian Roem-Royen pada 1949.
Diadakannya Konferensi Meja Bundar juga menjadi salah satu kesepakatan dalam Perjanjian Roem-Royen. KMB bertujuan menyelesaikan sengketa Indonesia dan Belanda seadil dan secepat mungkin. Indonesia ingin jalan dan cara penyerahan kedaulatan yang sungguh, penuh, dan tidak bersyarat kepada Negara Indonesia Serikat (NIS) sesuai dengan pokok-pokok persetujuan Renville. Para pihak yang turut serta dalam KMB mengupayakan agar KMB dapat dimulai pada 1 Agustus 1949. Mereka berharap konferensi diselesaikan dalam waktu dua bulan.
Kemudian persetujuan yang dihasilkan KMB diusahakan selesai dalam waktu enam minggu.
Bundar Perundingan antara Indonesia dan Majelis Permusyawaratan Federal atau Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) intensif digelar pada Maret 1949 di Bangka. Dalam rangka mempersiapkan KMB di Den Haag, RI dan BFO mengadakan perundingan untuk menyatian pendapat. Perundingan dilaksanakan dua kali yakni di Yogyakarta pada 19 Juni 1949 dan di Jakarta pada 22 Juni 1949.
Perundingan itu dikenal dengan Perundingan Inter-Indonesia. Hasilnya, Indonesia dan BFO sepakat mendirikan Republik Indonesia Serikat (RIS). Sesudah berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri lewat Konferensi Inter-Indonesia, Indonesia siap menghadapi KMB. Belanda Akui Kedaulatan Indonesia.
Pada tanggal 4 Agustus 1949, dibentuk delegasi yang diketuai Moh Hatta. Anggotanya yakni: Moh Roem Soepomo Leimena Ali Sastroamidjojo Juanda Sukiman Suyono Hadinoto Sumitro Djojohadikusumo Abdul Karim Pringgodigdo TB Simatupang Sumardi Sementara dari BFO dipimpin Sultan Hamid II dari Pontianak.Adapun Belanda diwakili oleh Van Maarseven.
KMB diawasi United Nations Commission for Indonesia (UNCI) yang dipimpin oleh Chritchley (Australia). KMB dibuka pada 23 Agustus 1949. Perundingan KMB berjalan alot dan lama.Dimulainya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda Dua masalah yang sulit
mencapai titik temu yakni pembentukan Uni Indonesia-Belanda dan soal utang Hindia Belanda.
Hasil dan dampak Konferensi Meja Bundar Setelah melalui pembahasan yang berlarut-larut, pada 2 Nobember 1949 tercapailah persetujuan Konferensi Meja Bundar.
Hasil KMB yakni:
Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada akhir Desember 1949. Akan dibentuk Uni Indonesia-Belanda. Dalam uni itu, Indonesia dan Belanda akan bekerja sama. Kedudukan Indonesia dan Belanda sederajat.
Indonesia akan mengembalikan semua milik Belanda dan memabayar utang-utang Hindia Belanda sebelum tahun 1949.
Masalah Irian Barat akan dibahas satu tahun kemudian.
Dampak dari KMB yakni Indonesia akhirnya mendapat kedaulatannya. Acara penyerahan kedaulatan berlangsung pada 27 Desember 1949. Penandatanganan naskah penyerahan kedaulatan berlangsung di dua kota yakni Amsterdam dan Jakarta naskah penyerahan kedaulatan ditandatangani Ratu Juliana dan Moh Hatta. Di Jakarta, naskah ditandatangani AHJ Lovink dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Tanggal 27 Desember 1949, pemerintahan sementara negara dilantik. Soekarno menjadi Presiden. Perdana Menterinya Moh Hatta. Kabinet RIS dibentuk. RIS dibentuk seperti republik federasi berdaulat yang terdiri dari 16 negara bagian dan merupakan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.
Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949 menjadi pertanda sebagai berakhirnya konflik bersenjata antara Indonesia dengan Belanda. Konferensi Meja Bundar yang terutama menghasilkan kesepakatan yaitu pemerintah Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
2. Menyelesaikan Konflik Indonesia dan Belanda
PBB berperan besar dalam menyelesaikan konflik antara Indonesia dan Belanda usai kemerdekaan. Meski sudah memproklamasikan kemerdekaan di tahun 1945, namun Belanda masih tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia dan terus berupaya melakukan serangan militer.
PBB pun berperan untuk melakukan resolusi antara Indonesia dan Belanda, dengan mengeluarkan rekomendasi untuk membentuk Komisi Tiga Negara (KTN), yang dibentuk pada tanggal 18 Desember 1947. Pembentukan KTN juga dilatarbelakangi oleh Agresi Militer I oleh Belanda.
Setelah itu, PBB juga berperan pada pembentukan badan perdamaian bernama United Nations Commission for Indonesia (UNCI). Tugas UNCI menggantikan KTN, untuk membantu memperlancar segala bentuk perundingan antara Indonesia dengan Belanda.
3. Mengakui Kemerdekaan Indonesia Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB)
Indonesia kemudian diakui kemerdekaaanya oleh PBB dan negara-negara anggotanya.
Indonesia juga resmi menjadi anggota PBB setelah kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda, melalui hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang digelar di Den Haag, Belanda pada tanggal 3 Agustus sampai 2 November 1949.
Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh PBB disahkan melalui Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa nomor 86, yang ditetapkan pada tanggal 26 September 1950.
Resolusi ini dibuat setelah PBB menyepakati bahwa Indonesia adalah negara yang mencintai perdamaian sehingga memenuhi persyaratan dalam Piagam PBB.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun respon internasional terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia ada yang positif dan negatif. Artinya proklamasi kemerdekaan yang terjadi di Indonesia mendapat pengakuan dari negara-negara asing diantaranya Mesir dan India. Pengakuan ini menjadi faktor penting dalam terbentuknya sebuah negara. Adapun respon negatifnya dari negara Belanda yang menolak kemerdekaan Indonesia. Kemudian dengan adanya PBB menjadi organisasi penting yang menaungi atau membantu upaya untuk penerimaan kemerdekaan Indonesiaa terutama terhadap Belanda.
B. Saran
Respon Internasional Terhadap Ploklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dipelajari karena dalam sejarahnya kita dapat mengetahui bagaimana perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan pemerintahan kolonial dan bagaimana kondisi bangsa Indonesia pada saat itu sehingga dapat menumbuhkan rasa nasionalisme kita dan membuat kita lebih bersyukur dengan apa yang kita dapatkan sekarang dibandingkan pada masa pemerintahan kolonial dan Tentunya pada penulis telah menyadari bahwa dalam penyusunan makalah diatas masih banyak terdapat kesalahan dan jauh dari kata sempurna sehingga kita berharap pembaca dapat memberikan saran dan kritik terhadap makalah yang kami buat.
Daftar Pustaka
Bahan Materi Cetak Sejarah Perminatan Kelas XII
https://www.abhiseva.id/2020/04/respon-belanda-terhadap-proklamasi.html
https://kemlu.go.id/portal/id/read/134/halaman_list_lainnya/perserikatan-bangsa-bangsa-pbb https://www.haruspintar.com/respon-pbb-terhadap-kemerdekaan-indonesia/