• Tidak ada hasil yang ditemukan

Results: A total of 115 children diagnosed with congenital (55.66%) and developmental cataract (44.34%) were included in this study

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Results: A total of 115 children diagnosed with congenital (55.66%) and developmental cataract (44.34%) were included in this study"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Primawita Oktarima , Sesy Caesarya

1Fellowship Ophthalmologist (FK USK/RSUZA),

2Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Subdivisi Pediatric Oftalmologi dan Strabismus Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Fakultas Kedokteran Universitas

Padjadjaran, Bandung

ABSTRACT

Background :Cataract is a cause of visual disturbance in pediatric population worldwide and significantly have an impact in neurobiological l development of a child.Early diagnosis and prompt surgical intervention are critical to prevent irreversible amblyopia. A comprehensive ophthalmology examination, including the onset, duration, and morphology of a cataract, are important step to determine the time for surgical intervention. The phenomenon of refractive growth and the emmetropization process still confusing some of pediatric ophthalmologists and need for future prospective studies. A successful management of pediatric cataracts depends on individualized care and experienced teamwork.

Purpose : To study the clinical characteristics and managements of pediatric cataract in National Eye Center Cicendo Eye Hospital during January 2020 – December 2020

Methods: A retrospective study was conducted on all of the operated pediatric cataract cases in Cicendo Eye Hospital National Eye Center during January until December 2020 based on then patient’s medical records.

Results: A total of 115 children diagnosed with congenital (55.66%) and developmental cataract (44.34%) were included in this study. The majority of the children were below 2 years old (38,26%). Most of the children were boys (55,65%) and had bilateral cataracts (58,26%). Nystagmus (15.65%) were recorded in these cases. Concomitant systemic condition were found in several patients, including congenital rubella syndrome (5,22%) and down syndrome (5,22%). Lamellar cataract (27.82%) were the most common morphology in this study. Combination of irrigation and aspiration, and primary posterior capsulotomy and anterior vitrectomy was the most frequent cataract surgery techniques conducted in this study (37.43%).

Conclusion: Pediatric cataract was found more frequently in boys below 2 years old. The majority of cataracts were congenitall, bilateral and had lamelars type morphology.

Combination of irrigation and aspiration, primary posterior capsulotomy and anterior vitrectomy was the most frequent cataract surgery techniques.

Keywords : Pediatric cataract, clinical characteristic, developmental cataract, congenital cataract

(2)

PENDAHULUAN

Katarak anak adalah salah satu penyebab utama kebutaan pada anak yang dapat dicegah. Menurut organisasi Kesehatan dunia (WHO) setiap menit anak menjadi buta di satu tempat didunia.1 Katarak ini mempengaruhi sekitar 200.000 anak di seluruh dunia, dengan perkiraan prevalensi mulai dari tiga sampai enam per 10.000 kelahiran hidup. 2,3 Katarak pada anak dapat berupa kongenital bila terjadi di tahun pertama kelahiran, developmental bila muncul setelah masa bayi.

Diagnosis dan terapi secara dini penting untuk mencegah timbulnya ambliopia yang ireversibel.

Penatalaksanaan katarak pada pediatri harus disesuaikan tergantung usia saat onset, lateralitas, morfologi katarak, dan kondisi mata lain yang berhubungan, serta keadaan sistemik 3

Kemajuan terbaru dalam teknik operasi, komposisi dan desain intra okular lens ( IOL), dan pemakaian lensa kontak pasca operatif secara dini untuk rehabilitasi optik telah meningkatkan hasil akhir operasi pada katarak anak. Diagnosis dini dapat dilakukan dengan konseling genetik dan pemeriksaan pada kasus katarak yang herediter.3

Beberapa masalah spesifik sering dijumpai pada mata anak, seperti peningkatan inflamasi postoperatif, pertumbuhan axial setelah operasi katarak, perhitungan kekuatan lensa tanam, glaukoma sekunder, posterior capsul opacity (PCO), dan penatalaksanaan ambliopia masih merupakan kesulitan yang dapat mempengaruhi hasil visus pasca operasi katarak pada anak-anak.3-8

Pemeriksaan laboratorium yang terlalu banyak pada kasus unilateral biasanya tidak diperlukan karena sebagian besar berupa lokal, nonherediter, tanpa adanya penyakit sistemik yang mendasari. 8,9 Namun, semua anak dengan riwayat infeksi antenatal atau adanya mikrosefali, tuli, kelainan jantung, dan/atau gangguan tumbuh kembang harus dilakukan pemeriksaan untuk varicella, herpes simplex, toxoplasmosis, rubella dan syphilis (TORCHS). Trauma, terutama pada kasus selain kecelakaan, harus disingkirkan pada setiap kasus katarak unilateral.3

Tujuan penelitian ini untuk

mengetahui karakteristik dan penatalaksanaan katarak anak di PMN RS Cicendo Januari 2020 – Desember 2020.

SUBJEK DAN METODE

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data rekam medis pasien di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo yang didiagnosis katarak kongenital dan developmental yang telah dilakukan operasi rentang waktu Januari – Desember 2020. Data yang diambil berupa usia, jenis kelamin, lateralitas, morfologi katarak, kelainan okular penyerta dan kelainan sistemik penyerta, jenis tindakan operasi yang dilakukan, visus sebelum operasi, dan best corrected visual acuity (BCVA) pada 1 bulan setelah operasi.

Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah seluruh anak yang terdiagnosis katarak kongenital dan developmental yang dilakukan operasi rentang waktu Januari – Desember 2020 dengan usia dibawah 18 tahun.

(3)

Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah pasien yang sudah dilakukan operasi katarak sebelum datang ke RS Mata Cicendo dan follow up setelah operasi kurang dari 1 bulan.

Diagnosis katarak kongenital dan developmental serta kelainan okular penyerta ditegakkan dengan menggunakan biomikroskop lampu celah dan pemeriksaan segmen posterior dengan oftalmoskopi indirek menggunakan lensa +30D serta pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Tajam penglihatan yang digunakan adalah best corrected visual acuity (BCVA) dinilai dengan menggunakan snellen chart dan cardiff. Kondisi sistemik penyerta dan diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis anak dan hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil penelitian diolah menggunakan Windows Microsoft Excel dan dimasukkan ke dalam bentuk tabel.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini mengambil data 115 pasien dengan 179 mata pasien katarak anak di RS Cicendo dengan diagnosis katarak kongenital dan katarak developmental yang telah dilakukan operasi. Karakteristik penderita katarak anak selama periode Januari hingga Desember 2020 ditampilkan pada tabel 1.

Sebaran kasus pada penelitian ini paling banyak pada rentang usia 0-24 bulan, yaitu sebanyak 44 penderita (38.26%), dimana kasus katarak ini lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan yaitu sebanyak 64 penderita (55,65%).

Jumlah kasus katarak bilateral 67 (58,26%) lebih banyak dibandingkan

katarak unilateral 48 (44,35%) kasus.

Hasil pada penelitian ini juga menunjukan bahwa kasus katarak kongenital sebanyak 64 penderita (55.66%) lebih banyak dari kasus katarak developmental sebanyak 51 penderita (44.34%).

Tabel 1. Karakteristik Penderita Katarak Anak

Karakteristik Jumlah n= 115

Persentase (%) Usia

0-24 bulan 44 38.26

>2-4 tahun 13 11.30 >4-9 tahun 37 32.18 >9 tahun 21 18.26 Jenis Kelamin

Laki-Laki 64 55.65

Perempuan 51 44.35

Lateralitas

Unilateral 48 41.74

Bilateral 67 58.26

Diagnosis Katarak Kongenital

64 55.66

Katarak Develop- mental

51 44.34

Karakteristik klinis penderita katarak anak yang terdiri dari morfologi katarak, kondisi okular penyerta, keadaan sistemik penyerta, dan jenis tindakan operasi yang dilakukan pada anak yang ditampilkan pada tabel 2.

Nistagmus merupakan salah satu kondisi penyerta yang sering ditemui.

Terdapat 18 (15.65 %) penderita nistagmus pada studi ini. Morfologi katarak yang paling banyak ditemukan adalah katarak tipe lamellar sebanyak 32 mata (27.82%) diikuti katarak tipe nuklear sebanyak 12 mata (10.43%), membranosa sebanyak 11 mata (9.56%), sub kapsularis posterior 4 mata (3.49%), dan polaris posterior 2 mata (1.74%).

(4)

Tabel 2. Karakteristik Klinis Katarak Anak

Karakteristik Klinis

Jumlah n=115 179 mata

Persentase (%)

Nistagmus 18 15.65

Morfologi katarak

Lamelar 32 27.82

Nuklear 12 10.43

Membranosa 11 9.56

Sub kapsularis posterior

4 3.49

Polaris Posterior 2 1.74

Lain-lain 54 46.96

Kelainan Okular Penyerta

PFV 9 7.83

Mikroftalmia 9 7.83

Mikrokornea 9 7.83

Disgenesis segmen anterior

2 1.73

Hipoplasia papil N.Optikus

1 0.87

Koloboma iris 1 0.87 Tidak ada

kelainan okular

84 73.04

Kelainan Sistemik Penyerta

Infeksi Rubella 6 5.22 Down Syndrome 6 5.22 Tidak ada

kelainan

103 89.56 Tindakan operasi

AI + PPC + VA 67 37.43 AI + PPC + VA

+ LIO

42 23.46

AI + LIO 51 28.50

Membranektomi +AI + VA

5 2.79

Membranektomi +AI+ VA + LIO

13 7.26

Tindakan tambahan

1 0.56

Keterangan: *PFV=Persistent FetalVasculature, AI = Aspirasi Irigasi, PPC = Primary Posterior Capsulotomy, VA = Vitrektomi Anterior, LIO

=Lensa Intraokular, Tindakan tambahan = Membranectomy, Pupiloplasty, Sinekiolisis, secondary LIO

Pada studi ini dijumpai karakteristik klinis kelainan okular penyerta yang terbanyak adalah masing-masing persistent fetal

fasculature (PFV) dan mikropthalmia serta mikrokornea masing-masing sebanyak 9 (7.83 %), disgenesis segmen anterior sebanyak 2 penderita (1.74%). Hipoplasia papil nervus opticus dan koloboma iris masing sebanyak 1 (0,89%) penderita.

Selebihnya sebanyak 84(73.04%) penderita tidak mengalami kelainan okular.

Frekuensi kelainan sistemik penyerta pasien katarak anak yang ditemukan pada studi ini adalah Congenital Rubella Syndrome (CRS) dan Down Syndrome (DS) masing- masing sebanyak 6 (5,22%) penderita dan selebihnya tidak menderita kelainan sistemik sebanyak 103 (89.56%) penderita.

Data jenis tindakan operasi yang dilakukan pada penderita katarak anak ditampilkan juga pada tabel 2.

Tindakan operasi yang paling banyak dilakukan yaitu tindakan ekstraksi lensa dengan aspirasi irigasi dan primary posterior capsulotomy (PPC) serta vitrektomi anterior sebanyak 67 (37.43%) mata. Tindakan aspirasi irigasi dengan pemasangan lensa intraokular (LIO) dilakukan pada 51(28,50%) mata. Diikuti oleh tindakan ekstraksi lensa dengan aspirasi irigasi dengan primary posterior capsulotomy (PPC) dengan vitrektomi anterior serta pemasangan lensa intraokular (LIO) dilakukan pada 42 mata (23.46%).

Membranektomi dengan aspirasi irigasi dan vitrektomi anterior serta pemasangan lensa intraokular (LIO) sebanyak13 mata (8.60%).

Membranektomi dengan aspirasi irigasi dan vitrektomi anterior tanpa pemasangan lensa intraokular (LIO) sebanyak 5 mata (2.79%).Tindakan tambahan berupa membranektomi,

(5)

sinekiolisis, vitrektomi anterior, pupiloplasti dan sekunder LIO pada 1 mata (0,56%).

Tabel 3. Tajam Penglihatan Sebelum dan 1 Bulan Sesudah Operasi (BCVA)

Tajam Penglihatan n=115(179mata)

Visus Preoperasi

(%)

Visus Postoperasi

(%) Blink Reflex 42(23.46) 1(0,56) Follow the

light

18(10.06) 8(4.47) Fix & Follow

the object

33(18.43) 52(29.05)

<1/60-LP 17(9.49) 2(1,12)

<3/60-1/60 17 (9.49) 7(3.91)

<6/60-3/60 6(3,35) 2(1.12) 6/60-<6/18 32(17.88) 53(29.60)

>6/18 14(7.82) 54(30.17)

Tajam penglihatan yang digunakan adalah best corrected visual acuity (BCVA) dinilai dengan menggunakan snellen chart dan cardiff Pada anak usia dibawah 2 tahun atau anak yang kurang kooperatif pemeriksaan tajam penglihatan dinilai dengan blink reflex, follow the light, follow the object, serta fix and follow the object.

Data tajam penglihatan preoperasi dan postoperasi ditampilkan pada tabel 3. Tajam penglihatan preoperasi yang paling banyak adalah blink reflex pada 42 (23.46%) mata.

sedangkan pada postoperasi tajam penglihatan dengan best corrected visual acuity (BCVA) pada 1 bulan setelah operasi >6/18 yang paling banyak ditemukan pada 54 (30.17%) mata, diikuti 6/60-<6/18 sebanyak 53 (29.60%) mata dan fix and follow the object pada 52 (29.05) mata. Tajam penglihatan postoperasi ini didapatkan dalam jumlah hampir sama antara >6/18 dan 6/60-<6/18 serta pada fix and follow the object.

DISKUSI

Evaluasi katarak pada anak-anak dimulai dengan anamnesis yaitu Riwayat keluarga, riwayat prenatal termasuk pemakaian obat-obatan saat kehamilan dan riwayat demam dengan ruam, dan riwayat kelahiran, terutama berat badan lahir, mengingat berat badan lahir rendah erat kaitannya dengan kejadian katarak kongenital idiopatik bilateral.3,9 Pemeriksaan okuli secara menyeluruh dapat dilakukan baik di tempat praktek maupun di ruang operasi. Pemeriksaan termasuk slit lamp untuk menilai ukuran, lokasi, densitas kekeruhan lensa, perubahan kapsul, dan kelainan perkembangan anterior segmen lainnya. Selain itu juga perlu dilakukan pengukuran tekanan intraokuli dan diameter kornea.

Pemeriksaan funduskopi yang dilakukan pada katarak parsial dan USG pada katarak total dapat menilai adanya kelainan segmen posterior yang dapat mempengaruhi hasil akhir pasca operasi.3,10

Menanyakan pada keluarga perihal interaksi visual anak dengan anggota keluarga lain dapat membantu menentukan tingkat keparahan gangguan visual yang dialami oleh sang anak dengan katarak yang mengganggu visual seperti katarak sentral berukuran lebih dari 3 mm, katarak unilateral dengan strabismus, dan katarak bilateral dengan nistagmus.3

Kelompok rentang usia yang paling banyak pada penelitian ini adalah usia 0-24 bulan sebanyak 38,26%. Pada penelitian oleh Toshiyuki dkk kunjungan awal ke dokter agak terlambat yaitu 2,6 tahun.

Periode kritis perkembangan visual

(6)

adalah pada 6 minggu pertama kehidupan, dimana pada waktu tersebut penglihatan dimediasi secara subkortikal dan bayi tersebut secara relatif resisten terhadap ambliopia.

Ekstraksi katarak kongenital unilateral pada usia 4-6 minggu, dan katarak bilateral pada usia 8-10 minggu dapat mencegah terjadinya amblyopia strabismus,dan nistagmus.

Rehabilitasi optik dan terapi oklusi yang tepat dapat memberikan hasil visus yang baik dengan fusi dan stereopsis.3, 11

Katarak pada anak dapat diklasifikasikan sebagai kasus katarak kongenital sebanyak 55.66%

penderita lebih banyak dari kasus katarak developmental sebanyak 44.34% penderita Penelitian ini menunjukan bahwa kasus katarak anak pada laki-laki 55.65% lebih banyak dibandingkan perempuan 44.35%. Hal ini sesuai dengan beberapa hasil jumlah kasus katarak anak pada laki-laki dari Zhang dkk sebanyak 65.9%, dan Zhu dkk sebanyak 60,4% adalah anak laki-laki.

Menurut Katibeh dkk angka kejadian operasi katarak pada anak laki-laki hampir 10 % lebih tinggi dari anak perempuan. Hubungan yang jelas antara jenis kelamin ini masih belum diketahui dengan pasti.

Penelitian Marzieh dkk mengatakan dalam penelitiannya bahwa hal ini disebabkan pola perawatan yang berbeda pada perempuan dibandingkan laki-laki di negara berkembang. Akan tetapi, perbedaan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perbaikan visus pada pasien katarak anak yang telah dioperasi. 22-28

Katarak pada anak dapat bersifat unilateral atau bilateral. Hasil pada

penelitian ini menunjukan bahwa kasus katarak bilateral 58.26 % lebih banyak dibandingkan katarak unilateral 41.74 %. Hasil serupa juga didapatkan pada penelitian oleh Toshiyuki dkk 65.8% dan Kamath dkk 70,5% serta Zhu dkk sebanyak 293 (56,3%) adalah katarak bilateral.

Sehingga rasio kasus katarak bilateral dan unilateral adalah sekitar 2:1.11,16,17

Anak dengan katarak bilateral harus dinilai dengan cara melakukan pemeriksaan spesifik untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan sistemik sebagai faktor penyebab. Kondisi yang spesifik membutuhkan pemeriksaan yang spesifik pula tergantung temuan pada pemeriksaan sistemik. Seluruh pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan bekerja sama dengan dokter spesialis anak. Evaluasi oleh ahli genetik sangat membantu dalam menentukan pola pewarisan penyakit dan mendeteksi sindrom terkait. Katarak yang disebabkan oleh kelainan genetik adalah 8-29% dari seluruh katarak kongenital, dengan pewarisan autosomal dominan adalah yang paling banyak.

Ditemukan juga pewarisan secara autosomal resesif dan X-linked.

Heterogenisitas secara klinis dan genetis tercatat dengan baik pada katarak yang bersifat autosomal dominan. Lebih dari 40 gen dan lokus berbeda telah teridentifikasi pada katarak kongenital.18

Lateralitas ini penting untuk diketahui karena berhubungan dengan adanya komorbid lain yang akan mempengaruhi prognosis visualnya dan untuk mengetahui etiologinya.

Katarak bilateral biasanya disebabkan karena idiopatik, herediter, gangguan

(7)

kromosom, penyakit metabolik, infeksi intrauterin, anomali okular (aniridia, disgenesis segmen anterior), dan iatrogenik (penggunaan steroid, paparan radiasi). Katarak unilateral disebabkan idiopatik, trauma, dan anomali okular seperti persistent fetal fasculature (PFV) dan ablasio retina.

Katarak unilateral dan bilateral memiliki dampak yang signifikan dalam menurunkan fungsi penglihatan.

Katarak bilateral yang tidak ditangani dapat menimbulkan gangguan tajam penglihatan hingga kebutaan pada kedua mata akibat ambliopia deprivatif yang berat. Katarak unilateral dapat mengganggu sistem penglihatan secara keseluruhan akibat input visual yang berbeda antara kedua mata selama masa perkembangan.13, 19,20

Secara morfologi, katarak pada anak-anak dapat dibagi menjadi katarak total, katarak sentral, katarak anterior, katarak posterior, punctate lens opacity, coralline cataract, sutural cataract, wedge-shaped cataract, dan katarak yang berhubungan dengan PFV. Deskripsi yang detail dari morfologi katarak pada pediatri membantu dalam hal diagnosis dan dalam merencanakan tatalaksana operatif maupun non- operatif. 3

Morfologi katarak penting untuk beberapa alasan, tidak hanya memberikan petunjuk untuk usia onset, heritabilitas, dan etiologi tetapi mungkin juga penting untuk prognosis penglihatan.1 Pada penelitian ini jenis morfologi katarak pada anak yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini adalah katarak tipe lamellar (27.82%). Hasil sesuai yang didapatkan oleh Kamath dkk, yaitu hasil paling banyak berupa

katarak lamellar sebanyak 33 dari 75 mata (44%).17

Katarak pada anak dapat disertai oleh kelainan sistemik penyerta.

Kondisi sistemik penyerta yang ditemukan pada studi ini adalah congenital rubella syndrome (CRS) dan down syndrome (DS). Down syndrome atau keterbelakangan mental secara signifikan lebih sering pada kasus-kasus bilateral.

Congenital rubella syndrome (CRS) merupakan kondisi kongenital yang diderita oleh bayi akibat infeksi virus Rubella intrauterin. CRS meliputi abnormalitas auditorik, sensorineural, jantung, dan mata. Trias klasik CRS, yaitu katarak, abnormalitas jantung, dan tuli sensorineural, merupakan bentuk yang paling sering ditemukan.21,22

Penelitian oleh Zhu dkk menunjukan bahwa 50 dari 520 penderita katarak anak (4.42%) memiliki kondisi sistemik penyerta.

Hasil yang didapatkan oleh Vijayalakshmi dkk memperlihatkan sebanyak 81 dari 87 mata pasien CRS (93.1%) yang diteliti mengalami katarak. Virus rubella dapat ditransmisikan melalui plasenta kepada fetus. Infeksi virus Rubella sering tidak terdeteksi, karena infeksi virus ini dapat bersifat asimtomatik atau subklinis. Diseminasi virus Rubella pada fetus dapat terjadi dengan pesat diakibatkan oleh proses organogenesis yang terjadi dengan cepat terutama selama dua trimester kehamilan pertama. Virus rubella dapat masuk ke dalam lensa sebelum kapsul lensa terbentuk, sehingga fungsi kapsul lensa yang bekerja sebagai pelindung dari virus belum terbentuk. Bentuk katarak yang paling sering terjadi pada kasus CRS

(8)

adalah katarak nuklear dan pada umumnya bersifat bilateral. Kelainan okular lain dapat ditemukan pada sebagian kasus katarak pada anak.

Sebanyak 50 dari 520 (9.62%) penderita katarak anak memiliki kelainan okular lain pada penelitian yang dilakukan oleh Zhu dkk. 16 Nistagmus merupakan salah satu kondisi penyerta yang sering ditemui pada penderita katarak anak bilateral.

Nistagmus pada katarak anak umumnya disebabkan oleh terganggunya stimulus sensorik yang mengakibatkan terhambatnya perkembangan jaras subkortikal yang berperan dalam stabilitas fiksasi mata.

Terdapat 18 (15.65 %) penderita nistagmus pada studi ini.

Nistagmus pada katarak anak juga banyak ditemukan pada studi lain, seperti studi yang dilakukan oleh Hwang dkk melaporkan tingkat nistagmus 24,2 % sebelum operasi katarak. Studi lain menunjukkan nistagmus sebanyak 20,0% pada pasien katarak kongenital bilateral.

Penelitian oleh Khanna dkk juga menunjukan bahwa nistagmus lebih banyak terjadi pada katarak kongenital dibandingkan dengan katarak developmental. Nistagmus dapat menjadi suatu indikator prognosis yang buruk pada katarak anak. Akan tetapi, gejala nistagmus pada katarak bilateral dapat mengalami perbaikan apabila dilakukan tindakan operasi ekstraksi katarak bilateral secara simultan dalam 1 bulan sejak muncul pertama kali nistagmus.23, 24 Kelainan okular penyerta terbanyak yang ditemukan pada penelitian katarak anak ini adalah PFV, mikropthalmia dan mikrokornea yaitu masing-masing sebanyak 9 penderita (7.83%).

Mikroftalmia dapat dikaitkan dengan kejadian infeksi virus Rubella.

Mekanisme terjadinya mikroftalmia pada infeksi Rubella disebabkan oleh perlambatan proses perkembangan mata secara menyeluruh pada fetus.17,19

Persistent fetal vasculature (PFV) juga ditemukan sebanyak 23.98%

kasus katarak anak pada penelitian oleh Solebo dkk dan sebanyak 24%

kasus pada penelitian oleh Traboulsi dkk. PFV merupakan gambaran klinis yang diakibatkan oleh kegagalan proses regresi atau apoptosis dari pembuluh darah intraokular janin yang biasa terjadi pada trimester kedua kehamilan.

PFV sebelumnya disebut dengan persistent hyperplastic primary vitreous (PHPV), dimana katarak merupakan salah satu komplikasi dari PFV. Hal ini disebabkan oleh invasi dari sisa pembuluh darah, pembengkakan lensa, perdarahan intralentikuler, ataupun proses kalsifikasi yang terjadi akibat PFV.

PFV ini didapati pada seperlima kasus katarak kongenital atau infantil unilateral dan hanya sedikit ditemukan pada kasus katarak bilateral. Katarak pada pasien dengan PFV juga dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk.19,25

Penatalaksanaan katarak pada anak dapat dilakukan dengan berbagai teknik. Jumlah tindakan operasi yang paling banyak dilakukan yaitu tindakan ekstraksi lensa dengan aspirasi irigasi dan primary posterior capsulotomy (PPC) serta vitrektomi anterior sebanyak 67 (37.43%) mata Data tersebut sesuai dengan usia pasien terbanyak yaitu 0-24 bulan sebanyak 44 (38.26 %).

(9)

Usia untuk dilakukannya implantasi LIO masih kontroversial.

Studi di Swedia menunjukan bahwa sebagian besar operasi katarak anak pada usia di bawah 1 tahun disertai dengan pemasangan LIO. Di Perancis, median usia dilakukannya pemasangan LIO pada kasus katarak anak adalah 5.7 bulan. Akan tetapi, kebanyakan studi tidak secara rutin melakukan implantasi LIO pada pasien di bawah usia 6 bulan, tetapi hampir selalu dilakukan pada pasien dengan usia lebih dari 2 tahun.

Pertimbangan tidak dilakukannya pemasangan LIO pada usia yang lebih muda disebabkan oleh risiko terjadinya inflamasi dan komplikasi yang lebih tinggi serta risiko kemungkinan dilakukannya risiko operasi ulang juga lebih tinggi.

Ketersediaan LIO yang ada pada umumnya hanya untuk pasien dewasa, tingginya kesalahan koreksi refraksi akibat perkembangan bola mata, dan rendahnya akurasi formula untuk menghitung kekuatan LIO pada anak menjadi alasan lainnya untuk menunda pemasangan LIO.

Penggunaan kacamata ataupun lensa kontak dapat menjadi opsi yang dapat dipilih pada pasien yang lebih tidak memungkinkan untuk dipasang LIO.13,26

Pemanjangan axial dikatakan menjadi lebih besar setelah operasi pada mata dengan katarak unilateral dibandingkan dengan bilateral.

Dengan pertimbangan hal tersebut, pemilihan IOL power tergantung kebutuhan masing- masing individu dan status refraksi mata yang sehat pada katarak unilateral. 6,27

Dahan dkk menyarankan koreksi yang kurang dari 20% kekuatan IOL emmetrop untuk anak usia lebih kecil

dari 2 tahun dan pada anak yang lebih dari 2 tahun pengurangan sebanyak 10%

dari kekuatan IOL emmetrop.27 Menurut Enyedi dan rekan juga

memperkenalkan metode

undercorrection yang dikenal sebagai

rule of 7”, dimana target refraksi pada usia tujuh tahun adalah emetrop.27- 32

Berbagai faktor seperti ketidaktepatan penghitungan axial length pada posisi supine, teknik biometri, nilai keratometri, fenomena psuedoakomodasi, posisi IOL. oleh karena fibrosis kapsul, dan peningkatan elastisitas korneosklera pada anak dinilai sebagai penyebab kesalahan prediksi. Sebagai tambahan, pada anak usia dibawah 2 tahun, dengan axial length yang kecil, dan anterior chamber dangkal, dan perubahan kelengkungan dan ketebalan kornea dapat menyebabkan tingkat kesalahan perhitungan yang lebih tinggi.6,33

Koreksi optikal setelah operasi katarak dapat dilakukan dengan pemberikan kacamata afakia, lensa kontak, atau penanaman IOL primer.

Meskipun penanaman IOL primer semakin banyak dipilih, terutama untuk bayi yang lebih muda, prediksi perkembangan bola mata dan menentukan power IOL yang akan dipasang untuk mencegah perubahan refraksi yang terlalu besar masih merupakan sebuah tantangan.

Dikarenakan adanya myopic shift seiring waktu, penting sekali untuk memprediksi perkembangan bola mata dan memiliki biometri yang akurat untuk menentukan IOL power yang tepat untuk masing- masing anak pada saat operasi dan baik di masa depan.

(10)

Penghitungan axial length dan keratometri yang tepat di tempat praktek sangat sulit karena pasien kurang kooperatif dan kesulitan fiksasi, sehingga biometri sebaiknya dilakukan di ruang operasi dibawah pengaruh anestesi. Biometri imersi lebih dapat memprediksi dengan tepat IOL power untuk anak-anak.

1,3,34

Manajemen pasca operasi katarak anak operasi itu unik, operasi hanya bagian dari manajemen dan keberhasilan tergantung pada tindak lanjut pasca operasi, perlu beberapa pemeriksaan di bawah anestesi (EUA) , manajemen ambliopia dan deteksi dini dan pengobatan komplikasi. Obat-obatan biasa pasca operasi dalam kasus operasi katarak anak terdiri dari obat tetes mata antibiotik, tetes mata steroid dan sikloplegik.1

Postoperatif, pemberian steroid subkonjungtiva dan intrakamera disarankan untuk menekan inflamasi yang biasanya segera muncul post operasi. Penurunan angka kejadian endoftalmitis pada dewasa terjadi setelah diberikan antibiotik intrakamera, namun hal tersebut belum dapat dibuktikan pada anak- anak.3

Perbedaan jenis tindakan operasi katarak pada anak dapat disebabkan oleh perbedaan usia penderita saat operasi, dan jenis katarak. Tajam penglihatan setelah satu bulan postoperasi dinilai kembali pada penelitian ini. Setelah dilakukan tindakan operasi dan prosedur postoperatif lainnya, terdapat perubahan nilai tajam penglihatan antara mata saat preoperasi dan postoperasi.

Tajam penglihatan preoperasi yang paling banyak adalah blink reflex pada 42 (23.46%) mata.

sedangkan pada postoperasi tajam penglihatan dengan best corrected visual acuity (BCVA) pada 1 bulan setelah operasi >6/18 yang paling banyak ditemukan pada 54 (30.17%) mata, diikuti 6/60-<6/18 sebanyak 53 (29.60%) mata dan fix and follow the object pada 52 (29.05%) mata.

Tajam penglihatan postoperasi ini didapatkan dalam jumlah hampir sama antara >6/18 dan 6/60-<6/18 serta pada fix and follow the object.

Hasil yang sama didapatkan pada penelitian oleh Gogate dkk yaitu ditemukan sebanyak 24.7% kasus postoperatif memiliki tajam penglihatan lebih baik dari 6/18.

Hasil serupa juga didapatkan pada penelitian oleh Hussain dkk, yaitu sebanyak 41.2% kasus memiliki tajam penglihatan lebih dari 6/18, serta penelitian oleh Kamath dkk, yaitu sebanyak 44.4% kasus memiliki tajam penglihatan lebih dari 6/18.

Perbedaan usia, morfologi katarak, durasi follow up, dan faktor penyerta lain dapat menyebabkan perbedaan hasil visus postoperasi. Komplikasi postoperasi katarak pada anak, seperti posterior capsule opacification (PCO), juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tajam penglihatan postoperasi.12,17, 19,23, 35,36

Keterbatasan dari penelitian ini adalah kurang lengkapnya data-data yang tertera pada rekam medis, seperti kondisi sistemik penyerta lainnya, etiologi katarak, dan tipe katarak.

(11)

SIMPULAN

Pada penelitian ini, kasus katarak bilateral merupakan yang paling banyak ditemukan. Jumlah katarak kongenital lebih besar dibandingkan dengan katarak developmental.

Kelainan okular yang paling banyak menyertai katarak adalah nistagmus.

Congenital rubella syndrome (CRS) dan Down sindrome adalah kedua kondisi sistemik yang paling banyak menyertai kasus katarak pada anak.

Tindakan ekstraksi lensa dengan aspirasi irigasi dan primary posterior capsulotomy (PPC) serta vitrektomi anterior merupakan jenis tindakan operasi yang paling banyak dilakukan pada penelitian ini.

Tajam penglihatan yang paling banyak didapatkan pada preoperasi adalah blink reflex, sedangkan tajam penglihatan yang paling banyak didapatkan pada postoperasi adalah

>6/18.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap karakteristik klinis katarak pada anak, sehingga proses penatalaksanaan kasus dan kelengkapan data dapat menjadi lebih baik dan lengkap.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bharat Patil, Reetika Sharma, Bhagbat Nayak, Gautam Sinha SK.

Pediatric cataract.

Ophthalmology.2011;118(8):1692.

2. Sandra Chandramouli Ganesh, Shilpa G.Rao FA. Pediatric intraokular lens power calculations.

Curr Opin Ophthalmol.

2012;23(5):388-93

3. Medsinge A, Nischal KK.

Pediatric cataract: Challenges and future directions. Clin Ophthalmol.

2015;9:77–90.

4. Vasavada AR, Raj SM, Nihalani B.

Rate of axial growth after congenital cataract surgery. Am J Ophthalmol. 2004;138(6):915–24.

5. Jasman AA, Shaharuddin B, Noor RAM, Ismail S, Ghani ZA, Embong Z. Prediction error and accuracy of intraokular lens power calculation in pediatric patient comparing SRK II and pediatric IOL calculator. BMC Ophthalmol.

2010;10(1):1–10.

6. Kekunnaya R, Gupta A, Sachdeva V, Rao HL, Vaddavalli PK, Om Prakash V. Accuracy of intraokular lens power calculation formulae in children less than two years. Am J Ophthalmol [Internet].

2012;154(1):13-19.e2. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.ajo.201 1.11.031

7. Mataftsi A, Haidich AB, Kokkali S, Rabiah PK, Birch E, Stager DR, et al. Postoperative glaucoma following infantile cataract surgery: An individual patient data meta-analysis. JAMA Ophthalmol.

2014;132(9):1059–67.

8. Lim Z, Rubab S, Chan YH, Levin A V. Management and outcomes of cataract in children: The Toronto experience. J AAPOS [Internet]. 2012;16(3):249–54.

Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.jaapos.

2011.12.158

9. Haargaard B, Wohlfahrt J, Rosenberg T, Fledelius HC, Melbye M. Risk factors for idiopathic congenital/infantile cataract. Investig Ophthalmol Vis Sci. 2005;46(9):3067–73.

10. El Shakankiri NM, Bayoumi NH, Abdallah AH, El Sahn MMF.

Role of ultrasound and

(12)

biomicroscopy in evaluation of anterior segment anatomy in congenital and developmental cataract cases. J Cataract Refract

Surg [Internet].

2009;35(11):1893–905.

Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.jcrs.2 009.07.007

11. Nagamoto T, Oshika T, Fujikado T, Ishibashi T, Sato M, Kondo M, et al. Clinical characteristics of congenital and developmental cataract undergoing surgical treatment. Jpn J Ophthalmol [Internet]. 2015;59(3):148–56.

Available from:

http://dx.doi.org/10.1007/s10384 -015-0370-8

12. Zhang L, Wu X, Lin D, Long E, Liu Z, Cao Q, et al. Visual Outcome and Related Factors in Bilateral Total Congenital Cataract Patients: A Prospective Cohort Study. Sci Rep.

2016;6(January):1–7.

13. Lin D, Liu Z, Chen J, Lin Z, Zhu Y, Chen C, et al. Practical pattern of surgical timing of childhood cataract in China: A cross- sectional database study. Int J Surg [Internet]. 2019;62:56–61.

Available from:

https://doi.org/10.1016/j.ijsu.201 9.01.012

14. Katibeh M, Eskandari A, Yaseri M, Hosseini S, Ziaei H. The gender issue in congenital and developmental cataract surgery. J Ophthalmic Vis Res.

2013;8(4):308–13.

15. Zhao W, Zhang L, Sui M, Zhu Y, Zeng L. Protective effects of sirtuin 3 in a murine model of sepsis-induced acute kidney

injury. Nat Publ Gr.

2016;(August):1–11.

16. Zhu X, Du Y, He W, Sun T, Zhang Y, Chang R, et al. Clinical Features of Congenital and Developmental Cataract in East

China: A Five-year

Retrospective Review. Sci Rep.

2017;7(1):1–5.

17. Kamath SJ, John TA, Jayanthi K.

Clinical profile of congenital and developmental cataract in a tertiary care centre of southern india. J Clin Diagnostic Res.

2018;12(9):NC01–4.

18. Churchill A, Graw J. Clinical and experimental advances in congenital and paediatric cataracts. Philos Trans R Soc B Biol Sci. 2011;366(1568):1234–

49.

19. Solebo AL, Russell-Eggitt I, Cumberland P, Rahi JS.

Congenital cataract associated with persistent fetal vasculature:

Findings from IoLunder2. Eye [Internet]. 2016;30(9):1204–9.

Available from:

http://dx.doi.org/10.1038/eye.20 16.159

20. Sheeladevi S, Lawrenson JG, Fielder AR, Suttle CM. Global prevalence of childhood cataract:

A systematic review. Eye [Internet]. 2016;30(9):1160–9.

Available from:

http://dx.doi.org/10.1038/eye.20 16.156

21. Bouthry E, Picone O, Hamdi G, Grangeot-Keros L, Ayoubi JM, Vauloup-Fellous C. Rubella and pregnancy: Diagnosis, management and outcomes.

Prenat Diagn.

2014;34(13):1246–53.

(13)

22. Herini ES, Gunadi, Triono A, Mulyadi AWE, Mardin N, Rusipah, et al. Hospital-based surveillance of congenital rubella syndrome in Indonesia. Eur J

Pediatr [Internet].

2017;176(3):387–93. Available from:

http://dx.doi.org/10.1007/s00431 -017-2853-8

23. Khanna R, Foster A, Krishnaiah S, Mehta M, Gogate P. Visual outcomes of bilateral congenital and developmental cataracts in young children in south India and causes of poor outcome. Indian J Ophthalmol. 2013;61(2):65–70.

24. Hwang SS, Kim WS, Lee SJ.

Clinical features of strabismus and nystagmus in bilateral congenital cataracts. Int J Ophthalmol. 2018;11(5):813–7.

25. Traboulsi EI, VanderVeen D, Morrison D, Drews-Botsch CD, Lambert SR. Associated systemic and okular disorders in patients with congenital unilateral cataracts: The Infant Aphakia Treatment Study experience. Eye [Internet].

2016;30(9):1170–4. Available from:

http://dx.doi.org/10.1038/eye.20 16.124

26. Magnusson G, Haargaard B, Basit S, Lundvall A, Nyström A, Rosensvärd A, et al. The Paediatric Cataract Register (PECARE): an overview of operated childhood cataract in Sweden and Denmark. Acta Ophthalmol. 2018;96(1):51–5.

27. Sachdeva V, Katukuri S, Kekunnaya R, Fernandes M, Ali MH. Validation of Guidelines for Undercorrection of Intraokular

Lens Power in Children. Am J Ophthalmol [Internet].

2017;174:17–22. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.ajo.2 016.10.017

28. O’Gallagher MK, Lagan MA, Mulholland CP, Parker M, McGinnity G, McLoone EM.

Paediatric intraokular lens implants: Accuracy of lens power

calculations. Eye.

2016;30(9):1215–20.

29. Vasavada V, Shah SK, Vasavada VA, Vasavada AR, Trivedi RH, Srivastava S, et al. Comparison of IOL power calculation formulae for pediatric eyes. Eye [Internet]. 2016;30(9):1242–50.

Available from:

http://dx.doi.org/10.1038/eye.20 16.171

30. Mohammadpour M, Shaabani A, Sahraian A, Momenaei B, Tayebi F, Bayat R, et al. Updates on managements of pediatric cataract. J Curr Ophthalmol [Internet]. 2019;31(2):118–26.

Available from:

https://doi.org/10.1016/j.joco.20 18.11.005

31. Enyedi LB, Peterseim MW, Freedman SF, Buckley EG.

Refractive changes after pediatric intraokular lens implantation. Am J Ophthalmol.

1998;126(6):772–81.

32. Li J, Liu Z, Wang R, Cheng H, Zhao J, Liu L, et al. Accuracy of intraokular lens power calculations in paediatric eyes.

Clin Exp Ophthalmol.

2020;48(3):301–10.

33. Nihalani BR, Vanderveen DK.

Accuracy of intraokular lens power calculation formulae in children less than two years. Am

(14)

J Ophthalmol [Internet].

2012;154(4):759–60. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.ajo.2 012.06.017

34. Trivedi RH, Wilson ME.

Prediction error after pediatric cataract surgery with intraokular lens implantation: Contact versus immersion A-scan biometry. J Cataract Refract Surg [Internet].

2011;37(3):501–5. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.jcrs.2 010.09.023

35. Gogate P, Parbhoo D, Ramson P, Budhoo R, Øverland L, Mkhize N, et al. Surgery for sight:

Outcomes of congenital and developmental cataracts operated in Durban, South Africa. Eye.

2016;30(3):406–12.

36. Enayet Hussain AHM, Hossain A, Ferdausi N, Islam MZ, Sen U.

Visual outcomes of congenital cataract surgery in a tertiary public hospital in Bangladesh.

Asia-Pacific J Ophthalmol.

2015;4(5):263–6.

37. Wilson ME, Trivedi RH. Choice of intraokular lens for pediatric cataract surgery: Survey of AAPOS members. J Cataract Refract Surg. 2007;33(9):1666–8.

38. Bar-Sela SM, Spierer A.

Astigmatism outcomes of scleral tunnel and clear corneal incisions for congenital cataract surgery.

Eye. 2006;20(9):1044–8.

Referensi

Dokumen terkait

Katarak uveitis meliputi sekitar 1,2% kasus bedah katarak dan membutuhkan tindakan bedah dengan hasil post- operasi yang kurang dapat diprediksi.1 Edema makula kistoid CME paska