• Tidak ada hasil yang ditemukan

REVIEW JURNAL MODEL DAN DESIGN PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

N/A
N/A
Salva Achmad

Academic year: 2024

Membagikan "REVIEW JURNAL MODEL DAN DESIGN PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI "

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

REVIEW JURNAL

MODEL DAN DESIGN PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah

Ilmu Lingkungan

Disusun Oleh:

Kelompok 1

1. Salva Achmad Lail 20035010069 2. Syahrul Kahfi Al-fajari 20035010050 3. Sabila Ika Cahyani 2399200017

Dosen Pengampu:

Dr. Ir. Minarni N Trilita, M.T.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

2024

(2)

i KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah- Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas review jurnal tentang " Model dan Design Pengelolaan Limbah Industri" dengan tepat waktu.Review jurnal ini disusun mengambil dari 5 jurnal terkait untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ilmu Lingkungan. Selain itu, Review Jurnal ini bertujuan menambah wawasan tentang pengelolaan limbah industri bagi para pembaca dan juga bagi penulis.Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Ir. Minarni N Trilita, M.T. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Ilmu Lingkungan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikan Review Jurnal ini.Penulis menyadari Review Jurnal ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan Review Jurnal ini.

Surabaya, 7 Maret 2024

Penulis

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 1

1.3 Tujuan ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Industrialisasi ... 3

2.2 Limbah Cair ... 4

BAB III ... 13

PEMBAHASAN ... 13

3.1 Sistem Pengelolaan Limbah Cair ... 13

3.2 Model dan Desain Pengolahan Limbah Cair Industri ... 17

3.3 Kesimpulan ... 19

3.4 Saran ... 19

DAFTAR PUSTAKA ... 21

(4)

iii

(5)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan jumlah populasi masyarakat menyebabkan banyaknya kebutuhan sandang pangan papan serta gaya hidup yang konsumtif, mengakibatkan peningkatan pada jumlah produksi dibidang industri, sehingga limbah yang dihasilkan semakin meningkat mengakibatkan permasalahan lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik dan benar akan berakibat fatal, semua yang terkait berperan penting menjaga lingkungan, jangan sampai limbah produksi yang dihasilkan tidak terkelola dengan baik yang akan menyebabkan kerusakan ekosistem baik ekosistem tanah, air maupun udara, alhasil masyarakat yang bertempat tinggal di dekat lingkungan industri tersebut mendapatkan efek buruknya seperti penyakit yang diakibatkan oleh lingkungan tercemar seperti air yang tercemar dapat mengakibatkan diare, udara yang tercemar menyebabkan penyakit ispa serta penyakit lainnya yang ditimbulkan oleh lingkungan tercemar, oleh karena itu pengelolaan limbah industri sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan, sehingga Review Jurnal ini kami harap dapat bermanfaat serta dapat memecahkan masalah yang sedang berkembang akhir-akhir ini tentang pengelolaan limbah industri, serta kami harap pengelolaan limbah industri menjadi lebih maksimal lagi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sistem pengelolaan limbah industri?

2. Apa saja jenis-jenis media pengelolaan limbah cair industri?

(6)

2 3. Bagaimana model dan desain pengelolaan limbah cair industri bekerja?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengelolaan manajemen limbah industri 2. Mengetahui pengelolaan limbah cair industri

3. Mengetahui pengembangan teknologi pengelolaan limbah cair pabrik

(7)

3 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Industrialisasi

Industrialisasi merupakan salah satu alternatif model pembangunan yang dilakukan oleh berbagai negara untuk memacu pertumbuhan ekonomi.Dalam realisasinya proses industrialisasi selain memberikan dampak positif berupa memberikan percepatan terhadap pertumbuhan ekonomi, juga memiliki dampak keberadaan limbah hasil industri.Oleh karena itu, hal ini menimbulkan tuntutan- tuntutan dalam industrialisasi tetap harus mempertimbangkan segala prosesnya agar tetap ramah lingkungan.Bahkan dalam belakangan ini muncul yang namanya revolusi hijau, yang mana adanya tuntutan terhadap suatu produk agar tidak hanya ramah lingkungan tapi juga bisa di daur ulang.Menurut Khalil dan Khan, 2009 persoalan limbah industrialisasi juga menjadi persoalan di industri kecil.Hal ini mengacu pada para pengelola yang mengalami keterbatasan lahan, biaya, dan kesadaran pelaku usaha industri kecil terhadap ramah lingkungan yang masih rendah.Oleh karena itu, isu kajian tentang penanganan dan pengelolaan limbah hasil industri, termasuk yang terjadi pada sentra industri kecil menjadi menarik.Realita ini mengacu pada nilai penting terkait manajemen lingkungan dan komitmen terhadap terciptanya produk hijau yang ramah lingkungan dan bisa di daur ulang.

Dalam industrialisasi dan manajemen lingkungan terdapat dua aspek penting, pertama : minimalisasi limbah.Hal ini mengacu pada prinsip menghasilkan produk yang sekecil mungkin menghasilkan limbah.Artinya, dalam aspek ini yang

(8)

4 perlu diperhatikan adalah produk yang dihasilkan dan proses menciptakan produk itu sendiri.Oleh karena itu, secara tidak langsung karakteristik proses produksi produk yang berbeda secara tidak langung berpengaruh terhadap jenis limbah dan kualitas limbah yang dihasilkan.Berdasarkan hal ini maka dalam proses produksi produk diharapkan bisa mereduksi sumber penghasil limbah.Kedua : optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan ulang limbah hasil industri.Jika dalam proses mereduksi sumber limbah tidak bisa dilakukan maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengoptimalisasi limbah yang dihasilkan.Proses ini berkaitan dengan proses pengelolaan limbah selama proses produksi sehingga hasil akhir dari pengelolaan limbah menghasilkan limbah yang minimalis.Selain itu, proses pengelolaan limbah juga dapat berorientasi pada pemanfaatan limbah yang bernilai sosial ekonomi.

2.2 Limbah Cair

Limbah cair merupakan air bekas pakai dari berbagai proses penggunaan yang telah mengandung bahan pencemar atau polutan berupa senyawa organik dan anorganik.Pada umumnya, air limbah atau limbah cair memiliki kuantitas yang lebih besar dibandingkan limbah jenis lainnya dan memiliki tipikal kandungan polutan yang lebih beragam, antara lain;minyak, alkohol, fenol, pewarna sintetis, dan logam berat.Standar kualitas air layak pakai yang diharapkan biasanya memiliki karakteristik yang bervariasi dan sesuaikan dengan peruntukannya, antara

(9)

5 lain untuk keperluan air minum, air irigasi, atau air proses yang dimanfaatkan untuk kebutuhan proses industri tertentu.

Air limbah atau limbah cair yang telah diolah dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk berbagai kebutuhan yang produktif, bahkan sebagai sumber air minum.Kualitas air olahan yang akan dipergunakan sebagai sumber air minum yang layak dikonsumsi harus memenuhi syarat yang ditetapkan sehingga menjamin kesehatan manusia dalam jangka pendek maupun jangka panjang.Begitu juga dengan air limbah yang akan didaur ulang untuk kebutuhan lainnya yang masih mengandung berbagai polutan akibat paparan limbah, harus melewati tahapan pengolahan untuk menghilangkan atau setidaknya menurunkan konsentrasi polutan tersebut secara signifikan, baik polutan yang dapat terdeteksi secara visual maupun yang hanya dapat diketahui dengan pengujian di laboratorium.Beberapa teknik pengolahan air dan limbah cair yang dikenal dan dapat diterapkan dengan sistem tunggal maupun secara terintegrasi yang melibatkan minimal 2 metode pengolahan yang berkesinambungan untuk mendapatkan hasil air olahan yang lebih baik, diantaranya :

a. Screening

Sampah padatan yang berasal dari alam, buangan industri dan berbagai aktivitas manusia lainnya seperti kerikil, potongan kayu, dahan, daun, bangkai hewan, botol plastik, kaleng dan sampah lainnya yang berukuran relatif besar dapat menyebabkan penyumbatan pada saluran air dan merusak sistem peralatan pengolahan limbah seperti pompa.Untuk mengatasi hal tersebut, maka dilakukan proses screening atau penyaringan kasar.Screening adalah unit operasi pengolahan

(10)

6 limbah cair tingkat pertama yang memisahkan material padatan berdasarkan ukuran tertentu yang relatif besar dari limbah cair.Proses screening menggunakan alat yang dinamakan bar screen.Alat tersebut umumnya terbuat dari logam yang dibentuk sedemikian rupa hingga memiliki struktur berongga dan diletakan di area aliran masuk limbah cair menuju area utama kolam penampungan dan pengolahan limbah.

b. Filtrasi Membran

Penggunaan teknologi membran dalam proses pengolahan air terkontaminasi memiliki beberapa sisi yang lebih unggul dibandingkan dengan sejumlah metode lainnya, antara lain mampu menghasilkan air dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi, bahkan mampu mencapai efisiensi pemurnian hingga 100% dan dapat mengolah air dengan kapasitas yang besar dalam waktu yang relatif singkat.Terdapat beberapa jenis membran yang umum diaplikasikan dalam proses pemurnian air, yaitu : Ultrafiltration, Microfiltration, Nanofiltration, dan Reverse osmosis.Membrane Ultrafiltration, microfiltration, dan nanofiltration umumnya digunakan dalam proses pengolahan air terkontaminasi yang berasal dari limbah industri dan rumah tangga, dimana air hasil akhir dari proses filtrasi tersebut diperuntukan untuk penggunaan produktif lainnya seperti air proses, air irigasi, ataupun air yang akan dialirkan ke pembuangan akhir di alam terbuka.Sedangkan, reverse osmosis saat ini banyak dimanfaatkan untuk proses pengolahan air yang akan dijadikan sebagai sumber air minum, meskipun demikian beberapa industri pengolahan minyak juga mulai turut menggunakan membran tipe ini untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan.Membran semi permeable tipe reverse osmosis mampu menyaring berbagai polutan termasuk senyawa patogen, senyawa

(11)

7 organik dan anorganik lainnya sehingga dihasilkan air yang memiliki tingkat kemurnian tinggi dan mendekati kadar kemurnian air suling .Selain itu, membran reverse osmosis juga dapat diaplikasikan untuk mengolah air laut yang asin menjadi air yang siap minum karena membran tersebut mampu menyaring partikel garam terlarut.Proses pengolahan air laut menjadi air tawar dikenal dengan nama desalinasi.Di sebagian besar negara maju seperti Australia, Amerika Serikat, dan Kanada, teknologi desalinasi telah diterapkan dalam skala besar sehingga dapat memenuhi kebutuhan air minum nasional, dimana air laut yang telah diolah di sistem membran reverse osmosis dapat dialirkan melalui pipa –pipa ke tiap rumah tangga dan dapat dikonsumsi sebagai air minum yang diperoleh melalui aliran air di keran rumah tangga, tanpa pengolahan lebih lanjut.Permasalahan yang menjadi tantangan tersendiri dalam pemanfaatan teknologi membran adalah fenomena penurunan kinerja membrane akibat penyumbatan pori atau lapisan permukaan alir membrane oleh partikel polutan yang terjebak dan dikenal dengan istilah membrane fouling.Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa prosedur dapat dilakukan antara lain memberikan perlakuan awal pada air dan limbah cair sebelum dialirkan memasuki sistem membran, dan melakukan proses pencucian membran secara periodik setelah masa pakai dalam rentang waktu tertentu.

c. Filtrasi menggunakan Media Pasir

Proses pemurnian air yang menggunakan metode filtrasi atau penyaringan dari bahan pasir bersih dikenal dengan istilah slow sand filter , dan pasir dengan ukuran dan tipe yang seragam umumnya digunakan sebagai upaya sederhana untuk mengurangi konsentrasi polutan pada air dengan tingkat turbidity dan polusi yang

(12)

8 rendah, dimana air tersebut tidak diperuntukan sebagai sumber air minum tanpa olahan lebih lanjut.Secara umum, penyaring jenis ini terdiri dari pipa yang berisi beberapa lapisan pasir yang diletakan sedemikian rupa dan diikuti oleh tambahan beberapa lapisan lain yang berisi batu kerikil dimana batu kerikil ini tidak menyentuh dinding dari pipa penyaring sehingga air tidak dapat melalui saringan dengan mudah melalui dinding filter, sedangkan dinding pipa sebaiknya dibuat dengan pola kasar atau tidak rata dan licin untuk lebih memperlambat pergerakan air yang mungkin menyentuh dinding pipa.Penyaringan sederhana alami jenis ini dapat digunakan beberapa kali sebelum pasir yang telah mengandung polutan yang terperangkap tersebut diganti dengan pasir baru.Sistem ini juga hanya digunakan untuk aliran air yang kontinyu.Kedalaman pipa yang berisi pasir minimal 0,6 meter.Sistem pengolahan air SFF umumnya tidak dapat menjadi proses yang berdiri sendiri.Untuk memurnikan air dengan tingkat kontaminasi kompleks termasuk patogen dan logam berat yang berukuran sangat kecil, tetap dibutuhkan proses lain baik sebelum atau sesudah SFF dilakukan.

d. Adsorpsi

Dalam proses adsorpsi, adsorben berfungsi untuk menyerap polutan.Material adsorben dapat terbuat dari mineral non-organik, bahan organik sintetik dan bahan organik alami.Adsorben yang berasal dari material non organik memiliki tingkat daya apung dan daya serap yang relatif rendah terhadap polutan tertentu minyak dan logam, sedangkan adsorben bekas pakai yang terbuat dari bahan sintetis cenderung mencemari lingkungan.Hal tersebut mendorong munculnya alternatif bahan dasar adsorben yang bersifat ramah terhadap

(13)

9 lingkungan dengan tingkat ketersediaan yang stabil, ekonomis serta memiliki efisiensi yang tinggi, dan hal tersebut merupakan karakteristik adsorben yang terbuat dari bahan organik termasuk bagian tanaman dan sisa hasil pertanian seperti cangkang kelapa sawit, kulit pisang, kulit buah durian, kulit dan biji buah manga dan lainnya.Meskipun demikian, pemanfaatan bahan organik mentah tanpa melalui proses aktifasi menghasilkan tingkat penyerapan yang relatif terbatas, terutama untuk limbah industri yang mengandung tingkat polutan yang tinggi.Sehingga diperlukan berbagai metode aktivasi untuk meningkatkan kinerja adsorben tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan persentase penurunan konsentrasi polutan sekaligus mencapai kapasitas adsorpsi optimum dari adsorben, termasuk dengan melakukan chemical impregnation dan carbonization.Salah satu proses aktivasi yang paling umum dilakukan untuk mengaktivasi material adsorben adalah karbonisasi pada temperatur tinggi yang dapat dimulai dari kisaran 200 C untuk menghasilkan karbon aktif .Pengolahan air terkontaminasi dengan menggunakan karbon aktif, termasuk karbon aktif yang tersedia secara komersil, sebagai media penyaring dan penyerap polutan seperti senyawa patogen, padatan terlarut, pewarna sintetis, dan logam berat telah banyak diaplikasikan karena menawarkan beberapa keuntungan seperti prosedur pemakaian yang sederhana, waktu pengolahan yang relatif singkat dan kualitas air olahan yang layak dimanfaatkan lebih lanjut.Namun masa pakai karbon aktif harus menjadi perhatian, penggunaan karbon aktif yang sudah dalam keadaan jenuh akibat pemakaian yang terus menerus dapat mengakibatkan berkembang-biaknya mikroorganisme yang telah terperangkap dalam media karbon seperti berbagai jenis senyawa patogen.Semakin banyak masa karbon aktif yang digunakan dalam filter maka akan semakin memperpanjang masa

(14)

10 pakai filter tersebut.Penggunaan karbon aktif yang telah digranulasi atau bentuk karbon aktif blok terkompresi atau arang aktif serbuk dapat meningkatkan area permukaan karbon yang berfungsi sebagai sisi aktif yang menangkap partikel polutan.

e. Penggunaan Mikroorganisme

Pemanfaatan mikroorganisme merupakan pengolahan limbah cair secara biologi.Mikroorganisme tersebut biasanya adalah bakteri baik yang bersifat aerob atau anaerob.Umumnya dilakukan dengan dua sistem yaitu suspended growth system dan fixed film systems.Pada pertumbuhan mikroorganisme dalam suspended growth system, mikroorganisme hidup di dalam air limbah dengan bantuan aliran udara yang dihasilkan oleh distributor oksigen yang diletakan di dasar bak penampungan atau kolam limbah sehingga terjadi percampuran yang merata antara mikroorganisme dengan air limbah.Metode ini membutuhkan clarifier yang berfungsi untuk memisahkan mikroorganisme setelah proses pengolahan dimana mikroorganisme yang terpisah sebagian besar dipergunakan kembali dan sebagian kecil dibuang untuk mengendalikan jumlah mikroorganisme dalam proses.Salah satu contoh pengolahan limbah cair dengan metode pertumbuhan mikroba tersuspensi yang paling banyak diterapkan adalah metode lumpur aktif.Sedangkan pada fixed film systems, mikroorganisme ditumbuhkan pada suatu media padat berpori yang berfungsi sebagai tempat yang memberikan area tumbuh yang memadai bagi pembentukan lapisan mikroorganisme atau biomassa.Limbah cair yang dialirkan melakukan kontak dengan lapisan biomassa yang dapat mengoksidasi polutan organik dan solid yang tersuspensi dalam

(15)

11 limbah.Media yang umum diaplikasikan dalam sistem pertumbuhan mikroorganisme melekat adalah saringan tetes dan cakram kontak biologis putar.Pada sistem saringan tetes, tersedia area yang berisi media penyaring yang disusun secara bertumpuk.Media saring tersebut dapat berupa potongan batu kerikil, zeolit, kayu, silika, arang dan pozzolan yang berukuran kecil ataupun bahan isian dari polimer plastik yang berukuran mikro dan memiliki daya tahan yang baik terhadap cuaca sehingga dapat digunakan dalam waktu beberapa beberapa tahun.Proses pendistribusian air limbah dan suplai oksigen dilakukan dengan bantuan blower yang diletakan pada bagian dasar bak.Sedangkan pada metode cakram kontak biologis, mikroorganisme tumbuh melekat pada cakram melingkar yang berputar dengan kecepatan tertentu.Cakram tersebut digerakan oleh motor penggerak udara secara mekanik.Sebagian dari cakram tersebut atau sekitar 40%

berada di dalam limbah cair sehingga terjadi pertumbuhan lapisan mikroba pada permukaan cakram putar.Biofilm tersebut dapat menyerap polutan organik yang terkandung pada limbah dan dengan bantuan oksigen yang didapatkan saat terjadi perputaran cakram, maka proses penguraian senyawa organik menjadi lebih cepat.Semakin lama perputaran cakram menyebabkan semakin tebalnya lapisan mikroorganisme yang terbentuk dan gaya gravitasi menyebabkan lapisan tersebut lepas dan terbawa aliran air keluar.Secara umum, dapat disimpulkan bahwa proses biologi merupakan proses alami yang cukup efektif dan efisien karena berbiaya rendah, ramah terhadap lingkungan dan dapat diaplikasikan untuk menurunkan berbagai polutan organik dan non-organik termasuk kandungan lemak dan minyak yang bersifat stabil serta kandungan logam dalam limbah.Namun demikian, teknik

(16)

12 ini membutuhkan area yang relatif lebih luas, waktu yang lebih lama dibandingkan dengan proses lainnya, serta fleksibilitas operasional dan desain yang terbatas.

(17)

13 BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Sistem Pengelolaan Limbah Cair

Sistem pengolahan limbah cair industri umumnya terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

a. Pretreatmen.

Pretreatment atau pra-pengolahan merupakan tahap awal dalam sistem pengolahan limbah cair industri. Tahap ini bertujuan untuk:

● Menghilangkan padatan kasar yang dapat menyumbat sistem pengolahan selanjutnya.

● Mengurangi konsentrasi bahan pencemar berbahaya seperti logam berat dan senyawa beracun.

● Membuat limbah cair lebih mudah diolah pada tahap selanjutnya.

Metode yang umum digunakan pada tahap pretreatment:

● Penyaringan kasar (screening): Digunakan untuk menghilangkan padatan kasar seperti ranting, plastik, dan kain.

● Penyegarang (equalization): Digunakan untuk menstabilkan aliran dan konsentrasi limbah cair.

● Netralisasi: Digunakan untuk mengatur pH limbah cair agar sesuai dengan kondisi optimum untuk proses pengolahan selanjutnya.

(18)

14

● Pengendapan (sedimentation): Digunakan untuk menghilangkan padatan tersuspensi (TSS) dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

● Koagulasi dan flokulasi: Digunakan untuk memperbesar ukuran TSS agar mudah diendapkan.

Beberapa contoh metode pretreatment:

● Filtrasi pasir: Digunakan untuk menghilangkan TSS dan kekeruhan air.

● Filtrasi membran: Digunakan untuk menghilangkan TSS, mikroorganisme, dan senyawa organik.

● Adsorpsi: Digunakan untuk menghilangkan senyawa organik dan logam berat.

● Oksidasi: Digunakan untuk menguraikan senyawa organik berbahaya.

Pretreatment merupakan tahap penting dalam pengolahan limbah cair industri karena:

1. Melindungi sistem pengolahan selanjutnya: Pretreatment dapat mencegah kerusakan sistem pengolahan selanjutnya akibat padatan kasar dan bahan pencemar berbahaya.

2. Meningkatkan efisiensi pengolahan: Pretreatment dapat membuat limbah cair lebih mudah diolah pada tahap selanjutnya sehingga meningkatkan efisiensi pengolahan.

3. Memenuhi baku mutu air limbah: Pretreatment dapat membantu industri memenuhi baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh pemerintah.

b. Desain dan pemilihan metode pretreatment

(19)

15 Desain dan pemilihan metode pretreatment tergantung pada beberapa faktor, seperti:

1. Jenis industri: Karakteristik limbah cair dari setiap industri berbeda-beda.

2. Karakteristik limbah cair: Konsentrasi TSS, BOD, COD, logam berat, dan senyawa berbahaya lainnya.

3. Baku mutu air limbah: Baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh pemerintah.

4. Biaya: Biaya investasi dan operasi dari setiap metode pretreatment.

c. Pengolahan primer

Pengolahan primer merupakan tahap kedua dalam sistem pengolahan limbah cair industri setelah tahap pretreatment. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi (TSS): TSS adalah partikel-partikel kecil yang tersuspensi dalam air limbah. Pengolahan primer dapat menghilangkan TSS hingga 60-80%. 2.

Mengurangi Biological Oxygen Demand (BOD): BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik dalam air limbah. Pengolahan primer dapat mengurangi BOD hingga 30-50%.Metode yang umum digunakan pada tahap pengolahan primer:

1. Sedimentasi: Pengendapan TSS dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

2. Filtrasi: Penyaringan TSS dengan menggunakan media filter seperti pasir atau membran.

3. Flotasi: Pemisahan TSS dengan memanfaatkan gelembung udara.

Beberapa contoh metode pengolahan primer:

(20)

16

● Bak pengendap: Digunakan untuk mengendapkan TSS dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

● Clarifier: Digunakan untuk mengendapkan TSS dengan lebih efisien dibandingkan bak pengendap.

● Filtrasi pasir: Digunakan untuk menghilangkan TSS dan kekeruhan air.

● Filtrasi membran: Digunakan untuk menghilangkan TSS, mikroorganisme, dan senyawa organik.Pengolahan primer merupakan tahap penting dalam pengolahan limbah cair industri karena:

1. Melindungi sistem pengolahan selanjutnya: Pengolahan primer dapat mencegah kerusakan sistem pengolahan selanjutnya akibat TSS.

2. Meningkatkan efisiensi pengolahan: Pengolahan primer dapat membuat limbah cair lebih mudah diolah pada tahap selanjutnya sehingga meningkatkan efisiensi pengolahan.

3. Memenuhi baku mutu air limbah: Pengolahan primer dapat membantu industri memenuhi baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh pemerintah.

Desain dan pemilihan metode pengolahan primer tergantung pada beberapa faktor, seperti:

● Jenis industri: Karakteristik limbah cair dari setiap industri berbeda-beda.

● Karakteristik limbah cair: Konsentrasi TSS, BOD, COD, logam berat, dan senyawa berbahaya lainnya.

● Baku mutu air limbah: Baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh pemerintah.

● Biaya: Biaya investasi dan operasi dari setiap metode pengolahan primer.

Jenis-jenis Media Pengolahan Limbah Cair Industri:

(21)

17

● Media filtrasi: Pasir, membran, dan biofilter.

● Media adsorpsi: Karbon aktif, zeolit, dan resin penukar ion.

● Mikroorganisme:Bakteri, jamur, dan alga.

3.2 Model dan Desain Pengolahan Limbah Cair Industri

Model dan desain pengolahan limbah cair industri tergantung pada beberapa faktor, seperti:

● Jenis industri.

● Karakteristik limbah cair.

● Baku mutu air limbah yang ditetapkan.

● Biaya.

Pengelolaan manajemen limbah industri adalah sebuah sistem yang dirancang untuk menangani limbah industri secara efektif dan bertanggung jawab, dengan tujuan untuk:

1. Melindungi kesehatan manusia dan lingkungan: Limbah industri dapat mengandung bahan berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan jika tidak dikelola dengan benar. Pengelolaan limbah yang baik dapat membantu mengurangi risiko pencemaran dan melindungi kesehatan masyarakat.

2. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri: Pengelolaan limbah yang baik dapat membantu industri untuk menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi dengan mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dan meningkatkan nilai daur ulang.

(22)

18 3. Memenuhi peraturan pemerintah: Industri diwajibkan untuk mematuhi peraturan pemerintah tentang pengelolaan limbah. Pengelolaan limbah yang baik dapat membantu industri untuk menghindari denda dan sanksi dari pemerintah.

Prinsip-prinsip Pengelolaan Manajemen Limbah Industri:

● Pengurangan: Mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan di sumbernya.

Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan bahan baku yang lebih efisien, mengubah proses produksi, dan memperbaiki desain produk.

● Pemanfaatan kembali: Menggunakan kembali limbah untuk tujuan lain. Hal ini dapat dilakukan dengan menjual limbah ke industri lain, menggunakan limbah sebagai bahan baku dalam proses produksi, atau menggunakan limbah untuk menghasilkan energi.

● Daur ulang: Mengubah limbah menjadi bahan baku baru. Hal ini dapat dilakukan dengan memisahkan bahan-bahan yang dapat didaur ulang, memproses limbah menjadi bahan baku baru, dan menjual bahan baku daur ulang ke industri lain.

● Pengolahan: Mengolah limbah agar tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengolahan, seperti insinerasi, landfilling, dan pengolahan air limbah.

Langkah-langkah Pengelolaan Manajemen Limbah Industri:

1. Identifikasi dan karakterisasi limbah: Mengidentifikasi jenis dan karakteristik limbah yang dihasilkan oleh industri.

2. Klasifikasi limbah: Memisahkan limbah berdasarkan jenis dan karakteristiknya.

(23)

19 3. Penyimpanan limbah: Menyimpan limbah dengan cara yang aman dan sesuai

dengan peraturan pemerintah.

4. Pengangkutan limbah: Mengangkut limbah dengan cara yang aman dan sesuai dengan peraturan pemerintah.

5. Pengolahan limbah: Mengolah limbah dengan menggunakan metode yang sesuai dengan jenis dan karakteristik limbah.

6. Pemantauan dan evaluasi: Memantau dan mengevaluasi efektivitas pengelolaan limbah industri.

Pentingnya Pengelolaan Manajemen Limbah Industri:

Pengelolaan manajemen limbah industri yang baik sangat penting untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan, meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri, dan memenuhi peraturan pemerintah. Industri harus berkomitmen untuk mengelola limbahnya dengan cara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

3.3 Kesimpulan

Pengelolaan limbah cair industri sangat penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Berbagai teknik pengolahan limbah cair industri tersedia dengan berbagai jenis media dan model desain. Pemilihan teknik yang tepat tergantung pada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.

3.4 Saran

1. Industri harus melakukan identifikasi dan karakterisasi limbah yang dihasilkan untuk mengetahui jenis dan karakteristiknya.

(24)

20 2. Industri harus memisahkan limbah berdasarkan jenis dan karakteristiknya untuk

memudahkan proses pengolahan.

3. Industri harus menyimpan limbah dengan cara yang aman dan sesuai dengan peraturan pemerintah.

4. Industri harus mengangkut limbah dengan cara yang aman dan sesuai dengan peraturan pemerintah.

5. Industri harus mengolah limbah dengan menggunakan metode yang sesuai dengan jenis dan karakteristik limbah.

6. Industri harus memantau dan mengevaluasi efektivitas pengelolaan limbah industri secara berkala.

7. Industri harus berkomitmen untuk mengelola limbah dengan cara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

(25)

21 DAFTAR PUSTAKA

Martini, S., Yuliwati, D., Kharismadewi, D. (2020). Pembuatan Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri. Jurnal Distilasi, Vol. 5 No. 2, September 2020, Hal. 26-33

Mulyanto, Adi. (2009). Pengelolaan dan Pemanfaatan Air Limbah Industri Biodiesel. Jurnal Vol. 5 No. 1 : 49-60

Said, Nusa Idaman. Ruliasih. (2005). Tinjauan Aspek Teknis Pemilihan Media Biofilter Untuk Pengolahan Air Limbah. Jurnal Vol. 1, No. 3, 272-281 Yudo, Satmoko. (2016). Pengembangan Sistem Pemantauan Kualitas Air Untuk

Memantau Air Limbah Industri Secara Online Development Of Water Quality Monitoring Online System For Wastewater Industrial Monitoring.

Jurnal Vol. 9, No. 1, 89-98

M. Nasir.,Purwo Saputro Edy., Handayani, Sih. (2015). Manajemen Pengelolaan Limbah Industri. Vol. 19, No. 2, 143-149

Referensi

Dokumen terkait

kadar organik pada pengolahan lumpur aktif memiliki efisiensi rata-rata pada BOD 26,13%, COD 29%, phospat 13%, amonia 26% dan TSS 64% yang masih dibawah standar

Sifat kimia air limbah, bahwa kandungan bahan kimia yang ada di dalam air limbah dapat berpengaruh negatif pada lingkungan melalui berbagai cara.. Bahan organik terlarutdapat

Limbah cair industri pengolahan ikan memiliki karakteristik jumlah bahan organik terlarut dan tersuspensi yang tinggi jika dilihat dari nilai BOD dan COD.. Lemak dan minyak

Substrat yang mengandung bahan kering antara 7 – 9 % yang diguanakan sebagai media mikroorganisme disebut dengan (slurry = lumpur organik mentah) yang digunakan

Pengemasan Setelah Masuk TPS Jenis Limbah Karakteristik Kemasan Ukuran WWT Sludge Beracun Jumbo Bag 2 Ton Water Coolant Beracun Drum Baja 200 L Bahan Kimia Kadaluwarsa Korosif,

Jurnal Teknik Lingkungan Volume 20 Nomor 1, Mei 2014 Hal 78-87 78 EFISIENSI PENYISIHAN ORGANIK LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU DENGAN ALIRAN HORIZONTAL SUBSURFACE PADA CONSTRUCTED

Bapedal No 01/1995 Kondisi PT X Skor Kondisi Baik, tidak bocor, tidak berkarat dan tidak rusak Sudah sesuai 1 Bahan Cocok dengan karakteristik LB3 yang akan disimpan Sudah sesuai

Pengemasan Limbah B3 dilakukan dengan menggunakan kemasan yang : a terbuat dari bahan pengemas Limbah B3 sesuai dengan karakteristik Limbah B3 yang yang disimpan b mampu menyimpan