• Tidak ada hasil yang ditemukan

Review Perkembangan Sosial Bayi (Arini Khimaya A 210401110260) (1)

N/A
N/A
Arini Khimaya Alaa`

Academic year: 2023

Membagikan "Review Perkembangan Sosial Bayi (Arini Khimaya A 210401110260) (1)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Review Perekmbangan Sosioemosi di Masa Bayi

Fase Perkembangan Sosioemosional Pada Bayi

Perkembangan sosial adalah tingkat jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, hingga masyarakat luas.

Pola Dan Variasi Perkembangan Emosi Pada Bayi

Pola emosi yang lazim pada masa bayi adalah sebagai berikut : a. Kemarahan

Perangsang yang membangkitkan kemarahan bayi adalah campur tangan terhadap gerakan-gerakan mencoba menghalangi keinginannya. Tanggapan marah mengambil bentuk menjerit, meronta-ronta, menendang kaki, mengibaskan tangan, dan memukul apa saja yang ada didekatnya. Pada tahun kedua bayi dapat juga melonjak-lonjak, guling- guling, meronta-ronta dan menahan nafas.

b. Ketakutan

Perangasang yang dapat membangkitkan ketakutan bayi adalah adalah suara keras, orang, barang, dan situasi asing, ruangan gelap, tempat tinggi. Pada usia 8 bulan sampai 1 tahun, bayi akan menangis terhadap benda, situasi, atau orang yang asing.

Tanggapan rasa takut pada masa bayi terdiri dari upaya menjauhan diri dari perangsang yang menakutkan dengan merengek, menangis dan menahan nafas.

c. Rasa ingin tahu

Bayi mudah mengungkapkan rasa ingin tahunya terutama melalui ekspresi wajah menegangkan otot muka, membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Kemudian, bayi akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut. Memegang, membolak balik dan melempar.

d. Kegembiraan

Pada usia 8 minggu bayi akan tersenyum dalam tidur pulas jika merasa kenyang, hangat dan nyaman. Pada bulan kedua dan ketiga, bayi bereaksi pada orang yang mengajaknya bercanda, menggelitik, dan memperhatikannya. Mereka mengungkapkan Nama : Arini Khimaya Alaa’

NIM : 210401110260

Jenis Tugas : Review “Pekembangan Sosioemosi di Masa Bayi”

Mata Kuliah : Psikologi Perkembangan”

(2)

rasa senang atau kegembiraanya dengan tersenyum serta menggerakkan lengan dan kakinya.

e. Afeksi

Setiap orang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, atau memperlihatkan afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Umumnya bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk dan mencium barang atau orang yang dicintainya. Pada usia 1-3 tahun, emosi bayi bisa dipengaruhi maka anak dapat turut menyayangi, mengasihi ataupun membenci sesuatu.

Masih mengutip Hurlock, secara umum pola perkembangan emosi bayi meliputi 9 aspek, yaitu :

a. Rasa takut, yaitu perasaan yang khas pada bayi. Hampir setiap fase usia. Seorang anak mengalami ketakutan dengan kadar yang berbeda-beda. rangsangan yang umumnya menimbulkan rasa takut pada bayi adalah suara yang terlalu keras, binatang menemyeramkan, kamar gelap, tempat yang tinggi, dan kesendirian.

b. Rasa malu, yaitu ketakutan yang dilandasi dengan menarik diri dan hubungan orang lain yang tidak dikenal. Rasa malu ini selalu disebabkan oleh sesama manusia, bukan benda atau binatang dan hal-hal lainnya. Rasa malu baru akan dimiliki bayi pada usia diatas 6 bulan. Alasanya, pada usia ini bayi telah mengenal orang yang sering dilihat dan orang yang asing sama sekali. Namun jika bayi tersebut selalu berhubungan dengan orang banyak, maka rasa malu tersebut akan hilang dengan sendirinya. Sebab, ia tahu bahwa sering kali orang asing baginya bisa jadi teman bermain yang asyik.

c. Rasa khawatir, yaitu khayalan ketakutan atau gelisah tanpa alasan. Khawatir tidak langsung ditimbulkan rangsangan dalam lingkungan, tetapi merupakan produk pikiran anak itu sendiri. Perasaan ini timbul karena membayangkan situasi yang berbahaya yang mungkin akan meningkat. Reaksi yang ditimbulkan adalah ekspresi melalui wajah yang tampak khawatir.

d. Rasa cemas, yaitu keadaan mental yang tidak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan. Rasa cemas ditandai dengan kekhawatiran, ketidakenakan, dan prasangka tidak berdaya atau pesimis. Reaksi yang ditimbukan adalah murung, dan lain sebagainya.

e. Rasa marah, yaitu penolakan yang kuat terhadap apa yang tidak ia sukai. Umumnya situasi yang menimbulkan kemarahan meliputi berbagai macam batasan, keinginan dan menghalangi gerak anak.

(3)

f. Rasa cemburu, yaitu perasaan ketika anak kehilangan kasih sayang, seperti terbaginya kasih sayang ibunya kepada saudaranya, ayahnya kepada orang lain.

g. Rasa duka cita, yaitu suatu kesengsaraan emosional (trauma psikis) yaitu hilangnya sesuatu yang ia cintai. Dalam bentuknya yang lebih ringan, hilangnya nikmat yang terhadap hal-hal yang ada di depannya dan lain sebagainya.

h. Rasa ingin tahu yaitu setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka menaruh minat terhadap segala sesuatu dilingkungan mereka, termasuk diri mereka sendiri.

Rasa kegembiraan dan kesenangan, yaitu emosi keriangan atau rasa bahagia. Di kalangan bayi, emosi kegembiraan ini berasal dari fisik yag sehat, situasi yang ganjil, persamaan yang mengasyikan, dan lain-lain. Reaksi yang diekspresikan adalah tersenyum, mendengkut, mengoceh, merangkak, berjalan, atau bahkan berlari.

Jenis-Jenis Emosional Pada bayi

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap ekspresi dan pola sistem saraf otonom, Lazarus (1991) mengkatagorikan emosi menjadi dua kategori, yaitu emosi primer atau dasar (basic) dan skunder (derived). Emosi primer merupakan emosi yang ada pada spesies mamalia, sedangkan emosi sekunder merupakan kombinasi dari beberapa emosi primer.

Terdapat beberapa perbedaan antar ahli emosi dalam mengatagorikan emosi primer.

Mengacu pada pendapar darwin, karakteristik yang biasa terdapat pada emosi primer : pertama, emosi primer berakar dari evolusi warisan, yang telah dimiliki sejak awal masa bayi dan muncul dengan cepat dan otomatis dalam interaksinya dengan lingkungan. Kedua, emosi primer memiliki karakteristik sebagai ekspresi wajah yang universal dan dapat dikenali pada berbagai budaya yang berbeda. Kryiga, emosi primer berkaitan dengan sistem sirkuit saraf di otak dan berkorelasi dengan aktivitas sistem otonom, namun Lazarus (1991) memberi empat perbedaan utama dalam menyimpulkan emosi-emosi yanag masuk dalam kategori emosi primer, yaitu :

a) Emosi primer merupakan emosi asli dan elemen dari fisiologis.

b) Emosi primer ditemukan secara konsisten pada berbagai budaya dan beberapa spesies binatang.

c) Emosi primer ada sejak lahir atau pada tahun pertama kehidupan.

d) Emosi primer merupakan dorongann dan ekspresi yang lebih ditunjukkan sebagai tgas penyesuaian yang paling penting dalam mempertahankan diri dari bahaya, reproduksi, orientasi dan eksplorasi (atau disebut sebagai universalitas biologi).

(4)

Fase Perkembangan Sosioemosional Pada Bayi

Menurut Yusuf (2005), perkembangan emosi terbagi menadi lima fase yaitu antara lain :

a. Fase Bayi (0-2 tahun)

Masa bayi 0-2 tahun terbagi menadi 3 kategori : 1) Usia 0-8 mingguu

Kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi. Emosi anak sangat bertalian dengan perasaan indrawi (fisik), dengan kualitas perasaan, senang dan tidak senang.

Misal : anak tertidur pulas atau senyum bila ia merasa kenyang, hangat dan nyaman, serta menangis karena lapar, haus, kedinginan atau sakit.

2) Usia 8 minggu-1 tahun

Pada masa ini perasaan psikis sudah mulai berkembang anak merasa senang atau tersenyum bila melihat mainan yang tergantung di depan matanya. Tidak merasa senang terhadap benda asing atau orang asing (menangis apabila dipangku oleh orang yang tidak dikenalnya). Pada masa ini perasaan anak mengalami diferensial (penguraian), yaitu dari perasaan senang jasmaniah menjasi tidak senang, marah, takut, jengkel, dan terkejut.

3) Usia 1-3 tahun

Pada masa ini perasaan emosi anak sudah mulai terarah pada sesuatu (orang, benda atau makhluk lain). Sejajar dengan perkebangan bahasa yang sudah dimulai pada usia dua tahun, maka anak dapat menyatakan perasaannya dengan menggunakan bahasa dan emosi. Pada fase ini anak bersifat labil (mudah berubah) dan mdah bersulut (mudah terpengaruh tetapi tidak lama).

Gejala-gejala perkembangan emosi pada usia ini, yaitu sebagai berikut : a) Emosinya sudah mulai terarah pada sesuatu (orang, benda atau makhluk lain).

b) Sejajar dengan perkembangan bahasa yang sudah dimulai pada usia 2 tahun maka anak dapat menyatakan perasaanya dengan menggunakan bahasa.

c) Sifat-sifat perasaan anak pada fase ini :

a. Labil, artinya mudah kembali berubah (sebentar menangis, kemudian tertawa).

b. Mudah bersulut (dipengaruhi) tetapi tidak bertahan lama dan sifatnya dangkal.

Dari berbagai uraian tentang pola dan variasi perkembangan emosi pada bayi dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosi pada bayi dapat diramalkan proses perkembangannya, adapun variasi perkembangan emosi pada masing-masing anak berbeda-

(5)

beda tergantung pada faktor yang mempengaruhi. Beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya :

a) Keadaan fisik anak.

b) Reaksi sosial terhadap perilaku emosional.

c) Kondisi lingkungan.

d) Jumlah anggota keluarga.

e) Cara mendidik anak.

f) Status sosial-emosional keluarga.

Pada usia ini perkembangan rasa sosial lebih jelas lagi karena dapat dinyatakan dengan bahasa, seperti mengajak, menyatakan simpati dan antipasti, rasa tidak setuju, menolak atau menentang dan sebagainya. Karena emosi anak kemungkinan dapat dipengaruhi maka anak dapat turut menyayangi, mengasihi ataupun membenci sesuatu. Hal ini merupak benih untuk timbulnya rasa sayang, benci atau simpati terhadap sesuatu (seseorang).

Perkembangan Sosial Pada Bayi

Sebagian psikolog beranggapan bahwa perkembangan sosial itu dimulai sejak anak lahir di dunia, terbukti seorang bayi yang menangis, adalah dalam rangka mengadakan kontak/hubungan dengan orang lain. Atau anak tampak mengadakan aktifitas meraba, tersenyum, bila memperoleh rangsangan dan teguran dari luar.

Contoh Perkembangan sosial emosi di masa bayi:

1. Perkembangan Sosial Emosi pada umur 0-8

https://www.youtube.com/watch?v=j9Tn7EoH1gI&list=PLc0W- Z7OmI5kbylm6OcL0Re1jYqGn7TLy

2. Perkembangan Sosial Emosi pada umur 8-18 bulan https://www.youtube.com/watch?v=hO7kYb9qQ7I 3. Perkembangan Sosial Emosi pada umur 18-36 bulan

https://www.youtube.com/watch?v=hO7kYb9qQ7I&list=PLc0W- Z7OmI5kbylm6OcL0Re1jYqGn7TLy&index=3

4. Perkembangan Sosial Emosi pada umur 36-48 bulan

https://www.youtube.com/watch?v=3JT_hTNNr6c&list=PLc0W- Z7OmI5kbylm6OcL0Re1jYqGn7TLy&index=4

(6)

Referensi

Dokumen terkait

kebiasaan, karena pada masa anak- anak, merupakan “peniru ulung”, maka pembiasaan pendidikan moral perlu dimulai sejak usia prasekolah. Pendidikan karakter di PAUD perlu

Menurut Freud, pada masa phallic stage (usia 3-6 tahun), seorang anak mulai menghubungkan identitas ayah dan ibunya dengan alat kelamin yang dimilikinya. Pada masa ini,

Perkembangan sosial dan emosipada anak ini, anak mampu beriteraksi dan menunjukkan reaksi emosi yang wajar, mengenal tanggung jawab, mulai menunjukkan kemandirian,

Oleh karena itu, penelitian ini menjadi sangat menarik untuk diteliti, karena perkembangan sosial anak usia 3-6 tahun menjadi tolak ukur penting bagi anak untuk masa

Perkembangan kognitif di masa dewasa akhir, secara garis besar terbagi dalam 5 bagian yaitu: (1) Fungsi kognitif pada orang lanjut usia; (2) Perkembangan bahasa;

3) Pada usia 4-6 tahun, perkembangan motorik halus pada anak usia dini ditandai dengan kemampuan anak yang mulai bisa mengontrol fungsi motorik tanpa bantuan orang lain,

“A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan dengan beritahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya baik, anjurkan ibu untuk mulai menyusui bayinya dengan ASI tanpa diberi

 Peserta didik menganalisis benda yang termasuk ke dalam makhluk hidup dan tidak,  Peserta didik secara mandiri mengenang masa balita dengan melakukan praktik dari buku ESPS hal..