Ringkasan Keuangan Farmasi
A. Sumber
Dana farmasi di rumah sakit dapat berasal dari beberapa sumber, yaitu:
1. Dana pemerintah
Dana yang dialokasikan oleh pemerintah untuk instalasi farmasi di rumah sakit sebagian besar digunakan untuk pengadaan obat. Dana ini dapat berasal dari anggaran subsidi pemerintah daerah (APBD) dan anggaran pendapatan RS (BLUD). Pihak instalasi farmasi akan membuat perencanaan dan pengadaan obat setiap kurang lebih setiap tiga bulan.
2. Asuransi Kesehatan
Pasien yang memiliki asuransi kesehatan dapat menggunakan asuransi tersebut untuk biaya pengadaan obat. Dana dari asuransi kesehatan ini, akan diterima oleh rumah sakit dan dialokasikan ke instalasi farmasi untuk pengadaan obat.
3. Pasien
Pasien yang tidak memiliki asuransi kesehatan dapat membayar biaya pengadaan obat secara langsung di rumah sakit. Dana yang diterima dari pasien juga kemudian akan dialokasikan ke instalasi farmasi untuk pengadaan obat.
B. Peruntukan
Dana instalasi farmasi di rumah sakit digunakan untuk berbagai keperluan, seperti:
1. Pengadaan obat di rumah sakit.
2. Membiayai pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
3. Memberikan pelatihan kepada staf farmasi 4. Mengelola atau mendirikan fasilitas baru
5. Pembelian peralatan dengan teknologi tinggi untuk penyimpanan dan pengelolaan obat-obatan.
C. Prosedur pencairan
Prosedur pencairan dana untuk instalasi farmasi di rumah sakit mungkin berbeda-beda tergantung pada kebijakan dan prosedur yang berlaku di masing-masing rumah sakit. Namun, prosedur pencairan dana pada umumnya, mencakup:
1. Memilih pemasok untuk peralatan farmasi dan jasa
2. Membuat proposal yang memuat rincian daftar peralatan, biaya, dan jadwal implementasi.
3. Pengajuan proposal kepada pihak yang berwenang di rumah sakit.
4. Jika disetujui, kontrak akan ditandatangani antara rumah sakit dan pemasok.
5. Verifikasi dokumen kontrak, termasuk menentukan jadwal pembayaran.
6. Dilakukan audit untuk memastikan dana digunakan dengan benar
7. Penerimaan proyek untuk memastikan semua persyaratan telah dipenuhi sebelum pencairan dana terakhir.
D. Penggunaan
Dana farmasi digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang telah ditentukan dalam peruntukan dana instalasi farmasi. Penggunaan dana farmasi, meliputi:
1. Pengadaan obat
Aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan dana farmasi untuk pembelian obat, mulai dari perencanaan anggaran, pemilihan obat yang tepat, negosiasi harga, pemantauan untuk menghindari kelebihan dan kekurangan persediaan, hingga mempromosikan penggunaan obat generik yang setara dengan obat paten.
2. Pelayanan kefarmasian
Dana untuk pelayanan kefarmasian mencakup berbagai kegiatan, mulai dari distribusi obat-obatan, konseling pasien, hingga pemantauan efek samping obat yang diberikan.
3. Pengembangan kebijakan
Dalam melakukan pengembangan kebijakan farmasi di suatu rumah sakit dibutuhkan dana untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan obat-obatan dan sistem farmasi.
4. Pengelolaan perbekalan farmasi
Dana untuk pengelolaan perbekalan farmasi mencakup alokasi sumber daya keuangan yang diberikan untuk memastikan ketersediaan peralatan serta bahan-bahan yang digunakan dalam operasional farmasi, termasuk pembelian peralatan farmasi, peralatan teknologi, dan bahan habis pakai yang diperlukan untuk menyediakan pelayanan kefarmasian.
5. Pengembangan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung.
Dana untuk fasilitas pendukung farmasi mencakup alokasi sumber daya keuangan yang diberikan untuk mendukung infrastruktur dan fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan operasi farmasi dengan efektif, seperti pemeliharaan laboratorium farmasi. Selain itu, dana farmasi juga digunakan untuk pelatihan pengembangan keterampilan SDM.
E. Pertanggungjawaban
Proses pertanggungjawaban dana di farmasi rumah sakit melibatkan serangkaian langkah untuk memastikan bahwa penggunaan dana telah sesuai dengan rencana, bersifat transparan, dan memenuhi standar keuangan yang berlaku. Berikut tahapan umum dalam proses pertanggungjawaban dana farmasi di rumah sakit, yaitu:
a. Menyusun anggaran dengan merinci alokasi untuk berbagai keperluan, seperti pembelian obat, pengadaan peralatan, gaji staf, dan berbagai pengeluaran lainnya.
b. Menyusun rencana dan anggaran yang akan diajukan kepada pihak yang berwenang
c. Mendapatkan persetujuan sebelum penggunaan dana dimulai.
d. Melakukan pengeluaran sesuai dengan rencana anggaran yang telah disetujui.
e. Mencatat setiap transaksi dan pengeluaran dengan rinci dalam sistem akuntansi.
f. Melakukan audit internal secara berkala
g. Pemantauan terus-menerus terhadap kondisi keuangan dan kinerja farmasi.
h. Menyusun laporan keuangan reguler yang mencakup detail pengeluaran, sisa anggaran, dan perbandingan dengan anggaran awal.
i. Melaporkan kepada pihak yang berwenang mengenai penggunaan dana.
j. Mengevaluasi kinerja keuangan farmasi, termasuk efisiensi pengeluaran, pemenuhan anggaran, dan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
k. Memberikan pertanggungjawaban kepada manajemen atau pihak yang berwenang l. Melakukan penyesuaian atau perbaikan jika ditemukan ketidaksesuaian atau
masalah keuangan
m. Menggunakan pengalaman dari laporan keuangan sebelumnya untuk meningkatkan proses pertanggungjawaban keuangan di masa mendatang.