Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan kinerja belajar siswa di kelas Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah adalah untuk meningkatkan motivasi dan kinerja dalam pembelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Sedayu pada Tahun Pelajaran 2017/2018.
Latar Belakang Masalah
Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran ekonomi bagi siswa kelas IPS
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dan menuliskannya dalam sebuah karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul: “Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap motivasi dan kinerja belajar ekonomi siswa kelas XI. Siswa IPS 4 SMA Negeri 1 Sedayu". Kinerja pembelajaran kelas
Pembatasan Masalah
Guru mata pelajaran ekonomi kelas X IPS 4 tahun pelajaran 2016/2017 yang sekarang menjadi XI IPS 4 mendapat nilai rata-rata tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan kelasnya.
Rumusan Masalah
Apakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS 4 SMA N 1 Sedayu. Apakah penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kinerja belajar keuangan siswa kelas XI IPS 4 SMA N 1 Sedayu.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Menjadi bahan masukan bagi para tenaga pendidikan khususnya guru ekonomi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah untuk merangsang keaktifan siswa sehingga hasil belajar dapat tercapai secara maksimal. Selain itu, penggunaan model Pembelajaran Berbasis Masalah dapat mendemonstrasikan pemikiran siswa dan bertukar pengalaman informasi.
Kajian Teori
Model Pembelajaran
Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran hendaknya dipertimbangkan terlebih dahulu agar model tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain harus mindful, guru juga harus mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya agar model pembelajaran berkembang dengan sempurna dan materi yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa.
Model Problem Based Learning
PBL merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam memecahkan suatu masalah melalui tahapan metode ilmiah sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah tersebut. dirancang dengan baik mulai dari penyusunan soal yang sesuai dengan kurikulum yang dikembangkan di kelas, penyampaian soal dari siswa, peralatan yang mungkin diperlukan, dan penilaian yang digunakan. Menurut Maggi dan Claire, ada beberapa cara dalam menyajikan suatu permasalahan yang dapat menarik minat siswa agar proses pembelajaran tidak monoton dan membosankan.
Motivasi Belajar
Motivasi belajar dalam belajar merupakan faktor yang sangat penting karena motivasi belajar pada siswa akan mempercepat tercapainya tujuan. Jika seorang siswa mempunyai ciri-ciri di atas maka siswa tersebut mempunyai motivasi belajar yang tinggi.
Prestasi Belajar
Menurut Wirawan, prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajarnya, yang sebagian dinyatakan dalam nilai pada rapornya. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang meliputi perubahan tingkah laku (psikomotor), penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Faktor Intern (Faktor dari diri siswa)
Dalam keadaan yang sama, siswa yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi akan lebih cepat lulus dibandingkan siswa yang tingkat kecerdasannya rendah. Agar siswa dapat belajar dengan baik, selalu ciptakan pembelajaran yang menarik perhatian siswa dengan menggunakan berbagai media dan metode pembelajaran.
Faktor Ekstern (Faktor yang berasal dari luar)
Metode pengajaran adalah cara yang digunakan guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan menunjang kelancaran proses belajar serta tercapainya hasil belajar yang memuaskan bagi anak. Banyak siswa yang masih belum menggunakan metode pembelajaran inovatif. Mereka hanya akan belajar ketika ada tugas dari guru atau ketika ada ulangan. Artinya beban belajar mereka menjadi berat sementara waktu belajar mereka hanya sedikit, akibatnya prestasi belajar mereka tidak maksimal. Asumsinya, prestasi belajar dapat dijadikan sebagai pendorong peserta didik untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi umpan balik untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
Indikator eksternal berupa tinggi rendahnya prestasi akademik dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan siswa di masyarakat.
Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Fanny Vidhayanti Nasution (2012) berjudul “Penerapan Model PBL untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas III di SD Mutiara Harapan Lawang”. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa pada kegiatan pembelajaran dari siklus I ke siklus II. Hasil skor aktivitas belajar siswa berada pada kategori kurang dan cukup, pada siklus II hampir seluruh siswa berada pada kategori sangat baik dan baik.
Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar siswa sebelumnya yaitu 59 pada siklus I menjadi 83 pada siklus II.
Kerangka Berpikir
Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pembelajaran keuangan dan meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Menurut Kemmis dan Taggart (Rochiati Wiriaatmaja, Penelitian Tindakan Kelas mempunyai empat tahap dalam satu siklus.
SubjekPenelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Sedayu kelas XI IPS 4. a) Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 4. a) Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 4.
Materi penelitian
Definisi Operasional Variabel
Model Problem Based Learning (PBL)
Motivasi Belajar Peserta Didik
Prestasi Belajar Peserta Didik
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan observasi partisipan sehingga peneliti terlibat langsung dalam kegiatan yang dilakukan pada saat pengumpulan data. Peneliti mengamati siswa selama pelaksanaan pembelajaran bekerjasama dengan guru ekonomi. Angket dalam penelitian ini berupa skala sikap model likert yang bertujuan untuk mengetahui motivasi belajar ekonomi siswa. Total skor angket motivasi belajar ekonomi siswa akan dikorelasikan dengan skor hasil belajar ekonomi.
Data diolah dengan menghitung rata-rata nilai kelas dan persentase siswa yang nilainya sama atau melebihi KKM.
Instrumen Penelitian
Kuesioner
Siswa memilih satu dari lima alternatif jawaban yang tersedia untuk setiap pernyataan dalam angket. Lima alternatif jawaban yang dikemukakan Likert adalah sangat setuju (sangat setuju), setuju (approve), tidak berpendapat atau netral (undecided), tidak setuju (disapprove), dan sangat tidak setuju (sangat tidak setuju).
Hasil Nilai Tes Tertulis
Prosedur Penelitian
Kemudian guru mengkomunikasikan tujuan yang akan dicapainya selama pembelajaran dan memberikan garis besar materi yang akan dipelajarinya. Pada tahap ini, guru dapat meminta pendapat atau pertanyaan kepada siswa untuk mempersiapkan mereka berpikir lebih lanjut pada langkah berikutnya. Dengan adanya pendapat atau pertanyaan, kita berharap siswa mulai mempunyai sudut pandang tersendiri terhadap materi yang akan dipelajarinya. Harapannya dengan pembelajaran berkelompok dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam kelompok, dan dapat memperluas wawasannya, karena dapat mengetahui alur pemikiran antar siswa dalam belajar, sehingga dapat memperluas pengetahuan siswa.
Pada tahap ini guru mulai mengamati siswa dengan melakukan pengecekan antar kelompok.
Teknik Analisis Data
- Analisis Statistik Deskriptif dengan Persentase
- Analisis Tingkat Kesulitan
- Daya Beda
- Indikator Keberhasilan Tindakan
Instrumen berupa soal pre-test dan post-test pada penelitian ini diukur menggunakan Software Anbuso versi 7.1. Peningkatan motivasi belajar siswa terlihat dari analisis hasil angket yang diisi siswa, kemudian dihitung dengan membandingkan motivasi siswa sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan tindakan. Keberhasilan peningkatan prestasi belajar siswa dapat diketahui dengan melakukan pre-test dan post-test.
Hasilnya kemudian dibandingkan untuk mengetahui keberhasilan tindakan terhadap kriteria persentase siswa yang memperoleh nilai 75% mencapai kriteria ketuntasan minimal atau minimal 24 siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal 65.
Hasil Penelitian
Gambaran Umum SMA N 1 Sedayu
Sarana dan media kegiatan belajar mengajar di SMA N 1 Sedayu antara lain perpustakaan, laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biologi, laboratorium komputer, laboratorium IPS, laboratorium seni, sanggar musik, musala, sarana olah raga dan lapangan olah raga. SMA N 1 Sedayu selalu berusaha meningkatkan fasilitas dan media kegiatan pembelajaran dari waktu ke waktu dengan harapan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Hanya saja guru belum sepenuhnya memahami kurikulum 2013 sehingga dalam pembelajaran sering dijumpai menggunakan kurikulum lama yaitu KTSP.
Guru di SMA N 1 Seday diharapkan selalu berusaha menggunakan Model Pembelajaran Kurikulum 2013 untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMA N 1 Seday.
Deskripsi Hasil Wawancara dan Observasi Awal
Selain itu juga dikumpulkan informasi dari guru ekonomi kelas X dan XI. Ada kekhawatiran motivasi belajar kelas Guru mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 4 nantinya akan menghadapi dua kendala sesuai kondisi kelas. Kriteria kelulusan minimal kelas XI turun menjadi 65, sedangkan kriteria kelulusan minimal kelas X mencapai 76.
Berdasarkan observasi tersebut peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran di kelas XI memerlukan variasi dalam pembelajaran praktik.
Hasil Penelitian
Keberhasilan belajar bidang kognitif siswa XI. kelas IPS 4 diukur berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Keberhasilan pendidikan siswa kelas XI IPS 4 menurut II. siklus diukur dengan pertanyaan sebelum dan sesudah tes. Dalam II. siklus, lebih sedikit siswa yang mencapai hasil terendah dibandingkan dengan I.
Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan pembelajaran tersebut dapat meningkatkan prestasi akademik siswa kelas XI MPŠ.
Pembahasan Hasil Tindakan
Tes Individual
Berdasarkan perhitungan skor motivasi belajar siswa diketahui skornya meningkat dari siklus I ke siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning juga meningkatkan kinerja belajar siswa. Pada siklus I rata-rata nilai pretest sebesar 54,8 dengan jumlah siswa yang tuntas atau mempunyai nilai ≥ 65 sebanyak 2 siswa.
Begitu pula dengan nilai rata-rata siswa pada siklus II sebesar 61,93 meningkat seiring dengan banyaknya siswa yang tuntas atau mempunyai gelar.
Keterbatasan Penelitian
Kesimpulan
Saran
2: Siswa kurang tahan menghadapi permasalahan dalam pembelajaran ekonomi, tidak mempunyai pertanyaan mengenai permasalahan yang dihadapinya. 1: Siswa tidak keras kepala menghadapi masalah untuk belajar ilmu ekonomi, jangan bertanya tentang masalah yang dihadapinya. 5 : Siswa sangat kuat, mempunyai semangat dan perlu belajar ilmu ekonomi, baik dalam melaksanakan tugas maupun dalam kegiatan kelompok.
4: Siswa berkemauan keras, mempunyai dorongan dan perlu belajar ilmu ekonomi, baik dalam melaksanakan tugas maupun dalam kegiatan kelompok. 3 : Siswa terkadang mempunyai keinginan, dorongan dan kebutuhan untuk belajar ilmu ekonomi, baik dalam melaksanakan tugas maupun kegiatan. 1: Siswa kurang berkemauan keras, mempunyai dorongan dan perlu belajar ilmu ekonomi, baik dalam melaksanakan tugas maupun dalam kegiatan kelompok.