Elevasix Perkenalkan Diri dengan “I’m Not Coming Back to You”
(Instagram Elevasix)
JAKARTA,TIME NEWS – Kali ini lagi-lagi dari Ibu Kota Jakarta, Elevasix grup band asal kota Jakarta bergenre indie rock yang terbentuk pada 17 Maret 2022.
Band ini di huni oleh 5 pemuda dengan formasi Hafizh Esa (vocal dan rythem guitar), Fathan (lead guitar), Naufal (bass), Ardyan (drum), dan Nurfi (keyboard).
Elevasix sendiri terinspirasi dari band The Beatles, Artic Monkey, dan lainnya.
Merilis single pertamanya yang berjudul (I’m Not Coming Back to You) pada 25 Juni 2022 lalu, single ini bercerita tentang seorang pria yang bertanya kepada dirinya sendiri, apakah tidak ada yang bisa menghentikan pria itu untuk mengingat masa lalunya yang kelam?.
Dalam penggarapannya, lagu tersebut direkam di EOS Record Jakarta,
mixing mastering oleh Adhi EOS, direct oleh Fathan, lyric : Ryan, dan Engineer Sound oleh Hafizh Esa.
Single ini sudah bisa kalian dengarkan di semua platform digital musik seperti YouTube, Spotify, Deezer, Instagram Musik, ITunes dan masih banyak lainnya. (Fatwa/berbagai sumber).
Sutradara Tak Puas dengan Hasilnya, Film Sri Asih Batal Tayang 6 Oktober 2022
(Instagram Sri Asih & Twitter Upi)
JAKARTA, TIME NEWS - Salah satu film superhero local yang di tunggu-tunggu sepanjang 2022 ini, Sri Asih akan di tunda penayangannya. Film yang di sutradarai Upi ini rencananya akan di rilis pada 6 Oktober 2022.
Hal itu di sampaikan sendiri oleh Upi melalui Twitter. Ia pun mengungkapkan alasan penundaan film yang di bintangi Pevita Pearce tersebut.
Rupanya, Upi kurang percaya diri dengan hasil secara keselurahan film ini. Tak mau filmnya mengecewakan penonton, perempuan 50 tahun ini pun harus memperbaiki sejumlah
kekurangan.
"Komitmen untuk memberikan yang terbaik inilah yang membuat saya hari ini dengan sangat berat memberitahukan bahwa saya tidak akan bisa merilis Sri Asih kepada teman-teman pada 6 Oktober," tulis Upi dalam media sosialnya.
Upi dan seluruh tim mengaku sudah berupaya sekuat tenaga untuk menyelesaikan film sesuai tenggat waktu. Namun hasilnya tak sesuai ekspektasi. Bisa saja film Sri Asih dirilis sesuai tanggal, tapi Upi yakin hasilnya tidak sempurna.
"Saya bisa saja melepas Sri Asih ke publik sesuai tanggal yang telah diumumkan, tapi hasilnya tidak sempurna akan jadi pengkhiatanan bagi para kru dan pemain yang telah memberikan kepercayaan terbaik dari mereka, dan pengkhianatan bagi kepercayaan teman- teman yang telah teman-teman berikan kepada saya," ujar sutradara film My Stupid Boss ini.
Maaf teman-teman, ini berita yang sangat mengecewakan. Namun teman-teman tentu akan lebih kecewa lagi jika melihat hasul yang tidak maksimal utnuk sesuatu yang selama ini kalian anggap penting," kata Upi melanjutkan.
Sri Asih kemudian direncakanan akan diputar pada 17 November 2022. Keputusan ini pun telah disetujui seluruh tim, termasuk para pemain dan produser.
"Para produser mendukung keputusan saya ini dan saya sekarang saya mengharapkan
dukungan teman-teman. Saya akan melanjutkan pengerjaan Sri Asih. Dan dalam waktu yang tak lama, akan siap saya persembahkan kepada teman-teman dalam bentuk terbaiknya, untuk kita rayakan bersama," tutur Upi. (Fatwa/berbagai sumber)
Papa Acid: 'Weeducation' Mencoba Meromantisasi Kisah Dua Insan yang Direnggutnya Haknya Sebagai Manusia
(Instagram Papa Acid)
JAKARTA, TIME NEWS - Fidelis Arie Sudewarto dan mendiang istrinya, Yeni Riawati adalah manusia yang haknya telah direnggut secara sadis. Saat penyakit yang dideritanya mulai membaik, sebuah petaka menjemput keluarganya.
Penangkapan sang suami sekaligus merangkap seorang perawat bagi istrinya, berujung pada hilangnya nyawa dari Yeni Riawati istri dari Fidelis.
Melalui single ‘Weeducation’ Papa Acid mencoba meromantisasi Fidelis karena kisahnya yang begitu tragis sekaligus romantis bersama sang istri. Isu yang diangkat oleh Papa Acid dalam ‘Weeducation’
ini bisa kalian rasakan di sebuah narasi pada lagu, menit 03.12.
Papa Acid merupakan unit rock Kota Jember yang terbentuk pada Mei 2021, dengan musik yang banyak dipengaruhi oleh musisi dan band-band luar seperti SRV, Eric Clapton. Led Zappelin, Mr.
Big, The Beatles, Queen dan lainnya
Band ini dihuni oleh empat orang pemuda dengan formasi awal Gaskar (vokal), Jeremi (bass), Alif (gitar) dan Yudha (drum).
Tapi seiring berjalannya waktu, Papa Acid berfikir untuk mengkurasi kembali karya mereka. Tanpa mengurangi isi yang sudah ada, Papa Acid menambahkan melodi dari piano, dengan menempatkan Yudha sebagai pianis dan posisi drummer digantikan oleh Ari.
‘Weeducation’ ngingetin HAI sama instrumentalnya The Sigit pada track ‘Let It Go’. Cuma Papa Acid membungkusnya dengan beat drum rock n roll, sedangkan The Sigit beatnya lebih kencang.
Emosi yang ditangkap dari ini sebenernya nanggung sih, terlalu bersih untuk dibilang rock n roll.
Terdengarnya lebih mengarah ke blues ballad, dan juga musiknya terdapat tambahan synthesizer dengan ciri khas vokal yang nakal atau melengking.
Masuk akal ketika Papa Acid ingin di labeli sebagai band rock saja, karena dari single ‘Weeducation’
dan tiga single sebelumnya memang terdapat beberapa warna musik berbeda. Papa Acid pun menerangkan kalo yang diharapkan oleh mereka adalah agar bisa bereksperimen dengan sub-genre tersebut.
Khas musik rock n roll di dominasi oleh gitar yang "rame", lirik yang ekspresif dengan harmoni yang rumit dan juga dengan tempo cepat. Nah, dengan lead gitar yang ada pada ‘Weeducation’ dan dilihat secara instrumental, sebenarnya nggak ngelihat ada yang menonjol sih. Kayak band rock n roll pada umunya.
Tapi.. Dari segi lirik serta sentuhan akhir yang diberikan dengan vokal cewek, bikin lagu ini terdengar manis dan pas!
Overall, ‘Weeducation’ cukup catchy dan berwarna karena tambahan synthesizer dan ada salah satu part yang dirasa pas banget dengan solo gitar yang dilakukan! (Fatwa/berbagai sumber)
Review Film Miracle in Cell No. 7
(Falcon Pictures via Youtube)
JAKARTA, TIME NEWS - Miracle in Cell No. 7 adalah film baru yang booming. Saat ini sedang menjadi daya tarik publik karena mengadaptasi dari film Korea Selatan yang berjudul sama dengan yang telah diadaptasi oleh Indonesia. Film layar lebar satu ini telah membuat banyak penonton menangis hingga terisak-isak.
Film Miracle in Cell No. 7 ini sudah hadir di beberapa versi, terbaru adalah Indonesia. Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia ini diarahkan oleh sutradara populer yaitu Hanung Bramantyo. Beberapa film yang pernah ia sutradarai, di antaranya Brownies (2004), Lentera Merah (2006), Surga Yang Tak Dirindukan 2, Ayat-ayat Cinta (2008), Get Married (2007), Soekarno (2013), Perahu Kertas (2017), dan masih banyak film keren Indonesia lainnya.
Dodo Rozak ialah sesosok ayah yang bernasib malang. Dodo Rozak dulunya menikah dengan seorang perempuan yang sama-sama berasal dari panti asuhan. Setelah itu mereka menikah dan memiliki anak yang bernama Kartika. Kartika adalah sosok gadis mungil yang sangat cantik, pandai, penyayang, penyabar, serta perhatian. Dodo Rozak adalah sosok ayah berkebutuhan khusus, dengan harian bekerja sebagai tukang balon keliling. Dodo Rozak hanya hidup bersama sang buah hati yang bernama Kartika.
Dodo merupakan seorang pedagang balon keliling. Berkeliling dari rumah ke rumah, dari desa ke desa, dari kampung ke kampung, Dodo selalu sabar dan tabah dalam menjalani hidupnya dengan menafkahi anaknya yang ia cintai yaitu kartika. Kartika selalu membawakan baju untuk ganti ayahnya dan bekel untuk makan siang ayahnya. Dan pada saat itu Dodo lapar dan ingin beristirahat setelah berkeliling seharian, dan akhirnya Dodo beristirahat di samping rumah seorang pejabat kaya.
Pada saat itu, Dodo melihat ada anak yang sedang marah keluar dari mobil putih dengan membanting pintu mobil dan meberikan raut wajah yang kesal dan marah. Sehingga Dodo memiliki niatan baik, yaitu memberi anak itu sebuah balon lucu agar tidak merajuk lagi. Tetapi hal itu malah membawa malapetaka untuk dirinya sendiri. Malapetaka itu datang dengan motif tuduhan. Dodo dituduh menjadi seorang pembunuh, sehingga Dodo harus dipenjara dan dijebloskan ke sel nomor 7.
Di dalam sel nomor 7, Dodo mendapatkan teman baik. Mereka adalah Japra (Indro Warkop), Atno (Indra Jegel), Zaki (Tora Sudiro), Yunus (Rigen Rakelna) dan Asrul (Bryan Domani).
Suatu hari, terjadi kerusuhan di lapas dikarenakan seorang narapidana merasa terusik oleh bisnis yang dikendalikan Japra dari balik jeruji besi. Ia mencoba menghabisi Japra namun upaya ini digagalkan Dodo. Dodo tertusuk barang keras di bagian tubuhnya dan mengakibatkan Dodo mengalami luka tusuk dan harus dilarikan di rumah sakit lapas. Karena mereka merasa utang budi, di sinilah mereka mulai akrab dan dekat sehingga Japra meluluskan permintaan Dodo untuk bertemu dengan anak emasnya, Kartika.
Pada saat acara keagamaan bersama di lapas, Kartika datang dengan rombongan keagamaannya. Di tengah acara, Kartika pun diselundupkan ke penjara oleh Japra dan kawan-kawannya. Lambat laun aksi ini tepergok oleh sipir. Dan akhirnya, Kartika dikembalikan lagi pulang dengan baik-baik.
Aksi ini mereka lakukan tidak hanya sekali saja, tetapi beberapa kali dengan alasan untuk membuat Kartika tersenyum bahagia dengan bertemu dengan sesosok ayah yang ia cintai. Hingga pada suatu hari ditemukanlah sesosok petinggi lapas yang diperankan oleh Denny Sumargo yang membela dan membantu mengusut tuntas kasus dari yang dialami Dodo. Tidak hanya itu, petinggi ini akhirnya mengangkat Kartika sebagai anak angkatnya. Kartika sangat dicintai oleh keluarga manis dari keluarga petinggi lapas itu.
Seiring berjalannya waktu, singkat cerita, Kartika yang awal mulanya bercita-cita sebagai seorang dokter saat beranjak masa dewasa ia menjadi seorang pengacara dengan bantuan dari orang tua barunya. Hal itu ia lakukan demi mengadili hingga tuntas permasalahan yang diidap oleh Ayah kesayangannya yaitu Dodo. Kartika berupaya membersihkan nama Dodo yang mengidap mental illness dan dicap sebagai seorang pembunuh sekaligus pemerkosa anak kecil.
Jujur setelah nonton Miracle In Cell No.7 seperti berada dalam posisi seorang Kartika dan merasa sebagai banyak tokoh yang ada di situ. Film ini cocok banget buat kalian yang hobi nontonin film yang genrenya sedih. Dibuat nangis, ketawa, campur aduk banget waktu nonton film ini karena pemainnya yang benar-benar berperan dan akting dengan baik dari pembawaan dan penjiwaan. Di samping itu juga tata rias dari look location, look costume, dan lain lainnya benar-benar oke banget.
Ada lagi part bikin nangis yaitu saat Kartika menangisi ayahnya yang dibawa kepolisian dengan keadaan hujan deras. Tidak hanya itu, melihat tawa, senyum, riang dari Kartika waktu kecil bikin kebawa perasaan banget sampai nangis. Apalagi part ayahnya mau dipindahin lapas.
Dan yang bikin kebawa perasaan sedih, nangis, sampai nggak kuat banget itu waktu dengar
backsound dari film ini yang judul lagunya ‘Andaikan Kau Datang’ yang di-cover oleh Andmesh dan diproduksi oleh Falcon Music Indonesia.
Dengan lirik yang benar-benar ringan dan gampang banget dicerna. Lagu ini sukses bikin baper.
Kalau ditanya kekurangannya dari film ini, menurut saya pribadi benar-benar anti miss banget. Tapi buat kalian yang nonton ini wajib banget nontonnya harus serius biar nggak bingung dan biar benar- benar terasa di hati kalian. Karena alur di film ini maju mundur dan kadang kalau nontonnya nggak serius bisa bikin kebingungan.
Jangan lupa siapkan tisu dan bawa kacamata hitam. Karena film benar-benar bakal bikin kalian menangis haru. (Fatwa/berbagai sumber)
Jadi Orang Gemuk di Film Perfect Strangers, Vino G Bastian Akui Kesulitan Menaikkan Berat Badan
(Falcon Pictures via Youtube) JAKARTA, TIME NEWS - Aktor tampan Vino G Bastian sosoknya memang kerap tampil di layar lebar dengan segudang filmnya. Baru-baru ini, ia kembali bermain film berjudul Perfect Strangers.
Dalam film tersebut, Vino G Bastian berperan sebagai karakter Tomo yang memiliki postur tubuh gemuk.
Vino G Bastian mengungkapkan kesulitannya bermain di film Perfect Strangers. Salah satunya saat dirinya berperan sebagai Tomo yang merupakan sosok pria gemuk.
Dengan begitu, ia harus menaikkan berat badan. Vino G Bastian mengaku jika dirinya sudah menaikkan bobot tubuh dari 10 kilogram hingga 12 kilogram.
"Jadi sebetulnya karakter Tomo memang harus gemuk. Saya ngegemukin badan. Saya sudah naik 10 sampai 12 kilogram," tuturnya.
Akan tetapi, perubahan tak begitu nampak di badan ayah anak satu tersebut. Dengan begitu ia harus dibantu dengan makeup.
"Ternyata pas di test camp kok nggak signifikan gitu. Ya cuma chubby aja, tapi nggak jadi gemuk banget. Akhirnya butuh bantuan, make up. Itu memang lebih mirip karakter asli dari Italia, diukur badan saya," ungkap Vino G Bastian.
Tak sampai di situ saja, dalam pengakuannya pria berusia 40 tahun tersebut sempat mempertanyakan mengapa dirinya terpilih untuk memerankan karakter Tomo.
"Pas baca skripnya 'Ah kan Tomo karakternya gemuk, kenapa nggak cari cast yang gemuk aja, kenapa harus ribet-ribet ke saya gitu', dari produser, sutradara bilang 'belum klik lah, saya pengen kamu di sini," kata Vino G Bastian.
Dan pada akhirnya, karena sulit menaikkan berat badan. Ia terpaksa harus menggunakan perlengkapan tambahan agar tetap terlihat gemuk.
"Akhirnya tetep pake prospektif, kita berkali-kali test, itu pake body shoot. Dibikinin itu, diukur badan saya. Saya pikir itu tantangan terberatnya dalam film ini," papar Vino G Bastian.
Perfect Strangers merupakan adaptasi dari film Italia yang dirilis pada 2016 dengan judulnya yang sama. Mengandeng Rako Prijanto sebagai sutradara, Perfect Strangers tentu memiliki perbedaan dari film sebelumnya.
Film ini turut dibintangi oleh deretan aktor dan aktris kenamaan Tanah Air. Diantaranya ada, Vino G. Bastian, Adipati Dolken, Darius Sinathrya, Denny Sumargo, Jessica Mila, Clara Bernadeth, dan Nadine Alexandra. (Fatwa/berbagai sumber)