• Tidak ada hasil yang ditemukan

S1 Psikologi 30701700115 fullpdf

N/A
N/A
Widy Etika

Academic year: 2024

Membagikan "S1 Psikologi 30701700115 fullpdf"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

i Skripsi

Untuk memenuhi sebagian persyaratan Memperoleh derajat sarjana psikologi

Disusun Oleh : Septyana Ayu Novita

(30701700115)

HALAMAN JUDUL FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2021

(2)

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN KECENDERUNGAN ALEXITHYMIA PADA REMAJA YANG TINGGAL

DI PANTI ASUHAN

Dipersiapkan dan disusun oleh : Septyana Ayu Novita

30701700115

Telah Disetujui untuk Diuji dan Dipertahankan didepan Dewan Penguji Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Pembimbing Utama,

Titin Suprihatin, S.Psi., M.Psi

Tanggal

____________________

Pembimbing Pendamping,

Anisa Fitriani, S.Psi., M.Psi., Psikolog ______________________

Semarang,_________________

Mengetahui,

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung

Ruseno Arjanggi, S.Psi, MA

(3)

ii

KECENDERUNGAN ALEXITHYMIA PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN

Dipersiapkan dan disusun oleh : Septyana Ayu Novita

30701700115

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal ...

Dewan Penguji Tanda Tangan

1.

2.

3.

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Semarang,______________

Mengetahui,

Dekan Fakultas Psikologi UNISSULA :

______________________

(4)

iii PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, Saya, Septyana Ayu Novita dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini adalah karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh derajat kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun

2. Sepanjang pengetahuan saya, skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis/diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

3. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan isi pernyataan ini, maka saya bersedia derajat kesarjanaan saya dicabut.

Semarang, 02 Agustus 2021 Yang menyatakan

Materai

Septyana Ayu Novita 30701700115

(5)

iv

diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ( akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu

kerjakan”

( Q.S. Al Hasyr : 18 )

“Musuh yang berbahaya diatas dunia adalah rasa takut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh.”– Andrew Jackson

“You can not consider yourself as nothing and nothing but you also should not be so positioned that you‟re on the top. So there is always hope in trouble and there

is always a chance in danger because of the darkest moment in life is an opportunity for us to change.”- Zhong Chenle

(6)

v

PERSEMBAHAN

Penulis persembahkan karya ini kepada :

Bapak dan mama tersayang, Waridin dan Umi Musyarofah, yang tak pernah berhenti mendo‟akan, memberi kasih sayang, bimbingan dan motivasi untuk mewujudkan mimpi penulis. Adik tersayang Nur Istyaul Kharomah dan Panji

Suripto yang telah membuat penulis menjadi semangat untuk memberikan tauladan yang baik.

Dosen pembimbing Titin Suprihatin, S.Psi., M.Psi dan Anisa Fitriani, S.Psi., M.Psi., Psikolog yang dengan penuh kesabaran telah membimbing, memberikan ilmu, pengetahuan, masukan, nasehat serta dukungan dalam menyelesaikan karya

ini.

UNISSULA, alamamater kebanggan tempat penulis mendapatkan banyak makna dan pengalaman dalam hidup.

(7)

vi

tinggal di Panti Asuhan” sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat S-1 Sarjana Psikologi. Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, semoga kita selalu mendapatkan syafa‟at dari beliau. Penulis mengakui dalam proses penulisan ini banyak kendala dan rintangan yang datang, namun berkat bantuan, dukungan, dan motivasi yang diberikan oleh semua pihak secara moril maupun materil, semua hal yang terasa berat menjadi lebih ringan.

Akhirnya dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Ruseno Arjanggi, S.Psi, MA, selaku Dekan Fakultas Psikologi UNISSULA atas dedikasinya dalam proses akademik serta apresiasi dan motivasinya terhadap mahasiswa untuk terus berprestasi.

2. Ibu Titin Suprihatin, S.Psi., M.Psi dan Ibu Anisa Fitriani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah berkenan meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam memberikan bimbingan dalam proses penelitian.

3. Ibu Luh Putu Shanti Kusumaningsih, S.Psi., M.Psi, selaku dosen wali yang dengan ketulusan serta kesabaran beliau telah bersedia membimbing serta memberikan saran selama menempuh proses pendidikan.

4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi UNISSULA atas dedikasinya dalam memberikan berbagai ilmu dan pengalaman kepada penulis yang sangat bermanfaat untuk kini dan nanti.

5. Bapak dan Ibu Staff TU, Petugas Laboratorium serta Petugas Perpustakaan Fakultas Psikologi UNISSULA, terimakasih atas segala fasilitas dan kerjasama yang diberikan.

6. Bapak dan Ibu Staff Pemda Kota Tegal, Pemda Kabupaten Tegal, Dinas Sosial Jawa Tengah, Dinas Sosial Kota Tegal, serta Dinas Sosial Kabupaten

(8)

vii

Tegal, yang telah memberikan kemudahan izin dalam melakukan kegiatan penelitian skripsi.

7. Bapak dan Ibu Pengurus Panti Asuhan Wilayah Kota Tegal dan Kabupaten Tegal, yang telah memberikan kemudahan izin untuk tempat melakukan kegiatan penelitian skripsi.

8. Subjek penelitian yang telah bekerja sama dengan baik dan memberikan kontribusi besar dengan meluangkan waktunya untuk mengisi skala guna membantu melancarkan penelitian ini.

9. Bapak dan mama tercinta, Waridin dan Umi Musyarofah, sponsor seumur hidup penulis, sosok yang selalu dengan penuh rasa sabar dan kasih sayang, yang tak pernah berhenti memberikan doa dan harapan untuk kebaikan penulis, yang selalu memberikan nasihat, dukungan dan selalu mengingatkan penulis untuk terus berpikiran positif dan mengingat Allah SWT.

10. Nina yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membantu penyebaran skala dan mendengarkan keluh kesah penulis selama proses penelitian.

11. Semua rekan-rekanku Dhea, Fitri, Anak Rantau Squad, Tamara, Malisa, Riyah, Riska, rekan-rekan Psikologi Angkatan 2017, serta rekan-rekan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terimakasih telah menjadi orang- orang baik yang membantu penulis menempuh segala proses dan segala kenangan manis dalam hidup penulis.

12. Berbagai pihak yang telah turut membantu, memberikan dukungan serta doa kepada penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa karya ini masih sangat jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik serta saran dari berbagai pihak guna menyempurnakan skripsi ini. Penulis berharap karya ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu psikologi khususnya bidang klinis

Semarang, 02 Agustus 2021

Septyana Ayu Novita

(9)

viii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

ABSTRAK ... xiv

ABSTRACT ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 16

A. Latar Belakang Masalah ... 16

B. Perumusan Masalah ... 23

C. Tujuan Penelitian ... 24

D. Manfaat Penelitian ... 24

1. Manfaat teoritis ... 24

2. Manfaat praktis ... 24

BAB II LANDASAN TEORI ... 25

A. Kecenderungan Alexithymia... 25

1. Pengertian Kecenderungan Alexithymia ... 25

2. Aspek–aspek Alexithymia ... 26

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi Alexithymia ... 29

B. Kecerdasan Emosional ... 31

1. Definisi Kecerdasan Emosional ... 31

2. Aspek-aspek kecerdasan emosional ... 32

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional ... 34

C. Remaja... 36

1. Pengertian remaja ... 36

(10)

ix

D. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Kecenderungan

Alexithymia ... 37

E. Hipotesis ... 38

BAB III METODE PENELITIAN... 39

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 39

B. Definisi Operasional... 39

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel (Sampling) ... 41

1. Populasi ... 41

2. Sampel ... 41

3. Teknik pengambilan sampling ... 42

D. Metode Pengumpulan Data ... 43

E. Validitas, Reliabilitas, dan Uji Daya Beda Aitem... 45

1. Validitas ... 45

2. Reliabilitas ... 46

3. Uji Daya Beda Aitem ... 46

F. Teknik Analisis Data ... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 48

A. Orientasi Kancah Penelitian ... 48

B. Persiapan Penelitian ... 49

1. Persiapan perizinan ... 49

2. Persiapan Alat Ukur ... 49

C. Uji Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Alat Ukur ... 52

1. Skala Kecenderungan Alexithymia ... 52

2. Skala Kecerdasan Emosional ... 52

D. Pelaksanaan Penelitian ... 53

E. Analisis Data dan Hasil Pembahasan ... 55

1. Uji Asumsi ... 55

F. Deskripsi Variabel Penelitian ... 57

1. Deskripsi Data Kecenderungan Alexithymia ... 57

2. Deskripsi Data Kecerdasan Emosional ... 58

G. Pembahasan ... 60

H. Kelemahan Penelitian ... 62

BAB V PENUTUP ... 63

A. Kesimpulan ... 63

(11)

x

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Rincian Data Remaja berumur 17-20 tahun yang tinggal di ...

Panti Asuhan Kota Tegal ... 41

Tabel 2 Rincian Data Remaja berumur 17-20 tahun yang tinggal di ... Panti Asuhan Kab. Tegal ... 41

Tabel 3 Blueprint skala TAS-20 ... 44

Tabel 4 Blue Print Schutte Emotional Intelligence Scale (SEIS) ... 45

Tabel 5 Sebaran aitem Skala Kecenderungan Alexithymia ... 51

Tabel 6 Sebaran Aitem Skala Kecerdasan Emosional ... 51

Tabel 7 Hasil Uji Normalitas ... 56

Tabel 8 Norma Kategori Skor ... 57

Tabel 9 Deskripsi Skor Skala Kecenderungan Alexithymia ... 57

Tabel 10 Norma Kategori Skor Skala Kecenderungan Alexithymia ... 58

Tabel 11 Deskripsi Skor Skala Kecerdasan Emosional ... 58

Tabel 12 Norma Kategori Kecerdasan Emosional ... 59

Tabel 13 Norma Kategori Skala Kecerdasan Emosional ... 59

(13)

xii

(14)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Skala Kecenderungan Alexithymia dan Skala Kecerdasan

Emosional yang digunakan dalam Uji Coba dan Penelitian ... 73

Lampiran B Tabulasi Data Uji Coba ... 82

Lampiran C Uji Daya Beda Aitem dan Estimasi Reliabilitas Skala Uji Coba ... 89

Lampiran D Tabulasi Skala Penelitian ... 95

Lampiran E Uji Normalitas, Linear, dan Hipotesis ... 110

Lampiran F Surat Izin Penelitian ... 116

Lampiran G Dokumentasi ... 141

(15)

xiv

Septyana Ayu Novita Fakultas Psikologi

Universitas Islam Sultan Agung Semarang Email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan populasi remaja berumur 17-20 tahun yang tinggal di Panti Asuhan Wilayah Kota Tegal dan Kabupaten Tegal. Adapun metode pengambilan sampel menggunakan probability sample dengan 137 remaja dari total populasi sebanyak 209 sampel. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur yaitu Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) yang terdiri dari 20 aitem dengan koefisien reliabilitas 0,960 dan Schutte Emotional Intelligence Scale (SEIS) yang terdiri dari 33 aitem dengan koefisien reliabilitas 0,961. Adapun hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment yang menunjukkan terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan. Hasil korelasi antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia menghasilkan nilai skor rxy sebesar -0,181 dengan taraf signifikan sebesar 0,034 (p<0,05). Kecerdasan emosional memberikan sumbangan efektif sebesar 3,3% pada kecenderungan alexithymia, sedangkan 96,7% disumbangkan oleh faktor lain diluar penelitian.

Kata Kunci : Kecerdasan emosional, Kecenderungan alexithymia, Remaja, Panti Asuhan

(16)

xv

THE CORRELATION BETWEEN EMOTIONAL INTELLIGENCE AND ALEXITHYMIA TENDENCY IN ADOLESCENTS WHO LIVE IN

ORPHANAGE Septyana Ayu Novita Faculty of Psychology

Universitas Islam Sultan Agung Semarang Email : [email protected]

ABSTRACT

This study aims to determine the correlation between emotional intelligence and alexithymia tendency in adolescents who live in Orphanage. This study uses a quantitative method with a population of 17-20 year-old adolescents who live in the Orphanage of Tegal City and Tegal Regency. The sampling method uses probability sample with 137 adolescents from a total population of 209 samples.

This study uses two measuring instruments, namely the Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) which consists of 20 items with a reliability coefficient of 0,960, and the Schutte Emotional Intelligence Scale (SEIS) which consists of 33 items with a reliability coefficient of 0,961. The hypothesis tested in this study is there is a negative correlation between emotional intelligence and alexithymia tendency in adolescents who live in the orphanage. The data analysis technique in this study uses the product moment correlation technique which shows that there is a negative correlation between intelligence and alexithymia tendency in adolescents who live in Orphanage. The result of the correlation between emotional intelligence and alexithymia tendency results in the rxy score of -0,181 with a significant level of 0,034 (p<0,05). Emotional intelligence provides an effective contribution of 3,3% to the alexithymia tendency meanwhile, 96,7% is contributed by other factors out of the study.

Keywords : Emotional Intelligence, Alexithymia Tendency, Adolescents, Orphanage.

(17)

16

Panti asuhan di Indonesia memiliki pertumbuhan yang cukup dinamis saat ini, hal ini sebagai upaya dalam membangun kembali masa depan anak (Haryanti et al., 2016). Menurut informasi dari departemen Kementerian Sosial Indonesia pada tahun 2008 memaparkan bahwa 5000 hingga 8000 anak hidup di panti asuhan Indonesia sehingga dikatakan sebagai panti asuhan dengan jumlah terbanyak yang ada di dunia (Wahyuningrum & Tobing, 2013). Panti Asuhan menurut Soetarso (1985) adalah tempat perlindungan yang berfungsi sebagai alternatif dalam menggantikan peranan keluarga untuk mencukupi kebutuhan pokok anak. Panti asuhan digunakan untuk melayani anak terlantar yang diharapkan dapat mengambil alih peranan keluarga sebagai informasi riset kesejahteraan sosial, penuhi hak-hak dasar anak. Anak memiliki beberapa hak, diantaranya hak dalam mendapatkan pembelajaran, tempat untuk bertahan hidup, kesehatan, mendapat kasih sayang dan tempat untuk dilindungi (Aminatun &

Chulaifah, 2015).

Riset yang dilakukan oleh Kementerian Sosial serta UNICEF “Save The Children” menunjukkan 94% yang hidup di Panti Asuhan bukan hanya yang tidak memiliki orang tuanya saja, tetapi ada juga yang dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang kurang mampu. Hal ini dapat dilihat bahwa anak yang berada di panti asuhan hanya 6% saja yang tidak memiliki orang tua (Hartati & Respati, 2012). Mayoritas anak-anak tinggal di Panti Asuhan karena masalah ekonomi serta masalah sosial lainnya dengan tujuan agar anak-anak memperoleh pembelajaran. Secara universal, mayoritas Panti Asuhan tidak hanya memberikan pengasuhan, namun juga memberikan fasilitas akses pembelajaran serta menyediakan kebutuhan yang dalam wujud fisik (Wahyuningrum & Tobing, 2013). Anak dengan usia 6 sampai 18 tahun merupakan anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Pada masa remaja, biasanya merupakan batas maksimal untuk

(18)

17

menghuni Panti Asuhan, sehingga, anak – anak yang memasuki masa remaja dituntut untuk lebih mandiri dalam menghadapi dunia luar.

Jumlah remaja terus mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dunia. World Health Organization (WHO), pada tahun 2017 sebesar 8% dari populasi remaja yang ada di dunia, yaitu sekitar 1,2 juta memiliki umur 10-19 tahun. Badan pusat Statistik (2018) juga menyebutkan bahwa 2,5%

dari jumlah 22.233.393 jiwa remaja berusia 15-20 tahun berada di Panti Asuhan.

Hal ini menggambarkan bahwa jumlah remaja yang tinggal di Panti Asuhan terus bertambah setiap tahunnya (Febristi, 2020).

Masa remaja merupakan persiapan menuju kedewasan dimana siklus pertumbuhannya berada di tahap yang kritis. Remaja di panti asuhan biasanya dengan umur 12-18 tahun. Hal ini selaras dengan pendapat Hurlock (1991) bahwa awal dari masa remaja yaitu 12-6 tahun, sedangkan akhir dari masa remaja yaitu 17-18 tahun secara hukum. Masa pertumbuhan ini rawan timbul adanya konflik dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya. Dampak negatif dalam pertumbuhan remaja akan muncul apabila dirinya tidak dapat menyelesaikan konflik dengan baik, misalnya permasalahan mental emosional (Haryanti et al., 2016). Masa remaja sendiri merupakan puncak perkembangan pergolakan emosi yang timbul saat berada di lingkungan tempat tinggal, keluarga, sahabat sebaya, sekolah, serta kegiatan yang dikerjakan di kehidupan sehari-hari. Apabila remaja menjalani peran dengan metode yang sehat, maka dapat membawa pada jalur hidup yang positif, sehingga mereka akan memperoleh gambaran diri yang positif (Ismiradewi, 2019).

Sejak manusia lahir, setiap individu memiliki keterampilan untuk merasakan berbagai pola emosi. Keterampilan emosi akan terus berkembang seiring dengan proses belajar pendewasaan individu melalui pemahaman dan relasi dengan orang lain (Nadhiroh, 2015). Setiap tahun remaja mengalami keadaan emosi yang ditandai dengan emosi yang kurang stabil, serta penuh gejolak sehingga suasana hati dapat berubah dengan cepat (Nurfitria &

Machsunah, 2019).

(19)

Pada masa remaja, remaja akan dihadapkan dengan bermacam tugas perkembangan yang wajib dipahami serta dituntaskan guna menggapai keberhasilan perkembangan pada masa selanjutnya (Firman, 2018). Remaja dituntut sanggup menyesuaikan emosi diri dengan posisi barunya tersebut dengan berbagai bermacam perubahan yang terjadi (Adiningtiyas, 2015). Peduli terhadap emosi artinya peduli dalam mengendalikan atensi diri sendiri dengan segala perubahan yang ada pada hal yang produktif dan konstruktif. Apabila emosi terabaikan maka perubahan yang terjadi tidak dapat direalisasikan dengan efektif, jadi emosi akan memberikan umpan balik bila dikendalikan atau dikelola dengan baik (Gusniwati, 2015). Tipe emosi yang secara wajar dirasakan remaja merupakan kasih sayang, gembira, khawatir, rasa marah serta permusuhan adalah indikasi emosional yang berarti diantara emosi-emosi yang menonjol dalam pertumbuhan karakter remaja (Firman, 2018).

Sejalan dengan usia remaja, emosi yang dirasakan individu pun akan terus mengembangkan diri. Keterampilan dalam memahami dan mengendalian atensi emosi merupakan hal yang sewajarnya ada pada setiap remaja, namun tidak semua individu mampu mengekspresikan dalam pemrosesan, penyesuaian dan verbalisasi dalam memberikan respon emosi yang tepat. Kesulitan untuk mengidentifikasi emosi, menggambarkan emosi yang individu rasakan yang akan berpengaruh dalam perkembangan psikologis seseorang sehingga akan mengalami kebingungan dalam memberikan reaksi emosi terhadap peristiwa yang individu alami dalam hidup yang sering disebut dengan alexithymia ( A Puşcaşu et al., 2016). P.E Sifneos (1993) mengemukakan bahwa alexithymia adalah ketidakmampuan untuk memilih kata-kata yang jelas dan tepat dalam menggambarkan perasaan.

Alexithymia digambarkan sebagai trait kepribadian yang biasanya terdistribusi dalam masyarakat. Terdapat bukti yang menyakinkan bahwa peristiwa yang menimbulkan stress dapat meningkatkan kecenderungan alexithymia (Schimmenti et al., 2015). Kondisi aktivitas yang ekstrim memiliki kaitan dengan emosi, individu terlihat tidak peka terhadap lingkungan sekitar.

Individu yang mengalami kecenderungan Alexithymia memiliki kemampuan

(20)

19

terbatas untuk mengidentifikasi perasaan individu sendiri serta emosi orang lain, tidak dapat mengatur emosi dengan benar dalam konteks interpersonal (Mei et al., 2018). Alexithymia saat ini dikonseptualisasikan sebagai sekelompok sifat kognitif yang meliputi defisit serta ketidakmampuan atau permasalahan dalam proses emosional berupa keterbatasan dalam menggambarkan emosi yang ada pada individu. Alexithymia tidak diklasifikasikan sebagai gangguan mental pada DSM- 5 (Ricciardi et al., 2015).

Beberapa penelitian juga mengeksplorasi tentang Alexithymia di kalangan remaja karena implikasinya dalam pengembangan keterampilan dalam bersosialiasasi rendah dan masa transisi pada masa remaja itu sendiri (Puşcaşu &

Usaci, 2016). Remaja laki-laki dan perempuan mengalami Alexithymia dengan tingkat jumlah yang sama, tetapi ada beberapa bukti bahwa Alexithymia lebih sering pada laki-laki, sementara ada yang menunjukkan bahwa prevalensi alexithymia dikalangan perempuan adalah 10 % dan 29% serta dikalangan laki- laki 2% dan 18% (Ricciardi et al., 2015), disisi lain terdapat penelitian yang memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan yang signitifikan berdasarkan jenis kelamin (Puşcaşu & Usaci, 2016). Prevalensi Alexithymia pada populasi umum adalah sekitar 10% (Ricciardi et al., 2015). Tingkat tinggi Alexithymia sekitar (40%-60%) diberitahukan diantara pasien dengan gangguan psikosomatis (Tompaidis, 2006), dan gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan dengan prevalensi 13%-58% (Parker et al., 1993), gangguan depresi 32%-51%

(Saarijärvi et al., 2001), gangguan makan 24%-77% (De Zwaan et al., 1995), gangguan adiktif 30%-50% (Evren et al., 2008), obsesif-komplusif 11%36%

(Joergen et al., 2006), serta gangguan spectrum autism 40%-60% (Berthoz & Hill, 2005).

Individu yang tinggal di panti asuhan akan menjalani kegiatan dengan berbagai masalah yang harus dihadapinya (Zuraida et al., 2018). Rohmat (2010) menyatakan bahwa masalah yang sering muncul pada remaja yang hidup di panti asuhan dalam perkembangan emosionalnya yaitu indikasi emosional negatif yang tidak seimbang dan berlebihan. Remaja yang tinggal di panti asuhan cenderung mengubah perilaku menjadi inferior, pasif, apatis, menarik diri, mudah putus asa,

(21)

penuh dengan ketakutan dan kecemasan, sehingga remaja akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain (Febristi, 2020). Selaras dengan penelitian Hartini (2001) mengatakan bahwa adanya hambatan perkembangan psikologis dan sosial anak panti asuhan yaitu anak asuh cenderung kurang mampu dalam hubungan sosial dengan orang lain. Emosional negatif tersebut adalah adanya perasaan khawatir, minder, takut, dan dapat menimbulkan sikap kesedihan yang berlebihan (Diah, 2018).

Permasalahan psikologis yang dialami remaja di panti asuhan adalah memiliki kesulitan dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, kesulitan dalam mengekspresikan diri (Wijaya et al., 2020). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa prevelensi yang tinggi terhadap berbagai resiko hambatan emosional akan dialami oleh remaja panti asuhan. Permasalahan dari remaja panti asuhan lainnya adalah individu kurang mampu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi (Ismiradewi, 2019). Apabila remaja panti asuhan memiliki kecerdasan emosi yang baik, maka permasalahan tidak akan terjadi pada remaja tersebut (Illahi, 2013).

Remaja panti asuhan seharusnya mampu dalam berinteraksi menyampaikan emosi dengan baik, namun pada kenyataannya beberapa remaja panti asuhan mengalami problem emosional. Selaras dengan hasil wawancara dengan beberapa remaja yang tinggal di Panti Asuhan daerah Kota Tegal, pemahaman kecerdasan emosi tersebut tergambar dalam hasil wawancara Subjek AR, seorang pelajar laki-laki SMA berusia 18 tahun yang tinggal di PA Muhammadiyah yang menyatakan bahwa

“Kalau di panti sendiri aku ya cenderung pendiam terus ya biasanya menyendiri sih, cerita si cerita sama teman deket tapi kadang jaranglah. Cuman pas sendirian gitu teman tau maksudnya kalau aku lagi emosi. Kenapa lebih dekat sama teman soalnya udah terbiasa bareng gitu yah jadi kalo ada masalah sama teman. semisal teman ada masalah ya mencoba samperin tanya kenapa. Kalau biar emosine enak si kadang dengerin motivasi-motivasi gitu di youtube, kadang juga dengerin orang ngaji. Pas ada masalah mencoba menyelesainkan sendiri dulu. Di panti sendiri kadang kangen sama orang tua soalnya jauh jadinya pulang lebaran setahun sekali itu juga cuman seminggu atau tiga harine pulang cuman kadang telponan gitu cerita biasalah sama kegiatan disini.( AR, 20 Nov 2020)”

(22)

21

“Kalau interaksi pas lagi ada masalah ya gitu yaudahlah gak usah ngomong, ya pancing dulu baru bisa ngomong. Kalau lagi posisi perasaan marah ya kadang menyendiri, kadang pelampiasanya main game. dan pas ada masalah baru ditanggapin dulu, diliat cari solusine tapi misal udah terlalu bayak ya curhat sama teman kadang sama teman lawan jenis gitu dan dengan cara ngaji ya wes sadar diri jadi bisa buat ambil keputusan enak. Kalau ada teman yang gak suka sama saya cuman biarin aja nanti juga balik lagi. Pengurus dipanti sendiri dekatnya pas awal-awal aja soalnya enak diajak ngobrol sekarang udah engga tapi setelah tahu kelakuan buruknya ya langsung bener-bener dipantau artinya selalu mencondongkan kesalahan. Cuman sekiranya saya kalau dipanti hanya menekankan sebuah aturan jadi perasaan anak itu tertekan, kalau dibilang ketat engga cuman yang membuat orang bosan itu aturan diperketat tapi gak ada kayak care-care an antar pengurus sama anak.”(MRNA laki laki berusia 18 tahun, 27 Nov 2020)

“Pengalaman di panti ya pas senang si kadang kumpul bareng temen-temen lalu pengurusnya juga, pad kadang dipanti ada acara nonton bareng jadi bisa bercanda bareng dan pengurus dipanti sendiri cukup membantu disekolah sama asrama. Pengalaman enggak enaknya, kadang juga suka ribut-ribut sama pengurusnya, kadang juga masalah teman ya kayak gak suka sama aku. Pas ada teman yang gak suka ya diam aja bingung kenapa, terus menurutku sedikit terkekang dipanti karena dipanti banyak kegiatanya. Aku lebih suka menyendiri gitu jadi cuman bisa diam terus juga lebih suka pede nulis pas lagi emosi di diary apa aja yang ada dipikiranku ya misal ngomong sama orang bingung juga, engga sering soale mungkin orangnya lagi sibuk jadi ceritane nanti. Cerita ke pengurus ya engga sering tapi iya si kadangkala misal anak didik kayak gini gini juga gitu si langsung ngomong orang depan kantor dan misal orang kantor tau kadang dipermasalahkan jadi kadang malas cerita. Pas sedih pikiran kacau, ya biasanya cuman bisa nangis pernah juga sampai akhirnya pindah tempat tidur diatas lalu ya pelampiasanya gebuk- gebukin kasur pas lagi capek gitu kalau abis nangis nanti diam dulu kayak nenangin diri lah, terus bisa lega ngomong sama yang lebih dipercaya pas masalah itu gak bisa diselesain sendiri jadi minta saran.”(ANS berusia 17 tahun, 27 November 2020)

Berdasarkan wawancara yang dipaparkan di atas, menunjukan dari ketiga pelajar remaja di Panti Asuhan mengalami masalah kebingungan dalam mengutarakan emosi kepada orang lain secara tepat sehingga lebih banyak memendam dan menyendiri dari lingkungan serta pengasuh maupun teman sangat mempengaruhi kehidupan sosial. Meskipun demikian, dari ketiga remaja tersebut juga mampu dalam menyelesaikan sendiri ketika terdapat masalah.

(23)

Munculnya kata alexithymia lebih dari 3 dekade yang lalu bahwa individu dengan kondisi seperti bukanlah orang-orang yang tidak sensitif akan tetapi terbatasnya dalam menjelaskan serta mengekspresikan secara verbal (Picardi et al., 2005). Individu cenderung menampilkan perilaku ataupun sikap tidak acuh ditimbulkan karena terbatasnya keterampilan individu berempati sehingga kecenderungan alexithymia tinggi. Individu yang mempunyai kecenderungan alexithymia pada hubungan komunikasi dengan orang lain akan melanda persepsinya sendiri yang berkaitan pada reaksi emosional dengan menyingkirkan sinyal–sinyal yang digunakan untuk membangun makna emosional serta mempunyai dampak membatasi ikatan individu dunia serta orang-orang didalamnya dan tanpa signifikansi emosional (Lang, 1979). Tingkatan dasar alexithymia mempengaruhi dampak pengungkapan emosi. Berdasarkan beberapa hasil penelitian dapat dijumpai bahwa kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap alexithymia (Parker et al., 2001), Attachment Style (Puşcaşu & usaci, 2016) serta Post Traumatic Stress Disorder (Thompson, 2009). Berdasarkan sebagian faktor yang telah diungkapkan dapat mempengaruhi alexithymia, kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kecenderungan alexithymia.

Keadaan emosi ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh John Mayer dan Peter Salovey menggambarkan bahwa kecerdasan emosional merupakan jenis kecerdasan sosial dimana keterampilan dlibatkan sebagai pengenalan perasaan dan emosi seseorang serta orang lain guna memilah dan memanfaatkan informasi dalam mengarahkan pemikiran dan perilaku seseorang (Mayer & Salovey, 1990). Ruang lingkup kecerdasan emosional meliputi penilaian verbal dan nonverbal, mengekspresikan emosi, pengendalian emosi dalam diri dan orang lain, serta penggunaan konten emosional dalam pemecahan suatu permasalahan (Salovey & Mayer, 1993).

Pemahaman emosi menggambarkan aspek yang tampak berkaitan dengan proses daya kemampuan kognitif individu karena menyangkut pengetahuan dan pemahaman individu tentang penyebab emosi itu muncul dan hubungan tertentu diantara individu. Tingkat kesadaran emosional yang tinggi dan strategi yang

(24)

23

berfokus pada tujuan memfasilitasi proses ini (Cho & Drasgow, 2015). Tanpa kecerdasan emosional, kemahiran untuk mencerna serta mengelola perasaan- perasaan diri sendiri serta orang lain, maka peluang untuk hidup bahagia menjadi sangat tipis (Purnaningtyas et al., 2010). Kecerdasan emosional merupakan salah satu aspek kecerdasan dalam memastikan efektifitas penggunaan yang konvensional tersebut (Yantiek, 2014).

Penelitian mengenai kecenderungan Alexithymia pada remaja panti asuhan belum banyak diteliti di Indonesia. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Herlim (2019) mengungkapkan adanya hubungan negatif pada masa dewasa awal yang dipengaruhi oleh faktor lain berupa Attachment Style dan Post Traumatic Stress Disorder. Dengan kata lain, individu dengan level tinggi alexithymia jarang memperhatikan keadaan emosi mereka dan juga kesulitan untuk menilai secara akurat sehingga kecerdasan emosinya rendah. Begitpun sebaliknya jika kecerdasan emosinya tinggi maka individu tidak mengalami Alexithymia.

Kesulitan seperti itu dipahami sebagai hasil dari skema emosi terbelakang (Preece et al., 2018). Artinya emosi Alexithymia adalah konstruksi beragam yang terdiri dari kesulitan dalam mengidentifikasi perasaan dan gangguan yang terkait dengan rangsangan emosional individu, kesulitan menggambarkan perasaan kepada orang lain, membatasi visualisasi fantasi (Parvizian et al., 2015). Berdasarkan dua definisi kecerdasan emosional dan kecenderungan alexithymia menunjukkan bahwa dua konstruk tersebut saling berkaitan erat, dimana kecerdasan emosional dapat menjadi indikator dalam menentukan kecenderungan Alexithymia (Parker et al., 2001).

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai hubungan antara kecerdasan emosional dan kecenderungan alexithymia pada remaja yang tinggal di panti asuhan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas maka rumusan masalah penelitian ini, yaitu : apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan?

(25)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui adakah hubungan antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberi wawasan dan sumbangan referensi yang cukup signifikan dalam memberikan informasi dan gambaran mengenai pengembangan pengetahuan ilmu psikologi, khususnya di bidang psikologi klinis berkaitan dengan kecerdasan emosi serta kecenderungan alexithymia pada individu remaja yang tinggal di panti asuhan.

2. Manfaat praktis

a. Bagi penelitian selanjutnya

Penelitian ini diharapkan mampu menambahkan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan alexithymia dengan membandingkan teori dan kenyataan yang ada dilapangan agar dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya dalam mengembangkan konstruk alat ukur psikologis dari Alexithymia.

a. Bagi masyarakat

Bagi masyarakat, sebagai sumbangan wawasan dalam mengedukasi individu maupun kelompok masyarakat mengenai kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia.

(26)

25

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kecenderungan Alexithymia 1. Pengertian Kecenderungan Alexithymia

Kecenderungan diartikan sebagai kecodongan, keinginan, kesukaan dan kehendak (Endarmoko, 2006). Storn (Hassan, 1981) bahwa setiap individu lahir dengan gabungan dari suatu perilaku dan lingkungannya yang membuat individu cenderung memperoleh realisasi diri sendiri. Kecenderungan diartikan sebagai sesuatu yang mengarahkan individu untuk berperilaku. Kecenderungan biasanya dijelaskan sebagai internal state (Reber & & Reber, 2010). Maka kesimpulan dari kecenderungan merupakan dorongan yang mengarahkan individu dalam berperilaku karena adanya keinginan atau kesukaan.

Istilah alexithymia yang awalnya dicetuskan oleh P.E Sifneos (1993) mengangkat topik penelitian psikomatik mengusulkan kata „alexithymic‟ dari bahasa Yunani, a yang artinya kekurangan, lexis yang artinya bekerja, serta thymos adalah mood atau emosi. Alexithymia sebagai trait kepribadian yang dikonseptualisasikan dengan terbatasnya dalam mengenali dan meregulasi emosi (Swart & Kortekaas, 2009).

Taylor (2000) menggambarkan komponen utama alexithymia adalah kesusahan dalam mengenali dan membedakan antara perasaan dan sensasi tubuh, terbatasnya dalam mengekpresikan perasaan sendiri kepada orang lain, terbatasnya berpikir dalam proses imajinasi dan memiliki gaya berpikir terikat dengan dunia luar. Alexithymia yang dijelaskan menurut Taylor (2000) sebagai personality trait yang merefleksikan adanya defisit dalam proses kognitif dan minimnya regulasi emosi (Taylor, 2000). Selaras dengan pendapat Matsumoto (Hammoud et al., 2019) secara umum alexithymia mengacu pada hambatan dalam proses emosional dan kognitif sehingga individu tersebut mengalami kesulitan dalam mengenali emosi diri sendiri dan memiliki kehidupan emosional dan fantasi yang kurang menjadikan individu terlihat peduli dengan detail kehidupan sehari- hari tanpa rasa arah atau tujuan.

(27)

Krystal (1997), individu yang memiliki kecenderungan Alexithymia hanya mengandalkan kemampuan berpikir dengan realitas yang spesifik sehingga ketika individu tersebut mencoba untuk mengindentifikasi perasaan sendiri mengalami kebingungan. Alexithymia sebagai trait adalah hambatan dalam peran mengenali rangsangan emosi yang memanifestasikan ketidakmampan untuk memahami sesuatu dengan kesadaran baik verbal maupun nonverbal (Lane et al., 1997).

Bagby, dkk (1997), alexithymia dikonseptualisasikan sebagai trait kepribadian merupakan ketidakmampuan untuk mengetahui dan memahami emosi melalui sensasi tubuh sehingga kesulitan menjelaskan emosi pada orang lain, kecenderungan kearah konformitas sosial atau menghindari konflik dan kurangnya mengekspresikan emosi diwajah menjadikan individu dengan alexithymia memiliki postur yang agak kaku. Alexithymia ini sendiri tersebar secara normal pada populasi umum.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, kesimpulan dari kecenderungan alexithymia sebagai trait kepribadian yang merupakan suatu kecondongan perilaku yang mengarahkan dimana individu adanya indikasi gangguan merasa kesulitan dalam mengidentifikasi dan menggambarkan perasaan yang dimiiki kepada diri sendiri dan juga orang lain melalui sensasi tubuh, memiliki defisit kognitif dan meregulasi emosi sehingga individu terkesan menarik diri dari sosial dan memiliki postur yang agak kaku.

2. Aspek –aspek Alexithymia

Sifnoes (1973) menjelaskan tiga aspek yang mempengaruhi Alexithymia diantaranya sebagai berikut :

a. Ketidakmampuan dalam mengenali perasaan : individu tidak memahami, mengidentifikasi dan mengenali sensasi serta perasaan dalam diri.

b. Ketidakmampuan mendeskripsikan perasaan melalui kata-kata : individu tidak mampu mengekspresikan perasaan dalam diri melalui kata-kata.

c. Pikiran yang berorientasi eksternal : individu cenderung memusatkan pikiran pada hal yang terjadi diluar dirinya, sebab individu merasa

(28)

27

tidak perlu untuk mengekspresikan perasaanya sehingga cenderung menghindari membicarakan tentang perasaan dan menghindari kegiatan serta perbincangan yang membutuhkan analisa berdasarkan perasaan.

Timoney dan Holder (2013) menyebutkan konstruk Alexithymia mencakup empat aspek diantaranya adalah :

a. Kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan secara subjektif

Individu yang mengalami kecenderungan Alexithymia akan mengalami kesulitan memahami emosi yang sedang dirasakan, misalnya saat individu merasakan kesedihan, kemarahan maupun kesenanga, individu mengalami ketidaktahuan terhadap emosi yang dirasakan.

b. Kesulitan membedakan antara perasaan dan sensasi tubuh dari gairah emosional

Individu dengan kecenderungan Alexithymia akan mengalami kesulitan dalam membedakan sensasi tubuhnya dengan perasaan yang dirasakan.

Contohnya individu merasa cemas atau tertekan, individu berkata bahwa individu mengalami sakit perut, tapi ketika ditanyakan individu tidak yakin apakah individu sakit perut karna cemas atau tidak.

c. Proses imajinasi terbatas

Individu dengan kecenderungan Alexithymia mengalami keterbatasan melakukan imajinasi dimana sangat diperlukan untuk menggambarkan emosi, harapan, keinginan serta menggambarkan dirinya sebagai individu lain. Namun individu dengan kecenderungan Alexithymia tidak kekurangan dalam frekuensi mimpi individu.

d. Gaya kognitif yang berorientasi eksternal

Individu yang memiliki Alexithymia tinggi, cenderung memiliki fokus bicara hanya pada gaya berpikir yang rasional, fakta eksternal dan objektif dibandingkan dalam mengandalkan perasaan yang dirasakan Bagby, dkk (1997) mengungkapkan ada empat aspek dari alexithymia diantaranya :

(29)

a. Difficulty identifying feelings and distinguishing between feeling (Kesulitan mengidentifikasi perasaan dan membedakan antara perasaan serta sensasi tubuh dari gairah emosional)

Individu dengan alexithymia akan kesulitan dalam mengenali dan mengetahui emosi yang dirasakan. Individu mungkin merasakan pengaruh dari adanya pengalaman emosi yang kuat seperti ketika individu sedang mengalami marah atau sedih yang begitu mendalam dan besar, akan tetapi individu merasa kebingungan dalam mencoba menggambarkan apa yang menyebabkan emosi tersebut muncul sehingga menyebabkan suasana hati menjadi berantakan (Thompson, 2009). Perasaan dengan sensasi tubuh sulit dibedakan oleh individu ketika dihadapkan dengan tekanan emosional (Taylor et al., 2013).

b. Difficulty describing feelings to other people (Kesulitan menggambarkan perasaan kepada orang lain)

Individu dengan alexithymia mempunyai kesulitan dalam menjelaskan emosi yang individu alami, dan individu juga kebingungan sehingga sulit mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan kata-kata. Ketika individu mengalami ketidaknyaman perasaan yang berubah pada dirinya, maka akan meningkatkan detak jantung dan tekanan perasaan sehingga dapat dikatakan bahwa individu merasakan kesulitan untuk menjelaskan mengenai perasaan dirinya (Thompson, 2009).

c. Impaired imagination (Terbatasnya proses imajinasi)

Imajinasi merupakan fenomena rumit sebagai keterampilan dalam menggambarkan yang ada di pikiran dari hal –hal yang diingat dari pengalaman konkret-sensori (Thompson, 2009). Individu yang mengalami alexithymia sulit berimajinasi.

Thompson (2009) juga mengungkapkan bahwa proses imajinasi manusia mempunyai fungsi yang sangat diperlukan menggambarkan emosi, keinginan, harapan, kebutuhan, mengatur intensitas dan ekspresi emosi, kemampuan untuk menyesuaikan diri, empati serta kemampuan dalam menghadapi keadaan emosional orang lain secara efektif. Bagby, dkk

(30)

29

(1997) mengungkapkan bahwa kurangnya fantasi perasaan dan harapan merupakan fakta individu dengan level alexithymia yang tinggi mengalami keterbatasan dalam proses imajinasi yang dialami.

d. Thingking style bound to the world (gaya berpikir yang terkait dengan dunia luar)

Individu dengan alexithymia mampu fokus terhadap hal-hal eksternal dibandingkan internal serta pengalaman. Individu dengan gaya berpikir eksternal ini hanya merasakan pada realitas dan fakta empiris sehingga ketika individu mencoba memahami perasaan yang dialaminya mengalami kebingungan untuk mengungkapkan.

Berdasarkan pemaparan di atas, kesimpulan aspek-aspek alexithymia yakni kesulitan mengidentifikasi dan menggambarkan perasaan yang dimiliki, dan memiliki gaya dalam berpikir yang hanya menghandalkan dunia luar (eksternal).

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi Alexithymia Faktor-faktor yang mempengaruhi Alexithymia yaitu : a. Kecerdasan Emosi

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Parker, dkk (2001) mengungkapkan bahwa keterkaitan yang erat antara kecerdasan emosi dengan alexithymia dimana kecerdasan emosional memiliki hubungan yang negatif dengan alexithymia. Menurut Salovey dan Mayer (1990) kecerdasan emosi merupakan kemampuan yang ada pada manusia untuk memahami, mengendalikan emosi diri juga orang lain, yang menggunakannya untuk mengarahkan pikiran dan emosi diri sehingga bermanfaat bagi tindakan individu dan lingkungan tempat individu berada (Mayer & Salovey, 1990).

b. Attachment Style

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Usaci dan Puscasu (2015) mengungkapkan bahwa gaya kelekatan dan alexithymia memiliki hubungan dimana adanya korelasi yang negative antara Secure Attachment

(31)

Style dengan Alexithymia dan adanya korelasi yang positif antara fearful dan Preoccupied Attachment Style dengan Alexithymia.

c. Post Traumatic Stress Disorder

Menurut Thompson (2009), salah satu penyebab terjadinya alexithymia adalah trauma. Diagnostic dan Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IVTR). PTSD dijelaskan sebagai gangguan mental yang umum dan melemahkan yang terjadi pada beberapa individu setelah adanya peristiwa traumatis (Duncan et al., 2018). PTSD ini menyebabkan gangguan dalam kekurangan kapasitas dalam mendefinisikan perasaan, ketidakmampuan untuk menemukan kegiatan menyenangkan (Anhedonia) dan kurang mampu memahami terhadap situasi emosi.

Thompson (2009) menjelaskan ada empat faktor alexithymia dalam bukunya yang berjudul Emotional Dumb an Overview of Alexithymia, antara lain sebagai berikut :

a. Biogenic Alexithymia

Penyebab Alexithymia karena biogenik dari kelainan fisik pada otak.

Kelainan ini disebabkan oleh adanya cedera pada otak (misalnya dari kecelakaan mobil), karena kekurangan oksigen ke otak selama kelahiraan, atau dengan tanda-tanda untuk mengetahui adanya racun. Kelainan mungkin adanya faktor genetik atau otak yang tidak berkembang secara baik sejak lahir atau selama masa kanak-kanak. Apabila struktur saraf rusak dan alexithymia tidak dapat disembuhkan, maka fokus terapi harus belajar pada strategi koping kompensasi baru sebagai menentang pemahaman psikologis dalam perasaan. Meskipun ada fakta kuat untuk kasus biogenik alexithymia, namun untuk kasus tersebut merupakan minoritas dari polupasi alexithymia.

b. Psychogenic Alexithymia

Psikogenik alexithymia disebabkan karena berbagai hal trauma emosional, keterlambatan pada masa perkembangan, atau pengkondisian budaya dan pola asuh orang tua. Pelecehan seksual, penelantaran, menyaksikan atau mengalami kekerasan, menjadi sarasan nyeri fisik yang berhubungan

(32)

31

dengan cedera, atau penyakit yang berat seperti kanker, penyakit jantung, diabetes dan rheumatoid arthitis merupakan pengalaman yang dapat disebabkan oleh trauma emosional. Individu yang mengalami kecenderungan alexithymia yang disebabkan oleh psikogenik akan menyerang persepsi untuk menutup komunikasi diri yang digunakan untuk membangun emosional sehingga mempunyai dampak menghalangi hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.

c. Primary Alexithymia

Alexithymia primer mengacu pada suatu perilaku yang melekat pada kepribadian seseorang. Bentukan alexithymia ini dapat disebabkan oleh bawaan atau peristiwa yang terkait di masa usia kana-kanak misalnya penyalahgunaan dan penelantaraan. Alexithymia primer merupakan kondisi yang sudah melekat sehingga sulit diubah karena alexithymia ini disebabkan juga oleh kondisi neurobiological.

d. Secondary Alexithymia

Alexithymia sukunder berasal dari reaksi terhadap trauma emosional yang bagaimana individu dalam memrepresentasikan emosional ini bersifat kondisi pertahanan sementara. Namun, jenis ini merupakan kondisi yang masih dapat dipulihkan apabila stres dapat dihilangkan karena terjadinya alexithymia merupakan akibat reaksi dari trauma emosi.

Berdasarkan pemaparan diatas, kesimpulan dari faktor-faktor yang mempengaruhi alexithymia yakni kecerdasan emosional, attachment style, PTSD, Primary dan Secondary alexithymia dan biogenik dan psychogenik.

B. Kecerdasan Emosional 1. Definisi Kecerdasan Emosional

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai adanya emosi dalam dirinya yang memiliki dampak besar pada pikiran dan ingatan individu sehingga emosi adalah komponen penting individu sendiri. Emosi sebagai respon yang tertata yang mempunyai subsistem psikologis termasuk fisiologis, kognitif, motivasi dan sistem pengalaman. Munculnya emosi pada individu biasanya apabila terjadi

(33)

tanggapan dari suatu kejadian, baik internal atau eksternal yang memiliki sisi positif dan negatif untuk individu (Mayer & Salovey, 1990).

Istilah kecerdasan emosional yang diciptakan oleh Mayer dan Salovey (1990) merupakan kemampuan yang ada pada manusia untuk memahami, mengendalikan emosi kita juga orang lain, yang menggunakannya untuk mengarahkan pikiran dan emosi kita sehingga bermanfaat bagi perilaku individu dan lingkungan tempat dia berada. Kecerdasan emosional adalah keterampilan individu dalam memahami dan mengatur emosinya, ketika kesulitan mengatasi masalah maka individu mampu dalam memotivasi diri sendiri, memiliki sikap kepedulian dalam mengetahui dan mengerti emosi individu lain, serta mampu menjaga relasi dengan individu lain (Goleman, 2015). Kecerdasan emosional tidak berarti dominan dalam memberikan kebebasan perasaan, tetapi mengatur perasaan tersebut sehingga dapat diekspresikan dengan tepat.

Pengertian mengenai kecerdasan emosional merupakan bahwa kecerdasan emosional yaitu keterampilan individu agar mampu memahami, belajar dalam mengendalikan emosi, mengkomunikasikan, mengenali, dan mengekspresikan emosi (Efendi & Sutanto, 2013). Selaras dengan Iskandar (2012) mengungkapkan kecerdasan emosional merupakan keterampilan dalam memahami dan memilah dengan tepat emosi, tempramen, dorongan dan keinginan hubungan dengan pribadi.

Berdasarkan beberapa pengertian mengenai kecerdasan emosional maka kesimpulan kecerdasan emosional adalah keterampilan individu dalam mengetahui, mengekspresikan dan mengendalikan emosi agar emosi tersebut dapat berjalan secara efektif dan baik bagi individu.

2. Aspek-aspek kecerdasan emosional

Aspek- aspek kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Goleman (2015), meliputi dimensi-dimensi sebagai berikut :

1. Mengenali emosi sendiri

Mengenali emosi diri sendiri sangat penting bagi pemahaman diri dalam kemampuan untuk individu mengontrol perasaan dalam jangka panjang.

2. Mengelola emosi

(34)

33

Mengelola emosi yaitu keterampilan menyeimbangkan emosi dengan menekan perasaan.

3. Memotivasi diri sendiri

Memotivasi diri sendiri adalah keterampilan pokok tentang bagaimana individu mampu meningkatkan keterampilan saat menghadapi masalah dalam jangka panjang.

4. Mengenal emosi orang lain

Mengenal emosi orang lain yaitu keterampilan dalam mengetahui perasaan orang lain, mengerti sudut pandang orang lain, memiliki hubungan akrab yang saling percayai serta mampu menyesuaikan diri di berbagai tipe relasi.

5. Membina hubungan

Membina hubungan adalah keterampilan untuk mengontrol perasaan dengan baik saat berinteraksi dengan individu lain, melakukan observasi terhadap kejadian dan relasi sosial dengan cermat, dan memanfaatkan kemampuan ini untuk dapat memimpin, menyelesaikan konflik maupun tugas melalui musyawarah.

Berdasarkan dari model kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh Salovey dan Mayer (1990) mengungkapkan ada aspek-aspek yang mempengaruhi kecerdasan emosional, antara lain :

1. Appraisal and Expression of Emotion ( Penilaian dan Ekspresi Emosi ) a. Emotion in self

Proses yang mendasari kecerdasan emosional dimulai ketika menggambarkan bagaimana kemampuan individu dalam mempersepsikan informasi yang memungkinkan menilai dan mengekspresikan berbagai perasaan emosi secara akurat sehingga dapat mengendalikan emosi tersebut menjadi stabil baik verbal dan non verbal.

b. Emotion in others

Kemampuan individu dalam mengenali dan memahami tentang memberikan reaksi dan menanggapi untuk berempati pada emosi orang

(35)

lain secara tepat serta kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Sisi positifnya, individu akan dianggap tulus dan hangat pada orang lain. Sedangkan individu yang memiliki kekurangan kemampuan ini akan terlihat kasar.

2. Regulation of emotion

Regulasi emosi dalam kecerdasan emosional adalah kemampuan individu untuk mengarahkan dalam mengendalikan serta menyesuaikan perasaan yang dirasakan untuk memenuhi tujuan tertentu, dengan implikasi diri dari tingkah laku sosial terhadap emosi. Kemampuan regulasi emosi mempunyai sisi positifnya yaitu individu dapat meningkatkan suasana hati, dan mengarahkan emosi tersebut untuk mendorong tujuan yang bermanfaat pada orang lain secara baik. Sedangkan sisi negatifnya, individu yang kekurangan kemampuan ini menyalurkan untuk menarik diri dari lingkungan sehingga membuat adegan manipulatif.

3. Utilization of emotion in solving

Kemampuan individu untuk memanfaatkan emosi mereka sendiri dalam mengatur strategi suasana hati dan memfokuskan perhatiannya kembali untuk memecahkan masalah secara kreatif sehingga ketika perencanaan yang terorganisir bisa dilakukan dengan alternatif fleksibel, serta memanfaatkan emosi ini dapat digunakan untuk memotivasi suasana hati yang kuat dalam menghadapi masalah yang menantang.

Berdasarkan pemaparan di atas, kesimpulan dari aspek-aspek kecerdasan emosional yakni mengenali dalam persepsi emosi, mengelola emosi sendiri, mengelola emosi orang lain, dan pemanfaatan emosi.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional

Menurut pendapat Goleman (2004) menyebutkan bahwa kecerdasan emosional dalam perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal, antara lain :

a. Faktor otak

Bagian otak memberikan peran penting untuk amigdala sebagai mengelola emosi. Amigdala juga berperan sebagai semacam tempat

(36)

35

menyimpan ingatan emosi serta makna emosi itu sendiri apabila hidup tanpa amigdala adalah individu tidak menemukan makna sama sekali dalam kehidupan.

b. Faktor keluarga

Keluarga memiliki peranan penting dalam perkembangan kecerdasan emosional individu karena individu dapat belajar memahami dan menanggapi emosi diri sendiri serta berpikir tentang emosi tersebut.

Goleman (2004), mengungkapkan bahwa sekolah pertama dalam mempelajari emosi adalah lingkungan keluarga.

c. Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah terutama guru berperan dalam pengembangan kemampuan individu dengan pola pengasuhan dan metode pengajarannya sehingga kecerdasan emosional dapat berkembang. Lingkungan sekolah juga mengajarkan individu untuk menumbuhkan intelektual dan berhubungan sosial dengan teman sebaya, sehingga individu memiliki pengungkapan secara bebas tanpa terkesan adanya tekanan secara ketat.

Shapiro (1998) mengungkapkan bahwa lingkungan sebagai salah faktor yang berpengaruh terhadap kecerdasan emosi. Namun faktor tersebut mengalami perubahan setiap tahunnya. Peranan lingkungan terutama orang tua sangat memiliki pengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan kecerdasan emosional. Kemampuan kecerdasan emosional sendiri bukanlah tandingan dengan kemampuan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berkorelasi secara dinamis, baik pada peranan tingkatan konseptual maupun di kehidupan sehari- hari. Selain itu, keturunan tidak banyak berpengaruh pada kecerdasan emosi.

Berdasarkan pemaparan diatas maka kesimpuan dari faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosinal adalah faktor internal yaitu keluarga dan faktor otak serta faktor eksternal yaitu lingkungan sekolah

(37)

C. Remaja 1. Pengertian remaja

Masa remaja adalah masa yang berperan besar pada perubahan fisik, kognitif dan psikososial dimana pada masa ini terjadi peralihan perkembangan masa kanak-kanak dan dewasa (Papalia et al., 2013). Masa remaja berada diantara usia dewasa dan anak-anak sehingga mempunyai rangkaian yang kurang jelas dalam proses perkembangan individu (Yantiek, 2014). Masa remaja adalah peralihan dari masa anak-anak menuju proses dewasa, pada masa ini timbul banyak tekanan, baik dari lingkungan sekolah atau keluarga sehingga remaja dituntut mampu dalam menyesuaikan diri dengan peran barunya tersebut (Adiningtiyas, 2015). Hurlock (1991) usia masa remaja awal kisaran umur 12 -16 tahun sedangkan remaja akhir 17-18 tahun. Usia remaja di Indonesia menurut Sarwono (2002) yaitu kisaran umur 14 tahun hingga 24 tahun. Menurut Papalia dan Olds (Jahja, 2011), masa remaja adalah masa transisi yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun.

William Kay (Jahja, 2011) mengemukakan bahwa remaja dalam menjalani perkembangannya mempunyai tugas-tugas meliputi, antara lain :

1. Bagaimana remaja untuk menerima keragaman kualitas fisiknya sendiri dan percaya terhadap kemampuannya.

2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua.

3. Mengembangkan komunikasi interpersonal dan berinteraksi dengan teman, baik secara individual ataupun kelompok.

4. Menemukan panutan untuk dijadikan identitas pribadinya.

5. Kemampuan dalam mengendalikan diri dan sikap penyesuaian diri kekanak-kanakan.

Hurlock (1991), mengungkapkan bahwa tugas perkembangan dari remaja adalah kemampuan dalam menerima fisiknya dan mengerti peran seks usia dewasa, kemampun untuk membina hubungan baik dengan lawan jenis, mencapai kemandirian emosional dan ekonomi, memiliki perilaku tanggung jawab sosial

(38)

37

yang diperlukan untuk memasuki masa dewasa dan mengembangkan konsep dan keterampilan intelegensi untuk melakukan peran dalam masyarakat.

D. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Kecenderungan Alexithymia

Masa remaja sangat sensitif dalam hidup seseorang karena individu mulai mencari identitas baru dan lingkungan sekitarnya. Pada masa remaja, perasaan dan emosi yang dilakukan individu merupakan perjalanan hidupnya, demikian pula ketika remaja memberi perhatian dan kecenderungan pada hal-hal yang diluar rumah dan konflik mereka dengan orang tua (Naghavi, 2017). Disamping remaja mencari identitas yang baru, perkembangan emosi akan terus berjalan dengan usianya.

Kemampuan dalam memahami dan mengekspresikan akan perasaan yang dimiliki serta bagaimana mampu mengelolanya dengan baik adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh remaja. Namun, hal tersebut tidak semua remaja memilki kemampuan tersebut pada penjelasan ini disebut alexithymia.

Alexithymia sebagai trait kepribadian adalah individu yang memiliki kesulitan dalam mengekspresikan emosi dan perasaan yang dimiliki yang di jelaskan melalui kata-kata dan hanya memiliki fokus pada realitas saja (Sifneos, 1973).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bagby, dkk (2001) mengungkapkan adanya keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan alexithymia. Beberapa penelitian juga mengangkatkan keterkaitan dua hal tersebut seperti (Naghavi, 2017) dan Herlim (2019) memberikan hasil bahwa adanya hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan alexithymia.

Taylor (Parker et al., 2001) melakukan penelitian tentang bagaimana kecerdasan emosi menjadi faktor yang mempengaruhi alexithymia dimana memiliki korelasi yang kuat dan berbanding terbalik. Kecerdasan emosi merupakan keterampilan untuk persepsi emosi, mengatur emosi, mengelola emosi pada individu lain, dan pemanfaatan emosi (Mayer & Salovey, 1990). Individu yang memiliki karakteristik tersebut dan mengunakannya secara akurat maka tidak memiliki kecenderungan dengan alexithymia, sebaliknya jika seseorang

(39)

memiliki kecerdasan emosional yang cenderung buruk tidak dapat mengenali emosi maka kemungkinan memiliki kondisi kecenderungan dengan alexithymia (Bermond et al., 2006). Berdasarkan pemaparan diatas, terdapat keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan alexithymia

E. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ada hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan kecenderungan alexithymia pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan”. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosional, maka semakin rendah tingkat kecenderungan alexithymia. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin tinggi pula tingkat kecenderungan alexithymia.

(40)

39 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Identifikasi variabel merupakan langkah penetapan variabel-variabel utama dalam penelitian untuk menentukan fungsi masing-masing (Azwar, 2012).

Variabel didefinisikan sebagai suatu atribut, sifat atau nilai dari orang atau objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu, baik jenis atau tingkatannya, yang sudah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2017). Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas merupakan variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain. Dengan kata lain, variabel bebas merupakan variabel yang ingin diketahui pengaruhnya terhadap variabel lain, sedangkan variabel terikat merupakan variabel yang menjadi akibat atau dipengaruhi oleh variabel bebas (Sugiyono, 2017). Variabel yang akan digunakan di penelitian ini adalah :

1. Variabel Tergantung (Y) : Kecenderungan Alexithymia 2. Variabel Bebas (X) : Kecerdasan Emosional

B. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik atau indikator yang lebih terperinci dan dapat diamati. Definisi operasional dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh suatu definisi yang memiliki arti tunggal dan diterima secara objektif sehingga terhindari dari kekeliruan saat pengambilan data (Azwar, 2012). Adapun definisi operasional dari variabel dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :

1. Kecenderungan Alexithymia

Kecenderungan alexithymia sebagai trait kepribadian yang merupakan suatu kecondongan perilaku yang mengarahkan dimana individu adanya indikasi gangguan merasa kesulitan dalam mengidentifikasi dan menggambarkan perasaan yang dimiliki kepada diri sendiri dan juga orang lain melalui sensasi tubuh, memiliki defisit kognitif dan meregulasi emosi

(41)

sehingga individu terkesan menarik diri dari sosial dan memiliki postur yang agak kaku. Kecenderungan alexithymia dalam penelitian ini akan menggunakan Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) yang disusun oleh Bagby, dkk (1994). Adapun aspek-aspek tersebut yaitu difficulty identifying feelings (DIF), difficulty describing feelings (DDF), dan externally oriented cognitive style of thingking (EOT). Tinggi atau rendahnya kecenderungan alexithymia dapat dilihat dari total skor yang diperoleh. Skor total TAS-20 yang semakin tinggi mengindikasikan bahwa kecenderungan trait alexithymia yang semakin tinggi, sebaliknya skor total TAS-20 yang semakin rendah mengindikasi bahwa kecenderungan trait alexithymia yang semakin rendah.

2. Kecerdasan emosional

Kecerdasan emosional adalah kemampuan individu dalam mengenali, mengekspresikan dan mengendalikan emosi agar emosi tersebut dapat berjalan secara efektif dan baik bagi individu. Kecerdasan emosional pada penelitian ini diukur menggunakan Schutte Emotional Intelligence Scale (SEIS) yang disusun oleh Schutte, dkk (1998). SEIS disusun berdasarkan empat konsep aspek kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh Salovey dan Mayer (1990), hal ini dikarenakan keempat aspek tersebut akan memberikan dasar yang kuat untuk mengukur tingkat kecerdasan emosional individu. Adapun keempat aspek tersebut yaitu perception of emotion, managing own emotions, managing other’s emotion, dan utilization of emotion (Mayer & Salovey, 1990). Tingkat rendahnya kecerdasan emosional individu dilihat berdasarkan tingkat rendahnya skor total. Semakin tinggi total individu menunjukkan kecerdasan emosional individu yang tinggi, sebaliknya semakin rendah skor total individu menunjukkan kecerdasan emosional individu yang rendah.

(42)

41

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel (Sampling) 1. Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang memiliki karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian diambil kesimpulan (Sugiyono, 2017).

Populasi yang diambil oleh penelitian ini adalah remaja yang berumur 17 sampai dengan 20 tahun yang tinggal di Panti Asuhan Wilayah Kota Tegal dan Kabupaten Tegal. Subjek tersebut harus berupa satuan analisis yang memiliki keseragaman atau kesamaan tingkah laku maupun karakteristik yang dibutuhkan.

Tabel 1 Rincian Data Remaja berumur 17-20 tahun yang tinggal di Panti Asuhan Kota Tegal

No Nama Panti Jumlah anak

1 Panti pelayanan sosial anak Suko Mulyo 28

2 Panti asuhan yatim muhammadiyah 12

3 Panti asuhan putri aisyiyah 22

Total 62

Tabel 2 Rincian Data Remaja berumur 17-20 tahun yang tinggal di Panti Asuhan Kab. Tegal

No Nama Panti Jumlah anak

1 LKSA Panti asuhan puteri 'aisyiyah Slawi 21 2 LKSA Panti asuhan putri 'aisyiyah Karanganyar 19

3 LKSA Manunggal Slawi 16

4 LKSA Rumah Yatim Bina Anak Sholeh 24

5 LKSA PA Yatim muhammadiyah Slawi 23

6 Panti Asuhan Putri aisyiyah Margasari 18

7 LKSA Putri Hj. Zaenab Masykur muhammdiyah 26

Total 147

2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi (Nazir, 2014). Pengambilan sampel merupakan suatu prosedur dimana peneliti mengambil hanya sebagian dari populasi guna menentukan sifat dan ciri yang dikehendaki dari populasi (Nazir, 2014). Sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang tinggal di Panti Asuhan Kota Tegal dan Kabupaten Tegal yang memiliki kriteria-kriteria tertentu. Kriteria tersebut yaitu remaja yang tinggal di Panti Asuhan wilayah Kota Tegal dan Kab Tegal dengan rentang usia 17-20 tahun, dan berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Sampel dalam penelitian ini yaitu sebagian dari populasi remaja yang berumur 17-20 tahun yang tinggal di Panti

Gambar

Tabel  1  Rincian  Data  Remaja  berumur  17-20  tahun  yang  tinggal  di  Panti  Asuhan Kota Tegal
Tabel 3 Blueprint skala TAS-20
Tabel 4 Blue Print Schutte Emotional Intelligence Scale (SEIS)
Tabel 5 Sebaran aitem Skala  Kecenderungan Alexithymia
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini ada beberapa pengertian attitude yang dapat dipertimbangkan yaitu attitude sebagai kecenderungan untuk merespon kepada objek sosial seperti

KEPRIBADIAN adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi (Yinger). KEPRIBADIAN adalah

Adapun hubungan antara perilaku prokrastinasi dengan tipe kepribadian introvert adalah positif dan individu yang memiliki kecenderungan tipe kepribadian introvert

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa body image merupakan individu yang memiliki persepsi, perasaan, serta perilaku seseorang dalam menilai tubuhnya

Belum menjadi konsep yang mantap karena masih banyak individu dalam suatu kebudayaan yang memiliki kepribadian menyimpang dari kepribadian umum yang ditentukan.. berdasarkan

Berdasarkan pengertian tentang minat wirausaha di atas dapat disimpulkan bahwa minat berwirausaha merupakan kecenderungan hati dari dalam diri individu yang mempunyai

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gaya kelekatan adalah kecenderungan perilaku anak atau individu untuk mencari dan berusaha mempertahankan kedekatan

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan Perilaku Pembelian Kompulsif dimana perilaku berbelanja seseorang yang tidak terkontrol berdasarkan dorongan emosional