PROPOSAL PENELITIAN
DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP ANAK KORBAN KEKERASAN DI UPT PERLINDUNGAN DAN PELAYANAN SOSIAL ASUHAN ANAK (PPSAA) KABUPATEN NGANJUK
Dosen Pembimbing I : Dra. Juli Astutik, M.Si Dosen Pembimbing II : Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW
Disusun Oleh :
ENGGAR HIKMATUL FAJRIYAH IMANDA 201910030311036
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2022
2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Anak merupakan harta bangsa sekaligus amanah yang kelak akan memelihara, mempertahankan, serta mengembangkan kekayaan dan perjuangan bangsa. Maka dari itu anak harus sehat, baik secara jasmani maupun rohani agar terjamin tumbuh kembang mereka sesuai dengan hak-haknya. Setiap anak pada hakikatnya membutuhkan perawatan, perlindungan, pengajaran, dan kasih sayang oleh orang-orang dewasa (orang tua terutama), agar menjamin kebutuhan fisik, mental, sosial dan spiritual mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua memperoleh tangung jawab pertama dan utama yang berkewajiban memenuhi hak dan kebutuhan anak mereka.
Seiring berkembangnya zaman, semakin meningkat pula tindak kekerasan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. terjadinya kekerasan ini sebagian besar dilakukan terhadap anak oleh orang-orang terdekatnya dan kenal baik dengan korban baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan tempat-tempat tertentu yang memberikan peluang untuk dapat terjadinya kekerasan tersebut. Kekerasan ini tidak terjadi pada anak perempuan saja dapat juga terjadi pada anak laki-laki juga.
Kekerasan terhadap anak ini bukanlah disebut dengan masalah individu melainkan sudah menjadi masalah global yang harus segera diselesaikan.
Permasalahan yang terjadi di lingkungan keluarga dikarenakan banyak hal salah satunya faktor ekonomi sehingga mengakibatkan terjadinya kekerasan bahkan dapat terjadi perceraian. Hal tersebut mengakibatkan fenomena perceraian
3
dan kekerasan di indonesia meningkat setiap tahunnya. Akibat dari fenomena tersebut anak yang menjadi korban perceraian bahkan korban kekerasan mengalami trauma yang cukup mendalam baik fisiknya ataupun psikisnya.
Kekerasan merupakan perbuatan yang salah yang dimana kekerasan dapat diartikan sebagai perbuatan yang mengakibatkan cedera pada seseorang atau bahkan dapat mengakibatkan kematian serta mengakibatkan kerusakan pada fisik seseorang. Tindakan dari kekerasan yang dapat berupa fisik, seksual, penganiayaan emosional atau bahkan pengabaian terhadap anak, yang dapat menyerang mental dari anak tersebut. Menurut Soerdjono Soekanto (2015) mendefinisikan kekerasan sebagai istilah yang dipergunakan bagi terjadinya cidera mental atau fisik. Kekerasan dapat diartikan sebagai sebuah ancaman, usaha atau penggunaan fisik yang dilakukan oleh seseorang yang dapat menimbulkan luka baik secara fisik maupun non fisik terhadap orang lain.
Menurut WHO kekerasan pada anak adalah suatu tindakan penganiyaan atau perlakuan salah pada anak dalam bentuk menyakiti fisik, emosional, seksual, melalaikan pengasuhan dan eksploitasi untuk kepentingan komersial yang secara nyata atau tidak dapat membahayakan kesehatan, kelangsungan hidup, martabat atau perkembangannya, tindakan kekerasan ini diperoleh dari orang-orang terdekatnya. Fenomena kekerasan terhadap anak di Indonesia semakin meningkat yang dimana kekerasan tersebut dimulai dari orang tua anak itu sendiri. Banyak sekali di Indonesia orangtua jarang memperhatikan mental dari anak yang menjadi korban kekerasan tersebut. Untuk hal seperti itu, anak korban kekerasan ini hanya
4
membutuhkan dukungan-dukungan dari lingkungan terdekatnya terutama dari keluarga untuk menyembuhkan trauma dari korban tersebut.
Selain itu, kekerasan terhadap anak akan mempunyai dampak. Dampak yang muncul akibat dari kekerasan terhadap anak tergantung dari jenis kekerasan yang dialaminya. Dampak kekerasan fisik terhadap anak dapat terlihat dari beberapa perubahan dalam kehidupannya seperti anak menjadi pendiam atau introvert, anak menjadi tidak percaya diri akan kemampuannya, anak menjadi tidak semangat dalam belajarnya, dan anak cenderung menjadi pribadi yang tertutup bahkan akan menghindar dari orang yang lebih dewasa darinya. Selain itu, kekerasan akan menyebabkan keterlambatan perkembangan. Hal ini yang disebabkan anak-anak akan menghabiskan waktunya untuk menghadapi situasi yang sedang dihadapinya. Dengan hal ini banyak sekali kasus yang terjadi di Indonesia yang sudah tereskspos atau belum terekspos dan diketahui oleh publik.
Seperti halnya terjadi pada seorang anak yang berasal dari Kabupaten Nganjuk yang mana anak tersebut merupakan korban dari kekerasan fisik oleh ayah sambungnya. Yang dimana korban tersebut mengalami kekerasan pada usia kurang lebih 8 tahun, yang menyebabkan korban mengalami traumatis seperti anak cenderung menjadi pribadi yang pendiam atau introvert, anak menjadi tidak percaya diri akan kemampuannya, anak menjadi tidak semangat dalam belajarnya, dan anak cenderung menjadi pribadi yang tertutup bahkan akan menghindar dari orang yang lebih tua darinya. Serta, akibat dari kekerasan ini berpengaruh terhadap pendidikan korban. Yang mana menurut salah satu guru wali kelasnya nilai pelajaran korban dibawah kkm dan korban cenderung sering melamun
5
dengan tatapan kosong dikelasnya. Tak hanya itu, kekerasan juga terjadi pada anak perempuan yang berusia 15 tahun yang dimana anak tersebut mengalami kekerasan seksual ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sehingga mengakibatkan korban tersebut depresi yang cukup berat.
Maka dari itu, dari fenomena yang sudah dipaparkan bahwa banyak sekali dampak dari kekerasan terhadap anak, untuk penanganan fenomena tersebut tidak bisa dengan satu pihak saja. Perlunya ada keterlibatan berbagai pihak baik itu keluarga, masyarakat atau bahkan institusi lainnya yang mempunyai kepedulian terhadap hak anak.
Dalam penanganan fenomena kekerasan terhadap anak di Kabupaten Nganjuk pemerintah telah menyediakan sarana untuk memfasilitasi para korban kekerasan dengan menggunakan sistem panti yang dikelolah oleh institusi pemerintahan. Didalam sarana ini para korban diberikan berbagai macam kegiatan, pembinaan maupun pelayanan guna menunjang kebutuhan korban. Unit pelayanan terpadu atau biasa disingkat UPT Sosial merupakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah guna menyelesaikan permasalahan yang telah dipaparkan diatas.
Salah satunya unit pelayanan terpadu sosial Pelayanan dan Perlindungan Sosial Asuhan Anak di Kabupaten Nganjuk, UPT ini menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan sosial bagi para anak. UPT Pelayanan dan Perlindungan Sosial Asuhan Anak Kabupaten Nganjuk ini memiliki daya tampung sebanyak 79 orang anak dan telah terisi penuh dengan mayoritas didominasi oleh perempuan dari pada laki-laki. Dengan ada nya UPT ini para anak dapat memenuhi
6
kebutuhan agar mandiri dan berkumpul dengan teman sebayanya serta dapat mengembalikan fungsi sosialnya secara wajar.
Dari latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti “Dukungan Sosial Terhadap Anak Korban Kekerasan di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak Kabupaten Nganjuk” dengan alasan peneliti ingin mengetahui dukungan sosial apa saja yang diterapkan di dalam UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak Kabupaten Nganjuk.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang diatas maka permasalahan dalam peneliti, yaitu, bagaimana dukungan sosial yang diterapkan kepada korban kekerasan di dalam UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak Kabupaten Nganjuk?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yakni :
1. Untuk mengetahui apa sajakah faktor yang menyebabkan mengalami kekerasan?
2. Untuk mengetahui bagaimana dukungan sosial yang diterapkan di dalam UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak di Kabupaten Nganjuk terhadap anak korban kekerasan?
D. Ruang Lingkup Penelitian
Didalam penelitian ini ada beberapa yang perlu dibatasi agar pembahasan pembahasan tidak terlalu luas cangkupannya sehingga dapat
7
berfokus pada penelitiannya. Adapun ruang lingkup yang akan diteliti, sebagai berikut :
1. Profile Lembaga UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak Kabupaten Nganjuk
2. Profile anak korban kekerasan di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak Kabupaten Nganjuk
3. Dukungan sosial UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak Kabupaten Nganjuk terhadap anak korban kekerasan
8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu berfungsi sebagai bentuk antisipasi peneliti terhadap penelitian yang pernah ada sebelumnya agar tidak ada kesamaan dalam penelitian. Maka dalam hal ini peneliti mencantumkan beberapa hasil penelitian terdahulu, antara lain :
NO Nama
Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Dini Ayu
Syilfiyana (2019)
Dukungan Sosial Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Terhadap
Perempuan Korban Kekerasan Seksual.
Dari hasil penelitian tersebut, permasalahan yang dihadapi korban kekerasan tersebut korban mendapat masalah fisik, psikis dan ekonomi.
Dan peran yang dilakukan lembaga PPT untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan pencegahan, upaya penyuluhan dan upaya penanganan pemberian pelayanan.
Sumber Data : Skripsi Dini Ayu Syilfiyana (2019)
Perbedaan Penelitian terdahulu tema yang diambil khusus pada perempuan sedangkan penelitian ini temanya laki-laki dan perempuan. Sehingga dengan hal itu menjadi perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang saya ambil.
NO Nama
Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 2 Affan Uwais
Al Qorni (2022)
Resiliensi Pada Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Pusat
Dari hasil penelitian menyatakan bahwa kemampuan untuk melakukan resiliensi bukanlah hal yang mudah.
Korban kekerasan memiliki pandangan yang berbeda terhadap
9 Sumber Data : Skripsi Affan Uwais Al Qorni (2022)
Perbedaan Penelitian terdahulu khusus tema pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sedangkan penelitian ini tema yang diambil kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Sehingga dengan hal itu menjadi perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang saya ambil.
Sumber Data : Skripsi Nur Afifah (2022) Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Batu)
masalah yang mereka hadapi. Dampak yang ditimbulkan oleh korban yaitu korban mengalami kesulitan sosial berupa trauma yang mendalam. Maka dari itu dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya kekerasan korban harus memahami resiliensi dan mengetahui bagaimana dampak negatif ketika menghadapi kesulitan atau masalah yang serius dalam dirinya.
NO Nama
Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 3 Nur Afifah
(2022)
Proses Pemulihan Keberfungsian Sosial Perempuan Korban Kekerasan Seksual di Women Crisis Center (WCC) Jombang
Dari hasil penelitian menyatakan bahwa Women Crisis Center (WCC) merupakan lembaga swadayan masyarakat yang berfokus pada pendampingan psikologis dan hukum kepada masyarakat. Dan proses yang dilakukan lembaga ini terhadap korban kekerasan dengan menerima pengaduan, kesediaan korban, pendampingan (home visit, monitoring dan pemberian bantuan). Lembaga ini memberikan pendampingan secara berkesinambungan dan memberikan pelayanan yang komprehensif dengan melakukan penerbitan terhadap korban dalam waktu tertentu.
10
Perbedaan Penelitian terdahulu subjek penelitiannya khusus perempuan dengan mengambil tema yang hanya berfokus pada kekerasan seksual saja sedangkan pada penelitian ini subjek penelitiannya laki-laki dan perempuan dengan mengambil tema kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Sehingga dengan hal itu menjadi perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang saya ambil.
B. Konsep Dukungan Sosial 1. Pengertian Dukungan Sosial
Dukungan sosial merupakan hubungan antar pribadi yang bersifat timbal balik yang mana seseorang memberikan bantuan kepada orang lain. Dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh siapa saja dalam berhubungan dengan orang lain demi keberlangsungan hidup ditengah-tengah masyarakat. Menurut Maslihah (2011) mendefinisikan dukungan sosial sebagai pertolongan dan dukungan yang diperoleh seseorang dari interaksinya dengan orang lain. Dukungan sosial timbul oleh adanya persepsi bahwa terdapat orang-orang yang akan membantu apabila terjadi suatu keadaan atau peristiwa yang dipandang akan menimbulkan masalah dan bantuan tersebut dirasakan dapat menaikkan perasaan positif serta mengangkat harga diri. Kondisi atau keadaan psikologis ini dapat mempengaruhi respon-respon dan perilaku individu sehingga berpengaruh terhadap kesejahteraan individu secara umum.
2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial
Dukungan sosial secara umum digunakan untuk mengacu pada penerimaan rasa aman, peduli, penghargaan atau bantuan yang diterima seseorang
11
dari orang lain. Dukungan sosial tersebut datang dari sumber-sumber yang berbeda seperti keluarga, teman sebaya dan orang-orang dilingkungan seseorang tersebut. Dengan adanya dukungan sosial, individu akan merasakan yakin bahwa dirinya disayangi dan dihargai. Menurut Yunita (2015) menyatakan ada lima jenis dukungan sosial, antara lain :
a. Dukungan Emosional
Dukungan emosional ini merupakan dukungan jenis yang meliputi ungkapan rasa empati, kepedulian dan perhatian terhadap individu.
Biasanya, dukungan ini didapatkan oleh pasangan, keluarga seperti memberikan pengertian terhadap masalah yang sedang dihadapi atau mendengarkan keluhannya. Adanya dukungan ini akan memberikan rasa nyaman, kepastian, perasaan memiliki dan dicintai kepada individu.
b. Dukungan Penghargaan
Dukungan ini terjadi melalui ungkapan positif atau penghargaan yang positif pada individu, dorongan untuk maju atau persetujuan akan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan yang positif individu dengan orang lain. Biasanya dukungan ini diberikan oleh atasan dan rekan kerja. Dukungan jenis ini akan membangun perasaan berharga, kompeten dan bernilai.
c. Dukungan Instrumental atau Konkrit
Dukungan ini meliputi bantuan secara langsung, yang mana dukungan ini lebih sering diberikan oleh teman atau rekan kerja, seperti bantuan untuk menyelesaikan tugas atau meminjamkan uang dan lain
12
sebagainya yang dibutuhkan oleh individu. Jadi menurut Moertono (1997) adanya dukungan ini, menggambarkan tersedianya barang-barang (materi) atau adanyapelayanan dari orang lain yang dapat membantu individu dalam menyelesaikan masalahnya. Selanjutnya hal tersebut akan memudahkan individu untuk dapat memenuhi tanggung jawab dalam menjalankan perannya sehari-hari.
d. Dukungan Informasi
Dukungan jenis ini merupakan pemberian nasehat, saran atau umpan balik kepada individu. Dukungan ini biasanya diperoleh dari sahabat, rekan kerja,bahkan atasan juga. Menurut Moertono (1997) menyatakan bahwa adanya dukungan informasi, seperti nasehat atau saran yang diberikan oleh orang-orang yang pernah mengalami keadaan yang serupa akan membantu individu memahami situasi dan mencari alternatif pemecahan masalah atau tindakan yang akan diambil.
e. Dukungan Jaringan Sosial
Dukungan ini merupakan dukungan dengan memberikan perasaan bahwa undividu adalah anggota dari kelompok tertentu yang memiliki minat yang sama. Rasa kebersamaan dengan anggota kelompok merupakan dukungan bagi individu yang bersangkutan. Menurut Moertono (1997) adanya dukungan jaringan sosial akan membantu individu untuk mengurangi stres yang dialami dengan cara memenuhi kebutuhan akan persahabatan dan kontak sosial dengan orang lain. Hal tersebut juga akan membantu individu untuk mengalihkan perhatiannya
13
dari kekhawatiran terhadap masalah yang dihadapinya atau dengan meningkatkan suasana hati yang positif.
D. Konsep Anak 1. Pengertian Anak
Menurut Widagdo (2020) Pengertian Anak Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan terdapat dalam Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal tersebut menjelaskan bahwa, anak adalah siapa saja yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak yang masih didalam kandungan, yang berarti segala kepentingan akan pengupayaan perlindungan terhadap anak sudah dimulai sejak anak tersebut berada didalam kandungan hingga berusia 18 tahun.
2.Kebutuhan Dasar Anak
Kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang anak secara umum digolongkan menjadi kebutuhan fisik-biomedis (asuh) yang meliputi, pangan atau gizi, perawatan kesehatan dasar, tempat tinggal yang layak, sanitasi, sandang, kesegaran jasmani atau rekreasi. Kebutuhan emosi atau kasih saying (Asih), pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu atau pengganti ibu dengan anak merupakan syarat yang mutlakuntuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Kebutuhan akan stimulasi mental (Asah), stimulasi 10 mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental ini mengembangkan perkembangan mental psikososial diantaranya kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreaktivitas, agama, kepribadian dan sebagainya.
14 E. Konsep Kekerasan
1. Pengertian Kekerasan
Kekerasan merupakan perlakuan yang salah yang dimana kekerasan dapat diartikan sebagai perbuatan yang mengakibatkan cedera pada seseorang atau dapat mengakibatkan kematian dan juga dapat mengakibatkan kerusakan pada fisik seseorang. Menurut Mayssara A. Abo Hassanin Supervised (2014) menyebutkan bahwa penggunaan kekuatan fisik atau kekuatan yang disengaja, terancam atau aktual, terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap kelompok atau komunitas, yang beroleh hasil atau memiliki kemungkinan tinggi mengakibatkan luka, kematian, bahaya psikologis, pembangunan yang tidak benar, atau kekurangan.
Dan dalam kamus Bahasa Indonesia, kekerasan diartikan dengan perihal yang bersifat, berciri khas, perbuatan seseorang yang menyebabkan cidera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik, karena adanya paksaan, kekerasan fisik seperti penganiayaan, pembunuhan, perampokan, hologanisme, pemerkosaan terhadap anak gadis di bawah umur, bahkan hingga sodomi.
2. Bentuk-Bentuk Kekerasan
Menurut Suteja & Ulum (2019) adapun membagi bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, antara lain sebagai berikut:
a. Kekerasan anak secara fisik
Kekerasan anak secara fisik ini merupakan kekerasan dalam bentuk penyiksaan, pemukulan ataupun penganiayaan terhadap anak, yang mana kekerasan tersebut menggunakan benda-benda tertentu ataupun bisa langsung dengan tangannya yang mengakibatkan luka-luka secara fisik
15
maupun psikis anak. Biasanya bentuk luka dapat berupa lecet atau memar akibat kekerasan benda tumpul.
b. Kekerasan anak secara psikis
Kekerasan anak secara psikis ini merupakan kekerasan dalam adanya tindakan penghardikkan, penyampaian kata-kata jorok dan kotor, memperlihatkan buku, gambar atau film yang berbau pornografi pada anak. Menurut Suteja & Ulum (2019), psikiater internasional menyatakan bahwa definisi tentang child abuse, dan menyebutkan ada empat macam abuse pada anak, yaitu tindakan (emosional abuse, verbal abuse, physical abuse dan sexual abuse).
1) Kekerasan secara fisik (physical abuse)
Kekerasan ini terjadi ketika orangtua, pengasuh atau orang terdekat anak yang memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian). Pukulan yang dirasakan anak akan selalau diingat anak itu jika kekerasan fisik berlangsung dalam beberapa waktu tertentu. Kekerasan yang dilakukan seseorang berupa melukai bagian tubuh anak baik dengan menggunakan alat atau tidak.
2) Kekerasan emosional (emotional abuse)
Kekerasan ini terjadi kepada orangtua, pengasuh atau pelindung anak setelah mengetahui anak meminta perhatian, kemudian orangtua mengabaikan anak itu. Selain itu, orang tua yang sibuk selalu mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk atau
16
dilindungi. Sedangkan ketika hal ini terjadi, anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan emosional itu berlangsung konsisten dan jarak yang lama. Orang tua yang secara emosional berlaku keji pada anaknya akan terusmenerus melakukan hal sama sepanjang kehidupan anak itu.
3) Kekerasan secara verbal (verbal abuse)
Kekerasan ini biasanya berupa perilaku verbal dimana pelaku melakukan komunikasi yang berisi tentang penghinaan ataupun kata-kata yang melecehkan anak. Biasanya pelaku juga melakukan tindakan mental abuse yang dimana pelaku menyalahkan, melabeli ataupun mengkambinghitamkan anak padahal sebenernya itu tidak sepenuhnya kesalahan anak.
4) Kekerasan seksual (sexual abuse)
Kekerasan ini dapat dijelaskan bahwa setiap perbuatan yang berupa pecelehan seksual, pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain dengan tujuan tertentu. Kekerasan ini biasanya meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut seperti istri, anak dan pekerja rumah tangga.
17 F. Konsep Perkembangan Psikososial Anak 1. Pengertian Perkembangan Psikososial Anak
Perkembangan psikososial merupakan tahapan-tahapan yang kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang dimana berinteraksi dengan satu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis, perkembangan psikososial dan juga berhubungan dengan perubahan- perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain.
2. Perkembangan Psikososial Anak
Menurut teori Erik Erikson (2008) tentang perkembangan psikososial, ada 8 perkembangan perkembangan psikososial yang terjadi ketika kita melalui siklus hidup. Setiap tahap berdiri dari tugas perkembangan yang unik yang dimana menghadapkan individu dengan krisis yang harus dihadapinya. Bagi Erikson, krisis ini bukanlah bencana tetapi merupakan titik balik dari kepekaan yang meningkat dan potensi yang bertambah. Semakin berhasil individu mengatasi konflik, semakin sehat berkembangan individu tersebut. Maka dari itu, akan dijelaskan 5 tahap perkembangan psikososial dari tahun pertama kehidupan sampai remaja, antara lain :
a. Kepercayaan vs Rasa tidak percaya (usia 0-18 bulan)
Tahap psikososial Erikson yang pertama, yang di alami dalam tahun pertama kehidupan. Erikson yakin bahwa bayi mempelajari rasa percaya apabila mereka diasuh dengan cara yang konsisten dan hangat (bayi mempunyai harapan). Hubungan bayi dan ibu sangatlah penting.
18
Pada usia ini, bayi merasakan dunia melalui mulut, mata, telinga dan sentuhan.
Menurut Erikson, bukti pertama yang menunjukan adanya kepercayaan sosial pada bayi dapat terlihat ketika kebutuhan bayi terpenuhi, misalnya kepuasan atau kesenangan (emosinya terpenuhi) dalam menikmati air susu, kepulasan tidur, dan kemudian membuang air besar. Perilaku bayi di dasari oleh dorongan mempercayai dan tidak mempercayai orang-orang disekitarnya.
b. Kemandirian (otonomi) vs perasaan malu dan rasa ragu (usia 8 bulan-3 tahun)
Pada tahap ini, Erikson percaya bahwa latihan buang air kecil dan besarmerupakan bagian penting dari tahapan ini. Kemandirian di bangun atasperkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorik.Dengan demikian, setelah memperolah kepercayaan dari pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri.
Merekamulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka.
Latihan-latihan lain yang dianggap penting dalam perilaku anak adalah bagaimana mereka mulai belajar berdirisendiri, dalam arti, duduk, berjalan, bermain, buang air kecil, memegang, mengenakan pakaiannya sendiri atau memilih mainan yang disukainya, tanpa di tolong oleh orang tuanya, dan seterusnya. Ketika orang tua merintangi dan menggagalkan usaha anak untuk melakukan otonomi, maka anak akan mengembangkan perasaan ragu dan malu.
19
c. Inisiatif vs Rasa Bersalah (usia 3-6 tahun)
Tahap perkembangan psikososial ketiga ini, berlangsung selama tahun-tahunprasekolah. Pada tahap ini, anak sudah bisa melihat benar atau salah dengan pemikirannya (kognitif) menggunakan bahasa, fantasi, dan permainan khayalan. Terlihat sangat aktif, suka berlari, berkelahi, memanjat, dan suka menantanglingkungannya, dia memperoleh perasaan harga diri. Anak di minta untuk bertanggung jawab atas badannya, perilakunya,permainannya dan binatang peliharaannya. Mengembangkan rasa tanggung jawab akan meningkatkan inisiatif.
Erikson mempunyai pandangan positif tentang tahap ini, bahwa kebanyakan rasa bersalah dikompensasikan dengan perasaan berprestasi.
Usia bermain juga merupakan tahapan di mana anak-anak mengembangkan hati nurani dan mulaimeletakan benar dan salah (afektif) pada perilaku mereka.
d. Ketekunan (industri) vs Perasaan rendah diri (usia 6 -12tahun)
Pada tahapan ini anak mulai memasuki tahun-tahun sekolah dasar dengan segala aturan, tujuan, dan membuka pengaruh sosial baru. Krisis psikososial pada tahapan ini adalah industri vs rasa rendah diri. Industri berarti ketekunan, kemauan untuk tetap sibuk akan sesuatu, dan akan menyelesaikan sebuah pekerjaan yangmerupakan keyakinan serta harapan mereka (kognitif).
Dorongan untuk mengetahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan
20
kemampuan dan pengetahuannya terkadang anak menghadapi kesukaran, hambatan, bahkan kegagalanini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Merupakan parasaan dan perilaku yang belum memadai. Erikson percaya bahwa, guru mempunyai tanggung jawab khusus untuk perkembangan ketekunan pada anak.
e. Identitas vs kekacauan identitas (usia 12-19 tahun)
Tahap identitas dan kekacauan identitas ini merupakan tahap psikososial yang kelima yang berlangsung selama tahan-tahun masa remaja yaitu usia kira-kira 12-20 tahun. Tahap ini adalah tahap yang paling di beri penekanan oleh Erikson karena tahap ini merupakan tahap peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa.
Pada tahap ini, remaja di perhadapkan dengan pencarian jati diri. Ia mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri. Perasaan bahwa ia adalah individu yang unik. Ia mulai menyadari sifat-sifat yang melakat pada dirinya, seperti kesukaan dan ketidaksukaannya, tujuan- tujuan yang di inginkan tercapai di masa mendatang (kognitif), kekuatan dan hasrat untuk mengontrol kehidupan sendiri, yangsiap memasuki suatu peran yang bersifat menyesuaikan maupun yang memperbaharui diri di tengah masyarakat.
21 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif studi kasus. Yang mana pendekatan kualitatif merupakan jenis pendekatan yang dilakukan untuk memahami sebuah fenomena yang sedang dialami oleh subjek penelitian misalnya, motivasi, cara pandang, perilaku dan tingkah laku yang dilakukan secara menyeluruh dan hasil akhirnya dapat disampaikan dengan deskripsi atau kata-kata, kalimat. Selaras dengan Setiyaningsih (2020) menyatakan bahwa pendekatan deskriptif kualitatif ini merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasi kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung dan akibat yang sedang terjadi. Disisi lain, menurut Ningtyas (2014) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah untuk menemukan jawaban terhadap suatu fenomena yang sedang terjadi dan juga data kualitatif ini merupakan suatu bentuk data yang penyajiannya berbentuk keterangan naratif.
Peneliti menggunakan jenis pendekatan kualitatif dengan penelitian deskriptif bertujuan untuk mendapatkan hasil penelitian yang menyeluruh dan lengkap serta dapat dijelaskan secara deskriptif dan eksplisit
22
mengenai Dukungan Sosial Terhadap Anak Korban Kekerasan di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PPSAA) Kabupaten Nganjuk.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat ataupun wilayah yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian. Peneliti melakukan penelitian di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak Nganjuk yang beralamat Jl. Veteran No. 47 Kabupaten Nganjuk. Peneliti memilih lokasi tersebut merupakan salah satu rujukan utama UPT untuk para anak-anak yang sedang mengalami permasalahan sosial khususnya korban kekerasan di daerah nganjuk dan sekitarnya.
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Dimana teknik ini bertujuan agar informant dapat memberikan subjek peneliti lainnya serta dapat memberikan informasi tambahan yang relevan. (Sugiyono, 2017)
Dalam penelitian ini, peneliti berfokus kepada pihak-pihak terkait yang memberikan informasi tentang data peneliti dan pihak-pihak terkait yang memiliki pengalaman dan pengetahuan terkait dengan Dukungan Sosial Terhadap Anak Korban Kekerasan di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PPSAA) Kabupaten Nganjuk.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat ditentukan kriteria penelitian, yaitu :
23
1. Pekerja Sosial di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PPSAA) Kabupaten Nganjuk.
2. Pegawai di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PPSAA) Kabupaten Nganjuk.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan Data merupakan merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam mendapatkan sebuah informasi dalam penelitian. Didalam teknik pengumpulan data terdapat beberapa teknik yang sering digunakan dalam penelitian. Menurut Sugiyono (2018) menyatakan bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari settingnya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data ini dapt menggunakan sumber primer dan sekunder. Serta bila dilihat dari segi cara, maka teknik pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi dan lain sebagainya. Dalam hal ini peneliti menggunakan beberapa teknik penelitian, antara lain :
1. Observasi
Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui atau menyelidiki tingkah laku non verbal yakni dengan menggunakan teknik observasi. Menurut Sugiyono (2018) menyatakan bahwa observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. Observasi juga tidak terbatas
24
pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain. Melalui kegiatan observasi peneliti dapat mengetahui tentang dukungan-dukungan apa saja yang sudah diterapkan di dalam UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak tersebut. Observasi dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Serta, peneliti melakukan observasi terstruktur yang dimana peneliti sudah mengetahui apa yang akan diamati, kapan melakukan pengamatan dan dimana melakukan pengamatan.
2. Wawancara (Interview)
Wawancara menjadi salah satu teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Menurut Sugiyono (2018) wawancara itu sendiri merupakan komunikasi dua arah untuk memperoleh informasi peneliti atau wawancara bisa dikatakan dengan percakapan muka (face to face) antara pewawancara dengan narasumber. Serta wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dapat juga wawancara menggunakan telepon. Dan untuk wawancara sendiri peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur yang dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara, dikarenakan peneliti belum mengetahui secara pasti data yang akan diperoleh data.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara menganalisis gambar, catatan, dokumen dan lain sebagainya. Dengan teknik ini peneliti mampu mendapatkan data tambahan dari data-data yang
25
telah ada. Menurut Sugiyono (2017) dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, dan karya-karya monumental dari seseorang. Hasil wawancara akan lebih kredibel apabila didukung oleh dokumen-dokumen, dan menambah informasi untuk penelitian.
E. Teknik Analisa Data
Pada penelitian kualitatif diperlukan berbagai sumber dalam proses pengumpulan data serta menggunakan bermacam-macam teknik dalam prosesnya sehingga membuat data tersebut menjadi bervariatif. Hal ini perlunya analisa terkait data yang dihasilkan agar data tersebut dapat lebih teratur. Teknik analisa data ini dilakukan agar menghasilkan data yang didapat lebih mudah dipahami dan teknik analisa data ini dilakukan mulai dari pra hingga pasca penelitian dalam waktu yang sudah ditentukan.
Menuru Sugiyono (2017) dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi). Analisis data kualitatif mencakup proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sistesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
26
Menurut Miles and Huberman (1984), menyatakan bahwa aktivitas dalam menganalisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan langsung secara terus menerus sampai mendapatkan data yang cukup.
Adapun langkah-langkah untuk menganalisis data model interaktif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah mencari, mencatat, dan mengumpulkan semua secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan yaitu pencatatan data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan.
2. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang hal yang tidak perlu. Yang dimana peneliti perlu mencatat secara rinci dan teliti, maka dari itu semakin lama peneliti di lapangan maka semakin banyak pula data yang diperoleh. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
3. Display Data
Menurut Miles danHuberman yang paling sering digunakan dalam menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah denganteks dan naratif.
Dengan ini peneliti menyajikan data-data yang telah direduksi ke dalam
27
laporan secara sistematis. Data yang disajikan dalam bentuk narasi berupa Dukungan Sosial Terhadap Anak Korban Kekerasan di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PPSAA) Kabupaten Nganjuk
4. Pengambilan Kesimpulan
Dalam analisis data kualitatif, menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitiankualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian dilapangan.
F. Teknik Keabsahan Data
Didalam penelitian kualitatif teknik keabsahan data merupakan suatu hal yang sangat penting untuk memeriksa suatu data yang telah didapatkan oleh peneliti. Penelitian ini dapat dinyatakan akurat apabila data yang dihasilkan oleh peneliti sesuai dengan fakta yang ada dilapangan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode triangulasi, yang mana menurut Sugiyono (2017) triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dalam triagulasi data ini beberapa cara yang dapat digunakan yaitu
28
triangulasi sumber waktu dan teknik. beberapa metode triangulasi yang dilakukan oleh peneliti antara lain :
1. Triangulasi Sumber
Menurut Sugiyono (2017) triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang telah diperolah dari beberapa sumber. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti mengumpulkan data lebih dari satu sumber. Peneliti melakukan wawancara dengan sumber-sumber yang berbeda dengan beberapa pertanyaan yang sama. Hal ini dilakukan untuk mrndapatkan jawaban yang relevan sesuai dengan yang diharapkan peneliti.
2. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu yang dilakukan dengan car melakukan wawancara kepada sumber data diwaktu yang berbeda. Dalam pengujian kredibilitas data dilakukan pengecekan dengan observasi, wawancara, maupun teknik lainnya dalam situasi dan waktu yang berbeda. Apabila data yang dihasilkan berbeda dari data awal maka perlu dilakukan pengujian data secara berulang kali sampai ditemukan kesimpulan dan kepastian data tersebut.
3. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Maka disini jika peneliti sudah memperoleh data dengan melalui wawancara, lalu dicek kembali dengan observasi dan dokumentasi. Jika data yang dihasilkan berbeda-
29
beda maka peneliti harus melakukan diskusi dengan sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar.
30
DAFTAR PUSTAKA
(Widagdo). (2020). Pengaruh Terapi Murottal Surat Al-Mulk terhadap Kemampuan Interaksi Sosial pada Anak Autis di SLBN 01 Bantul Yogyakarta. Karya Tulis Ilmiah, 9–32.
Bibiografi Erik Erikson, A., di Wina, swasta, berkenalan dengan Anna Freud, E., Sigmund Freud Erikson, putri, Feist, J., & Feist, G. J. (2008).
Perkembangan Psiko-Sosial Remaja Dari Perspektif Erik Erikson. 17–32.
http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/4054/3/T2_752008037_BA B II.pdf
Maslihah, S. (2011). Studi Tentang Hubungan Dukungan Sosial, Penyesuaian Sosial Di Lingkungan Sekolah Dan Prestasi Akademik Siswa Smpit Assyfa Boarding School Subang Jawa Barat. Jurnal Psikologi Undip, 10(2), 103–
114. https://doi.org/10.14710/jpu.10.2.103-114
Mayssara A. Abo Hassanin Supervised, A. (2014). Kekerasan. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 8–27.
Ningtyas, M. (2014). Penerapan Metode Laba Kotor Unt. Metode Penelitian, 32–
41.
Putri, E., Bhima, S., Saebani, S., Suharto, G., & Margawati, A. (2015).
Karakteristik Kekerasan Yang Terjadi Terhadap Anak Di Sekolah Pada Sekolah Menengah Atas Di Kota Semarang. Jurnal Kedokteran Diponegoro, 4(4), 700–712.
Setiyaningsih, D., Rosmi, F., Santoso, G., & Virginia, A. (2020). Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar. DIKDAS MATAPPA: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar, 3(2), 279.
https://doi.org/10.31100/dikdas.v3i2.693
Sugiyono. (2016a). Analisa Data di lapangan Model Miles and Huberman.
Sugiyono. (2016b). Teknik pengambilan sample.
Sugiyono, 2017. (2017). Triangulasi Teknik. 51–63.
Suteja, J., & Ulum, B. (2019). Dampak Kekerasan Orang Tua terhadap Kondisi Psikologis Anak dalam Keluarga. Equalita: Jurnal Studi Gender Dan Anak, 1(2), 169. https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5548
Yunita, R. (2015). Pengaruh dukungan sosial terhadap kreativitas siswa SMA Negeri 2 Sidoarjo melalui motivasi belajar. 18–46.